Peluncuran film Orang Kaya Baru

Associate Vice President of Brand Bukalapak Ari K Wibowo (kanan) berfoto bersama seluruh pemain film Orang Kaya Baru saat acara press screening film Orang Kaya Baru di Plaza Senayan, Jakarta, Senin (21/1/2019). Film yang tayang di layar bioskop Indonesia mulai tanggal 24 Januari 2019 tersebut didukung oleh Bukalapak melalui BukaNonton dan diharapkan dapat memberikan dampak positif di industri hiburan tanah air. ANTARA FOTO/Putra Haryo Kurniawan/aww.

Alasan Raline Shah tak canggung main film komedi

Jakarta (ANTARA News) –  Aktris Raline Shah merasa dirinya adalah sosok yang berkepribadian lucu dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, ketika mendapat tawaran bermain komedi, ia tidak takut.

“Hidup aku sih lumayan komedi dan horor, jadi aku tinggal menjadi diri aku sendiri,” kata Raline saat ditemui dalam pemutaran perdana film “Orang Kaya Baru” di Jakarta, Senin.

Baca juga: Raline Shah pamer foto bareng Rami Malek di Golden Globes

“Orang Kaya Baru” adalah film bergenre komedi pertama Raline. Ia mengatakan sangat menikmati proses syuting. Bahkan, ia sampai sering ditegur oleh sang sutradara, Ody C Harahap karena sering melucu.

“Aku emang suka ngelucu, sampai mas Ocay (Ody) bilang ‘Ralin! Ini udah mau take, ngapain ngelucu lagi, pada ketawa nih orang-orang’. Sampai boncengan motor dia enggak bisa berhenti ketawa, hampir keserempet mobil apa segala macem, aku  emang suka ngelucu,” katanya.

Baca juga: Rahasia rambut indah Raline Shah

Raline juga merasa jika karakter Tika yang diperankan olehnya paling mendekati sifat aslinya. 

“Sejujurnya si Tika ini paling dekat dengan kehidupan aku yang nyata sih karakternya.  Dibanding karakter yang lain yang pernah aku mainin, Tika yang paling Raline, karena dia cewek satu-satunya, dan lumayan keras kepala,” jelas Raline.

“Waktu aku kuliah juga lumayan persis kayak dia, ayah aku juga ngebatasin banget jajan, kostumnya sama, sampe yang pakai sweater dan baju, ikut-ikut olimpiade lah, kompetisi nyanyi lah. Jadi pas lihat skenarionya kok ada sih, seperti aku dengan latar belakang berbeda aja,” lanjutnya.

Baca juga: Raline Shah belajar jadi orang kurang mampu demi film ini

Baca juga: Pesan Raline Shah untuk para lajang

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Drama remaja ringan dan menghibur dalam “Matt & Mou”

Jakarta (ANTARA News) – Film terbaru Prilly Latuconsina dan Maxime Bouttier yang berjudul “Matt & Mou” akan tayang pada 24 Januari 2019, menawarkan cerita yang ringan dan juga menghibur.

“Matt & Mou” bercerita tentang persahabatan Matthew (Matt) dan Mourette (Mou) yang terjalin sejak kecil. Mereka selalu bersama-sama dan Matt juga dengan siaga berusaha untuk melindungi serta menuruti semua keinginan Mou.

Baca juga: Prilly Latuconsina sempat ragu main film bareng Maxime

Ketika beranjak remaja, Mou mulai menyukai lelaki lain. Meski ada perasaan cemburu, Matt tetap membiarkan Mou berpacaran dengan lelaki tersebut.

Begitu juga sebaliknya, Mou merasa tersingkir ketika Matt berkenalan dengan perempuan lain.

Tidak hanya masalah seputar percintaan anak remaja saja, film ini menyuguhkan tentang konflik keluarga yang dihadapi oleh Mou seperti perceraian kedua orangtuanya serta hubungan dengan saudara tiri. 

Selain itu, “Matt & Mou” juga berbicara tentang bagaimana menjaga persahabatan tanpa memaksakan kehendak dan mendominasinya.

Baca juga: Prilly Latuconsina rancang sendiri rumah impiannya

Kisah seperti Matt dan Mou, tentu banyak dialami oleh anak remaja. Ceritanya memang sangat ringan dan berhubungan erat dengan kehidupan sehari-hari.

Seperti film Monty Tiwa yang lain, ia selalu bisa memasukkan unsur komedi yang natural sehingga tidak terkesan dipaksakan.

“Matt & Mou” merupakan film drama remaja pertama Prilly Latuconsina. Di sini, ia harus berakting dengan kekasihnya sendiri yakni Maxime Bouttier. Soalnya chemistry tidak perlu diragukan lagi, tentu akan sangat mudah mendapatkannya karena keduanya memang berpasangan.

Meski demikian, Prilly dan Maxime tahu penempatan kapan harus terlihat mesra, bersahabat atau bertengkar. Keduanya mampu menunjukkan sikap profesional.

Sayangnya, hal tersebut tidak ditunjang dengan kemampuan Maxime dalam berbahasa Indonesia. Ada beberapa bagian yang terdengar aneh ketika diucapkan olehnya. Hal-hal yang seharusnya terdengar santai malah berkesan kaku.

Secara keseluruhan film yang diadaptasi dari novel karya Wulanfadi dengan judul yang sama ini cukup menghibur. Namun filmnya memang lebih cocok dinonton oleh para remaja sehingga “bapernya” lebih dapat dirasakan.

Baca juga: Maxime Bouttier komentari rumah mewah Prilly Latuconsina

Baca juga: Prilly Latuconsina dihujat warganet, ini komentar Maxime Bouttier

Oleh Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Green Book” sabet PGA Awards, digadang-gadang menang Oscar

Jakarta (ANTARA News) – Film “Greenbook” menyabet penghargaan Producers Guild Awards (PGA) 2019 sebagai Film Terbaik. The New York Times bahkan menyebutnya berpotensi menang Oscar.

Hanya dua kali PGA meleset meramalkan pemenang Oscar, tahun 2017 saat “La La Land” menang PGA tapi “Moonlight” yang menyabet Oscar dan tahun 2016 saat para produser menganugerahkan film terbaik pada “The Big Short” tapi Oscar diraih “Spotlight”.

Kemenangan film komedi rasis “Green Book” mengalahkan film-film berat yang bersaing di Golden Globe Awards 2019 untuk Film Drama Terbaik seperti “A Star Is Born” dan “Roma” mengejutkan banyak orang termasuk sang sutradara, Peter Farrelly dengan film hits sebelumnya yaitu “Dumb and Dumber”.

Di Golden Globe “Green Book” menjadi Film Musikal/ Komedi Terbaik.

“Ini pertama kalinya saya di PGA Awards, dan pertama kali saya pernah mendengar tentang PGA Awards,” canda Farrelly selama pidato penerimaannya.

“Green Book” berkisah persahabatan pianis keturunan Afrika-Amerika Don Shirley (Mahershala Ali) dengan sopir pribadinya, yang merupakan kulit putih asal Italia Tony Vallelonga (Viggo Mortensen).

Film itu juga menjadi ajang untuk akting Viggo Mortensen serta sutradara Peter Farrelly.

Baru-baru ini, Farrelly dikecam karena kebiasaannya bercanda memamerkan alat kelaminnya kepada para kolega, sementara penulis Nick Vallelonga menghapus akun Twitter-nya setelah detektif internet menemukan tweet anti-Muslim yang dibuatnya di 2015.

Sedangkan Ali yang digadang-gadang memenangkan Oscar sebagai aktor pendukung bulan depan, merupakan seorang Muslim.

Namun, lintasan musim penghargaan film itu mengisyaratkan film ini berhasil melewati kontroversi ini tanpa cedera.

Akademi telah bersusah payah beberapa tahun terakhir ini untuk mendiversifikasi keanggotaannya, tetapi dalam satu tahun ketika banyak pembuat film berwarna menceritakan kisah-kisah terkenal seperti “Black Panther,” “If Beale Street Could Talk,” “BlacKklansman” dan “Crazy Rich Asian,” dan “Green Book” – film isu rasial yang ditulis dan disutradarai oleh orang kulit putih – yang terbukti menjadi pemenang utama.

“Saya tidak membutuhkan penghargaan,” kata Farrelly menjelang akhir pidato penerimaan PGA-nya. “Penghargaan ini, bagiku, seperti Warren Buffett yang memenangkan lotere.”

Baca juga: Daftar lengkap pemenang Golden Globes 2019

Penerjemah: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Glass” raup 40,6 juta dolar AS di pembukaan

Jakarta (ANTARA News) – Film “Glass” raup 40,6 juta dolar AS (sekira Rp577 miliar) di pembukaan dan menduduki peringkat satu di Box Office.

“Glass” jadi film kelima yang disutradarai M. Night Shyamalan yang menduduki peringkat satu.

Universal Pictures memperkirakan “Glass” akan mampu mencetak hingga 47 juta dolar AS hingga akhir pekan selama liburan.

Beberapa industri malah meramalkan film akan melesat sampai 75 juta dolar AS selama empat hari liburan.

“Glass” adalah trilogi terakhir karya Shyamalan yang dimulai tahun 2000-an dimulai dengan “Unbreakable” dan disusul “Split” (2017).

Time pada Minggu (20/1) mengutip laman Rotten Tomatoes yang merating film Shyamalan itu sebagai film yang “segar”. .

Film itu disebut Time makin menegaskan gaya Shyamalan, pembuat film “Sixth Sense” yang identik dengan thriller supernatural dan plot twist yang tidak terduga.

“Split,” yang jauh melampaui harapan dengan pembukaan 40 juta dolar AS dan 278,5 juta dolar AS pemutaran di seluruh dunia, mengisyaratkan kembalinya Shyamalan sebagai kekuatan box-office, sekarang bekerja sama dengan pabrik horor Blumhouse Productions. Shyamalan sendiri, memasang anggaran film sekitar 20 juta dolar AS.

Jim Orr, presiden distribusi domestik untuk Universal, mengatakan “Glass” kurang dari harapan studio. Orr mengakui bahwa ulasan yang lebih baik mungkin bisa menggiring lebih banyak penonton dan bahwa badai musim dingin di Midwest dan Timur Laut mungkin mengurangi jumlah penonton.

Namun dia mengatakan Universal sangat senang dengan hasilnya. Total empat hari peringkat “Glass” sebagai pembukaan akhir pekan MLK terbaik ketiga yang pernah ada, dikalahkan “American Sniper” (107,2 juta dolar AS) dan “Ride Along” (48,6 juta dolar AS). “Glass” juga meraup 48,5 juta dolar AS di luar negeri, di mana Disney memiliki hak distribusi.

“Ini masuk pada atau di atas ekspektasi industri yang wajar,” kata Orr.

Film top minggu lalu, “The Upside” karya Kevin Hart, berhasil meraup 15,7 juta dolar AS di akhir pekan kedua saat peluncuran. Itu membuktikan bahwa gagalnya Hart jadi host Oscar karena tweet homofobik masa lalu tidak merusak daya tarik box office-nya.

Baca juga: Sutradara Shyamalan kembali ke sinema dengan horor

Penerjemah: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Vajna produser film “Rambo” meninggal di usia 74 tahun

Budapest (ANTARA News) – Andrew G. Vajna, produser film asal Hungaria di balik “Rambo”, “Evita” dan film-film yang menjadi terkenal di dunia, meninggal di rumahnya di Budapest pada Ahad setelah menderita sakit cukup lama, kata Dana Film Nasional Hungaria,

Vajna memproduksi secara keseluruhan 59 film, termasuk Evita tahun 1996 yang dibintangi Madonna dan tiga film pertama dengan bintang utama Sylvester Stallone.

Ia dilahirkan di Budapest pada 1944 dan pada usia 12 tahun, ketika revolusi Hungaria pada 1956 melawan pemerintahan Soviet ditumpas, ia meninggalkan negaranya dan beremigrasi ke Kanada dengan bantuan Palang Merah. Ia berkumpul kembali dengan keluarganya di Los Angeles.

Film komedinya pada 1997, berdasarkan sandiwara berjudul “Out of Order” karya penulis Inggris Ray Cooney, menarik banyak minat orang untuk menonton. Dengan demikian penjualan tiketnya tercatat tertinggi di antara film-film Hungaria yang diproduksi selama dua dekade terakhir.

Sejak 2011, ia bekerja sebagai komisioner pemerintah di bawah Perdana Menteri Viktor Orban, memimpin usaha-usaha untuk membangkitkan sinema Hungaria.

“Kami menyampaikan selamat jalan kepada produser film Hungaria yang terbesar. Hasta la vista, Andy! Terima kasih atas segalanya, temanku!” kata Orban di halaman Facebook-nya.

Film-film selama dia sebagai komisioner meraih ratusan penghargaan internasional, di antaranya “Son of Saul”, yang meraih Hadiah Oscar karena lukisan tentang kehidupan di kamp konsentrasi Nazi.

Sebagai bagian dari usaha Orban untuk memperluas pengaruhnya atas media domestik, Vajna juga mempersalah satu saluran utama televisi komersial di Hungaria, dan memiliki saham di pasar radio komersial, demikian Reuters.

(Uu.M016/M007)

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Orang Kaya Baru” diserbu penonton Kota Medan

Medan (ANTARA News) – Film “Orang Kaya Baru” atau OKB produksi Screenplay Films dan Legacy Pictures diputar pertama kali di Kota Medan, Minggu, ternyata menarik banyak penonton termasuk di Bioskop Ringroad City Walk Medan.

Penonton semakin banyak karena selain baru pertama diputar film komedi OKB juga menghadirkan para bintangnya seperti Raline Shah, Refal Hady dan Fatih Unru yang langsung menyapa para fans dan penonton film itu.

“Special screening film OKB di Medan dilakukan sebagai apresiasi kepada masyarakat Medan yang jumlah penonton bioskopnya bertambah banyak dan kota kelahiran Raline Shah, salah satu bintang utama film OKB,” ujar Public Relations Manager Screenplay Films, Jessica Pingkan di Medan, Minggu.

Menurut Jessica, dalam special screening Film OKB di Medan itu dibuka dua studio dan ada sekitar 500 orang yang menyaksikan film itu.

Bahkan Wakil Gubernur Sumut, Musa Rajekshah terlihat hadir bersama Rahmat Shah, bapaknya Raline Shah, di tengah para pemain film itu menyapa para penggemarnya.

Pemutaran Film OKB di Medan, Minggu itu sendiri lebih cepat seminggu dari jadwal penayangan di bioskop secara nasional.

Raline Shah sendiri menilai Film OKB lebih kepada filosofi hidup, yaitu tentang kebersamaan sebuah keluarga.

Harta, katanya, memang bisa mengubah keadaan, tetapi jika tidak digunakan dengan baik, malah bisa merusak hidup.

Film OKB memang mengisahkan tentang keluarga sederhana yang terdiri dari bapak (Lukman Sardi), Ibu (Cut Mini) serta tiga anaknya Duta (Derby Romero), Tika (Raline Shah) dan Dodi (Fatih Unru).

Mereka hidup pas-pasan, tetapi tetap kompak seperti selalu makan bersama.

Di cerita itu, tiap karakter memiliki keunikan tersendiri, seperti bapak yang selalu gembira walau tidak ada uang.

Kemudian sang ibu yang selalu memasak dan antarjemput Dodi menggunakan sepeda motor lama.

Kemudian Tika yang pulang pergi kuliah naik metromini.

Kehidupan pas-pasan berubah total saat sang bapak meninggal dunia dan ternyata menyimpan rahasia bahwa ia memiliki harta yang sangat banyak.

Warisan harta yang banyak tentunya langsung membuat mereka menjadi OKB.

Menjadi orang kaya, mereka?akhirnya bisa membeli apa saja yang mereka inginkan.

Mulai dari rumah baru, baju baru, sepatu baru, hingga mobil baru meskipun sebenarnya tidak ada yang bisa menyetir mobil. Akhirnya kekayaan menimbulkan banyak masalah.

Raline Shah mengaku banyak mendapatkan nilai kebaikan di dalam film itu, khususnya kebersamaan di dalam keluarga.

“Film OKB merupakan tontonan yang cocok untuk semua usia dan keluarga,” ujar Raline.

Dia mengaku, OKB merupakan film komedi pertama yang dilakoninya, namun senang bisa dipercaya mendapat peran di film karya Joko Anwar itu.

Apalagi, ujar Raline dia suka film komedi dan sudah lama kepengen main di film komedi.

Raline juga mengaku perannya sebagai anak perempuan satu – satunya dan memiliki dua saudara pria di film itu, sama dengan di kehidupannya.

Oleh karena ada beberapa kemiripan di alur film dan kehidupannya, maka dia mengaku bisa lebih mudah menjalankan lakonnya bersama dua adik prianya di film itu.

Adapun Refal Hady yang memerankan karakter Bayu dan harus berpasangan dengan Raline Shah di Film OKB mengaku? awalnya sempat merasa rendah diri.

Alasan Refal, karena mengetahui Raline sudah banyak main film dan wanita yang sangat borjuis.

“Tetapi nyatanya jadi enjoy karena ternyata Raline merupakan sosok wanita baik dan suka bercanda,” katanya.

Fatih Unru sendiri juga mengaku suka film OKB itu dan merasa seperti bersaudara dengan Raline Shah dan Refal Hady.

“Harapan saya Film OKB disukai. Suka itu penting karena kalau hanya banyak penonton, tetapi tidak disukai yah percuma saja karena pesan di film itu tidak sampai,” ujar Fatih Unru yang berperan sebagai adik bungsu di Film OKB.

Pewarta:
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tony Mendez, agen CIA di film “Argo” meninggal dunia

Jakarta (ANTARA News) – Mantan agen CIA Tony Mendez yang berhasil menyelamatkan enam diplomat Amerika Serikat dari Iran dan karakternya diperankan oleh Ben Affleck dalam film yang berhasil menyabet piala Academy Award, “Argo”, meninggal dunia di usia 78.

Agen buku Mendez Christy Fletche mengumumkan kabar duka itu Sabtu (19/1) lewat Twitter, demikian dilaporkan Variety, dikutip Minggu.

“Pagi ini, Antonio (Tony) J. Mendez akhirnya meninggal dunia karena sakit Parkinson yang sudah dideritanya sejak 10 tahun lalu. Dia dikelilingi cinta dari keluarganya dan akan sangat dirindukan. Hal terakhir yang dia dan istrinya Joanna Mendez lakukan adalah menyerahkan bukunya pada penerbit dan meninggal dalam keadaan puas karena sudah selesai menulis kisahnya.”

Mendez akan dikebumikan dalam sebuah pemakaman tertutup di makam keluarga di Nevada.

Dilahirkan pada 15 November 1940, Mendez memulai karirnya sebagai seniman setelah belajar seni di University of Colorado. Dia dipekerjakan oleh CIA setelah dia melamar pada sebuah iklan buta untuk seorang seniman grafis pada tahun 1965 dan menjadi seorang seniman spionase untuk divisi layanan teknis.

Setelah bekerja di Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Asia Selatan, Mendez dikirim ke Iran untuk mengelola apa yang dikenal sebagai “Canadian Caper,” di mana ia menciptakan rencana untuk meloloskan enam diplomat Amerika dengan cara disamarkan sebagai kru film asal Kanada untuk mengeluarkan mereka dari Iran.

Mendez menghasilkan tiga memoar, termasuk “Master of Disguise: My Secret Life in the CIA”; “Spy Dust: Dua Ahli Penyamaran Mengungkapkan Alat dan Operasi yang Membantu Memenangkan Perang Dingin” bersama istrinya Jonna, yang adalah veteran 27 tahun CIA; dan “Argo: Bagaimana CIA dan Hollywood Melakukan Penyelamatan Yang Paling Berani dalam Sejarah,” yang menjadi dasar “Argo”.

“Argo,” adalah film adaptasi yang disutradarai oleh Ben Affleck, memenangkan tiga Oscar di Academy Awards 2013, termasuk untuk kategori film terbaik, skenario film terbaik, dan pengeditan film terbaik.

Film itu dinominasikan untuk empat kategori lagi, termasuk kinerja terbaik oleh seorang aktor dalam peran pendukung untuk Alan Arkin, skor asli terbaik, pencampuran suara terbaik, dan pengeditan suara terbaik. Film itu juga memenangkan Affleck sebagai sutradara terbaik Golden Globe dan film terbaik – drama Golden Globe.

Baca juga: “Argo” film terbaik Oscar

Penerjemah: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“The Upside”, kisah persahabatan mantan narapidana dan miliarder

Jakarta (ANTARA News) – Sutradara Neil Burger (“The Ilusionist” dan “Divergent”) kembali mempersembahkan film terbaru “The Upside” yang merupakan remake dari film drama komedi populer asal Perancis berjudul “The Intouchables” yang dirilis tahun 2011 silam.

“The Upside” menceritakan tentang seorang miliarder lumpuh, Philip Lacasse (Bryan Cranston), yang mencari seorang pengasuh untuk sisa hidupnya.

Ia kemudian bertemu dengan mantan narapidana bernama Dell Scott (Kevin Hart) yang ikut mendaftar sebagai pelamar kerja agar tidak kembali dikirim ke penjara.

Philip Lacasse rupanya suka pendekatan Scott yang tidak biasa dan memutuskan untuk mempekerjakannya saat itu juga. Keputusan itu ditentang oleh Yvonne (Nicole Kidman), sekertaris Philip yang menilai Dell sebagai kandidat yang tak pantas menerima pekerjaan mengasuh tersebut.

Dell awalnya menolak menerima pekerjaan itu, tapi kemudian dia memutuskan mengambilnya karena butuh uang untuk memenuhi kewajiban dengan mantan istrinya

Perlahan-lahan keduanya memulai persahabatan yang hampir mustahil karena perbedaan latar belakang.

Film yang diangkat dari kisah nyata ini mampu menguras emosi penonton dengan drama kehidupan Dell Scott, pria kulit hitam pengangguran dengan catatan kriminalnya dan Philip Lacasse sang miliarder yang menjalani sisa hidupnya di atas kursi roda.

Melalui hubungan profesional yang terjalin diantara keduanya tanpa disadari membentuk ikatan dan membuka mata tentang masalah pribadi masing-masing.

Bagi Dell, pekerjaan merawat Philip diluar kebiasaannya sebagai seorang ayah yang telah lama absen mengasuh putranya karena berada di penjara. Untuk Philip, pertemuannya dengan Dell yang bertingkah apa adanya membuatnya menemukan kembali semangat dalam menjalani hidup.

Dalam hal ini, Kevin Hart dan Bryan Cranston sukses membangun chemistry kuat melalui peran yang dimainkan masing-masing. Akting Bryan Cranston yang di sepanjang film berada di kursi roda dinilai mampu menyampaikan segala sesuatu melalui mimik wajahnya.

Komedi segar yang dihadirkan oleh tingkah konyol Dell Scott juga mampu berikan gelak tawa bagi penonton. Kehadiran Nicole Kidman meski mendapat porsi lebih sedikit, namun perannya dianggap cukup efektif.

Hanya saja cerita yang tersaji di film “The Upside” sangat klise dan begitu mudah ditebak akhirnya. 

Film “The Upside” akan tayang di bioskop Indonesia mulai tanggal 29 Januari 2019.

Baca juga: Film “The Upside” geser “Aquaman” dari puncak box office akhir pekan

Baca juga: Kevin Hart pastikan takkan bawakan acara Oscar

Baca juga: Nicole Kidman jelaskan insiden Rami Malek di panggung Golden Globes

Baca juga: Menikah muda dengan Tom Cruise bikin Nicole Kidman terlindung dari pelecehan

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Keluarga Cemara” menang besar di Piala Maya

Jakarta (ANTARA News) – Film “Keluarga Cemara” mendominasi penghargaan Piala Maya 2018, disusul film “Wiro Sableng”, pada pengumuman penghargaan yang dibacakan di Jakarta, Sabtu.

“Keluarga Cemara”, yang dibintangi Nirina Zubir dan Ringgo Agus Rahman dengan sutradara Yandy Laurens, memborong enam piala dari 11 nominasi yang didapat.

Sedangkan “Wiro Sableng” yang menampilkan Vino Bastian, Yayan Ruhian serta Sherina Munaf, mendapat lima piala dari 14 nominasi yang dijagokan.

Piala Maya merupakan ajang apresiasi dari dunia maya untuk film Indonesia.

Pada tahun ketujuh penyelenggaraan, Piala Maya mengusung tema “7umbuh Kembang” dengan harapan dapat terus bertumbuh sebagai wadah apresiasi film Indonesia.

Berikut daftar pemenang Piala Maya 2019:

1. Film Cerita Panjang/ Film Bioskop Terpilih
“Keluarga Cemara”

2. Film Cerita Pendek Terpilih
“Tilik” – Agung Prasetyo

3. Penyutradaraan Terpilih
Timo Tjahjanto – “Sebelum Iblis Menjemput”

4. Penyutradaraan Film Panjang 
Karya Perdana Terpilih 
Yandy Laurens – “Keluarga Cemara”

5. Aktor Utama Terpilih
Gading Marten – “Love for Sale”

6. Aktris Utama Terpilih
Luna Maya – “Suzzana: Bernapas Dalam Kubur”

7. Aktor Pendukung Terpilih
 Marthino Lio – “Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta”

8. Aktris Pendukung Terpilih
Karina Suwandi – “Sebelum Iblis Menjemput”

9. Aktor Pendatang Baru Terpilih
Dewa Dayana – “Asal Kau Bahagia”

10. Aktris Pendatang Baru Terpilih
Vanessa Prescilla – “Dilan 1990”

11. Aktor/ Aktris Cilik/ Remaja
Adhisty Zara – “Keluarga Cemara”

12.  Penampilan Singkat Nan Berkesan
Aminah Cendrakasih – “Si Doel The Movie” 

13. Skenario Asli Terpilih
Andibachtiar Yusuf, M. Irfan Ramly – “Love for Sale”

14. Skenario Adaptasi Terpilih
Gina S. Noer, Yandy Laurens – “Keluarga Cemara”

15. Tata Kamera Terpilih
Ipung Rachmat – “Wiro Sableng: Kapak Maut Naga Geni 212”

16. Tata Artistik Terpilih
Adrianto Sinaga – “Wiro Sableng: Kapak Maut Naga Geni 212”

17. Tata Musik Terpilih
Ifa Fachir – “Keluarga Cemara”

18. Tata Penyuntingan Gambar
 Aline Jusria – “Teman Tapi Menikah”

19. Tata Suara Terpilih
Aria Prayogi, M. Ichsan Rachmaditta – “Wiro Sableng: Kapak Maut Naga Geni 212”

20. Efek Khusus Terpilih 
Keliek Wicaksono – “Wiro Sableng: Kapak Maut Naga Geni 212”

21. Tata Kostum Terpilih
Adrianto Sinaga, Nadia Adharina – “Wiro Sableng: Kapak Maut Naga Geni 212”

22. Tata Rias Wajah dan Rambut
Peter Gorshenin, Tatiana Melkomova – “Suzzanna: Bernapas Dalam Kubur” 

23. Desain Poster Terpilih
Alvin Haris – “Love For Sale”

24. Lagu Tema Terpilih
“Harta Berharga” – Bunga Citra Lestari (“Keluarga Cemara”)

Baca juga: “Keluarga Cemara” dapat 11 Nominasi Piala Maya

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Keluarga Didi Petet ucapkan terima kasih kepada penonton “Preman Pensiun”

Jakarta (ANTARA News) – Keluarga mendiang Didi Petet menghaturkan terima kasih atas apresiasi penonton pada film “Preman Pensiun” yang tayang perdana di bioskop pada 17 Januari lalu.

Getar Jagatraya, anak pertama Didi Petet mengaku terkejut dan tidak menyangka jika masyarakat masih menyambut baik kehadiran film yang dibuat versi layar lebar itu.

“Alhamdulillah, kami keluarga sangat senang mendengar hal itu. Kami juga kaget karena tidak menyangka akan mendapatkan sambutan baik seperti ini. Semoga hal positif ini terus berlanjut di hari-hari berikutnya,” ujar Getar melalui keterangan resmi yang diterima Antara, Sabtu.

Mewakili keluarga Didi Petet, Getar juga mengungkapkan terima kasih kepada penonton film “Preman Pensiun”, lantaran banyak yang menyampaikan kerinduan kepada sosok Kang Bahar yang diperankan oleh Didi Petet.

“Terima kasih atas apresiasi dan rasa rindu penonton ‘Preman Pensiun’ untuk bapak. Mohon doanya saja untuk almarhum,” kata Getar.

Secara garis besar film “Preman Pensiun” menceritakan kehidupan para mantan preman.

Sosok Didi Petet sebagai Kang Bahar pun muncul di awal film. Cuplikan tersebut merupakan gambar yang sudah pernah ditayangkan pada cerita “Preman Pensiun” versi serial televisinya.

Sementara itu, MNC Pictures mengungkapkan jika di hari kedua penayangan, sejumlah layar bioskop untuk “Preman Pensiun” ditambah menjadi 266, lantaran banyak masyarakat kehabisan tiket pada hari pertama penayangan.

Baca juga: Keluarga kenang peran Didi Petet di “Preman Pensiun”

Baca juga: Film “Preman Pensiun” sajikan cerita yang lebih kompleks

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penayangan film “Orang Kaya Baru” maju jadi 20 Januari

Jakarta (Antara News) – Penayangan film “Orang Kaya Baru” yang diangkat dari kisah masa kecil sutradara kondang Joko Anwar, dimajukan dari 24 Januari menjadi 20 Januari 2019.

Film yang disutradarai Ody C. Harahap itu bisa dinikmati di bioskop-bioskop yang tersebar di sejumlah daerah, di antaranya Jabodetabek, Bandarlampung, Malang, Bandung, Pekanbaru dan Palembang mulai Minggu, kata Screenplay Films dalam pernyataannya, Sabtu.

Aktor-aktor terbaik Indonesia yang biasanya bermain dalam film drama, yakni Raline Shah, Refal Hady, Derby Romero, Cut Mini, Lukman Sardi dan aktor cilik Fatih Unru, kini siap “mengocok perut” melalui peran mereka di “Orang Kaya Baru”.

Screenplay Films dan Legacy Pictures dalam membuat film ini juga tidak lupa melibatkan sutradara bertangan dingin yang telah menghasilkan “Pengabdi Setan” dan “Janji Joni”, Joko Anwar.

Joko Anwar dipercaya sebagai penulis skenario dalam film yang bercerita tentang perubahan kehidupan keluarga yang pas-pasan hingga mendadak menjadi kaya.

Bukan hanya menawarkan hiburan, tayangan yang juga didukung oleh Dea Panendra, Rania Putrisari, Millane Fernandez, dan Melayu Nicole Hall ini juga bisa menjadi refleksi untuk keluarga.

Lawakan “fresh” yang bakal dihadirkan juga bisa menjadi hiburan segala umur yang dapat ditonton bersama-sama pada awal tahun ini.

Baca juga: Terinspirasi masa kecil, Joko Anwar tulis skenario “Orang Kaya Baru”
Baca juga: Orang Kaya Baru The Movie gandeng Joko Anwar sebagai penulis cerita
Baca juga: Cut Mini senang berakting norak di “Orang Kaya Baru”

Pewarta: Agita Tarigan
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Instant Family” suguhkan manis getir jadi orang tua asuh

Jakarta (ANTARA News) – Film keluarga bergenre drama komedi berjudul “Instant Family” yang saat ini tayang di bioskop-bioskop di Indonesia, bisa menjadi pilihan bagi para penikmat sinema untuk mengisi libur akhir pekan.

“Instant Family”, produksi Paramount Pictures, diangkat dari kisah nyata sang sutradara, Sean Anders, tentang manis getir menjadi orang tua asuh dengan tiga orang anak adopsi.

Dua tokoh utama film ini, Pete (diperankan aktor Mark Wahlberg) dan Ellie (Rose Byrne ), diceritakan telah menikah namun tak kunjung dikaruniai anak, padahal usia Pete sudah menginjak 36 tahun. 

Khawatir bila nantinya mereka baru memiliki anak di usia yang sudah terlalu tua, atau mungkin tidak mempunyai anak sama sekali, Pete sembari bercanda melontarkan ide untuk mengadopsi anak.

Tak disangka Ellie menanggapi serius candaan suaminya itu. Keduanya pun akhirnya memutuskan untuk mengadopsi anak.

Pete dan Ellie pun mengikuti kelas bimbingan dan persiapan menjadi orang tua asuh yang dimentori oleh Sharon (Tig Notaro) dan Karen (Octavia Spencer). Setelah dirasa siap menjadi orang tua asuh, Pete dan Ellie mulai mencari anak yang cocok untuk  diadopsi. 
  Potongan adegan film”Instant Family” (Istimewa)

Pilihan mereka jatuh kepada Lizzy (Isabela Moner) gadis remaja berusia 15 tahun, dan dua adiknya yakni Juan (Gustavo Quiroz) dan Lita (Julianna Gamiz). Ketiganya yang berasal dari Amerika Latin telah ditinggalkan oleh orang tua mereka. Ibunya di penjara karena kasus narkoba, sementara sang ayah tidak diketahui keberadaannya.

Awalnya, Pete dan Ellie merasa bahwa Lizzy, Juan dan Lita adalah anak-anak yang tepat untuk diadopsi, lantaran ketiganya memperlihatkan sikap yang manis dan baik di awal-awal pertemuan. Masalah mulai timbul ketika masing-masing anak mulai menunjukkan karakter aslinya.

Lizzy ternyata gadis urakan yang sulit diatur dan suka membantah. Sementara Juan memiliki sifat sensitif dan cengeng. Sedangkan si kecil Lita berperangai keras kepala dan suka marah-marah.

Pete dan Ellie yang semula sangat antusias memiliki “anak”, justru terjebak pada situasi sulit. Di satu sisi keduanya frustrasi menghadapi tingkah polah Lizzy, Juan dan Lita. Namun di sisi lain mereka terlanjur sayang dan tidak ingin ketiganya kembali ke jalan tanpa cinta dan kasih sayang orang tua.

Masalah semakin pelik ketika ibu kandung Lizzy, Juan dan Lita yang baru keluar dari penjara, ingin mengasuh anak-anaknya kembali. Padahal saat itu, hubungan antara Pete dan Ellie dengan ketiga anaknya sudah mulai berangsur membaik.
  Potongan adegan film “Instant Family” (Istimewa)

Lewat film “Instant Family” sang sutradara ingin menyampaikan pesan bahwa mengadopsi anak tidaklah semudah yang dibayangkan. Ada banyak problematika yang harus dihadapi oleh para orang tua asuh sebelum mereka akhirnya mampu membangun keluarga yang harmonis.

Akting Mark dan Rose mampu mengaduk-aduk emosi penonton. Keduanya sukses memancing gelak tawa penonton dalam film yang mengangkat tema cukup serius ini. Di sisi lain, penonton juga tetap mendapat suguhan adegan yang bisa membuat mata berkaca-kaca.

Baca juga: “Master Z: The Ip Man Legacy”, pembuktian sang guru wing chun
Baca juga: “Thugs of Hindostan”, pengkhianatan Aamir Khan dalam pemberontakan Amitabh Bachchan

 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Instan Family” suguhkan manis getir jadi orang tua asuh

Jakarta (ANTARA News) – Film keluarga bergenre drama komedi berjudul “Instan Family” yang saat ini tayang di bioskop-bioskop di Indonesia, bisa menjadi pilihan bagi para penikmat sinema untuk mengisi libur akhir pekan.

“Instan Family”, produksi Paramount Pictures, diangkat dari kisah nyata sang sutradara, Sean Anders, tentang manis getir menjadi orang tua asuh dengan tiga orang anak adopsi.

Dua tokoh utama film ini, Pete (diperankan aktor Mark Wahlberg) dan Ellie (Rose Byrne ), diceritakan telah menikah namun tak kunjung dikaruniai anak, padahal usia Pete sudah menginjak 36 tahun. 

Khawatir bila nantinya mereka baru memiliki anak di usia yang sudah terlalu tua, atau mungkin tidak mempunyai anak sama sekali, Pete sembari bercanda melontarkan ide untuk mengadopsi anak.

Tak disangka Ellie menanggapi serius candaan suaminya itu. Keduanya pun akhirnya memutuskan untuk mengadopsi anak.

Pete dan Ellie pun mengikuti kelas bimbingan dan persiapan menjadi orang tua asuh yang dimentori oleh Sharon (Tig Notaro) dan Karen (Octavia Spencer). Setelah dirasa siap menjadi orang tua asuh, Pete dan Ellie mulai mencari anak yang cocok untuk  diadopsi. 
  Potongan adegan film”Instan Family” (Istimewa)

Pilihan mereka jatuh kepada Lizzy (Isabela Moner) gadis remaja berusia 15 tahun, dan dua adiknya yakni Juan (Gustavo Quiroz) dan Lita (Julianna Gamiz). Ketiganya yang berasal dari Amerika Latin telah ditinggalkan oleh orang tua mereka. Ibunya di penjara karena kasus narkoba, sementara sang ayah tidak diketahui keberadaannya.

Awalnya, Pete dan Ellie merasa bahwa Lizzy, Juan dan Lita adalah anak-anak yang tepat untuk diadopsi, lantaran ketiganya memperlihatkan sikap yang manis dan baik di awal-awal pertemuan. Masalah mulai timbul ketika masing-masing anak mulai menunjukkan karakter aslinya.

Lizzy ternyata gadis urakan yang sulit diatur dan suka membantah. Sementara Juan memiliki sifat sensitif dan cengeng. Sedangkan si kecil Lita berperangai keras kepala dan suka marah-marah.

Pete dan Ellie yang semula sangat antusias memiliki “anak”, justru terjebak pada situasi sulit. Di satu sisi keduanya frustrasi menghadapi tingkah polah Lizzy, Juan dan Lita. Namun di sisi lain mereka terlanjur sayang dan tidak ingin ketiganya kembali ke jalan tanpa cinta dan kasih sayang orang tua.

Masalah semakin pelik ketika ibu kandung Lizzy, Juan dan Lita yang baru keluar dari penjara, ingin mengasuh anak-anaknya kembali. Padahal saat itu, hubungan antara Pete dan Ellie dengan ketiga anaknya sudah mulai berangsur membaik.
  Potongan adegan film “Instan Family” (Istimewa)

Lewat film “Instan Family” sang sutradara ingin menyampaikan pesan bahwa mengadopsi anak tidaklah semudah yang dibayangkan. Ada banyak problematika yang harus dihadapi oleh para orang tua asuh sebelum mereka akhirnya mampu membangun keluarga yang harmonis.

Akting Mark dan Rose mampu mengaduk-aduk emosi penonton. Keduanya sukses memancing gelak tawa penonton dalam film yang mengangkat tema cukup serius ini. Di sisi lain, penonton juga tetap mendapat suguhan adegan yang bisa membuat mata berkaca-kaca.

Baca juga: “Master Z: The Ip Man Legacy”, pembuktian sang guru wing chun
Baca juga: “Thugs of Hindostan”, pengkhianatan Aamir Khan dalam pemberontakan Amitabh Bachchan

 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Produksi film “Fantastic Beasts 3” ditunda sampai Oktober 2019

Jakarta (ANTARA News) – Produksi film “Fantastic Beasts 3” akan mundur beberapa bulan dari rencana, yang semula dijadwalkan mulai Juli tahun ini ditunda sampai musim gugur, kemungkinan Oktober atau November.

Warner Bros telah memutuskan mengatur ulang jadwal syuting film tersebut dan menggunakan waktu untuk masa pra-produksi agar lebih matang. Padahal biasanya, Warner Bros bersemangat untuk membawa film besar sesegera mungkin ke layar-layar bioskop, demikian seperti dilansir Aceshowbiz, Sabtu.

Namun, keterlambatan produksi “Fantastic Beasts 3” tidak akan mengubah tanggal rilis film, hanya saja hal tersebut jelas mempengaruhi jadwal para pemainnya. 

Salah satu yang harus menyesuaikan jadwal adalah Ezra Miller. Artinya, film Warner Bros yang lain seperti “Flashpoint” juga harus menunggu beberapa bulan lagi untuk produksi. 

Film tentang Flash telah beberapa kali mengalami penundaan karena selalu ditinggal oleh sutradaranya. Phil Lord dan Christopher Miller, pembuat film “The Lego Movie” yang awalnya menjadi sutradara “Flashpoint” terpaksa melepas film superhero tersebut karena jadwal mereka yang sudah padat.

Seth Grahame-Smith kemudian datang untuk menggarap proyek itu, tetapi ia pergi pada April 2016 karena “perbedaan visi”. Rick Famuyiwa kemudian diminta sebagai pengganti, tetapi juga keluar pada Oktober 2016, dengan alasan yang sama.

Lalu Januari tahun ini, Warner Bros akhirnya menemukan sutradara baru untuk “Flaspoint” yakni penulis “Spider-Man: Homecoming” John Francis Daley dan Jonathan Goldstein.

Ezra Miller yang berperan sebagai The Flash telah diperkenalkan dalam “Batman v Superman: Dawn of Justice” (2016) dengan penampilan cameo pendek, sebelum bergabung dengan Superman (Henry Cavill), Batman (Ben Affleck), Wonder Woman (Gal Gadot), Wonder Woman (Gal Gadot), Aquaman (Jason) Momoa) dan Cyborg (Ray Fisher) di “Justice League”..

Baca juga: Syuting sekuel film “Fantastic Beast” dimulai
Baca juga: Jude Law perankan Dumbledore muda di sekuel “Fantastic Beasts”

 

Penerjemah: Maria Cicilia
COPYRIGHT © ANTARA 2019