MUI harap film Buya Hamka lebih laris dari film Dilan

Jakarta (ANTARA) – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Yunahar Ilyas mengatakan bahwa MUI mendukung penuh dan bakal ikut mempromosikan film Buya Hamka.

“Insya Allah MUI ikut mempromosikan dan mendoakan,” kata Prof Yunahar saat konferensi pers Film Buya Hamka, di Jakarta, Senin.

Ia bahkan berharap film ini bisa ditonton masyarakat melebihi jumlah penonton film Dilan.

“Semoga melebihi Dilan,” katanya.

Dua perusahaan film Indonesia, Starvision dan Falcon Pictures tengah menggarap film tentang Buya Hamka.

Film yang akan mulai syuting pada awal April 2019 di Maninjau, Sumatera Barat ini dibintangi oleh Vino G. Sebastian sebagai pemeran utama.

Film ini akan ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia pada tahun depan.  

Baca juga: Vino Bastian perankan sosok Buya Hamka
Baca juga: Starvision-Falcon Pictures garap film Buya Hamka

 

Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Starvision-Falcon Pictures garap film Buya Hamka

Kami bekerja keras agar film ini bisa dinikmati oleh seluruh pecinta film Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Dua perusahaan film Indonesia, Starvision dan Falcon Pictures, bekerja sama menggarap film yang mengangkat kisah hidup ulama besar Buya Hamka.

“Ini kolaborasi Falcon, Starvision, dan MUI. Tentu semua mengenal ketokohan Buya Hamka. Semoga nanti film ini bisa menjadi pencerahan inspiratif buat kita semua, penonton film di Indonesia dan seluruh dunia,” kata produser rumah produksi Starvision, Chan Parwez, di Jakarta, Senin.

Film itu pun mendapat dukungan penuh dari Majelis Ulama Indonesia.

Chan menjelaskan ide pembuatan film Buya Hamka itu terjadi pada 2014 ketika dia bertemu dengan mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin.

Penulisan naskah film pun kerap mengalami perubahan dan memakan waktu lama.

“Semenjak saya ketemu Pak Din pada 2014. Cukup lama tapi itu proses yang mesti dijalani. Karya ini bukan karya ringan tapi karya besar,” katanya.

Produser Falcon Pictures, Frederica, menyebut film tersebut sebagai istimewa.

“Bagi kami film ini sangat istimewa. Kami bekerja keras agar film ini bisa dinikmati oleh seluruh pecinta film Indonesia,” kata dia.

Karakter Buya Hamka akan diperankan oleh Vino G. Sebastian.

Film itu akan mulai syuting pada awal April 2019 di Maninjau, Sumatera Barat.

Selain di Sumbar, rencananya film itu akan mengambil lokasi syuting di Jawa Tengah (Semarang, Tegal), Jakarta dan Jawa Barat (Sukabumi).

Film itu akan ditayangkan di bioskop pada tahun depan.

Selain Vino, sejumlah karakter di film itu akan diperkuat oleh Laudya Cynthia Bella, Desi Ratna Sari, Donny Damara, Ayudia Bing Slamet, Mellya Baskarani, Resa Putri, Mawar De Jongh, Ben Kasyafani, Verdi Solaiman, Marthino Lio, Alfie Alfandy, Yoga Pratama, Rebong, Rifnu Wikana, dan Ayu Laksmi.

Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“My Stupid Boss 2”, sekuel yang lebih jenaka

Jakarta (ANTARA) – Usaha sutradara Upi untuk membuat skenario yang tak kalah menggigit untuk sekuel “My Stupid Boss” akhirnya terbayar.

Kisah komedi tentang bos absurd yang jadi sumber penderitaan anak buahnya ini lebih menghibur dari pendahulunya.

Bossman (Reza Rahadian) si penganut prinsip “bos selalu benar” kembali beraksi dengan tingkah nyentrik yang selalu menguji kesabaran para karyawannya.

Diana (Bunga Citra Lestari) yang biasa dipanggil Kerani (pegawai administrasi) adalah tumpuan dari karyawan lain di perusahaan yang berlokasi di Malaysia itu.

Kerani selalu dimintai tolong oleh karyawan-karyawan yang ingin bicara pada Bossman karena sudah hampir dipastikan apa yang mereka minta bakal ditolak mentah-mentah.

Kelakuan Bossman masih dan makin membuat Kerani pusing tujuh keliling, apalagi suaminya (Alex Abbad) justru berkawan baik dengan si bos.

Bossman masih super pelit dan bertindak seenak jidat yang mengakibatkan sejumlah pekerjanya memilih angkat kaki.

Masalah ini membuat perusahaan kekurangan karyawan. Bossman punya solusi, mencari pekerja-pekerja upah murah dari Vietnam.

Bossman bertolak ke Vietnam bersama Kerani, Mr. Kho (Che Kin Wah) dan Adrian (Iedil Putra) untuk menemui Nguyen (Morgan Oey) yang sudah menjanjikan calon karyawan untuk si bos.

Norahsikin (Atiqah Suhaime) dan Azhari (Iskandar Zulkarnain) kebagian tugas menjaga kantor.

Pekerjaan yang awalnya disangka ringan justru mengancam keselamatan karena pada saat itulah para gangster India (Sahil Shah) dan China (Verdi Solaiman) datang untuk menagih hutang si bos yang sering menunggak.

Interaksi duo gangster dari geng berbeda ini merupakan salah satu adegan menghibur dan penuh kejutan dengan dialog Hindi, Mandarin dan Melayu.

Trio Kerani, Mr. Kho dan Adrian juga mengalami nasib apes di Vietnam, tentu saja gara-gara ulah Bossman yang tak pernah merasa punya kesalahan.

Makin jenaka

Pemilihan tone warna yang hangat dan mencolok seperti film pertama masih konsisten diterapkan di sini, pun lagu-lagu melayu yang mengingatkan pada suasana Negeri Jiran.

Semua tokoh punya karakter yang khas, masing-masing punya porsi yang pas.

Si bos yang ngaco dan sering nyerocos dalam bahasa Indonesia medok Jawa tanpa mempedulikan bahwa sebagian anak buahnya tak paham seperti Mr. Kho.

Kerani yang sering stres karena Bossman, Adrian yang naksir berat tapi bertepuk sebelah tangan pada Sikin, dan Azhari yang sangat alim.

“Ini film yang paling banyak pahala, seloroh Iskandar, pemeran Azhari yang senantiasa mengucapkan doa saat berada di posisi terjepit.

Selain deretan pemain lama, ada wajah-wajah baru dalam film yang diadaptasi dari novel berjudul sama dari chaos@work berdasarkan pengalaman nyatanya bekerja di negeri jiran.

Karakter Adrian yang tadinya dimainkan Bront Palarae kini diperankan oleh Iedil Putra yang berhasil memberikan nafas baru dalam karakter tersebut.

Acungan jempol juga buat Morgan Oey sebagai Nguyen, di mana dia dituntut bisa mencerocos dalam bahasa Vietnam.

Film “My Stupid Boss 2” akan rilis pada 28 Maret 2019.

Baca juga: Reza Rahadian bangkitkan ingatan Bossman selepas tiga tahun

Baca juga: “Siap terlihat jelek”, Morgan Oey dapat peran di film Upi

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Paramount minta Sutradara “Rocketman” hilangkan adegan gay

Jakarta (ANTARA) – Pimpinan Paramount Pictures meminta sutradara film  “Rocketman” agar menghapus adegan telanjang seusai melakukan seks sesama jenis dalam film biografi Elton John itu, kemudian mengubahnya menjadi adegan yang mengenakan busana.

“Rocketman” akan menampilkan hari-hari awal Elton John sebagai anak berbakat dari Royal Academy of Music, kerja sama musiknya dengan Berbie Taupin serta perjuangannya terhadap penyalahgunaan zat, depresi dan penerimaan atas orientasi seksualnya.

Adegan yang dimaksud adalah saat John dan manager lamanya John Reid selesai berhubungan seks dan menampilkan tubuh dalam kondisi tanpa busana.

“Paramount memaksa sutradara untuk memotong adegan tersebut sehingga bisa masuk peringkat PG-13 Amerika (PG-13 setara dengan 12A di Inggris),” ujar Bamigboye dari Daily Mail, dilansir Aceshowbiz, Minggu.

Menurut Bamigboye, adegan tersebut kini dibuat menjadi lebih sopan yakni dengan menggunakan pakaian.

John dikabarkan tidak masalah jika filmnya hanya bisa disaksikan dengan rating terbatas dan dia sempat menginstruksikan kepada para produser dan sutradara pada awal produksi untuk menceritakan semuanya.

“Ceritakan semuanya. Ambil sesuai dengan nilai R (rating usia) yang kalian butuhkan,” kata Elton saat itu.

Alasan pimpinan Paramount Pictures ingin mengurangi adegan tersebut, diduga berhubungan dengan kesuksesan film biopik Queen “Bohemian Rhapsody”.

Meski demikian perwakilan Paramount Pictures belum memberikan komentar mengenai masalah tersebut.

Elton John akan diperankan oleh Taron Egerton. Sedangkan John Reid dimainkan oleh Richard Madden. “Rocketman” disutradarai oleh Dexter Fletcher dan akan tayang pada Mei 2019.

Baca juga: Tampilan Taron Egerton sebagai Elton John dalam “Rocketman”

Baca juga: Teaser pertama film “Rocketman” tampilkan Taron Egerton sebagai Elton John

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Zac Efron dan Amanda Seyfried isi suara untuk film Scooby-Doo

Jakarta (ANTARA) – Zac Efron dan Amanda Seyfried akan mengisi suara untuk Fred dan Daphne dalam film “Scooby-Doo” terbaru.

Sebelumnya Warner Bros Animation Grup telah mengumumkan bahwa Will Forte, Gina Rodriguez dan Tracy Morgan akan mengisi suara untuk Shaggy, Velma dan Kapten Caveman, dilansir Deadline, Minggu.

Sementara itu, Frank Welker akan mengulangi suara Scoob seperti dalam serial “Scooby-Doo, Where Are You!” yang tayang pada 1969-1970.

Dalam film mendatang, diperlihatkan bahwa geng Mystery Inc akan bekerja sama dengan karakter lain dalam Hanna-Barbera Universe untuk menyelamatkan dunia dari kejahatan Dick Dastardly.

Tony Cervone bertindak sebagai sutradara dalam film ini dan naskahnya ditulis oleh Matt Lieberman. Sedangkan Chris Columbus, Pam Coats dan Allison Abbate duduk di kursi produser.

Sementara Charles Roven, Richard Suckle, Dan Povenmire dan Adam Sztykiel menjabat sebagai produser eksekutif. Film ini dijadwalkan tayang pada 15 Mei 2020.

“Scooby-Doo” diciptakan oleh Joe Ruby dan Ken Spears sebagai serial animasi dan telah diangkat ke dalam berbagai media mulai dari komik, film televisi, film dan dua film live action “Scooby-Doo” pada 2002 dan “Scooby-Doo 2: Monsters Unlieashed” pada 2004 yang dibintangi oleh Freddie Prinze Jr sebagai Fred, Sarah Michelle Gellar sebagai Daphne, Matthew Lillard sebagai Shaggy, Linda Cardellini sebagai Velma dan Neil Fanning sebagai suara Scooby-Doo.

Baca juga: Scooby-Doo kembali hadir di layar lebar

Baca juga: Animasi Scooby-Doo akan hadir di layar lebar

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Siap terlihat jelek”, Morgan Oey dapat peran di film Upi

Jakarta (ANTARA) – Kesempatan berakting di “My Stupid Boss 2” datang ke hadapan Morgan Oey setelah mengiyakan syarat dari sutradara Upi Avianto bahwa dirinya harus “siap dibikin jelek”.

“Kayaknya ini look saya yang paling jelek dalam film,” seloroh Morgan usai pemutaran perdana “My Stupid Boss 2” di Jakarta, Sabtu (23/3) malam.

Dalam film komedi yang diangkap dari novel berjudul sama, Morgan berperan sebagai Nguyen, penyedia jasa buruh asal Vietnam yang bekerjasama dengan Bossman (Reza Rahadian).

Pria yang awalnya dikenal sebagai anggota grup musik SM*SH itu merombak total penampilannya.

Nguyen memiliki potongan rambut bowl cut yang bagian dalamnya dipangkas habis, mirip seperti karakter komik Kobo-chan.

Sebagai Nguyen, pria asli Vietnam, Morgan juga dituntut untuk menguasai bahasa Vietnam, khususnya dialek masyarakat di bagian utara yang terdengar lebih medok.

Ini bukan pengalaman pertama Morgan berakting sebagai pria asing.

Bagai bunglon, Morgan sudah pernah menjelma jadi orang China di “Assalamualaikum Beijing”, menjadi pria Korea Selatan di “Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea” juga orang Jepang di film “Winter in Tokyo”.

Mempelajari beberapa bahasa asing untuk kebutuhan syuting membuat Morgan lebih cepat beradaptasi saat menghadapi bahasa baru.

Meski demikian, Morgan berpendapat Vietnam adalah yang tersulit dari semua bahasa Asia yang pernah ia pelajari.

Pemenang Pemeran Utama Pria Terpuji di Festival Film Bandung 2018 itu hanya belajar intensif selama sepekan bersama guru di Indonesia.

Kemampuan bahasanya dipertajam selama pengambilan gambar di Vietnam di mana dia berusaha bertingkah laku seperti layaknya warga lokal.

“Upi juga mengawasi terus agar bahasanya tidak terdengar seperti bahasa Thailand atau seperti Vietnam Selatan,” kata Morgan yang senang bisa terlibat dalam film komedi arahan Upi.

Menjajal karakter yang segar, meski porsinya tidak sebanyak pemeran utama, dia anggap jadi kesempatan mengasah kemampuan ketimbang terjebak pada peran yang itu-itu saja.

Dalam film “My Stupid Boss 2”, Nguyen digambarkan sebagai pria berwajah manis di depan klien, tapi bengis di hadapan anak buah. Berakting marah-marah rupanya melelahkan.

“Saya paling ingat adegan di kapal, kan suaranya (sekitar) kencang, saya lumayan jerit-jerit (agar suara terdengar).”

Baca juga: Ketika Morgan Oey perankan karakter bertolak belakang dari kepribadiannya

Baca juga: Ayushita, Morgan Oey, Yuki Kato bakal menari bersama ribuan orang

Baca juga: Morgan Oey jadi penderita alzheimer

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Reza Rahadian bangkitkan ingatan Bossman selepas tiga tahun

Jakarta (ANTARA) – Aktor Tanah Air Reza Rahadian punya cara khas untuk kembali menjelma sebagai tokoh Bossman dalam film “My Stupid Boss 2” dengan menonton ulang film pertama “My Stupid Boss” demi membangkitkan ingatan sosok itu.

Usai pemutaran perdana “My Stupid Boss 2″di Jakarta, Sabtu (23/3) malam, Reza mengaku selalu menyimpan ingatan untuk tokoh-tokoh yang pernah diperankannya.

Pemanggilan kembali ingatan tentang sosok bos super yang menyebalkan dan seringkali membuat karyawan naik darah itu dilakukan Reza menyusul kehadiran film pertama itu pada 2016.

Aktor yang memenangkan penghargaan sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik Festival Film Indonesia pada 2013 itu menonton kembali “My Stupid Boss” yang juga disutradarai Upi Avianto.

“Saat kumpul bersama para pemeran (termasuk yang) baru, Upi ajak nonton (My Stupid Boss) yang lama. Jadi, saya bisa mengingat kembali,” ujar Reza tentang film yang mendapatkan penonton lebih dari tiga juta orang itu.

Dalam sekuel itu, Reza tidak mau sekadar menghadirkan karakter yang sama, tapi dia ingin memberikan nuansa baru yang disebutnya “bisa menambah value dari karakter itu”.

Ucapan “tempe bener, sih!” yang sering keluar dari mulut Bossman kembali menghiasi film. Begitupula, celetukan-celetukan spontan yang menambah bumbu komedi.

Baca juga: Pemutaran perdana “My Stupid Boss 2” jadi kejutan buat BCL

“Kadang saya tidak bisa memunculkan itu ketika membaca naskah, celetukan seperti itu spontan saja keluar. Celetukan itu adalah respons dari ruang-ruang yang diberikan oleh lawan main,” jelas aktor yang mengawali karir sebagai model itu.

Perawakan Bossman yang tambun mengharuskan Reza mengenakan fat suit. Untuk mengimbangi badannya yang membesar, aktor berusia 32 tahun itu pun menambah berat badan sehingga wajahnya terlihat lebih gemuk.

“Biar ada lipatan lehernya,” kata aktor yang sering bermain di film biopik, memerankan karakter Presiden B.J. Habibie, Benyamin Sueb sampai pemimpin Sarekat Islam Oemar Said Tjokroaminoto itu.

“My Stupid Boss 2” berkisah tentang Bossman yang mengalami krisis kekurangan karyawan pabrik dan memutuskan untuk mencari pekerja murah dari Vietnam.

Dia bersama Diana alias Kerani (Bunga Citra Lestari), Mr. Kho (Che Kin Wah) dan Adrian (Iedil Putra) pun pergi ke Vietnam. Tapi alih-alih mendapatkan karyawan, mereka justru menghadapi masalah baru.

Film itu dibintangi juga oleh Morgan Oey, Alex Abbad, Atiqah Suhaime, Iskandar Zulkarnain dan Melisa Karim. “My Stupid Boss 2” akan rilis pada 28 Maret 2019.

Baca juga: “My Stupid Boss 2” rilis trailer dan poster

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“27 Steps of May” tayang 27 April di Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Karya terbaru sutradara Ravi Bharwani yang berjudul “27 Steps of May” akan segera ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia setelah “jalan- jalan” ke beberapa festival film internasional sejak Oktober 2018 lalu.

“Kami akhirnya memutuskan untuk tayang perdana di bioskop-bioskop Indonesia mulai 27 April 2019, setelah berdiskusi dengan pihak XXI Cineplex. Pemilihan tanggal penuh pertimbangan karena hampir berbarengan dengan rilisnya film superhero Hollywood dan pemilu,” ujar produser Wilza Lubis dalam keterangan pers, Sabtu.

Film yang mengangkat isu trauma pasca-kekerasan seksual terhadap perempuan itu memakan proses sekitar lima tahun, mulai dari tahap riset sampai sesudah produksi.

“Sebagai film yang minim dialog dan menitikberatkan elemen-elemen visual dalam bercerita, maka semua elemen ini harus dibuat dan ditata secara detail dan rapi. Hal tersebut memerlukan ketelitian, kesabaran, dan tentunya waktu. Manajemen waktu ini yang menjadi tantangan paling berat,” ungkap Ravi Bharwani.

Film yang diproduksi oleh Green Glow Pictures dan didukung oleh Go Studio itu diawali dengan adegan May –diperankan oleh aktris Raihaanun– yang kala itu berusia 14 tahun diperkosa oleh sekelompok orang tak dikenal.

Akibat trauma yang mendalam, May menarik diri sepenuhnya dari kehidupan.

May menjalani hidupnya tanpa koneksi, emosi, dan kata-kata. Peristiwa tersebut tidak hanya berdampak pada kehidupan May, tetapi juga Bapak –yang dimainkan oleh aktor Lukman Sardi.

Bapak May sangat terpukul dan menyalahkan dirinya karena tidak dapat menjaga putrinya. Ia memiliki karakter lembut yang siap mengorbankan segalanya untuk memberikan kenyamanan dan perlindungan bagi anaknya.

Namun, di luar rumah Bapak memiliki karakter yang berbeda. Ia menyalurkan semua emosinya di ring tinju. Trauma yang mereka alami itu berlangsung hingga delapan tahun.

Film berdurasi 112 menit itu juga dibintangi oleh Ario Bayu dan Verdi Solaiman.

“27 Steps of May” pertama kali diputar di Busan International Film Festival pada Oktober tahun lalu, juga Cape Town International Film Market & Festival, Goteborg Film Festival, dan Bengaluru International Film Festival.

“Waktu melihat antusias yang besar dari penonton film ’27 Steps of May’ pada dua pemutaran di Indonesia–Jogja-NETPAC Asian Film Festival dan Plaza Indonesia Film Festival–saya semakin deg-degan sekaligus tidak sabar menanti 27 April nanti,” ujar Raihaanun.

Baca juga: “27 Steps of May” ke tiga festival film di Bengaluru, Mesir, Kamboja
Baca juga: Kesulitan Raihaanun perankan korban perkosaan

 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Titi Kamal jatuh cinta skenario “Rumput Tetangga”

Jakarta (ANTARA) – Aktris Titi Kamal mengaku jatuh cinta dengan skenario film “Rumput Tetangga” setelah menerima tawaran Raffi Ahmad dalam pesan singkat aplikasi Whatsapp.

“Saya berperan jadi Kirana, ibu rumah tangga yang dulunya aktif berorganisasi dan bercita-cita jadi PR consultant,” ujar Titi dalam jumpa pers “Rumput Tetangga” di Jakarta, Kamis.

Titi mengaku langsung tertarik untuk terlibat dalam film yang diproduseri Raffi melalui rumah produksi RA Pictures itu setelah membaca skenario yang disebutnya sesuai dengan kehidupan sehari-hari.

Karakter dan konflik yang muncul dalam “Rumput Tetangga”, menurut Titi, sekitar kehidupan ibu rumah tangga dan wanita karir.

Baca juga: Alasan Raffi Ahmad produksi banyak film

Aktris berusia 37 tahun itu memerankan tokoh Kirana yang digambarkan sebagai ibu rumah tangga dengan ambisi untuk menjadi wanita karir.

Film yang disutradarai Guntur Soeharjanto itu juga dibintangi oleh Raffi Ahmad, Donita, Gading Marten dan Tora Sudiro.

Sementara, Gisel ditunjuk sebagai penyanyi soundtrack “Yang Kumau”, lagu yang dipopulerkan Krisdayanti dan diaransemen ulang oleh Melly Goeslaw dan Anto Hoed.

Film berdurasi 95 menit ini akan tayang pada 18 April 2019.

Baca juga: Raffi Ahmad ingin ke fokus ke rumah produksi miliknya

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Buku sekuel “Bird Box” akan dirilis Oktober

Jakarta (ANTARA) – Penulis “Bird Box” telah mengkonfirmasi bahwa sekuel buku aslinya akan diterbitkan pada Oktober mendatang.

Novel karya Josh Malerman yang dirilis pada 2014 itu, diadaptasi Netflix menjadi film berdurasi panjang yang dibintangi Sandra Bullock, Trevante Rhodes dan John Malkovich.

Film “Bird Box” kemudian menjadi hits saat diluncurkan pada Desember tahun lalu. Jumlah penonton streaming pada pekan pertama merupakan yang terbaik sepanjang sejarah film Netflix original.

Perhatian yang besar dari penonton membuat Malerman segera menyelesaikan sekuelnya. Malerman mengatakan bahwa buku berikutnya akan diberi judul “Malorie” dan terbit pada 1 Oktober.

“Saat “Bird Box” keluar, saat itu saya sedang menulis “Malorie”, saya ditanya banyak orang, orang ingin tahu apa yang terjadi dengan Boy dan Girl,” kata Malerman dilansir NME, Kamis.

“Tapi sama seperti kepedulian saya tentang Boy and Girl, ini bukan kisah mereka. The Bird Boxworld adalah kisah Malorie, dan saya ingin tahu lebih banyak tentangnya. Saya ingin mengenalnya lebih baik. Di akhir film, saya menoleh ke anakku Allison dan berkata, ‘Aku ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya!’ Dan dia seperti, ‘Yah, kau tahu, kau bisa mewujudkannya,’ Jadi ini benar-benar perasaan yang hangat,” lanjut Malerman.

Baca juga: YouTube larang konten tantangan dan candaan berbahaya

Baca juga: “Bird Box” Sandra Bullock pecahkan rekor Netflix

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Disney dan Pixar rilis trailer “Toy Story 4”

Jakarta (ANTARA) – Walt Disney dan Pixar merilis trailer film animasi “Toy Story 4” berdurasi dua menit lebih yang menampilkan Woody, Buzz Lightyear, Bo Peep dan mainan baru bernama Forky.

Dalam trailer itu, Woody berkata pada para mainan lainnya mengenai pentingnya Forky bagi Bonnie, demikian seperti dilansir Variety, Selasa (19/3)

Dia juga memberitahu Forky (disuarakan oleh Tony Hale) yang saat itu meragukan diri sendiri untuk mendalami perannya sebagai mainan.

Setelah Bonnie membawa semua mainannya dalam perjalanan keluarga, Woody mengalami kejadian tak terduga yang membawanya bertemu teman lama, Bo Peep (Annie Potts).

Bo Peep mencoba meyakinkan Woody untuk meninggalkan Bonnie. Apa jawaban Woody?

“Toy Story 4” juga memperkenalkan tiga mainan baru yakni boneka bernama Gabby Gabby (Christina Hendricks), boneka akrobat Duke Caboom (Keanu Reeves) dan boneka miniatur Giggle McDimples (Ally Maki).

Dalam film yang disutradarai Josh Cooley itu aktor Tom Hanks mengisi suara Woody, Tim Allen sebagai Buzz, Joan Cusack sebagai Jessie, dan Don Rickles dan Estelle Harris sebagai Potato Heads.

“Toy Story” merupakan film animasi penuh komputer pertama dan pernah menjadi film terlaris. Dua sekuel film berikutnya dirilis pada tahun 1999 dan 2010 dan menghasilkan 1,97 miliar dolar AS secara global di box office.

“Toy Story 4” akan tayang 19 Juni 2019, 24 tahun setelah film pertamanya.

Baca juga: Keanu Reeves akan muncul di “Toy Story 4”
Baca juga: Toy Story hadir dalam bentuk kosmetik

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jordan Peele ingin mengulang kesuksesannya di film “Us”

Film yang berkisah tentang trauma yang dialami oleh Adelaide Wilson yang diperankan oleh Lupita Nyong’o, ketika ia masih kecil pada tahun 1986 di sebuah pantai di Amerika Serikat ia menemukan kejadian yang tak terlupakan di dalam arena taman bermain

Jakarta (ANTARA) – Setelah sukses dengan film horor “Get Out” yang mendapat piala Oscar dengan “Best Original Screenplay” kini Jordan Peele ingin mengulang kesuksesan tersebut dengan merilis film horor yang berjudul “Us” yang tayang perdana tepat pada hari ini Rabu (20/3).

Film yang berkisah tentang trauma yang dialami oleh Adelaide Wilson yang diperankan oleh Lupita Nyong’o, ketika ia masih kecil pada tahun 1986 di sebuah pantai di Amerika Serikat ia menemukan kejadian yang tak terlupakan di dalam arena taman bermain yang masih terus menghantuinya hingga ia memiliki keluarga.

Pada libur musim panas Adelaide Wilson dan keluarganya memutuskan unutk berlibur ke pantai di Amerika Serikat, mereka menginap di sebuah rumah di tepi pantai yang tak terhubung dan jauh dari keramaian.

Pada suatu malam, Adelaide Wilson menceritakan kondisi yang ia alami kepada suaminya, tak lama berselang trauma yang menghantuinya hingga sampai saat ini benar benar muncul meneror. Satu keluarga mendatangi kediaman yang ditinggali oleh Adelaide Wilson dan keluarganya.

Kendati demikian, teror yang menghantui keluarga dari Adelaide Wilson juga menghantui keluarga dari Elisabeth Moss sebagai Mrs. Tyler yang tinggal lumayan jauh dari kediamannya, semakin malam suasana semakin mencekam akibat teror yang dilakukan oleh sebuah mahluk yang menyeramkan.

Akankah Adelaide Wilson selamat dari kejaran teror yang menggangu dirinya juga keluarganya dan akankah hilang trauma yang dari sejak kecil ia rasakan?

Film yang diproduksi oleh Blumhouse Productions dan Monkeypaw Productions ini mempunyai kesan yang membuat penonton tegang dalam melihat setiap adegan yang meneror keluarga Adelaide Wilson, peran yang dimainkan oleh Lupita Nyong’o juga sangat membuat penonton greget dengan aksinya dalam melawan mahluk yang menerornya, tidak hanya kesan horor. Jordan Peele juga tidak lupa untuk memasukan unsur komedi dalam film “Us” yang sukses memancing satu studio untuk tertawa akibat peran dan tingkah laku yang dimainkan oleh Winston Duke sebagai Gabe Wilson,

Tidak salah jika Film ini mendapat nilai yang cukup baik dari Rotten Tomatoes yang dimana diketahui situs ini dikenal pedas jika mengkritik sebuah film yang baru dirilis.

Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Amanda Rawles ketagihan lari gara-gara syuting “Running Girl”

Jadi ketagihan karena banyak lari di alam, ternyata seru juga

Jakarta (ANTARA) – Aktris Amanda Rawles mengaku ketagihan olahraga lari sejak membintangi mini seri “Running Girl”, yang berkisah tentang seorang mahasiswi penyuka aktivitas di luar ruangan.

Amanda menjalani proses syuting “Running Girl” selama kurang lebih satu minggu dan di setiap episodenya, selalu ada adegan dia sedang berlari termasuk di alam terbuka.

“Ini tantangan banget sih karena selama main film belum pernah ada adegan lari-lari sebanyak ini. Siang-siang panas tapi tetap semangat. Jadi ketagihan karena banyak lari di alam, ternyata seru juga,” kata Amanda setelah pemutaran perdana “Running Girl” di Jakarta, Selasa.

Ia pun mengatakan terinspirasi dengan karakter yang diperankannya di mini seri itu, membuatnya bertekad lebih rajin berlari.

“Aku sangat terinspirasi banget. Sebelumnya ogah-ogahan sih olahraganya. Kayaknya aku mau mulai fokus, karena sekarang juga lagi banyak waktu luangnya,” ujarnya

“Running Girl” merupakan mini seri pertama Amanda. Sebelumnya, ia membintangi sejumlah judul film yakni “Dear Nathan” dan “Dear Nathan: Hello Salma”.

Ia lalu menjelaskan perbedaan syuting untuk layar lebar dan mini seri.

“Ini (mini seri) cepat banget, enggak selama film yang perlu pakai perubahan karakter. Ceritanya cepat banget tapi sampai ke penonton. Aku sendiri suka nonton mini seri jadinya ketagihan juga sih,” ujar gadis kelahiran 25 Agustus 2000 itu.

Baca juga: “Running Girl”, kisah Amanda Rawles jadi pelari cantik
Baca juga: Amanda Rawles bakal tampil jadul di film baru Mira Lesmana-Riri Riza

 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Running Girl”, kisah Amanda Rawles jadi pelari cantik

Jakarta (ANTARA) – Viu kembali menghadirkan serial original berjudul “Running Girl”, yang mengisahkan pelari cantik yang diperankan oleh Amanda Rawles.

“Running Girl” bercerita tentang Amanda, seorang mahasiswi perguruan tinggi negeri yang aktif, cerdas, dan sangat menyukai aktivitas luar ruangan. Dia juga suka berpartisipasi dalam kompetisi maraton dan tidak pernah takut kehilangan kecantikannya saat berada di bawah terik matahari.

Hobi Amanda berlari maraton mempertemukannya dengan Dante (Endy Arfian Putra). Dante terpesona dengan kegigihan dan kecantikan wajah Amanda yang tetap cerah dan bersih meski terpapar sinar matahari terus-menerus.

Baca juga: Amanda Rawles bakal tampil jadul di film baru Mira Lesmana-Riri Riza “Kami melihat bahwa “Running Girl” merupakan sebuah contoh tentang kisah menarik dari Indonesia yang perlu diceritakan, sesuai dengan komitmen kami untuk berinvestasi pada bakat dan talenta lokal. Kami berharap serial pendek ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat,” ujar Myra Suraryo, wakil presiden senior Viu untuk pemasaran Indonesia, dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa.

Serial pendek ini disutradarai oleh Hilman Mutasi. Melalui serial tersebut, Hilman ingin menyampaikan kepada generasi Z untuk tidak mudah menyerah.

Baca juga: Cara Amanda Rawles “bersahabat” dengan matahari

“Running Girl juga ingin menyampaikan pesan kepada Gen Z Indonesia untuk menjadi berani, tidak mudah menyerah, dan tetap fokus pada tujuan yang ingin mereka capai,” kata Hilman.

Sejak syuting serial mini ini, Amanda Rawless mengaku jadi senang dengan olah raga lari. Bahkan dia ingin mencoba untuk ikutan lari maraton.

“Aku jadi terinspirasi dari karakter ini juga. Sebelumnya ogah-ogahan sih olah raganya,” kata Amanda.

“Running Girl” mulai tayang di Viu Indonesia dan Malaysia pada 21 Maret hingga 30 April 2019.

Baca juga: Bekraf gandeng Viu kembangkan ekosistem film Indonesia
Baca juga: Viu bangkitkan film lokal lewat festival

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Siswa SMK bikin film Aqidah Cinta

Rencananya film ini juga akan ditayangkan di bioskop

Jakarta (ANTARA) – Sejumlah siswa dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Dewi Sartika Jakarta dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Global Islamic School berkolaborasi membuat film berjudul Aqidah Cinta.

“Film ini bagus karena semua pemainnya adalah siswa SMA dan SMK. Begitu juga kru-nya juga dari siswa. Ada beberapa film yang dibuat siswa tapi untuk kru-nya biasanya dari rumah produksi,” ujar Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Dr Maman Wijaya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.

Dengan keterlibatan siswa baik sebagai pemain dan juga kru-nya, Maman berharap para siswa bisa belajar banyak dari pengalaman tersebut. Sehingga menjadi bekal para siswa ketika terjun di dunia industri.

Maman berharap dengan dimulainya pengerjaan film yang berjudul Aqidah Cinta tersebut, menjadi tonggak perfilman sekolah menengah. Film merupakan salah satu instrumen pendidikan.

“Terimakasih kepada sekolah yang telah menginisiasi pembuatan film oleh siswa,” kata dia.

Kepsek SMK Dewi Sartika, Gilang Gerrialga, mengatakan semua pemain dan kru dari film tersebut merupakan siswa SMK Dewi Sartika dan SMA Global Islamic School. Sebelumnya, mereka hanya membuat film-film pendek.

“Ini pertama kalinya, kami membuat film panjang dengan durasi 90 menit. Rencananya film ini juga akan ditayangkan di bioskop,” ujar Gilang.

Wakil Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), Dody Budiatman, mengatakan sebelum film ditayangkan maka harus melalui seleksi di LSF terlebih dahulu.

“Mendengar LSF, banyak yang takut. Takut filmnya diobrak-abrik. Sekarang LSF tidak seperti itu sekarang,” kata Dody.

Dody mengatakan LSF tidak hanya melihat film sebagai karya seni, tapi berpotensi membangun karakter bangsa, meningkatkan ketahanan dan alat promosi.

Baca juga: YouTube susul Amazon masuk bioskop
Baca juga: Keunggulan menyaksikan film di bioskop ketimbang platform digital
 

Pewarta: Indriani
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Abimana senang tapi takut perankan Gundala

Jakarta (ANTARA) – Sebagai aktor berpengalaman, Abimana Aryasatya masih menyimpan perasaan yang tidak biasa saat dipilih sebagai pemeran pahlawan super Indonesia, “Gundala”.

“Perasannya senang, tapi juga takut seperti melihat lahiran anak,” ujar sang aktor berusia 36 tahun itu dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Selasa.

Abimana mengaku aktingnya sangat terbantu oleh arahan Joko Anwar sebagai sutradara dan penulis skenario.

“Kerja dengan Joko sangat mudah karena dia tahu apa yang mau dia sampaikan. Semua sudah dipikirkan dan dikonsep olehnya.”
  Muzakki Ramdhan di film “Gundala” (HO/ist)

Sebagaimana Abimana, pemeran tokoh Sancaka, nama asli Gundala kecil, Muzakki Ramdhan juga mengaku senang walau kelelahan.

“Om Joko selalu bilang ke aku untuk selalu memberikan penampilan terbaik. Biasanya kalau sudah selesai syuting, aku disuruh menemani Om Joko dulu, sampai ngantuk baru aku pulang.” ujar aktor kecil berusia sembilan tahun itu.

Abimana dan Muzakki berbagi layar sebagai Sancaka.

Sancaka atau Gundala adalah tokoh komik rekaan Harya Suraminata yang muncul pertama kali dalam komik Gundala Putra Petir pada 1969.

Total 23 komik sudah diterbitkan oleh Harya sepanjang hidupnya. Kini hak cipta Gundala dipegang oleh Bumilangit, rumah bagi lebih dari 1.000 karakter komik Indonesia.

Film Gundala dijadwalkan tayang pada 2019. Film itu diproduksi oleh Screenplay Films, Bumilangit Studios, serta Legacy Pictures.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Police Evo”, Film laga pertama Raline Shah

Jakarta (ANTARA) – Aktris Raline Shah debut di film genre laga berjudul “Police Evo”, hasil kolaborasi Screenplay Films, Astro Shaw, SCM dan Blackflag yang akan tayang pada 18 April 2019 mendatang.

Sebagai pemain utama, Raline menjalani serangkaian latihan fisik dan belajar menembak.

“Karakter Rian sebagai polisi menjadi karakter yang paling kuat dan tidak mudah untuk saya perankan apalagi saya belum pernah main film action. Jadi, untuk menjadi Rian adalah tantangan dan pengalaman seru bagi saya,” kata Raline dalam siaran pers, Senin.

“Hampir 8 bulan saya latihan fisik, latihan menggunakan senjata setiap hari selama 3 jam. Ada target berat badan harus naik 5 kg, jadi saya harus latihan disiplin mulai dari angkat beban. Kemudian harus belajar bela diri. Semua saya lakukan demi peran di film Police Evo,” lanjutnya.

Dalam trailer film berdurasi 1 menit 20 detik, terlihat berbagai suguhan laga dan aksi tembak yang menegangkan. Adegan awal dibuka dengan percakapan tentang sebuah misi yang harus dijalankan Rian (Raline Shah). Rian adalah seorang anggota polisi yang ditugaskan untuk membongkar jaringan narkoba.

Baca juga: Raline Shah rasakan tayangan perdana “Dumbo” di Hollywood

Usaha Rian dalam menjalankan misinya ternyata tidak mudah. Statusnya sebagai polisi dipertanyakan. Di sisi lain, kelompak mafia yang diincar berubah menjadi kelompok ekstremis.

Pada saat itulah Rian bersama rekan-rekannya harus melumpuhkan kelompok tersebut. Deru tembakan dan suara ledakan mewarnai aksi Rian dan kawan-kawannya.

Selain Raline Shah, sejumlah pemain yang turut membintangi film “Police Evo” diantaranya Tanta Ginting, Mike Lucock, Shaheizy Sam, Zizan Razak dan Hasnul Rahmat.

Baca juga: “Orang Kaya Baru” tembus sejuta penonton

Baca juga: Kemarin, para pemenang Grammy hingga Samsung Galaxy M20 hadir di Indonesia

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kekuatan “Captain Marvel” tak tertandingi di box office

Jakarta (ANTARA) – Belum ada yang bisa menandingi kekuatan “Captain Marvel” pada pekan kedua box office. Film Marvel Studio pertama yang dipimpin oleh perempuan ini meraup 69 juta dolar AS atau Rp981,6 miliar sehingga pendapatan domestiknya saat ini mencapai 265 juta dolar AS atau Rp3,7 triliun.

Di luar negeri, film yang dibintangi oleh Brie Larson itu telah mengumpulkan lebih dari 494 juta dolar AS atau Rp7,02 triliun sehingga pendapatan globalnya sejauh ini mencapai 760 juta dolar AS atau Rp10,8 triliun, dilansir Aceshowbiz, Senin.

Dalam dua minggu, film ini telah melampaui pendapatan “Ant-Man and the Wasp” (623 juta dolar atau Rp8,86 triliun), “Iron Man 2” (624 juta dolar atau Rp8,87 triliun), “Thor: The Dark World” (645 juta dolar atau Rp9,17 triliun) dan “Captain America: The Winter Soldier” (714 juta dolar atau Rp10,14 triliun) secara global.

Namun “Captain Marvel” mengalami penurunan sebanyak 54,8 persen di minggu kedua jika dibandingkan dengan pendahulunya “Avengers: Infinity War”. Pada tahap ini, film yang diarahkan oleh Anna Boden dan Ryan Fleck akan dengan mudaj bergabung dengan klub 1 miliar dolar atau Rp14,2 triliun dalam waktu singkat.

Sementara itu, peringkat kedua box office pekan ini diduduki oleh “Wonder Park” yang memulai debut dengan angka 16 juta dolar atau Rp227,3 miliar. Film animasi dari Paramount Pictures itu menghabiskan biaya produksi mencapai hampir 100 juta dolar atau Rp1,4 triliun.

Ulasan para kritikus ternyata tidak membantu peruntungan film ini karena hanya memiliki peringkat persetujuan sebesar 30 persen di Rotten Tomatoes. Namun penonton lebih menghargai dengan memberikan nilai B+ di CinemaScore.

Paul Dergarabedian analis media senior untuk Comscore mengatakan bahwa sulit untuk bersaing dengan “Captain Marvel” yang bisa disaksikan untuk semua umur dan audiensi.

“Anda tidak selalu harus jadi nomor satu untuk sukses. Dan “Five Feet Apart” telah membuktikan hal itu,” kata Paul.

Pada posisi ketiga box office ditempati oleh “Five Feet Apart”. Lalu disusul dengan “How to Train Your Dragon: The Hidden World” dan “Tyler Perry’s a Madea Family Funeral”.

Baca juga: “Captain Marvel”, kisah super hero perempuan tayang hari ini

Baca juga: Brie Larson “Captain Marvel” dorong inklusi di balik layar

Baca juga: Beradegan dengan kucing, Brie Larson “Captain Marvel” alergi

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Richard Erdman, aktor “Community” dan “Twilight Zone” tutup usia

Jakarta (ANTARA) – Richard Erdman, aktor senior yang berperan sebagai mahasiswa lanjut usia bernama Leonard di serial “Community” tutup usia.

Pria yang juga membintangi serial televisi “Twilight Zone” dan “Stalag 17” itu meninggal pada usia 93 tahun, Sabtu (16/3), demikian seperti dikutip dari laman Variety, Minggu (17/3).

Kematiannya dikabarkan sahabatnya, seorang sejarawan film Alan K Rode lewat Twitter.

Bintang “Community” Joel McHale menyampaikan penghormatannya bagi Erdman di Twitter. “Orang yang baik dan lucu. Kami akan merindukanmu ‘Leonard’,” katanya.

Aktris “Community” Yvette Nicole Brown juga mencuit kata-kata perpisahan untuk sang aktor. Ia menyebut Erdman adalah kegembiraan.

Sementara itu, komedian dan aktor “Community” Ken Jeong menyampaikan duka lewat Facebook.

“Terima kasih Richard Erdman sudah memberkati kami dengan kecerdasan mu. Baik, lembut dan pemberani. Sukses di tiap pengambilan adegan. Selalu membuat ku tertawa terbahak-bahak.”

Karir Richard Erdman dimulai sekitar tahun 1940-an lewat sejumlah komedi dan musikal. Pada 1953 dia bermain di komedi perang Billy Wilder “Stalag 17”, dsebagai ketua barak Sersan Hoffy Hoffman.

Lahir di Oklahoma, Erdman besar di Colorado Springs sebelum pindah ke Hollywood di mana dia masuk SMA Hollywood High dan kemudian dengan cepat ditemukan oleh pencari bakat dan dikontrak Warner Bros.

Dia mulai muncul di TV awal 1950-an lewat “Where’s Raymond?”, “Alfred Hitchcock Presents” dan “Make Room for Daddy.”

Sementara suaranya mengisi sejumlah film mulai dari “The Smurfs”, “Scooby-Doo” dan “Duck Tale.”

Istri dan putrinya sudah meninggal lebih dulu, demikian seperti dilansir The Verge.
 

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Cara Garin Nugroho manfaatkan gawai, rekam ide hingga tulis naskah

Gunakan handphone untuk kreativitas

Jakarta (ANTARA) – Sutradara Garin Nugroho menyatakan kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para pembuat film, termasuk untuk menunjang proses kreatif dalam pembuatan sinema.

Pada LA Indie Movie “Your Movie Goes Digital” di Jakarta, Garin mengatakan kemajuan teknologi tidak bisa dilawan. Dia pun sudah mengalami berbagai perubahan dalam perkembangan pembuatan film, mulai dari mengambil gambar dengan kamera 8mm sampai menggunakan ponsel.

Garin mengatakan, sebuah ponsel bisa digunakan untuk melahirkan ide sebuah film, menulis naskah, membuat proposal ataupun melakukan audisi.

“Harus memanfaatkan secara produktif dan memanfaatkan alternatif lain. Teknologi itu selalu melahirkan pilihan. Dunia digital adalah jalan raya terbesar, perpustakaan terbesar, transformasi terbesar, distribusi terbesar, studio terbesar dan outlet terbesar bagi setiap orang,” ujar sutradara “Kucumbu Tubuh Indahku” itu, Sabtu.

“Sekarang itu hidup dengan handphone. Anda punya ide, misalnya kayak saya rekam aja Rianto (pemain “Kucumbu Tubuh Indahku”) sedang nari, lalu saya kirim aja ke produser ini bagus lho, tinggal cari referensi untuk tambahannya. Atau jadi bahan riset, rekam lalu kasih ke calon sponsor. Kalau hasil riset Anda bagus, itu bisa jadi studio kecil Anda,” jelas Garin.

Baca juga: Film Indonesia butuh perspektif perempuan

Garin mengaku banyak mendapat pekerjaan lewat sosial media. Biasanya, mereka menawarkan dengan mengirim pesan pribadi.

“Saya banyak dapat pekerjaan dari Instagram. Ditawarin isi workshop dan lainnya. Kita bisa membuat sosial media sesuai dengan kebutuhan kita, bisa jadi studio, jadi warung kopi atau apapun yang kita butuhkan,” katanya.

“Banyak orang yang tidak menggunakan handphone untuk perpustakaan dan referensi. Padahal ini adalah perpustakaan dan referensi yang terbesar,” lanjut Garin.

Sayangnya, menurut Garin masyarakat belum mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi sehingga sampai saat ini Indonesia hanya menjadi followers saja.

“Teknologi membuat hidup Anda lebih efektif. Persoalannya, kalau menulis pada maunya ditempat khusus. Saya bisa nulis di tengah ombak, di mobil. Orang mengatakan era digital di mana-mana tapi kemampuan Anda enggak ada di mana-mana, enggak mampu beradaptasi dengan dunia digital. Gunakan handphone-mu untuk kreativitas,” tutup Garin.

Baca juga: Film Indonesia butuh perspektif perempuan

Baca juga: Keroncong hingga hip-hop, peran musik dalam film Asia Tenggara

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Keunggulan menyaksikan film di bioskop ketimbang platform digital

Jakarta (ANTARA) – Sutradara Indonesia Garin Nugroho berpendapat bahwa penonton akan tetap memilih bioskop untuk menyaksikan film favoritnya kendati saat ini bermunculan platform film digital yang menawarkan kemudahan untuk menyaksikan sinema.

Ia menilai bioskop akan tetap menjadi pilihan pertama masyarakat untuk menyaksikan film karena kemampuannya dalam menghadirkan gambar dan suara tidak bisa didapatkan dari ponsel, PC atau televisi.

“Tontonan bioskop dan tontonan di handphone mengalami perubahan-perubahan yang sangat dahsyat. Tapi tetap tontonan yang memiliki syarat terbaik tetap bioskop karena memiliki fokus, ruang lebar dan suara yang baik masih di bioskop,” kata sutradari “Nyai” itu kepada Antara di Jakarta, Sabtu.

Garin mengatakan, terjadi perubahan besar pada industri film Indonesia dan dunia, terutama saat platform digital seperti Netflix dan Iflix muncul dan menjanjikan pengalaman yang berbeda kepada penonton yakni, menyaksikan banyak film dalam genggaman.

Kendati demikian, kata Garin, platform digital memiliki beberapa kelemahan, salah satunya adalah tidak membuat penonton fokus karena bisa dibarengi dengan kegiatan lain seperti makan.

“Kelemahannya tidak fragmentasi, tidak fokus karena nontonnya sambil makan, sambil pacaran, suaranya kecil. Tapi dia memang punya apa yang disebut sebagai ruang distribusi yang sangat beragam, itulah ciri zaman ini,” jelas Garin.

“Percepatan film mengalami hal yang luar biasa. Dulu dari bioskop ke TV bisa dua tahun, sekarang jarak antara tayang di bioskop dan diputar di TV cuma dua bulan. Tapi bioskop tetap menjadi tiang utamanya,” lanjutnya.

Baca juga: Cara Garin Nugroho manfaatkan gawai, rekam ide hingga tulis naskah

Baca juga: Film “Kucumbu Tubuh Indahku” Garin Nugroho segera tayang

Baca juga: Film Indonesia butuh perspektif perempuan

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemeran baru Warkop DKI Reborn

Aktor Indro Warkop menyerahkan potongan tumpeng kepada Randy Danistha (kedua kiri), Adipati Dolken (kedua kanan) dan Aliando Syarief (kanan) pada jumpa pers pemeran baru film Warkop DKI Reborn di Jakarta, Jumat (15/3/2019). Rumah produksi Falcon Pictures mengumumkan tiga aktor pemeran baru pada film Warkop DKI Reborn yang akan datang yakni Aliando Syarief sebagai Dono, Adipati Dolken sebagai Kasino dan Randy Danistha sebagai Indro. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/pras.

“A Private War”, pergulatan seorang jurnalis perang

Jakarta (ANTARA) – Setiap profesi tentu punya risiko. Bagi wartawan perang, risiko itu adalah nyawanya sendiri. Ada banyak alasan untuk terus bertahan meski digempur dengan bahaya sepanjang waktu.

Serangan, ledakan, penembakan dan bentrokan bukan hal asing bagi koresponden veteran The Sunday Times Marie Colvin, demikian tayangan film biografi “A Private War” di bioskop di Jakarta, pekan ketiga Maret.

Marie Colvin (Rosamund Pike) tidak suka berada di zona perang, tapi tempat berbahaya tersebut bagai magnet untuk jurnalis perang Amerika yang bekerja di surat kabar Inggris itu.

Menjadi saksi mata di berbagai medan perang harus dibayar Marie dengan kehilangan satu mata yang terluka akibat serangan granat di Sri Lanka.

Semenjak itu, Marie selalu mengenakan penutup mata, layaknya bajak laut. Tapi, dia seakan tidak kapok untuk terjun ke zona perang lain.

Bersama fotografer Paul Conroy (Jamie Dornan), Marie menyampaikan kisah-kisah warga sipil yang jadi korban tak bersalah dari perang hingga mengungkap pelecehan seksual yang menimpa perempuan-perempuan di daerah konflik.
  A Private War (HO/ist)

Jurnalis peraih penghargaan British Press Award itu berhadapan dengan Muammar Gaddafi dalam sebuah wawancara ketika meliput situasi konflik di Baghdad hingga Homs di Suriah. Itulah liputan terakhirnya karena nyawanya direnggut di sana akibat serangan bom.

Beberapa jam sebelum kematiannya pada usia 56 tahun, Marie tampil di program berita Amerika dan Inggris, melaporkan pengalaman mengerikan melihat balita Suriah kehilangan nyawa akibat serangan militer. A Private War (HO/ist)

Film berdurasi satu jam 50 menit itu menghadirkan adegan-adegan yang membuat jantung berdegup kencang dan menguras adrenalin, apalagi cerita yang disuguhkan diangkat dari kisah nyata.

Aktris Rosamund Pike betul-betul berubah drastis dalam menghayati peran Marie Colvin.

Lupakan sosok perempuan rapi dan menawan di film “Gone Girl” karena di “A Private War”, Rosamund tampil sangat berbeda.

Gaya rambutnya berantakan, suara yang berat akibat terlalu banyak merokok serta jiwa yang terguncang akibat melihat banyak hal-hal traumatis di medan perang.

“A Private War” bukan cuma bercerita tentang perang yang dilihat oleh Marie Colvin, tetapi pergulatannya menghadapi diri sendiri, gangguan stres pascatrauma (PTSD) atas apa yang dilihatnya selama jadi jurnalis perang, profesi yang melekat hingga akhir hayatnya.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rekomendasi film Australia dari Mira Lesmana (Video)

Jakarta (ANTARA) – Film adalah medium untuk mengenal kehidupan orang lain di berbagai tempat, sehingga  produser Mira Lesmana selalu penasaran dan ingin menikmati karya-karya sineas dari penjuru dunia, termasuk Australia.

Produser yang dipilih sebagai Sahabat Festival Sinema Australia Indonesia 2019 itu kemudian berbagi rekomendasi film-film dari Negeri Kangguru yang wajib ditonton.

1. Picnic at Hanging Rock

Film drama misteri yang disutradarai Peter Weir ini tayang pada 1975. Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Joan Lindsay. “Picnic at Hanging Rock” berkisah tentang menghilangnya beberapa siswi dan guru saat berpiknik di Hanging Rock, Victoria, pada hari Valentine tahun 1900.

2. Gallipoli

Film ini juga disutradarai Peter Weir dan dirilis di Australia pada 1981. Dibintangi Mel Gibson, “Gallipoli” berkisah tentang pemuda-pemuda yang menjadi tentara Australia saat Perang Dunia I. Film ini disebut memperlihatkan kehidupan di Australia pada era 1910-an.

3. Lantana

Film drama ini dirilis pada 2001. “Lantana” disutradarai Ray Lawrence ini membawa pulang gelar film terbaik dan skenario adaptasi terbaik dari Australian Academy of Cinema and Television Arts Awards.

Mengambil latar belakang Sydney,
“Lantana” berkisah tentang hubungan rumit antara karakter-karakter dalam film. Lantana diambil dari nama tanaman tempat seorang mayat perempuan ditemukan di awal film ini.

4. Rabbit-Proof Fence

Film arahan Phillip Noyce ini diangkat dari buku “Follow the Rabbit-Proof Fence”. Film ini berkisah tentang keluarga Aborigin yang berjalan kaki selama sembilan pekan untuk kembali ke komunitas mereka di Jigalong, melarikan diri dari penegak hukum kulit putih dan para pelacak Aborigin.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penghargaan Indonesian Movie Actors Awards 2019

Aktris Nirina Zubir memberikan sambutan pada acara Indonesian Movie Actors Awards 2019 di Jakarta, Kamis (14/3/2019). Nirina terpilih sebagai pemeran pasangan terbaik bersama Ringgo Agus Rahman dalam Film Keluarga Cemara. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/aww.

Livi Zheng sabet penghargaan berkat “Bali Beats of Paradise”

Jakarta (ANTARA) – Sutradara Indonesia Livi Zheng mendapat penghargaan Tourism Marketeers of The Year 2019, berkat film “Bali Beats of Paradise” yang telah mempromosikan destinasi wisata nusantara ke dunia.

Penghargaan yang pertama kali diterima Livi di Indonesia itu diserahkan pada ajang WOW BRAND Festive Day 2019, di Ballroom Raffles Hotel, Jakarta, Kamis.

“Senang banget karena film ‘Bali Beats of Paradise’ diapresiasi. Ini adalah penghargaan pertama yang saya terima di Indonesia,” ujar Livi usai menerima penghargaan.

Acara ini juga dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Imam Nahrawi, yang kemudian menantang Livi untuk kembali mengangkat budaya lain di Indonesia.

“Saya ingin pencak silat suatu saat bisa diangkat oleh Livi. Apa yang beliau lakukan itu begitu bermakna untuk Indonesia,” kata Imam.

Menanggapi tantangan dari Imam Nahrawi, Livi mengatakan bahwa dia dan timnya sudah melakukan riset di beberapa daerah Indonesia.

“Sebenarnya saya sudah pernah syuting di Madura, Jawa Barat, Yogyakarta. Tim saya juga sudah survei di beberapa tempat. Karena Indonesia punya banyak budaya dan tempat yang menarik untuk diangkat,” jelas Livi.

“Bali Beats of Paradise” rencananya akan tayang di bioskop tanah air pada Juli 2019.

“Semoga bulan Juli nanti antusiasnya sama kayak yang di luar negeri. Karena di luar negeri sangat antusias dan cukup sering sold out. Hopefully di Juli juga tinggi,” katanya.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Ada Apa Dengan Cinta?” hadir lagi di bioskop

Jakarta (ANTARA) – Film remaja fenomenal “Ada Apa Dengan Cinta?” (AADC) dan sekuelnya kembali hadir secara terbatas di layar lebar sebagai bagian dari Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2019.

Dipilihnya film AADC itu merupakan keputusan dari penyelenggara, kata produser Mira Lesmana yang didapuk sebagai Sahabat Festival Sinema Australia Indonesia 2019.

Meski demikian, sebenarnya ada hubungan antara film yang dibintangi Dian Sastrowardoyo itu dengan Negeri Kangguru.

“Film Ada Apa Dengan Cinta pernah masuk kurikulum di sekolah Australia,” kata Mira usai pembukaan FSAI 2019, Jakarta, Kamis.

Film itu ditonton oleh murid-murid di sekolah Australia untuk mempelajari bahasa serta kehidupan di Indonesia.

“Ada Apa Dengan Cinta?” dan sekuelnya bakal tayang pada 16 Maret 2019 di Jakarta dan Mataram, tanggal 23 Maret di Makassar, 24 Maret di Bandung dan 30 Maret di Surabaya.

Selain film remaja itu, industri perfilman Indonesia juga diwakili oleh karya sutradara Kamila Andini “Sekala Niskala”.

FSAI yang memasuki tahun keempat diadakan di Jakarta, Surabaya, Makassar dan untuk pertama kalinya di Bandung dan Mataram.

Film-film Australia lain yang tayang di festival ini meliputi drama keluarga “Storm Boy”, film thriller fiksi ilmiah alien “Occupation” serta film dokumenter mengenai paduan suara perempuan penduduk asli Australia “The Song Keepers”, juga “Ladies in Black.

Baca juga: Dian Sastro merasa lebih cantik di sekuel AADC

Baca juga: Paket wisata film AADC 2 dijual di Malaysia

Baca juga: Dian Sastro berbagi cerita nyetir Mitsubishi di AADC 2

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Merayakan kolaborasi di Festival Sinema Australia Indonesia 2019

Jakarta (ANTARA) – Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) resmi dibuka di Jakarta dengan pemutaran perdana “Ladies in Black”, film Australia pemenang penghargaan Australia Academy of Cinema and Television Arts 2018.

“Festival Sinema Australia Indonesia adalah platform hebat untuk menghubungkan para sineas Australia dan Indonesia,” kata Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gary Quinlan dalam pembukaan FSAI 2019 di Jakarta, Kamis.

FSAI yang memasuki tahun keempat akan diadakan di Jakarta, Surabaya, Makassar dan untuk pertama kalinya di Bandung dan Mataram.

“Kita gampang nonton film Hollywood, tapi jarang bisa nonton film Australia di layar lebar,” ujar produser Mira Lesmana yang dinobatkan sebagai Sahabat FSAI 2019.

Selain membawa beragam film kepada penonton Indonesia, FSAI menawarkan peluang untuk membangun persahabatan antara industri film Australia dan Indonesia.

Serangkaian masterclass pun digelar dengan tujuan meningkatkan kolaborasi antara sineas dari dua negara.

Paul Damien Williams, sutradara dan penulis film dokumenter “Gurrumul” juga menghadiri pembukaan festival di Jakarta.

Paul akan hadir dalam sesi tanya jawab serta menghadiri masterclass di Jakarta serta Mataram.

Simon Wilmot dan Dr. Victoria Duckett, dosen dari Deakin University, juga akan menjadi pemateri di lokakarya untuk sineas muda Indonesia di Jakarta, Makassar dan Bandung.

Mira menyambut gembira adanya peluang kolaborasi ini. Dia berpendapat pendidikan film di Indonesia masih harus ditingkatkan dan masterclass yang jadi bagian festival ini bisa menambah ilmu para sineas muda untuk menghasilkan karya yang lebih berkualitas.

Film-film Australia lain yang akan tayang di festival ini meliputi drama keluarga “Storm Boy”, film thriller fiksi ilmiah alien “Occupation” serta film dokumenter mengenai paduan suara perempuan penduduk asli Australia “The Song Keepers”.

Film remaja fenomenal Tanah Air yang banyak dicintai penonton Indonesia, “Ada Apa Dengan Cinta?” juga kembali ditayangkan atas permintaan khalayak ramai.

Sekuelnya, “Ada Apa Dengan Cinta? 2” juga bisa disaksikan di festival yang didukung Australia now ASEAN, inisiatif pemerintah Australia merayakan inovasi, kreativitas dan gaya hidup Australia di Asia Tenggara sepanjang 2019.

Tak hanya karya dari produser Mira Lesmana yang jadi Festival Sinema Australia Indonesia, penonton juga dapat menyaksikan film pemenang penghargaan karya Kamila Andini, “The Seen and Unseen” atau “Sekala Niskala”.

Tiket untuk film-film yang diputar di FSAI tersedia di fsai2019.eventbrite.com yang bisa didapat secara cuma-cuma.

Baca juga: Alasan Ernest rilis film saat akhir tahun

Baca juga: “AADC” sangat mungkin dibikin universenya

Baca juga: Mira Lesmana-Riri Riza buat versi Indonesia Film Korea “Sunny”

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Stan Lee akan hadir sebagai cameo di “Avengers: Endgame”

Jakarta (ANTARA) – Bos Marvel Studios, Kevin Feige mengonfirmasi bahwa Stan Lee akan hadir sebagai cameo dalam film “Avengers: Endgame”.

Dalam sebuah wawancara di acara Entertainment Tonight, Feige mengatakan bahwa kehadiran Lee di “Avengers: Endgame” bukanlah yang terakhir.

Bahkan saat ditanya apakah Lee akan muncul di “Spider-Man: Far From Home”, ia menjawab: “Kita akan lihat. Kami sudah syuting untuk beberapa lagi…,” ujar Feige, seperti dikutip dari NME, Kamis.

Stan Lee, penulis komik, produser dan mantan pemimpin redaksi Marvel, memang sering menjadi cameo di setiap film Marvel Cinematic Universe.

Lee meninggal tahun lalu pada usia 95 tahun.

“Avengers: Endgame” disebut sebagai akhir dari seri “Avengers”. Feige sebelumnya telah berbicara tentang pentingnya sekuel “Avengers: Infinity War” itu.

“Ini akan membawa Anda pada hal-hal yang belum pernah Anda lihat dalam film superhero. Ini adalah final,” jelas Feige.

Baca juga: “Avengers: Endgame” jadi film Marvel terakhir Gwyneth Paltrow
Baca juga: Trailer “Avengers Endgame” ungkap pentingnya Ant-Man

 

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ini bocoran film horor Roy Kiyoshi

Jakarta (ANTARA) – Paranormal Roy Kiyoshi akan membintangi film terbaru tentang kasusnya yang belum pernah dipublikasikan di media massa serta mengusut masa lalunya yang misterius.

Film besutan sutradara Jose Poernomo itu, dalam keterangan pers rumah produksi MVP Pictures yang diterima Antara di Jakarta, Kamis, bercerita tentang keahlian Roy dalam menyelesaikan persoalan magis.

Pria berusia 32 tahun itu dikisahkan berhasil menyelamatkan nyawa seorang anak dari ancaman makhluk halus jahat sebagai sebuah kasus yang ditanganinya.

Setibanya di rumah, Roy terkejut karena Rani, adiknya, melakukan ritual pemanggilan roh jahat berupa api, Banaspati. Rani tidak menyadari kegiatannya itu berakibat dia diculik oleh Banaspati.

Roy, yang diselimuti rasa putus asa, lantas terjebak dalam kebiasaan buruk karena merasa gagal menyelematkan Rani.

Pria kelahiran Jakarta itu harus bergelut dengan dilema antara kondisi tak menentu dirinya dengan kemungkinan menyelamatkan Rani.

Adalah Sheila (Angel Karamoy), seorang aktivis lembaga swadaya masyarakat yang menggantikan pekerja yang tewas secara misterius hadir dalam kehidupan Roy.

Sheila meyakini Roy punya kemampuan luar biasa untuk bisa menyelamatkan adiknya. Tapi, usaha itu tidak berlangsung mudah.

Apakah Sheila berhasil meyakinkan Roy seraya menemukan jawaban Rani dan anak-anak lain yang hilang diculik Banaspati?

Film “Roy Kiyoshi The Untold Story” akan tayang di Indonesia, mulai 21 Maret 2019.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Syuting di India, Lala Karmela tunggu sapi lewat

Jakarta (ANTARA) – Lala Karmela memerankan gadis blasteran Indonesia – India bernama Sinta dalam film “Kuambil Lagi Hatiku” yang mengambil latar belakang di desa Borobudur dan India.

Pengambilan gambar di India menyisakan pengalaman unik bagi aktris 33 tahun yang belum pernah menginjakkan kaki di negeri yang punya kebudayaan kaya itu.

Pernah suatu hari syuting harus ditunda sebentar karena ada “tamu tak diundang” yang nongol di layar.

“Harus stop (syuting) karena ada sapi di belakangku, jadi harus tunggu sapinya lewat dulu,” ujar Lala sembari tertawa kecil, usai penayangan perdana “Kuambil Lagi Hatiku” di Jakarta, Rabu.

Di negeri asal aktor Hollywood Shah Rukh Khan, sapi memang dibiarkan berkeliaran di ruang publik.

Lala bersama lawan mainnya Sahil Shah, pria India yang berkecimpung di dunia hiburan Indonesia, sama-sama menikmati keindahan Agra, lokasi Taj Mahal yang tersohor. Apalagi keduanya sama-sama belum pernah mengunjungi tempat tersebut.

Tidak cuma pemandangan dan budaya yang menarik, aktris berdarah Indonesia – Filipina ini juga menikmati betul makanan khas India.

“Yang aku suka namanya Masala Dosa,” kata pemilik nama lengkap Karmela Mudayatri Herradura Kartodirdjo, menyebut masakan asal India selatan.

Sebelum berangkat ke India, aktris sekaligus penyanyi itu mempersiapkan diri dengan mempelajari bahasa India, tarian serta gestur khas masyarakat negara tersebut agar bisa terlihat seperti gadis keturunan India tulen.

Selama tiga pekan dia mempelajari itu dibantu pelatih dan rekan mainnya yang merupakan orang India asli. Dia juga menyimak dialog, cara bertutur dan gerak-gerik para aktor di film-film India.

Waktu yang sempit itu dipakai untuk menenggelamkan diri ke dalam karakter secara maksimal, bahkan dia hanya merespons orang-orang di sekitarnya dengan bahasa India.

“Pas mau reading, aku naik taksi online dan diajak ngomong, kujawab pakai bahasa India,” kenang Lala yang tak pernah absen membawa skenario ke mana pun dia pergi sebelum syuting dimulai.

“Kuambil Lagi Hatiku” bercerita tentang Sinta (Lala Karmela), gadis blasteran Indonesia – India yang sedang merencanakan pernikahan dengan kekasihnya.

Menjelang hari pernikahan, ibunya Widi (Cut Mini) mendadak menghilang ke Indonesia. Sinta nekat menyusul ibunya ke Desa Borobudur, kampung halaman yang asing di matanya.

Film ini disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis dengan Salman Aristo menjadi produser, serta Arief Ash Shiddiq dan Rino Sardjono bertindak sebagai penulis.

Dibintangi oleh Lala Karmela, Cut Mini, Dimas Aditya, Ria Irawan, Sahil Shah, Dian Sidik, dan Ence Bagus. Film ini siap ditayangkan pada 21 Maret 2019.

Baca juga: “Kuambil Lagi Hatiku”, tanda kebangkitan Produksi Film Negara

Baca juga: Aktor Dian Sidik ingin film Indonesia lebih “berwarna”

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Kuambil Lagi Hatiku”, pencarian jati diri berlatar dua budaya

Jakarta (ANTARA) – Sinta (Lala Karmela), gadis muda berdarah India – Indonesia sedang mempersiapkan jenjang baru di hidupnya, yakni menikah.

Gadis yang lahir dan besar di India itu bersama calon suaminya, Vikash (Sahil Shah), sibuk mengurus ini dan itu yang terkait dengan upacara tradisional India.

Menjelang hari penting itu, Widi (Cut Mini) mendadak pulang kampung ke Indonesia yang tak pernah didatanginya selama belasan tahun.

Sinta pun nekat menyusul ibunya ke Tanah Air yang asing di matanya, hanya bermodalkan sebuah foto lawas ibunya di Borobudur.

Di desa Borobudur, Sinta tak cuma mengetahui keindahan kampung halaman ibunya, tapi menyingkap rahasia masa lalu yang selama ini disembunyikan Widi.

Sinta berupaya membantu upaya ibunya berdamai dengan masa lalu, sekaligus menerima jati dirinya yang baru terkuak.

Budaya Jawa dan India terasa kental di film perdana Produksi Film Negara selama 26 tahun terakhir ini.

Dialog-dialog berbahasa Jawa terdengar di sana-sini. Penonton juga bisa melihat secuplik kehidupan masyarakat Jawa yang terasa dekat, hubungan antarsaudara, sampai dialog lemah lembut yang pada adegan tertentu menuai tawa karena diucapkan di situasi yang sangat kontras.

Lala mempraktikkan hasil latihan intensif belajar bahasa India lewat dialog-dialog yang mengalir lancar, lengkap dengan gestur khas warga setempat.

“Aku lihat Lala dari enggak bisa sampai bicara lancar banget,” Sahil memuji Lala.

Baca juga: Syuting di India, Lala Karmela tunggu sapi lewat

Di luar itu, ada inkonsistensi dialek saat Sinta berbahasa Indonesia. Kadang kala ucapannya terdengar kaku seperti orang yang jarang berbicara bahasa Indonesia, tapi di adegan lain tutur katanya terdengar sangat fasih seperti orang Indonesia pada umumnya.

Kekuatan cerita didukung juga oleh penampilan aktris-aktris kawakan seperti Ria Irawan dan Cut Mini yang memperlihatkan dinamika persaudaraan.

Keindahan Taj Mahal di Agra juga sudut warna-warni lain di India dipamerkan di sini, pun menampilkan kemegahan candi Borobudur yang memukau.

Sutradara Azhar “Kinoi” Lubis memilih tone hangat dan warna-warna mencolok yang menarik. Pemilihan warna ini juga berlaku di aspek busana, di mana pakaian-pakaian yang dikenakan Sinta dan Widi mengingatkan pada potongan busana India yang berwarna cerah dan modis.

“Ini film pertama saya yang fullcolor, saya coba mendekatkan warna yang dekat dengan kaum Hawa. Girly, pastel, warna India juga tidak hilang,” ujar Kinoi.

Film perdana dari Produksi Film Negara setelah “mati suri” ini diharapkan jadi awal produktivitas di masa mendatang.

“Semoga jangan seperti jodoh, pertama dan terakhir,” seloroh Salman Aristo, produser “Kuambil Lagi Hatiku”.

Film yang ditulis Arief Ash Shiddiq dan Rino Sardjono itu juga dibintangi oleh Dimas Aditya, Dian Sidik, dan Ence Bagus. “Kuambil Lagi Hatiku” bakal tayang pada 21 Maret 2019.

Baca juga: Aktor Dian Sidik ingin film Indonesia lebih “berwarna”

Baca juga: “Kuambil Lagi Hatiku”, tanda kebangkitan Produksi Film Negara

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Aktor Dian Sidik ingin film Indonesia lebih “berwarna”

Jakarta (ANTARA) – Aktor Dian Sidik berharap film-film Indonesia bisa mengangkat lebih banyak daerah baru sebagai latar belakang agar lebih berwarna, tidak cuma kota besar seperti Jakarta atau pulau Bali yang ternama.

Aktor kelahiran Surabaya itu membintangi film “Kuambil Lagi Hatiku”, yang menjadi bukti kebangkitan Produksi Film Negara setelah vakum 26 tahun.

Candi Borobudur jadi latar belakang juga aspek penting dari “Kuambil Lagi Hatiku” yang disutradarai oleh Azhar “Kinoi” Lubis.

“Saya harap ada film-film lain yang mengangkat daerah lain, jangan cuma Yogyakarta,” ujar Dian setelah penayangan perdana “Kuambil Lagi Hatiku” di Jakarta, Rabu.

Pemeran tokoh antagonis Kalingundil dalam “Wiro Sableng” itu mengingat film “Eat Pray Love” (2010) yang dibintangi Julia Roberts dan mengambil latar belakang Ubud, Bali.

“Dari banyak syuting FTV, baru lihat ada daerah seperti itu di Bali,” ujar aktor kelahiran 11 Oktober 1979 itu.

Dian berharap PFN bisa membuat film-film baru yang lokasinya bertempat di daerah-daerah Indonesia yang belum banyak terjamah orang.

“Biar bisa menunjukkan ke negara lain, kita negara kaya,” tuturnya.

Dian berperan sebagai Dimas di “Kuambil Lagi Hatiku”, di mana karakternya jadi sumber komedi dan memancing tawa penonton.

Film yang mengangkat dua budaya itu bercerita tentang Sinta (Lala Karmela), gadis blasteran Indonesia-India yang sedang merencanakan pernikahan dengan kekasihnya di India.

Menjelang hari pernikahan, ibunya, Widi (Cut Mini) mendadak menghilang ke Indonesia. Sinta nekat menyusul ibunya ke Desa Borobudur, kampung halaman yang asing di matanya.

Film yang akan tayang pada 21 Maret 2019 ini dibintangi oleh Lala Karmela, Cut Mini, Dimas Aditya, Ria Irawan, Sahil Shah dan Ence Bagus.

Baca juga: “Kuambil Lagi Hatiku”, tanda kebangkitan Produksi Film Negara

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Kuambil Lagi Hatiku”, tanda kebangkitan Produksi Film Negara

Jakarta (ANTARA) – Produksi Film Negara (PFN) mati suri selama 26 tahun setelah membuat “Pelangi di Nusa Laut” (1992), namun Badan Usaha Milik Negara itu bangkit lagi lewat film “Kuambil Lagi Hatiku” yang mengangkat budaya Indonesia dan India.

“Ini adalah hari bersejarah,” kata Direktur Utama Produksi Film Negara Mohamad Abduh Aziz setelah penayangan perdana “Kuambil Lagi Hatiku”, di Jakarta, Rabu.

“Selama 26 tahun Perum PFN tidak memproduksi film. Rasanya seperti melahirkan anak, lega dan deg-degan,” ujarnya.

Karya baru yang hadir setelah vakum lebih dari seperempat abad itu diharap Abduh tidak sekadar hadir menambah jumlah film Indonesia, tapi juga mewarnai industri sinema Tanah Air.

“Kuambil Lagi Hatiku” bercerita tentang Sinta (Lala Karmela), gadis blasteran Indonesia-India yang sedang merencanakan pernikahan dengan kekasihnya.

Menjelang hari pernikahan, ibu Sinta, Widi (Cut Mini) mendadak menghilang ke Indonesia. Sinta nekat menyusul ibunya ke Desa Borobudur, kampung halaman yang asing di matanya.

“Kuambil Lagi Hatiku” (Borobudur Love Story) menggandeng Wahana Kreator Nusantara dan pihak Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, sebuah BUMN yang bergerak di bidang pariwisata.

Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, Edy Setijono mengatakan selama ini candi Buddha di Magelang itu biasanya diabadikan dalam bentuk film dokumenter dan ini kali pertama dijadikan film komersial.

Film itu disutradarai oleh Azhar Kinoi Lubis dengan Salman Aristo sebagai produser, serta Arief Ash Shiddiq dan Rino Sardjono bertindak sebagai penulis.

“Kuambil Lagi Hatiku” dibintangi oleh Lala Karmela, Cut Mini, Dimas Aditya, Ria Irawan, Sahil Shah, Dian Sidik dan Ence Bagus. Film tersebut siap ditayangkan pada 21 Maret 2019.

PFN merupakan salah satu perintis industri film di Indonesia yang berdiri pada 1934.

Pada masa aktifnya, PFN memproduksi film dokumenter bertema kepahlawanan, lalu berkembang membuat film cerita yang bertema pendidikan dan penerangan yang mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Wonder Park” film yang mengajarkan percaya pada mimpi

Jakarta (ANTARA) – Seorang gadis kecil bernama June Bailey memiliki banyak imajinasi. Dia bermimpi membuat sebuah taman hiburan dengan permainan luar biasa, yang diberi nama Wonderland.

Dalam imajinasinya, taman hiburannya itu dikelola oleh Peanut (monyet), Greta (babi hutan), Steve (landak), Gus dan Cooper (berang-berang), juga Boomer (beruang) yang tidak lain adalah bonekanya.

Setiap menciptakan jenis permainan baru, June selalu membisikkannya pada Peanut dan monyet tersebut akan melukiskannya dengan pensil ajaib.

Namun, June yang ceria dan penuh mimpi berubah ketika ibunya jatuh sakit dan harus menjalani pengobatan di suatu tempat. June merasa sedih, sebab selama ini ibunya adalah orang yang selalu menyemangatinya untuk bermimpi.

Pelan-pelan, June menjadi anak yang pemurung dan tidak percaya diri untuk memainkan Wonderland serta berusaha melupakannya.

Hingga suatu saat ia masuk ke dalam hutan dan menemukan taman hiburan yang telah terbengkalai. June merasa mengenali taman tersebut, Wonderland, tempat bermain yang ia bangun dalam imajinasinya.

Sayang, Wonderland hancur karena awan kegelapan. Tidak hanya itu, June harus menyelamatkan Peanut yang ditawan oleh kawanan Chimpanzombies.

Bersama teman-temannya, June pun berusaha mengembalikan taman tersebut seperti keadaan semula persis seperti imajinasinya dulu.

Petualangan June Bailey bersama teman-temannya di Wonderland tersaji dalam film animasi “Wonder Park” yang diproduksi oleh Paramount Animation dan Nickelodeon.

Suara June diisi oleh aktris cilik Brianna Denski. Sejumlah aktor dan aktris lainnya yang terlibat sebagai pengisi suara yakni Jennifer Garner (Ibu June), Matthew Broderick (Ayah June), Ken Hudson Campbell (Boomer), Kenan Thompson (Gus), Ken Jeong (Cooper), Mila Kunis (Greta), John Oliver (Steve) dan Norbert Leo Butz (Peanut).

“Wonder Park” merupakan film keluarga yang sarat dengan nilai moral. Anak-anak diajarkan untuk tidak mudah menyerah, percaya pada mimpi, mengembangkan kreativitas seluas mungkin serta selalu percaya diri.

Cerita dalam “Wonder Land” juga cukup komplit, ada petualangan, komedi dan drama yang cukup menyentuh hati. Apalagi ketika adegan June dan sang ibu harus berpisah.

“Wonder Park” dapat disaksikan di bioskop-bioskop mulai 13 Maret 2019.
 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ganindra Bimo belajar bahasa Batak dari Atiqah Hasiholan demi film

Jakarta (ANTARA) – Aktor Ganindra Bimo harus belajar bahasa dan Budaya batak demi peran sebagai Moan di Film “Pariban: Idola dari Tanah Jawa” dari rekan aktingnya, Atiqah Hasiholan.

Banyaknya aktor dan aktris dalam film ini yang berdarah Batak membuat Bimo merasa lebih mudah berperan sebagai pemuda Batak.

“Ada banyak pemain yang memang punya darah Batak termasuk Atiqah Hasiholan yang mengajari budaya dan bahasa Batak. Tentu selain itu, juga ada Grace Blessing Marbun, Mak Gondut, dan Bang Tigor (Sumaisy Djaitov Yanda) yang bikin makin akrab sama budaya Batak. Selain itu karena proses shooting langsung di Samosir, jadi proses interaksi dengan orang lokal juga sangat membantu,” tutur Bimo dalam siaran pers, Rabu.

Dia banyak menggali seputar budaya Batak sejak proses praproduksi, dengan cara bertanya pada lawan main soal cara menggombal orang Batak, hingga mencari logat yang pas untuk berbincang.

“Awalnya enggak terlalu ngerti, tapi buat saya ini tantangan yang bagus buat menambah talenta sebagai aktor.”

Agustinus Sitorus, produser dan juga CEO Stayco Media, berharap semua aktor yang terlibat bisa berperan alami.

“Karena budaya dan logat batak ini kan mudah ditiru dan familiar dengan telinga kita, jadi kami asah terus kemampuan para cast yang terlibat. Mulai dari pre production hingga saat shooting di Samosir. Harapannya, nanti anak muda batak semakin bangga dengan budaya dan bahasanya sendiri.”

Pariban bercerita tentang Moan (Ganindra Bimo) sosok pemuda Batak yang sudah lama tinggal di Jakarta. Meski usianya sudah menginjak 37 tahun, tetapi belum punya kekasih. Situasi ini membuat ibunya yang bermukim di Jakarta pusing dan harus turun tangan. Lalu memaksa Moan untuk mudik dan menikah dengan sepupunya, Uli (Atiqah Hasiholan).

“Pariban Idola dari Tanah Jawa” dibintangi oleh Atiqah Hasiholan, Ganindra Bimo, Dayu Wijanto, Rizki Mocil, Bang Tigor, Imelda Budiman, Mak Gondut.

Film ini merupakan produksi perdana Stayco Media sekaligus menjadi Film komedi perdana dari sutradara Andibachtiar Yusuf sekaligus kolaborasi kedua dengan Agustinus Sitorus setelah “Love for Sale”.

Baca juga: Ganindra Bimo pernah di-“bully” karena obesitas

Baca juga: Kena omel Atiqah Hasiholan, Rio Dewanto ngumpet main game

Baca juga: Atiqah Hasiholan – Ganindra Bimo bintangi film komedi Batak

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Yoriko terkejut ada iklan mirip adegan Dilan 1991

Jakarta (ANTARA) – Aktris Yoriko Angeline yang berperan sebagai Wati, sahabat Milea, dalam film “Dilan 1991,” mengaku kaget saat mengetahui iklan e-commerce mirip dengan cuplikan adegan dalam film terbarunya itu.

“Iklan Shopee “Dilon 2019” memang mirip dengan film Dilan 1991. Nggak nyangka aja, pelajaran baru, ternyata pembajakan bukan hanya dari orang merekam filmnya tapi dengan dia menjiplak adegannya juga,” kata Yoriko Angeline dalam acara bincang-bincang di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan, Selasa.

Yoriko menilai iklan Shopee itu menyerupai potongan adegan Dilan 1991 karena jaket jins yang dipakai Dilon. Tokoh dalam iklan juga memakai motor serupa dalam film. Bahkan, bentuk huruf pada judul iklan Dilon 2019 juga menyerupai bentuk huruf pada judul film Dilan 1991.

Aktris berusia 16 tahun itu lantas mendukung pihak rumah produksi Max Picture untuk mengirim surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf terkait perlindungan hak cipta film Dilan 1991.

Sementara, Produser Max Pictures Ody Mulya Hidayat yang menggarap Dilan 1990 dan Dilan 1991 mengatakan Shopee secara sengaja melakukan produksi iklan dengan menggunakan atribut dan font tanpa melakukan izin kepada PT Max Kreatif Internasional. Iklan tersebut menjadi bermasalah karena digunakan untuk tujuan komersil penjualan aplikasi belanja online tersebut.

“Iklan itu merugikan kami sebagai pemilik hak cipta Dilan. Kami ingin minta perlindungan dari negara, karena kami berkarya tulus. Kami kaget saat menemukan iklan Shopee itu,” kata Ody.

Menurut Ody, bahkan Shopee terang-terangan memutar iklan Dilon 2019 di bioskop sebelum pemutaran film Dilan 1991. “Masalahnya, Shopee bukan sponsor film Dilan. Kok bisa seperti itu?”.

“Kalau tidak bertujuan komersil, tidak masalah. Tapi, hal kemiripan dan menjiplak tentu harus dibicarakan,” Kata Ody.

Sementara itu, pihak Shoppee belum bersedia memberikan keterangan secara rinci saat dikonfirmasi Antara.

Film Dilan 1991 sedang tayang di sejumlah bioskop di Tanah Air. Sejak ditayangkan pada 27 Februari 2019, film garapan Fajar Bustomi dan Pidi Baiq itu sudah meraih lebih dari 4,5 juta penonton. Film pertamanya, Dilan 1990 mampu meraih 6,2 juta penonton.

Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mira Lesmana-Riri Riza buat versi Indonesia Film Korea “Sunny”

Jakarta (ANTARA) – Sineas Mira Lesmana dan Riri Riza melalui rumah produksi Miles Films bersama perusahaan film CJ Entertainment akan mengadaptasi sebuah film Korea Selatan “Sunny”.

Film yang pernah menjadi box office di negeri asalnya pada tahun 2011 itu rencananya diadaptasi dengan judul “Bebas”.

“Kami melalui proses sangat panjang. Kami ngobrol dengan CJ Entertainment 2 tahun lalu karena kami tertarik dengan film Sunny. Kami sudah lakukan persiapan sangat panjang dan intens,” ujar Mira Lesmana dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.

“Saya ingin mengadaptasi karena saya suka film Korea ‘Sunny’, ketika saya lihat kalau dibuat versi Indonesia adalah kami,” sambung dia.

Dalam kesempatan itu Co-Producer CJ Entertainment, Yeonu Choi mengaku antusias pada film “Bebas”, terlebih karena ini merupakan film baru dengan sutradara dan para pemain yang berbeda dari sebelumnya.

Film “Bebas” bercerita tentang lima perempuan dan seorang laki-laki yang menjadi teman baik selama SMA. Namun sebuah peristiwa membuat mereka terpaksa berpisah.

23 tahun kemudian, salah satu dari mereka sakit keras dan tidak memiliki waktu lama untuk hidup. Dia berharap bisa bertemu lagi dengan kelima sahabat lamanya untuk kali terakhir.

Film ini nantinya bergantian memperlihatkan dua timeline berbeda, masa sekarang saat para tokoh sudah dewasa dan masa remaja mereka di tahun 1996.

“Film ini tentang nostalgia. ‘Bebas’ menandai era tahun 90-an. ‘Bebas’ sebuah filosofi bagaimana merasa merdeka, kreatif, optimisme pada masa depan,” kata sutradara Riri Riza.

Masa tahun 90-an dalam film akan ditampilkan lengkap dengan tren fesyen dan dinamika kehidupan remaja pada era itu.

“Saya rasa film ini akan mendapat tempat spesial di Indonesia. Pertama kali melihat Sunny saya bisa membayangkan muatan lokal yang bisa diberikan pada penonton. Ada makna soal cinta, pertemanan,” tutur Mira.

“Bebas” rencananya memulai proses produksi pada minggu ketiga Maret 2019.

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Idris Elba akan gantikan Will Smith di sekuel “Suicide Squad”

Jakarta (ANTARA) – Idris Elba dilaporkan akan menggantikan Will Smith sebagai Deadshot dalam sekuel “Suicide Squad”.

Elba kabarnya sedang melakukan diskusi dengan Warner Bros setelah pada pekan lalu Smith menyatakan tidak akan kembali untuk sekuel film tersebut.

Meski demikian, keterlibatan Elba belum dikonfirmasi secara resmi. Namun seorang sumber mengatakan bahwa Elba telah bertemu dengan sutradara “Guardians of The Galaxy”, James Gunn yang akan menciptakan film baru untuk DC franchise.

“Elba bertemu dengan Gunn pada hari Jumat dan itu berjalan dengan sangat lancar dan pembicaraan dimulai bersama Warner Bros dengan sungguh-sungguh,” ujar seorang sumber dilansir The Hollywood Reporter, Sabtu.

“Elba adalah pilihan pertama dan satu-satunya untuk Gunn dan juga studio (Warner Bros).

Kehadiran Gunn dalam DC franchise ini akan memberikan warna baru. Sebab tahun lalu, dia pernah mengatakan berencana untuk benar-benar menyajikan sesuatu yang baru setelah bergabung dengan Warner Bros.

James Gunn dikabarkan akan memasukkan sejumlah karakter baru dan menghindari berhubungan dengan film pertamanya. Margot Robbie sendiri akan tetap menjadi Harley Quinn namun sepertinya tidak akan dihadirkan pada film ini. Meski demikian, Harley Quinn akan ada pada film DC “Birds of Prey” yang tayang pada 2020.

Baca juga: Idris Elba, pria terseksi versi majalah People

Baca juga: Idris Elba takut dunia tak siap untuk James Bond berkulit hitam

Baca juga: Idris Elba beri masukan untuk Joe Taslim saat syuting “Star Trek”

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Terjerat skandal, bos Warner Bros minta maaf

Jakarta (ANTARA) – CEO Warner Bros. Kevin Tsujihara meminta maaf kepada para pegawainya pada Jumat setelah Hollywood Reporter merilis laporan yang menuduh ia membantu seorang wanita mendapatkan audisi setelah mereka berhubungan seksual.

“Saya sangat menyesal bahwa saya telah membuat kesalahan dalam kehidupan pribadi saya yang telah menyebabkan rasa sakit dan malu pada orang yang paling saya cintai,” tulis Tsujihara dalam catatan kepada staf, seperti dilansir Variety, Jumat (8/3).

“Saya juga sangat menyesal bahwa tindakan pribadi ini telah menyebabkan rasa malu bagi perusahaan dan bagi Anda semua. Saya menyadari beberapa waktu yang lalu Anda benar untuk mengharapkan lebih dari saya dan saya menetapkan arah untuk melakukan yang lebih baik. Perjalanan itu berlanjut.”

Posisi Tsujihara di studio di belakang waralaba “Dark Knight” dan “Harry Potter” dipertanyakan setelah sebuah laporan di Hollywood Reporter yang mengklaim bahwa Charlotte Kirk, seorang aktris yang bercita-cita tinggi, telah memanfaatkan perselingkuhannya dengan eksekutif itu untuk mendapatkan peluang casting.

Kirk membantah bahwa Tsujihara terlibat dalam “perilaku yang tidak pantas” dan, melalui seorang pengacara, Tsujihara menyangkal bahwa ia memiliki “peran langsung” dalam mempekerjakan Kirk untuk film “Ocean’s 8”.

WarnerMedia, perusahaan induk studio, saat ini sedang menyelidiki tuduhan pelanggaran seksual. Kisah itu dilihat sebagai contoh lain dari budaya “casting sofa” di Hollywood – di mana lelaki berkuasa menyalahgunakan posisi dan pengaruh mereka untuk memperdagangkan seks demi akses ke peluang karier.

Laporan dari The Hollywood Reporter meliputi pesan teks antara Tsujihara dan Kirk yang menyiratkan eksekutif yang sudah menikah itu telah menjalin hubungan dengan sang aktris.

Ada juga pesan antara Kirk dan James Packer dan Brett Ratner, kepala RatPac Dune, seorang pemodal film yang memiliki distribusi dan kesepakatan pembiayaan bersama dengan Warner Bros.

Tsujihara memainkan peran penting dalam menutup pakta itu dan bahkan sebelum Reporter menerbitkan kisahnya, hubungan dekatnya dengan Packer dan Ratner yang doyan pesta mengejutkan kalangan industri hiburan.

Pada 2017, Ratner dituduh melakukan pelecehan seksual dan penyerangan oleh banyak perempuan. Kesepakatan RatPac dengan Warner Bros berakhir pada 2018.

Tsujihara terlihat di Warner Bros Burbank, California, minggu ini setelah cerita itu diterbitkan. Dia masih aktif sementara investigasi berlangsung, tetapi laporan itu memiliki dampak luar biasa pada karyawan di perusahaan, banyak di antara mereka bertanya-tanya apakah dia akan dipaksa keluar. Dalam catatannya, Tsujihara mengatakan penyelidikan akan dilakukan oleh firma hukum pihak ketiga.

“Tolong jangan biarkan kesalahan saya menjadi gangguan,” tulis Tsujihara. “Sangat penting bagi kita semua untuk tetap fokus pada pekerjaan kita – dan bagian dari itu adalah menciptakan budaya dan perusahaan yang kita semua bisa banggakan.”

Berita bahwa Tsujihara mungkin terlibat dalam pelanggaran seksual terjadi beberapa hari setelah ia menerima promosi oleh WarnerMedia.
 

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“PR” industri film di mata Mira Lesmana

Jakarta (ANTARA) – Industri perfilman Indonesia semakin menjanjikan, kata produser Mira Lesmana, dengan pertumbuhan yang terus menguat dan jumlah penonton yang semakin konsisten. Investor pun semakin tergiur untuk membiayai film-film Indonesia.

“Dari 2016 mulai AADC2 (Ada Apa Dengan Cinta), My Stupid Boss, Warkop sampai penontonnya tujuh juta orang,” kata Mira di konferensi pers Festival Sinema Australia Indonesia 2019, Jakarta, Jumat.

Namun, ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh para pegiat film Tanah Air agar keberhasilan ini bisa bertahan lama.

“Di saat yang sama, dulu bikin film susah cari dana. Sekarang cari dana mudah, tapi cari orang yang kompeten lebih sulit.”

Satu bagian yang jadi perhatian Mira adalah soal penulisan skenario yang jadi faktor penting dalam menentukan kualitas film.

Mira menilai Indonesia bukannya tak punya sumber daya manusia yang berbakat, hanya saja belum banyak tempat menumbuhkan benih-benih bakat penulis skenario di Tanah Air.

Dia menyambut baik lokakarya yang jadi salah satu bagian dari Festival Sinema Australia Indonesia 2019 di mana sineas antar negara bisa saling bertukar ilmu.

“Jika sudah banyak belajar, pasti kualitas film meningkat. Jika jumlah penonton berkembang tapi kualitas tidak berkembang, responsnya bisa turun karena penonton semakin cerdas,” tutur dia.

Saat ini Mira menyiapkan film baru yang diadaptasi dari film Korea “Sunny” yang jadi box office hits pada 2011 di Negeri Ginseng.

“Sunny” versi Indonesia akan mulai syuting pada pekan ketiga Maret 2019.

Baca juga: Mengenal negara tetangga lewat Festival Sinema Australia Indonesia

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Peran Australia dalam sepak terjang Mira Lesmana di sinema

Jakarta (ANTARA) – Produser Mira Lesmana telah menghasilkan film-film fenomenal yang berkontribusi bagi industri sinema Tanah Air, sebut saja “Ada Apa Dengan Cinta?” (AADC) dan “Petualangan Sherina”.

Film remaja AADC dan sekuelnya akan kembali ditayangkan di Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2019, di mana tahun ini Mira didapuk sebagai Sahabat FSAI.

Australia ternyata punya peranan dalam membentuk kecintaan Mira terhadap film.

“Saya besar di Sydney, Australia saat remaja, fase penting dalam hidup. Masa-masa itu membuka mata saya, termasuk bagaimana akhirnya memutuskan terjun ke dunia film,” ujar Mira di konferensi pers Festival Sinema Australia Indonesia 2019, Jakarta, Jumat.

Di sana, Mira mendapatkan akses untuk menonton film-film Australia sampai belahan dunia lain. Dari situ, dia menyadari pentingnya memahami keberagaman dan mengenal orang lain melalui film.

“Saya suka film dari semua negara karena pasti berbeda-beda,” kata Mira yang selalu ingin tahu ragam film dari penjuru dunia demi memperkaya wawasan.

Mira senang bisa menjadi bagian dari Festival Sinema Australia Indonesia tahun ini yang diharapkan dapat menjadi ajang bertukar pikiran dan menambah ilmu.

“Australia sudah punya sistem yang baik, terutama dalam pembuatan skenario. Pascaproduksi di Australia akhir-akhir ini juga dipakai seluruh dunia. Aquaman juga dikerjakan di Australia,” tutur dia.

Bekerja sama dengan Australia dalam festival film tahunan ini dianggap penting untuk Indonesia, ujar Mira, apalagi lokasi dua negara yang saling berdekatan.

Film juga bisa mengeratkan hubungan budaya dua negara, terlepas dari seperti apa hubungan politik antara Indonesia – Australia.

“Menurut saya, memahami melalui film adalah jalan terbaik,” imbuh dia.

Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan juga sepakat untuk memperkuat hubungan dua negara di bidang film. Lewat kerjasama, misalnya memproduksi film bersama, peluang untuk menembus pasar global semakin besar.

“Ini membuat kita sama-sama kuat, memang butuh waktu, tapi kalau bisa co-produksi, akan jadi stimulasi signifikan untuk menembus pasar internasional,” kata Gary.

Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2019 berlangsung di Jakarta, Surabaya dan Makassar, juga Bandung, Mataram dan Lombok dari 14-31 Maret 2019.

Baca juga: Mengenal negara tetangga lewat Festival Sinema Australia Indonesia

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mengenal negara tetangga lewat Festival Sinema Australia Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2019 bisa jadi alternatif menyenangkan untuk lebih mengenal negara tetangga, Negeri Kangguru.

“Film adalah salah satu media terbaik untuk menumbuhkan pemahaman yang lebih besar tentang negara dan budaya lain. Festival Sinema Australia Indonesia 2019 menawarkan jendela unik ke Australia kontemporer,” ujar Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat.

Sederet film dari berbagai genre yang telah dikurasi agar penonton Indonesia bisa mendapat wawasan lebih dalam mengenai kehidupan di Negeri Kangguru.

“Kami memilih film-film yang diharapkan punya daya tarik untuk penonton di Indonesia,” lanjut dia.

Acara tahunan yang berlangsung keempat kalinya ini menayangkan film-film Australia dan Indonesia secara cuma-cuma.

Bukan cuma film panjang, akan ada film-film pendek pilihan yang pernah tayang di Flickerfest, festival film pendek Australia yang ternama.

Festival akan berlangsung di Jakarta, Surabaya dan Makassar. Demi menjangkau lebih banyak penonton, tahun ini FSAI juga diadakan di Bandung, Mataram dan Lombok.

Sederet film pilihan dari Australia dan Indonesia akan ditayangkan secara cuma-cuma di festival ini.

“Ladies in Black” jadi film pembuka dari Festival Sinema Australia Indonesia 2019.

Film yang berlatar belakang 1959 ini menunjukkan awal mula perubahan Australia menjadi negara multikultural, juga kebangkitan kemerdekaan perempuan di masyarakat.

Ada juga “GURRUMUL”, film dokumenter mengenai salah satu seniman penduduk asli Australia yang paling terkenal.

Festival film ini juga menghadirkan sutradara dan penulis film dokumenter “GURRUMUL”, Paul Damien Williams, yang akan menyapa penonton di Jakarta dan Mataram.

Film-film Australia lain yang akan tayang di festival ini meliputi drama keluarga “Storm Boy”, film thriller fiksi ilmiah alien “Occupation” serta film dokumenter mengenai paduan suara perempuan penduduk asli Australia “The Song Keepers”.

Film remaja fenomenal Tanah Air yang banyak dicintai penonton Indonesia, “Ada Apa Dengan Cinta?” juga kembali ditayangkan atas permintaan khalayak ramai.

Sekuelnya, “Ada Apa Dengan Cinta? 2” juga bisa disaksikan di festival yang didukung Australia now ASEAN, inisiatif pemerintah Australia merayakan inovasi, kreativitas dan gaya hidup Australia di Asia Tenggara sepanjang 2019.

Tak hanya karya dari produser Mira Lesmana yang jadi Festival Sinema Australia Indonesia, penonton juga dapat menyaksikan film pemenang penghargaan karya Kamila Andini, “The Seen and Unseen” atau “Sekala Niskala”.

Tiket untuk semua pemutaran film tersedia secara gratis di fsai2019.eventbrite.com.
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

CEO Warner Bros diselidiki atas dugaan membantu orbitkan aktris

Jakarta (ANTARA) – CEO Warner Bros Entertainment Kevin Tsujihara diselidiki WarnerMedia atas dugaan selingkuh dengan seorang aktris dan membantu mengorbitkannya dalam produksi Warner Bros.

Perusahaan induk studio terpaksa bertindak setelah Hollywood Reporter pada Rabu (6/3) menerbitkan laporan panjang yang merinci sejarah antara Tsujihara dan aktris Inggris Charlotte Kirk.

Studio sebelumnya menyelidiki tuduhan pada musim gugur pada 2017 dan tidak menemukan kesalahan atau penyalahgunaan kekuasaan oleh Tsujihara, yang saat itu sudah menikah.

Tsujihara dan Kirk bertemu pada 2013 melalui kenalan timbal balik, maestro media Australia James Packer dan produser-sutradara Brett Ratner. Pada saat itu Packer dan Ratner sedang menegosiasikan perjanjian pembiayaan film senilai 450 juta dolar dengan Warner Bros melalui usaha investasi RatPac mereka.

Kirk mengeluarkan pernyataan kepada surat kabar bahwa dia menyangkal ada “perilaku yang tidak pantas” di pihak Tsujihara, Ratner atau Packer, dan dia menyatakan “Kevin tidak pernah menjanjikan apa pun kepada saya.”

Namun, pesan teks yang termasuk dalam laporan mengindikasikan Kirk kemudian dituduh Ratner dan Packer menggunakan Kirk untuk membantu menutup kesepakatan RatPac.

Seorang juru bicara WarnerMedia menekankan bahwa Kirk tidak membuat klaim terhadap Tsujihara atau studio. Sebuah sumber yang dekat dengan situasi mengatakan bahwa Tsujihara pertama kali membawa masalah ini ke atasannya di Time Warner karena khawatir tentang perilaku Kirk setelah dugaan hubungan seksual berakhir.

Warner Bros dan Time Warner menyelidiki situasi tersebut tetapi tidak mengambil tindakan terhadap kepala Warner Bros itu. Perilaku Tsujihara dan kepengurusan Warner Bros diperiksa lagi ketika AT&T mengakuisisi raksasa media tahun lalu.

“Melalui juru bicaranya, aktris itu telah secara terbuka menyangkal ketidaklayakan dalam casting-nya, dan penyelidikan kami sebelumnya tidak menemukan sebaliknya,” kata perwakilan WarnerMedia.

“Setiap kali kami menerima tuduhan baru, itu adalah praktik standar kami untuk melakukan penyelidikan yang tepat. Dan itulah yang akan kita lakukan di sini.”

Pengacara Tsujihara Bert Deixler juga menyatakan, “Tsujihara tidak punya peran langsung dalam mempekerjakan aktris ini.”

Tsujihara akan tetap dalam perannya sebagai CEO Warner Bros sementara penyelidikan baru dilakukan, kata perwakilan WarnerMedia.

Paparan dalam Reporter termasuk gambar pesan teks yang diduga dipertukarkan antara Tsujihara dan Kirk di mana Kirk mendorongnya untuk membantunya membuat koneksi yang dapat mengarah pada pekerjaan akting.

Tsujihara dilaporkan membantu Kirk terhubung dengan presiden New Line Cinema Richard Brener tetapi tidak ada indikasi bahwa Tsujihara memaksa siapa pun di Warner Bros untuk memilih Kirk dalam sebuah proyek.

Rumor tentang perilaku yang dipertanyakan telah mengarah pada Tsujihara selama lebih dari setahun, sejak gerakan #MeToo mendapatkan perhatian dengan terungkapnya kasus tuduhan kekerasan seksual atas mantan pemimpin Weinstein Co. Harvey Weinstein.

Reputasi Tsujihara ternoda oleh hubungannya dengan Brett Ratner, sutradara dan pemodal film yang juga dituduh melakukan pelecehan seksual dan perilaku salah oleh banyak wanita – tuduhan yang ia tolak.

Warner Bros memutuskan hubungan dengan Ratner pada November 2017 karena laporan Los Angeles Times yang merinci tuduhan mengganggu dari banyak wanita, demikian Variety.

Penerjemah:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Netflix akan mengadaptasi “One Hundred Years of Solitude”

Jakarta (ANTARA) – Netflix telah memperoleh hak atas karya agung Gabriel García Márquez, “One Hundred Years of Solitude”, untuk diadaptasi ke layar.

Perusahaan streaming itu mengumumkan, Rabu (6/3), bahwa buku itu akan diadaptasi menjadi seri berbahasa Spanyol dan sebagian besar difilmkan di negara asal penulis pemenang hadiah Nobel di Kolombia, dengan putra García Márquez, Rodrigo García dan Gonzalo García Barcha, yang didapuk menjadi produser eksekutif.

Memperoleh hak untuk mengadaptasi “One Hundred Years of Solitude” telah menjadi pertarungan yang sulit. García mengatakan bahwa ayahnya skeptis dengan kapasitas novel realis magis yang luas untuk masuk dalam struktur film tradisional, dan ingin cerita tersebut diceritakan dalam bahasa Spanyol.

“Selama beberapa dekade ayah kami enggan menjual hak film atas ‘One Hundred Years of Solitude’ karena ia percaya bahwa itu tidak dapat dibuat di bawah batasan waktu dari sebuah film fitur, atau bahwa memproduksinya dalam bahasa selain bahasa Spanyol,” kata García, dikutip dari The Guardian, Kamis.

“Tapi di zaman keemasan seri saat ini, dengan tingkat penulisan dan penyutradaraan yang bertalenta, kualitas konten sinematik, dan penerimaan oleh pemirsa program di seluruh dunia dalam bahasa asing, waktunya tidak bisa lebih baik,” tambah dia

“One Hundred Years of Solitude” mengisahkan dinasti Buendía, pendiri kota pedesaan dan terpencil Macondo, dan memadukan unsur-unsur fantastik dan alegoris seperti hujan bunga kuning, alkimia dan penampakan keagamaan, dengan realisme, sejarah, dan karya sastra.

Karya yang dirilis tahun 1967 itu menjadi karya nyata realisme magis dan salah satu novel Amerika Latin paling terkenal dari abad ke-20 dan telah terjual sekitar 47 juta kopi dan telah diterjemahkan ke dalam 46 bahasa.

Netflix baru-baru ini melihat keberhasilan yang signifikan dengan karya-karya yang aslinya berbahasa Spanyol, seperti film pemenang Oscar, Roma, dan seri Pablo Escobar, Narcos.

“One Hundred Years of Solitude” bukan menjadi karya García Márquez pertama yang diadaptasi untuk layar. Novel “Love in the Time of Cholera” (1985) diadaptasi untuk film pada tahun 2007, disutradarai oleh Mike Newell dan dibintangi oleh Giovanna Mezzogiorno, Javier Bardem dan Benjamin Bratt. “Chronicle of a Death Foretold” (1981) diadaptasi untuk film dan musikal Broadway.

García Márquez memenangkan Hadiah Nobel untuk sastra pada tahun 1982. Dia meninggal pada tahun 2014.

Baca juga: Edisi pertama novel “One Hundred Years of Solitude” dicuri

Baca juga: Mengenal Gabriel Garcia Marquez yang jadi Google Doodle hari ini

Baca juga: Novelis Gabriel Garcia Marquez tutup usia

Pewarta: Monalisa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“27 Steps of May” ke tiga festival film di Bengaluru, Mesir, Kamboja

Jakarta (ANTARA) – Film karya Ravi Bharwani terbaru yang berjudul “27 Steps of May” menembus tiga festival film di Bengaluru, India, lalu Mesir dan Kamboja.

“27 Steps of May” disambut antusias saat diputar di Bengaluru International Film Festival (Biffes) edisi 11 pada akhir Februari lalu.

Film yang dibintangi oleh Raihaanun, Lukman Sardi, Ario Bayu, da Verdi Solaiman ini diputar sebanyak dua kali dan dilanjutkan dengan diskusi bersama Ravi Bharwani dan produser Wilza Lubis.

“Dua Pemutaran di Biffes dipenuhi penonton. Setelah pemutaran, reaksi penonton sangat positif banget. Pas sesi tanya jawab ada seorang penonton yang merupakan penyintas perkosaan. Dia khusus bilang terima kasih karena apa yang dia rasakan, benar-benar diwakilkan oleh film ini,” ujar Wilza Lubis dalam siaran pers, Kamis.

Setelah dari Bengaluru, India, May akan melanjutkan perjalanannya ke Mesir untuk diputar dalam Mar Sharm El Sheikh Asian Film Festival (SAFF) yang ketiga pada awal Maret ini.

Festival tersebut diadakan oleh Noon Foundation for Culture and Arts dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan Mesir, Kementerian Pemuda dan Olahraga, Otoritas Umum untuk Pengembangan Pariwisata dan Kegubernuran Sinai Selatan.

Tahun ini SAFF bertujuan untuk memperkenalkan sinema Asia ke dunia Arab. Dalam SAFF, 27 Steps of May akan berkompetisi dengan 57 film lainnya dari 26 negara Asia untuk memenangkan sembilan penghargaan. Rangkaian SAFF yang diisi dengan pemutaran, seminar, dan workshop diadakan pada 2-8 Maret 2019.

Selanjutnya, film berdurasi 112 menit ini juga akan diputar di Cambodia International Film Festival (CIFF) yang diselenggarakan selama enam hari penuh dari tanggal 9-14 Maret 2019.

CIFF menghadirkan film dari 37 negara dengan lebih dari 135 judul film dari semua benua, termasuk film pendek, film layar lebar, dokumenter, dan animasi.

“Setelah mendapatkan tanggapan yang luar biasa dari para penonton di Biffes, saya berharap film ini juga mendapat simpati dari para penonton SAFF dan CIFF,” ujar Ravi.

Setelah keliling tiga festival tersebut, film itu diharap bisa segera menyapa penonton Indonesia secara luas.

“Saya tidak sabar untuk mempersembahkan film yang mengangkat isu trauma pasca kekerasan seksual ini ke seluruh penonton di Indonesia. Mengingat juga proses pembuatan film ini yang cukup panjang yaitu lima tahun,” kata Rayya Makarim, penulis sekaligus produser.

Selain tiga festival film di atas, “27 Steps of May” yang diproduksi oleh Green Glow Picture dan didukung oleh Go Studio ini tayang perdana di Busan International Film Festival pada 2018.

“27 Steps of May” juga telah berkeliling menuju Cape Town Film Festival di Afrika Selatan, Goteborg Film Festival di Swedia, dan Plaza Indonesia Film Festival pada Februari lalu.

Film yang terinspirasi dari peristiwa Mei 98 ini juga telah menyabet tiga penghargaan yaitu film terbaik (Golden Hanoman Award) kategori film panjang Asia terbaik di Jogja-NETPAC Asian Film Festival pada November 2018.

Dan di Film Festival Tempo 2018 mendapatkan dua penghargaan untuk Rayya Makarim sebagai Penulis Skenario Pilihan Tempo dan Raihaanun sebagai Aktris Pilihan Tempo pada ajang Film Festival Tempo 2018.

27 Steps of May bercerita tentang seorang perempuan 14 tahun bernama May (Raihaanun) yang diperkosa oleh sekelompok orang. Ayah May (Lukman Sardi) sangat terpukul dan menyalahkan dirinya sendiri karena tidak dapat menjaga anaknya.

Akibat trauma yang sangat mendalam, May menarik diri sepenuhnya dari kehidupan. May menjalani hidupnya tanpa koneksi, emosi, dan kata-kata.

Di depan May, Ayahnya merupakan karakter lembut yang mengorbankan segalanya untuk memberikan kenyamanan dan perlindungan bagi anaknya.

Di luar rumah–di ring tinju–dia adalah petinju yang bertarung untuk menyalurkan amarahnya.

May dan Ayahnya telah hidup seperti itu selama delapan tahun. Tapi semua berubah ketika May bertemu dengan seorang pesulap (Ario Bayu) melalui celah kecil di dinding kamarnya.

Pesulap mampu membangkitkan rasa penasaran May sekaligus emosinya. Dia menjadi cukup berani untuk mencari dan menghadapi perasaan, sensasi, dan ingatannya yang hilang. Dengan bantuan Pesulap, May berani membebaskan dirinya dan keluar dari trauma masa lalu.

Baca juga: Kesulitan Raihaanun perankan korban perkosaan

Baca juga: Lukman Sardi lawan kekerasan terhadap perempuan

Baca juga: Akting lintas genre Ario Bayu

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film Aruna dan Lidahnya buka festival film CinemAsia di Belanda

London (ANTARA) – Film Aruna Goyang Lidah karya sutradara Edwin yang dibintangi Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra yang menonjolkan kekayaan kuliner dan rempah-rempah Indonesia menjadi film pembuka Festival Film CinemAsia di Kriterion Amsterdam Belanda yang diputar di Kriterion Amsterdam Belanda, Selasa malam.

Minister Counsellor Fungsi Pensosbud KBRI Denhaag, Renata Siagian kepada Antara London, Rabu menyebutkan film karya sutradara Indonesia, Edwin berhasil memukau dan menghanyutkan hampir 300 penonton yang memadati ruang theater.

Pembukaan secara resmi CinemAsia dilakukan Maggie Lee, Artistic Director dan Hui Hui Pan, Managing Director dari CinemAsia dan dilanjutkan dengan sambutan Duta Besar RI, I Gusti Agung Wesaka Puja.

Dubes menyatakan melalui film “Aruna dan Lidahnya” para penonton dapat melihat dan merasakan kenikmatan cita rasa kuliner Indonesia.

Dikatakannya, cita rasa yang tercipta dari campuran berbagai rempah yang digunakan untuk menggelitik lidah kita. Film ini sejalan dengan upaya KBRI Den Haag mempromosikan kekayaan kuliner Nusantara dan rempah-rempah Indonesia di Belanda melalui tema spice road.

Terpilihnya film Aruna dan Lidahnya sebagai pembuka CinemAsia membuktikan bahwa film Indonesia memiliki kualitas kelas dunia dan dapat dinikmati pencinta film di manca negara. Melihat antusiasme pengunjung hari ini, saya optimis film-film Indonesia yang berkompetisi dalam festival kali ini akan mendapatkan capaian yang maksimal, ujar Dubes Puja.

“Saya menjadi sangat lapar dan ingin pergi ke Indonesia,”ujar beberapa penonton selepas menonton film Aruna dan Lidahnya karya sutradara Edwin yang membuka Festival Film CinemAsia di Kriterion Amsterdam Belanda, Selasa.(5/3)

Tiga film Indonesia lainnya yang diputar dalam festival adalah “Run to the Beach” karya Riri Riza, “Cek Toko Sebelah” karya Ernest Prakasa, dan “Ave Maryam” karya Ertanto Robby. Selain ketiga film panjang tersebut, film seri horror Folklore: A Mother’s Love karya Joko Anwar akan ditayangkan bersama Folklore: Nobody karya Eric Khoo dari Singapura.

Suasana Indonesia terasa kental dalam pembukaan festival kali ini, dimana penonton menikmati penampilan tarian Bajidor Kahot yang dibawakan kelompok Ina Dance, dan berbagai aneka makanan kecil dengan cita rasa Indonesia. Video promosi Wonderful Indonesia di awal screening semakin memperkuat impresi para penonton akan kekayaan alam dan budaya Indonesia.

Festival Film CinemAsia edisi ke-12 diadakan di Kriterion Theater Amsterdam, Belanda berlangsung dari tanggal 5 sampak 10 Maret mendatang diikuti 15 negara antara lain Indonesia, Malaysia, Vietnam, China, Thailand, dan Singapura. Festival juga melibatkan para juri, sutradara dan penggiat film dari 10 negara.

Festival diharapkan dapat memperkenalkan film-film Indonesia ke level Internasional dan membangkitkan semangat para sineas muda Indonesia untuk menghasilkan karya karya film terbaik, berkualitas dan dapat dinikmati pecinta film dunia. ***3****

(ZG)

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film Aruna Goyang Lidah buka festival film CinemAsia di Belanda

London (ANTARA) – Film Aruna Goyang Lidah karya sutradara Edwin yang dibintangi Dian Sastrowardoyo dan Nicholas Saputra yang menonjolkan kekayaan kuliner dan rempah-rempah Indonesia menjadi film pembuka Festival Film CinemAsia di Kriterion Amsterdam Belanda yang diputar di Kriterion Amsterdam Belanda, Selasa malam.

Minister Counsellor Fungsi Pensosbud KBRI Denhaag, Renata Siagian kepada Antara London, Rabu menyebutkan film karya sutradara Indonesia, Edwin berhasil memukau dan menghanyutkan hampir 300 penonton yang memadati ruang theater.

Pembukaan secara resmi CinemAsia dilakukan Maggie Lee, Artistic Director dan Hui Hui Pan, Managing Director dari CinemAsia dan dilanjutkan dengan sambutan Duta Besar RI, I Gusti Agung Wesaka Puja.

Dubes menyatakan melalui film “Aruna dan Lidahnya” para penonton dapat melihat dan merasakan kenikmatan cita rasa kuliner Indonesia.

Dikatakannya, cita rasa yang tercipta dari campuran berbagai rempah yang digunakan untuk menggelitik lidah kita. Film ini sejalan dengan upaya KBRI Den Haag mempromosikan kekayaan kuliner Nusantara dan rempah-rempah Indonesia di Belanda melalui tema spice road.

Terpilihnya film Aruna dan Lidahnya sebagai pembuka CinemAsia membuktikan bahwa film Indonesia memiliki kualitas kelas dunia dan dapat dinikmati pencinta film di manca negara. Melihat antusiasme pengunjung hari ini, saya optimis film-film Indonesia yang berkompetisi dalam festival kali ini akan mendapatkan capaian yang maksimal, ujar Dubes Puja.

“Saya menjadi sangat lapar dan ingin pergi ke Indonesia,”ujar beberapa penonton selepas menonton film Aruna dan Lidahnya karya sutradara Edwin yang membuka Festival Film CinemAsia di Kriterion Amsterdam Belanda, Selasa.(5/3)

Tiga film Indonesia lainnya yang diputar dalam festival adalah “Run to the Beach” karya Riri Riza, “Cek Toko Sebelah” karya Ernest Prakasa, dan “Ave Maryam” karya Ertanto Robby. Selain ketiga film panjang tersebut, film seri horror Folklore: A Mother’s Love karya Joko Anwar akan ditayangkan bersama Folklore: Nobody karya Eric Khoo dari Singapura.

Suasana Indonesia terasa kental dalam pembukaan festival kali ini, dimana penonton menikmati penampilan tarian Bajidor Kahot yang dibawakan kelompok Ina Dance, dan berbagai aneka makanan kecil dengan cita rasa Indonesia. Video promosi Wonderful Indonesia di awal screening semakin memperkuat impresi para penonton akan kekayaan alam dan budaya Indonesia.

Festival Film CinemAsia edisi ke-12 diadakan di Kriterion Theater Amsterdam, Belanda berlangsung dari tanggal 5 sampak 10 Maret mendatang diikuti 15 negara antara lain Indonesia, Malaysia, Vietnam, China, Thailand, dan Singapura. Festival juga melibatkan para juri, sutradara dan penggiat film dari 10 negara.

Festival diharapkan dapat memperkenalkan film-film Indonesia ke level Internasional dan membangkitkan semangat para sineas muda Indonesia untuk menghasilkan karya karya film terbaik, berkualitas dan dapat dinikmati pecinta film dunia. ***3****

(ZG)

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Captain Marvel”, kisah super hero perempuan tayang hari ini

Jakarta (ANTARA) – “Captain Marvel”, film super hero perempuan dari Marvel Cinematic Universe (MCU) yang menceritakan kisah yang belum pernah ada dalam karya-karya Marvel sebelumnya, mulai tayang hari ini.

Berlatar belakang pada tahun 1990-an yang melanjutkan kisah dari tokoh utamanya yakni Carol Danvers yang diperankan oleh Brie Larson, Vers yang diceritakan telah menjadi anggota dari Starforce pasukan elite militer dari bangsa Kree sudah meninggalkan bumi sejak ia mendapat kekuatan super,

Ketika peperangan di planet Kree sudah sampai puncaknya sehingga para ras kedua alien itu harus turun ke Bumi, Vers yang memang pada awalnya adalah penduduk asli Bumi. Di sini lah ia menemukan jati diri dan sekutu barunya. Di tengah kekacauan, Vers yang kembali ke Bumi dihadapkan dengan berbagai macam pertanyaan dari masa lalunya.

Kehadirannya di Bumi mengundang perhatian dari Nick Fury sehingga ia harus bekerja sama untuk melawan musuh yang dipimpin oleh Talos dari bangsa Skrul yang mempunyai kekuatan untuk mengubah wujud mereka sesuai yang mereka inginkan untuk menghancurkan Bumi.

Film ini diangkat dari komik Marvel yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1967 silam. “Captain Marvel” diperankan oleh aktris peraih penghargaan Academy Award Brie Larson dan juga dibintangi oleh aktor Hollywood lainnya seperti Samuel L Jackson sebagai Nick Fury, lalu Ben Mendelshon sebagai Talos, Annette Bening sebagai Supreme Intelegence, Clark Gregg sebagai Agent Coulson dan Jude Law sebagai Yonn-Rog.

Film ini diproduseri oleh Kevin Feige, dengan Anna Boden dan Ryan Fleck dipercayai sebagai sutradara, sedangkan Louis D’Esposito,Victoria Alonso, Jonathan Schwartz, Patricia Whitcher, dan Stan Lee sebagai produser eksekutifnya.

Dalam serial terbaru dari MCU ini, penonton akan mendapatkan cerita dari kisah awal dari mana “Captain Marvel” mendapatkan keuatannya yang menjadikan ia super hero yang sangat kuat. Penonton juga akan mendapatkankan cerita hubungan Vers dengan Night Fury dan di sini diceritakan juga awal mula kejadian yang membuat satu mata Fury buta.

Dari film ini pula penonton bisa mengetahui asal muasal nama Avengers.

Untuk penggemar berat Marvel pasti sudah tidak sabar untuk menonton film ini. Film ini penayangannya lebih cepat dari yang dijadwalkan sebelumnya, dan tepat mulai hari ini Rabu (6/3) film produksi Marvel Cinematic Universe sudah bisa disaksikan di seluruh bioskop di Indonesia.
 

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film bioskop Upin Ipin

Kreator film kartun Upin & Ipin hadir menyapa penggemar pada Meet and Greet film ‘Upin & Ipin : Keria Siamang Tunggal’ di bioskop Golden Screen Cinema, Kuala Lumpur, Malaysia, Selasa (5/3/2019). Film ‘Upin & Ipin : Keria Siamang Tunggal’ yang disutradarai Adam Amiruddin, Syed Nurfaiz Khalid dan Ahmad Razuri Roseli dengan biaya Rp69 miliar akan ditayangkan di bioskop Indonesia pada Mei mendatang dan Malaysia pada 21 Maret. ANTARA FOTO/Rafiuddin Abdul Rahman/foc.

Meet and Greet Dilan disambut antusias kaum milenial Pontianak

Pontianak (ANTARA) – Jumpa penggemar atau meet and greet para pemain film “Dilan 1991” yang digelar PT Telkomsel di sebuah hotel di Pontianak, Kalimantan Barat, disambut antusias para kaum milenial di kota itu.

“Kegiatan meet and greet dilanjutkan nonton bareng film ‘Dilan 1991’ hanya lima kota diseluruh Indonesia, salah satunya di Kota Pontianak, yang digelar di Bioskop XII Mega Mal Pontianak,” kata Manager Branch Pontianak PT Telkomsel, Surya Rachman, di Pontianak, Selasa.

Acara semakin meriah dengan kehadiran Venessa Prescilla pemeran utama wanita sebagai Milea dan Debo Andryos yang berpemeran sebagai Nandan dalam “Dilan 1991”. Meski molor sekitar setengah jam dari jadwal yang telah ditentukan, para pengemar film “Dilan 1991” tetap setia menunggu demi bertemu langsung dengan idola mereka.

Baca juga: Tanggapan produser soal protes penayangan “Dilan 1991” di Makassar

Ia menjelaskan, mengapa PT Telkomsel ada dibalik film Dilan, karena 55 persen saham Telkomsel itu milik bangsa Indonesia dan 60 persen milik Telkom. Dengan harapan kehadiran Telkomsel dapat lebih dicintai dan diminati oleh anak negeri sendiri. “Mari kita cintai produk dalam negeri sebagai wujud cinta kepada bangsa ini,” katanya.

Sementara itu, Venessa Prescilla mengatakan pihaknya tidak menargertkan pencapaian banyaknya penonton di film “Dilan 1991”. “Makanya kami ketika pemutaran film ini di hari pertama penontonnya mencapai 800 ribu, kami kaget dan sangat bersyukur atas pencapaian gemilang tersebut.”

Hasil ini, ujarnya, tidak disangka-sangka karena memang tidak ada yang ditargetkan. “Pencapaian yang kami dapatkan hingga saat ini sangat perlu kami syukuri,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Debo Andryos menambahkan, dari perkembangan penonton setelah lima hari penanyangan di seluruh Indonesia, “Dilan 1991” telah ditonton tiga juta penonton. Hal ini ada kenaikan yang cukup signifikan bila dibandingkan jumlah penonton “Dilan 1990” dalam lima hari penayangan.

“Saat lima hari pemutaran film Dilan 1990 jumlah penontonnya baru menembus angka satu juta lebih saja. Dan mengapa Kota Pontianak terpilih lagi sebagai tempat meet and greet serta nobar untuk yang kedua kali, karena respon yang sangat atusias dari masyarakat Kalbar,” katanya.

Baca juga: “Dilan 1991” dapatkan dua rekor MURI sekaligus

Baca juga: Vanessa Prescilla tidak menyangka Dilan 1991 akan seramai ini penontonnya

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Dilan 1991” kembali pecahkan rekor, begini tanggapan sutradara

Jakarta (ANTARA) – Film “Dilan 1991” menembus angka 3 juta penonton pada hari kelima penayangan, memecahkan rekor baru sepanjang masa.

Sebelumnya, film yang dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla itu juga mencatat rekor jumlah penonton premier terbanyak (80.000 orang) dan jumlah penonton pada hari pertama penayangan (720.000 orang). Pencapaian itu membuat sutradara Fajar Bustomi tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya.

“Senang sekali atas hasil “(Dilan) 1991″ ini. Akhirnya ada film Indonesia yang bisa membanggakan dan mendapatkan antusiasme begitu besar,” ujar Fajar saat dihubungi Antara, Selasa.

Fajar yang tengah berada di Kairo, Mesir untuk penggarapan film Buya Hamka, awalnya mengaku terbebani dalam penggarapan film lanjutan “Dilan 1990” tersebut.

“Bukan beban dalam jumlah penonton, karena dari Pak Ody (produser film) memang tidak ada target harus ditonton berapa juta orang. Beban saya adalah bagaimana membuat film kedua ini lebih baik dari sebelumnya,” jelas Fajar.

Pria yang juga menukangi film “Slank Nggak Ada Matinya” itu beranggapan sangat lumrah bila sekuel sebuah film kerap dibandingkan dengan keberhasilan film pendahulunya.

“Makanya saya sering bertanya-tanya, apakah orang-orang masih suka Dilan, masih nungguin Dilan? Alhamdulillah ternyata publik masih menyukai kisah Dilan,” ungkap Fajar.

“Dilan 1991” bahkan disebut-sebut mengalahkan capaian “Avengers: Infinity War” di Indonesia, yang tayang pada April 2018.

(Penulis: Peserta Susdape XIX/Adnan Nanda)

Baca juga: Meet and Greet Dilan disambut antusias kaum milenial Pontianak

Baca juga: Kemarin, “Dilan” pecahkan rekor hingga Syahrini konfirmasi pernikahan

Baca juga: “Dilan 1991” dapatkan dua rekor MURI sekaligus

Baca juga: Rekor, “Dilan 1991” ditonton 800 ribu orang sehari setelah tayang

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Veteran Hollywood galang dana untuk filmkan tragedi MH370

Kuala Lumpur (ANTARA) – Pegiat veteran Hollywood Darlene Lieblich Tipton memutuskan untuk membuat film “Malaysia 370” didorong simpati terhadap keluarga, 239 penumpang dan kru pesawat MH370, yang hilang pada 8 Mac 2014.

Berdasarkan siaran pers yang diterima ANTARA Kuala Lumpur, Selasa, pembuatan film tersebut berdasarkan gambar dan video MH370 yang telah direkam setelah pesawat itu hilang dan belum pernah disiarkan di media sebelumnya.

Darlene mengambil langkah pertama untuk membuat film berjudul “Malaysia 370” dengan mengumpulkan dana melalui platform pendanaan publik (crowdfunding).

Proyek film “Malaysia 370” itu didedikasikan untuk mengenang 239 penumpang dan kru pesawat Malaysia Airlines #370.

Aktivitas crowdfunding film “Malaysia 370” dimulai pada 1 Oktober 2018 dengan Darlene sendiri menginvestasikan sebahagian besar dari simpanan pribadinya untuk pembuatan produksi tersebut.

“Sejauh ini saya telah mengumpulkan lebih daripada RM5.6 juta (USD1.4 juta). Sejumlah RM2 juta (USD500,000) dari jumlah tersebut merupakan simpanan pensiun saya, dan selebihnya datang daripada sumbangan rekan-rekan, keluarga, dan pendukung filem terakhir yang saya buat,” kata Darlene.

Dia mengatakan bahwa kebanyakan dana yang dikumpul sejauh ini adalah dari individu yang pernah bekerja secara pribadi dengannya di Hollywood.
Menurut dia, produksi pembuatan film tersebut direncanakan menelan biaya minimal RM 30 juta (USD7.5 juta) dan biaya maksimal hingga RM120 juta (USD30 juta).

Darlene menawarkan pelbagai pilihan kepada publik untuk membantu menyumbang kepada penggalangan dana pembuatan film “Malaysia 370” termasuk mengunggah lagu “Remember Me” yang mempunyai irama dan lirik yang menyentuh perasaan, seolah-olah menyampaikan “pesan” penumpang MH370 kepada orang yang tersayang.

Sejauh ini, lagu tema tersebut telah direkam dalam lima bahasa termasuk Bahasa Inggeris, Mandarin, Yunani Spanyol dan Rusia.

Darlene juga berhasrat untuk merekam lagu tersebut dalam versi Bahasa Melayu diiringi orkestra lengkap, di bawah kontrak berbayar di Los Angeles.

Darlene berkata dirinya seringkali berhadapan dengan laporan media negatif yang sebenarnya diputarbalikkan dari apa yang dia utarakan. “Saya seringkali tidak diberi peluang untuk membetulkan dan informasi seperti itu berada di internet sehingga menjadi data yang tersimpan di situ selama-lamanya.”

Kalau sasaran pendanaan bagi filmnya tercapai, Darlene berhasrat untuk memberi keutamaan sepenuhnya kepada pemain film dan kru produksi Hollywood yang telah dilarang di China.

Daftar tersebut termasuk direktur filem dan pemenang Oscar, Martin Scorsese, Brad Pitt, Sharon Stone, Harrison Ford dan bintang musik seperti Miley Cyrus, Lady Gaga dan Bjork.

“Pra-produksi akan mulai secepat mungkin kalau sasaran dana tercapai. Informasi dan perkembangan terkini akan dipaparkan sejajar dengan streaming langsung dari setiap set pemotretan,” katanya.

“Wawancara bersama pemain film dan kru akan diunggah saat berlangsung,” kata Darlene yang juga menyebut Culver Studios sebagai lokasi penggambaran pilihannya.

Culver Studio yang dibeli oleh CEO Amazon, Jeff Bezos, baru-baru ini kaya dengan sejarah perfilman Hollywood melalui penerbitan film-film hebat seperti “Gone with the Wind”, “Citizen Kane” dan “The Matrix”.

“Tidak ada studio Hollywood utama yang mengizinkan kami membuat syuting di lokasi mereka. Melakukan syuting film itu di lokasi produksi indie seperti Culver Studios milik Amazon bagaikan satu mimpi menjadi kenyataan,” kata Darlene.

Usaha crowdfunding sejauh ini merupakan salah satu dari pendekatan yang dilakukan Darlene dari penghasilan film “Malaysia 370” antara lain termasuk sumbangan derma, penjualan duit memorial dan juga unggahan lagu tema “Remember Me”.

Darlene mengatakan bahwa dana yang diterima dari penjualan, persewaan dan pengedaran film “Malaysia 370” akan disalurkan kepada keluarga 239 penumpang pesawat MH370 .

“Sasaran kami adalah untuk menyumbangkan RM400,000 (USD100,000) kepada setiap keluarga yang akan menjadikan jumlah keseluruhan sumbangan sebanyak RM95.6 juta (USD23.9 juta),” katanya.

Darlene Lieblich Tipton pengalaman dalam industri perfileman selama empat dekade termasuk 25 tahun sebagai Wakil Presiden di Fox Cable Networks Group hingga pensiun.

Beliau juga pernah menjadi Ketua Anugerah Emmy, anugerah Amerika yang memberi penghargaan dalam industri televisi yang setara dengan Anugerah Academy (bagi film), Tony (bagi teater) dan Grammy (bagi musik) dari 2000 hingga 2005.

Baca juga: Malaysia putuskan pencarian MH370 diakhiri Selasa pekan depan

Baca juga: Mahathir kaji ulang kontrak pencarian MH370

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Meet and Greet Dilan disambut antusias kaum melenial Pontianak

Pontianak (ANTARA) – Jumpa penggemar atau meet and greet para pemain film “Dilan 1991” yang digelar PT Telkomsel di sebuah hotel di Pontianak, Kalimantan Barat, disambut antusias para kaum milenial di kota itu.

“Kegiatan meet and greet dilanjutkan nonton bareng film ‘Dilan 1991’ hanya lima kota diseluruh Indonesia, salah satunya di Kota Pontianak, yang digelar di Bioskop XII Mega Mal Pontianak,” kata Manager Branch Pontianak PT Telkomsel, Surya Rachman, di Pontianak, Selasa.

Acara semakin meriah dengan kehadiran Venessa Prescilla pemeran utama wanita sebagai Milea dan Debo Andryos yang berpemeran sebagai Nandan dalam “Dilan 1991”. Meski molor sekitar setengah jam dari jadwal yang telah ditentukan, para pengemar film “Dilan 1991” tetap setia menunggu demi bertemu langsung dengan idola mereka.

Baca juga: Tanggapan produser soal protes penayangan “Dilan 1991” di Makassar

Ia menjelaskan, mengapa PT Telkomsel ada dibalik film Dilan, karena 55 persen saham Telkomsel itu milik bangsa Indonesia dan 60 persen milik Telkom. Dengan harapan kehadiran Telkomsel dapat lebih dicintai dan diminati oleh anak negeri sendiri. “Mari kita cintai produk dalam negeri sebagai wujud cinta kepada bangsa ini,” katanya.

Sementara itu, Venessa Prescilla mengatakan pihaknya tidak menargertkan pencapaian banyaknya penonton di film “Dilan 1991”. “Makanya kami ketika pemutaran film ini di hari pertama penontonnya mencapai 800 ribu, kami kaget dan sangat bersyukur atas pencapaian gemilang tersebut.”

Hasil ini, ujarnya, tidak disangka-sangka karena memang tidak ada yang ditargetkan. “Pencapaian yang kami dapatkan hingga saat ini sangat perlu kami syukuri,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Debo Andryos menambahkan, dari perkembangan penonton setelah lima hari penanyangan di seluruh Indonesia, “Dilan 1991” telah ditonton tiga juta penonton. Hal ini ada kenaikan yang cukup signifikan bila dibandingkan jumlah penonton “Dilan 1990” dalam lima hari penayangan.

“Saat lima hari pemutaran film Dilan 1990 jumlah penontonnya baru menembus angka satu juta lebih saja. Dan mengapa Kota Pontianak terpilih lagi sebagai tempat meet and greet serta nobar untuk yang kedua kali, karena respon yang sangat atusias dari masyarakat Kalbar,” katanya.

Baca juga: “Dilan 1991” dapatkan dua rekor MURI sekaligus

Baca juga: Vanessa Prescilla tidak menyangka Dilan 1991 akan seramai ini penontonnya

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Dilan 1991” dapatkan dua rekor MURI sekaligus

Jakarta (ANTARA) – Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) memberi dua penghargaan sekaligus untuk film “Dilan 1991” yang telah ditonton 80.000 orang saat premier dan 720.000 orang pada pemutaran hari pertama di bioskop.

Rekor pertama diberikan untuk jumlah penonton premier terbanyak dan yang kedua untuk jumlah penonton pada hari pertama penayangan.

Penghargaan itu diberikan oleh pendiri MURI Jaya Suprana kepada pemain dan kru “Dilan 1991” di mal Kota Kasablanka, Jakarta, Minggu (3/3).

Jaya Suprana mengatakan, membuat sebuah film sekuel yang mampu menarik minat banyak orang untuk datang ke bioskop dan menontonnya bukanlah hal yang mudah. Untuk itu, ia mengapresiasi capaian tersebut.

“Hari ini saya bangga bisa hadir dalam peristiwa bersejarah film Indonesia. Semoga apa yang terjadi pada hari ini bisa membawa semangat film Indonesia untuk menaklukkan film dunia,” katanya.

“Pak Ody (produser film Dilan 1991) ini superhero-nya film Indonesia dan mereka ini para pemain Dilan 1991 juga superhero yang bisa membawa film Indonesia mendunia,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Ody Mulya, produser “Dilan 1991”, mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah meluangkan waktu menyaksikan sekuel “Dilan 1990”.

“Terima kasih film ‘Dilan 1991’ diberikan penghargaan dari MURI dengan dua penghargaan sekaligus. Saya juga senang film ini bisa mengalahkan film Hollywood. Target saya yang lain adalah tidak banyak, saya hanya ingin mengalahkan jumlah penonton dari Warkop saja lah,” kata Ody.

“Dilan 1991” disebut-sebut mengalahkan capaian “Avengers: Infinity War” di Indonesia, yang tayang pada April 2018.

Hadir dalam acara pemberian penghargaan itu, para pemain “Dilan 1991” yakni Vanesha Prescilla, Ira Wibowo, Debo Andryos, Omara Esteghlal, Yoriko Angeline dan Andovi da Lopez. Sementara Iqbaal Ramadhan, pemeran Dilan, tidak hadir.

Baca juga: Vanessa tidak menyangka Dilan 1991 akan seramai ini penontonnya
Baca juga: Rekor, “Dilan 1991” ditonton 800 ribu orang sehari setelah tayang

 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Beradegan dengan kucing, Brie Larson “Captain Marvel” alergi

Jakarta (ANTARA) – Dalam film, tokoh fiksi Captain Marvel bersahabat karib dengan seekor kucing bernama Goose, tapi ternyata sang pemeran utama Brie Larson alergi terhadap binatang berbulu tersebut.

“Ini jadi gurauan karena kru akan menyaksikanku melakukan adegan-adegan berbahaya sepanjang hari, tapi ketika kucing muncul di lokasi, aku langsung ‘Kita harus punya rencana! Kita harus berdiskusi!'” kata Larson dalam wawancara dengan Entertainment Weekly, dikutip Minggu.

Jadi sutradara memutuskan untuk memiliki beberapa versi kucing, termasuk efek komputer dan boneka yang bisa dipegang.

Baca juga: Marvel rilis trailer “Captain Marvel”

Untuk adegan tanpa Larson, ada kucing 12 tahun berbulu kuning bernama Reggie yang “lebih mudah diarahkan daripada aktor-aktor lain yang pernah bekerja bersama kami,” kata co-sutradara Anna Boden.

Untuk berjaga-jaga bila Reggie terlalu lelah, ada tiga kucing lain yang siap menggantikan (Archie, Gonzo dan Rizzo), dan semuanya memukau para aktor manusia.

“Kau berikan mereka camilan, bicara pada mereka dengan nada bersahabat, dan memberikan lagi camilan ketika semua selesai,” kata Samuel L Jackson yang berperan sebagai Nick Fury. “Nanti ketika mereka melihatmu lagi, mereka akan bersikap seperti, ‘Oh, itu pria yang memberiku makanan!’.

Baca juga: Klip “Captain Marvel” dirilis, tampilkan adegan laga di atas kereta

Baca juga: Trailer terbaru “Captain Marvel” tampilkan perang Kree-Skrull

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Jangan Sendirian” mulai diproduksi di Yogyakarta

Yogyakarta (ANTARA) – Film bergenre horor berjudul “Jangan Sendirian” mulai memasuki tahap awal produksi di sejumlah wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta dan sekitarnya.

“Sebanyak 11 lokasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) seperti kawasan Kaliurang, Sleman hingga Hutan Wanagama Gunung Kidul menjadi latar film tersebut,” kata Sutradara “Jangan Sendirian” Wijanarko di sela-sela syuting perdana di kawasan Kaliurang Sleman, Sabtu.

Menurut dia, proses produksi film “Jangan Sendirian” di sejumlah wilayah DIY akan dilakukan hingga 8 Maret 2019. Selanjutnya, post production akan dilaksanakan di Jakarta.

“Jangan Sendirian` akan memanjakan penonton dengan sensasi petualangan romansa keseraman, kengerian, dan ketakutan tanpa dibatasi oleh dramatikal seperti film sejenis yang sudah ada,” katanya. 

Ia mengatakan gagasan film itu berdasarkan sesuatu yang sangat dekat dengan pengalaman sehari-hari setiap orang. Begitu banyak orang yang takut dengan kesendirian, takut gelap atau merasa diteror oleh ketakutanmya sendiri tanpa sebab.

“Berangkat dari situ itulah film tersebut diberi judul `Jangan Sendirian`. Kami percaya judul itu lebih mudah menempel di benak masyarakat atau calon penonton,” kata Wijanarko yang akrab dipanggil X.Jo.

Menurut dia, berbeda dengan film horor pada umumnya, “Jangan Sendirian” banyak meminimalkan unsur drama dan dialog para pemain serta akan dipenuhi aksi-aksi horor yang segar dan tidak mudah ditebak alurnya.

“Perbedaan signifikan dengan film horor lainnya adalah para penebar keseraman, ketakutan, dan histeria itu bukan sosok hantu klasik, tetapi sosok iblis dengan berbagai karakter atau modern-imajiner,” katanya.

Ia mengemukakan para pemain film itu terdiri atas aktor dan aktris dari Jakarta seperti David John Schaap, Jasi Michelle Tumbel, Henry Boboy, Agatha Valerie, dan aktor senior Robby Sugara, yang didukung para pemain lokal yang telah lolos seleksi.

“Kehadiran aktor senior Robby Sugara diharapkan mampu memenuhi kerinduan para penonton atas akting dan pesonanya,” kata Wijanarko yang juga penulis skenario “Jangan Sendirian”.

Produser Eksekutif “Jangan Sendirian” Witjaksono mengatakan film bergenre horor masih menduduki posisi menjanjikan pada perfilman nasional.

Menurut dia, catatan akumulasi data penonton bioskop dalam negeri pada tiga tahun terakhir menunjukkan film bergenre horor mampu bersaing dalam peringkat box office dengan jumlah penonton terbanyak.

“Antusiasme para  penikmat film horor yang signifikan dan stabil itu menjadi bahan pertimbangan kami untuk turut serta dalam menghadirkan sebuah tontonan horor dengan konsep yang berbeda dan modern,” katanya.

Ia mengatakan film horor modern yang diproduksi oleh Lensadewa Production dan Adglow Pictures itu diharapkan mampu menarik minat masyarakat untuk menontonnya.

“Kami menargetkan minimal satu juta penonton menyaksikan film yang akan kami tayangkan secara serentak di seluruh wilayah Indonesia dan lima negara lain,” kata Witjaksono.

Baca juga: Film “The Man From The Sea” diputar khusus di Aceh
Baca juga: Kemendikbud : film Dilan 1991 lulus sensor

Pewarta:
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019