“Uka-Uka The Movie”, humor di tengah ketakutan

Jakarta (ANTARA) – Satu lagi film horor Indonesia yang tidak hanya menawarkan sosok hantu seram, tapi juga ada humor yang menghibur di tengah ketakutan yakni “Uka-Uka The Movie: Nini Tulang”.

Disutradarai oleh Ubay Fox, film ini bisa dibilang bergenre horor komedi, meski awalnya Ubay tidak berniat untuk memasukkan nilai komedi di dalamnya.

“Saya enggak tahu kalau ini bakalan jadi lucu padahal kita bikinnya serius horor tapi kok pada ketawa,” ujar Ubay usai pemutaran perdana film “Uka-Uka The Movie: Nini Tulang” di Jakarta, Rabu (17/7).

Film ini bercerita tentang seorang mahasiswi bernama Selly (Steffi Zamora) yang mencoba untuk ikut acara “Uka-Uka”. Bersama keempat sahabatnya yaitu, Karin (Yoriko Angeline), Rama (Gusti Rayhan), Doni (Debo Andryos) dan Eja (Reza Aditya), Selly menuju ke tempat uji keberanian yang disediakan tim acara “Uka-Uka”.

Selly yang tidak percaya dengan makhluk halus malah menantang kedatangan mereka. Sesuatu yang tidak pernah diperhitungkan terjadi, yang akhirnya membawa Selly dan teman-temannya ke dunia astral.

Meski ada sisi komedinya, “Uka-Uka The Movie” tetap fokus pada cerita horor. Penonton akan dibawa pada nuansa mistis dengan beberapa penampakan hantu yang mengejutkan.

Pada beberapa adegan, jump scare yang dibangun oleh Ubay cukup mengagetkan, misalnya ketika sang Nini tiba-tiba muncul di tengah kamera padahal sebelumnya tidak ada tanda-tanpa penampakan.

Di tengah ketakutan, penonton dihibur dengan celetukan dari Reza dan kawan-kawan yang akan membuat terpingkal.

Komedinya sendiri sebenarnya tercipta secara tidak sengaja dari situasi ketika Reza dan teman-temannya panik menghadapi makhluk halus. Namun hal inilah yang menjadikannya menarik, bahwa kondisi menegangkan tetap bisa dibawa santai.

Sayangnya, film ini tidak terlalu menjelaskan mengenai sejarah Nini Tulang dan apa yang membuatnya begitu membenci manusia.

“Uka-Uka The Movie: Nini Tulang” mulai tayang di seluruh bioskop pada 25 Juli. Film ini merupakan film terakhir dari mendiang Torro Margens dan Saphira Indah, yang berperan sebagai paranormal.

“Semoga ini jadi sebuah hiburan bukan nakutin,” harap Ubay.

Baca juga: “Uka Uka the Movie”, film horor bernuansa komedi terbaru dari Ubay Fox

Baca juga: Film terakhir Torro Margens dan Shapira Indah

Baca juga: Syuting “Uka-Uka The Movie”, Steffi Zamora “ditempeli” hantu

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Karya Nobuhiko Obayashi jadi sorotan di Festival Film Tokyo 2019

Jakarta (ANTARA) – Penyelenggara Festival Film Internasional Tokyo (TIFF) 2019 akan menyoroti karya dari sutradara legendaris Nobuhiko Obayashi di perhelatan yang berlangsung pada 28 Oktober hingga 5 November 2019.

Nobuhiko disebut sebagai pesulap sinematik karena membuat karya dengan visual indah seperti mimpi.

Sepanjang karirnya, ia telah menginspirasi banyak sutradara lain lewat film seperti “I Are You, You Am Me” (1982), “Casting Blossoms to the Sky (2011) dan “Hanagatami” (2017). Film terbarunya akan tayang perdana di TIFF 2019, yaitu “Labyrinth of Cinema”.

“Rasanya sulit untuk memilih mana judul yang akan ditayangkan di TIFF, tapi kuharap penonton bisa menikmati film saya yang jarang ditayangkan,” kata sutradara kelahiran 1938 itu.

Baca juga: “Welcome Back, Tora-san” akan jadi pembuka Festival Film Tokyo 2019

Nobuhiko pertama kali mendapatkan kamera 8mm dari ayahnya sebagai kenang-kenangan saat pindah ke Tokyo ketika ia berusia 18 tahun. Ia menayangkan film pertamanya di sudut galeri seni Ginza yang mendapat pengakuan internasional dan disebut jadi kelahiran seniman film baru.

Sejak itu ia menyutradarai banyak film dengan genre bervariasi.

Baca juga: Festival Film Tokyo soroti genre horor Asia Tenggara

Baca juga: Zhang Ziyi jadi ketua dewan juri Festival Film Tokyo 2019

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film terakhir Torro Margens dan Shapira Indah

Jakarta (ANTARA) – “Uka-Uka The Movie: Nini Tulang” menjadi film terakhir yang dimainkan mendiang Torro Margens dan Shapira Indah, setelah keduanya meninggal dunia pada awal tahun 2019.

Ody Mulia Hidayat selaku produser Max Pictures tidak menyangka jika keduanya pergi sebelum film dirilis.

“Memang kan pas kita awal syuting mereka belum ada sakit apa-apa kan. Jadi jauh ya, mungkin setelah delapan bulan syuting, baru mereka enggak ada,” kata Ody usai pemutaran perdana film “Uka-Uka The Movie: Nini Tulang” di Jakarta, Rabu (17/7).

“Memang kalau untuk mas Torro ya ikon “Uka-Uka”. Saya juga enggak tahu ya karena memang takdir ya, sama pas Saphira juga saya kaget. Wah sebelum tayang dua pemain kita sudah almarhum,” lanjutnya.

Baca juga: Aktor senior Torro Margens meninggal dunia

Dalam film tersebut Torro berperan sebagai paranormal bernama Ki Gebleg, sedangkan Saphira memerankan tokoh cenayang bernama Mbak Sandra. Keduanya sama-sama mendapat karakter sebagai tokoh spiritual yang mampu merasakan makhluk halus.

“Makanya kita apresiasi lah dua almarhum untuk kita simpan di kredit akhir dengan foto-foto dan kita juga berduka cita. Memang jauh ya setelah kita syuting baru mereka enggak ada,” jelasnya.

Menurut Ody selama proses syuting, Torro dan Saphira terlihat dalam keadaan baik. Meski demikian, Ody meminta Torro untuk sering berada di hotel karena usia yang sudah lanjut daripada di tengah hutan.

Baca juga: Tak hanya spesialis antagonis, Torro Margens juga aktif jadi sutradara

“Kalau saya sih sama mas Torro, saya bilang sama teman-teman tolong dijaga kesehatannya, kebetulan juga kan sudah tua ya, mas Torro setiap break taruh di hotel, karena kan dingin ya Sukabumi di puncaknya. Kalau Shapira kan masih muda biasa aja ya, enggak ada masalah,” ujar Ody.

Pihak Max Pictures sendiri berencana untuk mengadakan nonton bareng bersama keluarga dari Torro Margens dan juga Saphira Indah.

“Ya saya siapkan juga untuk nobar, makanya kita banyak keluarganya mau datang,” kata produser film “Dilan” itu.

Baca juga: Syuting “Uka-Uka The Movie”, Steffi Zamora “ditempeli” hantu

“Uka-Uka The Movie: Nini Tulang” mulai tayang di bioskop pada 25 Juli. Film ini bercerita tentang seorang mahasiswi bernama Selly yang mencoba untuk ikut acara “Uka-Uka”.

Bersama keempat sahabatnya yaitu, Karin (Yoriko Angeline), Rama (Gusti Rayhan), Doni (Debo Andryos) dan Eja (Reza Aditya), Selly menuju ke tempat uji keberanian yang disediakan tim acara “Uka-Uka”. Mereka pun mendapatkan banyak pengalaman mistis karena acara tersebut.

Baca juga: Main film horor, Steffi Zamora alami hal misterius

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Serial “Gossip Girl” akan dibuat dalam versi baru

Jakarta (ANTARA) – Serial televisi “Gossip Girl” yang menjadi fenomena budaya remaja dengan latar belakang gaya hidup trendi dan roman di kawasan elit New York akan kembali ke layar kaca, namun dalam versi baru untuk layanan streaming HBO Max.

Dilansir Reuters, HBO Max telah menyiapkan 10 episode yang latar belakangnya delapan tahun sejak kisah “Gossip Girl” berakhir pada 2012, menghadirkan generasi baru anak-anak sekolah swasta.

Belum ada informasi siapa pemeran, atau apakah bintang di serial aslinya seperti Blake Lively, Penn Badgely, Chace Crawford dan Leighton Meester akan kembali.

Baca juga: Ed Westwick “Gossip Girl” tepis tudingan pelecehan seksual

HBO Max mengatakan serial baru ini akan mengeksplorasi perubahan media sosial dan lanskap New York dalam beberapa tahun terakhir.

“Gossip Girl” tayang dalam enam musim sebagai salah satu serial terpopuler di televisi, memenangi 18 penghargaan Teen Choice dan jadi inspirasi untuk lini nusana, gaya rambut dan kecantikan.

Sebelumnya, HBO Max juga mengumumkan akan jadi rumah baru untuk serial televisi 1990-an “Friends” yang saat ini jadi serial nomor dua paling banyak ditonton di Netflix.

Baca juga: HBO komentari blunder gelas kopi di “Game of Thrones”

Baca juga: Giliran patung Michael Jackson dicopot dari museum di Inggris

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Yoriko Angeline berharap masuk Kelas Internasional UI

Jakarta (ANTARA) – Yoriko Angeline yang memasuki tingkat akhir sekolah, memulai persiapan secara lebih awal untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi dengan harapan dapat diterima di Kelas Internasional Universitas Indonesia (UI).

“Aku inginnya di UI internasional karena aku ingin dapat double degree (gelar ganda),” kata Yoriko ditemui saat pemutaran perdana film “Uka-Uka The Movie: Nini Tulang” di Jakarta, Rabu (17/7) malam.

Menurut Yoriko, dengan mengambil kelas internasional, dia bisa berkuliah di dua negara. Keputusan itu dipilih karena dia merasa tidak bisa meninggalkan orang tuanya terlalu lama di negeri orang.

Baca juga: Yoriko Angeline merasa 2018 tahun yang baik untuk karirnya

“Karena aku kan anak tunggal, jadi aku kalau ambil langsung di luar negeri gitu kayak enggak bisa. Kalau ini kan dua tahun di Indonesia, dua tahun di luar, enggak apa-apa lah karena aku enggak bisa jauh dari mama papa,” jelas pemain film “After Met You” itu.

Untuk jurusan, Yoriko masih bingung memilih antara bisnis atau hukum. Dia mengaku ingin memantapkan dirinya dulu.

“Aku tertarik di bisnis karena suka saja, papa juga di bidang bisnis. Kalau di hukum aku dikasih tahu papa, biar kalau bisnis nanti tahu gimana-gimananya biar nanti enggak dibohongin orang,” ujar pemeran Wati dalam film “Dilan” itu.

Baca juga: Yoriko Angeline pernah dirundung saat SMP

Baca juga: Yoriko Angeline senang film Indonesia diterima baik oleh masyarakat

Rumah Sakit UI siap beroperasi Januari 2019

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Yoriko Angeline pernah dirundung saat SMP

Jakarta (ANTARA) – Yoriko Angeline mengaku pernah mengalami perundungan (bully) saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), namun dia berhasil melaluinya dengan tenang.

Meski tidak mengalami kekerasan langsung, Yoriko sempat dijauhi teman-temannya, bahkan ada yang mengajak untuk tidak berteman dengannya.

“Mereka enggak secara langsung, tapi lebih ke sosial media, jadi mereka buat akun khusus buat ngatain aku dan orang tua aku,” kata Yoriko dalam pemutaran perdana film “Uka-Uka The Movie: Nini Tulang” di Jakarta, Rabu (17/7) malam.

“Aku sih merasa kalau mereka ada masalah sama aku ya mending mereka ngomong ke aku jangan jelek-jelekin di belakang apalagi sampai bawa-bawa orang tua aku,” lanjutnya.

Baca juga: Yoriko terkejut ada iklan mirip adegan Dilan 1991

Kini, Yoriko sudah berteman lagi dengan orang-orang yang pernah merundungnya. Dia pun mengaku sudah melupakan masalah tersebut.

“Akhirnya mereka sadar dan ternyata hanya ada satu orang doang yang jadi provokatornya. Sekarang kalau ketemu biasa saja, aku ketawa saja. Sekarang kita malah main bareng, sampai stress juga,” jelas pemain film “Dilan” itu.

Menurut Yoriko, perlakuan semacam itu tidak perlu ditanggapi karena jika dia beraksi, orang yang membully-nya akan semakin senang.

“Ya udah lah ya, mereka juga enggak ngerugiin aku. Kalau didiamkan lama-kelamaan ya mereka ngerasa Yoriko cuek-cuek aja nih, jadi enggak diterusin lagi. Kalau kita kayak marah kan, dia akan ‘Wah, dia marah tuh’ dan malah dilakuin lagi,” kata Yoriko.

Baca juga: Yoriko Angeline senang film Indonesia diterima baik oleh masyarakat

Baca juga: Pemain paling favorit dan menyebalkan di “Dilan 1991”

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Syuting “Uka-Uka The Movie”, Steffi Zamora “ditempeli” hantu

Jakarta (ANTARA) – Steffi Zamora sempat mengalami sakit selama tiga hari saat syuting film “Uka-Uka The Movie: Nini Tulang”, anehnya hal tersebut muncul hanya di lokasi saja.

“Aku pas syuting di gua Belanda sakit selama tiga hari tapi itu di lokasi saja, pas balik ke hotel sembuh, pas dibawa ke doker juga enggak ada apa-apa,” kata Steffi usai pemutaran perdana film “Uka-Uka The Movie: Nini Tulang” di Jakarta, Rabu.

Menurut juru kunci tempat tersebut, Steffi “ditempeli” oleh makhluk halus hingga membuatnya selalu lemas dan mengalami sakit panas.

“Katanya aku diikutin, makanya pas di film muka aku kelihatan benaran pucat,” ujar pemain film “Alas Pati: Hutan Mati” itu.

Pengalaman diikuti makhluk halus sebenarnya bukan yang pertama bagi Steffi sehingga dia tidak panik menghadapinya.

“Aku langsung salat, langsung minum air teh yang udah didoain gitu. Takut sih, tapi habis salat langsung biasa saja. Dari dulu sebenarnya lumayan sering ngalamaim yang kayak gini jadi sudah biasa,” jelasnya.

“Uka-Uka The Movie: Nini Tulang” mulai tayang di bioskop pada 25 Juli. Film ini bercerita tentang seorang mahasiswi bernama Selly yang mencoba untuk ikut acara “Uka-Uka”.

Bersama keempat sahabatnya yaitu, Karin (Yoriko Angeline), Rama (Gusti Rayhan), Doni (Debo Andryos) dan Eja (Reza Aditya), Selly menuju ke tempat uji keberanian yang disediakan tim acara “Uka-Uka”. Mereka pun mendapatkan banyak pengalaman mistis karena acara tersebut.

Baca juga: “Uka Uka the Movie”, film horor bernuansa komedi terbaru dari Ubay Fox

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Arswendo butuh kegembiraan orang-orang di sekitarnya

Intinya ‘make him happy’, bawa aja dia gembira. Artinya dari sudut medis sudah tidak terlalu bisa berpengaruh, tidak bisa merefleks

Jakarta (ANTARA) – Aktor senior Slamet Rahardjo mengatakan seniman Arswendo Atmowiloto yang tengah berjuang melawan kanker prostat, membutuhkan doa dan kegembiraan dari orang-orang di sekitarnya.

“Intinya ‘make him happy’, bawa aja dia gembira. Artinya dari sudut medis sudah tidak terlalu bisa berpengaruh, tidak bisa merefleks,” ujar dia di Jakarta, Selasa.

Slamet mengaku mendapat kabar tentang kondisi kesehatan Arswendo setelah dia menelepon anaknya.

Dalam percakapan di telepon, Slamet diminta untuk membicarakan hal-hal yang membuat Arswendo gembira saat sudah bisa berkunjung ke kediamannya.

“Dia bilang ‘Om doain papa ya, make him happy, kalau bapak datang ya sudah kita gembira-gembira saja,'” ujar Slamet.

Slamet juga mengabarkan Arswendo kini telah kembali dari rumah sakit, sambil menjalani perawatan medis di rumahnya.

Pada Minggu (23/6), Arswendo Atmowiloto diketahui telah sakit kanker prostat sejak dua bulan terakhir melalui media sosial.

Baca juga: Kena kanker prostat, Arswendo Atmowiloto dikabarkan drop
Baca juga: Arswendo: menulis itu harus percaya diri

Jurnalis Warga Harus Jadi Aktor Perubahan

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

ISI Denpasar juarai Festival Film Surabaya 2019

Denpasar (ANTARA) – Film pendek berjudul “Angkara” karya mahasiswa Jurusan Film dan Televisi, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar dinobatkan sebagai film terbaik kategori mahasiswa umum pada ajang Festival Film Surabaya VIII tahun 2019.

“Film itu perkembangannya sangat cepat beradaptasi dengan teknologi. Prestasi kali ini membuktikan ISI Denpasar mampu berprestasi pada kesenian klasik dan modern,” kata Rektor ISI Denpasar Prof Dr I Gede Arya Sugiartha, SSKar, MHum, di Denpasar, Rabu.

Prof Arya mengapresiasi prestasi peserta didiknya itu, bahkan ia merasa malu melihat begitu semangatnya mahasiswa ISI Denpasar di tengah keterbatasan sarana perfilman di kampus setempat.

Sebagai pimpinan institusi, dia berusaha melengkapi kekurangan itu dan meminta mahasiswanya tetap memelihara semangat dalam berkarya.

Prof Arya pun tidak ingin ISI Denpasar menjadi kampus yang terkesan hanya bernostalgia dengan masa lalu. Prestasi di bidang film, menurutnya merupakan salah satu jawaban bahwa di ISI Denpasar iklim akademik antara kesenian klasik dan modern berjalan beriringan.

Rektor asal Pupuan, Tabanan, ini berharap film-film karya ISI Denpasar harus memiliki ciri khas sehingga ada perbedaan yang jelas dengan film karya pihak lain.

“Fungsi film adalah komunikasi, tetapi bidang keilmuannya seni. Makanya penekanan kita adalah pada seninya dan kreativitasnya,” ujarnya.

Ke depan pihaknya berencana memperluas jurusan agar terlihat perbedaan film sebagai bidang ilmu komunikasi dan film sebagai ilmu seni.

Sementara itu, Robi’atul Yamania G, selaku produser menuturkan perjalanan film Angkara diwarnai berbagai tantangan, mulai dari faktor biaya produksi hingga cemoohan dari sejumlah pihak. “Namun kami bangga semua tantangan tersebut terbayar lunas oleh prestasi yang berhasil dibawa pulang,” ucapnya.

Mahasiswi Jurusan Film dan Televisi angkatan 2016 ini memastikan prestasi tingkat nasional tersebut semakin memecut semangatnya dalam menelurkan karya-karya yang lebih inovatif.

“Semoga saya semakin rendah hati, terus berkarya, menciptakan sesuatu yang kreatif, tidak menyerah pada tantangan dan tidak mudah putus asa,” katanya.

Dia berharap film “Angkara” mampu menginspirasi generasi muda, khususnya mahasiswa ISI Denpasar.

Sutradara “Angkara” Herda Martin mengemukakan film karyanya tersebut merupakan luaran dari mata kuliah Praktika Terpadu. Angkara adalah film ber-genre “action comedi” yang memadukan seni pencak silat dan bondres. “Kami berusaha memadukan bondres dan pencak silat,” ucapnya.

Herda yang juga mahasiswa jurusan Film dan Televisi angkatan 2016 ini berharap dukungan dari pimpinan ISI Denpasar, mengingat timnya tampil membawa nama besar ISI Denpasar.

“Kami sudah dua kali masuk festival. Pertama dibiayai institusi, kedua biaya sendiri yang menurut kami cukup berat. Karena kami membawa nama institusi, kami mohon saling dukung,” katanya berharap.***3***

Pewarta: Ni Luh Rhismawati
Editor: Triono Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sutradara “Thor: Ragnarok” kembali untuk “Thor 4”

Jakarta (ANTARA) – Taika Waititi dikabarkan bakal kembali menyutradarai sekuel baru kisah superhero pengendali petir, “Thor 4”, setelah sukses menggarap “Thor: Ragnarok” dua tahun lalu, demikian mengutip laporan Hollywood Reporter, Rabu.

Dengan akan diproduksinya “Thor 4”, berarti Thor menjadi superhero Avengers pertama yang kisahnya dilanjutkan dengan film keempat, sedangkan “Iron Man” dan “Captain America” telah menyelesaikan trilogi mereka.

Rencana awalnya, Waititi diminta menyutradarai film “Akira” bersama Warner Bros. Namun, film ini mengalami sedikit keterlambatan karena masalah skrip, dan Waititi diminta untuk menunda penayangan hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Bahkan, Waititi diminta untuk menghentikan sementara pengujian calon aktor-aktor dalam pencarian bakat di seluruh dunia untuk peran “Akira” karena waktu produksi antara “Akira” dan “Thor 4” berdekatan.

Langkah Warners selanjutnya untuk Akira tidak jelas. Beberapa sumber mengatakan bahwa studio itu tertarik untuk melibatkan Waititi dalam jangka panjang dan berharap ia bisa menggarap proyek “Akira” setelah “Thor 4”.

“Thor: Ragnarok” meraup pendapatan 854 juta dolar di seluruh dunia, dibandingkan dengan “Thor” (2011) 449,3 juta dolar, sedangkan “Thor: The Dark World” membukukan 644 juta dolar.

Baca juga: Sutradara “Avengers: Endgame” potong adegan Thor dan Valkyrie

Baca juga: Lima hal yang harus diketahui sebelum menonton “Thor: Ragnarok”

Baca juga: Sutradara “Thor 2” sutradarai “Wonder Woman”

Penerjemah: Suryanto
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Game of Thrones” raih nominasi terbanyak Emmy Award

Jakarta (ANTARA) – Serial “Game of Thrones” yang ditayangkan dalam layanan HBO memperoleh 32 nominasi dalam Emmy Award ke-71, terbanyak dari semua program dalam satu musim, mengalahkan rekor 25 tahun yang dipegang “NYPD Blue”.

“Game of Thrones” diikuti “The Marvelous Mrs. Maisel” yang mendapatkan 20 nominasi. Kemudian, “Chenobyl” (19), “Saturday Night Live” (18), “Barry” (17), Fosse/Verdon (17), dan “When They See Us” (16), demikian daftar nominasi Emmy Award ke-71 yang dirilis Akademi Televisi, dikutip Rabu.

Nominasi untuk Emmy Award ke-71 diumumkan pada Selasa (16/7) waktu setempat, dipimpin Ketua dan CEO Akademi Televisi Frank Scherma, dengan presenter Ken Jeong, dan D’Arcy Carden.

Dalam hal pemain, “Games of Thrones” juga mendapatkan nominasi terbanyak, dengan 10 nominasi dalam lima kategori pemain berbeda, dan delapan nominasi pada empat kategori pemain untuk “When They See Us”.

“Sangat menyenangkan melihat sederetan talenta baru yang dihormati karena pekerjaan mereka yang luar biasa,” kata Scherma.

Baca juga: Absen dari Emmy, Ariana Grande butuh waktu sendiri

Dari delapan nominasi pada 2019 untuk Outstanding Drama Series, lima merupakan pendatang baru untuk kategori tersebut. Pendatang baru tersebar di berbagai platform distribusi, termasuk “Bodyguard”, “Killing Eve”, “Ozark”, “Pose”, dan “Succession”. Sementara “Call Saul”, “Game of Thrones”, dan “This Is Us” kembali masuk nominasi kategori itu.

Di antara tujuh nominasi Outstanding Comedy Series kali ini, ada empat peraih kali pertama mewakili berbagai cerita, yakni “Fleabag”, “The Good Place”, dan “Schitt’s Creek”, bersama dengan pertunjukan perdana “Doll Rusia”, bergabung dengan hit baru “Barry”, “Mrs. Maisel”, dan “Veep” yang luar biasa.

Emilia Clarke, Mandy Moore, Jodie Comer dan Laura Linney menerima nominasi aktris utama dalam kategori Drama Series, bergabung dengan “Robin Wright” dan “Sandra Oh”, dan pemenang Emmy sebelumnya “Viola Davis”.

Aktor utama dalam nominasi Drama Series ada “Kit Harington” dan “Billy Porter”i, bergabung dengan pemenang kategori ini sebelumnya “Sterling K. Brown”, kemudian “Milo Ventimiglia”, “Jason Bateman” dan “Bob Odenkirk”.

Baca juga: Puncak pertarungan Netflix dan HBO dalam Emmy Awards

Michael Douglas dan Eugene Levy adalah orang baru dalam nominasi Aktor Utama dalam kategori Seri Komedi dan bergabung dengan nominasi sebelumnya Don Cheadle, Anthony Anderson dan Ted Danson, bersama dengan pemenang kategori ini tahun lalu Bill Hader.

Calon untuk Aktris Utama dalam Seri Komedi termasuk yang pertama kali Natasha Lyonne, Catherine O’Hara, dan Phoebe Waller-Bridge, yang bergabung dengan nominasi kategori ini sebelumnya Christina Applegate, pemenang tahun lalu Rachel Brosnahan dan pemenang Emmy 11 kali Julia Louis-Dreyfus.

Nominasi pemain baru pertama kali termasuk Amy Adams, Anthony Carrigan, Gwendoline Christie, Sian Clifford, Paul Dano, Benicio del Toro, Hugh Grant, Michael McKean, Kumail Nanjiani, Chris O’Dowd, Rosamund Pike, Sam Rockwell, Kristin Scott Thomas, Rufus Sewell, Stellan Skarsgård, Sophie Turner, Emily Watson, dan Michelle Williams di antara daftar panjang pemain yang terkenal.

Memimpin nominasi dalam total berdasarkan platform adalah HBO (137), Netflix (117), dan NBC (58).

Pemenang dan penghargaan Emmy Award ke-71 akan disiarkan secara langsung dari Microsoft Theater di Los Angeles, AS, pada Minggu, 22 September 2019.

Baca juga: Pemirsa Emmy Awards di AS cetak rekor terendah

Pewarta: Suryanto
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“The Lion King”, nuansa nyata dalam kisah Raja Rimba merebut kejayaan

Jakarta (ANTARA) – Film live-action “The Lion King” tayang perdana mulai hari ini, dan untuk dijadikan bahan pertimbangan sebelum menyaksikannya di bioskop, maka tidak ada salahnya menyimak ulasan berikut ini.

Film yang disutradarai oleh Jon Favreau itu mengangkat kembali salah satu cerita paling ikonik dengan menggunakan teknologi terbaru, salah satunya adalah menggabungkan teknik live-action dengan rekayasa pencitraan komputer (Computer-generated imagery/CGI) fotorealistik.

Ceritanya berkisah tentang Simba yang mengagumi sosok ayahnya, Mufasa, dan siap memenuhi takdinya sebagai pewaris kerajaan. Namun tidak semua orang menyambutnya dengan baik, Scar yang merupakan adik Mufasa sangat membencinya dan memiliki rencana jahat untuk Simba.

Pertarungan di Pride Rock yang dipenuhi dengan pengkhianatan dan tragedi akhirnya membuat Simba diasingkan. Namun dengan bantuan teman barunya, Simba berusaha meniadi sosok yang lebih dewasa dan siap merebut kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.

Baca juga: Jelang rilis “The Lion King”, Riomotret gelar pameran foto

Secara garis besar dan inti cerita sebenarnya tidak ada yang berubah dengan kisah klasik yang pernah ditawarkan pada tahun 1994.

Favreau hanya mengembangkannya dalam segi dimensi dan emosi sehingga terlihat lebih nyata dibandingkan dengan kartun 2D yang pernah rilis sebelumnya.

Soal jalan cerita juga tidak jauh berbeda dengan aslinya. Untuk sebagian penonton yang sudah menyaksikan “The Lion King” tahun 1994, mungkin hanya akan melihat seperti pengulangan dengan nuansa yang baru.

Tapi berbeda bagi penonton baru, menonton “The Lion King” seperti mendapat sebuah pengalaman baru, seru, mendebarkan dan penuh emosi. Belum lagi melihat Simba kecil yang kecil yang lucu dan menggemaskan.

Baca juga: Disney pakai teknologi mutakhir dalam “Lion King” demi pikat penonton

“The Lion King” menjadi tontonan yang cukup menghibur berkat kehadiran dua sahabat Simba, Pumbaa dan Timon. Tingkah konyol keduanya cukup mengundang gelak tawa.

Penonton juga akan dibawa menyusuri padang rumput Afrika, di mana calon raja rimba dilahirkan dan berpikir bahwa seolah tempat tersebut memang nyata.

Yang paling menarik dan menjadikan film ini lebih hidup sebenarnya terletak pada lagu-lagu yang dinyanyikan dalam film seperti “Circle of Life”, “Hakuna Matata” dan “I Just Can’t Wait to Be King” yang diaransemen ulang menjadi lebih kekinian.

“The Lion King” juga menampilam jajaran aktor dan aktris populer untuk menghadirkan kembali karakter ikonik, seperti Donald Glover sebagai Simba, Beyonce sebagai Nala dan James Earl Jones yang kembali memerankan Mufasa ayah Simba, Chiwetel Ejiofor sebagai Scar dan Alfre Woodard sebagai Sarabi, ibu Simba.

Buat yang penasaran seperti apa live-action dari “The Lion King”, film ini cukup menarik untuk ditonton dan disaksikan bersama keluarga.

Baca juga: Jelang rilis “The Lion King”, Disney tayangkan adegan “Hakuna Matata”

Baca juga: Beyonce jadi produser album “The Lion King”

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rumah “The Conjuring” akan dibuka untuk wisata horor

Jakarta (ANTARA) – Pemilik baru rumah “The Conjuring” akan membuka lokasi itu sebagai objek wisata horor untuk umum pada akhir tahun ini.

Cory dan Jennifer Heinzen, pemilik rumah Harrisville di Rhode Island yang menjadi lokasi syuting film “The Conjuring”, mengatakan niatnya untuk membiarkan para penggemar dan paranormal menjelajahi rumah itu.

“Seluruh perjalanan ini menakutkan sekaligus menyenangkan untuk paranormal dan juga yang lainnya. Saya suka bahwa ternyata kami memiliki kesempatan untuk berbagai rumah dengan orang lain,” ujar Jennifer dilansir NME, Rabu.

Baca juga: Tokoh paranormal asli “The Conjuring” meninggal

Cory Heinzen juga menambahkan, “Semua orang yang menyukai kehidupan paranormal, mereka pasti ingin melihatnya. Jadi mengapa kami tidak memberi mereka kesempatan mengintipnya dan biarkan mereka masuk dan mengalaminya sendiri.”

Menurut Cory, rumah ikonik itu menyimpan sepotong sejarah kehidupan paranormal di dalamnya dan mereka juga sering diteror oleh hantu sejak pindah ke Harrisville.

“Kami memiliki pintu yang terbuka sendiri, langkah kaki dan ketukan. Saya mengalami kesulitan saat tinggal sendirian di sana. Saya tidak punya perasaan apa pun yang jahat, tetapi itu sangat sering. Anda bisa tahu ada banyak hal yang terjadi di rumah,” kata Cory.

Baca juga: “Annabelle Comes Home”, malam teror dari sebuah boneka

“Kami langsung jatuh cinta padanya. Delapan setengah hektar, sungai di bagian belakang dan kolam, sangat tenang di sana, apalagi cerita di belakang rumah. Itu adalah rumah yang indah. (Jennifer) sejujurnya lebih bersemangat daripada saya, saya pikir,” lanjutnya.

Meski demikian, tanggal pasti untuk penggemar bisa menjelajah rumah ini belum ditetapkan.

“The Conjuring” dirilis pada tahun 2013, di mana pasangan paranormal Ed dan Lorraine Warren yang diperankan Patrick Wilson dan Vera Farmiga. Film tersebut merupakan kisah nyata yang diambil dari kasus Ed dan Lorraine Warren.

Mereka datang untuk membantu keluarga Perron yang trauma oleh kejadian paranormal di rumah baru mereka. Rumah tersebut dikutuk oleh seorang penyihir pada tahun 1863.

Baca juga: Pemilik baru rumah “The Conjuring” mengaku sering diteror hantu

Baca juga: “Weeping Woman”, kisah iblis pengincar anak-anak

Wisata Horor di Conjuring House Ancol

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Iron Man 3” dituduh jiplak komik lain, Marvel digugat

Jakarta (ANTARA) – Entah sengaja atau tidak, gambar superhero berbaju baja Iron Man pada poster “Iron Man 3” mirip dengan karakter pada komik lain, dan karena itu Marvel Entertainment digugat dengan tuduhan pelanggaran hak cipta.

Horizon Comics Productions menggugat Marvel pada April 2016. Perusahaan itu mengatakan bahwa gambar Robert Downey Jr berlutut dengan baju Iron Man-nya dalam poster “Iron Man 3” menyadur karakter Caliban, juga dalam posisi berjongkok pada seri komik Horizon “Radix”.

Horizon mengklaim dalam gugatan mereka bahwa enam karyawan Marvel mengetahui “Radix” dan gambar Caliban, dengan dua orang di antaranya memiliki “hubungan kerja” dengan pecipta komik, dan memengaruhi perancang poster “Iron Man 3”.

Namun, dalam persidangan di pengadilan New York pada Senin lalu (15/7), mengutip laporan Comic Book pada Rabu, Marvel Entertainment akhirnya memenangi perselisihan hak cipta tersebut.

Baca juga: Penggemar Avengers buat petisi untuk ganti cerita “Endgame”
  Perbandingan poster komik “Radix” dan “Iron Man 3”. Marvel Entertainment pada Senin (15/7/2019) memenangi gugatan dugaan pelanggaran hak cipta melawan Horizon Comics Productions yang menuduh Marvel meniru poster “Radix” dalam perancangan poster “Iron Man 3”. (ANTARA News/Marvel)

Baca juga: “Avengers: Endgame” jadi film Marvel terakhir Gwyneth Paltrow

Seorang hakim distrik AS di New York, J Paul Oetken, dalam putusannya menyebutkan bahwa tidak ada bukti dalam catatan yang menunjukkan bahwa salah satu dari orang-orang yang disebut Horizon itu melihat gambar Caliban atau terlibat dalam desain poster “Iron Man 3”.

Argumen Horizon bahwa orang-orang ini bisa memberikan akses hubungan atau keterkaitan adalah tidak lebih dari spekulasi.

Hakim juga memutuskan bahwa Horizon gagal untuk menunjukkan bahwa gambar-gambar itu “sangat mirip,” meskipun berbagi beberapa “kesamaan yang patut diperhatikan.”

“Marvel mengatur pemotretan yang menampilkan RDJ (Robert Downey Jr) untuk menghasilkan foto untuk desain poster. Dan foto-foto dari pemotretan ini menampilkan RDJ berlutut dan berjongkok yang akhirnya digunakan untuk membuat Poster ‘Iron Man 3’,” tulis hakim dalam putusannya.

Horizon juga tidak menawarkan bukti untuk membantah bukti yang diajukan oleh Marvel dan menunjukkan bahwa poster “Iron Man 3” dirancang secara independen.

Baca juga: Hyundai Kona edisi Iron Man bermesin turbo akan segera dipasarkan

Baca juga: Baju Iron Man yang dipakai Robert Downey Jr dicuri

Baca juga: “Avengers: Endgame” hampir samai rekor “Avatar”

Penerjemah: Suryanto
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jelang rilis “The Lion King”, Riomotret gelar pameran foto

Jakarta (ANTARA) – Untuk menyambut perilisan film Disney’s “The Lion King”, Disney Indonesia berkolaborasi dengan fotografer Riomotret untuk menghadirkan koleksi foto spesial yang bertajuk “Disney’s The Lion Kong Through Our Lens”.

Pameran ini menampilkan sembilan foto yang terinspirasi dari film “The Lion King”, namun Rio membuatnya sedikit berbeda dengan mengetengahkan konsep yang lebih dewasa.

“Aku penginnya yang lebih dewasa karena ini dari yang kartun ke live action, jadi lebih fashion, lebih deep. Makanya aku pilih konsepnya yang benar-benar dewasa dan aku pilih tone warnanya sedewasa mungkin jadi orang dewasa bisa kena,” kata Rio dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa.

Kolaborasi ini juga melibatkan deretan selebriti seperti Asmirandah dan Jonas Rivanno, Cinta Laura Kiehl, Gisella Anastasia dan Gempita, Glenn Alinskie, Chelsea Olivia dan Nastusha, Luna Maya, Marsha Aruan, Rossa dan Titi Kamal.

“Ada pertimbangannya memilih mereka karena aku tertantang juga membuat mereka beda dari biasanya. Aku melihat ada sisi dari dia yang bisa keluar, dari situ aku pikir kenapa enggak nyoba aja keluar dari zona nyaman,” jelas Rio.

Rio juga menggandeng para desainer ternama seperti Rinaldy A Yunardi, Yogi Pratama, Wiki Wu, Didi Budiardjo, Eddy Betty dan lainnya.

Pameran “Disney’s The Lion King Through Our Lens” akan berlangsung mulai hari ini hingga 4 Agustus 2019 di lantai dasar Mall Plaza Senayan, Jakarta.

Baca juga: Beyonce rilis “Spirit”, lagu baru untuk “Lion King”

Baca juga: Disney pakai teknologi mutakhir dalam “Lion King” demi pikat penonton

Baca juga: Film “Lion King” baru dapat kritikan

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jadi Pidi Baiq di “Koboy Kampus”, begini kesan Jason Ranti

Jakarta (ANTARA) – Penyanyi Jason Ranti mengaku sedikit kesulitan ketika pertama kali dipercaya untuk terlibat dalam film layar lebar yang berjudul “Koboy Kampus”.

Namun, Jason Ranti yang berperan sebagai Pidi Baiq dalam film itu mendapat suntikan semangat dan motivasi dari para pemain lain sehingga membuatnya lebih lepas dalam berakting.

“Iya awalnya (berat), tapi lama-lama ya sudahlah. Saya pikir ngapain juga saya merasa berat, padahal Kang Pidi sendiri kan nggak merasa keberatan,” ujar Jason Ranti dalam keterangan resmi yang diterima Antara, Selasa.

Pantun lagu “Variasi Pink” itu juga tak menyangka, bisa dipilih memerankan Pidi Baiq dalam film “Koboy Kampus”. Sebab bagi dia, terpilihnya ia memerankan sosok Pidi Baiq, merupakan sebuah kesempatan untuk menjajal dunia akting.

Jason Ranti pun melakukan berbagai riset untuk dapat memerankan karakter Pidi Baiq secara maksimal.

“Saya nongkrong di The Panasdalam, ngobrol-ngobrol. Dengan banyak cerita mereka. Lihat-lihat beberapa foto, main gitar, dengan lagunya. Rasanya melalui musik itu, cara paling mudah untuk meraba suatu era,” kata Jason Ranti.

Film “Koboy Kampus”, menceritakan tentang sekelompok mahasiswa yang sibuk beraktivitas lain selain belajar dan mengikuti jadwal perkuliahan. Meski demikian, tidak mengurangi rasa kreativitas mereka untuk berkarya.

Bahkan kemudian tercetus pembentukan The Panasdalam bank yang kemudian dijadikan negara fiktif. Hal tersebut sebagai bentuk protes para mahasiswa di ITB saat itu terhadap pemerintahan orde baru.

Pidi dan teman-temannya, lebih memilih untuk mengkritisi pemerintahan saat itu melalui ide-ide konyol, daripada turun ke jalan ikut berdemonstrasi.

Film “Koboy Kampus” diputar serentak di bioskop seluruh Indonesia mulai tanggal 25 Juli 2019. Namun sebelum itu akan ada pemutaran secara spesial di Bandung (22 Juli), Jakarta (23 Juli), dan Yogyakarta (24 Juli) untuk kalangan tertentu dalam event special screening.

Baca juga: Jason Ranti tidak merasa syuting dalam film perdananya

Baca juga: Jason Ranti dan Bisma Karisma “dipaksa” Pidi Baiq main “Koboy Kampus”

Baca juga: Pidi Baiq ceritakan masa kuliahnya di film “Koboy Kampus”

Pemain DILAN 1991 kunjungi Kantor Berita Antara

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Riza Pahlevi datangi tokoh agama untuk riset film “Makmum”

Jakarta (ANTARA) – Sutradara Riza Pahlevi mengaku harus mendatangi tokoh agama untuk melakukan riset demi film terbarunya bertajuk “Makmum” yang mengangkat tentang cerita mistis di kalangan masyarakat.

Riza kepada ANTARA di Jakarta, Senin (15/7), mengatakan ia banyak mendengar cerita soal sosok gaib yang menjadi makmum ketika muslim beribadah.

Ia menilai, kisah tentang sosok makhluk halus yang hadir saat ibadah bakal menimbulkan pro dan kontra dari masyarakat. Untuk itu, Riza dan timnya meminta pendapat tokoh agama.

“Sejauh waktu film itu kami buat, pasti ada pikiran nantinya ada kontra dengan masyarakat. Makanya, kita riset ke tokoh agama, benar-benar belajar tentang salat Tahajud dan segala macam lebih dalam lagi agar tidak salah dan meleset,” ujarnya.

“Padahal sebenarnya bagi orang-orang maupun tokoh agama sekalipun mereka meyakini sosok ‘makmum’ itu ada, dan itu hal yang wajar. Orang-orang yang tinggal di asrama, pesantren, itu sering banget mengalaminya,” katanya.

Film pendek “Makmum” digarap oleh Riza dan tim semasa kuliah pada 2015, kemudian mulai diluncurkan di kanal YouTube.

Setelah “Makmum” populer dengan jutaan pemirsa di Youtube , film pendek tersebut diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama, dibintangi oleh Titi Kamal.

“Kami bertahun-tahun tidak menemukan formula yang tepat, bagaimana cara membuat film panjangnya. Walau sempat ragu-ragu, kita beranikan diri untuk ambil proyek film layar lebarnya,” ujar dia

Karya film pendek tersebut telah malang melintang dan mendapat apresiasi di berbagai festival film di dalam dan luar negeri seperti Hellofest, PopCon Award, JOGJA NETPAC Asian Film Festival, hingga The Crappy International Movie in Sueca, Spanyol.

“Makmum” akan tayang di bisokop Tanah Air pada 15 Agustus.

Baca juga: Titi Kamal dalami karakter misterius pengurus jenazah di film “Makmum”

Baca juga: Film pendek “Makmum” diangkat ke layar lebar
 

Penyampaian Informasi Melalui Film Pendek

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Produser “Wolf of Wall Street” kembalikan uang skandal 14 juta dolar

Jakarta (ANTARA) – Salah satu produser film “The Wolf of Wall Street”, Joey McFarland, dikabarkan akan mengembalikan uang senilai 14 juta dolar Amerika Serikat beserta sejumlah hadiah berupa barang mewah terkait dengan skandal pencucian uang 1Malaysia Development Berhad (1MDB).

Barang mewah yang akan dikembalikan McFarland kepada pemerintah termasuk sebuah lukisan Basquiat, poster-poster film vintage dan dua jam Rolex, seperti dilansir Pagesix, Selasa.

McFarland adalah pimpinan produksi di Red Granite, yakni sebuah perusahaan yang mendanai film laris yang dibintangi oleh Leonardo DiCaprio. Bisnis itu rupanya didirikan oleh Riza Aziz, yang tak lain merupakan anak tiri mantan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak.

Tetapi McFarland, yang konon meninggalkan perusahaan itu akhir tahun lalu, terseret ke dalam skandal internasional saat dituduh menggunakan uang untuk mendanai film pada 2013 tersebut dari uang 1MDB.

Dalam pendaftaran perkara ke pengadilan yang dilakukan Senin, pengacara McFarland menekankan bahwa kliennya tidak mengetahui bahwa pendanaan atau hadiah-hadiah mewah yang diterimanya berasal dari uang yang dicuri.

Awal bulan ini, Aziz ditangkap di Malaysia atas dugaan pencucian uang dan menggunakan dana 1MDB untuk film-film Red Granite. Dia membantah melakukan kesalahan, sementara ayah tirinya dan ibunya juga didakwa melakukan korupsi.

Aziz terus memperjuangkan bagiannya dari uang tunai perusahaan dan mengajukan dokumen pada Senin untuk terus memperjuangkan masalah ini.

Red Granite sendiri telah membayar 60 juta dolar AS ke pemerintah Amerika untuk menyelesaikan klaim terkait skandal 1MDB, yang katanya didalangi oleh sahabat Azis, pengusaha misterius Malaysia Jho Low.

McFarland juga telah kehilangan dana investasi awal untuk perusahaan produksi itu.

Sebelumnya, Leonardo DiCaprio secara sukarela mengembalikan karya seni yang diberikan Low sebagai hadiah, termasuk lukisan milik Picasso yang dibeli dengan harga 3,28 juta dolar AS, foto oleh Diane Arbus yang dibeli dengan harga 750 ribu dolar dan kolase Basquiat 9,2 juta dolar.

Foto dan kolase itu diduga diberikan kepada DiCaprio oleh Low. Adapun lukisan Picasso, diduga datang dari Eric Tan, seorang rekan dari Low, disertai dengan catatan tulisan tangan yang berbunyi, “Leonardo DiCaprio yang terhormat, selamat ulang tahun yang terlambat! Hadiah ini untukmu. “

Pemenang Oscar itu juga secara sukarela menyerahkan kepada pemerintah sebuah piala Oscar yang diberikan kepada Marlon Brando.

Sementara hadiah-hadiah mewah yang diterima McFarland termasuk satu lukisan berjudul “Self-Portrait” oleh Basquiat, satu karya seni berjudul “Bliss Bucket” oleh Ed Ruscha, 16 berbagai macam poster film dibeli dari Cinema Archives dan poster film vintage, satu arloji Panerai, dua arloji Rolex dan satu arloji Piguet Audemars .

Sementara itu, Low, yang dituduh melakukan penipuan, bersembunyi dan keberadaannya tidak diketahui. Dia sebelumnya mempertahankan bahwa dia tak bersalah.

Baca juga: Leonardo DiCaprio beri kesaksian skandal 1MDB yang dikucurkan untuk “The Wolf of Wall Street”

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Austin Butler akan perankan Elvis Presley

Jakarta (ANTARA) – Sutradara Baz Luhrmann telah menemukan aktor yang akan berperan sebagai Elvis Presley yaitu Austin Butler.

“Saya tahu. Saya tidak bisa membuat film itu jika pemainnya tidak sepenuhnya tepat. Kami mencari aktor dengan kemampuan untuk membangkitkan gerakan yang alami dan kualitas vokal sekaligus kerentanan yang ada dalam diri sang artis,” kata Luhrmann dilansir Deadline, Selasa.

Meski belum memiliki judul pasti, film biopik tentang Elvis Presley itu mulai syuting pada awal 2020 di Queensland, Australia. Warner Bros Pictures akan bertugas sebagai distributornya.

Film itu berkisah tentang ketenaran Elvis yang hanya cocok disandingkan dengan The Beatles dan mendobrak budaya di Amerika.

Peran Elvis sempat diperebutkan oleh beberapa aktor seperti Ansel Elgort, Miles Teller, dan Harry Styles. Tapi, Luhrmann menjatuhkan pilihan kepada Austin Butler.

Baca juga: Harry Styles dan Ansel Elgort ikut audisi untuk peran Elvis Presley

“Sepanjang proses pemilihan pemain, pekerjaan itu adalah sebuah kehormatan bagiku untuk menemukan banyak talenta. Saya sudah mendengar tentang Austin Butler dari perannya yang menonjol di hadapan Denzel Washington dalam ‘The Iceman Cometh’ di Broadway,” ujar Luhrmann

Sutradara “The Raid Curtain Trilogy” itu menambahkan, “Dan melalui perjalanan pengujian kamera dan lokakarya musik dan pertunjukan, saya tahu pasti bahwa saya telah menemukan seseorang yang dapat mewujudkan semangat dari salah satu tokoh musik paling ikonis di dunia.”

Selain sebagai sutradara, Luhrmann juga bertindak sebagai penulis skenario bersama Craig Pearce serta merangkap menjadi produser dengan Catherine Martin.

Baca juga: Penggemar raja “rock and roll” berkumpul di festival Elvis Australia

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Disney pakai teknologi mutakhir dalam “Lion King” demi pikat penonton

Jakarta (ANTARA) – Walt Disney menggunakan teknologi mutakhir untuk membuat ulang film animasi klasik “The Lion King” dengan tampilan serupa dokumenter satwa sebagai sebuah perubahan yang diharap memikat penonton.

Film versi baru dari animasi 1994 itu dibuat dengan animasi komputer, teknologi gim dan realitas virtual serta teknik pembuatan film aksi nyata (live-action), kata sutradara Jon Favreau seperti dilansir Reuters, Selasa.

Tujuannya adalah membuat tampilan binatang dan pemandangan Afrika yang diklaim Favreau, “seperti foto nyata”. Film tentang anak singa bernama Simba itu mengikuti jejak film lain Disney yang dibuat ulang seperti “Beauty and the Beast,” “Aladdin” dan “The Jungle Book.”

Kepala Eksekutif Disney Bob Iger, kepada para jurnalis dalam penayangan perdana “The Lion King” di London, seperti dilansir Reuters, Selasa, mengatakan pembuatan ulang film yang sudah dikenal itu, “sulit”.

“Namun kami senang dengan hasil film itu dan hasil pembuatan ulang film lain pada umumnya. Ketika kami menghadapi sesuatu seperti ‘The Lion King’, yang kami anggap sangat berharga, ada tantangannya,” kata Favreau.

Baca juga: “The Lion King” raup 14,5 juta dolar dalam debut di China

Selain menggunakan teknologi baru, lanjut Favreau, sineas juga memperbaiki jalan cerita “The Lion King” agar terasa lebih dekat dengan penonton modern.

Para pemain mengatakan kisah-kisah klasik berhak untuk diceritakan ulang untuk era berbeda.

Meski demikian, kritikus film memberikan ulasan yang bervariasi. Enam puluh persen ulasan di Rotten Tomatoes bernada positif. Banyak yang beranggapan film itu luar biasa dari sisi visual, tapi kurang “menggigit” dari segi karakter dan penceritaan.

Bahkan kritikus paling gamblang pun memprediksi film itu akan laku keras karena banyak orang yang menyukai pengisi suara yang terdiri dari pesohor papan atas seperti Beyonce dan Donald Glover.

Para pakar Box Office mengatakan film itu punya kesempatan melampaui pendapatan 2,8 miliar dolar AS yang dipegang “Avatar” pada 2009 sebagai film terlaris sepanjang masa.

Baca juga: Beyonce rilis “Spirit”, lagu baru untuk “Lion King”

“The Lion King” menuturkan kisah Simba, anak yang menghadapi tragedi dan harus mengumpulkan keberanian untuk menjadi seorang pemimpin.

Musik terkenal seperti “Circle of Life” akan kembali hadir, juga tambahan lagu dari Beyonce yang mengisi suara singa betina dewasa bernama Nala. Billy Eichner dan Seth Rogen menambahkan komedi improvisasi dalam karakter duo warthog dan meerkat, yang menyanyikan “Hakuna Matata.”

Glover, pengisi suara Simba dewasa, mengatakan bergabung dalam film karena ia merasa cerita itu mempromosikan nilai-nilai yang akan menjadi “bagian dari kebaikan dunia.”

“Tema lingkaran kehidupan itu, menurut saya, penting untuk dipahami semua orang sekarang, bahwa kita saling membutuhkan,” kata Glover.

Baca juga: Film “Lion King” baru dapat kritikan

Pertunjukan Disney On Ice

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Titi Kamal dalami karakter misterius pengurus jenazah di film “Makmum”

Jakarta (ANTARA) – Aktris Titi Kamal mengaku dirinya sering terbawa karakter Rini, sosok pengurus jenazah yang misterius, saat sedang syuting film layar lebar “Makmum.”

Hal itu Titi lakukan demi mendalami karakter Rini, serta menunjukkan totalitas beraktingnya pada film horor pertamanya itu.

“(Rini) kebanyakan sehari-harinya berurusan dengan jenazah. Tiba-tiba jadi jarang bersosialisasi dengan banyak orang, jadi lebih dingin lebih misterius dan lebih kaku,” ujar Titi di Jakarta, Senin.

Baca juga: Taktik Titi Kamal agar liburan bersama anak tetap asyik

Istri aktor Christian Sugiono mengatakan banyak melakukan pendalaman karakter melalui referensi film-film horor ataupun video yang karakternya berkaitan dengan karakter pengurus jenazah.

“Observasi juga beberapa film yang relate soal itu dan ada karakter yang dingin, lebih cool, aku juga banyak nonton,” ungkap Titi.

Baca juga: Saat selebritas bersiap rayakan pesta demokrasi

Titi menyebut pendalaman karater Rini di lokasi syuting ikut terbawa sampai rumah, terutama saat bertemu dengan kedua anaknya Kai dan Juna.

“Kadang ke anak jadi lebih misterius. Juna sampai berkata ‘kenapa sih ma?’ Karena aku ada efek seperti luka-luka, yang kadang aku lupa hapus lukanya, sambil pendalaman saat baca skrip,” ujar Titi melanjutkan.

Baca juga: Hari Kartini, Titi Kamal semangati perempuan Indonesia

Meski begitu, Titi mengaku ketagihan dan merasa berakting di film horor membuatnya semakin tertantang dengan peran barunya, yang berbeda dari karakternya yang ceria dan banyak bicara di film sebelumya.

Film pendek horor “Makmum” karya sutradara asal Yogyakarta Riza Pahlevi, yang mendapatkan popularitasnya di kanal Youtube diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama.

“Makmum” akan tayang serentak di seluruh bioskop di Indonesia pada 15 Agustus 2019.

Baca juga: Film pendek “Makmum” diangkat ke layar lebar

Titi Kamal dan Donita promo film “Rumput Tetangga” di Newsroom Antara

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jefri Nichol belajar kidal demi perankan Ellyas Pical

Jakarta (ANTARA) – Jefri Nichol mendapat tantangan saat memerankan sosok Ellyas Pical pada film terbarunya “The Exocat”, misalnya harus belajar mengandalkan tangan kiri atau kidal.

Ellyas Pical adalah petinju yang sangat terkenal dengan pukulan tangan kirinya. Karena “The Exocat” adalah film biopik, maka Jefri pun harus belajar agar terbiasa menggunakan tangan kiri.

“Khusus film ini saya latihan kidal, belajar tinjunya juga langsung kidal, enggak pakai kanan,” ujar Jefri dalam jumpa pers di Jakarta, Senin.

Bagi pemain film “Hit & Run” itu, tantangan terbesarnya adalah mempelajari pola pikir seorang petinju apalagi sosok yang diperankannya adalah seorang legenda Indonesia dan dunia.

“Untuk jadi petinju itu enggak mudah apalagi harus ninggalin yang buruknya, ke cara berpikirnya om Elly sih, pola pikir petarung itu beda dengan orang kebanyakan,” jelas bintang “Dreadout” itu.

Baca juga: Jefri Nichol jenuh main film remaja?

Untuk mendalami karakter, Jefri juga sempat bergaul dengan para petinju dan latihan fisik seperti atlet tinju sungguhan.

“Saya latihan di Bulungan bareng petinju di sana sampai tidur juga di sana untuk mengolah rasa. Dari situ saya masuk reading bersama yang lainnya,” katanya.

Meski demikian, ada beban yang dirasakan oleh Jefri dalam memerankan sosok Ellyas, salah satunya takut tidak bisa mewakili karakter sang juara International Boxing Federation tahun 1985 itu.

“Pasti banyak bebannya. Selagi bergaul dengan para petinju, mereka sangat kenal banget dengan om Elly dan aku enggak mau merusak bayang-bayang mereka soal om Elly. Ya tapi aku ingin menampilkan sebaik mungkin lah,” ujar Jefri.

Baca juga: Gara-gara Ellyas Pical, Jefri Nichol pernah bercita-cita jadi petinju

Baca juga: Kisah legenda tinju Ellyas Pical dalam film “The Exocet”

Baca juga: Berperan sebagai anak culun, Jefri Nichol keluar dari zona nyaman

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film pendek “Makmum” diangkat ke layar lebar

Jakarta (ANTARA) – Film pendek horor “Makmum” karya sutradara asal Yogyakarta, Riza Pahlevi, yang mendapatkan popularitasnya melalui kanal Youtube akhirnya diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama.

Dalam konferensi pers film “Makmum” di Jakarta, Senin, Produser film Deeraj Kalwani mengatakan tertarik mengadaptasi film pendek tersebut ke layar kaca, sebab telah mendapat banyak penghargaan pada sejumlah festival film.

“Awalnya dia (Riza) agak ragu-ragu, tetapi dengan meyakinkan dia setelah beberapa kali ketemu. Riza setuju dan akhirnya kita kembangkan dari durasi 7 menit menjadi 91 menit film layar lebar,” ujar Deeraj.

Di kesempatan yang sama, Riza mengungkapkan terdapat tantangan besar untuk membawa film pendek tersebut ke layar lebar dengan arahan sutradara Hadrah Daeng Ratu.

“Kami yang langsung menulis skripnya. Benar-benar membuat bagaimana si film pendek ini ruhnya tetap ada di film panjang, namun bisa dinikmati, walaupun enggak nonton film pendeknya,” ujar Riza.

Cuplikan pendek film layar lebar “Makmum” menampilkan sosok Rini, seorang perempuan yang bekerja sebagai pengurus jenazah, dibintangi oleh aktris Titi Kamal.

Titi Kamal mengaku film “Makmum” merupakan genre horor pertama yang dibintanginya, bertolak belakang dengan karakternya yang ceria dan banyak bicara.

Deg-degan banget. Ini kan film horor pertama, biasanya (karakternya) yang fun dan happy. Sangat deg-degan dan sangat excited,” ujar Titi.

Film tersebut berkisah tentang pengalaman penghuni asrama yang tidak bisa beribadah dengan khusyuk saat sedang shalat, ketika mendengar suara takbir yang mengikuti di belakang mereka.

Oleh para penghuni asrama, sosok tersebut disebut “makmum.” Kemunculannya sering mengganggu sejak Rini menetap di asrama untuk memenuhi permintaan Ibu Kinanti (Jajang C Noer) yang kesehatannya terus menurun.

Gangguan “makmum” tidak digubris oleh pemimpin asrama, Rosa (Reny Yuliana), yang dilaporkan oleh tiga murid di asrama tersebut yakni Nurul (Tissa Biani), Nisa (Bianca Hello) dan Putri (Adila Fitri).

Film tersebut juga menghadirkan Ali Syakieb, yang juga merasa terganggu dengan kehadiran “makmum” di asrama tersebut.

“Makmum” akan tayang serentak di seluruh bioskop di Indonesia pada 15 Agustus 2019.

Baca juga: “Kembalilah Dengan Tenang” lolos seleksi Festival Film Prancis

Baca juga: Adipati Dolken ingin produksi film pendek

Baca juga: Alasan Reisa Broto Asmoro tertarik mainkan serial pendek “Glow”

Penyampaian Informasi Melalui Film Pendek

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kisah legenda tinju Ellyas Pical dalam film “The Exocet”

Penantian yang cukup panjang, setelah 2011.”

Jakarta (ANTARA) – Kisah legenda tinju Indonesia, Ellyas Pical akan diangkat ke layar lebar dengan judul “The Exocet”, yang berfokus pada perjuangannya menjajal dunia tinju dari tahun 1973–1985.

“Ini adalah film kolaborasi, kita pakai konsep realitas. Saat kita riset apa yang tertulis di internet, membuka satu per satu hal yang kita tidak ketahui. Saat persiapan IBF (International Boxing Federation), kenapa Indonesia saat itu sangat bangga, semua kita jelaskan secara gamblang,” ujar Robby Ertanto selaku sutradara dalam jumpa pers di Jakarta, Senin.

Robby mengatakan bahwa rencana pembuatan film ini sebenarnya sudah berlangsung sejak 2011. Oleh karena kesulitan mendapat investor dan berbagai perizinan hukum (rights), “The Exocet” akhirnya tahun ini akan memulai proses syuting.

“Penantian yang cukup panjang, setelah 2011. Rights-nya sudah dapat dan akhirnya 2019 ini syuting. Proses sangat panjang, kita fight karya ini harus difilmkan. Kita lagi enggak meniru tetapi mengidentifikasi rasa,” jelas Robby.

Sosok Ellyas Pical sendiri akan diperankan oleh Jefri Nichol. Menurut Robby tidak ada alasan khusus mengapa nama pemain “Hit & Run” itu yang terpilih memerankan sang legenda.

“Kita bertemu dengan Nichol tahun lalu, dia menceritakan semua tentang Ellyas Pical dengan gamblang, heran juga anak muda kok bisa tahu. Dia ternyata sering diceritakan ayahnya dan dia punya wish someday dia ingin bikin film tentang Ellyas Pical dan akhirnya mimpi itu terwujud,” kata sutradara film “Ave Maryam” itu.

“The Exocet” dipilih sebagai judul film karena merupakan julukan yang diberikan oleh media asing untuk Ellyas Pical atas kecepatan dan kekuatan pukulannya yang seperti rudal asal Prancis.

Film yang diproduksi oleh Pratama Pradana Picture, Time International dan Summerland ini akan melakukan syuting di tiga tempat, yakni Jakarta, Saparua, Maluku dan Korea Selatan.

Film tersebut juga akan melibatkan deretan aktor ternama, seperti Chicco Jerikho, Vino G Bastian, Lukman Sardi, Ridho Hafiedz, Laura Basuki, Jeremy Thomas, Olga Lydia dan Amanda Soekasah.

Baca juga: Kisah Ellyas Pical akan naik layar lebar

Baca juga: Menpora kunjungi Ellyas Pical

Baca juga: Ellyas Pical dirawat di rumah sakit karena serangan jantung

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gara-gara Ellyas Pical, Jefri Nichol pernah bercita-cita jadi petinju

Jakarta (ANTARA) – Jefri Nichol sudah tidak asing dengan dunia tinju, bahkan saat kecil dia pernah bercita-cita menjadi petinju.

Jefri mengatakan bahwa sang ayah sering menceritakan tentang sosok Ellyas Pical, mulai dari kehebatannya, pukulan-pukulan hingga piala apa saja yang diraihnya.

Dari kisah-kisah tersebut, Jefri langsung berkeinginan untuk menjadi seorang petinju.

“Karena dahulu setiap Minggu papa selalu cerita tentang Ellyas Pical. Akhirnya dulu pernah cita-cita jadi atlet, jadi petinju karena cerita papa,” ujar Jefri dalam jumpa pers di Jakarta, Senin.

Baca juga: Arti ganteng menurut Jefri Nichol

Setelah menjalani proses latihan untuk menjadi seorang petinju dalam film “The Exocat”, akhirnya Jefri mengurungkan niat tersebut.

“Enggak, gila jadi aktor aja deh,” kata pemain film “Dear Nathan” itu.

Dalam film “The Exocat”, Jefri berperan sebagai Ellyas Pical. Dia menjalani latihan yang sama seperti para petinju profesional untuk bisa mendapatkan karakter Ellyas.

“Pastinya sama, dengan pola olahraga dan diet petinju dan enggak mudah banget. Petinju asli bisa lari 20km dalam sehari, aku belum sanggup dan mereka bisa turun 3kg sekali lari,” jelasnya.

Baca juga: Kisah legenda tinju Ellyas Pical dalam film “The Exocet”

Baca juga: Resensi: “Hit & Run”, film aksi berbalut komedi renyah

Baca juga: Berperan sebagai anak culun, Jefri Nichol keluar dari zona nyaman

Mempersiapkan generasi Petinju Putri Indonesia

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kisah legenda tinju Ellyas Pical difilmkan dengan judul “The Exocat”

Jakarta (ANTARA) – Kisah legenda tinju Indonesia, Ellyas Pical akan diangkat ke layar lebar dengan judul “The Exocat”, yang berfokus pada perjuangannya menjajal dunia tinju dari tahun 1973-1985.

“Ini adalah film kolaborasi, kita pakai konsep realitas. Saat kita riset apa yang tertulis di internet, membuka satu per satu hal yang kita tidak ketahui. Saat persiapan IBL (International Boxing Federation), kenapa Indonesia saat itu sangat bangga, semua kita jelaskan secara gamblang,” ujar Robby Ertanto selaku sutradara dalam jumpa pers di Jakarta, Senin.

Robby mengatakan bahwa rencana pembuatan film ini sebenarnya sudah berlangsung sejak 2011. Namun, karena kesulitan mendapat investor serta berbagai perizinan, akhirnya tahun ini “The Exocat” akan memulai proses syuting.

“Penantian yang cukup panjang, setelah 2011. Rights-nya sudah dapat dan akhirnya 2019 ini syuting. Proses sangat panjang, kita fight karya ini harus difilmkan. Kita lagi enggak meniru tetapi mengidentifikasi rasa,” jelas Robby.

Sosok Ellyas Pical sendiri akan diperankan oleh Jefri Nichol. Menurut Robby tidak ada alasan khusus mengapa nama pemain “Hit & Run” itu yang terpilih memerankan sang legenda.

“Kita bertemu dengan Nichol tahun lalu, dia menceritakan semua tentang Ellyas Pical dengan gamblang, heran juga anak muda kok bisa tahu. Dia ternyata sering diceritakan ayahnya dan dia punya wish someday dia ingin bikin film tentang Ellyas Pical dan akhirnya mimpi itu terwujud,” kata sutradara film “Ave Maryam” itu.

“The Exocat” dipilih sebagai judul film dikarenakan nama tersebut merupakan julukan yang diberikan oleh media asing untuk Ellyas Pical atas kecepatan dan kekuatan pukulannya yang seperti rudal asal Prancis.

Film yang diproduksi oleh Pratama Pradana Picture, Time International dan Summerland ini akan melakukan syuting di tiga tempat yakni Jakarta, Saparua, Maluku dan Korea.

Film tersebut juga akan melibatkan deretan aktor ternama seperti Chicco Jerikho, Vino G Bastian, Lukman Sardi, Ridho Hafiedz, Laura Basuki, Jeremy Thomas, Olga Lydia dan Amanda Soekasah.

Baca juga: Kisah Ellyas Pical akan naik layar lebar

Baca juga: Menpora kunjungi Ellyas Pical

Baca juga: Ellyas Pical dirawat di rumah sakit karena serangan jantung

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Si Juki the Movie: Harta Pulau Monyet” libatkan Mandra, Bryan Domani

Jakarta (ANTARA) – Falcon Pictures bersama animator Faza Meonk kembali menghadirkan film animasi Si Juki, kali ini mengangkat judul “Harta Pulau Monyet”.

Ada sederet aktor yang terlibat dan sebagian sudah pernah bergabung dalam film Si Juki the Movie sebelumnya, antara lain Jaja Miharja, Maya Wulan, Indro Warkop dan Wizzy.

Lalu, Andavi Da Lopez, Mandra, Bryan Domani, Megan Domani, para komika seperti Indra Jegel, Rigen, Coki Pardede, Tretan Muslim, Hifdzi dan Sadana Agung.

Faza dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, mengatakan film ini berbeda secara visual dari yang sebelumnya karena dunia Juki lebih luas dan cerita yang diangkat berbeda dari versi komik.

“Si Juki kebanyakan mengisahkan kejadian sehari-hari, belum asyik dijadikan ke layar lebar, harus dibuat khusus untuk layar lebar. Ini film animasi, secara setting dan cerita harus sangat imajinatif,” kata dia.

Secara umum, “Si Juki the Movie: Harta Pulau Monyet” akan bercerita tentang petualangan Juki dan keluarganya di sebuah pulau. Petualangan inilah yang kemudian membuat mereka semakin dekat.

Menurut Faza tema petualangan tepat dan aman mengingat para penonton Si Juki sebelumnya kebanyakan anak-anak bersama orang tua mereka.

“Di Juki pertama saya melihat banyak yang menonton itu keluarga, anak-anak. Saya pikir film ini harus aman ditonton sama keluarga dan anak. Akhirnya gimana saya bawa cerita yang keluarga banget. Lalu saya bikin Juki dan keluarganya bertualang di sebuah pulau,” papar dia.

Dalam kesempatan itu, produser Falcon Pictures Frederica berharap film yang rencananya tayang pada tahun 2020 ini bisa berkontribusi untuk dunia film animasi Indonesia.

Baca juga: Jelang pemilu, Si Juki gagas gerakan #SayaTidakMemilih

Baca juga: Promosikan wisata Indonesia, Si Juki jalan-jalan ke Labuan Bajo

Baca juga: Komikus “Si Juki” sebut WCCE perluas jaringan pekerja kreatif

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mayat aktor Charles Levin ditemukan di daerah terpencil Oregon

Jakarta (ANTARA) – Mayat yang ditemukan di daerah terpencil Oregon, Amerika Serikat, pada Sabtu kemarin (14/7) diduga kuat adalah aktor Charles Levin yang sebelumnya dilaporkan hilang.

Pria yang terkenal lewat perannya sebagai Elliot Novak di serial “Alice”, kemudian “Seinfeld” dan “Night Court” itu dilaporkan hilang oleh putranya pada Senin pekan lalu (8/7) setelah tidak ada kontak selama beberapa hari, The Oregonian melaporkan, dikutip Senin.

Levin yang berusia 70 tahun berasal dari wilayah barat daya negara bagian Oregon, dan dia memiliki Fiat 2012.

Seorang warga menemukan mobil Levin di jalan yang terpencil dan hampir tidak bisa dilewati pada Sabtu lalu. Polisi menemukan mayat anjing Levin dan para kru yang mencari di daerah terjal menemukan jenazah –diduga Levin– tidak jauh dari mobilnya.

Petugas medis dan polisi akan segera mengidentifikasi mayat yang ditemukan tersebut.

Charles Levin lahir pada 12 Maret 1949 di Chicago, Illinois, AS dengan nama Charles Herbert Levin. Dia adalah seorang aktor yang dikenal lewat film “The Golden Child” (1986), “Manhattan” (1979) dan “Annie Hall” (1977). Dia sebelumnya menikah dengan Katherine DeHtre, menurut IMDb.

Baca juga: Richard Erdman, aktor “Community” dan “Twilight Zone” tutup usia

Baca juga: Bintang Hollywood Burt Reynolds meninggal pada usia 82
 

Penerjemah: Suryanto
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Avengers: Endgame” hampir samai rekor “Avatar”

Jakarta (ANTARA) – Film terbaru Marvel Studio yang populer “Avengers: Endgame” sukses meraup keuntungan besar dengan pendapatan hampir menyamai “Avatar” yang berada di puncak daftar film dengan pendapatan terbesar sepanjang masa.

Film Disney dan Marvel itu berada di posisi kedua daftar box office sepanjang massa, dengan mengumpulkan pendapatan 2,780 miliar dolar atau sekitar Rp38,7 triliun hingga akhir pekan kemarin, mendekati “Avatar” yang berada di posisi pertama dengan 2,788 miliar dolar atau kurang lebih Rp38,8 triliun.

Untuk penjualan tiket domestik, di Amerika Serikat, “Avengers: Endgame” telah mengantongi uang dari penjualan tiket 851,1 juta dolar ditambah 1,929 miliar dolar di seluruh dunia sehingga total berpendapatan 2,780 miliar dolar sejauh ini, demikian mengutip data Box Office Mojo, Senin.

Bukan tidak mungkin, film yang disutradarai Anthony Russo bersama Joe Russo dan produser Kevin Felge ini bakal menggeser “Avatar” di puncak daftar film berpendapatan tertinggi sepanjang masa.

Film yang mengisahkan perjuangan para Avengers melawan Thanos untuk menyelamatkan alam semesta ini dirilis pada 26 April 2019.

Berikut lima film berpendapatan berbesar sepanjang massa hingga akhir pekan kedua Juli 2019:

1. “Avatar” 2,788 miliar dolar
2. “Avengers: Endgame” 2,780 miliar dolar
3. “Titani” 2,187 miliar dolar
4. “Star Wars: The Force Awakens” 2,068 miliar dolar
5. “Avengers: Infinity War” 2,048 miliar dolar

Baca juga: “Avengers: Endgame” versi baru tayang di Indonesia

Baca juga: “Spider-Man: Far From Home” pecahkan rekor “Avengers: Endgame”
 

Pertunjukan Disney On Ice

Pewarta: Suryanto
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lashana Lynch sebagai agen 007 dalam “Bond 25”

Jakarta (ANTARA) – Aktris Lashana Lynch akan diperkenalkan sebagai agen 007 dalam film “James Bond” yang akan datang “Bond 25”.

NME pada Senin melansir Lynch akan diperkenalkan pada awal film sebagai agen 007 oleh M dan menjadikannya sebagai perempuan pertama yang memainkan karakter agen rahasia ikonik tersebut.

Namun, hingga saat ini belum ada informasi mendetail tentang karakter yang akan dimainkan Lynch.

Lalu bagaimana dengan aktor Daniel Craig? Craig akan tetap berperan sebagai James Bond.

Seorang sumber mengatakan bahwa nantinya James Bond akan keluar dari masa pensiunnya untuk menggagalkan krisis global.

Langkah itu diduga karena keterlibatan Phoebe Waller Bridge sebagai penulis naskah untuk “Bond 25”.

“Ini adalah kisah yang mengasyikkan dan memberikan sensasi untuk dikerjakan,” ujar Bridge yang juga berencana memasukkan beberapa humor feminis, dalam sebuah wawancara untuk The Hollywood Reporter’s Awards Chatter.

Lynch muncul dalam film “Captain Marvel” awal tahun ini sebagai pilot pesawat tempur bernama Maria Rambeau, yang merupakan salah satu teman Carol Danvers alias Captain Marvel, yang diperankan oleh Brie Larson.

Pekan lalu juga disebutkan bahwa Christoph Waltz akan kembali sebagai Blofeld di “Bond 25” setelah dia terlihat di lokasi syuting Pinewood Studios.

Aktor peraih Oscar ini sebelumnya menjadi lawan utama James Bond di “Spectre” pada 2015 dan bersiap untuk kembali bertarung dengan James Bond, meski sebelumnya sempat mengklaim jika dirinya tidak akan membintangi “James Bond” berikutnya.

Pembuatan film ini kembali dilakukan setelah Daniel Craig menyelesaikan masa penyembuhan pasca-operasi.

Baca juga: Main di “James Bond”, Rami Malek tak ingin perankan teroris

Baca juga: Daniel Craig akan operasi pergelangan kaki, film “Bond” sesuai jadwal
 

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Crawl” dan “Stuber” belum mampu kalahkan “Spider-Man”

Jakarta (ANTARA) – “Spider-Man: Far From Home” belum bisa dikalahkan oleh film pendatang baru di Box Office akhir pekan ini yakni “Crawl” dan “Stuber”.

Spider-Man mendapat 13,4 juta dolar pada Jumat (12/7), dari proyeksi pendapatan kotor pada pekan kedua yang meraup sekitar 43 juta dolar hingga 45 juta dolar AS. Film itu telah diputar di 4.634 teater, dilansir Hollywood Reporter, Minggu.

Pada posisi kedua, “Toy Story 4” mampu meraup 6,2 juta dolar, padahal sudah memasuki pekan keempat bagi mereka. Film produksi Disney dan Pixar’s itu diputar di 4.210 bioskop dengan total pendapatan untuk wilayah domestik sebesar 350 juta dolar.

Sementara itu, “Crawl” dan “Stuber” diharapkan mampu menggantikan posisi “Spider-Man” dan “Toy Story 4”, sayang keduanya malah tampil mengecewakan.

Jika dibanding “Stuber”, “Crawl” adalah yang terbaik dengan menghasilkan 4,3 juta dari pemutaran di 3.170 bioskop. Meski demikian, awalnya film tersebut diproyeksikan bisa mendapat 10 juta – 11 juta dolar.

Sementara itu, “Stuber” hanya mendapat 3,1 juta dolar di 3.050 bioskop dengan proyeksi awal 8 juta dolar.

Baca juga: Iko Uwais ungkap perbedaan syuting di Hollywood dan Indonesia

Baca juga: “Spider-Man: Far From Home” pecahkan rekor “Avengers: Endgame”

Baca juga: “Spider-Man: Far From Home” untung besar di Hari Kemerdekaan AS

Baca juga: Jangan beranjak, ada 2 post-credit scene “Spider-Man: Far From Home”
 

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemutaran perdana film Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw

Artis Elza Gonzalez berpose saat pemutaran perdana film Fast & Furious Presents: Hobbs & Shaw di Los Angeles, California, Sabtu (13/7/2019). Fast & Furious: Hobbs & Shaw merupakan spin off dari franchise film The Fast and the Furious dengan dua karakter utama Luke Hobbs dan Deckard Shaw yang diperankan oleh Dwayne Johnson atau The Rock dan Jason Statham. ANTARA FOTO/REUTERS/Mario Anzuoni/pras.

Pemilik baru rumah “The Conjuring” mengaku sering diteror hantu

Jakarta (ANTARA) – Pasangan yang baru-baru ini membeli rumah yang terdapat dalam film “The Conjuring” mengklaim jika mereka kini dihantui.

Setelah membeli rumah ikonik Harrisville di Rhode Island yang menginspirasi “The Conjuring”, pasangan itu mengatakan mereka telah mengalami aktivitas paranormal di rumah tersebut sejak pindah.

Film yang dirilis pada tahun 2013 itu, berkisah tentang kehidupan nyata keluarga Perron yang tinggal di rumah Harrisville sepanjang tahun 1970an di mana banyak terdapat kejadian hantu seperti yang diceritakan dalam film.

“Kami mendapati pintu yang terbuka, langkah kaki dan ketukan. Saya kesulitan tinggal di sana sendirian. Saya tidak punya perasaan apa pun yang jahat, tapi ini sangat sering. Anda bisa tahu ada banyak hal yang terjadi di rumah,” ujar Cory Heinzen, pemilik rumah yang baru dilansir NME, Minggu.

Istri Cory, Jennifer Heinzen menjelaskan bahwa mereka sekarang bermaksud untuk menjual rumah itu kepada orang lain.

“Seluruh perjalanan ini menakutkan karena berbagai alasan selain paranormal dan sekaligus mengasyikkan. Saya suka bahwa kami memiliki kesempatan untuk berbagi rumah dengan orang lain,” kata Jennifer.

Film “The Conjuring” berfokus pada kisah nyata Ed dan Lorraine Warren, pasangan paranormal yang diperankan oleh Vera Farmiga dan Patrick Wilson.

Mereka datang untuk membantu keluarga Perron yang trauma dengan kejadian paranormal di rumah Rhode Island baru mereka (yang ternyata adalah perbuatan seorang penyihir yang mengutuk rumah tersebut pada tahun 1863).

Dari film tersebut, kemudian muncul spin-off berupa “Annabelle”, boneka yang sangat menakutkan yang terdapat dalam kasus Warrens sebelumnya.

Sementara itu, Universal Studio saat ini sedang mengerjakan seri ketiga dari “Conjuring” yang akan dirilis pada September 2020.

  Baca juga: “Annabelle Comes Home”, malam teror dari sebuah boneka

Wisata Horor di Conjuring House Ancol

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Millie Bobby Brown bantah terlibat dalam “The Eternals”

Jakarta (ANTARA) – Bintang “Stranger Things”, Millie Bobby Brown membantah laporan bahwa dia akan muncul dalam proyek Marvel Cinematic Universe (MCU) yang akan datang yakni “The Eternals”.

“Semua orang berpikir saya akan berada di film Marvel. Saya dan keluarga saya tidak tahu. Jadi saya hanya ingin memberi tahu semua orang bahwa sekarang ini saya tidak bermain di situ,” ujar Millie dilansir NME, Minggu.

Rumor ini rupanya muncul lantaran pimpinan Marvel Studios, Kevin Feige sempat membuat pernyataan bahwa akan sangat menyenangkan jika Millie ada di MCU.

“Akan menyenangkan untuk melihatnya di MCU. Tapi tidak ada sesuatu yang spesifik atau belum ada yang perlu dibicarakan,” ungkap Feige saat itu.

Sebelumnya, lawan main Millie di “Stranger Things”, David Harbour juga menolak laporan yang mengaitkannya dengan karakter utama dalam fase empat MCU.

Harbour dikabarkan akan berperan sebagai The Thing dari “Fantastic Four” setelah namanya dikonfirmasi dalam daftar pemeran untuk Marvel “Black Widow”.

“The Thing seperti karakter dalam buku komik dan semua orang berspekulasi bahwa saya yang akan memainkan,” kata Harbour.

“Saya senang bisa bergabung dengan Marvel Cinematic Universe. Tapi saya tidak diizinkan untuk mengatakan apa-apa tentang film khusus yang sedang saya lakukan. Tapi, saya bermain dengan banyak hal dan saya banyak menggunakan kata ‘hal’ dalam perbendaharaan kata saya,” lanjutnya.

Baca juga: Millie Bobby Brown ungkap dirinya tuli sebelah

Baca juga: Aktris Stranger Things terjebak di Bandara Bali

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“The Lion King” raup 14,5 juta dolar dalam debut di China

Jakarta (ANTARA) – Film terbaru Disney “The Lion King” yang disutradarai Jon Favreau mengawali penayangannya di China dengan gemilang, meraup sekitar 14,5 juta dolar AS pada Jumat.

“The Lion King” ditayangkan di China, sepekan lebih awal dari debutnya di Amerika Utara dan sebagian besar pasar internasional utama lainnya.

Para penonton film di China pun menyambut hangat film tersebut, terlihat dari skor yang mereka berikan yakni 9/10 pada platform pembelian tiket terkemuka Maoyan, 9/10 pada layanan tiket Alibaba Taopiaopiao, dan 7,6/10 di Douban, sebuah situs ulasan film yang berpengaruh di China.

Skor tersebut kurang lebih sama seperti yang mereka berikan untuk film Disney sebelumnya “Aladdin”, yaitu 9/10 pada Maoyan, dan 7,8/10 pada Douban, mengutip laporan Hollywood Reporter pada Jumat (12/7).

Sebelumnya, “Aladdin” menghasilkan 19 juta dolar di akhir pekan pembukannya dan berhasil meraup 53 juta dolar.

Sejauh ini Lion King berada di depan “Jungle Book” dan “Beauty and the Beast”, yang masing-masing menghasilkan 11,6 juta dolar dan 12,4 juta dolar pada hari pembukaan.

Maoyan memperkirakan “The Lion King” akan mencatat pendapatan 59 juta dolar AS selama akhir pekan pembukaan, dan total hingga sekitar 170 juta dolar.

Estimasi perolehan itu dapat dianggap sebagai kemenangan bagi Disney, mengingat eksposur Lion King yang terbatas di China dibandingkan sebagian besar negara lain di dunia.

Baca juga: Film “Lion King” baru dapat kritikan

Baca juga: Beyonce rilis “Spirit”, lagu baru untuk “Lion King”

Baca juga: Jelang rilis “The Lion King”, Disney tayangkan adegan “Hakuna Matata”

Penerjemah: Heppy Ratna Sari
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tayang hari pertama, film “Dua Garis Biru” dapat sambutan positif

Jakarta (ANTARA) – Film “Dua Garis Biru” dapat sambutan positif dalam roadshow di delapan kota di Pulau Jawa setelah gala premiere di Jakarta pada 27 Juni lalu.

Roadshow ke Malang, Surabaya, Mojokerto, Kediri, Tulung Agung, Madiun, Solo dan Yogjakarta itu dihadiri oleh para aktor dan sutradara “Dua Garis Biru”.

“Terus terang saya tidak menyangka dan di luar dugaan saya, sambutan dari masyarakat dan juga para remaja dengan adanya film ‘Dua Garis Biru’ sampai begitu besarnya,” ujar Gina S. Noer, penulis dan sutradara dalam siaran pers, Sabtu.

Gina mengaku dapat banyak ulasan positif serta pesan pribadi di media sosial dari penonton yang terhibur.

Roadshow keliling kota Jawa dengan menggunakan jalur darat diikuti Angga Yunanda (Bima), Zara JKT48 (Dara), Maisha Kanna (Puput), Shakira Jasmine (Vinie), Ariel JKT48 (Lika) dan Cindy JKT48 (Melly).

Baca juga: Sempat dikecam, ini tanggapan sutradara “Dua Garis Biru”

“Respons positif dari masyarakat terlihat juga dari seluruh tiket untuk penayangan perdana di semua kota Jawa ini habis dalam waktu singkat dan ada beberapa kota yang
kami tambahkan juga jadwal penayangannya dan masih tetap habis terjual tiketnya,” kata produser Chand Parwez.

Gina dan aktris Rachel Amanda sempat diundang jadi pembicara dalam diskusi panel untuk memperingati hari Kependudukan Dunia Tahun 2019 yang diadakan oleh BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) di bawah program Pembinaan Ketahanan Remaja, di XXI Plaza Senayan, Jakarta.

Acara nonton bareng dan diskusi yang digelar oleh BKKBN bersama dengan John Hopkins Center for Communication Program (JHCCP) dan Forum Genre Indonesia (FGI) bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya remaja terkait kesehatan reproduksi, penyiapan kehidupan berumah tangga dan penyiapan kehidupan bermasyarakat akan pentingnya kualitas SDM.

Dari sisi BKKBN, film ini dianggap jadi media untuk menyebarkan kesadaran tentang perilaku berisiko remaja yang menjadikannya rentan mengalami pernikahan di usia dini, kehamilan tidak diinginkan dan terinfeksi penyakit menular seksual sehingga aborsi yang tidak aman.

Baca juga: Dua Garis Biru wajib ditonton remaja-orang tua

Baca juga: Film Dua Garis Biru gambarkan program remaja BKKBN

Baca juga: “Dua Garis Biru”, drama remaja tentang cinta dan tanggung jawab

Remaja wajib waspadai dan antisipasi 3 hal

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jawaban Taron Egerton soal peran Wolverine

Jakarta (ANTARA) – Taron Egerton disebut akan memerankan karakter Wolverine dalam Marvel Cinematic Universe. Lantas bagaimana tanggapannya?

“Saya pikir itu hanya rumor. Sejauh yang saya sadari, itu tidak berdasar. Saya tidak tahu apakah saya cukup mengerikan,” kata Egerton dilansir NME, Sabtu.

“Maksudku, jika orang-orang di Marvel berpikir aku hebat, ayo. Tapi saya pikir mungkin ada kandidat yang lebih baik. Tapi saya ingin memang ingin tergabung dengan dunia (Marvel) itu di suatu tempat,” lanjutnya.

Egerton bukan satu-satunya orang yang disebut akan bermain sebagai Wolverine, baru-baru ini Daniel Radcliffe juga ikut terseret dalam rumor tersebut dan membuat klarifikasi atas gurauan yang diciptakannya.

Baca juga: Keanu Reeves ingin perankan Wolverine

Dalam fitur WIRED, Daniel sempat mengatakan, “Akan ada film Wolverine baru, dimulai dengan Hugh Jackman dimasukkan ke dalam air panas dan saat keluar, jadi saya. Jadi ya, saya sangat senang mengumumkannya di sini,” katanya saat itu.

Pemeran Harry Potter itu kemudian memberikan penjelasan, “Inilah yang terjadi ketika Anda membuat lelucon. Bukankah lebih bagus jika Anda bisa mulai melakukan sesuatu dengan hanya mengatakannya dalam wawancara?.”

“Jadi saya kira orang-orang bertanya sesuatu tentang saya dan Wolverine, dan saya membuat lelucon tentang (berperan) Wolverine setelah mandi air panas, seperti saya menyusut dalam mandi air panas, dan internet sepertinya berpikir bahwa saya menginginkan hal itu sebagai impian saya,” lanjut Daniel.

Baca juga: Paramount minta Sutradara “Rocketman” hilangkan adegan gay

Baca juga: Tampilan Taron Egerton sebagai Elton John dalam “Rocketman”

Serunya berwisata di sekolah sihir Harry Potter

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Lion King” baru dapat kritikan

Jakarta (ANTARA) – Versi baru film animasi “Lion King” disambut kurang meriah, setelah para kritikus menyebutnya bagus dari sisi visual namun kurang memuaskan dari segi karakter dan penceritaan.

Film remake dari animasi klasik “Disney” itu menyuguhkan teknik mutakhir yang menggabungkan virtual reality, live action dan gambar digital untuk membuat suasana dan binatang-binatang Afrika terasa sangat nyata.

Baca juga: Beyonce rilis “Spirit”, lagu baru untuk “Lion King”

Dilansir Reuters, ulasan-ulasan terkini menyebut hasilnya kurang memuaskan, meski sebagian besar kritikus setuju filmnya akan sukses di box office di mana para analis memprediksi penayangan akhir pekan perdana akan menghasilkan 150 juta dolar AS saat film itu tayang di Amerika Utara pada 19 Juli mendatang.

“Semua terasa sangat aman dan jinak serta diperhitungkan dengan cermat sehingga seolah-olah sudah dicerna. Tidak ada kejutan dalam dua jam penuh, “tulis Todd McCarthy untuk The Hollywood Reporter.

Walau demikian McCarthy memperkirakan, film itu “akan dilahap oleh penonton di banyak tempat seperti acara makan korporat yang disiapkan dengan sempurna.”

Versi baru, yang menampilkan suara dari Beyonce dan Donald Glover sebagai Nala dan Simba, kadang adegannya dibuat sama persis seperti animasi versi 1994, termasuk dialog asli dan lagu-lagu Elton John.

Baca juga: Beyonce jadi produser album “The Lion King”

“Jadi muncul pertanyaan, ‘Kenapa repot-repot?’,” tulis kritikus dari Variety, Peter Debruge, menyebut film itu “sangat mengesankan tetapi bermain aman.”

“Jawabannya bisa dieja dalam dolar,” tulis Debruge.

“The Lion King” mulai penayangan internasional di China pada Jumat dan akan tayang di seluruh dunia pada pertengahan minggu depan.

Film versi 1994 menuai sukses besar secara global dengan pemasukan 968 juta dolar AS, membuatnya diadaptasi menjadi pertunjukan Broadway dalam kurun waktu lama.

Terlepas dari hiperrealisme versi baru, beberapa kritikus menemukan film ini kurang menghadirkan emosi dan mengatakan binatang yang terlihat nyata dan berbicara serta menyanyi terasa janggal.

Baca juga: Jelang rilis “The Lion King”, Disney tayangkan adegan “Hakuna Matata”

Baca juga: Kemarin, Beyonce main di “Lion King” hingga aplikasi ucapan Lebaran

Pertunjukan Disney On Ice

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dexter Fletcher akan sutradarai “Sherlock Holmes”

Jakarta (ANTARA) – Sutradara “Rocketman” Dexter Fletcher akan menggarap film waralaba “Sherlock Holmes” terbaru, yang kembali dibintangi Robert Downey Jr.

Fletcher menggantikan Guy Ritchie yang menyutradari dua film sebelumnya yakni “Sherlock Holmes” (2009) dan sekuelnya “Sherlock Holmes: A Game of Shadows” (2011).

Kedua film tersebut sukses besar, dengan pendapatan kotor 524 juta dolar AS di seluruh dunia, dan film kedua meraup 545,4 juta dolar.

Menurut sumber, seperti dilansir Variety yang dikutip Jumat, Warner Bros. selalu berencana untuk membuat film ketiga. Hanya saja, jadwal Robert Downey Jr yang sibuk sebagai Iron Man, membuat pembuatan “Sherlock Holmes” tertunda.

Baca juga: Trik Mark Gatiss cegah naskah Sherlock Holmes bocor

Film yang diadaptasi dari novel fiksi karya Arthur Conan Doyle itu dijadwalkan tayang di bioskop pada 21 Desember 2021. Sebelumnya, Warner Bros mengumumkan film akan diputar pada Natal 2020, namun diundur.

Aktor Jude Law juga diperkirakan akan kembali sebagai Profesor Watson. Naskah ditulis oleh Chris Brancato dan akan menjadi produksi bersama antara WB dan Village Roadshow.

Fletcher, yang mengambil alih tugas sebagai sutradara untuk “Bohemian Rhapsody” pada menit-menit terakhir setelah Bryan Singer dipecat selama produksi, mengarahkan biopik Elton John “Rocketman.”

Fletcher juga masuk nominasi BAFTA untuk debutnya sebagai sutradara pada 2011 lewat “Wild Bill” dan mengarahkan film adaptasi dari drama musikal Skotlandia “Sunshine on Leith” (2013).

Baca juga: Henry Cavill akan berakting sebagai Sherlock Holmes

Penerjemah: Heppy Ratna Sari
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Welcome Back, Tora-san” akan jadi pembuka Festival Film Tokyo 2019

Jakarta (ANTARA) – Festival Film Internasional Tokyo (TIFF) 2019 akan dibuka dengan film “Welcome Back, Tora-san” dari sutradara senior Yoji Yamada.

Film itu sekaligus jadi penanda perayaan 50 tahun seri film “Otoko wa Tsurai yo (It’s Tough Being a Man)” yang memegang rekor dunia Guinness sebagai rangkaian film paling lama yang dibintangi aktor yang sama.

Ini adalah film ke-50 dari serial “Otoko wa Tsurai yo”, juga film pertama yang dirilis sejak 1995 setelah pemeran utama Kiyoshi Atsumi tutup usia.

“Otoko wa Tsurai yo” bercerita tentang pengembara baik hati, Torajiro Kuruma (“Tora-san”) yang tidak pernah beruntung dalam percintaan. Setiap film menghadirkan aktris utama yang berbeda, disebut Madonna, dan lokasinya selalu bervariasi.

Dikutip dari siaran resmi TIFF, film terbaru itu fokus pada keponakan Tora bernama Mitsuo yang bertemu dengan cinta pertamanya Izumi setelah bertahun-tahun berlalu.

“Welcome Back, Tora-san” akan menampilkan Kiyoshi Atsumi sebagai Tora-san yang dihidupkan lagi di layar setelah wafat pada 1996. Film dibintangi juga oleh Chieko Baisho, Gin Maeda, Hidetaka Yoshioka dan Kumiko Goto yang kembali untuk memerankan kembali karakter mereka.

“Saya terharu ketika menonton kredit film berakhir. Saya selalu senang menanti film terbaru dari seri ini tiap libur musim panas dan tahun baru. Saya yakin seri Tora-san disukai satu negara, dan setelah melihat kilas balik, film-film itu juga mengabadikan sejarah aktris-aktris ternama di Jepang. Kini serial itu dihidupkan lagi oleh sutradara Yoji Yamada. Saya senang bisa menjadi tuan rumah pemutaran perdana dunia di Festival Film Internasional Tokyo ke-32,” ujar direktur festival TIFF Takeo Hisamatsu.

Setelah tayang perdana di TIFF, film tersebut akan dirilis di Jepang pada 27 Desember 2019.

TIFF ke-32 akan berlangsung pada 28 Oktober hingga 5 November 2019.

Baca juga: Festival Film Tokyo soroti genre horor Asia Tenggara

Baca juga: Ulang tahun Godzilla ke-65 tutup Festival Film Tokyo 2018
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kisah petani tembakau Jember dibawa ke layar lebar

Jember, Jawa Timur (ANTARA) – Kisah petani tembakau Kabupaten Jember diangkat ke film layar lebar oleh tiga mahasiswa Program Studi Televisi dan Film (PSTF) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember (Unej) yang menampilkan keterpurukan para petani tembakau yang menjadi salah satu produk unggulan daerah ini.

Tiga mahasiswa PSTF Unej itu yakni Alif Septian sebagai sutradara, Daris Zulfikar sebagai penata kamera, dan M. Ariyanto selaku penyunting gambar ingin menampikan sisi lain dari petani tembakau yang mengalami nasib terpuruk karena merugi. Kisah ini disajikan dengan apik lewat film “Bhako, The Golden Leaf”.

“Saya anak petani tembakau, jadi tahu benar bagaimana perjuangan seorang petani tembakau,” kata Alif Septian yang menjelaskan mengapa dirinya memilih tema tembakau.

Menurutnya, keluarganya terpuruk di tahun 2015 hingga harus menjual barang-barang serta perabotan rumah gara-gara abu Gunung Raung merusak tanaman tembakau di lahan milik ayahnya.

“Melalui film Bhàko itu saya ingin menyampaikan kepada khalayak luas mengenai sisi lain dari usaha tembakau yang mungkin belum banyak diketahui orang. Ada yang rumah tangganya retak, jadi gila bahkan bunuh diri, walaupun tentu saja ada juga yang berjaya,” tuturnya.

Menanggapi akhir kisah yang tragis, Alif dan dua koleganya sepakat menyerahkan penilaian kepada penonton karena faktanya seperti itu dan hingga sekarang mereka merasa tidak ada perubahan yang berarti pada perekonomian para  petani tembakau, bahkan selalu saja yang kalah adalah petani.

“Bentuk-bentuk ketidakadilan yang diderita oleh petani tembakau digambarkan ketiganya dengan adegan dimana saat tengkulak menilai hasil panen tembakau dengan semena-mena, alat timbang yang tidak sesuai standar dan penyitaan rumah petani tembakau gara-gara tak mampu membayar utang di bank,” katanya.

Ia mengatakan bahasa yang dipakai dalam film Bhàko adalah Bahasa Madura sesuai dengan lokasi film dibuat untuk lebih mendekatkan penonton dengan kenyataan yang ada.

“Pengambilan gambar film Bhàko sendiri dilakukan selama delapan hari di bulan Oktober 2018 dengan mengambil lokasi di daerah Kalisat, Sukowono dan Sumberjambe, Kabupaten Jember,” ujarnya.

Dalam film “Bhako, The Golden Leaf” menceritakan sebuah desa yang subur, dimana penduduknya banyak yang memilih mata pencaharian sebagai petani, terutama petani tembakau dan seiring tumbuhnya si “daun emas” atau tembakau itu, terkembang pula sejuta harapan akan keuntungan.

Seperti dalam film itu, Fauzi yang sarjana anak Haji Imam ingin segera menikah, Yoyon si buruh tani berniat mengobati istrinya, sedangkan Pak Mul si tengkulak ingin membayar utang-utangnya.

Namun ternyata jauh panggang dari api, janji keuntungan yang akan diraih selepas panen malah jadi buntung karena panen tembakau tak terserap oleh gudang dan pabrik, akibatnya Fauzi bertengkar dengan ayahnya. Kemudian nasib Yoyon dan Pak Mul malah lebih tragis lagi, Yoyon memilih mengakhiri hidup sang istri yang tak kunjung sembuh dan Pak Mul jadi gila.

Film “Bhàko, The Golden Leaf” karya tiga mahasiswa PSTF Fakultas Ilmu Budaya Unej yang tayang perdana Rabu malam (10/7) di bioskop Kota Cinema Mall Jember yang juga dihadiri oleh Rektor Unej Moh. Hasan.

Baca juga: Menelisik kepentingan politisi dan industri tembakau di Jember

Baca juga: Petani tembakau di Jember khawatirkan cuaca

Pewarta: Zumrotun Solichah
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Shah Rukh Khan akan rayakan “Kuch Kuch Hota Hai” di Melbourne

Jakarta (ANTARA) – Aktor senior India Shah Rukh Khan akan turut merayakan Festival Film India di Melbourne (IFFM) ke-10 yang digelar pada 8-17 Agustus menyusul pemutaran film “Kuch Kuch Hota Hai’.

Selain Shah Rukh Khan, pemutaran film yang dirilis 20 tahun lalu itu, juga akan dihadiri sang sutradara Karan Johar.

“Saya pernah ke festival sebelumnya dan saya senang berada di sana. Saya menantikan kesempatan selanjutnya untuk merayakan sinema India di Australia,” kata Karan soal IFFM, dalam pernyataan yang dilansir Hindustan Times, Kamis.

Baca juga: Lembaga sensor India ingin kata “sapi” dan “Hindu” dihilangkan dalam film

Menurut Karan, membuat film adalah hasratnya dan kecintaannya yang sangat dalam terhadap dunia sinema.

Dirilis pada 1998, “Kuch Kuch Hota Hai” dibintangi oleh Shah Rukh Khan dan Kajol. Aktris Rani Mukerji tampil sebagai pemeran pembantu. Sedangkan Salman Khan menjadi bintang tamu.

Karan juga akan berbincang tentang sinema dengan pengunjung festival film.

Baca juga: Fans tak sabar lihat Shah Rukh Khan “dikerjai” di acara TV Ramadan Arab

Penerjemah: Heppy Ratna Sari
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Besok, “Avengers: Endgame” versi baru tayang di Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Marvel Studios akan menayangkan “Avengers: Endgame” yang telah dirilis ulang di sejumlah bioskop Tanah Air, termasuk Cinema XXI, CGV Indonesia, dan Cinemaxx mulai Jumat (12/7).

“Melalui tayangan spesial itu, para penggemar berkesempatan menyaksikan video sambutan khusus dari sang sutradara Anthony Russo dan beberapa adegan yang sebelumnya dihapus dari film Marvel Studios “Avengers: Endgame”,” demikian keterangan resmi yang diterima Antara di Jakarta, Kamis.

Selain meyaksikan adegan-adegan tambahan, para penggemar juga dapat melihat sedikit cuplikan dari film “Spider-Man: Far From Home”.

“Avengers: Endgame” dibintangi oleh Robert Downey Jr., Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, dan aktor lainnya sebagai kelompok pahlawan super yang melawan musuh bebuyutan, Thanos yang diperankan Josh Brolin. Film itu adalah puncak dari 22 film yang sudah diproduksi Studio Marvel selama lebih dari satu dekade.

Baca juga: “Avengers: Endgame” akan dirilis ulang, ada kejutan usai kredit film

Versi baru “Avengers: Endgame” itu akan ditayangkan di bioskop tiga pekan sebelum Disney meluncurkan versi remake dari film klasik “The Lion King”.

Sebagian pakar box office memprediksi “Lion King” juga punya kesempatan menumbangkan “Avatar” dari sisi penjualan tiket di seluruh dunia. “Endgame” sudah meraup pendapatan sekitar 2,75 miliar dolar AS dari box office global semenjak April dan hanya 38 juta dolar AS di bawah film “Avatar” (2009) sebagai film dengan pendapatan terbesar sepanjang masa, berdasarkan situs Box Office Mojo.

Baca juga: Disney akan rilis adegan tambahan “Avengers: Endgame”

Baca juga: “Spider-Man: Far From Home” pecahkan rekor “Avengers: Endgame”

Presiden analogikan ekonomi dunia bak film avengers

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Crawl”, teror aligator di tengah badai mematikan

Jakarta (ANTARA) – Teror hewan predator terhadap manusia masih menjadi materi yang menarik untuk diangkat ke layar lebar. Bulan ini, Paramount Pictures merilis “Crawl”, film yang memadukan dua konflik, bertahan di tengah bencana dan selamat dari serangan aligator si pembunuh berdarah dingin.

“Crawl” yang mengawinkan genre horor dan bencana, punya plot yang bisa dibilang sederhana yakni ayah dan anak yang berusaha menyelamatkan diri dari badai mematikan dan serangan aligator.

Karakter utama dalam film yang disutradarai Alexandre Aja itu adalah Haley yang diperankan Kaya Scodelario dan ayahnya Dave yang dimainkan Barry Pepper. Haley adalah gadis yang berambisi untuk menjuarai olahraga renang agar tetap mendapat beasiswa d i perguruan tinggi, sedangkan Dave adalah ayah sekaligus pelatih renang Haley saat masih kecil.

Suatu hari, setelah berlatih renang, Harley mendapat panggilan dari sang kakak yang mengkhawatirkan Dave karena tidak mengangkat telpon darinya, sementara saat itu badai topan akan menerjang Florida.

Mengabaikan perintah evakuasi, Haley bersama Sugar, anjing milik Dave mencari Dave di bungalo tempat ia tinggal, namun tidak menemukan apa-apa. Ia lalu menuju ke rumah lama mereka dan menemukan Dave tergeletak di basemen dalam keadaan pingsan dan terluka.

Saat Haley berusaha menolong ayahnya, seekor aligator menyerang mereka. Diketahui, Dave terluka akibat serangan aligator yang masuk dari saluran pembuangan di rumahnya.

Sementara itu badai terus bertambah parah dan dikabarkan pula bahwa tanggul tidak akan kuat menampung debit air. Haley dan Dave pun masih terjebak dalam basemen yang akan segera terendam banjir bersama aligator yang siap memangsa mereka.

Berhasilkan Harley dan Dave menyelamatkan diri dari banjir dan teror aligator? 

Meski jalan ceritanya tergolong sederhana, tapi adegan menegangkan yang diramu Alexandre Aja di film berdurasi 87 menit itu bisa membuat penonton terkaget-kaget.

Film itu menghabiskan biaya produksi sekitar 17 juta dolar AS atau sekitar Rp 239,7 miliar. Jangan berharap mendapat tontonan dengan efek visual yang ciamik, tapi cukup mesti tidak sempurna.

Salah satu hal yang menonjol dalam “Crawl” adalah pemilihan dua pemeran utamanya.  Kaya Scodelario sudah terkenal lewat film-film seperti “Skins”, “Pirates of the Caribbean: Dead Men Tell No Tales”, “Extremely Wicked”, dan “Shockingly Evil and Vile”. 

Sementara itu, Barry Pepper, dikenal lewat “Saving Private Ryan” dan “True Grit”.

Dalam pembuatan “Crawl” Alexander Aja bekerja sama dengan Michael Rasmussen dan Shawn Rasmussen sebagai penulis skenario. Sebelumnya mereka menulis untuk film “The Ward” (2010).

Crawl diproduseri oleh sang ikon film horor, Sam Raimi, pria di belakang film waralaba “Evil Dead”. Selain Sam Raimi film itu juga diproduseri oleh Craig Flores, yang dikenal karena karyanya saat memproduksi film “300”.

Alexandre Aja memang terkenal dengan film-film bergenre horor. Ia mulai populer setelah film garapannya tahun 2003, “Haute Tension” –dikenal sebagai “High Tension” di Amerika Serikat dan “Switchblade Romance” di Britania Raya.

Pria kelahiran Prancis itu juga menggarap film bertema horor lainnya yaitu “Hills Have Eyes” (2008), “Piranha 3D” (2010), dan “Horns” (2013).

Baca juga: “Crawl” tayang serentak hari ini
 

Pewarta: Galih Pradipta
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pembajak komik Jepang ditangkap di Manila

Jakarta (ANTARA) – Romi Hoshino, manajer dari situs Manga-Mura yang sudah tidak aktif, telah ditangkap di Manila setelah pemerintah Jepang melancarkan perburuan internasional.

Situs yang telah tidak aktif sejak April tahun lalu dikunjungi sekitar 100 juta orang per bulan dan menampilkan sekitar 60.000 manga (komik Jepang) bisa dibaca secara cuma-cuma, demikian seperti dikutip dari AFP.

Hoshino (27) ditangkap di bandara internasional Ninoq Aquino, Manila, pada Minggu (7/7). Kotaku melaporkan Kedutaan Jepang di Manila meminta agar Hoshino ditangkap, lalu polisi dikerahkan lewat koordinasi antara otoritas Jepang dan Biro Imigrasi Filipina.

Hoshino mengoperasikan situs Manga-Mura yang ditutup oleh pemerintah Jepang pada April 2018. NHK melaporkan Hoshino “punya peran besar” dalam pengoperasian Manga-Mura.

Situs Manga-Mura adalah satu dari tiga laman yang ditutup pemerintah Jepang untuk memberantas pembajakan Internet. Asosiasi Distribusi Konten Luar Negeri Jepang memperkirakan Manga-Mura menyebabkan kerugian 2,93 miliar dolar AS pelanggaran hak cipta, yang terburuk dalam sejarah Jepang.

Saat ditangkap di Manila, Hoshino akan bertolak ke Hong Kong. Ia akan dideportasi ke Jepang.

Baca juga: Jepang selenggarakan Kontes Manga Internasional ke-13

Baca juga: Komik “One Piece” sampai “Dragon Ball” berbahasa Inggris bisa dibaca gratis
 

Gaet pemilih milenial, Kemendagri luncurkan komik digital

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ganjar Pranowo berperan sebagai polisi dalam film Sang Prawira

Semarang (ANTARA) – Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo berperan sebagai seorang polisi berpangkat komisaris besar dalam film layar lebar berjudul Sang Prawira karya sutradara Ponti Gea yang akan tayang di bioskop pada 1 Oktober 2019.

“Bapak saya itu dulu mengharapkan ada anaknya yang menjadi polisi. Harapan itu ditujukan kepada saya. Kalau jadi polisi angkatan 90, mungkin sekarang berpangkat Kombes atau bintang satu. Akhirnya saya menjadi polisi, tapi di film,” kata Ganjar di Semarang, Rabu.

Dalam film yang 95 persen pemerannya personel Kepolisian Daerah Sumatera Utara dengan bintang utama Anggika Bolsterli itu, Gubernur Ganjar menjadi anggota Polri yang mengajar mata kuliah Pancasila di Akademi Kepolisian.

Sutradara Ponti Gea mengatakan, film yang rencananya berdurasi 100 menit itu bercerita tentang perjalanan seorang anak desa dari pinggiran Danau Toba yang bercita-cita menjadi polisi.

“Kami melibatkan Bapak Gubernur Jateng karena kami ingin menunjukkan kerja sama yang kuat antara kepolisian dengan pemerintah,” ujarnya.

Ponti juga melibatkan Bripka Herman Adi Basuki, operator PLD Sub Bagian Humas Polres Purworejo yang dikenal sebagai Pak Bhabin Herman di YouTube Polisi Motret.

Ponti mengemukakan, film itu menyuguhkan pergulatan sebuah keluarga dalam membuat keputusan mengenai pendidikan lanjutan bagi anak yang masih duduk di bangku SMA.

“Si ibu ingin menuruti kemauan anaknya jadi polisi, sementara si bapak lebih condong anaknya bekerja di luar negeri agar dapat menolong keuangan keluarga yang selama ini tergolong miskin,” katanya.

Selain menampilkan profesionalisme polisi dalam menjalankan tugas, film Sang Prawira juga menyuguhkan kultur serta destinasi wisata lokal.

Pengambilan gambar untuk film itu dilakukan di 130 titik yang tersebar di daerah seperti Karo, Simalungun, Tobasa, Humbahas Tanjung Balai, Sibolga, Nias, Medan, Semarang (Akpol), dan Jakarta (Mabes Polri).

Baca juga: Ganjar Pranowo undang orang-orang bahagia ikuti Borobudur Marathon

Pertama kali, Jateng ekspor edamame ke Belanda

Pewarta: Wisnu Adhi Nugroho
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Beyonce rilis “Spirit”, lagu baru untuk “Lion King”

Jakarta (ANTARA) – Beyonce merilis satu lagu baru dari album musik film (soundtrack) “Lion King” berjudul “Spirit” pada Selasa malam, seperti dilansir People, Rabu.

Album yang diproduseri dan dikurasi Beyonce, menurut Disney akan dirilis di hari yang sama saat film-nya tayang di bioskop bulan ini.

“‘Spirit’, satu single dari album dan soundtrack untuk The Lion King akan tersedia malam ini,” kata Disney dalam pengumumannya. 

Sebelumnya, sutradara Jon Favreau mengonfirmasi bahwa Beyonce menulis sebuah lagu untuk film, meski belum diungkap judulnya.

“Kami punya semua lagu aslinya, tapi ada satu lagu yang dibawakan dan ditulis untuk produksi film ini bekerja sama dengan Lebo M., yang jadi bagian ini dengan Hans Zimmer,” kata Favreau pada Fandago, bulan lalu.

“Mereka semua berkolaborasi dengannya dan membantu musik baru ini ke dalam sebuah film yang memang sudah punya karakter musikal di dalamnya,” kata pria yang juga sutradara “Jungle Book” itu.

Beyonce juga menyanyikan versi terbaru lagu klasik “Can You Feel the Love Tonight” dari film aslinya bersama dengan Donald Glover yang ditampilkan di teaser yang dirilis bulan lalu.

Selain Beyonce, Elton John juga akan mengisi album musik film itu dengan lagu berjudul “Never Too Late.”

Minggu lalu, Disney membagikan foto-foto baru para pemeran di balik pembuatan ulang film animasi klasik 1994, termasuk Donald Glover sebagai Simba, Seth Rogen, Billy Eichner, dan John Oliver masing-masing sebagai Puumba, Timon dan Zazu. Sementara, sang penyanyi “Lemonade” sebagai Nala.

Ada juga Keegan Michael-Key, Florence Kasumba, dan Eric Andre sebagai para hyena, dan Alfre Woodard sebagai Sarabi, Chiwetel Ejiofor sebagai Scar, dan duo JD McCrary dan Shahadi Wright Joseph sebagai Simba muda dan Nala muda.

“Spirit” bisa diunduh di semua layanan musik digital seperti Tidal, Spotify, dan Apple Music.

The Lion King akan tayang di bioskop pada 19 Juli.

Baca juga: Beyonce jadi produser album “The Lion King”

Baca juga: “The Lion King” trailer Disney paling banyak ditonton sepanjang masa
 

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Aktor Kang Ji-Hwan ditangkap dengan tuduhan kekerasan seksual

Jakarta (ANTARA) – Aktor Kang Ji Hwan dilaporkan telah ditangkap polisi di kediamannya di Gwangju, Korea Selatan, pada Selasa (9/7) waktu setempat atas tuduhan melakukan kekerasan seksual.

Menurut laporan yang dilansir Soompi, Rabu, Kang Ji-Hwan pulang ke rumah dengan dua karyawan perempuan dari agensinya (selanjutnya disebut “A” dan “B”) untuk minum-minum setelah acara makan malam agensinya.

Malamnya, dia pergi ke kamar tempat kedua perempuan itu tidur dan melakukan pelecehan pada “A” dan perbuatan tidak senonoh pada “B.”

Di malam yang sama pada pukul 9.41 waktu setempat, “A” mengirim pesan singkat ke seorang teman di Seoul dan berkata, “Saya minum-minum di rumah aktor Kang Ji-Hwan, dan sekarang kami terjebak.”

Ia laly meminta temannya untuk melaporkannya.

Ketika polisi tiba di rumah Kang Ji-Hwan, “A” mengatakan bahwa dia sedang tidur saat Kang Ji-Hwan menyerangnya, dan sang aktor pun ditangkap.

Di kantor polisi, Kang Ji-Hwan berkata, “Saya ingat minum-minum, tapi saya tidak ingat apa-apa setelah itu. Ketika saya membuka mata saya, saya berada di ruangan (tempat “A”) sedang tidur.”

Setelah beberapa pertanyaan, Kang Ji-Hwan, yang masih mabuk, ditahan. Sampai saat ini, polisi masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Kang Ji-Hwan saat ini membintangi drama TV “Joseon Survival”. Aktor tersebut juga pernah bermain dalam serial “Lie to Me”, “Capital Skandal”, “Big Man”, “Monster”, “Feel Good to Die” dan lainnya.

Karena penangkapannya itu, episode yang menampilkan dirinya telah dibatalkan, termasuk tayangan ulangnya untuk minggu ini.
  Baca juga: Min-woo Shinhwa dituduh lecehkan wanita, polisi lakukan investigasi

Baca juga: Jung Joon-young bantah tuduhan perkosaan
 

Kocca Indonesia & aT selenggarakan festival Korea

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Beyonce jadi produser album “The Lion King”

Jakarta (ANTARA) – Beyonce yang mengisi suara Nala dalam film “The Lion King” menjadi produser dan kurator album “The Lion King: The Gift”, yang akan dirilis 19 Juli.

Selain menjadi produser, istri dari Jay-Z itu juga menyumbangkan lagu “Spirit” yang mulai diluncurkan pada 10 Juli, demikian dilansir NME, Rabu.

Album “Lion King” akan menampilkan artis-artis dunia dan diklaim “menggunakan suara-suara dari Afrika”.

“The Lion King: The Gift” diluncurkan berbarengan dengan tanggal penayangan “The Lion King”. Album itu disebut sebagai ode musikal untuk kisah klasik “The Lion King”.

Beyonce juga menggambarkan album tersebut sebagai sebuah pengalaman baru dalam bercerita.

“Saya ingin melakukan lebih dari mengumpulkan koleksi lagu yang terinspirasi dari film. Ini adalah campuran dari berbagai genre dan kolaborasi yang bukan hanya satu suara. Album ini dipengaruhi oleh semua jenis musik mulai dari R&B, pop, hip hop dan afrobeat,” ujar Beyonce. Baca juga: Disney ungkap peran Beyonce di “Lion King” lewat video teaser terbaru

Baca juga: Jelang rilis “The Lion King”, Disney tayangkan adegan “Hakuna Matata”
 

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Crawl” tayang serentak hari ini

Jakarta (ANTARA) – Film bertema bencana “Crawl” yang bercerita tentang upaya penyelamatan di tengah banjir dan badai topan, mulai tayang serentak di bioskop pada Rabu.

Dua tokoh utama dalam “Crawl” adalah Haley (Kaya Scodelario), seorang atlet renang, dan ayahnya Dave (Barry Pepper). Disutradarai Alexandre Aja, film berdurasi 87 menit itu, menyuguhkan ketegangan bagi penontonnya.

​​​​​​​Haley mengabaikan perintah evakuasi demi menyelamatkan ayahnya Dave ketika badai besar menghantam kota kelahirannya di Florida.

Akibatnya, mereka berdua terperangkap di tengah-tengah banjir yang menenggelamkan kota. Saat berusaha bertahan, keduanya mengetahui bahwa naiknya permukaan air bukanlah satu-satunya ancaman yang perlu ditakuti.

Mereka juga harus berhadapan dengan aligator yang siap memangsa.

“Crawl” diproduseri oleh Craig J. Flores, Sam Raimi, dan Alexandre Aja.

Baca juga: Joe Taslim akan perankan Sub-Zero dalam film “Mortal Kombat”

Baca juga: Samuel L. Jackson dan Chris Rock akan main di film “Saw”
 

Pewarta: Galih Pradipta
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Cameron Boyce meninggal karena epilepsi

Jakarta (ANTARA) – Keluarga bintang Disney Cameron Boyce mengonfirmasi pada People, Selasa malam bahwa sang aktor meninggal karena penyakit epilepsi.

“Kematian tragis disebabkan oleh kejang yang diakibatkan oleh kondisi kesehatan yakni epilepsi,” kata pihak keluarga dalam sebuah pernyataan kepada People yang dilansir Rabu.

“Kami masih mencoba melalui waktu yang sangat memilukan ini dan masih memohon privasi sehingga keluarga dan semua orang yang mengenal dan mencintai dia bisa berduka atas kehilangan dan mengatur pemakamannya-yang merupakan momen menyedihkan,” kata keluarga.

Baca juga: Cameron Boyce meninggal karena kejang saat tidur, apa penyebabnya?

Sebelumnya penyebab kematian Boyce belum bisa ditentukan padahal sudah diautopsi pada Senin.

“Autopsi sudah dilakukan hari ini dan penyebab kematian masih ditunda sampai ada investigasi selanjutnya,” kata Departemen Pemeriksa Medis dan Koroner, Los Angeles dalam keterangan resminya.

Boyce “ditemukan tidak responsif di rumahnya” pada Sabtu sore dan dinyatakan tewas di tempat kejadian setelah pihak berwenang dipanggil, kata petugas koroner.

Keluarga mengungkapkan kesedihan mereka dalam pernyataan sebelumnya, dengan mengatakan, “Dunia sekarang tidak diragukan lagi kehilangan salah satu dari cahaya terangnya, tetapi jiwanya akan tetap hidup melalui kebaikan dan kasih sayang semua orang yang mengenal dan mencintainya.”

Aktor kelahiran Los Angeles tersebut terkenal karena perannya sebagai putra Cruella de Vil di serial televisi “Descendants”, dan sebagai Luke Ross di “Jessie”, yang tayang selama empat musim di Disney Channel.

Baca juga: Autopsi Cameron Boyce selesai, penyebab pasti kematian belum diketahui

Baca juga: Adam Sandler sedih atas kematian anaknya di “Grown Ups”, Cameron Boyce
 

Pertunjukan Disney On Ice

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Dua Garis Biru”, drama remaja tentang cinta dan tanggung jawab

Jakarta (ANTARA) – Film “Dua Garis Biru” menceritakan tentang Dara (Zara Adhisty) dan Bima (Angga Yunanda) yang tengah menjalin kasih di usia remaja, 17 tahun, dan sama-sama menempuh pendidikan di bangku sekolah menengah atas (SMA).

Dara digambarkan sebagai siswi yang memiliki nilai akademis sangat baik di sekolah, dan berasal dari keluarga terpelajar. Sebaliknya, Angga bukanlah murid spesial seperti kekasihnya itu.

Perbedaan tersebut tidak menghalangi mereka untuk memadu kasih. Mereka bisa menjadi diri sendiri, nyaman dengan satu sama lain. Hingga akhirnya pada suatu titik, muncul keberanian baru di antara mereka.

Keduanya melanggar batas tanpa tahu konsekuensinya.

Dara dan Bima, yang merasa sudah siap menjadi dewasa, harus berusaha menjalani tanggung jawab atas pilihan mereka dan menghadapi segala konsekuensinya.

Keluarga yang amat mencintai mereka lalu tahu dan memaksa masuk dalam pilihan mereka.

Balutan emosi berhasil dikemas oleh Gina S. Noer dalam film pertama yang ia sutradarai ini. Tak hanya konflik, terdapat dialog-dialog dan guyonan ringan ala anak SMA yang mengocok perut dan menambah nilai hiburan dari film ini.
  Poster “Dua Garis Biru” (dok. Starvision)

Alur cerita yang disampaikan Gina, digabung dengan teknik-teknik pengambilan gambar yang variatif membuat film ini tak hanya runtut dalam story telling, tapi juga menyuguhkan dinamika emosi tersendiri untuk penonton.

Didukung dengan penampilan aktor dan aktris nasional seperti Lulu Tobing (Rika), Cut Mini (Yuni), Dwi Sasono (David), hingga Arswendy Bening Swara (Rudy), semakin memberikan warna drama dalam jalannya cerita.

“Dua Garis Biru” bukanlah film yang menceritakan indahnya kisah cinta remaja, namun juga memberikan gambaran mengenai batasan tentang sebuah hubungan, yang bukan hanya harus diketahui anak, tapi juga membutuhkan peran orang tua untuk membimbing anak-anaknya.

Film yang naskahnya membutuhkan pengerjaan selama sembilan tahun ini dapat menjadi pilihan film yang tepat untuk ditonton bersama keluarga dan menjadi sebuah wadah diskusi baru bagi anak dan orang tua.

Kisah Dara dan Bima dapat disaksikan di layar lebar seluruh Indonesia mulai 11 Juli mendatang.

Baca juga: Sempat dikecam, ini tanggapan sutradara “Dua Garis Biru”

Baca juga: Zara JKT48 sempat minder berakting di “Dua Garis Biru”

Baca juga: Absen 7 tahun, Lulu Tobing gugup saat kembali berakting

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Friends” tinggalkan Netflix tahun depan

Jakarta (ANTARA) – Serial komedi situasi “Friends” asal Amerika Serikat akan pindah rumah dari Netflix ke layanan streaming HBO Max pada 2020, demikian pernyataan WarnerMedia, Selasa waktu setempat.

Dilansir Reuters, layanan media streaming baru itu akan menampilkan puluhan tayangan orisinal televisi dan film yang dibintangi aktor-aktor populer seperti Reese Witherspoon dan Anna Kendrick, serta acara dari saluran HBO, TBS, dan tayangan klasik dari film dan serial televisi Warner Bros.

HBO Max akan diluncurkan pada Maret 2020 dengan total 10.000 jam program, kata WarnerMedia dalam siaran pers.

Layanan itu akan jadi pesaing Netflix serta layanan streaming Disney+ serta layanan lain seiring upaya perusahaan media menggaet penonton melalui jaringan Internet.

Baca juga: Sitkom “Friends” siap dijadikan parodi musikal Broadway

“Friends” yang tayang pada 1990-an adalah acara kedua paling banyak ditonton dalam Netflix Amerika Serikat jika dihitung berdasarkan menit tontonan, berdasarkan data Nielsen 2018.

Serial Netflix yang paling sering ditonton yaitu komedi “The Office” juga akan pindah dari Netflix ke layanan digital milik NBCUniversal pada 2021.

Netflix, dalam komentar di Twitter, mengatakan mereka “sedih untuk melepaskan ‘Friends'” pada awal 2020. “Terima kasih untuk semua kenangannya, geng,” tulis perusahaan itu.

Baca juga: Lisa Kudrow ogah nonton ulang “Friends”, ini alasannya

Baca juga: “The Office” tinggalkan Netflix pada 2021

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pasar film Indonesia tumbuh, Bekraf buat insentif untuk lokasi syuting

Jakarta (ANTARA) – Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Ricky Joseph Pesik membuat insentif untuk layanan lokasi syuting bagi para pengusaha film seiring dengan tumbuhnya pasar film di Indonesia.

“Kita masih sedang mengejar sekarang hadirnya insentif-insentif untuk location service, ini yang sekarang oleh Bekraf sedang digagas dengan pembentukan beberapa komisi film daerah,” ujar Ricky usai temu media AKATARA 2019 di Jakarta, Selasa.

Menurut Ricky, Indonesia mengalami kemajuan eksponensial dalam pasar film sejak relaksasi pencabutan film dari Daftar Negatif Investasi (DNI). Indonesia menjadi lebih maju pada sektor produksi, yang terlihat dari jumlah produksi film lokal yang semakin banyak.

Kemajuan tersebut bahkan disebut Ricky membuat Indonesia menjadi salah satu negara Asia yang memiliki pertumbuhan sangat eksponensial yang membuat baik pengusaha nasional maupun pengusaha multinasional tertarik pada film Indonesia.

Di berbagai kesempatan ajang film internasional, Ricky mengatakan banyak pembuat film bertanya soal paket insentif yang bisa ditawarkan pemerintah, yakni berupa lokasi syuting.

“Ini adalah sebuah model bisnis yang berlaku sekarang di dunia perfilman, semua negara semua kota di dunia itu menawarkan paket-paket insentif,” kata Ricky.

“Untuk itu, Bekraf bekerjasama dengan beberapa kabupaten, maupun kota untuk mulai mendirikan yang disebut komisi film daerah, dan memformulasi insentif apa yang bisa diberikan daerah tersebut apabila perusahaan-perusahaan asing ingin syuting di daerah mereka,” lanjut dia.

Lebih lanjut, Ricky mengungkapkan sejauh ini telah ada pembuat film yang berminat untuk melakukan syuting di Tanah Air.

“Ada tapi masih rahasia. Ada satu sutradara besar yang sedang menjajaki syuting di Indonesia,” ujar Ricky, sambil tertawa.

Tidak hanya memfasilitasi pembuat film dari luar negeri untuk memproduksi film mereka di Indonesia, Ricky menambahkan, Bekraf juga secara rutin memfasilitasi film nasional untuk mempromosikan diri di ajang festival film internasional, misalnya Cannes dan Busan.

Lebih dekat dengan bintang film Roh Fasik

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Akatara 2019 bakal fasilitasi 61 proyek film Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Badan Perfilman Indonesia (BPI) melalui forum pembiayaan film Indonesia yang disebut Akatara, akan memfasilitasi 61 proyek film guna dipertemukan kepada investor dalam pitching session, yang akan digelar pada 19-22 September 2019.

“Nanti kita akan pilih 61 project, kita fasilitasi, tiap project kita fasilitasi dua orang untuk acara pitching session-nya,” ujar Ketua Bidang Fasilitas Pembiayaan Film BPI Agung Sentausa di Jakarta, Selasa.

Agung mengatakan jumlah tersebut meningkat dibandingkan penerimaan proposal di dua tahun penyelenggaraan sebelumnya. Tahun ini akan ada 61 proyek terfasilitasi dari 122 orang, lebih banyak dari tahun lalu sejumlah 55 dari 100 orang.

Menurutnya, pengelolaan bisnis di bidang perfilman di Indonesia masih dalam tahap pembelajaran, dimana seluruh stakeholder yang meliputi penulis naskah hingga investor film masih meraba cara mereka untuk berkolaborasi.

“Yang penting semua stakeholder dari penulis, researcher, pembuat film, produser film, pengusaha film, pengusaha biskop bahkan kuliner dan musik semua ketemu dulu, tukeran kartu nama karena acara ini berlangsung empat hari,” ujar Agung.

Ia mengharapkan adanya pertemuan lanjutan, maupun dana-dana hibah dari lembaga pemerintahan atau swasta yang dapat dikolaborasikan dalam mendukung proyek-proyek film mendatang.

Akatara akan digelar pada 19-22 September 2019 di The Sultan Hotel Jakarta. Pendaftaran proposal dibuka pada 9 Juli hingga 9 Agustus, informasi terkait pendaftaran dan formulir pendaftran proposal film terdapat di portal akatara.id

Baca juga: Akatara 2019 ajang “perjodohan” pembuat film dengan investor

Baca juga: Perkembangan film nasional cukup menggembirakan

Baca juga: BPI gandeng Viddsee promosikan film pendek

Baca juga: Bekraf: Film akan dapat bantuan modal ventura

Akatara 2018 saring 50 proposal film

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Akatara 2019 ajang “perjodohan” pembuat film dengan investor

Jakarta (ANTARA) – Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) bersama Badan Perfilman Indonesia (BPI) kembali menggelar forum pembiayaan film Indonesia yang disebut Akatara, guna menumbuhkan bisnis layar lebar di Tanah Air, dengan mempertemukan para pembuat film dengan investor.

Akatara bakal digelar 19-22 September 2019 di The Sultan Hotel Jakarta, dan penyelenggaraan tahun ini diklaim berbeda dibandingkan dua tahun sebelumnya karena pada tahun ini akan dijadikan forum pendanaan sekaligus mempertemukan pembuat film dan investor dalam satu arena.

“Mulai tahun ini dengan perkembangan di tahun pertama dan tahun kedua, Akatara kita kembangkan atau kita lebarkan lagi menjadi film market dan bussiness forum,” ujar Direktur Program Akatara Vivian Idris di Jakarta, Selasa.

Pada penyelenggaraan ketiga, Akatara 2019 akan memberi perhatian cukup besar pada penguatan badan usaha berupa “film company start-up,” dimana semakin banyak pemain baru.

Akatara mengundang lebih banyak investor dan proyek terpilih yang difasilitasi dari berbagai macam genre dan kegiatan perfilman lainnya.

Baca juga: “Docs By The Sea Incubator” diharapkan jangkau industri film dunia

Tahun ini akan ada 61 proyek terfasilitasi dari 122 orang. Jumlah itu lebih banyak dari tahun lalu sejumlah 55 dari 100 orang.

Sementara di sektor investor, akan ada 40 sumber pendanaan yang hadir selama pitching forum dan speed dating dalam mempertemukan pembuat film dan investor.

Dua program tersebut menjadi ajang perjodohan bagi pembuat film tanah air dengan investor dalam menggarap proyek film.

Proyek-proyek yang sukses diwujudkan dalam campur tangan Akatara antara lain Keluarga Cemara, Mantan Manten, Darah Biru Arema, dan masih banyak film lainnya.

“Kita mendefinisikan highlight Akatara, yaitu film enterpreneurship dan juga film startup, karena pembuat film tidak bisa bekerja sendiri dan bekerja dengan fokus jika tidak didukung oleh pengusaha di perfilman yang mendukung sebuah karya ini sebagai benda ekonomi dan artistik yang bisa dinikmati, didistribusi dan ditonton banyak orang,” ujar Vivian.

Kemudian, bagi pengunjung luar yang akan melirik karya-karya pembuat film, akan ada 100 booth mini expo beragam dan bebas untuk dikunjungi.

Selain itu, kerja sama Akatara dengan pihak Aprofi dan Komite Buku Nasional menginisiasi program Akatara IP-market, mempertemukan penulis buku atau novel kepada produser film.

Kerja sama khusus juga dijalin dengan TUTA (The United Team of Art) Lab berupa program investasi proyek film khusus bertema urban legend, dan memberi dukungan untuk mensupervisi, membiayai, dan mengolah proposal film sampai siap dan matang untuk diajukan ke investor produksi film. Pendaftaran proposal dibuka pada 9 Juli hingga 9 Agustus, informasi terkait pendaftaran dan formulir pendaftran proposal film terdapat di portal akatara.id

Baca juga: Bekraf : film memiliki efek multiplier yang baik

Baca juga: Bekraf: layanan OTT dan bioskop tetap berkembang di masa depan

Baca juga: Gratiskan layanan, iflix komitmen perbanyak konten lokal

BEKRAF targetkan 300 pengusaha milenial dari 5 kota

Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tio Pakusadewo dilarikan ke rumah sakit

Jakarta (ANTARA) – Aktor Tio Pakusadewo dikabarkan terkena stroke dan dirawat di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Cawang, Jakarta Timur.

Menurut penuturan Surya, manajer Nagra Kautsar yang merupakan putra Tio, ia baru mendapat kabar mengenai sang aktor pagi tadi.

“Yang jelas beliau sudah ditangani di rumah sakit Cawang,” kata Surya, Selasa.

Surya mengatakan Tio saat ini didampingi oleh putranya, Nagra.

Dia belum bisa memastikan kondisi terbaru Tio Pakusadewo, begitu pula soal kabar penyakit stroke yang membuatnya dilarikan ke rumah sakit.

“Setahu saya, yang saya lihat untuk akhir-akhir ini sih beliau sehat-sehat saja, enggak ada riwayat sakit apa pun,” kata Surya.

Pihak keluarga Tio Pakusadewo belum memberikan komentar saat dihubungi.

Baca juga: Hakim perintahkan Tio Pakusadewo jalani rehabilitasi

Baca juga: Tio Pakusadewo berharap dapat keringanan hukuman

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Iqbaal Ramadhan dan budaya kopi dari luar negeri

Jakarta (ANTARA) – Budaya kopi merasuk ke kehidupan Iqbaal Ramadhan semenjak ia mencicipi rasanya bersekolah di Amerika Serikat. Minuman pekat itu jadi bagian yang tak terpisahkan sehari-hari, menemaninya belajar di negeri orang.

“Sekarang saya sekolah di Melbourne yang disebut surga kopi, di jalan banyak coffee shop, minum kopi jadi bagian dari hidup saya,” ujar Iqbaal di peluncuran kopi “Caffino”, Jakarta, Selasa.

Mahasiswa Monash University, Melbourne, Australia yang mengambil jurusan Media Communication itu mengemukakan kopi sangat penting di sana.

“Mending enggak sarapan daripada enggak ngopi,” tutur aktor yang mulai menyukai minuman itu sejak 2016.

Bagi aktor kelahiran 28 Desember 1999 itu, kopi membantunya terjaga saat harus mengerjakan berbagai tugas dan esai yang menumpuk di bangku kuliah.

Saking terbiasa menyesap kopi, dia punya French Press alias perangkat penyeduh kopi yang jadi andalannya untuk menikmati minuman favoritnya setiap pagi.

Di luar rasa, pemeran “Dilan” itu tidak terlalu pemilih. Ia bisa menikmati kopi yang bijinya baru digiling, tapi tidak anti dengan kopi kemasan sachet kemasan. Selama rasanya pas di lidah, semua bisa dia nikmati.

“Saya enggak masalah dengan itu,” ujar brand ambassador “Caffino”.

Berbagai jenis kopi sudah dicicipinya, mulai dari espresso yang rasanya kuat, cappucino sampai piccolo. Tapi ada satu jenis yang menurut Iqbaal “tidak pernah salah”: kopi latte yang berisi campuran susu.

“Dari pertama saya suka latte, sampai sekarang, itu rasa yang tidak pernah salah. Di Melbourne ada kopi yang namanya ‘Magic’, saya juga suka itu.”

Dalam sehari, ia setidaknya harus menyesap secangkir kopi. Waktu favoritnya untuk minum kopi adalah setelah bangun tidur atau setelah makan siang.

“Saya enggak bergantung sama kopi, tapi kalau tidak ngopi rasanya aneh,” ujar aktor yang ingin mencoba bekerja sebagai barista di Melbourne.

Bukan cuma kafe yang jadi tempat “ngopi”, Iqbaal juga pernah mencoba minuman buatan “Starling” atau “Starbucks Keliling”, istilah untuk penjual kopi yang menjajakan minuman itu dengan sepeda.

“Pernah, tapi lupa kapan,” seloroh dia.

Baca juga: Cuplikan “Bumi Manusia” dan “Perburuan” dirilis serentak

Menteri BUMN dukung santri pasarkan kopi Nusantara

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019