Hadir di Cannes, Selena Gomez keluhkan bahaya media sosial

Jakarta (ANTARA) – Penyanyi pop AS dan aktris Selena Gomez mengeluhkan bahaya media sosial dan efeknya pada generasi muda. Menurut dia, media sosial dapat berbahaya dan berkontribusi pada dunia disinformasi serta perundungan.

“Media sosial berdampak buruk pada generasiku,” ujar Gomez (26) dalam konferensi pers di festival film Cannes, Rabu (15/5), di mana sang aktris mempromosikan film zombie “The Dead Don’t Die” bersama aktor Bill Murray dan Tilda Swinton, demikian seperti dilansir Reuters.

Saat ditanya tentang bahaya yang mengancam planet, Gomez menambahkan, “Aku mengerti luar biasa untuk memakai platform-mu, tapi menakutkan ketika kau melihat betapa tak terlindung anak-anak muda ini, dan mereka tidak terlalu mengetahui berita atau apa yang terjadi.. Kupikir itu berbahaya, tentu. Aku berpikir kadang orang-orang tidak mendapatkan informasi yang benar.”

Disutradarai Jim Jarmusch, film komedi zombie itu bicara tentang orang yang menolak perubahan iklim dan mengolok-olok bahaya dari masyarakat yang terlalu materialistis, termasuk lelucon tentang zombie yang mencari koneksi Wi-Fi.

Gomez adalah salah satu pesohor yang punya pengikut banyak di Instagram, lebih dari 150 juta pengikut, tapi dia rihat dari platform tersebut.

“Kupikir tidak mungkin membuat (media sosial) aman saat ini,” kata mantan bintang Disney TV itu.

“Saya tidak banyak mengunggah foto-foto yang kurang berarti. Saya pikir saya lebih suka membuat foto yang punya arti. Buat saya menakutkan, itu saja, karena saya melihat banyak perempuan muda dan saya bertemu dengan mereka di jumpa penggemar atau sebagainya, dan mereka merasa kacau, menghadapi perundungan dan tidak bisa menyuarakan pendapat sendiri.”

Baca juga: Tilda Swinton, Selena Gomez di karpet merah Cannes

Baca juga: Ariana Grande rebut gelar ratu Instagram dari Selena Gomez
 

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Black Mirror” musim kelima hadirkan Miley Cyrus

Jakarta (ANTARA) – Serial fiksi ilmiah “Black Mirror” musim kelima akan tayang pada 5 Juni, seperti diumumkan Netflix, dengan pemeran baru seperti Miley Cyrus, aktor “Avengers” Anthony Mackie dan bintang “Fleabag” Andrew Scott.

Charlie Brooker dan Annabel Jones, pencipta “Black Mirror”, kembali dengan tiga cerita baru, sekitar enam bulan setelah penayangan “Black Mirror: Bandersnatch”, edisi istimewa interaktif dari tayangan itu yang menawarkan pilihan cerita untuk penonton.

Dilansir Reuters, Netflix mengunggah trailer untuk serial baru yang dibuka dengan karakter Scott duduk di mobil memegang pistol saat berselisih dengan polisi.

Mackie yang terlihat bosan kemudian muncul, sementara di cerita ketiga, Cyrus dengan wig ungu tampil di panggung di hadapan penonton.

“Black Mirror”, yang ceritanya mengisahkan dampak teknologi pada masyarakat modern, debut di Inggris pada 2011 sebanyak tiga episode, pertama kali menampilkan kisah fiksi perdana menteri Inggris dipaksa berhubungan badan dengan babi di siaran langsung televisi.

Musim dua tayang pada 2013, keduanya kemudian dimasukkan ke daftar tontonan Netflix.

Baca juga: Miley Cyrus wakili Liam Hemsworth di penayangan perdana “Isn’t It Romantic”

Baca juga: Di era Netflix, sutradara Inarritu mengelukan pengalaman di bioskop
 

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lisa Kudrow ogah nonton ulang “Friends”, ini alasannya

Jakarta (ANTARA) – Serial komedi “Friends” akan menginjak usia 25 tahun pada September ini, namun setidaknya salah satu dari pemeran sitkom itu takkan menonton ulang tayangan fenomenal tersebut.

Aktris Lisa Kudrow, pemeran Phoebe Buffay, mengungkapkan pada Entertainment Tonight bahwa dia tidak menonton acara itu ketika tayang di televisi.

Dia mengakui,”Aku tidak menontonnya jika muncul di TV. Aku mungkin tidak menyukai diriku (di acara itu), jadi aku lebih baik tidak mengambil risiko.

Ketika ditanya apa kenangan dan episode favoritnya, aktris 55 tahun itu menjawab, “Episode pertama. Sungguh mendebarkan rasanya waktu itu.”

Dia melanjutkan, “Kami seperti anak-anak anjing, saling memanjat satu sama lain dan bermain-main. Menyenangkan.”

Komedi tentang enam sahabat di New York City tayang perdana pada 1994 dan terus berlanjut hingga 10 musim.

Para bintang, Kudrow, Jennifer Aniston, Courteney Cox, Matthew Perry, Matt LeBlanc dan David Schwimmer, bersatu padu untuk bernegosiasi mengenai honor mereka dan akhirnya setiap orang menghasilan sejuta dolar AS tiap episode untuk dua musim terakhir.

Baca juga: Lisa Kudrow merasa terlalu tua untuk “Friends”
 

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dokumenter Schumacher hadirkan wawancara keluarga dan kompetitor

Jakarta (ANTARA) – Mantan juara dunia Formula One Michael Schumacher akan jadi subjek film dokumenter, yang memperlihatkan arsip video yang belum tayang serta sesi wawancara, seperti diumumkan produser, Minggu (12/5), sebelum Festival Film Cannes.

Film yang disutradarai duo Jerman Michael Wech dan Hanns-Bruno Kammertoens, dibuat atas izin dari keluarga sang pebalap dan menampilkan wawancara dengan ayah Schumacher, istri, kedua anaknya, rekan-rekan yang menjadi kunci kemenangan Schumacher, hingga para kompetitor, yang akan dirilis pada akhir tahun ini.

Schumacher genap berusia 50 tahun pada 3 Januari lalu, tapi dia sudah lama tidak terlihat di hadapan umum sejak kecelakaan ski di Frech Alps lima tahun lalu yang mengakibatkan kepalanya cedera berat dan membuatnya koma.

Baca juga: Film dokumenter Schumacher diperkenalkan di Cannes

Dilansir Rueters, film itu sedang dalam proses pascaproduksi, di mana hak jual internasional akan dirilis di Marche du Film, acara bisnis yang digelar bersamaan dengan festival film di French Riviera yang dimulai pada 14 Mei.

Film lain yang akan diperkenalkan pada para buyer meliputi dokumenter band rock Led Zeppelin. Film yang belum ada judulnya itu akan menampilkan para anggota band, Jimmy Page, Robert Plant dan John Paul Jones.

Schumacher masih jadi pebalap motor paling sukses, dengan rekor 91 kemenangan grand prix. Dia mendapatkan dua gelar pertamanya dengan Benetton pada 1994 dan 1995, sebelum lima kali berturut-turut dengan Ferrari pada 2000-2004.

Pada Januari, keluarganya mengeluarkan pernyataan bahwa dia berada “dalam perawatan terbaik”.

Baca juga: Ari Sihasale ingin buat film dokumenter tentang Ambon

Baca juga: Noel akan tuntut Liam Gallagher terkait film dokumenter

Baca juga: Film dokumenter Michael Jackson “Leaving Neverland” hebohkan Sundance

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Hit & Run” didukung sineas terbaik Tanah Air

Jakarta (ANTARA) – “Hit & Run” akan menjadi salah satu tontonan yang ditunggu pada Juni 2019. Selain dibintangi oleh para aktor dan aktris ternama, ada orang-orang terbaik juga yang mengerjakannya di balik layar.

Selain bermain sebagai pemeran utama, Joe Taslim juga menguji kemampuannya sebagai creative producer. Ini adalah debut perdananya untuk ikut duduk di balik layar.

Joe sendiri berperan sebagai Tegar, di sini dia benar-benar tampil total sebab selain beraksi laga sebagai jagoan, dia juga harus berakting kocak.

Pada posisi sutradara, ada nama Ody C Harahap yang telah membuat lebih dari 10 film bergenre komedi romantis. Pengalamannya terbukti mampu mengocok perut penonton lewat film “Orang Kaya Baru”.

Ody duduk berbarengan dengan Upi dalam menulis cerita. Karya Upi pun sudah tidak diragukan lagi mulai dari thriller hingga komedi pernah digarapnya.

Untuk membuat film ini berskala epik, “Hit & Run” juga dibantu oleh Timo Tjahjanto untuk mengarahkan aksi dan Uwais Team sebagai koreografer laga. Timo telah berkolaborasi dengan Screenplay Films dalam membuat “Headshot” dan “Sebelum Iblis Menjemput”.

Film ini juga diramaikan oleh para atlet Indonesia yang berprestasi yaitu David Hendrawan, Peter Taslim, dan Simone Julia. David Hendrawan merupakan peraih medali emas wushu di PON 2016.

Sebelumnya David pertama kali diperkenalkan di film “Headshot”. Lalu ada Peter Taslim, kakak kandung Joe Taslim ini merupakan atlet judo senior yang telah menyumbangkan tiga medali emas di SEA Games 1997 dan 2011. Terakhir adalah yang paling gres, Simone Julia atlet jiu-jitsu Indonesia di Asian Games 2018.

“Hit & Run” dibintangi oleh Tatjana Saphira, Chandra Liow, Jefri Nichol, Nadya Arina dan Yayan Ruhian. Film yang tayang pada 4 Juni 2019 itu merupakan hasil kerjasama dari Screenplay Films, Legacy Pictures, Nimpuna Sinema, CJ Entertainment dan Bukalapak Pictures.

Baca juga: Jefri Nichol jadi pria cengeng di film “Hit N Run”

Baca juga: Tatjana Saphira ditantang bernyanyi di film “Hit N Run”

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Isyana – Gamaliel berkolaborasi untuk lagu tema “Aladdin”

Jakarta (ANTARA) – Menjelang peluncuran film live action yang diadaptasi dari kisah klasik Disney “Aladdin”, Disney Indonesia berkolaborasi dengan dua musisi papan atas Isyana Sarasvati dengan Gamaliel, untuk mempersembahkan versi terbaru dari lagu legendaris “A Whole New World”.

Lagu pemenang Academy Award yang dinyanyikan pertama kali di tahun 1992 oleh Lea Salonga dan Brad Kane ini merupakan salah satu lagu klasik Disney yang paling disukai oleh para penggemar hingga saat ini.

Disney Indonesia dalam keterangan pers, Senin, mengatakan versi terbaru dari “A Whole New World” akan memberikan sentuhan spesial khas Isyana dan Gamaliel yang akan membawa para penggemar di Indonesia ke sebuah dunia baru.

Lagu “A Whole New World” versi Isyana dan Gamaliel siap mengajak para penggemar bernostalgia mulai 17 Mei 2019 di seluruh digital streaming platform bersamaan dengan sebuah video klip spesial yang akan diluncurkan eksklusif di disneymusicasiaVEVO.

“Aladdin” akan hadir di bioskop-bioskop Indonesia mulai 22 Mei 2019.

Baca juga: “Aladdin on Broadway” kumpulkan lima “Jin” dalam satu panggung

Baca juga: Film live action “Aladdin” akan hadirkan lagu-lagu baru

“Aladdin” bercerita tentang petualangan seru dan penuh warna Aladdin – seorang pemuda jalanan yang menawan, Princess Jasmine yang pemberani, serta Genie yang mungkin dapat menjadi kunci bagi masa depan mereka.

Disutradarai oleh Guy Ritchie yang memberikan sentuhan luar biasa dalam kota Agrabah yang ikonik, film “Aladdin” dibuat berdasarkan naskah karya Jign August dan Ritchie berdasarkan kisah klasik dengan judul yang sama.

Film ini dibintangi oleh Will Smith sebagai Genie, Mena Massoud sebagai Aladdin, Naomi Scott sebagai Jasmine, Marwan Kenzari sebagai Jafar, Navid Negahban sebagai Sultan, Nasim Pedrad sebagai Dalia, Billy Magnussen sebagai Pangeran Anders, dan Numan Acar sebagai Hakim, tangan kanan dan kepala keamanan di istana Jafar.

Baca juga: Ini daftar film Disney yang akan tayang hingga 2019

Baca juga: LAKME luncurkan make up terinspirasi oleh Princess Jasmine
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Avengers: Endgame masih nomor 1, Detective Pikachu raup 58 juta dolar

Jakarta (ANTARA) – “Avengers: Endgame” masih berada di posisi puncak box office Amerika Utara dengan mengumpulkan 65 juta dolar AS selama akhir pekan ketiga di bioskop.

Film pamungkas dari pertarungan para Avengers itu berhasil melewati perolehan “Avengers: Infiniy War” (679 juta dolar AS) dan “Black Panther” (700 juta dolar AS), menjadikannya film terlaris ketiga tertinggi sepanjang masa di box office domestik dengan pendapatan 724 juta dolar AS dari penjualan tiket.

Secara keseluruhan, “Avengers: Endgame” merupakan film terbesar kedua yang pernah ada di dunia, dengan raihan total 2,48 miliar dolar AS, berada di belakang “Avatar” yang meraih 2,78 miliar dolar AS.

Namun, kesuksesan “Endgame” menguasai box office dibayang-bayangi dengan kehadiran “Detective Pikachu”. Film live action produksi Warner Bros dan Legendary itu berhasil menarik pendapatan 58 juta dolar ketika ditayangkan perdana di 4.202 tempat.

“Ini adalah akhir pekan yang hebat untuk Detective Pikachu,” kata kepala distribusi domestik Warner Bros, Jeff Goldstein melalui sambungan telepon, Minggu, seperti dilansir Reuters.

Goldstein punya alasan untuk bersorak. Awal yang mengesankan untuk Detective Pikachu menandakan kemenangan yang langka untuk film yang mengadaptasi video gim.

Film-film dengan genre serupa tidak begitu berhasil seperti “Super Mario Bros” dan “Doom”. Bahkan “Tomb Raider” yang dibintangi Alicia Vikander dan “Rampage” yang menghadirkan Dwayne Johnson tidak populer di kalangan penggemar video gim.

Menurut Goldstein, faktor yang membuat film ini berhasil karena karakter film “Detective Pikachu” yang riang. “Anda tidak perlu menjadi penggemar Pokemon untuk menonton filmnya.”

Film tentang makhluk kuning elektrik yang lucu itu, berhasil mengumpulkan 103 juta dolar dari 62 wilayah internasional, dan global 161 juta dolar pada akhir pekan. Pendapatan terbesar dari China sebesar 40 juta dolar, diikuti Inggris 6,6 juta dolar.

“Detective Pikachu” mendapat ulasan beragam dari para pecinta sinema, rata-rata 64 persen di Rotten Tomatoes.

Film ini dibuat berdasarkan seri Pokemon yang populer dan video gim tahun 2016 dengan nama yang sama.

Baca juga: Pokemon: Detective Pikachu, menggemaskan dan memantik nostalgia

Penerjemah: Heppy Ratna Sari
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Siapkan menu buka puasa, Ayudia Bing Slamet: Yang penting pedas

Jakarta (ANTARA) – Ayudia Bing Slamet mengaku tidak kerepotan saat menyiapkan menu sahur dan berbuka untuk suaminya, Muhammad Pradhana Budiarto atau yang akrab disapa Ditto. Menurut dia, yang terpenting rasanya harus pedas.

“Ditto suka banget makan yang pedas, apapun itu makanannya yang penting pedas. Porsi sih dia enggak terlalu banyak, karena kalau sahur jarang makan banyak. Yang penting pedas aja,” kata Ayudia ditemui di Jakarta, Senin.

Untuk pemilihan menu, Ayudia lebih suka menyiapkan masakan yang mudah dibuat khususnya ketika sahur.

“Masaknya sih macam-macam tapi yang jelas bikin lauk yang enggak mudah basi. Bikin ayam, ikan,” tutur Ayudia yang pernah membintangi sejumlah sinetron itu.

Ditto pun mengakui kalau dirinya penggemar makanan dengan banyak cabai. Baginya, hidangan yang tak pedas itu kurang nikmat.

“Sebenarnya bukan gimana, karena udah kebiasaan pedas aja. Kalau enggak pedas kayak enggak bisa makan, kayaknya enggak sedap aja,” ujar Ditto.

Sementara itu, soal anak semata wayang mereka, Ayudia dan Ditto sudah mulai memberikan pengetahuan tentang puasa kepada Sekala Bumi.

“Jelas berbeda karena Sekala sekarang umur tiga tahun. Kita kasih tahu puasa kayak gimana meskipun dia biasa aja,” kata Ditto.

Setelah resmi menjadi suami dan istri, Ayudia dan Ditto mengaku merasa lebih nikmat menjalani ibadah selama Ramadhan. Ditambah lagi dengan kehadiran anak mereka, Sekala Bumi.

Baca juga: Inspirasi tempat berbuka puasa di Jakarta

Ayudia Bing Slamet dan Ditto sama-sama pencemburu

Jakarta (ANTARA) – Pasangan Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion ternyata adalah pasangan yang pencemburu. Keduanya mengaku sering saling melontarkan ancaman ketika melihat kehadiran seseorang dari masa lalu.

Ayudia dan Ditto adalah sepasang sahabat yang akhirnya menikah. Kisah mereka berdua kemudian dituangkan ke dalam buku yang berjudul “Teman Tapi Menikah”.

Saat menghadiri acara “Ramadan Iftar Under The Stars” di Jakarta, Senin, Ayudia terdengar sedang mengancam Dito untuk tidak menyapa seseorang. Ketika ditanya perihal masalah tersebut, keduanya langsung tertawa.

“Ayu orangnya cemburuan. Dia terlalu sayang sama saya,” kata Ditto sambil tertawa.

“Ya dia kan teman saya dari SMA, jadi dia tahu semua siapa saja yang deket sama saya. Saya gimana ke orang saya ceritain semua. Dia paham banget lah tentang saya. Saya juga cemburuan sih,” lanjutnya.

Menurut Ayudia, kadar cemburu Ditto lebih tinggi dari dirinya.

“Dia lebih parah dari saya,” ujar Ayudia.

“Iyalah. Saya malah lebih deg-degan ngelihatnya,” timpal Dito.

Baca juga: Siapkan menu buka puasa, Ayudia Bing Slamet: Yang penting pedas
 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sahur hanya minum air putih, berat badan Olla Ramlan turun 2 kg

Jakarta (ANTARA) – Olla Ramlan dan suami, Aufar Hutapea mengaku hanya minum air putih saat sahur, oleh karena itu berat badannya pun susut.

“Mungkin 1,5 kg sampai 2 kg, sahurnya minum saja,” kata Olla ditemui di Jakarta, Senin.

Menurut Olla, kebiasaan sahur dengan menggunakan air putih itu ditularkan oleh sang suami. Meski demikian, baik Olla dan Aufar sama-sama kuat menjalani puasa hingga saat berbuka.

“Kalau sahur, dia (Aufar) minum air putih doang. Dia enggak makan, ya aku jadi ngikutin,” ujar presenter acara infotainment itu.

Sejauh ini, Aufar pun mengatakan tidak menghadapi kendala dengan tidak makan saat sahur.

“Ya enak saja sih. Kalau makan banyak malah haus siangnya. Kalau buka pakai kurma, kolak baru makan,” jelas Aufar.

Sementara itu, Ramadhan tahun in dirasa berbeda oleh Olla karena ketidakhadiran ayahnya di antara mereka.

“Yang paling berbeda adalah ayah aku udah enggak ada. Jadi memang tahun ini Lebaran udah enggak ada abah, itu saja sih perbedaannya. Kalau yang lain-lain keluarga besar masih tetap solid. Insya Allah ya semua baik-baik saja,” tutur ibu dari tiga anak itu.

Baca juga: Siapkan menu buka puasa, Ayudia Bing Slamet: Yang penting pedas
 

Komik “Gundala” versi moderen akan tayang di LINE Webtoon

Jakarta (ANTARA) – Komik “Gundala” versi moderen akan diluncurkan dengan nama “Gundala: Son of Lightning” dan rencananya akan terbit setiap hari Rabu di LINE Webtoon.

Untuk menggarapnya, ada nama Is Yuniarto yang juga merupakan GM Bumilangit Komik sebagai Lead Artist, dan dia berduet dengan Sweta Kartika yang menjadi penulis.

“Gundala: Son of Lightning” akan berbeda dari film “Gundala” yang tayang Agustus 2019. Di sini, ditampilkan bahwa Sancaka sudah menjadi Gundala dan menghadapi tantangan musuh yang baru.

Sancaka adalah pemuda yang mampu menyimpan dan mengendalikan kekuatan petir. Masa lalunya yang kelam telah menyeretnya hidup dan besar di jalanan. Siang hari, dia bekerja sebagai satpam di sebuah lab biokimia di perbatasan kota, dan merangkap sebagai tukang reparasi peralatan elektronik tiap akhir pekan. Pada malam harinya, dia beraksi menumpas kejahatan di balik kostum buatannya sendiri, dan dikenal oleh penduduk kota dengan nama Gundala.

“Gundala: Son of Lightning” termasuk dalam lini BumiLangit komik [R]evolusi, sebuah inisiasi untuk mengisahkan karakter-karakter komik legendaris Indonesia di era moderen untuk pembaca baru.

Is Yuniarto adalah salah satu veteran komik Indonesia terbaik yang telah produktif sejak tahun 2000-an. Is sukses di genre aksi fantasi, melalui judul “Garudayana” dan “Grand Legend Ramayana” yang telah diterjemahkan dan diterbitkan di Jepang.

Sementara Sweta Kartika yang juga merupakan komikus produktif multi-genre, dan telah memiliki beberapa karya yang dikenal di luar negeri.

Gundala sudah dan akan hadir dalam berbagai format mulai dari animasi serial TV “Patriot Cilik”, komik strip di surat kabar, komik format US style, komik format webtoon, dan film layar lebar.

Untuk film layar lebarnya disutradarai dan ditulis oleh Joko Anwar. Film ini dibintangi oleh Abimana Aryasatya (Gundala/Sancaka), Tara Basro (Wulan), Bront Palarae (Pengkor), Rio Dewanto (Bapak Sancaka), Marissa Nasution (Ibu Sancaka), Muzakki Ramdhan (Sancaka Muda), dan lainnya.

Baca juga: Antusiasme Tara Basro dan Marissa Anita berakting “Gundala”

Baca juga: Cerita Hasmi “Gundala” dedikasikan hidup untuk komik

Baca juga: Beredar prangko tokoh komik jagoan Indonesia

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Pariban: Idola dari Tanah Jawa” diharap dorong turis ke Danau Toba

Jakarta (ANTARA) – Film “Pariban: Idola dari Tanah Jawa” telah meraih lebih dari 110 ribu penonton dalam 5 hari penayangan.

Produser Agustinus Sitorus berharap tingginya antusiasme terhadap film “Pariban” berdampak terhadap peningkatan kunjungan wisata ke danau Toba yang jadi lokasi pengambilan gambar.

“Kita tahu bagaimana Pantai Tanjung Tinggi (Laskar Pelangi) dan Punthuk Setumbu (Ada Apa Dengan Cinta 2) berbondong-bondong dikunjungi oleh wisatawan sejak filmnya ditonton oleh banyak orang. Saya berharap, Pangururan, Tele, Batu Kursi Raja Siallagan dan obyek wisata lain di danau Toba juga kian banyak dikunjungi karena kehadiran film Pariban,” kata Agustinus dalam siaran pers, Selasa.

Danau Toba adalah destinasi pariwisata super prioritas yang saat ini sedang dikembangkan oleh pemerintah.

Selain kemudahan infrastruktur, tentunya kearifan budaya lokal adalah hal yang dicari wisatawan saat berwisata. Berbagai destinasi wisata menjadi menjadi kian populer terutama setelah mendapat sorotan dalam sebuah film.

Arie Prasetyo, Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba, mengapresiasi kehadiran film “Pariban”.

“Film ini berhasil membawa kita larut dalam aktivitas dan potret kehidupan keseharian sebuah keluarga di danau Toba, dibungkus dengan kekuatan percakapan yang kocak dan setting keindahan danau Toba yang luar biasa, jujur dan natural dari kacamata masyarakat lokal maupun pendatang,” ujar Arie.

Ia berharap semakin banyak rumah produksi yang mengambil latar belakang di danau Toba dengan ide-ide baru yang berbeda.

Grace Blessing Marbun, pemeran Sundari, ingin agar film ini membuat diaspora batak terus mengingat kampung halaman.

“Semoga Pariban bisa mendorong anak untuk menghargai kampung halaman dan budaya kita, adat istiadat. Selain itu, kita mau mengenalkan keindahan alam Indonesia khususnya di Pulau Samosir, cobalah kau tengok Samosir pasti jatuh cinta,” katanya.

Pariban bercerita tentang Moan sosok pemuda Batak yang sudah lama tinggal di Jakarta. Meski usianya sudah menginjak 35 tahun, tetapi ia belum punya pacar.

Situasi ini membuat ibunya yang bermukim di Jakarta, merasa pusing dan harus turun tangan lalu memaksa Moan untuk mudik dan menikah dengan paribannya, Uli.

Di luar dugaan, Uli yang diceritakan sebagai wanita cantik dan mencintai budaya Batak, sudah memiliki kekasih.

Pariban Idola dari Tanah Jawa dibintangi oleh Atiqah Hasiholan, Ganindra Bimo, Dayu Wijanto, Rizki Mocil, Bang Tigor, Imelda Budiman, Mak Gondut, Grace Blessing Marbun, Rukman Rosadi, Surya Insomnia dan Joe P Project.

Baca juga: Atiqah Hasiholan diuntungkan referensi budaya saat akting “Pariban”

Baca juga: Ganindra tidak terobsesi menjadi pria Batak dalam “Pariban”

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Si Doel Movie 2” akan gelar bukber besar-besaran

Jakarta (ANTARA) – Keluarga film “Si Doel The Movie” akan menggelar acara buka puasa bersama (bukber) secara besar-besaran, bertajuk “Buka Puasa Raya Si Doel The Movie”, yang dilaksanakan pada 18 Mei 2019 di masjid Al-Barkah Bekasi, serta pada 21 Mei 2019 di Masjid Al-Azhom Tangerang.

Total undangan buka puasa mencapai 6.000 orang dari kedua masjid tersebut.

Dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Selasa, Rano Karno, pemeran Si Doel sekaligus sebagai sutradara film “Si Doel The Movie 2” mengatakan bukber akan jadi ajang silaturahmi dengan para penggemar di bulan Ramadhan.

“Kita mengundang kira-kira 3.000 orang di setiap masjid. Jadi, keluarga besar Si Doel yang mau ikutan buka puasa dan sholat Maghrib bareng kita, silahkan datang. Kita ketemuan di Bekasi dan Tanggerang,” ujarnya.

Baca juga: Atun pilih Sarah atau Zaenab? Ini jawaban Suti Karno

Hal senada juga disampaikan oleh produser Falcon Pictures, Frederica. Menurutnya, Falcon Pictures akan selalu membuat sesuatu yang baru untuk mempromosikan filmnya.

“Acara Bukber Raya ‘Si Doel The Movie 2’ di gelar karena bertepatan dengan Bulan Puasa. Selain bisa bersilaturahmi, kita bisa saling berbagi dan semoga di acara ini semua bisa senang,” katanya.

Selain menghadirkan Rano Karno, Mandra, Suty Karno, Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Rey Bong, Adam Jagwani dan Aminah Cendrakasih, film “Si Doel The Movie 2” juga akan menghadirkan pemain baru seperti Maryati Tohir (Munaroh), Hjh Tonah, dan Wizzy.

Film “Si Doel The Movie 2” akan tayang serentak diseluruh bioskop di Indonesia pada tanggal 4 Juni 2019. Sebelumnya, “Si Doel The Movie”, sukses mendapatkan rekor MURI sebagai film Indonesia pertama yang melaksanakan gala premier di Belanda.

Baca juga: Adakah nostalgia dalam “Si Doel the Movie 2”?

Baca juga: Garap “Si Doel 2”, Rano Karno merasa diteror tim Sarah maupun Zaenab

“Angry Birds” terbang ke Festival Film Cannes untuk sekuel

Jakarta (ANTARA) – Parade para bintang film di Festival Film Cannes dibuka secara unik oleh banyaknya burung-burung berbulu yang menandai peluncuran sekuel “Angry Birds”.

Pada festival tersebut, produser dari film animasi tersebut merayakan rencana penayangan sekuel “Angry Birds” pada awal Agustus.

Dilansir Reuters, “The Angry Birds Movie 2”, seperti film pertamanya, diangkat dari game Rovio di mana pemain menggunakan ketapel untuk menyerang babi-babi yang mencuri telur burung.

Angry Birds pertama, rilis pada 2016, membawa pulang 350 juta dolar AS di box office, mendorong penjualan game Rovio, membantu perusahaan itu mendapat untung setelah bertahun-tahun pendapatannya berkurang, memberhentikan pekerja-pekerjanya juga divestasi.

Sekuel, yang mengisahkan para burung bersatu dengan musuh bebuyutan babi hijau demi mengalahkan musuh bersama, menampilkan Jason Sudeikis yang mengisi suara Red, protagonis utama, bersama Bill Hader, Josh Gad dan Danny McBride yang juga mengisi suara.

“Kami punya kru luar biasa yang bekerja sama, kami sama-sama bermain, bereksperimen dan menemukan momen-momen lucu,” ujar sutradara Thurop Van Orman, di saat orang-orang berkostum Angry Bird menghibur para penonton.

Produser John Cohen mengatakan ia berharap bakal ada film ketiga “Angry Birds”.

Baca juga: Game Angry Birds versi AR akan hadir di iOS

Baca juga: Film sekuel “Angry Birds” akan dirilis 2019

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“John Wick 3” hadirkan pencak silat dan kerambit, Yayan Ruhian bangga

Jakarta (ANTARA) – Yayan Ruhian merasa bangga telah memperkenalkan seni bela diri pencak silat lewat dan kerambit dalam adegan yang dimainkannya pada film “John Wick: Chapter 3 – Parabellum”.

“Sebagai masyarakat silat, kami bangga karena di film ini, seperti di film-film sebelumnya, kami bisa memperkenalkan silat sebagai budaya kita,” katanya di Gala Premier XXI yang digelar di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (14/5) malam.

Selain pencak silat, Yayan juga merasa bangga memperkenalkan senjata khas Indonesia yakni kerambit.

Dalam adegan puncak yang dimainkan Yayan Ruhian sebagai Shinobi 2 dan Cecep Arief Rahman sebagai Shinobi 1, keduanya berduet menyerang John Wick yang diperankan Keanu Reeves dengan seni bela diri pencak silat dan senjata pamungkas kerambit.

Kebanggaan keduanya menjadi warga Indonesia tidak cukup dengan memperkenalkan pencak silat dan kerambit, karena dalam adegan yang mereka mainkan, keduanya juga berdialog dalam Bahasa Indonesia di sela-sela pertarungan.
  John Wick: Chapter 3 – Parabellum (ANTARA News/HO)

“Film John Wick: Chapter 3 – Parabellum” bercerita tentang pelarian diri John Wick setelah membunuh seorang anggota serikat pembunuh internasional.

Ia diburu di mana-mana dengan imbalan 14 juta dolar AS bagi mereka yang berhasil menemukan dan membunuhnya.

Film produksi terbaru Summit Entertainment – Lionsgate ini akan tayang internasional secara serentak pada Jumat, 17 Mei 2019.

Baca juga: Yayan Ruhian dan Cecep Arif main bareng Keanu Reeves

Baca juga: Bantu penumpang pesawat, ini daftar kebaikan Keanu Reeves

Baca juga: 5 aktor mancanegara yang pernah beradu akting dengan Iko Uwais
 

Pewarta: Katriana
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Maskot Upin Ipin akan hiasi sembilan bioskop di Jabodetabek

Jakarta (ANTARA) – Untuk meramaikan penayangan film “Upin Ipin: Keris Siamang Tunggal”, maskot dari bocah kembar itu dibawa langsung dari Malaysia dan akan terlihat di beberapa bioskop Jabodetabek.

“Upin Ipin: Keris Siamang Tunggal” mulai tayang pada 9 Mei 2019 untuk mengisi waktu liburan yang bertepatan dengan Ramadhan. Menurut Chandra Sapta Surya, Promo and Strategic Planner Division Head MNCP, maskot Upin Ipin memang sengaja didatangkan untuk menyenangkan hati para penggemarnya.

“Karakter atau maskot Upin Ipin dibawa langsung dari Malaysia, bahkan tidak sembarangan orang dapat menjadi cosplayernya. Maskot ini akan menyertai sepanjang acara nobar di sembilan bioskop di Jabodetabek,” ujar Chandra melalui keterangan resmi yang diterima Antara, Rabu.

“Upin Ipin: Keris Siamang Tunggal” berkisah tentang petualangan si kembar Upin Ipin dalam misi menyelamatkan sebuah kerajaan bernama Indraloka dari ancaman Raja Bersiong yang ingin menguasainya.

Film garapan Les Coupaq ini telah disiapkan sejak lima tahun yang lalu. Mereka pun mengklaim bahwa film tersebut memiliki kualitas animasi yang tidak kalah dengan produksi Hollywood.

Chandra mengatakan banyak penonton yang penasaran dengan cerita Upin Ipin versi layar lebar, apalagi promonya sudah gencar dilakukan jauh-jauh hari.

“Sambutannya cukup baik di sejumlah daerah, karena tokoh Upin Ipin sudah sangat dekat dengan mereka khususnya anak-anak. Ditambah dengan cerita di film bioskop lebih penuh petualangan, di mana Upin Ipin dan teman-temannya memasuki dunia penuh fantasi,” jelas Chandra.

Baca juga: “Upin Ipin The Movie” tayang di bioskop Indonesia hari ini

Baca juga: Produser Upin Ipin sumbang Rp542 juta untuk NTB

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Star Wars” 2022 dibuat oleh pencipta “Game of Thrones”

Jakarta (ANTARA) – Setelah saga Skywalker usai pada Desember, kisah “Star Wars” selanjutnya bakal dibuat oleh pencipta serial hit “Game of Thrones”, kata chief executive Walt Disney Co, Selasa (14/5).

Disney mengumumkan pekan lalu bahwa mereka sudah menjadwalkan film “Star Wars” untuk Desember 2022, 2024 dan 2026, tapi hanya itu yang diungkapkan. Film-film itu akan jadi film “Star Wars” pertama setelah “Star Wars: The Rise of Skywalker” pada Desember 2019.

Bicara di hadapan konferensi investor, Chief Executive Bob Iger mengonfirmasi bahwa film 2022 akan dibuat oleh David Benioff dan D.B. Weiss, yang membuat serial fantasi “Game of Thrones”, seperti dilansir Reuters.

Disney mengatakan cerita untuk film mendatang akan terpisah dari saga Skywalker yang dimulai dengan film “Star Wars” 1977.

Disney juga mengumumkan trilogi “Star Wars” terpisah yang sedang dikerjakan oleh sutradara Rian Johnson yang “Star Wars: The Last Jedi”, namun mereka belum mengungkapkan kapan tanggal penayangannya.

Baca juga: Pemeran Chewbacca dalam film “Star Wars”, Peter Mayhew meninggal

Baca juga: Setelah rilis Episode 9, film “Star Wars” akan vakum sementara

Baca juga: Disney ungkap tanggal pembukaan ekspansi “Star Wars”

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Di era Netflix, sutradara Inarritu mengelukan pengalaman di bioskop

Jakarta (ANTARA) – Ketua juri Cannes Alejandro Gonzalez Inarritu mengelukan “pengalaman komunal” menonton film di bioskop di festival film Prancis yang sedang berlangsung, di mana festival itu diikuti oleh layanan streaming seperti Netflix, Selasa (14/5).

Sineas Meksiko yang membuat film “Birdman” itu jadi ketua panel yang terdiri dari aktris AS Elle Fanning dan sutradara “The Favourite” Yorgos Lanthimos, mereka akan memilih pemenang utama Palme D’Or pada 25 Mei.

Pada saat perusahaan streaming menjadi rumah produksi yang produktif, menghasilkan pesaing-pesaing yang serius meskipun tidak ada film Netflix yang dipilih untuk berkompetisi di Cannes, Inarritu memihak bioskop.

“Saya orang yang percaya bahwa bioskop itu harus dialami dalam pengalaman komunal,” kata Inarritu dalam konferensi pers seperti dikutip dari Reuters.

Meski demikian, ia tidak menentang “menonton sesuatu di handphone”, dan mengatakan Netflix telah membantu mengangkat film lokal ke pasaran, seperti Meksiko.

Netflix telah menayangkan “Roma”, film drama keluarga yang membuat sutradaranya, Alfonso Cuaron dari Meksiko, membawa pulang piala sutradara terbaik di Oscar.

“Sungguh bagus mereka ada di televisi, tapi mengapa tidak memberi pilihan pada orang-orang untuk merasakan hal itu di bioskop,” ujar dia.

Perdebatan antara Cannes dan Netflix mengenai aturan yang mendikte bahwa film-film dalam kompetisi tidak dapat diputar lewat streaming selama tiga tahun ke depan sepertinya bakal mendominasi diskusi di festival.

Inarritu mengatakan juri akan mencari film-film yang paling mengejutkan mereka secara “emosional, intelektual” dan yang menggerakkan hati mereka.

Nama-nama besar seperti Quentin Tarantino akan melawan pendatang baru, termasuk beberapa yang menyajikan film pertama mereka, seperti sineas muda Prancis Ladj Ly dengan “Les Miserables”.

Selain Inarritu, juri-juri di Cannes terdiri dari empat pria dan empat perempuan di mana penyelenggara berusaha mendorong kesempatan untuk kaum Hawa di dunia film.

“Saya juga tak sabar menanti datangnya waktu ketika kami datang dan mereka tidak harus bilang ‘sutradara perempuan’ dan ‘para perempuan’,” kata sineas AS dan anggota juri Kelly Reichardt.

Baca juga: “Angry Birds” terbang ke Festival Film Cannes untuk sekuel

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film baru Woody Allen bakal tayang di Prancis September mendatang

Jakarta (ANTARA) – Film terbaru Woody Allen, yang ditunda di AS akibat tuduhan pelecehan seksual yang sudah berlangsung sejak beberapa dekade, akan dirilis di Prancis tahun ini, kata distributor, Selasa (14/5).

“A Rainy Day in New York” yang dibintangi Timothee Chalamet, Elle Fanning, Selena Gomez dan Jude Law bakal diputar di bioskop-bioskop Prancis pada 18 September, kata Mars Films jelang pembukaan festival film Cannes.

“Film panjang ke-50 Woody Allen… sebuah komedi romantis berlatar belakang New York City,” kata CEO Mars Films Stephane Celerier di Twitter.

Dilansir AFP, pada Februari lalu Allen menggungat 68 juta dolar AS terhadap Amazon karena melanggar kontrak, menuduh perusahaan streaming itu batal menayangkan filmnya atas tuduhan “tidak berdasar” bahwa dia melakuken pelecehan seksual terhadap putrinya.

Allen mengatakan Amazon berusaha untuk mengakhiri kesepakatan pada Juni 2018, dan sejak itu menolak untuk membayar biaya pembiayaan senilai 9 juta dolar AS untuk “A Rainy Day in New York”.

Film ini telah rampung tetapi belum tayang.

Awal bulan ini, majalah Variety melaporkan film itu akan dirilis di Italia pada Oktober.

Film ini adalah salah satu dari beberapa yang akan diproduksi oleh sutradara pemenang Oscar di bawah perjanjian setelah Allen membuat program “Crisis in Six Scenes” untuk Amazon.

Allen dituduh melecehkan Dylan Farrow, anak angkatnya, ketika dia berusia tujuh tahun pada awal 1990-an.

Dia dibebaskan dari dakwaan, pertama kali diajukan oleh pasangannya, saat itu Mia Farrow, setelah dua bulan penyelidikan terpisah, dan dengan tegas menyangkal tuduhan tersebut. Tetapi Dylan, yang sekarang sudah dewasa, terus menyatakan bahwa dia dilecehkan.

Saudara laki-laki Dylan, Ronan Farrow, menghidupkan kembali tuduhan itu pada festival film Cannes dibuka pada 2016, ia mengecam media karena tidak menanyakan hal itu pada sang sutradara.

Hubungan Amazon dengan Allen dimulai dengan “Cafe Society” (2016), di mana Amazon telah membeli hak tayang, sebelum memproduksi dan mendistribusikan “Wonder Wheel” (2017), lalu mereka berkomitmen untuk empat film tambahan.

Baca juga: Dylan Farrow beberkan pelecehan seksual Woody Allen

Baca juga: Woody Allen merasa sedih atas Harvey Weinstein

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“REWRITE” serial pertama karya Fajar Nugros

Jakarta (ANTARA) – Layanan streaming Viu meluncurkan serial original terbarunya yang berjudul “REWRITE”, yang merupakan serial pertama buatan Fajar Nugros.

“Memproduksi sebuah serial untuk platform digital dengan tema seperti ini benar-benar baru bagi saya. Tentunya ini jadi tantangan yang dengan senang hati saya ambil,” ujar Fajar dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu.

“REWRITE” bercerita tentang kesempatan kedua yang datang dalam kehidupan. Kisahnya bermula dengan kesibukan pasangan Senja (Audi Marissa) dan Abi (Maxime Bouttier) saat mempersiapkan pernikahan mereka pada tahun 2024.

Mendekati hari pernikahan, terjadi serangkaian peristiwa dalam kehidupan pribadi masing-masing yang menimbulkan gejolak emosional.

Senja yang terbenam dalam kesedihan karena sahabatnya meninggal dan Abi mulai ragu dengan pernikahan karena perceraian orangtuanya bahkan dia akhirnya tidak hadir di hari pernikahannya.

Senja marah dan membuang cincin kawinnya dan berharap dapat kembali ke masa lalu sebelum mengenal Abi. Ternyata keinginan itu dikabulkan dan Abi serta Senja akhirnya kembali ke tahun 2019 tanpa saling mengenal.

“Saya pikir ini menarik karena banyak dari kita berharap ada kesempatan kedua yang kadang enggak pernah ada, jadi saya ngerasa ini jadi isu yang menarik,” kata sutradara “Orang Kaya Baru” itu.

Selain Maxime dan Audi, aktor dan aktris lain yang juga terlibat dalam serial ini adalah Marcell Darwin, Dewi Rezer, Sonya Pandarwaman, Lia Waode dan lainnya.

“REWRITE” mulai tayang pada 15 Mei 2019 dan Viu akan menjadi platform streaming pertama di Indonesia yang akan meluncurkan secara bersamaan semua episodenya.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Beradegan mesra dengan Maxime, Audi Marissa tak enak dengan Prilly

Jakarta (ANTARA) – Audi Marissa merasa tidak enak dengan rekan sesama aktris Prilly Latuconsina lantaran ia diharuskan beradegan mesra dengan Maxime Bouttier dalam serial “REWRITE”,
 
“Aku sempat bilang ke Max, perlu bilang ke Prilly enggak tapi dia bilang nanti dia aja yang ngomong. Paling aku kayak ngajak Prilly ke lokasi syuting aja,” kata Audi dalam peluncuran serial original Viu “REWRITE” di Jakarta, Selasa.

Gadis yang mulai terkenal lewat sinetron “Diam-Diam Suka” itu, mengaku awalnya merasa canggung saat harus berakting begitu dekat dengan Maxim dan berciuman, apalagi dia baru pertama kali terlibat dalam satu proyek dengan kekasih Prilly itu.

“Jujur awalnya iya, tapi aku kemudian dapat arahan juga dari sutradara jadi enggak terlalu ada kesulitan,” ujarnya.

Beradegan ciuman dengan lawan main merupakan pengalaman pertama bagi Audi dan menganggapnya bagian dari profesionalitas.

“Enggak gimana-gimana sih, pokoknya sebatas profesional aja. Kalau take untuk adegan itu memang berkali-kali karena kan diambilnya dari berbagai angle,” jelas kekasih Billy Davidson itu.

“Saat berciuman juga enggak ngebayangin siapa-siapa. Aku ngebayanginnya aku adalah Senja dan Max adalah Abi,” katanya menambahkan.

Baca juga: “REWRITE” serial pertama karya Fajar Nugros
 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tilda Swinton, Selena Gomez di karpet merah Cannes

Jakarta (ANTARA) – Para pemain “The Dead Don’t Die”, aktris Tilda Swinton dengan gaun perak berkilauan, penyanyi Selena Gomez dan aktor Bill Murray serta Adam Driver berjalan di karpet merah festival film Cannes di French Riviera, Selasa, untuk penayangan film mereka, bersama dengan sutradara Jim Jarmusch.

“The Dead Don’t Die”, film komedi zombie yang berlatar di kota kecil Amerika Serikat menjadi salah satu film yang disoroti di sesi kompetisi Cannes, bersama dengan “Once Upon a Time in Hollywood” arahan sutradara Quentin Tarantino.

Kedua film itu akan bersaing mendapatkan penghargaan Palme D’Or, bersama dengan pendatang baru seperti Mati Diop dengan film “Atlantics” yang berlatar di pinggiran kota Dakar, Senegal, demikian seperti dilansir Reuters, Rabu.

Meski film produksi Netflix secara mencolok tak masuk dalam daftar –buntut dari pertikaian dengan Cannes mengenai aturan seleksi– perusahaan streaming itu disebut-sebut di hari pertama festival.

“Sinema adalah tentang kebersamaan,” kata Edouard Baer, seorang aktor Prancis dan pembawa acara malam pembukaan, kepada para aktor dan pesohor yang hadir di Cannes. “Pergilah keluar, daripada tinggal di rumah menyaksikan Netflix dengan pizza.”

Sehari sebelumnya, presiden dewan juri Cannes Alejandro Gonzalez Inarritu, sutradara “Birdman” dan “The Revenant” menekankan dukungannya untuk teater film.

“Pengalaman komunal itu sangat indah,” katanya.

Penyelenggara Cannes juga memberi penghormatan kepada pembuat film kelahiran Belgia, mendiang Agnes Varda. Dia adalah perintis wanita sutradara dan kekuatan berpengaruh dari gerakan New Wave dan sinema Prancis.

Varda, yang meninggal pada Maret dalam usia 90 tahun, tampil di unggahan resmi Cannes, berjongkok di belakang seorang anggota kru ketika dia mencoba mengambil gambar.

Klip dari film “Cleo from 5 to 7” garapannya yang dirilis 1962 ditayangkan di acara pembukaan Cannes.

Baca juga: “Angry Birds” terbang ke Festival Film Cannes untuk sekuel

Baca juga: Film dokumenter Schumacher diperkenalkan di Cannes

Baca juga: Di era Netflix, sutradara Inarritu mengelukan pengalaman di bioskop

Penerjemah: Heppy Ratna Sari
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Beradegan ciuman, Maxime Bouttier khawatir pendapat netizen

Jakarta (ANTARA) – Sebagai aktor, Maxime Bouttier akan melakukan adegan apa pun yang diperintahkan oleh sutradara, termasuk ciuman dengan lawan main. Bukan kekasihnya yang ia khawatirkan cemburu, melainkan pendapat penonton dan warganet

Maxime berperan sebagai Abi dalam serial “REWRITE” di platform streaming Viu. Di sini, dia adalah kekasih dari Senja yang dimainkan oleh Audi Marissa. Dalam salah satu episodenya, ada adegan di mana Maxime dan Audi berciuman mesra.

Baca juga: Pengalaman pertama Maxime Bouttier jadi sutradara

“Saya aktor, saya mainin skenario seperti itu. Yang pasti agak nervous aja karena di Indonesia perfilmannya jarang ada adegan kayak gini. Agak nervous aja dengan pendapat penonton,” kata Maxime usai peluncuran serial “REWRITE” di Jakarta, Rabu.

Kekasih Prilly Latuconsina ini akhirnya memilih untuk tidak terlalu peduli dengan komentar netizen. Sebab menurutnya, pendapat warganet tidak harus selalu didengarkan.

Baca juga: Maxime Bouttier komentari rumah mewah Prilly Latuconsina

“Kehidupan aku bukan diikutin sama netizen aja. My life, my life. Semoga aja netizen juga punya hidupnya masing-masing jadi enggak perlu terlalu ngikutin hidup aku juga,” ujar pemain “Matt & Mou”.

Maxime berharap banyak penonton yang suka dengan penampilannya dan Audi.

“Kita lakuin ini buat penonton. Mau kritik itu bagus atau jelek, it’s ok. Aku ini aktor, aku mainin yang aku dapat. Jadi semoga kalian bisa enjoy,” ucapnya.

Baca juga: “REWRITE” serial pertama karya Fajar Nugros

Baca juga: Maxime Bouttier dan Prilly rayakan valentine nonton konser Rossa
 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“SEKTE”, fanatisme buta berujung pengorbanan nyawa

Jakarta (ANTARA) – Lia (Asmara Abigail) tidak pernah menyangka keputusannya bergabung bersama Dewi (Gesatta Stella), Sony (Derby Romero), Shinta (Nadira Adnan), Diana (Fangtatis), Fajar (Natalius Cendana), Hanung (Edo Eduart) dan Desta (Trisa Triandesa) akan berujung petaka

Awalnya, tokoh Lia yang mengalami kecelakaan dan hilang ingatan sempat menyerah pada hidupnya. Lia lantas merasa mendapat secercah harapan karena Dewi dan teman-temanya berjanji akan membantu dengan segenap hati mereka.

Siapa Dewi dan kelompoknya itu? Mereka sekelompok orang yang tinggal di sebuah rumah besar dan membentuk komunitas penyembah sesosok mahluk yang mereka sebut bunda.

Dewi dan kelompoknya sangat mempercayai bunda sehingga rela melakukan apa saja sebagai bentuk kesetiaan, termasuk membunuh orang mereka sayangi.

Baca juga: Curhatan Derby Romero kerja bareng istri

Hanya saja, Lia lantas menyadari tentang perilaku kelompok penyembah bunda itu manakala mendapati peluang melarikan diri. Dengan sisa kekuatan, apakah Lia berhasil meloloskan diri atau justru menjadi korban berikutnya dalam kelompok itu?

Sutradara William Chandra menghadirkan berbagai ketegangan dalam film yang diproduseri aktor Derby Romero dan Rizky Nazar itu.

Selama sekitar 90 menit, mata penonton akan disuguhi kengerian orang-orang fanatik dan bagaimana perilaku penyembahan mereka meskipun latar belakang komunitas itu tidak diceritakan.

William juga tidak banyak menjelaskan kekuatan sosok bunda dan membiarkan penonton bertanya-tanya tentang mahluk yang disembah Dewi dan kwan-kawannya itu.

Sebagian besar scene dalam film horor thriller besutan rumah produksi Silver Bullet Films itu bernuansa kelam, baik itu siang maupun malam hari.

Film “SEKTE” akan tayang di bioskop Tanah Air pada 2 Mei 2019.

Baca juga: Derby Romero: Saya suka film horor

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Antusiasme Tara Basro dan Marissa Anita berakting “Gundala”

Jakarta (ANTARA) – Setelah mengenalkan Abimana Aryasatya yang berperan sebagai Sancaka dan Gundala, kini ada dua pemeran lagi yang diperkenalkan dalam film “Gundala”, yakni Tara Basro dan Marissa Anita.

Tara yang sebelumnya dikenalkan di peluncuran First Look Gundala tahun lalu akan berperan sebagai Wulan, sedangkan Marissa Anita yang muncul di teaser trailer akan berakting sebagai ibu Sancaka.

Tara yang telah beberapa kali berkolaborasi dengan Joko Anwar di film-film terdahulu kali ini memainkan karakter Wulan, yang akan berjibaku dengan Sancaka untuk melawan ketidakadilan.

Mengenai perannya, Tara mengatakan antusiasmenya bermain di film “Gundala”, “Joko punya visi sendiri dan sangat jelas maunya apa, dia sudah tahu dunia yang dia mau bikin seperti apa,” kata Tara dalam keterangan pers dari Screenplay Films yang diterima Antara, Minggu.

Tara juga dipertemukan dengan Abimana dalam film ini. Berutung, sebelumnya dia dan Abimana sudah lama saling mengenal sehingga prosesnya lebih mudah dan terhindar dari rasa kikuk.

Marissa yang sudah beberapa kali berperan di karya garapan Joko memuji kemampuan sang sutradara.

“Joko adalah sutradara yang spesifik dan skillful,” kata Marissa.

Dalam perannya di “Gundala”, Marissa berbagi layar dengan aktor cilik Muzakki Ramdhan.

“Muzakki adalah anak yang loveable. Kerja sama dengannya luar biasa.”

Selain Tara dan Marissa, film “Gundala” juga dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Muzakki Ramdhan, Bront Palarae, hingga Rio Dewanto.

Gundala, jagoan Indonesia ciptaan HASMI yang dicintai banyak penggemarnya sejak terbit tahun 1969 dalam bentuk komik, akan hadir di layar lebar di Agustus 2019.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Avengers: Endgame” pecahkan rekor di berbagai negara

Jakarta (ANTARA) – Para penggemar Marvel di dunia memenuhi bioskop untuk melihat penayangan “Avengers: Endgame” pada akhir pekan lalu, membuat hasil penjualan tiket untuk film pahlawan super itu melejit hingga 1,2 miliar dolar AS dan memecahkan rekor di banyak negara.

“Endgame” meraup pendapatan 350 juta dolar AS di Amerika Serikat dan Kanada, angka yang belum pernah dicapai film lain, dari penjualan tiket Kamis malam hingga Minggu, berdasarkan perkiraan Disney seperti dilansir Reuters, dikutip Senin.

Film berdurasi tiga jam itu mengungkapkan nasib dari Iron Man, Thor, Captain America, Black Widow dan karakter pahlawan super lain yang juga menorehkan sejarah di China, Brasil, Prancis, Mesir, Afrika Selatan dan 38 tempat lain.

Di China, pasar terbesar kedua dunia untuk industri film, “Endgame” berhasil membawa pulang pendapatan 330,5 juta dolar AS sejak tayang pada Rabu silam.

Akhir pekan bersejarah ini membuat Disney, kata para analis, memasuki tahun yang tak tertandingi. Perusahaan itu tahun ini juga bakal mengeluarkan film-film lain seperti “The Lion King” hingga “Toy Story 4”.

“Endgame” adalah film yang unik karena merupakan kisah pamungkas dari 22 film Marvel Studio sebelumnya yang telah menarik para penggemar berbondong-bondong ke bioskop selama sepuluh tahun terakhir.

Para penonton “terbukti peduli pada karakter-karakter ini,” ujar Cathleen Taff, kepala distribusi teater Disney. “Kupikir mereka ingin melihat bagaimana akhir kisah epik itu bergulir.”

“Endgame” dibintangi Robert Downey Jr., Chris Hemsworth, Scarlett Johansson dan pemeran pahlawan super lainnya yang bertarung melawan Thanos, diperankan Josh Brolin.

Hanya beberapa hari lalu, industri film punya dua pendapat berbeda mengenai apakah “Endgame” akan meraih pendapatan 300 juta dolar AS di pasar domestik. Film itu berhasil membuktikannya, jauh di atas rekor yang dipegang “Avengers: Infinity War” senilai 257,7 juta dolar AS tahun lalu.

“Infinity War” punya akhir yang menggantung, di mana sebagian pahlawan super berubah jadi debu, membuat penonton semakin tak sabar mengetahui kelanjutannya di “Endgame”.

Untuk memenuhi permintaan itu, bioskop setempat menambah jam penayangan pada jam-jam ganjil, seperti pukul 7 pagi. Operator bioskop AMC Entertainment terus membuka beberapa lokasinya selama 72 jam tanpa henti untuk terus menayangkan “Endgame”.

Bahkan perkiraan box office pun terlalu rendah.

“Yang kami tidak perhitungkan adalah penggemar dengan senang hati datang pukul 3 dini hari untuk menonton film berdurasi tiga jam,” kata Paul Dergarabedian, analis media senior di perusahaan Comscore.

“Endgame” terbukti jadi fenomena budaya global.

Stasiun subway di London punya papan penunjuk berisi permintaan agar para penumpang tidak bicara soal plot film sehingga tidak memberi bocoran pada orang lain, berdasarkan foto yang diunggah oleh Kepala Eksekutif Disney Bob Iger di Twitter.

Sebagian penggemar di China membayar lebih dari 500 yuan atau sekitar Rp1 juta untuk tiket “Endgame” di tempat ilegal, jauh lebih mahal ketimbang tiket resmi di bioskop senilai 60 yuan atau Rp126.000.

Di Hollywood, Susan Macial (44) menonton seluruh 22 film Marvel di El Capitan Theatre dalam edisi penayangan maraton yang habis terjual, dengan “Endgame” sebagai film pamungkas.

“Ini adalah tiga hari yang memuaskan,” ujar Macias setelah menonton.

Baca juga: Belum nonton “Avengers: Endgame”? Ini cara hindari spoiler di Internet

Baca juga: Hollywood rayakan akhir film “Avengers”

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Tolkien” suguhkan kisah hidup penulis “Lord of the Rings”

Jakarta (ANTARA) – Dunia khayalan penulis J.R.R. Tolkien yang berisi hobbit hingga peri telah memenangi hati penggemar di dunia selama beberapa puluh tahun sejak kisah “The Hobbit” dan “The Lord of the Rings” diterbitkan.

Kini sang novelis Inggris itu yang menjadi subjek film yang bercerita tentang masa muda dan inspirasi dari karya-karyanya, seperti dilansir Reuters.

Aktor Nicholas Hoult (“X Men”, “The Favourite”) mendapatkan peran utama di film “Tolkien”, yang bercerita tentang kehidupan sang penulis sebagai anak yatim piatu, kehidupan sekolahnya bersama teman-teman di Birmingham, kegiatan sebagai mahasiswa di Universitas Oxford dan menjadi tentara garis depan di pertempuran Somme antara Anglo-Prancis dan Jerman pada Perang Dunia I.

“Kami ingin memberi penghormatan padanya dan menceritakan kisah yang menarik, tentang masa-masa awal beliau, yang menarik untuk orang-orang,” kata Holt pada Reuters.

Aktris Lily Collins (“Mirror Mirror”) berperan sebagai Edith Bratt, yang ditemui Tolkien ketika dia pindah ke asrama dan kelak menjadi istri serta menjadi inspirasi peri Luthien dalam dunia fiksinya.

“Kami menunjukkan dirinya menari di tengah hutan.. keelokannya dan kecintaannya pada mendongeng dan bagaimana dia menginspirasi Tolkien untuk terus bercerita,” ujar Collins.

Tolkien, yang merupakan profesor Anglo-Saxon di Oxford, menerbitkan “The Hobbit” pada 1937. “The Lord of the Rings” terbit dalam tiga bagian antara 1954 dan 1955.

Lebih dari 150 juta kopi “The Lord of the Rings” telah terjual di dunia. Adaptasi film tersebut serta trilogi “The Hobbit” yang berhasil meraup sekitar 5,8 miliar dolar AS di box office global.

Tolkien meninggal 1973, pada usia 81 tahun, dua tahun setelah istrinya wafat.

Keluarga dan estate-nya tidak berpartisipasi dalam adaptasi film Tolkien, mengatakan dalam pernyataan pekan lalu bahwa mereka tidak menyetujui, mengizinkan, atau berpartisipasi dalam pembuatan film ini. Mereka tidak mendukung film itu atau kontennya dengan cara apa pun.

Studio Fox Searchlight Pictures mengatakan mereka “bangga” atas film biopik dan “tim pembuat film yang menghormati dan mengagumi Tolkien serta kontribusi fenomenalnya pada literatur”.

Sutradara Dome Karukoski mengatakan dia berharap keluarga Tolkien mau menonton film tersebut.

“Saya sebenarnya menawarkan… untuk menonton bersama mereka jadi mereka bisa melihatnya dan film itu dikerjakan dengan penuh rasa hormat dan menghargai seperti yang dirasakan penggemar,” katanya.

“Tolkien” akan tayang mulai 3 Mei.

Baca juga: Novel tak selesai JRR Tolkien akan diterbitkan

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ari Sihasale ingin buat film dokumenter tentang Ambon

Ambon (ANTARA) – Ari Sihasale berencana akan membuat film dokumenter tentang kota Ambon.

“Setelah sekian lama tidak mengunjungi kota Ambon akhirnya saya berkesempatan untuk datang dan melihat langsung kota Ambon, ke depan saya dan Nia Zulkarnaen berencana akan membuat film dokumenter tentang kota ini, ide dan konsepnya sementara kita pikirkan,” kata Ari Sihasale di Ambon, Senin.

Ia mengatakan, kunjungan ke kota Ambon merupakan salah satu upaya untuk menggali kekayaan kota Ambon yang terpendam selama ini.

“Banyak harta karun terpendam yang belum digali, karena itu kita akan memanfaatkan waktu selama di Ambon untuk menggali apa yang masih terpendam untuk digarap dalam bentuk film dokumenter,” ujarnya.

Ari Sihasale atau akrab disapa Ale,kerap membuat film dengan latar belakang budaya dan kesenian daerah seperti Papua maupun Nusa Tenggara Timur (NTT).

Produksi Alenia konsisten membuat film-film inspiratif yang menampilkan keindahan alam Indonesia dan cocok ditonton oleh anak-anak.

Sedikitnya, Ari dan Nia sudah menelurkan tujuh film bertema anak seperti “Denias, Negeri di Atas Awan” (DNDAA, 2006), “Liburan Seru” (2008), “King” (2009), “Tanah Air Beta” (2010) hingga “Serdadu Kumbang” (2011), “Di Timur Matahari” dan “Seputih Cinta Melati”.

Selain ikut bermain, Ale kemudian mengawali kiprahnya sebagai sutradara di film “King” (2009) yang terinspirasi dari perjuangan pebulutangkis legendaris Indonesia, Liem Swie King.

Bahkan, film “Denias Negeri di Atas Awan” pernah menembus ajang anugerah film paling bergengsi, Piala Oscar.

Ale mengawali karir dari dunia model yang membawanya berkiprah di bidang akting. Pria berdarah Papua-Ambon ini mulai menarik perhatian sejak tampil di serial Buana Jaka di tahun 1992.

Ale juga sempat menjadi model video klip Denada yang berjudul “Sambutlah”. Yang melejitkan nama Ari Sihasale adalah sinetron Ali Topan Anak Jalanan dimana ia berperan sebagai Ali Topan.

Baca juga: “1000 Balon”, film dari anak untuk anak

Baca juga: Ari Sihasale dan Nia enggan syuting di Jakarta

Baca juga: Ari Sihasale-Nia Zulkarnaen ajarkan cinta lingkungan lewat film
 

Pewarta: Penina Fiolana Mayaut
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Elle Fanning jadi juri Festival Film Cannes

Jakarta (ANTARA) – Aktris AS Elle Fanning, novelis grafis Prancis Enki Bilal dan sutradara peraih nominasi Oscar “The Favourite”, Yorgos Lanthimos, akan jadi anggota juri di Festival Film Cannes bulan depan, kata penyelenggara, Senin (29/4).

Dilansir Reuters, pameran film terbesar di dunia dimulai di French Riviera pada 14 Mei, dengan sutradara Meksiko Alejandro Gonzalez Inarritu sebagai pemimpin panel yang memutuskan penghargaan-penghargaan yang diberikan, termasuk penghargaan bergengsi Palme D’Or.

Dibagi menjadi empat lelaki dan empat perempuan, juri untuk festival edisi ke-72 ini juga meliputi sineas Polandia dan penulis skenario yang disebut sutradara terbaik di Cannes tahun lalu untuk film “Cold War”, Pawel Pawlikowski.

Maimouna N’Diaye, yang sudah menyutradarai film-film dokumenter dan berakting di film “Chasing Butterflies” dari Otar Iosseliani, juga akan duduk di panel tersebut, bersama dua sutradara perempuan lain.

Yakni, sutradara Kelly Reichardt dari AS, yang karyanya “Wendy and Lucy” dibintangi Michelle Williams merupakan pesaing untuk Un Certain Regard award pada Cannes 2008, menyutradarai film “Certain Women” pada 2016.

Kemudian, ada Alicia Rohrwacher dari Italia. Ia memenangi skenario terbaik di Cannes tahun lalu untuk film “Happy as Lazzarro”, kisah satir tentang keluarga petani.

Sineas Prancis Robin Campillo, yang menghebohkan Cannes pada 2017 lewat “120 BPM – Beats Per Minute”, memenangi Grand Prix untuk filmnya tentang seorang aktivis AIDS, akan bergabung dalam jejeran dewan juri.

Juga, pencipta komik Bilal, yang terkenal karena trilogi novel fiksi ilmiah Nikopol, serta menyutradarai film-film layar lebar, termasuk “Immortal” pada 2004, kata penyelenggara.

Fanning, yang mulai terjun di dunia film sejak masih anak-anak, telah membintangi beberapa film dalam kompetisi di Cannes dalam beberapa tahun terakhir, termasuk “The Beguiled” oleh Sofia Coppola pada tahun 2017.

Festival Cannesyang digelar 14-25 Mei akan dimulai dengan penayangan film terbaru sutradara AS Jim Jarmusch, “The Dead Don’t Die”.

Baca juga: Film Jepang “Shoplifter” rebut Palme d`Or Cannes
 

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Anggy Umbara angkat kisah nyata sang ibu untuk serial podcast terbaru

Jakarta (ANTARA) – Sutradara Anggy Umbara mengangkat kisah nyata sang ibunda sebagai latar cerita serial podcast (cerita yang disajikan dalam bentuk suara) terbarunya berjudul “Mata dan Mantra”.

“Ini memang berasal dari true story Ibu saya,” kata Anggy dalam jumpa pers “JOOX The Series” di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa.

Menurut Anggy, kisah ibundanya itu dinilai cocok untuk dituangkan dalam cerita podcast bergenre horor yang tengah dia kerjakan, lantaran mengandung unsur mistis dan gaib.

Anggy mengisahkan pada saat baru dilahirkan, ibundanya mengalami peristiwa aneh, di mana kedua matanya mengalami kebutaan dan mengeluarkan darah.

Namun kebutaan tersebut hanya berlangsung sesaat, setelah sang ibunda menjalani pengobatan. Seusai peristiwa itu, muncul hal mengejutkan, sang ibu justru bisa melihat hal-hal tak kasat mata.

“Jadi ketahuannya itu beliau bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang lain,” kata dia.

Dalam pengerjaan cerita podcast tersebut, Anggy menggandeng artis Shareefa Daanish dan TJ sebagai pemeran.

Cerita “Mata dan Mantra” yang tengah digarap Anggy merupakan satu dari tiga cerita podcast yang dihadirkan aplikasi streaming JOOX, bertajuk “JOOX The Series”.

Dua cerita lainnya berjudul “Bridezilla” karya sutradara Angga W. Sasongko dan Anggia Kharisma, serta “Klub Kecanduan Mantan” yang disutradarai Gina S. Noer dan Salman Aristo.

“Bridezilla” mengangkat genre romansa, tentang kisah seorang pemilik wedding organizer bernama Dara, yang berambisi memenangkan penghargaan wedding organizer of the year.

Cerita ini diperankan oleh sejumlah artis ternama, yaitu Jessica Mila, Rio Dewanto, Sheila Dara , dan Rafael Tan.

Sedangkan “Klub Kecanduan Mantan” merupakan cerita bergenre komedi yang mengisahkan tentang Janji seorang perempuan bernama Rino yang berusaha menikah lebih dulu, mendahului mantan pacarnya. Namun, dalam perjalanannya Rino kesulitan mendapatkan pasangan.

Cerita ini diperankan oleh artis dan juga penyanyi Sheryl Sheinafia, Vidi Aldiano, Kunto Aji, dan Ify Alyssa.

Baca juga: Jessica Mila kesulitan perankan tokoh serial podcast

Baca juga: Sambut Ramadan, JOOX hadirkan podcast cerita gratis

Pewarta: Peserta Susdape XIX/Fathur Rochman
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Perusahaan Obama siapkan tayangan Netflix, biopik hingga serial anak

Jakarta (ANTARA) – Perusahaan produksi Barack dan Michelle Obama menyiapkan serangkaian program beragam untuk Netflix Inc, termasuk drama sejarah di dunia mode dan biopik tentang Frederick Douglass.

Serial, dokumenter dan film dari perusahaan itu akan ditayangkan di layanan streaming selama beberapa tahun ke depan, berdasarkan pernyataan dari Higher Ground Productions, perusahaan yang dibentuk oleh mantan presiden dan mantan ibu negara AS tahun lalu.

Daftarnya meliputi drama “Bloom”, serial berlatar belakang dunia mode pasca Perang Dunia II di New York, yang mengeksplorasi batasan yang dihadapi perempuan dan orang kulit berwarna. Serial itu ditulis dan diproduksi oleh Callie Khouri yang memproduksi “Thelma and Louise” yang memenangi Oscar, seperti dilansir Reuters.

Ada juga serial untuk anak-anak usia pra-TK berjudul “Listen to Your Vegetables & Eat Your Parent” yang akan mengajak anak-anak dan orangtuanya mengikuti petualangan yang mengisahkan kisah tentang makanan.

Saat masih jadi ibu negara, Michelle Obama mengadvokasi pola makan sehat untuk anak-anak.

Proyek lain meliputi serial nonfiksi yang diangkat dari buku Michael Lewis berjudul “The Fifth Risk: Undoing Democracy”, juga adaptasi dari buku “Frederick Douglass: Prophet of Freedom”.

“Kami yakin produksi ini tak hanya akan menghibur, tapi mendidik, menghubungkan dan menginspirasi kita semua,” kata Obama dalam pernyataan.

Baca juga: Apple TV siap bersaing dengan Netflix

Baca juga: Pesaing Netflix, Disney+ diluncurkan tahun ini

Baca juga: Netflix hapus fitur AirPlay di iOS

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sutradara “Boyz N the Hood” John Singleton tutup usia

Jakarta (ANTARA) – Sutradara peraih nominasi Oscar 1992 lewat film “Boyz N the Hood” John Singleton tutup usia. Peraih penghargaan pertama untuk keturunan Afrika-Amerika itu wafat di usia 51 tahun pada Senin (29/4) di Los Angeles.

Kematiannya, di Pusat Medis Cedars-Sinai, dikonfirmasikan dalam pernyataan keluarga setelah alat bantu hidupnya dicabut. Singleton yang dirawat sejak 17 April, dilaporkan setelah mengalami stroke dan memiliki riwayat hipertensi.

Ibunya, Shelia Ward, mengatakan pekan lalu bahwa Singleton dalam keadaan koma dan mengajukan surat-surat pengadilan yang meminta untuk ditunjuk sebagai konservator sementara. Beberapa anaknya pada saat itu menentangnya dan mencoba mengambil kendali atas keputusan medis serta keuangannya, dan secara terbuka membantah penilaiannya tentang keadaan medisnya.

“Boyz N the Hood,” sebuah film realistis suram tentang tiga remaja yang tumbuh di tengah kekerasan geng di South-Central Los Angeles. Film itu membangun kepercayaan Singleton dan mengenalkannya dengan sutradara Afrika-Amerika yang lebih mapan seperti Spike Lee, Bill Duke , Julie Dash, Robert Townsend dan Reginald Hudlin.

“Ketika saya berusia 18 tahun, saya melihat ‘She’s Gotta Have It,’” kata Singleton, mengacu pada film terobosan Lee tahun 1986, dalam sebuah video YouTube pada 2013.

“Film itu sangat kuat bagi saya, seperti seorang anak muda kulit hitam remaja yang tumbuh menonton film dengan tidak banyak orang yang mirip saya,” katanya.

Dia berusia 22 ketika dia mulai syuting “Boyz,” yang mengikuti Tre (diperankan oleh Cuba Gooding Jr.) dan teman-temannya Ricky (Morris Chestnut) dan Doughboy (Ice Cube) ketika mencoba menghindari geng dan narkoba.

Ketika Ricky ditembak dan dibunuh oleh anggota geng, Doughboy, saudara tirinya, berusaha membalas dendam, tetapi Tre mundur dari pembalasan.

Singleton lulus dari sekolah film kurang dari setahun sebelumnya. Dia kemudian mengakui bahwa ketika dia membuat “Boyz N the Hood” dia belum tahu bagaimana mengarahkan film.

“Ketika film berjalan, saya belajar bagaimana mengarahkan,” katanya setelah pemutaran ulang tahun ke-25 film di Manhattan pada 2016.

“Ketika itu menjadi lebih intens dan masuk ke babak ketiga, pengambilan gambar jadi lebih dan lebih cair, karena saya menjadi lebih baik dan lebih baik – dan mengambil lebih banyak peluang. “

Setelah Columbia menayangkannya di Festival Film Cannes 1991 – dengan Spike ada Lee di antara penonton – kritikus film Roger Ebert memuji “kekuatan, kejujuran dan keterampilan pembuatan filmnya.”

“Pada akhir ‘Boyz N the Hood,'” dia menulis, “Saya menyadari, saya tidak hanya melihat debut sutradara yang brilian, tetapi sebuah film Amerika yang sangat penting.”

Sayangnya, Singleton harus kalah di Academy Award 1992 dari sutradara terbaik Jonathan Demme, yang menang lewat film “Silence of the Lambs.” Dia juga dinominasikan untuk skenario film asli terbaik, tetapi Callie Khouri memenangkan Oscar untuk “Thelma and Louise.”

Singleton tetap menjadi nominasi Oscar termuda untuk sutradara terbaik.

Tidak ada pembuat film berkulit hitam yang memenangkan Oscar sebagai sutradara terbaik. Tetapi ketika Lee memenangkan tahun ini untuk skenario terbaik yang diadaptasi, untuk “BlacKkKlansman,” Singleton sangat gembira.

“Saudaraku Spike Lee baru saja memenangkan Oscar pertamanya,” cuit Singleton di Twitter. “Aku sangat senang!”

John Daniel Singleton lahir pada 6 Januari 1968 di Los Angeles. Ibunya adalah seorang eksekutif penjualan farmasi, dan ayahnya, Danny Singleton, adalah seorang broker. Dia tinggal bersama ibunya sampai berusia 11 tahun dan kemudian tinggal bersama ayahnya, yang mendasari karakter ayah Tre (diperankan oleh Laurence Fishburne) di “Boyz.”

Singleton menyutradarai berbagai film tetapi tidak ada yang memiliki dampak seperti “Boyz.” Mereka termasuk “Rosewood” (1997), pemeragaan ulang serangan massa terhadap orang kulit hitam di Florida pada awal 1920-an, “Shaft” (2000), sebuah remake dari film hit 1971, “Baby Boy” (2001), sebuah kisah yang datang dari zaman; “2 Fast 2 Furious” (2003), entri awal dalam waralaba “Fast and the Furious”; dan “Four Brothers” (2005), sebuah drama kejahatan. D

Ia juga pindah ke televisi, mengarahkan episode “Empire,” “The People v. O.J. Simpson: American Crime Story “dan” Milions”, New York Times dikutp Rabu.

Baca juga: Sakit hati karena didepak, Roman Polanski gugat Academy

Baca juga: Penulis “Green Book” tak kenal keluarga Don Shirley sebelum film
 

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Netflix akan buat miniseri penyelamatan di gua Thailand

Jakarta (ANTARA) – Netflix sudah mendapatkan hak untuk membuat miniseri mengenai penyelamatan 12 remaja dan pelatih sepak bola dari sebuah gua di Thailand tahun lalu yang menarik perhatian internasional.

“Kisah itu menggabungkan banyak tema unik lokal dan universal yang dekat dengan orang-orang dari seluruh dunia,” ujar Erika North, Director of International Originals Netlix, seperti dilansir Reuters.

“Thailand adalah pasar yang sangat penting untuk Netflix dan kami tak sabar membawa kisah lokal yang menginspirasi tapi bisa dekat dengan global ini ke layar,” imbuh dia.

Tim sepakbola “Wild Boars”, berusia antara 11 dan 16, dan pelatihnya yang berusia 25 tahun, terperangkap pada 23 Juni saat menelusuri kompleks gua di provinsi Chiang Rai ketika air hujan membanjiri isi gua.

Penyelamatan selama 17 hari melibatkan para pakar dari berbagai negara yang menawarkan bantuan.

“Kami tak sabar untuk bekerja dengan semua pihak yang terlibat untuk memastikan kisah kami diceritakan secara akurat,” kata asisten pelatih Ekkapol “Ake” Chantapong.

Miniseri itu akan disutradarai oleh sutradara Crazy Rich Asian Jon M. Chu dan Nattawut “Baz” Poonpiriya.

Netflix dan SK Global Entertainment mendapatkan hak cipta dari 13 Thamluang, perusahaan yang didirikan oleh pelatih dan murid-murid tersebut.

Sejauh ini, sudah ada dua buku yang diterbitkan mengenai penyelamatan tersebut, sementara film panjang dari sutradara Inggris-Thailand Tom Waller berjudul “The Cave” sudah rampung diproduksi pada Desember, seperti dikutip dari Hollywood Reporter.

Baca juga: Elon Musk masuk gua di Thailand pakai kapal selam mini

Baca juga: Remaja gua Thailand ditahbiskan jadi calon biksu

Baca juga: Delapan anggota tim sepak bola Thailand berhasil diselamatkan

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Cerita Kimberly Ryder berakting dengan para aktor cilik

Jakarta (ANTARA) – Pertama kali beradu akting dengan para aktor dan aktris cilik, Kimberly Ryder mendapat banyak tantangan, salah satunya adalah harus membuat anak-anak itu nyaman dengannya.

“Tantangannya adalah bermain dengan anak-anak kecil dan mencoba untuk mengerti mereka. Aku harus membangun chemistry dengan mereka dan berusaha menjadi sosok yang bisa mereka percaya. Tidak hanya dalam akting tapi juga di luar syuting,” ujar Kimberly melalui keterangan resmi yang diterima Antara, Rabu.

Dalam film “Koki Koki Cilik 2”, Kimberly berperan sebagai Tante Adel. Dia tanpa sengaja ikut dalam petualangan Bima (Farrad Fatik) dan teman-temannya di cooking camp. Bagi Kimberly, peran ini sangat baru baginya.

“Sebelumnya aku belum pernah main karakter seperti Tante Adel, jadi memang sebuah tantangan untuk mendapatkan hati anak-anak agar mereka merasa aku bagian dari grup mereka juga,” ucapnya.

Menariknya, para pemain cilik dalam film tersebut rata-rata sudah jago memasak, hal inilah yang sempat membuat Kimberly merasa malu.

“Duh, melihat anak-anak di Kocil (Koki Koki Cilik) bisa masak membuat aku malu pada diri sendiri, karena di saat aku seumuran mereka, aku sama sekali enggak bisa melakukan apa yang bisa mereka lakukan. Aku baru belajar memasak mungkin waktu sudah di atas usia 18 tahun,” jelas istri dari Edward Akbar ini.

Seperti pada sekuel pertamanya, “Koki Koki Cilik 2” juga memberikan banyak pesan positif untuk penontonnya, bahkan Kimberly juga bisa ikut merasakannya.

“Salah satu pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa kita tidak bisa langsung menilai atau menghakimi orang lain. Kadang orang terlihat buruk perilakunya, tapi biasanya ada cerita di balik kenapa mereka melakukan itu. Kalau kita mencoba untuk mengenal mereka, biasanya kita lebih bisa mengerti sisi pandang orang tersebut,” kata pemain film “Manusia Setengah Salmon” itu.

Film yang disutradarai oleh Viva Westi ini dijadwalkan tayang pada 27 Juni 2019 untuk mengisi masa libur sekolah.

Baca juga: Kebiasaan baru Kimberly Ryder setelah menikah

Baca juga: Kejutan baru di sekuel “Koki-Koki Cilik 2”

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Syuting “Ambu”, Laudya Cynthia Bella menikmati tinggal di desa Baduy

Jakarta (ANTARA) – Tinggal di desa suku Baduy selama beberapa saat untuk syuting film “Ambu”, membuat aktris Laudya Cynthia Bella belajar banyak hal, salah satunya menikmati hidup dengan sederhana dan tanpa ponsel.

“Biasanya kalau break syuting kan kita-kita yang pemain film pada main handphone. Kalau ini enggak, kita ngumpul bareng, kekeluargaan banget,” kata Bella, demikian ia akrab disapa, saat menceritakan kesannya terlibat dalam pembuatan film “Ambu”.

Ditemui saat pemutaran film terbarunya itu, di Jakarta, Rabu, ia mengaku terkesan dengan suasana hangat yang terbangun selama syuting.

Break syuting jam 5, terus kita ngumpul rame-rame, Andri (Andri Marshadi) dia manggil anak-anak daerah sana, terus kita nyanyi-nyanyi,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Bella juga menikmati tinggal di sana dan memperhatikan bagaimana warga Baduy sehari-hari.

“Aku banyak pelajaran yang didapat bagaimana mereka hidup di sana, bagaimana mereka benar-benar mempertahankan kelestarian alam mereka, mereka temukan sabun, mereka tidak menggunakan alat kimia. Jadi menurut aku syuting di sana banyak banget pelajarannya,” katanya.

“Dan di sana kita benar-benar fresh banget. Yang bangun subuh, mandi langsung dari air sungai jadi enak banget deh,” lanjut Bella.

Pemain film “Surga Yang Tak Dirindukan” itu pun bersyukur mendapat kesempatan bermain di “Ambu”. Menurut Bella, dirinya tidak mungkin bisa berkunjung ke Baduy jika bukan karena film itu.

“Kayaknya aku enggak tahu gimana caranya untuk sampai ke sana. Kalau misalnya niatnya untuk berlibur kayaknya enggak sampai dan alhamdullilah karena film ‘Ambu’ akhirnya kesampaian,” tuturnya.

Dalam film “Ambu”, Bella berperan sebagai Fatma, seorang perempuan yang memilih meninggalkan Baduy untuk menikah dengan pemuda Jakarta.

Fatma kemudian memiliki anak bernama Nona (Lutesha) dan membawanya ke kembali ke Baduy. Namun ia mendapat penolakan dari Ambu Misnah (Widyawati), ibunya karena dianggap bukan lagi bagian dari masyarakat Baduy.

“Ambu” akan tayang pada 16 Mei 2019 dan diklaim sebagai film komersial pertama yang mengangkat latar belakang budaya Baduy.

Baca juga: Laudya Cynthia Bella dan Desy Ratnasari ditantang berbahasa Minang
 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lama vakum, Widyawati menyanyi lagi untuk film “Ambu”

Jakarta (ANTARA) – Setelah sekian lama vakum, aktris senior Widyawati kembali ke dunia tarik suara dengan menyanyikan lagu “Semesta Pertamaku” yang merupakan musik film “Ambu”.

“Alhamdullilah saya sebenarnya pengin nyanyi sejak lama. Lalu diminta sama mas Farid (Farid Dermawan, sutradara ‘Ambu’). Memang awalnya Farid minta saya untuk nyanyi,” kata Widyawati dalam jumpa pers pemutaran perdana film “Ambu” di Jakarta, Rabu.

“Semesta Pertamaku” diciptakan oleh Titien Wattimena dan diaransemen oleh Andi Rianto. Awalnya, Widyawati sempat kesulitan menyanyikannya karena nadanya yang tinggi.

“Awalnya kayak susah ya, tapi lama-lama saya menikmati. Saya dua kali retake, ada masalah. Masalahnya teknis. Saya senang aja, sebelumnya beberapa waktu lalu kalau filmnya Sophan (Sophan Sophiaan) yang bikin, saya yang nyanyi,” kata aktris yang populer di era 1970an itu.

Bintang “Pengantin Remaja” itu mengatakan, lirik lagu “Semesta Pertamaku” begitu dalam sehingga ia sempat terbawa suasana.

“Sempet nangis sih. Ada beberapa bait yang saya nangis karena saya ngebayangin ketika kejadian itu. Jadi saya ada sedikit tersekat,” ucapnya.

Selain mengisi musik film, Widyawati juga bermain dalam film “Ambu”, sebagai Ambu Misnah, ibu dari Fatma yang dimainkan oleh Laudya Cynthia Bella.

“Ambu” bercerita tentang Fatma, seorang perempuan yang memilih meninggalkan Baduy untuk menikah dengan pemuda Jakarta.

Fatma kemudian memiliki anak bernama Nona (Lutesha) dan membawanya ke kembali ke Baduy. Namun ia mendapat penolakan dari Ambu Misnah karena dianggap bukan lagi bagian dari masyarakat Baduy.

“Ambu” akan tayang pada 16 Mei 2019 dan diklaim sebagai film komersial pertama yang mengangkat latar belakang budaya Baduy.

Baca juga: Syuting “Ambu”, Laudya Cynthia Bella menikmati tinggal di desa Baduy
 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Long Shot” pertemukan pasangan tak lazim Charlize Theron – Seth Rogen

Jakarta (ANTARA) – Pemenang Oscar Charlize Theron dan aktor komedi Seth Rogen beradu akting di film komedi romantis “Long Shot”, di mana mereka berperan sebagai pasangan politisi berkuasa dengan jurnalis pengangguran yang berantakan.

Aktris 43 tahun itu berperan jadi Sekretaris Negara AS Charlotte Field dalam film, seorang politisi disegani dan ambisius yang ingin menduduki kursi presiden.

Dalam sebuah kesempatan, dia bertemu Fred Flarsky, diperankan Rogen, seorang reporter canggung yang pernah dia urus saat kecil dan sang reporter mulai bekerja untuknya sebagai penulis naskah pidato.

“Saya membaca dua biografi mengenai sekretaris negara perempuan. Kami punya beberapa penulis pidato di set yang sangat membantu dan sangat baik menjelaskan logistik dari pekerjaan itu,” kata Theron pada Reuters mengenai persiapan peran.

“Saya tidak pernah ingin membuatnya mirip seperti seseorang, saya hanya ingin karakter itu terlihat meyakinkan.”

Rogen mengatakan karakternya, yang mencolok karena penampilan yang kasual dan jatuh dari tangga, dibuat berdasarkan “penampilan sebagian jurnalis yang pernah mewawancarai saya.”

“Saya menyadari bahwa banyak dari mereka berdandan seperti usia 12 tahun,” imbuh dia dalam wawancara bersama Theron.

Komedi romantis, yang punya banyak adegan mengocok perut, berkisah tentang pasangan itu yang mulai menaruh hati ketika Field keliling dunia untuk mengerjakan kampanye lingkungan.

Sutradara Jonathan Levine mengatakan para aktor banyak melakukan improvisasi di lokasi syuting dan film itu ingin menyentuh banyak aspek dalam kehidupan nyata lewat cara yang lucu.

Baca juga: Brad Pitt dan Charlize Theron dikabarkan berkencan

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Zac Efron perankan pembunuh berantai Ted Bundy di drama baru

Jakarta (ANTARA) – Zac Efron, yang banyak digilai remaja perempuan berkat “High School Musical”, mengambil peran baru sebagai pembunuh berantai Amerika Ted Bundy dalam drama kriminal ““Extremely Wicked, Shockingly Evil, and Vile”.

Film, yang dirilis Netflix di AS dan oleh Sky Cinema di Inggris pada Jumat, berkisah tentang pengadilan Bundy pada 1979, yang dieksekusi di Florida pada 1989, dari sudut pandang pacarnya bernama Liz, diperankan aktris Lily Collins dari “Mirror Mirror”.

Sebelum ajalnya, Bundy mengaku telah membunuh lebih dari 30 perempuan muda di beberapa negara bagian AS pada 1970-an.

Bagi Efron, peran itu sangat berbeda dibandingkan karakter yang pernah didapatnya, di mana baru-baru ini dia membintangi film musikal “The Greatest Showman” dan komedi “Baywatch”.

“Ini adalah sebuah tinjauan lebih dalam terhadap salah satu manipulator massa paling parah dan pembunuh massal gadis-gadis yang mungkin jadi salah satu kisah yang paling sulit untuk diceritakan,” kata dia.

Judul filmnya diambil dari kata-kata juri Edward D. Cowart – diperankan John Malkovich – saat membacakan vonis hukuman mati untuk Bundy yang berusia 32 tahun, menyebut kejahatannya sangat jahat dan keji, “extremely wicked, shockingly evil, vile”.

Pengadilan di Miami yang ditayangkan di televisi menampilkan Bundy si mahasiswa hukum, yang lolos dari tahanan polisi sebanyak dua kali, berdiri di pengadilan yang dihadiri oleh penggemar-penggemarnya.

“Tidak ada yang percaya Bundy bisa melakukan kejahatan itu melihat dari penampilannya, bagaimana dia bersikap,” ujar sutradara Joe Berlinger.

“Kita hidup di era… di mana orang memberikan citra yang berbeda dari dirinya, jadi apa yang bisa dipelajari dari Bundy saya pikir relevan untuk masa kini.”

Baca juga: Produser: serial pembunuhan Versace tampilkan citra keluarga dengan baik

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film animasi Bilal Bin Rabah akan tayang di Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Menyambut bulan Ramadhan 2019, Falcon Pictures memboyong film animasi dari Uni Emirat Arab yang berkisah tentang sosok Bilal bin Rabah berjudul “Bilal: A New Breed of Hero”

“Bilal” adalah film animasi panjang pertama dari Uni Emirat Arab garapan Barajoun Entertainment.

Dalam keterangan pers yang diterima Antara di Jakarta, Kamis, film itu dialih suarakan oleh aktor Inggris, Adewale Akinnuoye-Agbaje, yang berperan sebagai Killer Croc di film Suicide Squad.

Sebelumnya, film “Bilal” telah mencuri perhatian saat diputar di festival film Cannes, pada Mei lalu, dan mendapatkan penghargaan dari sebagai Best Inspiring Movie dalam kategori Animasi.

Produser Falcon Pictures, Frederica mengatakan, sebagai perusahaan film, Falcon Pictures akan terus mengembangkan diri.

“Kami bekerja keras, bukan hanya untuk kepentingan kami, tapi juga untuk kemajuan film Indonesia. Kami juga akan bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan film Internsional untuk menghadirkan fillm-film terbaik di Indonesia,” kata Frederica.

Film “Bilal” akan tayang serentak diseluruh bioskop CGV dan Cinemaxx di Indonesia pada tanggal 15 Mei 2019.
 

Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Wizzy kembali garap soundtrack “Si Doel The Movie”

Jakarta (ANTARA) – Penyanyi Indonesia Wizzy Williana menggarap lagu latar (soundtrack) untuk sekuel film Si Doel yaitu Si Doel The Movie 2 dengan lagu Kepastian yang pernah dipopulerkan oleh Reza Artamevia.

“Pada film Si Doel The Movie, Wizzy juga (telah) membawakan satu lagu untuk soundtrack-nya. Dan puji Tuhan, sambutannya (lagu latar) sangat positif. Untuk itulah pada film Si Doel The Movie 2 dengan komposer yang sama, Wizzy kembali dipilih mengisi soundtrack-nya,” ujar Produser Falcon Pictures Frederica sebagai pemroduksi “Si Doel The Movie 2” melalui keterangan resmi yang diterima Antara di Jakarta, Kamis.

“Untuk pemilihan lagu, Kepastian dipilih karena pas untuk menyampaikan kegelisahan hati dari Zaenab dan Sarah,” kata Frederica tentang lagu ciptaan Bebi Romeo itu.

Sementara, Wizzy mengaku sangat bangga karena kembali dipercaya untuk kembali mengisi soundtrack.

Baca juga: “Si Doel the Movie 2” resmi luncurkan poster dan trailer

Perempuan kelahiran Surabaya itu berharap lagu Kepastian juga bisa mendapat respon yang positif dari masyarakat.

“Selain senang bisa kembali mengisi soundtrack film Si Doel The Movie, saya juga senang bisa kembali bekerja sama dengan mas Bebi. Dan, (saya) tidak nyangka juga membawakan lagu Kepastian yang dulu pernah sukses dibawakan Reza Artamevia. Mudah-mudahan dengan aransemen baru, lagu itu bisa diterima pecinta musik Indonesia,” ujar penyanyi jebolan Mamamia 2 itu.

Selain membawakan lagu latar, Wizzy yang sempat bermain dalam film Jomblo Reboot itu juga ikut bermain dalam film arahan Rano Karno itu.

Aktor dan aktris lain yang juga terlibat dalam Si Doel The Movie 2 adalah Rano Karno, Mandra, Suty Karno, Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, dan Adam Jagwani.

“Si Doel The Movie 2” akan tayang di bioskop-bioskop Tanah Air pada 4 Juni 2019.

Baca juga: “Si Doel The Movie 2” adalah kunci untuk sekuel terakhir

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Blake Lively dan Ryan Reynolds nantikan anak ketiga

Jakarta (ANTARA) – Blake Lively tengah mengandung anak ketiga, yang terungkap saat dia menghadiri pemutaran perdana film “Detective Pikachu” yang dibintangi suaminya aktor Ryan Reynolds. 

Blake dan Ryan selalu tertutup perihal kehidupan keluarganya. Namun dia tidak bisa menyembunyikan kehamilannya yang ketiga ini.

Dalam acara premier tersebut, Blake mengenakan gaun kuning ketat yang memperlihatkan perutnya yang mulai membesar. Diperkirakan usia kehamilan Blake sudah memasuki trimester kedua, demikian dilansir Hollywoodlife, Jumat.

Sang pemeran “Deadpool” juga terlihat berseri-seri saat berpose dengan istrinya di karpet kuning. Dia melingkarkan lengannya di tubuh perempuan itu dan membiarkan perut Blake bersandar di tubuhnya.

Kehadiran Blake dengan perut besar mengejutkan banyak media. Sebab, dia tidak pernah menunjukkan diri selama beberapa bulan terakhir. Bahkan pada unggahan terakhirnya di Instagram 11 Januari, ia tampil mengenakan busana hitam asimetris yang cukup besar untuk menyembunyikan kehamilannya.

Selama promosi film “Detective Pikachu” di seluruh dunia, Ryan tidak pernah membocorkan sedikit pun tentang kehadiran anak ketiganya. Sebab dia memang benar-benar menjaga privasi keluarganya.

Pasangan ini sudah memiliki dua anak perempuan, James (4 tahun) dan Inez (2 tahun). Saat putri kedua mereka lahir, Blake dan Ryan tidak mau mengungkapkan namanya sampai tiga bulan kemudian.

Begitu juga dengan anak pertamanya, James. Ryan bahkan tidak menceritakan jika anaknya sudah lahir. Kabar itu baru terungkap ketika James sudah berusia tiga bulan.

Ryan sempat mengatakan bahwa dia memang sengaja tidak mengumumkan kelahiran anaknya pada Desember 2014 karena tidak ingin suatu saat sang anak marah karena hal tersebut.

“Saya tidak ingin menjadi orang pertama yang berteriak pada media. Karena seperti kita tahu, gadis-gadis kecil berubah menjadi gadis remaja dan gadis remaja kecil kadang-kadang mencari tahu segalanya dan dia mengatakan, ‘Kenapa kau melakukan itu’,” kata Ryan.

James dan Inez pertama kali terlihat di depan umum dalam upacara Hollywood Walk of Fame Ryan pada 13 Agustus 2018.

 Baca juga: Ryan Reynolds dan Blake Lively saling goda di Instagram
 

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemeran Chewbacca dalam film “Star Wars”, Peter Mayhew meninggal

Jakarta (ANTARA) – Peter Mayhew yang dikenal oleh penggemar “Star Wars” sebagai Wookiee Chewbacca meninggal dunia pada usia 74 tahun.

Menurut laporan Hollywoodreporter, Jumat, aktor itu meninggal pada Selasa (30/4) waktu setempat di kediamannya di Texas Utara dengan keluarganya di sisinya. Akun Twitter resmi Mayhew membagikan berita tersebut pada Kamis.

Mayhew sebelumnya telah menjalani operasi tulang belakang pada Juli untuk memperbaiki mobilitasnya.

Aktor asal London ini berperan sebagai Chewbacca dalam “Star Wars” (1977), “Return of the Jedi” (1983), “Revenge of the Sith” (2005) dan “The Force Awakens” (2015).

Mayhew juga sempat bermain sebagai cameo dalam film fantasi Ray Harryhausen yang berjudul “Sinbad and the Eye of the Tiger (1977). Di saat yang sama Mayhew juga bekerja di rumah sakit saat mengikuti casting untuk Chewbacca.

Dia terpilih karena fisiknya sangat sesuai dengan keinginan sang sutradara, George Lucas yang membutuhkan seseorang yang lebih tinggi dari Darth Vader.

Keluarga besar “Star Wars” pun memberikan penghormatan pada Mayhew untuk dedikasinya selama ini terhadap karakter yang dia perankan.

“Peter adalah pria yang luar biasa. Dia adalah manusia yang paling dekat dengan Wookiee: hati besar, sifat lembut … dan aku belajar untuk selalu membiarkannya menang. Dia adalah teman yang baik dan aku sedih dengan kepergiannya,” kata Lucas dalam sebuah pernyataan.

“Peter Mayhew adalah orang yang baik dan lembut, memiliki martabat dan karakter yang mulia. Aspek-aspek kepribadiannya sendiri, ditambah kecerdasan dan keanggunannya, dia bawa ke Chewbacca,” ujar Harrison Ford yang berperan sebagai Han Solo.

“Kami adalah mitra dalam film dan teman-teman dalam kehidupan selama lebih dari 30 tahun dan saya mencintainya. Dia menginvestasikan jiwanya dalam karakter dan membawa kesenangan besar bagi penonton “Star Wars”. Chewbacca adalah bagian penting dari keberhasilan film yang kami buat bersamanya,” kata Ford.

“Saya dan jutaan orang lain tidak akan pernah melupakan Peter dan apa yang dia berikan kepada kita semua. Doa saya untuk istri tercintanya, Angie dan anak-anaknya. Pergilah dengan tenang sahabatku,” lanjutnya.

Sebuah upacara penghormatan yang bersifat tertutup akan dilangsungkan pada 29 Juni dan acara pertemuan dengan para penggemar di EmpireConLA pada Desember.

Peter Mayhew pergi meninggalkan seorang istri, Angie dan tiga anaknya.

Baca juga: Setelah rilis Episode 9, film “Star Wars” akan vakum sementara

Baca juga: Disney ungkap tanggal pembukaan ekspansi “Star Wars”
 

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Optimistis melaju ke Senayan, Rano Karno siapkan program “I-Pop”

Jakarta (ANTARA) – Aktor Rano Karno optimistis bisa melaju ke Senayan pada pemilihan anggota legislatif tahun ini mewakili wilayah Banten 3.

Jika benar terpilih, sosok yang dikenal sebagai Bang Doel itu ingin memajukan budaya populer Indonesia melalui program
pop Indonesia (I-pop) layaknya Korean Pop (K-pop) di Negeri Ginseng.

“Mungkin kita tunggu KPU saja. Tapi kalau dari catatan saya, saya punya tim, mungkin saya satu-satunya yang punya kamar hitung, cukup optimistis untuk ke Senayan. Cuma berapa besar (peluangnya) kita tunggu KPU,” ujar dia saat berkunjung ke kantor LKBN ANTARA di Jakarta, Jumat.

Rano mengungkapkan, anggota legislatif menjadi keinginan terakhir usai mencicipi dunia eksekutif beberapa waktu lalu.

Bagi pria berusia 59 tahun itu, birokrasi tak lagi menarik dan tak akan pernah lagi dia masuki.

“Kalau jadi caleg ini keinginan saya yang terakhir. Umur saya sudah 59 tahun, saya ingin berikan kontribusi dalam pemikiran. Saya sudah tidak tertarik lagi jadi gubernur, wali kota. Cukup bagi saya,” tutur dia.

Dia mengatakan, jika nantinya keinginan itu terwujud, dia berharap bisa berada di Komisi X. Di sana, dia berencana bisa mengangkat pop Indonesia (I-pop) layaknya Korean Pop (K-pop) di negeri ginseng sana.

Untuk bisa mencapainya, Rano optimistis, salah satunya karena sumber daya manusia di Indonesia memadai. Apalagi jika pemerintah bisa membantu dari sisi perizinan, distribusi dan lainnya.

Hal lain yang tak kalah penting, dukungan dari para seniman yang memiliki pemikiran serupa melalui jalur politik.

“Kalau Anda ingin memperjuangkan sesuatu, tidak ada cara lain kecuali lewat jalur politik,” demikian kata dia.

Rano Karno bertarung ke Senayan melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mewakili wilayah Banten Tiga. Selain dia, ada beberapa seniman yang juga bernaung di partai berlambang banteng itu namun untuk wilayah pemilihan berbeda antara lain Guruh Soekarno Putra (Jawa Timur 6), Krisdayanti (Jawa Timur 5) dan Rieke Diah Pitaloka (Jawa Barat 7).

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Roh Fasik”, film horor religi terbaru Irwansyah dan Evan Sanders

Jakarta (ANTARA) – Aktor Irwansyah dan Evan Sanders bersiap meramaikan jagat layar perfilman Indonesia, kali ini melalui film bergenre horor religi, “Roh Fasik”.

Dalam film besutan sutradara Ubay Fox itu, Irwansyah berperan sebagai Hasan, sementara Evan memerankan tokoh Akbar. Keduanya yang merupakan sahabat itu memainkan karakter ustaz.

Selain mereka, film ini juga dibintangi Zaskia Sungkar, Nagita Slavina, Volland Humonggio, Abi Cancer, Messi Gusti dan Denira Wiraguna.

“Saya sebagai Hasan, sahabatnya Akbar (Evan Sanders). Kami berdua belajar agama sama-sama. Tapi di sini Akbar diawali konflik keluarga yang harus diselesaikan bersama-sama,” kata Irwansyah saat berkunjung ke kantor Antara di Jakarta, Selasa.

Akbar masuk ke dalam persoalan duniawi karena ditinggal sang istri (Zaskia Sungkar) dan hal ini yang membuatnya berubah. Di lain sisi, Hasan berusaha membantu sahabatnya agar kembali seperti dulu.

“Makanya Hasan yang selalu mendampingi, seperti Amira (Messi Gusti) untuk keagamannya, salatnya, karena posisi Akbar benar-benar black out of the world. Hasan membantu Akbar menyelesaikan persoalan,” tutur Evan dalam kesempatan yang sama.

Menurut Evan, film ini berbeda dari genre horor religi lainnya, salah satunya karena menghadirkan juga tema persahabatan.

“Di luar sana banyak horor, tetapi religi sedikit. Enggak hanya entertainment yang membuat orang menikmati alur cerita, tetapi juga pengetahuan. Ini juga tentang cerita persahabatan antar teman,” kata dia.

Film ini, sambung Evan juga tepat ditonton saat Ramadhan karena juga mengangkat kesesatan seseorang yang kemudian insaf.

“Banyak poin plus yang bisa diambil. Nonton enggak hanya untuk ditakut-takutin,” kata dia.

“Roh Fasik” yang diproduksi RA Pictures rencananya tayang di bioskop pada 9 Mei 2019.

Baca juga: Jelang Ramadan, Zaskia Sungkar makin rajin belajar masak

Baca juga: Derby Romero: Saya suka film horor

Baca juga: “Weeping Woman”, kisah iblis pengincar anak-anak

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Evan Sanders minta Irwansyah ajari ngaji demi “Roh Fasik”

Jakarta (ANTARA) – Aktor Evan Sanders mendapat tantangan baru dalam film horor religi “Roh Fasik” yang akan tayang pada Mei 2019.

Berperan sebagai ustaz bernama Akbar, Evan dituntut untuk memperlihatkan kemampuan mengaji yang mumpuni di depan kamera.

Seraya berseloroh, pria 37 tahun itu mengaku lebih fokus menghafal cara melagukan ayat-ayat Al Quran ketimbang dialog pada skenario.

“Ada satu momen ngaji, aku menghafal surat Ar-Rahman, Irwansyah (pemeran Hasan) yang mengajari. Lumayan, bekerja sambil belajar,” kata Evan saat mengunjungi kantor ANTARA di Jakarta, Selasa.

Permintaan untuk melantunkan ayat Quran secara indah seperti para ustaz berhasil dipenuhi Evan mempelajari suara Irwansyah saat mengaji yang direkam di handphone.

“Juga ambil referensi dari YouTube untuk menghafalkan nadanya,” imbuh Evan.

Dalam “Roh Fasik”, karakter Hasan dan Akbar digambarkan sebagai seorang ustaz. Saat Akbar terguncang setelah ditinggal mati istrinya, Hasan adalah orang yang selalu mendampingi agar sahabatnya tetap berada di jalan yang benar, juga membantu menyelesaikan segala problematika.

“Roh Fasik” adalah kali kedua Evan Sanders membintangi film horor religi, sebelumnya dia juga diminta membaca Quran di film “Ruqyah: The Exorcism”.

Film yang pengambilan gambarnya berada di Jakarta, Puncak dan Papandayan itu adalah film horor religi dari RA Pictures yang disutradarai oleh Ubay Fox.

Film ini dibintangi oleh Irwansyah, Denira Wiraguna, Volland Humonggio, Zaskia Sungkar, Nagita Slavina serta aktris cilik Messi Gusti.

“Roh Fasik” akan tayang pada 9 Mei mendatang.

Baca juga: “Roh Fasik”, film horor religi terbaru Irwansyah dan Evan Sanders

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Messi Gusti dipuji di “Roh Fasik”

Jakarta (ANTARA) – Kecil-kecil si cabe rawit, kemampuan aktris cilik Messi Gusti mendapat pujian dari lawan mainnya di film horor “Roh Fasik”.

Pemilik nama lengkap Keinaya Messi Gusti itu harus mengaji dalam film yang disutradarai Ubay Fox itu.

“Dia sudah hafal surat-surat (Quran) pas di lokasi syuting,” puji Irwansyah atas performa Messi, saat mengunjungi kantor Antara di Jakarta, Selasa.

Meski terlibat dalam film horor yang membuat kuduk meremang, aktris yang sudah mulai berakting sejak berusia empat tahun itu berpendapat suasana syuting menyenangkan.

Dari semua para pemeran dewasa, Denira Wiraguna disebut sebagai aktor yang paling akrab dengannya.

“Dia jadi ibu kedua aku,” kata aktris kelahiran Jakarta, 5 Desember 2010.

Sebelum membintangi “Roh Fasik”, penyuka grup K-pop BLACKPINK itu sudah menampilkan kemampuan aktingnya dalam film “Kuambil Lagi Hatiku” (2019) , “Night Bus” (2017) dan “Cinta Laki-Laki Biasa” (2016).

Dalam waktu dekat, rencananya ada dua film lain yang dibintangi oleh gadis yang suka berenang dan bersepeda itu.

Meski aktif sebagai aktris cilik, sulung dari dua bersaudara itu punya cita-cita lain di luar dunia film.

“Aku mau jadi dokter gigi,” kata dia sambil tersenyum.

Baca juga: Evan Sanders minta Irwansyah ajari ngaji demi “Roh Fasik”

Baca juga: “Roh Fasik”, film horor religi terbaru Irwansyah dan Evan Sanders

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemeran film Roh Fasik

Artis pemeran film Roh Fasik (kiri ke kanan) Evan Sanders, Irwansyah, Keinaya Messi Gusti dan Volland Humonggio berpose saat berkunjung ke redaksi Kantor Berita Antara di Wisma Antara, Jakarta, Selasa (22/4/2019). Kunjungan tersebut dalam rangka promosi film berjudul Roh Fasik yang akan tayang pada 9 Mei 2019. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.

Widyawati kembali “ngampus” di film “Mahasiswi Baru”

Jakarta (ANTARA) – Aktris senior, Widyawati akan kembali merasakan dunia kampus melalui film bergenre drama komedi terbarunya, “Mahasiswi Baru”.

Dalam film besutan sutradara Monty Tiwa itu, dia akan memerankan tokoh Lastri (67) yang bersemangat untuk kuliah di usia yang tak lagi muda. Di sisi lain, Lastri harus menghadapi Anna (Karina Suwandi), putrinya, yang tak setuju dengan keinginannya.

“Saya ditawari (karakter ini) tahun lalu. Tidak ada kata tua untuk belajar. Saya katakanlah, punya satu geng yang isinya anak muda. Saya merasakan sesuatu yang baru,” kata Widyawati dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.

Dalam kesempatan itu, Monty menjanjikan adanya inovasi dalam cerita, kendati kisah dunia kampus dan para mahasiswanya sudah menjadi hal lumrah.

“Dunia kampus, menjadi mahasiwa sudah menjadi hal lumrah. Fase hidup yang harusnya berjalan. Tapi ada inovasi dalam cerita (dalam film ini),” kata dia.

Proses produksi film akan berlangsung pada 26 April mendatang dan mengambil lokasi, salah satunya di Yogyakarta. Proses syutinh rencananya membutuhkan waktu 17-18 hari.

Selain Widyawati dan Karina Suwandi, film ini juga dibintangi aktor Slamet Rahardjo, Mikha Tambayong, Morgan Oey, Umay Shahab, Izhur Muchtar, Ence Bagus dan Sonia Alyssa.

Baca juga: Widyawati persembahkan “Lifetime Achievement” Piala Citra untuk ibu

Baca juga: Monty Tiwa menjajal web series

Baca juga: “Siap terlihat jelek”, Morgan Oey dapat peran di film Upi

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Perasaan Karina Suwandi dan Ence Bagus bisa main film bareng Widyawati

Jakarta (ANTARA) – Aktris Karina Suwandi dan komedian Ence Bagus mengungkapkan perasaan terpendam mereka karena terlibat dalam film “Mahasiswi Baru” bersama aktris senior Widyawati.

Karina mengatakan ini menjadi momen tersendiri untuk dia yang selama ini tumbuh besar menikmati berbagai film yang Widyawati bintangi.

“Saya tumbuh menonton film mama (Widyawati). Sekarang bisa main bareng. Jadi satu momen tersendiri,” ujar dia di Jakarta, Selasa.

Karina memerankan tokoh Anna, anak Widyawati yang berperan sebagai Lastri. Anna menentang keinginan sang mama untuk kembali ke dunia kampus. Dia juga menghadapi konflik dengan ibunya karena suatu masalah.

“Saya kehilangan anak. Sebagai ibu saya hancur, mencoba menyangkal. Ada konflik sama ibu saat tahu ibu mau kuliah,” kata Karina.

Dalam kesempatan yang sama, Ence mengaku sempat merasa khawatir harus beradu akting dengan Widyawati. Ini adalah pengalaman pertama dia terlibat dalam film yang sama dengan sang aktris senior itu.

“Lumayan kaget tetapi ya deg-degan, takut salah sama senior kadang-kadang. Alhamdulillah kemarin ada proses reading juga dan tante Widyawati termasuk aktris yang mumpuni, tahu cara membuka diri pada pemain lain,” ujar dia seraya tertawa.

Dia juga menyempatkan diri mencari-cari bahan obrolan agar bisa lebih cair dengan Widyawati.

“Deket dulu, coba mengobrol. Sama tante dicari dulu satu hal yang kira-kira punya pemikiran yanh sama, concern yang sama. Tante terbuka banget. Dia yang membuka pintu untuk mengobrol, Alhamdulillah,” papar Ence.

Dalam film “Mahasiswi Baru”, Ence berperan sebagai Fahmi, seorang dosen yang idealis. Namun, dia menghadapi dilema saat harus mengajar Lastri (diperankan Widyawati), yang usianya memasuki 67 tahun.

“Dia enggak cunihin, enggak genit. Dilematis saja bahwa dia dosen yang idealis, tetapi ketika bertemu mahasiswi senior itu bingung menghadapinya. Antara dia sebagai dosen tetapi di lain pihak dia sebagai manusia menghadapi senior,” kata dia.

“Mahasiswi Baru” berkisah tentang Lastri (67) yang memutuskan menjadi mahasiswi di usia yang tak terbilang muda. Nantinya banyak kejadian di kampus lantaran ada gap antara dirinya dan mahasiswa lainnya.

Selain Widyawati, Karina dan Ence, film ini juga dibintangi aktor Slamet Rahardjo, Mikha Tambayong, Morgan Oey, Umay Shahab, Izhur Muchtar dan Sonia Alyssa.

Proses produksi film akan berlangsung pada 26 April mendatang dan disutradarai oleh Monty Tiwa.
 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pelawak jadi presiden, ini kata Evan Sanders

Jakarta (ANTARA) – Siapa saja bisa jadi presiden bila punya latar belakang yang mendukung serta visi yang bagus, begitulah komentar aktor Evan Sanders mengenai terpilihnya pelawak sebagai presiden baru di Ukraina.

Komedian Volodymyr Zelenskiy mengalahkan calon petahana Petro Poroshenko dalam pemilihan presiden di Ukraina.

“Pelawak itu karakter, tapi kalau dia punya visi, background bagus, stigma pelawak bisa dijadikan serius,” ujar Evan saat berkunjung ke ANTARA, Selasa.

Latar belakang bukan halangan bagi siapa saja yang ingin memimpin negara, selama orang tersebut berhasil meraih dukungan dari masyarakat.

Walau penampilannya membuat orang terbahak-bahak, pelawak bisa terbagi jadi beberapa tipe yang berbeda.

Ada yang melawak dengan sengaja tampil konyol dan terlihat pura-pura bodoh, ada yang membuat lawakan secara cerdas. Dia percaya tipe kedua punya potensi untuk menjadi seorang politisi.

Baca juga: Messi Gusti dipuji di “Roh Fasik”

Evan mengambil contoh lain dari orang-orang di luar stereotipe seorang pejabat, seperti pemimpin termuda dunia Kanselir Austria Sebastian Kurz yang baru berusia 32 tahun.

“Masih muda, bisa, kenapa tidak? Sama seperti menteri Malaysia (Syed Saddiq) yang muda banget,” kata aktor “Roh Fasik” itu.

Satu hal penting adalah melihat isi “lapisan terluar” yang selama ini diperlihatkan pada publik.

“Yang penting punya dasar pendidikan, paham tentang politik mengerti bidang yang ditekuni.”

Baca juga: Evan Sanders minta Irwansyah ajari ngaji demi “Roh Fasik”

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Volland ungkap pengalaman misterius saat syuting “Roh Fasik”

Jakarta (ANTARA) – Aktor Volland Humonggio mengungkapkan pengalaman mistis saat syuting film horor religi “Roh Fasik” beberapa waktu lalu.

“Di rumah ada adegan salah satu hantu, merasa seperti ada sesuatu yang mendampingi,” ujar dia saat berkunjung ke kantor Antara, di Jakarta, Selasa.

Volland juga mengaku mendengar suara seseorang yang berteriak-teriak. Saat malam tiba, orang yang berteriak itu mengalami kesurupan.

Baca juga: Messi Gusti dipuji di “Roh Fasik”

Dia juga merasa ngeri saat pengambilan gambar di kawasan pemakaman.

“Kayak ada yang teriak-teriak. Dia agak sedikit kesurupan pas malam. Juga agak ngeri di set kuburan,” tutur dia.

Dalam kesempatan yang sama, aktor Evan Sanders mengatakan lokasi syuting memang berada di kawasan pemakaman.

Baca juga: Evan Sanders minta Irwansyah ajari ngaji demi “Roh Fasik”
  Artis pemeran film Roh Fasik (kiri ke kanan) Evan Sanders, Irwansyah, Keinaya Messi Gusti dan Volland Humonggio berpose saat berkunjung ke redaksi Kantor Berita Antara di Wisma Antara, Jakarta, Selasa (22/4/2019). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/hp.

Dalam “Roh Fasik” karya sutradara Ubay Fox, Volland berperan sebagai Kemal, sahabat Hasan (Irwansyah). Melalui Hasan, Kemal banyak mempelajari ilmu agama.

“Sahabatnya, Hasan, banyak belajar sama Hasan, bisa dibilang salah satu orang menguasai ilmu agama, Kemal berusaha mempelajarinya,” tutur Volland.

Pengambilan gambar film “Roh Fasik” dilakukan pada tahun 2018 dan memakan waktu sekitar 19 hari.

Ada sejumlah tempat yang menjadi lokasi syuting film yang juga dibintangi Zaskia Sungkar, Nagita Slavina, Abi Cancer, Messi Gusti dan Denira Wiraguna itu, antara lain kawasan Puncak dan Gunung Papandayan, Jawa Barat.

Baca juga: “Roh Fasik”, film horor religi terbaru Irwansyah dan Evan Sanders

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Roh Fasik” dan “Munafik” sama? Ini kata Evan Sanders dan kawan-kawan

Jakarta (ANTARA) – Saat trailer film horor religi RA Pictures “Roh Fasik” dirilis, beberapa orang berpendapat film itu sama seperti karya negeri tetangga “Munafik”.

Apa komentar Evan Sanders, Irwansyah dan Volland Humonggio yang terlibat sebagai pemain dalam film “Roh Fasik”?

Evan menegaskan kedua film itu berbeda, salah satunya dalam makna judul, yakni “fasik dan “munafik”. Menurut dia, munafik merupakan bentuk sikap penyangkalan (denial) yang bisa membuat seseorang berujung pada fasik.

“Fasik di atasnya munafik, orang enggak bisa menerima kenyataan yang ada. Kalau munafik kan denial, itu yang membuat kondisi Akbar (tokoh yang Evan perankan) akhirnya ke arah fasik,” kata dia saat berkunjung ke kantor Antara di Jakarta, Selasa.

Evan menambahkan, “Roh Fasik” dan “Munafik” punya cerita berbeda. Dia maklum jika orang-orang menyamakannya, karena dari sisi genre memang sama yakni horor religi.

Baca juga: “Roh Fasik”, film horor religi terbaru Irwansyah dan Evan Sanders

Di sisi lain, Irwansyah mengaku belum menonton film “Munafik”.

“Saya belum nonton. Pas nge-post (“Roh Fasik”) ini banyak yang komentar mirip “Munafik”. Saya tanya ke Ubay (sutradara) kok disamain. Sudah declare ke sutradara film “Munafik” dan mereka bertemu. Kalau dibilang sama banget juga enggak,” papar dia.

Sementara itu, menurut Volland, dari sisi skill pemain dan efek suara, Ubay menyuguhkan hal berbeda.

“Make up dan kemampuan hantunya ini punya kelebihan. Ubay selama seminggu mencoba mencari stuntman yang mencoba gerakan ini itu. Jarang ada stuntman bisa melakukan itu, biasanya pake sling. Gerakannya riil. Bikin merinding,” tutur dia.

Baca juga: Volland ungkap pengalaman misterius saat syuting “Roh Fasik”
 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Brie Larson-Scarlet Johannson kompak pakai cincin Thanos di premier

Jakarta (ANTARA) – Brie Larson dan Scarlett Johannson kompak memakai cincin Thanos pada pemutaran perdana “Avengers: Endgame” di Los Angeles, Senin waktu setempat.

Lima batu Infinity Gauntlet berwarna hijau, merah, oranye, pink dan biru melingkar di kelima jari Larson yang tampil menawan mengenakan gaun satin warna ungu muda.

Aktris pemeran Captain Marvel berusia 29 tahun itu memadukan kelima cincin jari tangan kirinya dengan gelang emas besar dengan batu amber.

Sementara itu, Scarlett Johannson alias sang Black Widow memberi aksen rantai di cincin batu Infinity miliknya.
  Scarlett Johansson (REUTERS/MARIO ANZUONI)

Aktris 34 tahun itu memakai gelang emas yang terhubung dengan rantai emas ke lima cincin di jari kirinya yang warnanya serupa dengan cincin Thanos.

Johannson memadukan perhiasan mencoloknya itu dengan gaun sederhana tanpa tali dengan belahan hingga paha.

Johannson berjalan di karpet ungu bersama kekasihnya yakni komedian SNL, Colin Jost.

Gala premier “Avengers: Endgame” dihadiri bintang-bintang Marvel Cinematic Universe (MCU) baik yang lama maupun yang baru.

Chris Pratt, alias Star-Lord, hadir menggandeng tunangannya Katherine Schwarzenegger, sementara Chris Hemsworth (Thor) datang ditemani sang istri Elsa Pataky, kakaknya Liam Hemsworth dan iparnya Miley Cyrus, demikian seperti dikutip dari Metro.co.uk, Selasa.

Baca juga: Serunya Billy Davidson saat bertemu para pemain “Avengers: Endgame”

Baca juga: Sutradara “Avengers: Endgame” mohon filmnya tidak dibocorkan
 

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Avengers: Endgame” misi terakhir Avengers selamatkan semesta

Jakarta (ANTARA) – Pertarungan terbesar antara Avengers melawan Thanos tertuang dengan ciamik dalam film “Avengers: Endgame”.

Film lanjutan “Avengers: Infinity War” itu mengisahkan perjuangan Avengers yang selamat untuk mengembalikan keadaan setelah lolos dari “jentikan” maut Thanos yang mengugugurkan setengah populasi kehidupan alam semesta.

Selain mengembalikan keadaan, Avengers yang tersisa seperti Iron Man, Captain America, Black Widow, Bruce Banner, Thor, dan Nebula memiliki misi terakhir yaitu mengalahkan Thanos selamanya.

Marvel berhasil membuat “Avengers:Endgame” menguras emosi penontonnya. Alur cerita yang disajikan tidak mudah ditebak.

Berbeda dengan film-film Marvel sebelumnya, dialog antar-pemain lebih ditonjolkan dibandingkan aksi laganya.

Dialog-dialog yang ada terkesan lebih serius dan tidak sesantai film Marvel sebelumnya.

Salah satu dialog yang serius cenderung suram bisa dirasakan di awal film pada adegan saat Tony Stark sang Iron Man sudah sangat putus asa di dalam kapal luar angkasa milik Quill yang kehabisan oksigen setelah berusaha berjuang mengalahkan Thanos di “Infinity War”. Dia merekam pesan terakhirnya untuk sang istri.

“Kubilang tidak ada kejutan lagi, tapi kuharap ada satu kejutan lagi,” kata Stark putus asa.

Meskipun begitu, aksi laga dan penggunaan CGI khas Marvel tetap ditampilkan dan mengundang penonton untuk terpukau dan tertawa dalam selisih waktu yang dekat.

Penokohan para pemain film seperti Robert Downey Jr, Jeremy Renner, Scarlett Johansson, dan Chris Hemsworth ini pun patut diacungi jempol mengingat beberapa karakter mengalami perubahan psikologi yang drastis pada saat Thanos menghilangkan separuh kehidupan di alam semesta.

Setiap bagian dalam film ini terasa penting terutama bagi penggemar yang sudah menonton 21 film Marvel Cinematic Universe sebelumnya sehingga membuat film berdurasi tiga jam ini terasa sebentar dan tidak membosankan.

Meski demikian akan ada bumbu-bumbu kejutan di “Avengers: Endgame” di mana salah satu karakter wanita akan lebih ditonjolkan dan memiliki peran penting dalam aksi penyelamatan semesta. Siapakah dia? Penasaran?

Saksikan film garapan rumah produksi Disney ini yang mulai tayang secara serentak mulai 24 April 2019 di seluruh bioskop Indonesia.

Baca juga: Brie Larson-Scarlet Johannson kompak pakai cincin Thanos di premier

Baca juga: Disney Indonesia keluarkan koleksi busana bertema Avengers

Baca juga: “Avengers: Endgame” jadi film Marvel terakhir Gwyneth Paltrow

Pewarta: Peserta Susdape XIX/Livia Kristianti
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kritikus film AS banjiri “Avengers: Endgame” dengan ulasan positif

Jakarta (ANTARA) – Para kritikus film menuliskan ulasan-ulasan positif atas “Avengers: Endgame”, film pahlawan super pamungkas dari studio Marvel.

Dilansir Reuters, per Selasa petang (23/4) waktu setempat, hampir seluruh 56 ulasan “Endgame” di laman Rotten Tomatoes bernuansa positif.

USA Today menulis film berdurasi tiga jam itu adalah paket keren dari Marvel, menghadirkan petualangan seru yang akan membahagiakan penggemar yang setia mengikuti kisah karakter-karakternya seperti Iron Man dan Thor.

“Endgame” mengakhiri cerita yang sudah terjalin dari 21 film Marvel sejak 2007. “Endgame” adalah lanjutan dari “Avengers: Infinity War” tahun lalu yang akhirnya “menggantung” di mana sebagian pahlawan super yang dicintai penggemar berubah jadi debu.

Brian Lowry dari CNN menyebut “Endgame” memberikan akhir yang memuaskan.

“Perjalanan ini secara garis besar tak cuma menghasilkan beberapa kejutan, tapi juga banyak humor sebagai selingan dari adegan yang mengaduk perasaan.”

Pakar Box Office mengatakan “Endgame” mungkin bakal memecahkan rekor penjualan tiket pada pembukaan akhir pekan di AS dan Kanada, yang sekarang dipegang “Infinity War” dengan 257,7 juta dolar AS.

Baca juga: “Avengers: Endgame” misi terakhir Avengers selamatkan semesta

Baca juga: Brie Larson-Scarlet Johannson kompak pakai cincin Thanos di premier

Baca juga: Serunya Billy Davidson saat bertemu para pemain “Avengers: Endgame”

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hollywood rayakan akhir film “Avengers”

Aku menangis lebih dari enam kali, Chris

Jakarta (ANTARA) – Robert Downey Jr, Chris Hemsworth dan anggota tim pahlawan super Avengers lainnya, Senin (22/4), merayakan akhir dari saga 22 film yang disebut sebagai film franchise terlaris sepanjang masa.

Dalam pemutaran perdana di Los Angeles, ratusan orang-orang penting di industri film, para aktor, penggemar dan media untuk pertama kalinya menonton “Avengers: Endgame”, film berdurasi tiga jam yang selama ini betul-betul dirahasiakan.

Film itu mulai tayang di bioskop seluruh dunia hari ini.

Downey Jr. (Iron Man), Hemsworth (Thor), Scarlett Johansson (Black Widow), Chris Evans (Captain America) dan lainnya berjalan menyusuri karpet ungu di bawah logo besar Avengers yang dipasang di dalam Los Angeles Convention Center. Aula pameran itu disulao jadi bioskop dengan layar besar dan tempat duduk seperti di stadion.

“Saya senang sekali akhirnya bisa menonton filmnya,” kata Paul Rudd, pemeran Ant-man dan pemeran lainnya yang belum pernah melihat hasil akhir dari film pamungkas, terkait dengan cara Marvel menjaga kerahasiaan.

Rudd mengatakan dia telah bepergian keliling dunia untuk mempromosikan film itu dan “berusaha bicara sebaik mungkin, dan melakukannya tanpa menonton filmnya adalah pengalaman yang aneh. Jadi sekarang senang rasanya bisa menonton filmnya.”

Sederet artis papan atas memenuhi pemutaran perdana, termasuk adik Chris Hemsworth, Liam, dan istrinya Miley Cyrus, juga Matt Damon yang jadi cameo di film “Thor: Ragnarok”. Aktor Chris Pratt berpose dengan penggemar di karpet merah saat penayangan perdana film “The Avengers: Endgame” di Los Angeles, California, Senin (22/4/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Mario Anzuoni/hp/cfo

“Endgame” jadi pamungkas dari enam Avengers di dunia Marvel, Iron Man, Captain America, Black Widow, Hawkeye, Hulk dan Thor.

Ceritanya adalah lanjutan dari “Avengers: Infinity War” yang membuat penggemar penasaran karena Thanos, diperankan Josh Brolin, membuat sebagian pahlawan super berubah jadi debu. Dalam “Endgame”, pahlawan yang masih tersisa berencana membunuh Thanos dan mengembalikan keadaan seperti semula.

Setelah pemutaran, para bintang berkumpul di atas panggung dan saling berpelukan. Evans mengatakan pada penonton bahwa dia “menangis enam kali” saat menonton filmnya. “Aku menangis lebih dari enam kali, Chris,” timpal Hemsworth.

Mark Ruffalo, pemeran Hulk, mengatakan terlibat dalam film-film itu adalah sebuah pengalaman mengesankan seumur hidup.

21 film Marvel sebelumnya adalah franchise terlaris di industri film, dengan jumlah pemasukan 18,6 miliar AS di box office global sejak 2007.

Meski “Endgame” mengakhiri kisah “Avengers”, masih banyak karakter Marvel yang akan hadir di film-film mendatang. Spider-Man, misalnya, kembali ke layar lebar pada Juli lewat “Spider-Man: Far from Home”.

Sekuel “Black Panther” juga sedang dikerjakan.

“Akan ada awal baru,” kata Presiden Studio Marvel Kevin Feige. “Akan ada kisah baru. Akan ada cara baru menyajikannya, tapi untuk sekarang fokusnya adalah endgame.”

Baca juga: Brie Larson-Scarlet Johannson kompak pakai cincin Thanos di premier

Baca juga: “Avengers: Endgame” misi terakhir Avengers selamatkan semesta

Baca juga: Kritikus film AS banjiri “Avengers: Endgame” dengan ulasan positif

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lebih dekat dengan bintang film Roh Fasik

ANTARA – Sejumlah bintang  film Roh Fasik mengunjungi Kantor Berita Nasional  Antara. Dalam kunjungan ini mereka bercerita tentang keseruan dan tantangan yang dialami selama proses pembuatan film bergenre horor religi  tersebut. Film Roh Fasik  tayang perdana tanggal 9 Mei 2019. (Alvioni Resanti/ Edwar Mukti)

Al Ghazali perankan kekasih Jessica Mila dalam “Mengejar Surga”

Jakarta (ANTARA) – Al Ghazali akan menjadi kekasih Jessica Mila dalam film drama religi “Mengejar Surga” menyusul peran aktor berusia 21 tahun itu sebagai tokoh Iqbal.

“Alasan aku bermain film drama religi karena (aku) ingin mengeskplorasi semuanya, (aku) harus coba satu-satu (genre film),” ujar Al dalam syukuran “Mengejar Surga” di Jakarta, Rabu.

Film “Mengejar Surga” menjadi film bergenre drama religi pertama bagi aktor kelahiran Jakarta itu dari film sebelumnya yang bergenre aksi atau horor.

Meskipun Iqbal bukan tokoh utama, Al mengaku masih berperan penting dalam karya besutan rumah produksi Viera Film itu.

“Saya di (film) sini perannya sebagai kameo. Enggak terlalu banyak (tampil), tapi perannya cukup penting karena punya hubungan dengan Jessica Mila,” kata Al.

Baca juga: Tanggapan Al Ghazali atas tuntutan 18 bulan penjara Ahmad Dhani

“Mengejar Surga” berkisah tentang seorang anak yang mencari sang ayah dan berlatar lokasi di Belanda. Lokasi syuting itu menjadi tantangan bagi Al karena proses syuting akan berlangsung pada Ramadan

“Syutingnya di Belanda. Jadi, durasi puasanya lebih lama,” ujar Al tentang tantangan terbesar yang akan dihadapinya pada proses syuting film.

Tantangan lain, lanjut Al adalah, adalah pendalaman karakter tokoh Iqbal sebagai kekasih tokoh Atiqah yang diperankan Jessica Mila.

“Nanti akan ada satu scene aku harus melamar Jessica Mila. Aku harus bisa membangun suasana tegang. Itu cukup sulit,” kata putra selebritas Ahmad Dhani dan Maia Estianty itu.

Baca juga: Al Ghazali sedih puasa tanpa Ahmad Dhani

Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Secuil kisah lucu Cinta Laura soal film terbarunya

Jakarta (ANTARA) – Aktris Cinta Laura tengah sibuk dalam produksi film bergenre horor. Dalam film itu, Cinta berperan sebagai sosok gadis asli Bogor, Jawa Barat.

Ditemui di sela acara yang digelar di Jakarta, Senin, ia belum mau menyebut judulnya.

Namun, Cinta mengungkapkan secuil kisah lucu di saat syuting film yang mengangkat cerita misteri di Indonesia itu.

Simak penuturan Cinta melalui video berikut:
 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019