Pesta demokrasi momentum raih keuntungan di pasar modal

pelaku pasar cenderung memberikan reaksi positif pada tahun pemilu. Ini memang bukan pola baku, tetapi paling tidak statistik menunjukkan IHSG mengalami pertumbuhan di setiap tahun pemilu

Jakarta (ANTARA) – Menjelang pelaksanaan Pemilu 2019, wajah-wajah optimisme pelaku pasar saham tetap terpancar jelas. Investor tampaknya bisa bersiap-siap mendapatkan keuntungan pada tahun politik ini.

Biasanya, pola pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, menjelang penyelenggaraan pemilu, terjadi pertumbuhan yang cukup baik.

Dalam melakukan investasi, pelaku pasar tidak lepas dari analisis teknikal, yakni teknik untuk memprediksi tren suatu pergerakan harga saham dengan cara mempelajari data lampau.

Sejak era reformasi, Indonesia sudah mengadakan empat kali Pemilu, yaitu tahun 1999, 2004, 2009 dan 2014. Pola pergerakan pemilu-pemilu tersebut setidaknya bisa menjadi tolak ukur bagi investor pada pemilu di tahun 2019 ini.

Berdasarkan catatan BEI, pada pemilu 1999 IHSG mencatatkan penguatan sebesar 70,06 persen, pada 2004 IHSG mengalami penguatan 44,56 persen, pemilu 2009 naik 86,98 persen, dan pemilu 2014 juga mengalami kenaikan 22,29 persen. Sedangkan pergerakan IHSG sejak awal tahun hingga 11 April 2019 (year to date/ytd) tercatat tumbuh sebesar 4,58 persen.

Artinya, pelaku pasar cenderung memberikan reaksi positif pada tahun pemilu. Ini memang bukan pola baku, tetapi paling tidak statistik menunjukkan IHSG mengalami pertumbuhan di setiap tahun pemilu.

“Saat ini merupakan waktu yang tepat untuk masuk ke pasar modal,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna dalam dalam Workshop Go Public beberapa hari lalu.

Ia juga mengajak perusahaan-perusahaan di dalam negeri untuk masuk ke pasar modal melalui mekanisme penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).

“Manfaatkan tumbuhnya pasar modal dan ekonomi nasional yang kondusif,” katanya.
  Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) I Gede Nyoman Yetna memberikan sambutan dalam Workshop Go Public Bersama BRI Group bertajuk “Akselerasi Pertumbuhan Berkelanjutan Perusahaan Melalui IPO Saham”. (ANTARA/ Zubi Mahrofi)

Dorong jumlah emiten

Sepanjang tahun 2019, terdapat 10 perusahaan yang resmi melantai di BEI melalui mekanisme penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO).

Emiten-emiten itu, PT Sentra Food Indonesia Tbk, PT Pollux Investasi Internasional Tbk, PT Estika Tata Tiara Tbk, PT Nusantara Properti Internasional Tbk, PT Citra Putra Realty Tbk.

Kemudian, PT Armada Berjaya Trans Tbk, PT Wahana Interfood Nusantara Tbk, PT Meta Epsi Tbk, PT Capri Nusa Satu Properti Tbk, dan PT Menteng Heritage Realty Tbk.

Menurut I Gede Nyoman Yetna, kehadiran emiten-emiten baru itu memberi indikasi bahwa pasar saham juga masih menjadi alternatif penting bagi dunia usaha untuk mengakses dana murah dalam menopang ekspansi usaha.

“Melalui IPO, perusahaan dapat berekspansi lebih baik,” katanya.

Tahun ini, BEI menargetkan penambahan 75 emiten baru. Berkah tahun politik diharapkan membawa implikasi seperti pengalaman sebelumnya diharapkan kembali terulang.

“Di pipeline IPO tahun ini sudah ada sebanyak 21 perusahaan,” katanya.

Direktur Investment Banking, Capital Market Danareksa Sekuritas Boumediene H. Sihombing memproyeksikan pelaksanaan IPO akan marak pada semester kedua 2019 mendatang atau setelah pemilihan umum (Pemilu).

Menurut dia, kepercayaan pelaku pasar terhadap pasar modal akan kembali meningkat setelah pelaksanaan pemilu 2019 yang akhirnya mendorong perusahaan masuk ke pasar modal.

“Diperkirakan pada semester dua nanti IPO akan lebih banyak. Memang tidak bisa dipungkiri pada tahun politik banyak pelaku pasar ‘wait and see’ itu betul. Ada dugaan pasar akan ‘confident’ setelah pemilu,” ujarnya.

Ekonomi membaik

Peneliti dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia Fajar B. Hirawan mengharapkan pemenang Pemilihan Umum 2019 harus mampu mendorong ekonomi nasional lebih baik.

“Siapa pun yang menang dalam Pemilu harus menjaga kerangka ekonomi makro lebih baik, saat ini sudah sangat kokoh salah satunya terlihat dari terjaganya inflasi serta pertumbuhan ekonomi,” ujar Fajar B Hirawan.

Menurut Fajar B Hirawan, dalam menjaga kerangka ekonomi makro nasional agar lebih baik ke depannya maka pembangunan infrastruktur, baik fisik maupun non-fisik harus terus digenjot.

Diharapkan, ekonomi tumbuh secara inklusif sehingga bisa menurunkan ketimpangan, kemiskinan dan pengangguran. Itu poin utamanya,” katanya.

Sementara itu, Bank Pembangunan Asia (ADB) memproyeksikan ekonomi Indonesia pada 2019 dan 2020 meningkat, masing-masing sebesar 5,2 persen dan 5,3 persen yang didukung konsumsi rumah tangga.

“Didukung oleh manajemen makroekonomi yang solid dan permintaan domestik yang kuat, momentum pertumbuhan Indonesia diharapkan akan berlanjut secara sehat,” kata Direktur ADB untuk Indonesia Winfried Wicklein.

Wicklein menambahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih berkelanjutan dan inklusif, Indonesia memerlukan fokus yang berkesinambungan pada peningkatan daya saing, pengembangan sumber daya manusia dan penguatan ketahanan.

Tahun 2019 yang merupakan tahun politik, menurut I Gede Nyoman Yetna memang kerap menjadi tahun yang dikhawatirkan investor. Ekonomi dan politik memang dua hal yang berbeda, namun tidak dapat dipisahkan karena keduanya sama-sama berpengaruh terhadap kinerja bursa saham.

IHSG sebagai indikator kinerja bursa saham di Indonesia hanya bisa naik secara konsisten jika ditopang oleh perekonomian yang bertumbuh secara riil. Dan pada tahun politik, ekonomi nasional cenderung mengalami pertumbuhan.

Maka itu, pelaku pasar modal diharapkan dapat memanfaatkan pesta demokrasi tahun ini di tengah optimisme pasar terhadap tumbuhnya IHSG dan ekonomi nasional sehingga meraih keuntungan investasi.
Baca juga: Nelayan pilih tidak berlayar demi pesta demokrasi
Baca juga: Bisnis atribut partai pun ikut berpesta

Oleh Ahmad Wijaya dan Zubi Mahrofi
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2019