Peran Australia dalam sepak terjang Mira Lesmana di sinema

Jakarta (ANTARA) – Produser Mira Lesmana telah menghasilkan film-film fenomenal yang berkontribusi bagi industri sinema Tanah Air, sebut saja “Ada Apa Dengan Cinta?” (AADC) dan “Petualangan Sherina”.

Film remaja AADC dan sekuelnya akan kembali ditayangkan di Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2019, di mana tahun ini Mira didapuk sebagai Sahabat FSAI.

Australia ternyata punya peranan dalam membentuk kecintaan Mira terhadap film.

“Saya besar di Sydney, Australia saat remaja, fase penting dalam hidup. Masa-masa itu membuka mata saya, termasuk bagaimana akhirnya memutuskan terjun ke dunia film,” ujar Mira di konferensi pers Festival Sinema Australia Indonesia 2019, Jakarta, Jumat.

Di sana, Mira mendapatkan akses untuk menonton film-film Australia sampai belahan dunia lain. Dari situ, dia menyadari pentingnya memahami keberagaman dan mengenal orang lain melalui film.

“Saya suka film dari semua negara karena pasti berbeda-beda,” kata Mira yang selalu ingin tahu ragam film dari penjuru dunia demi memperkaya wawasan.

Mira senang bisa menjadi bagian dari Festival Sinema Australia Indonesia tahun ini yang diharapkan dapat menjadi ajang bertukar pikiran dan menambah ilmu.

“Australia sudah punya sistem yang baik, terutama dalam pembuatan skenario. Pascaproduksi di Australia akhir-akhir ini juga dipakai seluruh dunia. Aquaman juga dikerjakan di Australia,” tutur dia.

Bekerja sama dengan Australia dalam festival film tahunan ini dianggap penting untuk Indonesia, ujar Mira, apalagi lokasi dua negara yang saling berdekatan.

Film juga bisa mengeratkan hubungan budaya dua negara, terlepas dari seperti apa hubungan politik antara Indonesia – Australia.

“Menurut saya, memahami melalui film adalah jalan terbaik,” imbuh dia.

Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan juga sepakat untuk memperkuat hubungan dua negara di bidang film. Lewat kerjasama, misalnya memproduksi film bersama, peluang untuk menembus pasar global semakin besar.

“Ini membuat kita sama-sama kuat, memang butuh waktu, tapi kalau bisa co-produksi, akan jadi stimulasi signifikan untuk menembus pasar internasional,” kata Gary.

Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2019 berlangsung di Jakarta, Surabaya dan Makassar, juga Bandung, Mataram dan Lombok dari 14-31 Maret 2019.

Baca juga: Mengenal negara tetangga lewat Festival Sinema Australia Indonesia

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019