Song Joong-ki dan Hye-kyo dikabarkan tak tinggal bersama di Itaewon

Jakarta (ANTARA) – Pasangan Song Joong-ki dan Song Hye-kyo dikabarkan sudah berbulan-bulan tak tinggal di rumah mereka di kawasan Itaewon, sebelum kabar perceraian menyeruak.

Seperti dilansir Koreaboo, Kamis, para tetangga bahkan mengatakan pasangan itu tak pernah tinggal di sana.

“Rumah itu kosong sejak awal,” kata sumber yang tak disebutkan namanya itu.

Dia juga menyebutkan, walau media menyebut rumah itu “rumah bulan madu”, tetapi Joong-ki dan Hye-kyo tidak pernah menyebut begitu secara langsung.

Joong-ki baru-baru ini mengajukan gugatan cerai pada Hye-kyo. Dia mengatakan ingin menyelesaikan perceraian secara damai.

Pasangan ini menikah pada Oktober 2017. Setelah menikah, mereka tidak segera pergi berbulan madu dan pindah ke rumah baru mereka di Itaewon, yang dibeli oleh Song Joong-ki pada Januari 2017.

Baca juga: Setelah Song Joong-ki, giliran Song Hye-kyo beri pernyataan soal cerai

Baca juga: Song Joong-ki gugat cerai Song Hye-kyo

Baca juga: Song Hye-kyo tandatangani kontrak dengan studio film China

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pertarungan Iko Uwais dan Dave Bautista dalam “Stuber”

Jakarta (ANTARA) – Iko Uwais kembali membuktikan kemampuan aktingnya di film Hollywood. Kali ini, dia menjalani pertarungan sengit bersama Dave Bautista dalam film “Stuber”, menariknya film tersebut tak hanya menghadirkan laga tapi juga komedi segar.

Film arahan sutradara Michael Dowse ini bercerita tentang seorang pengemudi Uber bernama Stu (Kumail Nanjiani) yang secara tidak sengaja terlibat dalam penyelidikan tindak kriminal bersama seorang polisi bernama Vic Manning (Dave Bautista).

Vic adalah seorang detektif yang sangat serius, mudah marah dan gagap teknologi. Suatu hari dia menjalani operasi lasik yang membuat matanya tidak jelas melihat untuk sementara. Lalu, Vic mendapat informasi tentang seorang bandar narkoba bernama Tedjo (Iko Uwais) yang sudah lama diburunya.

Dengan kondisi matanya yang sedang terganggu, Vic kemudian memesan Uber dan di sanalah bertemu dengan Stu. Perjalanan dan pertarungan pun dimulai, Stu yang awalnya penakut dan canggung, menjadi lebih berani menghadapi hidupnya.

“Stuber” tak hanya menyajikan film perkelahian biasa, di sini juga menggabungkan unsur persahabatan dan komedi serta aksi seru yang menegangkan.

Adegan aksi sudah dimulai sejak film dimulai, tetapi juga saling bergantian mengisi dengan bagian komedi yang menjadi tugas Kumail. Meski sepanjang film Dave berwajah garang, dia juga mampu membuat penonton tertawa dengan ekspresi dan tingkah gapteknya serta keadaan matanya yang tidak dapat melihat jelas.

Yang jadi pertanyaan, apakah di sini penampilan Iko hanya selintas? Jawabannya adalah tidak. Adegan Iko ditampilkan cukup banyak, bahkan perannya cukup signifikan yakni menjadi penjahat yang paling diburu sehingga banyak membuatnya cukup sering tampil di layar.

Baca juga: Iko Uwais tampilkan kembangan pencak silat dalam “Triple Threat”

Di sini Iko juga memiliki kekuatan bela diri yang cukup takuti. Meski dia harus berhadapan dengan Dave yang memiliki tubuh kekar dan besar, nyatanya Dave dibuat kewalahan oleh aksi tarung Iko.

“Stuber” juga merupakan film perdana Iko yang bergenre komedi. Beda dari film-film sebelumnya, di sini Iko hadir dengan gaya yang berbeda, rambut diwarnai blonde dan pakaian yang berwarna-warni.

Saat bertarung wajahnya juga tidak terlihat datar dan serius, kali ini dia lebih menunjukkan ekspresinya. Hebatnya lagi Iko juga dipercaya untuk menggarap seluruh koreografi laga film tersebut.

Film yang juga melibatkan Karen Gillan ini bisa dibilang sangat menghibur, sepanjang film Anda akan dibuat tertawa terpingkal-pingkal oleh aksi kocak Kumail. “Stuber” juga menghadirkan sebuah kejutan yang membuat Anda semakin mengagumi sosok Kumail.

“Stuber” mulai tayang pada 24 Juli 2019 di seluruh bioskop.

Baca juga: Iko Uwais ungkap perbedaan syuting di Hollywood dan Indonesia

Baca juga: Gara-gara bleaching rambut, Iko Uwais masuk rumah sakit
 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Song Joong-ki gugat cerai Song Hye-kyo

Jakarta (ANTARA) – Aktor Song Joong-ki resmi mengajukan gugatan cerai pada istrinya, Song Hye-kyo, ungkap pengacara Park Jae-hyun.

“Firma hukum kami mengajukan gugatan cerai atas nama Song Joong-ki di pengadilan Seoul pada 26 Juni 2019,” kata dia seperti dilansir Soompi, Kamis.

Jae-hyun juga menyampaikan pernyataan resmi Joong-ki yang berisi permintaan maaf kepada para penggemarnya.

Berikut pernyataan lengkap sang aktor:

Halo. Ini Song Joong-ki,

Pertama, aku ingin meminta maaf karena menyampaikan berita sedih kepada para penggemar yang mencintai dan menyanyangiku.

Aku telah memulai pengarsipan untuk bercerai dari Song Hye-kyo.

Daripada saling mencela dan berdebat tentang siapa yang harus disalahkan, aku berharap perceraian dapat selesai dengan damai.

Aku meminta pengertian kalian sehubungan dengan kenyataan sulit untuk membahas detail kehidupan pribadiku.

Aku akan pulih dari luka saat ini dan melakukan yang terbaik sebagai aktor untuk Anda melalui karya besar di masa depan.

Terima kasih.

Joong-ki dan Hye- Kyo menikah pada Oktober 2017, tak lama setelah keduanya membintangi drama “Descendants of the Sun.”

Baca juga: Song Joong-ki buka mulut soal rumor pacaran dengan Song Hye-gyo

Baca juga: Lokasi syuting “Descendants of the Sun” dijadikan taman

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Festival Film Tokyo soroti genre horor Asia Tenggara

Jakarta (ANTARA) – Festival Film Tokyo (Tokyo International Film Festival/TIFF) ke-32 pada Rabu, mengumumkan akan menyoroti film bergenre thriller hingga horor romantis yang mencerminkan karakteristik masyarakat di wilayah Asia Tenggara, dalam program Crosscut Asia ke-6.

“Seri Crosscut Asia dari Japan Foundation Asia Center menampilkan beragam film Asia, dari karya yang jarang ditonton hingga hiburan yang populer, dengan fokus pada negara, sutradara atau tema tertentu,” demikian pernyataan resmi TIFF kepada Antara, Rabu.

Menyusul tiga edisi pertama yang menampilkan karya dari Thailand, Filipina, dan Indonesia. Maka edisi keempat dan kelima program ini mencakup wilayah yang lebih luas di Asia Tenggara, meliputi tema gaya hidup orang kaya serta genre musik yang mencerminkan kehidupan sosial politik di Asia Tenggara.

Crosscut Asia edisi keenam bakal menampilkan film bergenre menegangkan yang biasa dipentaskan di festival film, antara lain “The Halt” (2019) karya Lav Diaz asal Filipina, film horor fantasi “Sisters” (2019) karya Prachya Pinkaew asal Thailand.

Ada juga seri horor dari HBO Asia yang diproduksi Eric Khoo, “Folklore: Tatami” (2018) yang disutradarai aktor Jepang Takumi Saitoh. The Halt (Indie Sales)

Crosscut Asia berharap tema ini akan membawa penonton menemukan hal-hal menarik yang menjadi karakter dalam genre horor di setiap negara, terutama Asia Tenggara.

TIFF ke-32 akan berlangsung pada 28 Oktober – 5 November 2019 di Roppongi Hills, dan beberapa tempat lain di Tokyo, sedangkan Crosscut Asia episode ke-6 merupakan hasil kerja sama dengan Japan Foundation Asia Center.

Pada Crosscut Asia edisi 2018, menyoroti film-film Asia Tenggara yang menampilkan berbagai macam genre musik, di antaranya “Aach, Aku Jatuh Cinta” (Chaotic Love Poems) karya Garin Nugroho, “15Malaysia” karya Pete Teo, film dokumenter “BNK 48” hingga “Respeto” karya Treb Monteras II.

Baca juga: Ulang tahun Godzilla ke-65 tutup Festival Film Tokyo 2018

Baca juga: Ralph Fiennes berharap festival film jadi pesta ide kreatif

Baca juga: Menanti Meryl Streep di karpet merah Festival Film Tokyo

Cerita Maxime Bouttier main Film Kuntilanak 2

Pewarta: Alviansyah Pasaribu
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Adipati Dolken merasa tertantang di film “Perburuan”

Jakarta (ANTARA) – Aktor Adipati Dolken mengaku dirinya merasa tertantang untuk memerankan karakter Hardo pada film adaptasi novel “Perburuan” karya Pramoedya Ananta Toer tersebut.

“Biasanya, saya memainkan peran tokoh yang benar-benar ada dan nyata. Nah, di “Perburuan” ini saya harus memainkan tokoh dari novel yang karakter dan kreatifitasnya bisa dikembangkan,” ujar Adipati pada peluncuran poster “Perburuan” di Jakarta Selatan, Rabu.

Ia lalu menjelaskan bahwa ia sempat memiliki beban untuk memerankan tokoh Hardo yang digambarkan tegas ini.

“Saya merasa punya beban kalau nanti ada yang salah saat memainkan peran Hardo. Peran ini sangat tidak mudah dimainkan,” kata dia.

Tantangan lain bagi kekasih Vanessa Prescilla ini adalah panjangnya dialog dalam naskah yang harus ditampilkan.

Bahkan, lanjut dia, terdapat tiga adegan dengan dialog panjang yang disusun hingga menghabiskan 13 lembar kertas per adegannya.

Meski begitu, Adipati berusaha mengerti dan memahami kata demi kata yang ingin disampaikan melalui karya sastra ini, dengan latihan dan “reading” hingga tiga minggu lamanya.

Selain perwatakan, pria berusia 27 tahun ini juga dituntut untuk mempelajari seni bela diri “Kendo” dari Jepang untuk menyempurnakan tokoh Hardo tersebut.

Adipati mengibaratkan proses pengembangan karakter hingga latihan bela diri yang ia jalani layaknya belajar bermain biola.

“Kan harus benar pegangnya. Sama seperti di “Kendo” yang juga harus benar megang “Bokken” (pedang)nya,” jelasnya.

Adipati Dolken yang biasa disapa Dodot ini lalu berharap bahwa peran Hardo di film “Perburuan” ini dapat diterima penonton dan pencinta film Indonesia.

“Semoga juga bisa menyenangkan para pembaca karya-karya Pramoedya,” tutupnya.

Sementara itu, film garapan Richard Oh ini akan hadir ke layar perak bersamaan dengan tanggal rilisnya film “Bumi Manusia” pada 15 Agustus mendatang.

Baca juga: Demi “Perburuan”, Adipati Dolken belajar “perang” lewat game PUBG

Baca juga: Poster film “Perburuan” resmi diluncurkan

Bupati Raja Ampat kutuk pembantai hiu

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hamil anak kedua, Sandra Dewi tetap syuting

Jakarta (ANTARA) – Hamil anak kedua tak menghalangi selebritas Sandra Dewi beraktivitas di luar rumah. Dia bahkan berencana terus menjalani syuting hingga usia kehamilannya sembilan bulan.

“Saya syuting setiap hari. Masih syuting sampai usia sembilan bulan,” ujar dia yang kini memasuki usia kehamilan delapan bulan di Jakarta, Rabu.

Tetap bekerja dalam kondisi hamil tak berarti Sandra lepas dari rasa khawatir. Dia mengaku kerap berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan kondisi kesehatan dirinya dan janin sehat-sehat saja.

Tak hanya cemas, saat ini dia juga merasa galau, salah satunya karena tidak bisa memberikan ASI pada buah hati pertamanya, Raphael Moeis yang masih berusia satu tahun.

“Merasa bersalah sama anak yang pertama, karena masih ASI 100 persen (tetapi saat ini hamil),” kata dia.

Dalam kesempatan itu, dokter spesialis kebidanan dan kandungan dari Rumah Sakit Jakarta, dr Ardiansjah Dara SpOG mengatakan, menyusui saat hamil sebaiknya tak ibu hamil lakukan karena bisa memicu kontraksi.

“Hamil saat menyusui terkadang membuat kontraksi. Ada pasien yang mengalami kram di usia lima bulan (kehamilan) sehingga harus stop menyusui,” kata dia.

Baca juga: Sandra Dewi alami “mom shamming”, apa itu?

Baca juga: Sandra Dewi tak gunakan gawai di depan anak

Menko Maritim sebut kebersihan laut pengaruhi ibu hamil

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Demi “Perburuan”, Adipati Dolken belajar “perang” lewat game PUBG

Jakarta (ANTARA) – Aktor pemeran tokoh Hardo pada film “Perburuan”, Adipati Dolken mengaku mempelajari “perang” melalui game PUBG.

“PUBG adalah salah satu metode saya buat masuk ke karakter (setting) perang,” ujar Adipati pada peluncuran poster “Perburuan” di Jakarta Selatan, Rabu.

Game bertajuk “PlayerUnknown’s Battlegrounds” ini, lanjut dia, cukup berperan baginya untuk mendalami situasi hingga strategi dalam peperangan.

“Jadi PUBG juga salah satu metode juga buat membaca strategi dan mengimplementasikan “strategi” itu ke dalam skrip (naskah),” tambah dia.

Tak hanya itu, lawan main Adipati, Ayushita berpendapat bahwa game tersebut juga menjadi pendekat bagi dia dan Adipati selama proses shooting.

“Kadang nemenin Adipati main PUBG juga sama yang lain, bisa bikin kita sama-sama juga buat ngebangun “chemistry” di film,” kata wanita yang akrab disapa Ayu tersebut.

Sementara itu, poster film “Perburuan”, karya lain dari adaptasi dari novel Pramoedya Ananta Toer dirilis pada hari ini.

Film ini akan hadir ke layar perak bersamaan dengan tanggal rilis film “Bumi Manusia” pada 15 Agustus mendatang.

Baca juga: Poster film “Perburuan” resmi diluncurkan

Baca juga: Kesan aktor Jepang Dean Fujioka soal film “Laut”

Baca juga: Adipati Dolken otodidak jadi aktor

Bupati Raja Ampat kutuk pembantai hiu

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Poster film “Perburuan” resmi diluncurkan

Jakarta (ANTARA) – Poster dari film adaptasi novel karya Pramoedya Ananta Toer, “Perburuan” resmi diluncurkan oleh produser, sutradara, dan aktor terlibat di Jakarta Selatan, Rabu.

Berbeda dengan foto “teaser” yang sudah dirilis beberapa waktu lalu, poster baru ini menunjukkan Hardo (Adipati Dolken) dengan tampilan “buron”, setelah sebelumnya Hardo digambarkan dengan seragam tentara PETA-nya.

“Ini merupakan pengalaman baru, dan bisa dirias seperti itu, juga menjadi pengalaman seru bagi saya,” ujar Adipati pada peluncuran poster “Perburuan”.

“Perburuan”, yang novelnya pernah dilarang terbit pada zaman Orde Baru ini, menceritakan tentang Hardo (Adipati Dolken), seorang tentara PETA yang menjadi buruan tentara Jepang.

Selain Adipati, beberapa aktor nasional seperti Ayushita (Ningsih), Ernest Samudra (Dipo), Khiva Ishak (Karmin), dan Michael Kho (Shidokan) juga turut ambil peran untuk film garapan Richard Oh ini.

Sementara itu, perilisan poster ini berjarak lima hari sejak perilisan poster film adaptasi dari novel Pramoedya lainnya berjudul “Bumi Manusia” pada Jumat (21/6) lalu.

Tak hanya itu, untuk perilisan film “Perburuan” sendiri, rupanya akan bersamaan dengan diputarnya film “Bumi Manusia”, yakni pada 15 Agustus mendatang.

Baca juga: Demi jadi Minke, Iqbaal belajar makan sambil duduk di lantai

Baca juga: Adipati Dolken otodidak jadi aktor

Baca juga: Cerita Reza Rahadian main di “Bunga Penutup Abad” (video)

Bupati Raja Ampat kutuk pembantai hiu

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sandra Dewi tak gunakan gawai di depan anak

Jakarta (ANTARA) – Selebritas Sandra Dewi berusaha tak menggunakan gawai terutama ponsel di depan putra semata wayangnya, Raphael Moeis.

“Di depan anak enggak pegang handphone, takutnya dia ambil handphone,” ujar dia dalam diskusi soal kehamilan dan pengasuhan anak sekaligus peluncuran buku “Hamil Tanpa Galau dan Parenting Tanpa Galau” di Jakarta, Rabu.

Ia mengaku hanya memegang gawai saat menikmati waktu sendiri atau saat sang anak tidur.

Sandra yang kini tengah hamil delapan bulan itu memilih memberikan buku pada putranya ketimbang gawai, kendati buah hatinya itu belum berusia dua tahun dan tidak bisa membaca.

“Saya tahu Rafael baru satu tahun. Enggak apa-apa saya ajarin setiap hari. Dia lihat gambar binatang, tahu namanya (dalam bahasa Inggris),” kata Sandra.

Sebagai orang tua, dia berkomitmen memberikan semua yang terbaik untuk buah hatinya, agar bisa sukses di masa dewasanya kelak.

“Saya ingin memberikan yang terbaik untuk anak. Saya ingin anak sukses atau bisa lebih sukses dari orang tuanya. Saya didik dari kecil,” tutur dia.

Baca juga: Sandra Dewi alami “mom shamming”, apa itu?
 

Jadikan Gawai untuk mengurangi ketimpangan pendapatan

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Bring the Soul” BTS akan tayang 7 Agustus 2019

Jakarta (ANTARA) – Film “Bring The Soul: The Movie” yang menampilkan para personel grup Bangtan Sonyeondan (BTS) akan tayang di bioskop seluruh dunia, termasuk Indonesia pada 7 Agustus 2019.

Film ketiga BTS itu bercerita tentang akhir tur bertema “Love Yourself” dengan total 24 konser di 12 kota di Eropa. Dari Seoul menuju Paris, BTS berbagi cerita yang belum pernah terungkap sebelumnya.

“Kami sangat senang bisa berkolaborasi lagi dengan Big Hit Entertainment untuk menghadirkan ‘Bring The Soul: The Movie’ dan memberikan kesempatan kepada para penggemar di seluruh dunia untuk lebih dekat dan mengikuti perjalanan BTS saat tur ‘Love Yourself’,” kata CEO Trafalgar Releasing Marc Allenby selaku distributor film, dalam keterangan tertulisnya, Rabu.

Tiket film “Bring The Soul: The Movie” akan dijual di situs resmi www.BringTheSoulTheMovie.com mulai 3 Juli 2019.

Pada 2018, BTS meluncurkan film “Burn the Stage the Movie” dan meraih pendapatan box office sebesar $18,5 juta. Capaian ini menjadikannya film event di bioskop terlaris sepanjang masa.

Baca juga: Bangtan Sonyeondan hadir dalam gim ponsel BTS World

Baca juga: Fan BTS ingin Jimin perankan Prince Eric dari film “Little Mermaid”

Bakti gandeng 23 pemda bangun BTS USO

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“The Office” tinggalkan Netflix pada 2021

Jakarta (ANTARA) – Serial komedi “The Office” akan ditarik oleh NBCUniversal dari layanan streaming Netflix di AS pada 2021, lalu memindahkannya ke layanan streaming mereka sendiri.

Dilansir Reuters, “The Office” menempati nomor satu langganan layanan video-on-demand seperti Netflix ketika diukur dari durasi streaming, demikian keterangan dari NBCU. Serial itu ditonton lebih dari 52 juta menit pada 2018.

Netflix belum pernah secara terang-terangan merilis data penonton untuk “The Office”, yang terdiri dari sembilan musim dan tayang di NBC selama 2003 hingga 2013 serta terdiri dari 200 episode.

Serial itu adalah versi Amerika dari komedi Inggris, dibintangi Steve Carell, Jenna Fischer, juga John Krasinski.

Baca juga: Perusahaan Obama siapkan tayangan Netflix, biopik hingga serial anak

NBCU mengikuti jejak perusahaan lain seperti Disney yang memutuskan untuk memberi izin tayang di Netflix meskipun mereka membuat sendiri layanan digital yang jadi pesaing Netflix.

Layanan streaming baru dari NBCU akan diluncurkan pada 2020 yang berisi film dan serial televisi serta tayangan orisinil.

“Kami sedih karena NBC memutuskan untuk mengambil ‘The Office’ untuk platform streaming mereka,” demikian keterangan  Netflix. “Tapi, pelanggan Netflix bisa menonton serial itu sampai puas tanpa iklan di Netflix hingga Januari 2021 dan ada banyak lagi serial televisi baru yang bisa dinikmati.”

Baca juga: Di era Netflix, sutradara Inarritu mengelukan pengalaman di bioskop

Pertukaran Informasi Dan Data Intelejen Global

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Disney akan rilis adegan tambahan “Avengers: Endgame”

Jakarta (ANTARA) – Walt Disney Co akan merilis versi terbaru film “Avengers: Endgame” yang menghadirkan adegan tambahan sehingga mendorong film pahlawan-pahlawan super Marvel itu mencetak rekor box office sepanjang masa.

Saat ini, “Endgame” sudah meraup sekitar 2,75 miliar dolar AS dari box office global semenjak April dan hanya 38 juta dolar AS di bawah film “Avatar” (2009) sebagai film dengan pendapatan terbesar sepanjang masa, berdasarkan situs Box Office Mojo.

Dilansir Reuters, versi baru “Endgame” itu akan menampilkan adegan-adegan yang dihapus dan juga perkenalan baru dari sutradara Anthony Russo.

Penggemar yang menonton juga akan mendapatkan tambahan poster film, menurut Disney.

Baca juga: Penggemar Avengers buat petisi untuk ganti cerita “Endgame”

“Endgame” dibintangi oleh Robert Downey Jr., Chris Hemsworth, Scarlett Johansson, dan aktor lainnya sebagai kelompok pahlawan super yang melawan musuh bebuyutan, Thanos, diperankan Josh Brolin.

Film itu adalah puncak dari 22 film yang sudah diproduksi Studio Marvel selama lebih dari satu dekade.

Versi baru “Endgame” akan ditayangkan di bioskop tiga pekan sebelum Disney meluncurkan versi remake dari film klasik “The Lion King”.

Sebagian pakar box office memprediksi “Lion King” juga punya kesempatan menumbangkan “Avatar” dari sisi penjualan tiket di seluruh dunia.

Baca juga: “Avengers: Endgame” akan dirilis ulang, ada kejutan usai kredit film

Presiden analogikan ekonomi dunia bak film avengers

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ed Sheeran bukan pilihan pertama untuk “Yesterday”

Jakarta (ANTARA) – Sutradara film “Yesterday”, Danny Boyle, mengungkapkan bahwa Ed Sheeran sebenarnya bukan pilihan pertama untuk main di film tersebut, tulis Billboard dikutip Selasa.

Film “Yesterday” mengisahkan soal Jack Malik yang diperankan Himesh Patel yang hidup di dunia di mana semua orang lupa The Beatles.

Akhirnya, Himesh Patel pura-pura menciptakan lagu-lagu klasik milik band asal Inggris itu.

Di film itu, Ed Sheeran berperan jadi dirinya sendiri di mana Patel mendapat kesempatan untuk main jadi pembuka di konser Ed Sheeran.

Boyle mengungkapkan awalnya dia menginginkan Chris Martin dalam filmnya.

“Dia selalu mengejek kami karena tahu dia bukan pilihan pertama dan kita awalnya menawari Chris Martin untuk main,” katanya.

“Dia menuduh kami mengajak Harry Styles sebagai pilihan kedua, yang itu tidak benar. Dia punya selera humor yang baik, dan itu bagus karena kalau tidak situasinya akan jadi tidak menyenangkan,” kata Boyle.

“Yesterday” akan mulai tayang 28 Juni 2019.

Baca juga: Es Sheeran bocorkan kolaborasi dengan dua musisi “misterius”

Baca juga: Ed Sheeran bikin penonton berkaraoke massal di GBK

Baca juga: Ed Sheeran doyan tempe dan rendang

Mengintip penampilan “The Beatles” Asia Tenggara

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ketika aktor laga Cecep Arif Rahman terkenang masa kuliah

Bogor (ANTARA) – Aktor laga Cecep Arif Rahman seketika terkenang masa-masa saat menimba ilmu sebagai mahasiswa ketika ia hadir dalam kegiatan “Resital Seni Pertunjukan” di Graha Pakuan Siliwangi (GSP), Universitas Pakuan (Unpak) Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (24/6).

“Saya senang sekali seperti terbayang masa lalu. Di Auditorium ini dulu pernah tidur di sini jadi kalau menurut saya ini bibit kita dalam berkreasi,” ujar alumni jurusan Sastra Inggris Fakultas Sastra, sekarang Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Budaya, tahun 1997 itu.

Menurutnya, mengikuti drama tari menjadi salah satu alasannya getol datang ke kampus saat itu. Ia kerap kebagian peran tokoh antagonis, di antaranya sebagai Rahwana dan itu terbawa hingga ia menapakkan kaki di industri film Hollywood.

“Itu pengalaman awal kita berakting, maka ada keinginan untuk bisa ke tingkat lebih tinggi lagi. Terus ada keberanian juga untuk berkomunikasi dengan orang luar,” kata Cecep.

Ia memerankan The Assasin” dalam film “The Raid 2” dan yang terbaru, pembunuh bayaran di “John Wick: Chapter 3”. Tidak hanya film luar, Cecep juga membintangi sejumlah judul film dalam negeri, seperti “Wiro Sableng 212” dan “Alif Lm

Cecep mengaku sudah beberapa kali mengunjungi kampusnya di sela-sela kesibukannya syuting. Ia ingin menularkan kecintaannya terhadap dunia seni terutama pencak silat kepada generasi muda.

Sementara itu, Dekan FISIB Unpak, Agnes Setyowati mengatakan terkesan dengan kepribadian Cecep yang tetap membumi meski telah menjadi aktor terkenal.

“Yang tidak berubah dari Kang Cecep itu karakternya yang ramah, sopan, dan selalu berbahasa Sunda,” kata wanita yang menjadi menjadi dosen pembimbing Cecep di Fakultas Sastra.

Baca juga: Cecep Arif Rahman padukan berbagai beladiri di “Gatotkaca”
 

Suasana Puri Cikeas menanti kedatangan almarhumah Ani Yudhoyono

Pewarta: M Fikri Setiawan
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Iko Uwais ungkap perbedaan syuting di Hollywood dan Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Beberapa kali bermain film bersama rumah produksi luar negeri khususnya Hollywood, membuat Iko Uwais merasakan perbedaan syuting di luar negeri dengan di Indonesia.

“Kalau kerja di luar itu masalah waktunya, sangat disiplin. Kelebihan syuting satu menit pun harus izin, karena ada syuting kan melibatkan aktor dan kru yang banyak. Enggak bisa tuh 24 jam syuting, kru juga punya hak,” ujar Iko dalam jumpa pers film “Stuber” di Jakarta, Senin.

“Di sana sangat dihargai tenaga, pikiran dan waktunya. Semua divisi sama, harus fokus pada job desk masing-masing,” lanjutnya.

Selain itu, dalam produksi Hollywood seorang aktor benar-benar diberi fasilitas terbaik. Menurut Iko hal ini akan mempengaruhi kinerja di depan layar.

“Seorang aktor harus bisa 1.000 persen di depan kamera. Fasilitas dikasih dari produksi, kita bisa istiharat, meluangkan waktu sebelum syuting, kita bisa istirahat. Enggak dibedakan karakter kecil dan besar. Mereka kerja ya kerja, istirahat ya istirahat,” kata suami Audy itu.

Baca juga: Gara-gara bleaching rambut, Iko Uwais masuk rumah sakit

Meski demikian, sisi kekeluargaan lebih dirasakan di Indonesia.

Menurut pemain “Miles 22” itu, para pemain dan kru di luar negeri hanya fokus pada pekerjaan masing-masing.

“Saya sebagai pemain, kalau di sini kekeluargaan. Kalau di sana tidak. Bukan pekerjaan mereka, tidak akan menyentuh job desk lain,” jelas pemain “The Raid” itu.

Sementara itu, Iko juga mengatakan bahwa kesempatan aktor Indonesia bermain di luar negeri kini sudah sangat terbuka, bahkan para pemainnya tidak lagi dipandang sebelah mata.

“Aktor di Indonesia enggak dipandang sebelah mata lagi. Teman-teman sudah banyak prestasinya di luar ekspektasi, Joe (Joe Taslim), Yayan (Yayan Ruhian), Cecep (Cecep Arif Rahman) bekerja di luar negaranya, pengalaman yang enggak bisa dibayar dengan uang,” ujar pemain “The Night Comes for Us”.

Beberapa film produksi luar negeri yang pernah dimainkan oleh Iko adalah “Miles 22”, “Beyond Skyline”, “Star Wars: Episode VII – The Force Awakens”, “Man of Tai Chi” dan “Triple Threat”.

Baca juga: Iko Uwais jalin kolaborasi populerkan MMA Indonesia

Baca juga: Iko Uwais tampilkan kembangan pencak silat dalam “Triple Threat”

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Stuber, komedi laga Iko Uwais di Hollywood

Jakarta (ANTARA) – Aktor laga asal Indonesia Iko Uwais merambah film bergenre komedi laga untuk pertama kali dalam film “Stuber” yang diproduksi di pusat industri film Amerika Serikat, Hollywood.

“Itu (pengalaman) baru (saya) perankan film komedi. (Saya) bekerjasama dengan aktor besar di sana. Pengalaman luar biasa bisa satu frame, satu scene. Itu warna terbaru film komedi aksi,” kata Iko dalam jumpa pers film “Stuber” di Jakarta, Senin.

Aktor bernama lengkap Uwais Qorny itu memerankan tokoh Tejo, seorang penjahat yang paling dicari oleh polisi. Film yang diproduksi Twentieth Century Fox itu melibatkan sejumlah aktor Hollywood seperti Dave Bautista, Karen Gillan, dan Kumai Nanjiani.

Iko menuturkan proses keterlibatannya dalam film tersebut tidak berlangsung lama dan hanya memakan dua pekan. Setelah itu, dia langsung menghabiskan waktu syuting selama dua bulan.

Pemain film “Miles 22” itu mengaku bermain dalam film komedi menjadi pengalaman baru. Dalam film itu, Iko juga mengubah penampilannya dengan rambut berwarna pirang.

Baca juga: Joe Taslim reuni dengan Iko Uwais di film “The Night Comes For Us”

“Itu tantangannya. Karakter jadi orang jahat dan harus membunuh. Di situ ada sedikit rintangan, ekspresi juga enggak harus monoton, tetapi juga harus ada konyolnya. Rambut saya juga berubah, kostum juga beda,” ujarnya.

Selain bermain sebagai aktor, pemain berusia 36 tahun itu juga dipercaya sebagai koreografer bela diri. Suami Audy Item itu tidak menyangka seluruh pemain dan kru sangat antusias melihat hasil kerja Iko.

“Dia mau banget style dari saya, pencak silat. Saya merinding, begitu antusiasnya mereka dari hasil yang dikerjakan enggak satu-dua tim. Mereka percayakan produksi kepada saya untuk menjabat sebagai koreografer,” ujar pemain “The Raid” itu.

“Stuber” disutradarai oleh Michael Dowse dan akan tayang pada 24 Juli.

Baca juga: “Triple Threat” film laga terbaru dari Iko Uwais

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gara-gara bleaching rambut, Iko Uwais masuk rumah sakit

Jakarta (ANTARA) – Aktor laga nasional Iko Uwais terpaksa harus dirawat di rumah sakit akibat proses pewarnaan rambutnya (bleaching) demi film terbaru berjudul “Stuber” yang diproduksi di pusat industri film Amerika Serikat, Hollywood.

“Saya masuk rumah sakit gara-gara rambut. Jadi sebelum syuting, dia (Michael Dowse) melihat sosok Tejo. Dia pengin ubah Iko dari segi penampilan bukan Iko, sebagai Iko. Kalau bisa, warnanya beda,” kata Iko dalam jumpa pers film “Stuber” di Jakarta, Senin.

Bintang “Triple Threat” itu kemudian mewarnai rambutnya menjadi pirang (blonde). Dalam prosesnya, dia harus melakukan bleaching. Tapi, kulit kepala Iko tidak kuat terkena zat kimia.

Bleaching dua kali, empat sampai lima jam. Proses bleaching lumayan keras, sehari-dua hari migrain. Disentuh dikit, anak rambut sakit sekali,” ujar pemain “The Raid” itu.

Pemeran Rama dalam “The Raid” itu menambahkan, “Selama syuting (saya) pakai painkiller (karena) saya kira sakit kepala biasa. Tapi, dua minggu berturut-turut enggak hilang. Hari itu disuntik dua kali, ternyata ada saraf yang iritasi.”

Namun sebagai aktor, Iko harus tetap profesional. Dia pun tidak mengeluh dan trauma sebab kejadian itu merupakan tuntutan profesi.

“(Saya) harus profesional. Apapun rasanya, sakit (atau) sehat, saya harus fokus ke karakter saya. Kerja pagi (hingga) malam, saya harus tahan. (Saya) dituntut se-profesional mungkin,” ujar ayah dua anak itu.

Baca juga: Stuber, komedi laga Iko Uwais di Hollywood

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tom Hardy kembali bermain dalam “Venom 2”

Jakarta (ANTARA) – Tom Hardy akan kembali bermain dalam sekuel “Venom, hal tersebut dikonfirmasi oleh sang produser, Amy Pascal.

Selain Tom, pemain lain yang juga kembali hadir dalam film tersebut adalah Michelle Williams dan Riz Ahmed.

“Saya dapat mengatakan bahwa Tom Hardy akan kembali memainkan karakter itu yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain,” ujar Pascal dilansir Aceshowbiz, Senin.

“Saat Anda memikirkan Venom, Anda tidak akan pernah mampu memikirkan siapapun kecuali Tom Hardy yang duduk di aquarium lobster. Dan begitu Anda melihat Tom Hardy melakukan karakter ini, itu saja yang perlu Anda ketahui,” lanjutnya.

Pascal juga memberikan bocoran jika kemungkinan Tom Holland akan muncul di “Venom 2” sebagai Spider-Man.

“Semua orang akan senang melihatnya. Anda tidak pernah tahu suatu hari nanti, itu mungkin terjadi. Saya dapat mengatakan bahwa kami telah memiliki kemitraan yang fantastis dan Anda tidak pernah tahu apa yang akan terjadi,” jelas Pascal.

Dia menambahkan, “Kami memiliki banyak cerita tentang Spider-Man dalam setiap segi. Kami punya rencana besar untuk Tom Holland menjadi bagian dari segalanya.”

“Venom” dirilis pada 2018 yang bercerita tentang seorang jurnalis bernama Eddie Brock. Dia berubah menjadi makhluk mengerikan setelah tubuhnya menyatu dengan bentuk kehidupan simbiotik alien. Karakter Venom juga diambil dari Marvel Comics dengan nama yang sama.

“Venom” pertama mendapat ulasan negatif dari para kritikus, namun di sisi lain juga menjadi salah satu film terlaris pada 2018 dan menghasilkan lebih dari 850 juga dolar di box office seluruh dunia.

Pada bagian akhir kredit film “Venom 1”, diberi sedikit cuplikan untuk sekuelnya di mana Eddie Brock mewawancara pembunuh berantak Cletus Kasady yang diperankan oleh Woody Harrelson di penjara.
  Baca juga: “Venom” dan “A Star is Born” masih kuasai puncak box office

Baca juga: Fanart asal Indonesia ini menangi kompetisi yang diseleksi Tom Hardy

Baca juga: Tips bikin fanart keren dari pemenang kompetisi “Venom” internasional

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sineas Makassar garap “Rumah”, film seri tentang keluarga

Makassar (ANTARA) – Satu lagi karya anak muda Makassar dari sineas-sineas lokal Kota Daeng yang akan menyapa warga Sulawesi Selatan, yakni film series berjudul “Rumah” yang menawarkan edukasi sosial dan keluarga.

Hal tersebut terungkap setelah tim dan kru film Rumah menyambangi Kantor LKBN Antara Biro Sulawesi Selatan dan Barat di Jalan AP Pettarani Makassar belum lama ini.

Sutradara Film Rumah, Jabal Nur menyampaikan pembuatan film ini terinspirasi dari sebuah film hollywood berjudul “Time”, di mana Rumah dianggap tempat kecil biasa namun mampu mempengaruhi sendi-sendi kehidupan.

“Filmnya mengangkat segala hal persoalan rumah. Banyak orang menganggap rumah hal biasa, padahal dari rumah persoalan biasa bisa menjadi luar biasa. Kita mau menyampaikan bahwa tidak cenderung anak-anak bahagia karena gemilang harta” ungkapnya.

Jabal mengibaratkan salah satu permasalahan dalam rumah ialah orangtua yang sangat sibuk sehingga tidak memiliki waktu luang bagi anggota keluarganya yang lain, dan korbannya sendiri ialah anak-anak. Merasa kesepian, tidak ada tempat untuk bercerita, mengeluh dan berkasih sayang.

Ia mengatakan pendekatan melalui audio visual melalui film dianggap sangat pas untuk menggambarkan kondisi “Rumah” di berbagai wilayah Indonesia, khususnya pada kawasan metropolitan yang umumnya banyak polemik terjadi.

“Hampir semua genre kami sajikan dalam film ini, misalnya unsur komedi, sedih, senang dan action juga ada. Karena ada tayangan yang melibatkan polisi dan mafia pada saat penculikan anak,” ungkapnya.

Sementara Producer Film Rumah, Anto Rocka menyebutkan telah melakukan proses syuting seri pertama dari enam seri yang rencana bakal digarap, melibatkan sekitar 20 orang termasuk beberapa sineas lokal dengan keahlian masing-masing.

“Dengan dana yang sangat terbatas, beberapa teman-teman sineas berhasil kami libatkan meski masih dengan harga bersahabat seperti sineas visualisasi editing dan pengambilan gambar,” ungkapnya.

Dinaungi oleh Rafa Studio Indonesia, film tersebut dijadwalkan akan segera tayang di salah satu televisi swasta pada pertengahan Juli 2019 mendatang dengan waktu siar setiap akhir pekan.

“Bukan hanya di televisi, film drama seri ini juga bisa disaksikan di Youtube,” ungkap pria dengan nama lengkap Rakhmat Aidul Fitrianto.

Selain film Rumah, Rafa Studio Indonesia juga tengah menyiapkan sebuah film layar lebar dengan judul “Gadget”. Judul film yang terinspirasi dari realitas zaman sekarang. Tidak sedikit anak yang meluangkan waktu dengan bermain handphone dan mulai mengabaikan sekitarnya.

Baca juga: Pemeran film “The Lawyers” sapa penonton di Makassar

Baca juga: Bintang “Milly & Mamet” temui fans di Makassar

Baca juga: Desa lokasi syuting District 12 “Hunger Games” jadi tempat bersejarah

Adapun nama-nama pemain dan kru film web series “Rumah” yakni:

Produser Eksekutif : Muhammad Askar, SKM
Produser Eksekutif : Dr. Irsyad Dhahri, SH, MH
Produser : Anto Rocka
Sutradara : Jabal Nur

Pemain :
1. H. Nawir Parenrengi
2. Munchex
3. Amir Desar
4. Maiva Linda
5. Sharon Leidelmeyer
6. Mustika Irwan
7. Sudirman
8. Nurwansyah Dewa Irwan
9. Imtiyaz Rinaldy
10. Habib Rinaldy
11. Adiiba Shoffiyah Rahma
12. Dwi Ananda Pratiwi
13. Dwi Zahra Febriani
14. Riona Meymey
15. Roy Jordy
16. Bang Isnet
17. Meisya Priskia
18. Silfitriani Ihsan

Puluhan rumah rusak berat akibat gempa 6,3 SR di Sarmi, Papua

Pewarta: Nur Suhra Wardyah
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Toy Story 4” nomor satu di box office dengan 118 juta dolar

Jakarta (ANTARA) – “Toy Story 4” menduduki peringkat teratas box office Amerika Utara pada akhir pekan dengan pendapatan sebesar 118 juta dolar, salah satu bukaan terbesar sepanjang masa untuk sebuah film animasi meski berada di luar ekspektasi.

Menurut laporan The Hollywood Reporter, Senin, secara global “Toy Story 4” mendapat 238 juta dolar sehingga menciptakan rekor baru untuk genre ini. Meski demikian, film tersebut harus berjuang di Cina karena hanya mampu raih 13,4 juta dolar.

Sebelumnya, “Toys Story 4” diprediksi bisa mendapat antara 140 juta dolar hingga 165 juta dolar di Amerika Utara pada pembukaannya. Meski demikian, film ini merupakan yang terbaik karena mampu melampaui angka 100 juta dolar beberapa film Disney mengalami sandungan.

Film animasi sendiri jarang memiliki penghasilan yang super besar pada pembukaan perdananya, namun mereka selalu mampu bertahan lama di box office.

“Film ini memiliki kata yang baik dari mulut ke mulut dan akan berlangsung lama sepanjang musim panas. Saya tidak menyangkal bahwa pelacakan membuat kami berada di angka yang lebih tinggi, tetapi ini adalah debut yang sangat besar dan menunjukkan betapa banyak orang menyukai karakter ini,” kata kepala distribusi Disney, Cathleen Taff.

“Toy Story 3” dirilis pada Juni 2010 dengan pendapatan sebesar 126 juta dolar, sedangkan “Toy Story 2” meraih 101,8 juta dolar di 1999 dan “Toy Story’s” hanya mendapat 60,4 juta dolar pada 1995.

“Toy Story 4” disutradarai oleh Josh Cooley yang mendapat peringkat 98 persen di Rotten Tomatoes dan meraih nilai A di CinemaScore dari penonton.

Sederet aktor ternama juga mengisi suara dalam film ini seperti Tom Hanks yang kembali menjadi Woody, Tim Allen sebagai Buzz Lightyear dan Annie Potts sebagai Bo Peep (karakter yang sempat absen dari “Toy Story 3”.

Sementara itu, mainan baru yang hadir dalam film ini adalah Forky (Tony Hale), boneka Gabby Gabby (Christina Hendricks), duo komedi Bunny dan Ducky (Jordan Peele dan Keegan-Michael Key) serta pengendara motor aksi Duke Caboom (Keanu Reeves).

Baca juga: Kesan para selebritas tentang “Toy Story 4”

Baca juga: “Toy Story 4” diprediksi kantongi 135 juta dolar

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Desa lokasi syuting District 12 “Hunger Games” jadi tempat bersejarah

Jakarta (ANTARA) – Desa The Henry River Mill di North Carolina yang menjadi lokasi syuting District 12 film “The Huger Games”, sejak bulan lalu masuk ke dalam daftar tempat bersejarah di Amerika Serikat.

Status itu diupayakan oleh Calvin Reyes, sang pemilik baru dari properti seluas 29 hektare itu yang membeli area tersebut pada 2017.

Pengambilan gambar di North Carolina sebagai District 12, rumah bagi tokoh Katniss, Peeta dan Gale, dilakukan 2011.

Sebenarnya, desa tersebut memiliki sejarah panjang yang dimulai pada 1905 saat Henry River Manufacturing Co. mendirikan pabrik di Hildebran, sebelah barat North Carolina, sekitar 112 km timur Asheville.

Pabrik, yang ditutup tahun 1970 dan mengalami kebakaran pada 1977, sekarang menjadi toko dua lantai dan sekitar 20 rumah kayu para pekerja tekstil.

Disebutkan bahwa desa itu adalah “situs yang ditinggalkan yang tampak seperti kota hantu” dalam dua dekade setelah pabrik terbakar, dengan 14 rumah runtuh dan rumah pondokan yang hancur.

Terlepas dari kerusakan yang ada, desa itu “adalah kumpulan perumahan pabrik yang tidak berubah di pedesaan terencana yang terkait dengan industri tekstil penting Carolina Utara di awal abad kedua puluh,” kata formulir yang menominasikan desa itu sebagai tempat bersejarah.

Reyes dan keluarganya sedang mencari properti agar dapat membangun rumah untuk keluarga besarnya ketika mereka menemukan The Mill.

Pintu depan bangunan batu bata yang dulunya adalah toko perusahaan dan berfungsi sebagai Mellark Bakery dalam film itu ditutup dengan sepotong kayu lapis, kata Reyes.

Namun, mereka bertiga terpesona. Mereka berkeliling properti suatu sore dan memilikinya di bawah kontrak pada hari berikutnya, dengan membayar 360.000 dolar. Harga itu termasuk murah mengingat pemilik sebelumnya pernah meminta 1,4 juta dolar. Pemilik itu, Wade Shepherd, meninggal pada 2015, dua tahun sebelum desa itu dijual.

“Kami tahu sejak awal bahwa kami ingin menyelamatkan rumah-rumah ini,” kata Reyes.

“Kami bukan pelestari atau pengembang. Tetapi desa itu berbicara kepada kami, dan itu adalah sesuatu yang ingin kami lakukan,” katanya seperti dilaporkan Time, yang dikutip pada Sabtu.

Baca juga: Jennifer Lawrence bertunangan dengan Cooke Maroney
 

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Toy Story 4” diprediksi kantongi 135 juta dolar

Jakarta (ANTARA) – “Toy Story 4” diperkirakan mengantongi pendapatan hingga 135 juta dolar AS pada akhir pekan pembukaan film tersebut di Amerika Utara, menurut estimasi yang dipublikasikan, Jumat.

Jika perkiraan itu tepat, “Toy Story 4” memulai debutnya sebagai film dengan raihan tebesar ketiga setelah “Avengers: Endgame” dengan perolehan 357 juta dolar AS dan “Kapten Marvel” 353 juta dolar AS, seperti dilansir Variety.

“Toy Story 4” dibuka secara mengesankan dengan pendapatan 12 juta dolar saat penayangannya pada Kamis malam di Amerika Utara, mencatatkan prestasi kedua terbaik untuk film animasi setelah “Incredibles 2” yang dirilis setahun lalu dengan perolehan 18,5 juta dolar.

Hanya saja, prediksi hasil awal untuk “Toy Story 4” itu di bawah perkiraan sebelum rilis yakni 140 juta dolar dari hasil pemutaran di 4.575 bioskop di dalam negeri akhir pekan ini.

Namun, pembukaan untuk film petualangan Sheriff Woody dan Buzz Lightyear tersebut akan menjadi terbesar yang kedua setelah “Incredibles 2” dengan raupan 182 juta dolar. Saat ini, posisi kedua masih diduduki “Finding Dory” dengan 135 juta dolar, yang merupakan pembukaan domestik terbesar ke-29 sepanjang masa.

Baca juga: “Toy Story 4”, nostalgia dan petualangan tanpa akhir

Data Comcast’s PostTrak dari survei yang dilakukan pada anggotanya menunjukkan 83 persen penonton mengatakan mereka akan “merekomendasikan” film itu kepada teman-teman mereka.

Sebanyak 60 persen mengungkapkan alasan utama menonton film itu karena mereka adalah penggemar “Toy Story”. Survei juga menunjukkan 26 persen mengatakan mereka akan menonton film itu lagi di bioskop dan 22 persen mengatakan mereka berencana untuk membeli film Blu-Ray-nya.

“Toy Story 4”, yang debut 24 tahun setelah “Toy Story”, disutradarai oleh Josh Cooley. Film keempat ini, menceritakan petualangan Woody yang berurusan dengan si tukang bingung Forky.

Film dari Disney-Pixar itu juga diluncurkan akhir pekan ini di sekitar dua pertiga pasar internasional dengan debut di Australia, China, Meksiko, Korea Selatan, dan Inggris.

“Toy Story 3” 2010 dibuka dengan 110,3 juta dolar di Amerika Utara dan akhirnya mencatat total 415 juta dolar untuk pasar domestik, bersama dengan 1,07 miliar dolar di seluruh dunia.

Baca juga: “Toy Story” menginspirasi kolektor dan fotografer mainan

Penerjemah: Heppy Ratna Sari
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sepotong perjalanan karir Sabyan di “Sabyan Menjemput Mimpi”

Jakarta (ANTARA) – Nissa, pelajar di sebuah SMK di Bogor setiap hari harus membagi waktunya untuk sekolah dan latihan menyanyi bersama grup musik gambus Sabyan.

Kesibukan membagi waktu bukan perkara mudah bagi perempuan berhijab itu. Latihan menyanyi sering selesai pada tengah malam membuatnya terlambat berangkat ke sekolah keesokan harinya.

Kendati begitu, orang tua Nissa (diperankan Cici Tegal dan Dicky Chandra) tidak bisa melarang putrinya menghentikan kegiatannya bersama Sabyan, yang waktu itu belum resmi meminang Nissa sebagai vokalis utamanya.

Tampil dalam satu acara pernikahan ke pernikahan lain menjadi ladang rezeki untuk Nissa dan Ayus, Kamal, Tebe, Owan dan Anis itu.

Hingga pada satu waktu, penampilan mereka mencuri perhatian sesosok perempuan berjilbab. Sosok perempuan berjilbab inilah yang menjadi gerbang pembuka Sabyan sehingga dikenal masyarakat. Siapa dia?

Baca juga: Perdana berakting di layar perak, Sabyan grogi bahkan sempat menangis

Selama sekitar dua jam, sutradara Amin Ishaq menghadirkan sepotong perjalanan karir Sabyan saat Nissa bergabung di dalamnya, melalui penuturan langsung para personelnya.

Hanya saja, fokus cerita memang pada sosok Nissa ketimbang para personel lain Sabyan. Cerita awal terbentuknya grup juga semata dari tuturan langsung Ayus.

Canda tawa hingga ekspresi rasa kesal mereka hadirkan sepanjang penuturan. Kehadiran seorang pria bernama Dimas dalam hidup Nissa menjadi bumbu tambahan dalam film itu.

Bukan hanya cerita Nissa dan grup Sabyan, Amin juga menghadirkan kisah tetangga Nissa. Adalah seorang pria yang ditinggal istri (diperankan Ade Firman Hakim). Pria itu tinggal bersama putri semata wayang dan ayahnya yang tuna netra.

Film “Sabyan Menjemput Mimpi” produksi Millennia Pictures itu akan tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 27 Juni 2019.

Baca juga: Tampil perdana di film, Sabyan ketagihan berakting?

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Luc Besson mengulang “Nikita” lewat “Anna”?

Jakarta (ANTARA) – Tahun 1990, keberuntungan berpihak pada Anna Poliatova, dalam sekejap dia menjadi supermodel dan merasakan Paris yang gemerlap.

Anna sedang menjual matryoshka saat dia bertemu pencari bakat asal kota mode, yang dalam sekejap dapat menemukan potensi modelling Anna hanya dengan melihatnya membaca buku.

Anna pun pindah ke Paris dan dia belajar menjadi model. Tidak ada yang tahu Anna menjalani dua kehidupan sekaligus.

Femme fatale

Luc Besson, sutradara kenamaan asal Prancis, menggunakan formula lawas yang pernah dia gunakan pada tahun 1990-an, tokoh utama perempuan dan judul film diambil dari nama sang tokoh.

Besson sukses dengan “Nikita” atau “La Femme Nikita”, meski pun berbeda karakter, tokoh rekaan karya Besson ini digambarkan sebagai “femme fatale”, cantik, namun berbahaya.
  Film “Nikita” atau “La Femme Nikita” karya Luc Besson. (Imdb.com)

Mendengar Besson membuat “Anna”, mau tidak mau terbayang sosok Nikita yang elegan, namun tangguh. Besson memilih model asal Rusia Sasha Luss sebagai Anna Poliatova, entah kebetulan semata atau sengaja, Anna pun seorang model.

Anna, yang seorang Rusia, bertolak ke Paris, kepincut pria dan akhirnya menjadi agen intelijen Rusia KGB di bawah asuhan Olga (Helen Mirren) di tahun 1990. Kebetulan atau bukan, “Nikita” juga dirilis pada 1990.
  Film “Anna” karya Luc Besson. (Imdb.com)

Luc Besson menggunakan lima menit pertama di film “Anna” untuk menjanjikan cerita yang menegangkan, 15 menit berikutnya untuk perkenalan hidup Anna yang terasa cepat dan sedikit membingungkan.

Tiba-tiba, penonton diajak mundur ke tahun 1987 saat Anna bermasalah dengan kekasihnya dan bagaimana Alexei (Luke Evans) menawarkan masa depan dengan menjadi agen mata-mata.

Besson terus menggunakan alur maju-mundur sepanjang film, ditandai dengan sebuah peristiwa kemudian adegan berikutnya menjelaskan mengapa peristiwa tersebut terjadi. Alur seperti ini juga digunakan dalam film “Vantage Point” karya Pete Travis pada 2008 lalu.

Tips menonton “Anna” karya Luc Besson: perhatikan detail.

Meski pun Besson sangat memperhatikan detail pada cerita, sayangnya, dia kurang memperhatikan detail pada properti yang digunakan dalam film. Beberapa teknologi terkesan terlalu canggih untuk akhir tahun 80an dan awal 90an, misalnya laptop yang terlalu modern.

Anna sudah terbiasa menggunakan laptop, tentu sebagai agen mata-mata dia harus mahir segala hal, bahkan dia sudah mahir menggunakan laptop jauh sebelum menjadi agen rahasia. Menariknya, dia juga sudah menggunakan USB flash drive pada tahun 90an, padahal teknologi tersebut terkenal pada 2000an awal.

Lionsgate Summit Entertainment semula menjadwalkan film ini rilis pada Oktober 2017, namun, seperti dikutip dari laman LA Times, Besson tersandung kasus pelecehan seksual setahun belakangan ini.

Kabar tentang film “Anna” kembali mencuat sekira bulan April 2019, mereka meluncurkan trailer hingga akhirnya resmi rilis pada 21 Juni.

Baca juga: “Toy Story 4”, nostalgia dan petualangan tanpa akhir

Baca juga: Resensi: “Hit & Run”, film aksi berbalut komedi renyah

Baca juga: Resensi: Menyaksikan film horor sambil tertawa di “Ghost Writer”

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Toy Story” menginspirasi kolektor dan fotografer mainan

Jakarta (ANTARA) – Kehadiran film-film dari sekuel “Toy Story” yang sudah eksis selama 20 tahun rupanya menginspirasi kolektor dan fotografer mainan (toygrapher) untuk menggeluti hobi tersebut.

“Toy Story mewakilkan kita-kita ini, bahkan mereka yang membuat kita memiliki hobi ini dan bisa sayang sama mainan-mainan kita dari kecil,” kata Agam, pendiri komunitas ToygraphyID di Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Ia dan beberapa teman pegiat “toy photography” ini mengaku senang dan cukup emosional ketika menyaksikan petualangan baru Woody cs di layar lebar setelah penantian sembilan tahun lamanya dari “Toy Story 3” (2010).

“Cukup kaget juga karena film yang ketiga sudah klimaks banget. Tapi yang keempat ini menyenangkan dan bikin nangis juga. Ya mungkin karena kita tumbuh sama mereka, ya,” ujar dia.
  Poster dari film “Toy Story 4”. (IMDB)

Agam dan teman-temannya lalu mengatakan mereka sudah tidak sabar mengambil mainan mereka untuk dipotret seusai menonton film “Toy Story 4”.

Sementara itu, petualangan Woody (Tom Hanks), Buzz Lightyear (Tim Allen), dan teman-teman mainannya sudah dapat disaksikan di bioskop-bioskop Tanah Air mulai hari ini.

Film berdurasi 1 jam 40 menit ini adalah pilihan film yang pas untuk melepas penat dan menghabiskan waktu bersama keluarga di akhir pekan.

Baca juga: Kesan para selebritas tentang “Toy Story 4”

Baca juga: “Toy Story 4”, nostalgia dan petualangan tanpa akhir

Baca juga: “Toy Story 4” tayang serentak mulai hari ini

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Toy Story 4”, nostalgia dan petualangan tanpa akhir

Jakarta (ANTARA) – Woody, Buzz, dan kawan-kawan dari squad mainan lainnya kembali berpetualang ke sebuah tempat baru, setelah dipindahtangankan Andy kepada gadis kecil bernama Bonnie yang baru menginjak bangku taman kanak-kanak.

Pada kisah terbaru sekuel ke-empat dari Toy Story kali ini, Woody (Tom Hanks) bertemu dengan mainan baru yang dibuat oleh Bonnie di sekolahnya, bernama Forky (Tony Hale) yang menganggap dirinya ‘sampah’, mengingat ia dibuat dari spork (spoon + fork) dan barang-barang bekas lainnya.

Woody yakin keberadaannya di dunia adalah untuk memastikan kebahagiaan pemiliknya, yang saat ini adalah Bonnie. Sang koboi lalu berusaha menyadarkan Forky bahwa ia bukanlah seonggok sampah, melainkan mainan, sama seperti Woody, Buzz, Jessie, dan lainnya, karena Forky sangat dicintai oleh Bonnie.

Baca juga: Keanu Reeves akan muncul di “Toy Story 4”

Karakter Forky pada cuplikan dari film “Toy Story 4”. (dok. Disney)
Perjalanan Woody guna menyadarkan Forky kemudian membawa kelompok mereka ke sebuah tempat yang tak pernah dikunjungi. Yakni ketika Bonnie membawa mainan-mainannya berlibur bersama seusai orientasi sekolahnya.

Banyak rintangan yang harus mereka hadapi, namun petualangan itu justru berujung pada pertemuan Woody dengan sahabat lamanya, Bo Peep, dan mengenalkannya dengan teman-teman baru.

Film yang disutradarai Josh Cooley ini seakan merupakan jawaban dari sembilan tahun penantian para penggemar sekuel film animasi unggulan Disney Pixar ini. Terlebih, banyak penggemar yang berpikir bahwa “Toy Story 3″(2010) merupakan akhir dari petualangan Woody dan kawan-kawan, mengingat Andy telah beranjak dewasa dan menjadi seorang mahasiswa.

Ditambah dengan alur cerita yang dituangkan Andrew Stanton ke dalam naskahnya, menyuguhkan dinamika emosional tersendiri bagi para penonton yang sebagian besar tumbuh bersama Toy Story.
 

Woody, Buzz, Bunny dan Ducky pada cuplikan dari film “Toy Story 4”. (dok. Disney)
Misalnya bagaimana soundtrack legendaris Toy Story, “A Friend in Me” diputar bersama dengan cuplikan-cuplikan adegan dari tiga film sebelumnya. Pertemuan dengan kawan lama setelah sekian lama pun menggugah ingatan masa lalu penonton akan persahabatan para mainan Andy dulu.

Tak hanya itu, dialog-dialog yang disisipi guyonan ringan khas Disney pun menambah bumbu tersendiri yang menyempurnakan jalannya cerita.

Perwatakan karakter didukung dengan voice acting ciamik dari Tom Hanks (Woody), Tim Allen (Buzz Lightyear), Annie Potts (Bo Peep). Tak hanya itu, kehadiran deretan pengisi suara baru seperti Tony Hale (Forky), aktor-aktor kondang seperti Keanu Reeves (Duke Caboom) dan Keagan-Michael Key (Ducky) hingga sutradara film nominasi Oscar, Jordan Peele (Bunny) menambah kesegaran dan keceriaan cerita.
 

Hangat, menyentuh, dan menyenangkan. Hal-hal ini membuat Toy Story 4 menjadi salah satu pilihan film yang dapat ditonton bersama keluarga maupun sahabat. Film berdurasi 100 menit ini dapat ditonton di seluruh bioskop tanah air mulai Jumat, 21 Juni 2019.

Baca juga: “Toy Story 4” tayang serentak mulai hari ini

Baca juga: Disney keluarkan teaser baru “Toy Story” 4″, ini bocorannya

Baca juga: Disney dan Pixar rilis trailer “Toy Story 4”

Pertunjukan Disney On Ice

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kesan para selebritas tentang “Toy Story 4”

Jakarta (ANTARA) – Beberapa artis ibu kota berbagi kesan mereka terkait film keempat dari sekuel “Toy Story” saat ditemui usai menghadiri gala premiere film tersebut di Jakarta Selatan.

Aktor Mike Lewis mengatakan ia sangat terenyuh dengan jalan cerita petualangan baru Woody dan kawan-kawan. Ia bahkan mengaku menitikkan air mata ketika menontonnya.

“Iya, mereka bikin nangis lagi. Ceritanya bagus banget, sangat berkesan,” ujar dia.

Senada dengan Mike, mantan VJ kondang Daniel Mananta juga sangat terkesan dengan kehadiran “Toy Story 4”. Ia bahkan membawa serta keluarga kecilnya untuk menonton film bersama.
  Daniel Mananta saat ditemui usai Gala Premiere dan Press Screening “Toy Story 4” di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Rabu (19/6/2019). (ANTARA/Dea N. Zhafira)
“Suka banget, apalagi gue nonton semua filmnya dari awal. Seru dan bikin agak emosional juga,” kata Daniel.

Dalam kesempatan yang sama, aktor Kevin Julio juga terlihat hadir menonton film garapan studio animasi Disney Pixar tersebut. Kevin Julio saat ditemui usai Gala Premiere dan Press Screening “Toy Story 4” di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Rabu (19/6/2019). (ANTARA/Dea N. Zhafira)

“Gue, karena nonton dari awal, seneng banget bisa lihat mereka lagi. Banyak pesan yang bisa diambil juga,” kata dia.

Sementara itu, petualangan Woody (Tom Hanks), Buzz Lightyear (Tim Allen), dan teman-teman mainannya sudah dapat disaksikan di bioskop-bioskop Tanah Air mulai hari ini.

Film berdurasi 1 jam 40 menit ini adalah pilihan film yang pas untuk melepas penat dan menghabiskan waktu bersama keluarga di akhir pekan.

Baca juga: “Toy Story 4”, nostalgia dan petualangan tanpa akhir

Baca juga: “Toy Story 4” tayang serentak mulai hari ini

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Fan BTS ingin Jimin perankan Prince Eric dari film “Little Mermaid”

Jakarta (ANTARA) – Pengemar BTS ingin personel grup tersebut, Jimin, memerankan Prince Eric dari film “The Little Mermaid” yang akan datang.

Meski demikian belum ada pengumuman resmi terkait para pemeran film yang akan disutradarai Rob Marshall yang pernah menggarap “Chicago” dan “Mary Poppins Returns”.

Selain Jimin, pilihan populer lain adalah Harry Styles dan Noah Centino.

Sementara itu, saat ini BTS membagikan sebuah teaser dari single berbahasa Jepang “Lights”.

Lagu single yang akan dinyanyikan secara rap dalam Bahasa Jepang itu akan dirilis bulan depan, lengkap dengan versi terbaru hit-nya “Boy With Love”.

Baca juga: Tiket tur konser BTS di AS-Eropa terjual 600.000 lembar

Baca juga: Tiga lagu BTS temani misi NASA ke bulan pada 2024
 

Bakti gandeng 23 pemda bangun BTS USO

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tampil perdana di film, Sabyan ketagihan berakting?

Jakarta (ANTARA) – Para personel grup musik religi Sabyan berkesempatan menjajal seni peran layar lebar, dengan memainkan karakter diri mereka sendiri di film “Sabyan Menjemput Mimpi”. 

Lantas bagaimana tanggapan personel Sabyan setelah bermain film, apakah mereka menyukai dunia akting dan berniat mencobanya lagi atau bahkan sudah ketagihan? 

“Belum ketagihan akting karena masih kepikiran syuting kemarin,” ujar Owan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (20/6) malam.

Hal senada juga Nissa rasakan. Menurut dia, berakting bukan perkara mudah walau memerankan diri sendiri.

“Nissa ngerasain akting enggak gampang,” kata dia.

Belum lama ini, Sabyan terlibat dalam produksi film yang mengisahkan perjalanan grup mereka, “Sabyan Menjemput Mimpi”.

Dalam film besutan sutradara Amin Ishaq itu, semua personel grup yakni Nissa, Ayus, Kamal, Tebe, Owan dan Anis memerankan diri mereka sendiri.

“Perasaan Nissa seneng, deg-degan, enggak nyangka. Enggak berharap banyak di film ini. Siap enggak siap dengan reaksi penonton,” kata Nissa.

Di sisi lain, personel Sabyan lainnya, Yus mengaku sempat tak percaya ada pihak yang mau memfilmkan perjalanan grupnya. Dia juga sempat merasa jantungnya berdegup kencang ketika harus melihat dirinya tampil dalam film.

“Deg-degan. Pertama kali menonton diri kami sendiri. Luar biasa saya hari ini bangga, banyak orang yang bisa melihat perjuangan kami dari awal sampai saat ini,” tutur Yus.

Amin mengatakan produksi film Sabyan hanya memakan waktu delapan hari saja. Bahkan, tidak ada pembacaan naskah seperti dalam produksi film pada umumnya.

Selain para personel Sabyan, sederet selebritas juga terlibat dalam film ini antara lain Dicky Chandra, Ade Firman Hakim, Cici Tegal, Tarzan, Shenina Cinammon, Shendi William, Fuad Idris, Kanaya Gleadys, Aquino Umar dan Salsabila Kholiq.

Film “Sabyan Menjemput Mimpi” rencananya tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 27 Juni 2019.

Baca juga: Perdana berakting di layar perak, Sabyan grogi bahkan sempat menangis
 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Toy Story 4” tayang serentak mulai hari ini

Jakarta (ANTARA) – Petualangan Woody (Tom Hanks), Buzz Lightyear (Tim Allen), dan teman-teman mainannya berlanjut dan mempertemukan mereka dengan tempat dan kawan-kawan baru. Film keluarga itu akan tayang secara serentak pada Jumat (21/6).

Film yang disutradarai Josh Cooley ini seakan merupakan jawaban dari sembilan tahun penantian para penggemar sekuel film animasi unggulan Disney Pixar ini.

Ditambah dengan alur cerita yang dituangkan Andrew Stanton ke dalam naskahnya, menyuguhkan dinamika emosional tersendiri bagi para penonton yang sebagian besar tumbuh bersama Toy Story.

Pada kisah terbaru sekuel ke-empat dari Toy Story kali ini, Woody (Tom Hanks) bertemu dengan mainan baru yang dibuat oleh Bonnie di sekolahnya, bernama Forky (Tony Hale) yang menganggap dirinya ‘sampah’, mengingat ia dibuat dari spork (spoon + fork) dan barang-barang bekas lainnya.
  Poster dari film “Toy Story 4”. (dok. Disney)

Seperti film-film sebelumnya pada sekuel “Toy Story” yang telah eksis selama 20 tahun lalu, film ini selain menampilkan petualangan seru, juga memiliki guyonan-guyonan jenaka sehingga menyenangkan untuk ditonton.

Penasaran seperti apa petualangan baru Woody dan teman-temannya dalam misi tak terduga mereka? Film berdurasi 1 jam 40 menit ini adalah pilihan film yang pas untuk melepas penat dan menghabiskan waktu bersama keluarga di akhir pekan.

Baca juga: Disney keluarkan teaser baru “Toy Story” 4″, ini bocorannya

Baca juga: Disney dan Pixar rilis trailer “Toy Story 4”

Baca juga: Toy Story hadir dalam bentuk kosmetik

Cerita Maxime Bouttier main Film Kuntilanak 2

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Perdana berakting di layar perak, Sabyan grogi bahkan sempat menangis

Jakarta (ANTARA) – Para personel grup musik religi Sabyan tak menutupi rasa bahagia sekaligus grogi saat berakting kali pertama dalam film yang mengisahkan perjalanan grup mereka, “Sabyan Menjemput Mimpi”.

Dalam film besutan sutradara Amin Ishaq itu, semua personel grup yakni Nissa, Ayus, Kamal, Tebe, Owan dan Anis memerankan diri mereka sendiri.

“Perasaan Nissa senang, deg-degan, enggak nyangka. Enggak berharap banyak di film ini. Siap enggak siap dengan reaksi penonton,” kata Nissa dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis malam.

Setelah menonton film, dia mengaku senang karena ternyata dirinya bisa berakting, walau menjadi diri sendiri. Nissa mengaku sempat menangis melihat dirinya tampil di layar perak.

Baca juga: Nissa Sabyan terharu perjalanan karirnya difilmkan

Di sisi lain, personel Sabyan lainnya, Yus mengaku sempat tak percaya ada pihak yang mau memfilmkan perjalanan grupnya. Dia juga sempat merasa jantungnya berdegub kencang ketika harus melihat dirinya tampil dalam film.

“Deg-degan. Pertama kali menonton diri kami sendiri. Luar biasa saya hari inu bangga, banyak orang yang bisa melihat perjuangan kami dari awal sampai saat ini,” kata Yus.

Amin mengatakan produksi film Sabyan hanya memakan waktu delapan hari karena keterbatasan waktu yang Sabyan miliki. Bahkan, tidak ada pembacaan naskah bak dalam produksi film pada umumnya.

“Skenario kami buat sendiri. Saya mencari cara supaya mereka nyaman berakting. Spontanitas teman-teman yang saya tangkap dan manfaatkan untuk menghidupkan adegan,” tutur dia.

Baca juga: “Ikhlas”, kolaborasi Nissa Sabyan, Siti Nurhaliza dan Taufik Batisah

Dia dan para personel Sabyan berharap karya produksi Millennia Pictures ini tak sekedar menghibur tetapi juga memberikan inspirasi bagi penontonnya.

“Saya berharap film “Sabyan Menjemput Mimpi” bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk penontonnya, bukan hanya bisa menghibur tetapi juga memberikan inspirasi untuk penonton film Indonesia,” kata Nissa mewakili grupnya.

“Sabyan Menjemput Mimpi” bercerita tentang perjalanan karir grup musik religi Sabyan Gambus sejak awal terbentuk hingga meraih popularitas. Karakter dalam film diperankan sendiri oleh para personel Sabyan, yakni Nissa, Ayus, Kamal, Tebe, Owan dan Anis.

Selain para personel Sabyan, sederet selebritas juga terlibat dalam film ini antara lain Dicky Chandra, Ade Firman Hakim, Cici Tegal, Tarzan, Shenina Cinammon, Shendi William, Fuad Idris, Kanaya Gleadys, Aquino Umar dan Salsabila Kholiq.

Film “Sabyan Menjemput Mimpi” rencananya tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 27 Juni 2019.

Baca juga: Rhoma dan Nissa Sabyan semarakkan kampanye Prabowo-Sandi di Tangerang

Baca juga: Sabyan ucapkan duka cita untuk korban tsunami

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Merasakan makna persahabatan dalam “Koki-koki Cilik 2”

Jakarta (ANTARA) – Film kedua dari sekuel berjudul sama, “Koki-koki Cilik” mengajak penonton menjajal petualangan Bima (Farras Fatik), Melly (Alifa Lubis), dan kawan-kawan di sekolah memasak mereka bernama “Cooking Camp”.

Para chef cilik itu lalu berkumpul dan merencanakan untuk mengunjungi Chef Grant (Ringgo Agus Rahman), yang ternyata tidak mengurus tempat tersebut. Bima dan gengnya lalu membuat misi untuk menyelamatkan sekolah memasaknya itu.

Keseruan dari misi mereka pun bertambah dengan hadirnya Adit (Adhiyat) yang ditemani tantenya, Adel (Kimberly Rider). Kekuatan cerita pun disempurnakan dengan kehadiran Evan (Christian Sugiono).

Sebuah gambaran tentang kerjasama disajikan Viva Westi sebagai sutradara dengan gaya khas anak-anak yang polos, jenaka, dan apa adanya.

Ini adalah tantangan bagi Viva Westi yang baru pertama kali menyutradari film dengan pemain yang sebagian besar adalah artis cilik, dengan skenario yang ditulis Vera Varidia.

Sebuah makna pertemanan, kerja sama, dan saling menolong menjadikan film “Koki-Koki Cilik 2” memiliki banyak nilai positif. Misi penyelamatan cooking camp dilakukan dengan terencana, menggunakan kemampuan para alumninya memasak.
  Pemain-pemain beserta kru produksi film “Koki-koki Cilik 2” usai Press Screening dan Press Conference pada Gala Premiere, XXI Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Kamis (20/6/2019). (ANTARA/Dea N. Zhafira) ​​​​

Sementara itu, Gala Premier dan Press Screening Koki-Koki Cilik 2 dilangsungkan di XXI Mal Kota Kasablanka, Kamis (20/6) bersama para pemain beserta sutradara, penulis naskah, dan kru.

Screening juga dilakukan serentak di 10 kota, seperti Bogor, Cirebon, Medan, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Palembang, dan Makassar.

Film Koki-Koki Cilik 2 akan tayang serentak di bioskop-bioskop tanah air mulai Kamis, 27 Juni 2019 mendatang.

Cerita Maxime Bouttier main Film Kuntilanak 2

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ringgo Agus Rahman senang bisa reuni bareng Christian Sugiono

Jakarta (ANTARA) – Pemain film Ringgo Agus Rahman mengaku senang bisa bertemu dan bermain film kembali dengan sahabatnya, Christian Sugiono, yang akan menjadi lawan mainnya pada film “Koki-koki Cilik 2”, .

“Akhirnya setelah sekian lama, gue bisa ketemu dan main film bareng Christian lagi. Ketemu Tian lagi di film ini yang paling bikin gue happy,” kata Ringgo usai konferensi pers film “Koki-koki Cilik 2” di Kota Kasablanka, Jakarta Selatan, Rabu.

Ia kemudian berbagi kisah mengenai persahabatannya dengan aktor Christian Sugiono. Bagi Ringgo, Christian adalah orang yang baik dan telah banyak mendukungnya sejak pertemuan pertama mereka.

“Christian orangnya baik sekali. Baru pertama kali kenalan udah ngajak gue jalan,” kenang Ringgo.

Perjalanan hidupnya, lanjut Ringgo, banyak dibantu oleh Christian. Mulai dari awal ia tinggal di Jakarta untuk film pertamanya, bertempat tinggal bersama Christian, dan lain sebagainya.

Ringgo menganggap Christian merupakan salah satu sahabat dan pendukung terbesarnya dalam karirnya sebagai seorang aktor.

“Tian juga banyak banget ngasih masukan. Karena waktu gue pertama kali main film, gue ga tau apa-apa,” kata suami Sabai Morscheck ini.

Sementara itu, duo Ringgo Agus Rahman dan Christian Sugiono dapat kembali disaksikan di film “Koki-koki Cilik 2” yang akan tayang serentak pada 27 Juni 2019 mendatang di bioskop Indonesia.

Baca juga: Ringgo Agus Rahman main lagi di “Koki Koki Cilik 2”

Baca juga: “Keluarga Cemara” dapat 11 Nominasi Piala Maya

Baca juga: Ringgo Agus komentari kasus prostitusi daring Vanessa Angel

Cerita Maxime Bouttier main Film Kuntilanak 2

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Avengers: Endgame” akan dirilis ulang, ada kejutan usai kredit film

Jakarta (ANTARA) – Presiden Marvel Studios Kevin Feige mengatakan di sejumlah kesempatan bahwa “Avengers: Endgame” akan dirilis ulang di bioskop dengan adegan-adegan tambahan yang tak ada di film yang sudah tayang sebelumnya, yang durasinya sudah sangat panjang yakni tiga jam satu menit.

Sayangnya Disney tak mau menanggapi hal itu saat dikonfirmasi Variety dilansir Rabu (20/6).

Meski demikian juru bicara perusahaan mengatakan bahwa film kedua “Avengers: Endgame” ini tak akan tersedia dalam format Imax.

“Bukan potongan tambahan, tetapi akan ada versi dengan beberapa hal baru di akhir film,” kata Feige kepada ScreenRant.

“Jadi jika Anda menunggu sampai kredit film selesai, akan ada adegan yang dihapus, sedikit penghargaan, dan beberapa kejutan. Film akan hadir akhir pekan depan. “

Baca juga: OPPO F11 Pro hadir versi Avengers

Baca juga: “Avengers: Endgame” jadi film terpanjang MCU

Baca juga: “Avengers: Endgame” misi terakhir Avengers selamatkan semesta

Pertunjukan Disney On Ice

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Toy Story 4”, nostalgia dan petualangan tanpa batas

Jakarta (ANTARA) – Woody, Buzz, dan kawan-kawan squad mainan lainnya kembali berpetualang ke sebuah tempat baru, setelah dipindahtangankan Andy kepada gadis kecil bernama Bonnie yang baru menginjak bangku taman kanak-kanak.

Pada kisah terbaru sekuel ke-empat dari Toy Story kali ini, Woody (Tom Hanks) bertemu dengan mainan baru yang dibuat oleh Bonnie di sekolahnya, bernama Forky (Tony Hale) yang menganggap dirinya ‘sampah’, mengingat ia dibuat dari spork (spoon + fork) dan barang-barang bekas lainnya.

Woody yakin keberadaannya di dunia adalah untuk memastikan kebahagiaan pemiliknya, yang saat ini adalah Bonnie. Sang koboi lalu berusaha menyadarkan Forky bahwa ia bukanlah seonggok sampah, melainkan mainan, sama seperti Woody, Buzz, Jessie, dan lainnya, karena Forky sangat dicintai oleh Bonnie.

Forky, cuplikan dari film Toy Story 4. (imdb) Perjalanan Woody guna menyadarkan Forky kemudian membawa geng ini ke sebuah tempat yang mereka tak pernah kunjungi. Yakni ketika Bonnie membawa mainan-mainannya berlibur bersama seusai orientasi sekolahnya.

Banyak rintangan yang harus mereka hadapi, namun petualangan itu justru berujung pada pertemuan Woody dengan sahabat lamanya, Bo Peep, dan mengenalkannya dengan teman-teman baru.

Film yang disutradarai Josh Cooley ini seakan merupakan jawaban dari sembilan tahun penantian para penggemar sekuel film animasi unggulan Disney Pixar ini. Terlebih, banyak penggemar yang berpikir bahwa “Toy Story 3″(2010) merupakan akhir dari petualangan Woody dan kawan-kawan, mengingat Andy telah beranjak dewasa dan menjadi seorang mahasiswa.

Ditambah dengan alur cerita yang dituangkan Andrew Stanton ke dalam naskahnya, menyuguhkan dinamika emosional tersendiri bagi para penonton yang sebagian besar tumbuh bersama Toy Story.

Kawan-kawan mainan Bonnie, cuplikan dari film Toy Story 4. (imdb) Misalnya bagaimana soundtrack legendaris Toy Story, “A Friend in Me” diputar bersama dengan cuplikan-cuplikan adegan dari tiga film sebelumnya. Pertemuan dengan Bo Peep setelah sekian lama pun menggugah ingatan masa lalu penonton akan persahabatan para mainan Andy dulu.

Tak hanya itu, dialog-dialog yang disisipi guyonan ringan khas Disney pun menambah bumbu tersendiri yang menyempurnakan jalannya cerita.

Perwatakan karakter didukung dengan voice acting ciamik dari Tom Hanks (Woody), Tim Allen (Buzz Lightyear), Annie Potts (Bo Peep). Tak hanya itu, kehadiran deretan pengisi suara baru seperti Tony Hale (Forky), aktor-aktor kondang seperti Keanu Reeves (Duke Caboom) dan Keagan-Michael Key (Ducky) hingga sutradara film nominasi Oscar, Jordan Peele (Bunny) menambah kesegaran dan keceriaan cerita.

Hangat, menyentuh, dan menyenangkan. Hal-hal ini membuat Toy Story 4 menjadi salah satu pilihan film yang dapat ditonton bersama keluarga maupun sahabat. Film berdurasi 100 menit ini dapat ditonton di seluruh bioskop tanah air mulai Jumat, 21 Juni 2019.

Baca juga: Toy Story hadir dalam bentuk kosmetik

Baca juga: Keanu Reeves akan muncul di “Toy Story 4”

Baca juga: Tom Hanks stop makan daging tiap Senin

Perjalanan 100 Hari KRI Bima Suci singgahi Kota Batam

Oleh Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kostum Olivia Newton-John di “Grease” dilelang

Jakarta (ANTARA) – Olivia Newton-John melelang jaket kulit hitam dan celana ketat yang ia pakai di lagu pamungkas dalam film “Grease” untuk menggalang dana demi pusat penanganan kanker miliknya di Australia. Julien’s Auction mengatakan, Selasa, busana ikonik yang menandai perubahan karakternya dari anak SMA yang lugu menjadi Sandy Olson yang seksi pada film musikal 1978 itu adalah salah satu dari 200 barang yang dilelang Newton-John pada November.

Dilansir Reuters, jaket dan celananya dijual terpisah, tapi keduanya diperkirakan bakal terjual hingga 200.000 dolar AS, kata rumah lelang itu.

“Grease”, kisah romantis anak SMA era 1950-an, adalah film terkenal di dunia yang melambungkan karir Newton-John serta John Travolta.

Penyanyi, yang dua tahun lalu mengungkapkan kanker payudara yang ia derita sejak 1992 telah kemnali dan menyebar ke punggung bawahnya, mengenakan jaket kulit dan celana ketat itu di adegan terakhir “Grease”, di mana kedua aktor berduet lagu “You’re the One That I Want.”

Aktris 70 tahun itu juga melelang skenario asli film tersebut yang diprediksi akan terjual 4000 dolar AS, gaun merah muda yang dikenakan saat pemutaran perdana “Grease” di Los Angeles dengan perkiraan harga jual 3000-5000 dolar AS dan jaket Pink Ladies yang diberikan kepadanya oleh pemeran dan kru “Grease”.

Penyanyi dan aktris kelahiran Inggris yang besar di Australia itu juga melelang dua pakaian yang dia kenakan saat mempromosikan alnum dan tur “Physical” pada 1981, juga beberapa kostum dari film “Xanadu” tahun 1980.

Awal tahun ini, saat mempromosikan memoarnya, Newton-John mengatakan dia menghabiskan ulang tahun ke-70 dengan menjalani perawatan radiasi di Olivia Newton-John Cancer Wellness and Research Centre di Melbourne, Australia, akibat panggul retak yang disebabkan kanker.

Sebagian hasil penggalangan dana akan diberikan untuk mendanai pusat riset, kata rumah lelang.

Pelelangan itu akan berlangsung di Beverly Hills pada 1-2 November.

Baca juga: Gaun Aretha Franklin akan dilelang, harganya capai Rp59,8 juta

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mawar De Jongh perbaiki cara jalan demi “Bumi Manusia”

Jakarta (ANTARA) – Aktris Mawar De Jongh harus memperbaiki cara berjalannya demi memerankan Annelies dalam film “Bumi Manusia” yang disutradarai Hanung Bramantyo.

Untuk membiasakan cara jalan yang lebih feminin, Mawar harus mengenakan rok panjang dan besar sejak tahap pembacaan naskah.

“Waktu reading aku pakai rok panjang karena cara jalan aku kayak laki-laki,” katanya di Jakarta, Rabu.

Tak hanya itu, untuk memerankan Annelies yang keturunan Belanda-Jawa, dia juga harus belajar bahasa Belanda dan Jawa

Ia pernah mengatakan, meski keturunan Belanda, dirinya masih harus mendalami bahasa Belanda lebih intensif karena logat Annelies yang hidup pada masa pemerintahan Hindia Belanda berbeda dengan logat yang dia tahu.

Menurut Mawar, logat Belanda zaman dulu lebih sopan ketimbang masa kini yang sudah bercampur dengan slang.

Sementara itu, Hanung memuji kemampuan berakting Mawar sebagai Annelies, salah satunya karena mampu menyelami tokoh yang menjadi lawan main Iqbaal Ramadhan, yang berpesan sebagai Minke.

“Mawar lebih bisa masuk (ke peran Annelies) karena ibunya pribumi dan bapaknya Belanda. Ketika diceritain tentang Annelies, menangis dia,” kata Hanung.

Baca juga: Iqbaal Ramadhan tak ingin hanya dikenal sebagai Dilan

Baca juga: Demi jadi Minke, Iqbaal belajar makan sambil duduk di lantai
 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Iqbaal Ramadhan tak ingin hanya dikenal sebagai Dilan

Jakarta (ANTARA) – Aktor muda Iqbaal Ramadhan cukup mendapat sorotan publik setelah memerankan tokoh utama dalam film “Dilan 1990” dan “Dilan 1991” beberapa waktu lalu.

Namun, pria yang dulu tergabung dalam boy group CJR itu mengaku tak ingin dikenal publik hanya sebagai Dilan. Iqbaal juga ingin memerankan karakter lain di berbagai karya film berikutnya.

“Saya aware sekali kalau saya dibilang Dilan. Tetapi saat itu momennya adalah saya sudah lama enggak ada di industri hiburan lalu main di film ‘Dilan’ dan itu jadi branding saya selain boy band. Tetapi sebagai pekerja seni saya enggak mau kalau karakter saya hanya itu saja,” kata dia dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.

Saat ini, Iqbaal terlibat dalam produksi film “Bumi Manusia” yang disutradarai Hanung Bramantyo. Dalam film yang diangkat dari buku “Bumi Manusia” karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer itu, Iqbaal memerankan tokoh Minke, seorang pribumi revolusioner di zaman kolonial Belanda

“Lagi-lagi ini kebetulan dari buku yang pembacanya lebih banyak dari buku sebelumnya (Dilan 1990 dan 1991). Makanya ini jadi bahan omongan, apakah akan sukses? Saya enggak bisa jawab,” tutur Iqbaal.

Dia mengatakan, yang bisa dia lakukan untuk menghidupkan karakter Minke adalah menyelami cara berpikirnya.

Ada berbagai hal yang dia lakukan demi bisa memahami cara berpikir Minke, mulai dari belajar bahasa Belanda, membaca buku kesukaan Pramoedya seperti “Multatuli” karya Max Havelaar, hingga menjadi budak di rumah sendiri seperti anjuran Hanung.

Menurut Hanung, Minke sosok revolusioner yang pola pikirnya kebarat-baratan, juga berani memberontak tradisi Jawa yang dianggap tak berpihak. Dia digambarkan seperti fenomena generasi milenial masa kini yang sedang mengalami “gegar kebudayaan”.

Baca juga: Demi jadi Minke, Iqbaal belajar makan sambil duduk di lantai
 

Vanesha Precilla akui lebih dikenal sebagai Milea

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Demi jadi Minke, Iqbaal belajar makan sambil duduk di lantai

Jakarta (ANTARA) – Aktor muda Iqbaal Ramadhan dituntut untuk memahami cara berpikir dan berlaku sebagaimana tokoh Minke dalam film “Bumi Manusia” yang diangkat dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer, termasuk makan sambil duduk di lantai.

“Disuruh makan (sambil duduk) di lantai. Saya sangat sadar, saya lahir semuanya sudah enak. Semuanya sudah ke arah yang lebih baik. Tetapi, saya tidak ada di masa nenek saya, yang bahkan kata merdeka sulit sekali diucapkan,” ujar Iqbaal dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.

Belajar makan sambil duduk di lantai merupakan permintaan Hanung Bramantyo selaku sutradara “Bumi Manusia” kepada Iqbaal.

Iqbaal bahkan juga diminta untuk membaca buku-buku kesukaan Pram seperti “Max Haveelar” karya Multatuli atau Eduard Douwes Dekker dalam dua bulan demi bisa memahami cara berpikir tokoh Minke.

“Pendekatan Mas Hanung bukan berusaha untuk menjadi Minke. Tetapi, mengerti cara berpikir seorang Minke. Makanya, (saya) dikasih bacaan-bacaan yang Eyang Pram baca,” kata Iqbaal.

Sementara, Hanung mengatakan Iqbaal perlu meninggalkan kehidupan yang serba enak dan serba ada sementara waktu. Iqbaal bahkan perlu belajar menjadi budak di rumah sendiri.

“Makan duduk di lantai (adalah) treatment dari saya. Iqbaal harus meninggalkan apa yang ada di rumahnya. Makan sambil duduk di lantai, ngepel sendiri, mencoba jadi budak di rumah sendiri,” kata Hanung.

Kemudian dari sisi bahasa, Iqbaal juga harus belajar berbahasa Belanda, Jawa, dan mengganti kata panggilan untuk diri dari “gua” menjadi “saya” dalam kurun waktu satu bulan.

“Bumi Manusia” berkisah tentang kisah Minke, pribumi revolusioner pada zaman kolonial Belanda, dengan Annelies, gadis blasteran Belanda – Jawa.

“Bumi Manusia” adalah buku pertama dari Tetralogi Buru yang ditulis ketika Pram mendekam di pulau Buru. Pram menulis kisah itu di bekas kertas bungkusan semen sebelum akhirnya ditulis pada 1975.

Selain Iqbaal, Mawar De Jongh, Sha Ine Febriyanti, Ayu Laksmi, Donny Damara, Bryan Domani, dan Gorgino Abraham juga berpartisipasi dalam film yang akan tayang di bioskop pada 15 Agustus 2019 itu.

“Untuk teman-teman milenials, generasi Y, yang belum tentu tahu siapa Eyang Pram, apa itu “Bumi Manusia”, mungkin gara-gara film ini, teman-teman bisa lebih menghargai sejarah dan mengerti alasan mengapa kalian harus bangga menjadi orang Indonesia,” kata Iqbaal.

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Men In Black: International”, selamatkan dunia dari serangan alien

Jakarta (ANTARA) – Duo dari agen senior “Men in Black (MIB)” bersama agen amatir yang baru saja menerima tugas pertamanya, bersatu melawan serangan alien berspesies maut bernama Hive yang dapat mengubah wujud mereka seperti layaknya manusia, dan mengancam baik organisasi tersebut maupun dunia.

Agen H (Chris Hemsworth) adalah seorang agen senior di organisasi MIB. Dengan banyaknya pengalaman berhadapan dengan para alien, membuat Agen H menjadi salah satu agen unggulan di sana.

Sedangkan partner-nya, Agen M (Tessa Thompson) merupakan agen yang baru saja menjalani masa magang di MIB dan mendapatkan misi pertamanya di luar New York bersama Agen H, agar ia segera lolos dari masa percobaannya tersebut.

Petualangan Agen M dimulai tak lama sesudah Agen O (Emma Thompson) melihat perkembangan pesat Agen M di masa training, dan mengirimnya ke kantor cabang MIB di London, Inggris, dan mempertemukannya dengan Agen H.

Agen H yang sudah senior rupanya dapat diimbangi oleh kecerdasan Agen M yang masih baru. Banyak ide segar yang dilakukan pasangan ini untuk mencegah Hive memasuki portal angkasa luar dengan bumi.
 

MIB agents in the MIB London office in Columbia Pictures’ MEN IN BLACK: INTERNATIONAL.
Perburuan dan penangkapan salah satu alien terganas di semesta itu mengajak penonton untuk mengunjungi beberapa kota di dunia, tentunya dengan teknologi yang lengkap dan canggih.

Dalam film ini, mulai dari transportasi berkecepatan tinggi hingga senjata-senjata unik dan mutakhir turut menambah keseruan cerita.

Selain aksinya, “MIB: International” menyuguhkan banyak dialog yang mengocok perut penonton, layaknya tiga series Men in Black pada tahun 1997, 2002, dan 2012 lalu. Terlebih, duo kocak Chris Hemsworth dan Tessa Thompson juga pernah dipadukan pada film “Thor: Ragnarok” (2017).

Film bergenre sci-fi, action-comedy ini disutradarai F. Gary Gray, yang diadaptasi dari komik Malibu (Malibu Comics), buatan Lowell Cunningham.

Gray yang juga menyutradarai film ke-delapan dari sekuel “The Fast and the Furious”, “The Fate of the Furious” (2017) ini mengadaptasi “MIB: International” dengan memadukan interaksi manusia dan alien yang digambarkan melalui animasi 3 dimensi dan efek visual (CGI).

Latar belakang tiap tokoh pun juga beragam dan diceritakan sesuai porsinya.

Misalnya bagaimana mulanya Agen H maupun Agen M memulai perjalanan mereka, pengenalan agen-agen lain di organisasi tersebut, hingga bagaimana alien-alien bisa berada di bumi dan berinteraksi dengan manusia. Tentunya disisipi percakapan ringan antar karakter yang menggelitik dan penuh kejutan.

Berbeda dengan tiga serial MIB sebelumnya yang didominasi oleh tokoh pria, film ini memberikan spotlight bagi Agen M yang merupakan agen MIB wanita di sana. Dalam film ini, dapat dilihat bagaimana organisasi MIB memiliki agen-agen dengan beragam etnis, gender, hingga tujuan mereka .

Dibalut dengan penokohan, efek visual, hingga komedi yang pas, film berdurasi 120 menit ini dapat ditonton di seluruh bioskop tanah air mulai Rabu, 19 Juni 2019.

Baca juga: “Men In Black: International” tayang mulai hari ini

Baca juga: Chris Hemsworth dan Tessa Thompson jadi wajah baru “Men in Black”

Baca juga: Tom Holland dan Chris Hemsworth main wayang di Bali

Cerita Maxime Bouttier main Film Kuntilanak 2

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Men In Black: International” tayang mulai hari ini

Jakarta (ANTARA) – Aksi duo Chris Hemsworth dan Tessa Thompson dalam “Men In Black: International” dapat ditonton mulai hari ini di bioskop-bioskop Tanah Air.

Film bergenre sci-fi, action-comedy ini disutradarai oleh F. Gary Gray, dan diadaptasi dari komik Malibu (Malibu Comics), buatan Lowell Cunningham.

Gray yang juga menyutradarai film ke-delapan dari sekuel “The Fast and the Furious”, “The Fate of the Furious” (2017) ini mengadaptasi “MIB: International” dengan memadukan interaksi manusia dan alien yang digambarkan melalui animasi 3 dimensi dan efek visual (CGI).

Film ini menceritakan tentang agen senior “Men in Black” (MIB), Agen H (Chris Hemsworth) bersama agen amatir yang baru saja menerima tugas pertamanya, Agen M (Tessa Thompson), bersatu melawan serangan alien bernama Hive yang dapat mengubah wujud mereka seperti layaknya manusia, dan mengancam baik organisasi tersebut maupun dunia.

Seperti sekuel-sekuel “Man In Black” beberapa tahun sebelumnya, film ini selain menampilkan aksi, juga terdapat sisi komedi sehingga menyenangkan untuk ditonton.

Ditambah dengan penokohan utama wanita dari Tessa Thompson, menambah kesegaran dari film MIB yang dulunya didominasi oleh tokoh-tokoh pria.

Penasaran seperti apa petualangan Agen H dan Agen M dalam misinya mencegah serbuan Hive, sang alien ganas? Film berdurasi 120 menit ini adalah pilihan film yang pas untuk melepas penat dan menghabiskan waktu di akhir pekan.

Baca juga: Chris Hemsworth dan Tessa Thompson jadi wajah baru “Men in Black”

Baca juga: “Black Adam”, spin-off dari “Shazam!” telah menemukan sutradra

Baca juga: Tom Holland dan Chris Hemsworth main wayang di Bali

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sandra Bullock dan Brie Larson terima penghargaan MTV

Pemeran Capten Marvel Brie Larson menyapa penonton saat menghadiri MTV Movie and TV Awards 2019 di Santa Monica, California, Minggu (16/6/2019). Brie Larson memenangi kategori “Best Fight” berkat aksinya di Captain Marvel. ANTARA FOTO/REUTERS/Mike Blake/pras.

Daftar lengkap pemenang MTV Movie & TV Awards

Jakarta (ANTARA) – Penghargaan MTV Movie & TV disiarkan pada Senin (17/6) di Barker Hangar in Santa Monica, Amerika Serikat, waktu setempat dibawakan oleh Zachary Levi dan sederet selebritis kenamaan.

Tahun ini, “Avengers: Endgame” dan “Game of Thrones” mendominasi dengan meraih empat nominasi, seperti halnya dokumenter peraih Oscar “RBG”.

Selain itu, MTV Movie & TV Awards tahun ini juga menghadirkan tiga kategori baru yakni: reality royalty, most meme-able moment dan best real-life hero.

Berikut daftar lengkap pemenang MTV Movie & TV Awards dilansir Variety, Selasa:

Best Movie
Pemenang: Avengers: Endgame
BlacKkKlansman
Spider-Man: Into the Spider-Verse
To All the Boys I’ve Loved Before
Us

Best Show
Big Mouth
Pemenang: Game of Thrones
Riverdale
Schitt’s Creek
The Haunting of Hill House

Best Performance in a Movie
Amandla Stenberg (Starr Carter) – “The Hate U Give”
Pemenang: Lady Gaga (Ally) – “A Star is Born”
Lupita Nyong’o (Red) – “Us”
Rami Malek (Freddie Mercury) –”“Bohemian Rhapsody”
Sandra Bullock (Malorie) – “Bird Box”

Best Performance in a Show
Pemenang: Elisabeth Moss (June Osborne/Offred) – “The Handmaid’s Tale”
Emilia Clarke (Daenerys Targaryen) – “Game of Thrones”
Gina Rodriguez (Jane Villanueva) – “Jane the Virgin”
Jason Mitchell (Brandon) – “The Chi”
Kiernan Shipka (Sabrina Spellman) – “Chilling Adventures of Sabrina”

Best Hero
Brie Larson (Carol Danvers/Captain Marvel) – “Captain Marvel”
John David Washington (Ron Stallworth) – “BlacKkKlansman”
Maisie Williams (Arya Stark) – “Game of Thrones”
Pemenang: Robert Downey Jr. (Tony Stark/Iron Man) – “Avengers: Endgame”
Zachary Levi (Billy Batson/Shazam) – “Shazam!”

Best Villain
Jodie Comer (Villanelle) – “Killing Eve”
Joseph Fiennes (Commander Fred Waterford) – “The Handmaid’s Tale”
Pemenang: Josh Brolin (Thanos) – “Avengers: Endgame”
Lupita Nyong’o (Red) – “Us”
Penn Badgley (Joe Goldberg) – “You”

Best Kiss
Camila Mendes & Charles Melton (Veronica Lodge & Reggie Mantle) – “Riverdale”
Jason Momoa & Amber Heard (Aquaman & Mera) – “Aquaman”
Ncuti Gatwa & Connor Swindells (Eric Effiong & Adam Groff) – “Sex Education”
Pemenang: Noah Centineo & Lana Condor (Peter Kavinsky & Lara Jean) – “To All the Boys I’ve Loved Before”
Tom Hardy & Michelle Williams (Eddie Brock/Venom & Anne Weying) – “Venom”

Reality Royalty
Jersey Shore: Family Vacation
Pemenang: Love & Hip Hop: Atlanta
The Bachelor
The Challenge
Vanderpump Rules

Best Comedic Performance
Awkwafina (Peik Lin Goh) – “Crazy Rich Asians”
Pemenang: Dan Levy (David Rose) – “Schitt’s Creek”
John Mulaney (Andrew Glouberman) – “Big Mouth”
Marsai Martin (Little Jordan Sanders) – “Little”
Zachary Levi (Billy Batson/Shazam) –”Shazam!”

Breakthrough Performance
Awkwafina (Peik Lin Goh) – “Crazy Rich Asians”
Haley Lu Richardson (Stella) – “Five Feet Apart”
Mj Rodriguez (Blanca Rodriguez) – “Pose”
Ncuti Gatwa (Eric Effiong) – “Sex Education”
Pemenang: Noah Centineo (Peter Kavinsky) – “To All the Boys I’ve Loved Before”

Best Fight
“Avengers: Endgame” – Captain America vs. Thanos
Pemenang: “Captain Marvel” – Captain Marvel vs. Minn-Erva
“Game of Thrones” – Arya Stark vs. the White Walkers
“RBG” – Ruth Bader Ginsburg vs. Inequality
“WWE Wrestlemani”” – Becky Lynch vs. Ronda Rousey vs. Charlotte Flair

Best Real-Life Hero
Alex Honnold – “Free Solo”
Hannah Gadsby – “Nanette”
Roman Reigns – “WWE SmackDown”
Pemenang: Ruth Bader Ginsburg – “RBG”
Serena Williams – “Being Serena”

Most Frightened Performance
Alex Wolff (Peter) – “Hereditary”
Linda Cardellini (Anna Tate-Garcia) – “The Curse of La Llorona”
Rhian Rees (Dana Haines) – “Halloween”
Pemenang: Sandra Bullock (Malorie) – “Bird Box”
Victoria Pedretti (Nell Crain) – “The Haunting of Hill House”

Best Documentary
At the Heart of Gold: Inside the USA Gymnastics Scandal
McQuee
Minding the Gap
RBG
Pemenang: Surviving R. Kelly

Best Host
Gayle King – “CBS This Morning”
Pemenang: Nick Cannon –”“Wild ‘n Out”
Nick Cannon – “The Masked Singer”
RuPaul – “RuPaul’s Drag Race”
Trevor Noah – “The Daily Show with Trevor Noah”

Most Meme-able Moment
“Lindsay Lohan’s Beach Club” – The Lilo Dance
“Love & Hip Hop: Hollywood” – Ray J’s Hat
“RBG” – The Notorious RBG
“RuPaul’s Drag Race” – Asia O’Hara’s butterfly finale fail
Pemenang: “The Bachelor” – Colton Underwood jumps the fence

Sementara itu, penghargaan Best Musical Moment diraih lagu Shallow dari film “A Star Is Born”.

Penghargaan MTV Generation Award diberikan kepada Dwayne Johnson dan penghargaan MTV Trailblazer Award
diberikan kepada Jada Pinkett Smith.

Baca juga: Penggemar Avengers buat petisi untuk ganti cerita “Endgame”

Baca juga: Lady Gaga kenakan empat kostum, curi perhatian di Met Gala 2019
 

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Ajari Aku Islam” bawa pesan cinta dan persatuan

Medan (ANTARA) – Film religi berbalut romansa “Ajari Aku Islam” (AAI) yang diangkat dari cerita hidup sang produser Jaymes Riyanto, membawa pesan tentang cinta, Islam, dan persatuan bagi para penontonnya.

Lewat kisah cinta dua anak manusia berbeda agama, “Ajari Aku Islam” yang dibintangi oleh Roger Danuarta dan Cut Meyriska itu, diharapkan mampu membuka mata masyarakat untuk tidak lagi mempertentangkan perbedaan.

“Polemik perbedaan agama dan etnis yang terjadi di Indonesia belakangan membuat saya merasa gelisah sehingga berharap film itu bisa membantu menyadarkan pentingnya menjaga persatuan Indonesia,” ujar Jaymes di Medan, Selasa.

Jaymes adalah pria kelahiran Medan, Sumatera Utara, yang juga produser “Ajari Aku Islam”. Film tersebut  rencananya tayang di bioskop Tanah Air pada September 2019.

Tokoh utama dalam AAI adalah Kenny, yang diperankan oleh Roger Danuarta. Dikisahkan, Kenny, pemuda berdarah China-Indonesia dan beragama Konghucu jatuh hati kepada Fidya (Cut Meyriska), seorang perempuan Muslim Melayu.

Proses penggarapan film sudah dimulai sejak Oktober 2018 dengan pengambilan gambar sebagian besar dilakukan di Kota Medan, seperti di Masjid Raya Al Mashun, Istana Mai­mun, Bunda­ran Majestik, dan kota tua Kesa­wan.

“Selebihnya lokasi di Jakarta dan Tanggerang,” tutur Jaymes.

Melalui film yang mengangkat tema religi itu, Jaymes juga ingin mengenalkan Kota Medan, tempat kelahirannya. Ia pun berharap AAI mampu menghibur generasi milenial yang menjadi target utamanya.

Baca juga: Roger Danuarta masuk Islam, pengacara enggan komentar
 

Pewarta: Evalisa Siregar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Rumah Merah Putih” ajarkan persahabatan dari anak-anak, kata Kak Seto

Jakarta (ANTARA) – Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi menilai film “Rumah Merah Putih” banyak memberikan pelajaran mengenai persahabatan dan merajut persatuan bangsa Indonesia.

“Dalam film ‘Rumah Merah Putih’ kita belajar mengenai persahabatan dari anak-anak sekaligus merajut persatuan bangsa Indonesia,” kata Seto Mulyadi yang juga akrab disapa kak Seto usai press screening film di Jakarta, Senin.

Menurut dia, film itu memberikan pendidikan bagi masyarakat Indonesia, terutama anak-anak yang mencakup etika, estetika, ilmu pengetahuan dan nasionalisme.

“Anak-anak dalam film itu mengobarkan semangat nasionalisme, lagi-lagi kita belajar dari anak-anak,” katanya.

Ia mengaku terbawa suasana sehingga sempat mengucurkan air mata saat menyaksikan film “Rumah Merah Putih”.

“Saya merasa sangat terhibur, perpaduan gembira dan terharu ditambah dengan dialog yang menggelitik sangat baik dalam film Rumah Merah Putih. Saya sampai menangis tadi,” ujarnya.

Ia menganjurkan agar masyarakat menonton film itu karena banyak nuansa pendidikan sekaligus melihat lebih dekat kehidupan di daerah perbatasan Indonesia.

Di tempat sama, Sutradara dan Produser Film Rumah Merah Putih, Ari Sihasale mengatakan Ide penggarapan kisah Rumah Merah Putih telah muncul sejak lima tahun lalu, yakni cinta dan nasionalisme masyarakat perbatasan yang tidak pernah berubah.

“Cinta Indonesia menjadi pesan utama kepada seluruh masyarakat Indonesia. Terutama sekarang ini, setelah Pilpres dan lain-lain,” katanya.

Ia berharap melalui film ini masyarakat dapat lebih mencintai Indonesia meski berbeda-beda asal daerahnya, namun tetap Indonesia.

“Ingin sampaikan rasa cinta tanah air jangan sampai hilang. Dalam keadaan apapun jangan putus persaudaraan dan hidup dalam bingkai Merah Putih,” ucapnya.

Ari Sihasale mengatakan film Rumah Merah Putih akan menjadi awal “trilogi perbatasan” yang nantinya juga akan membahas kehidupan perbatasan di Papua dan Kalimantan.

Film Rumah Merah Putih siap tayang pada 20 Juni 2019, menampilkan anak-anak asli Nusa Tenggara Timur, dua di antaranya adalah Petrick Rumlaklak dan Amori De Purivicacao. Bintang lainnya adalah Pevita Pearce, Yama Carlos, Shafira Umm, Abdurrahman Arif, dan pendatang baru Dicky Tatipikalawan.

Film itu juga diperkaya oleh soundtrack yang dinyanyikan oleh Amora Lemos, anak dari Knsdayanti dan Raul Lemos. Melalui film “Rumah Merah Putih”, Amora tercatat melakukan debut menyanyi usia 7 tahun, 2 tahun lebih muda dari saat Krisdayantn memulai karier menyanyi. 

Baca juga: “Rumah Merah Putih”, film nasionalis jelang hari kemerdekaan

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Rumah Merah Putih”, film nasionalis jelang hari kemerdekaan

Jakarta (ANTARA) – Setelah vakum sekitar lima tahun, Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen melalui Alenia Pictures kembali membuat film, masih dengan ciri khasnya yang bertema nasionalis nan inspiratif dengan latar cerita menjelang hari kemerdekaan 17 Agustus.

“Film berjudul ‘Rumah Merah Putih’ ini menceritakan kehidupan anak-anak di Nusa Tenggara Timur yang memiliki kecintaan sangat besar pada Indonesia,” ujar Sutradara dan Produser Film Rumah Merah Putih, Ari Sihasale dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.

Ia mengemukakan ide penggarapan kisah Rumah Merah Putih telah muncul sejak lima tahun lalu, yakni cinta dan nasionalisme masyarakat perbatasan yang tidak pernah berubah.

“Cinta Indonesia menjadi pesan utama kepada seluruh masyarakat Indonesia. Terutama sekarang ini, setelah Pilpres dan lain-lain,” katanya.

Ia berharap melalui film ini masyarakat dapat lebih mencintai Indonesia meski berbeda-beda asal daerahnya, namun tetap Indonesia.

“Ingin sampaikan rasa cinta tanah air jangan sampai hilang. Dalam keadaan apapun jangan putus persaudaraan dan hidup dalam bingkai Merah Putih,” ucapnya.

Ari Sihasale mengatakan film Rumah Merah Putih akan menjadi awal “trilogi perbatasan” yang nantinya juga akan membahas kehidupan perbatasan di Papua dan Kalimantan.

Eksekutif Produser film Rumah Merah Putih, Nia Sihasale Zulkarnaen mengatakan saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menayangkan film Rumah Merah Putih.

“Film Alenia dibuat untuk semua umur. Paling cocok kalau ditayangkan selama liburan. Dari bulan Agustus 2018 sudah mempersiapkan produksi dengan cerita yang sebetulnya sudah kami punya sejak empat tahun lalu,” ujarnya.

Film Rumah Merah Putih siap tayang pada 20 Juni 2019, menampilkan anak-anak asli Nusa Tenggara Timur, dua di antaranya adalah Petrick Rumlaklak dan Amori De Purivicacao. Bintang lainnya adalah Pevita Pearce, Yama Carlos, Shafira Umm, Abdurrahman Arif, dan pendatang baru Dicky Tatipikalawan.

Sinopsis

Film Rumah Merah Putih berkisah tentang Farel Amaral yang diperankan oleh Petrick Rumlaklak dan Oscar Lopez (Amori De Purivicacao) tinggal di perbatasan NTT Timor Leste. Meskipun hidup dengan kesederhanaan, rasa cinta mereka terhadap tanah air sangatlah dalam.

Kisah berawal dari satu minggu menjelang Perayaan 17 Agustus ketika empat sekawan Farel dan Oscar akan mengikuti lomba panjat pinang yang meriah.

Namun bukannya bersatu mereka berdebat hadiah mana yang harus diambil duluan. Mereka gagal dan kemudian menyalahkan satu sama lain.

Masalah makin rumit ketika dua kaleng cat merah putih milik Farel hilang entah kemana.

Takut dimarahi ayahnya, Farel, Oscar dan teman-temannya berupaya mengumpulkan uang untuk membeli cat pengganti yang hilang.

Namun tidak cukup itu saja masalah mereka, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa persediaan cat merah putih sudah habis karena perayaan 17 Agustus sudah semakin dekat. Perjalanan Farel, Oscar dan teman-temannya untuk merayakan hari kemerdekaan Indonesia 17 Agustus menjadi cerita utama film. 

Baca juga: Ari Sihasale ungkap alasan syuting film “Rumah Merah Putih” di NTT

Baca juga: Film “Rumah Merah Putih” tayang perdana di Kota Kupang

Baca juga: Sebelum berpetualang, Pevita Pearce juga sesuaikan budget

Cerita Maxime Bouttier main Film Kuntilanak 2

Pewarta: Zubi Mahrofi
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Enam Film Indonesia semarakkan Festival Film Shanghai

Beijing (ANTARA) – Sebanyak enam judul film Indonesia turut menyemarakkan Festival Film Internasional di Shanghai (SIFF) ke-22.

Keenam film tersebut, yakni Aruna dan Lidahnya, Generasi Micin, Humba Dreams, Montain Songs, Kafir, dan 27 Steps of May yang diputar di beberapa gedung bioskop di kota terbesar di China itu mulai Sabtu (15/6) hingga Senin.

Pemutaran film Aruna dan Lidahnya yang dibintangi Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Hannah Al Rashid, dan Oka Antara di Palace Cinema L Mall menarik minat puluhan warga setempat.

Makanan tradisional yang muncul dalam film tersebut seperti “lorjuk”, makanan khas Pamekasan (Madura), dan “pengkang”, makanan khas Singkawang (Kalbar), mengudang selera penonton yang memadati gedung bioskop kelas atas itu.

Generasi Micin yang juga sarat dengan bintang kondang, seperti Mathias Muchus, Cut Mini, Morgan Oey, Joshua Suherman, dan dua “Youtubers” Kevin Anggara dan Clairine Clay menggelitik para penonton di gedung bioskop Shangying Bailian Cinema.

Film “Kafir: Bersekutu Dengan Setan” yang diputar di Sincere Plaza Cinema membuat penonton terkesima oleh peran kuat Sujiwo Tejo sebagai dukun.

Pada Senin sore, giliran Humba Dreams karya Riri Reza yang pernah meraih penghargaan pada Festival Film Internasional di Busan, Korsel, dengan mengetengahkan kisah keseharian warga Nusa Tenggara Timur diputar di SIFF.

Dilanjutkan dengan pemutaran film Mountain Songs dan 27 Steps of May. Sutradara Montain Songs Yusuf Radjamuda masuk dalam nominasi penulis naskah dan sutradara terbaik kategori Asian New Talent Award pada SIFF ke-22 tahun ini.

Selain warga Shanghai, pemutaran enam film Indonesia tersebut juga menyita perhatian warga negara Indonesia di kota termahal di daratan Tiongkok itu.

“Kami berharap kerja sama dengan otoritas perfilman Kota Shanghai dapat mendorong peningkatan promosi budaya Nusantara di kota ini,” kata Pelaksana Fungsi Penerangan Sosial Budaya Konsulat Jenderal RI di Shanghai, Wandi Adriano. 

Baca juga: Film Aruna dan Lidahnya buka festival film CinemAsia di Belanda

Baca juga: Resep nasi goreng “Aruna dan Lidahnya”

Baca juga: Alasan Laksmi Pamuntjak mendedikasikan “Aruna dan Lidahnya” untuk suami

Pewarta: M. Irfan Ilmie
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sutradara X-Men salahkan diri sendiri atas kegagalan “Dark Phoenix”

Jakarta (ANTARA) – Sutradara “X-Men: Dark Phoenix”, Simon Kinberg menyalahkan dirinya sendiri atas kegagalan film tersebut di box office.

“Film ini jelas tidak terhubung dengan audiens yang tidak melihatnya dan ternyata itu juga tidak terhubung dengan audiens yang menyaksikannya. Jadi semua salah saya,” kata Kinberg dilansir The Hollywood Reporter, Senin.

Meski demikian, Kinberg tidak merasa sakit hati dan berusaha untuk merenungkannya. Sebab dia benar-benar menyukai film.

“Saya suka membuat film, dan saya menyukai orang-orang yang membuat film bersama saya,” ujarnya.

Pada hari-hari setelah debut “Dark Phoenix” yang mengecewakan, Kinberg mengaku menerima banyak email dukungan dari rekan-rekannya di dunia film termasuk sutradara “Deadpool” pertama yakni Tim Miller.

“Dia menulis padaku email yang berempati untuk film yang tidak berhasil. (Dia menulis) orang akan datang untuk melihat film secara berbeda dan keluar dari konteks momen khusus ini. Melihat apa yang sudah dikerjakan mereka pasti akan menghargainya, sama seperti dia menghargai sebagai seorang penggemar,” jelas Kinberg.

Akhir pekan lalu, “Dark Phoenix” hanya memperoleh 33 juta dolar di Amerika Serikat. Angka tersebut dianggap sebagai yang paling rendah dalam seri “X-Men”.

Ada sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab kegagalan dari “Dark Phoenix” seperti tim kreatif film yang salah mengambil pesan yang disampaikan pada “Apocalypse” (2016), lalu ada kejenuhan terhadap film “X-Men” di pasaran dan mundurnya jadwal tayang yang seharusnya pada November 2018 menjadi Februari 2019, kemudian ditunda lagi hingga Juni. Baca juga: “X-Men: Dark Phoenix”, puncak dari saga X-Men

Baca juga: “X-Men: Dark Phoenix” diperkirakan rugi 100 juta dolar
 

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ari Sihasale ungkap alasan syuting film “Rumah Merah Putih” di NTT

Kupang (ANTARA) – Sutradara film Ari Sihasale mengatakan dirinya syuting film “Rumah Merah Putih” di Provinsi Nusa Tenggara Timur karena daerah itu punya banyak hal postif yang harus ditularkan ke daerah-daerah lain di Tanah Air.

“Di sini (NTT) bagus, saudara-saudara di sini bisa menularkan banyak hal yang positif untuk saudara-saudara kita di Jakarta dan daerah lainnya di Indonesia,” katanya di Kupang, Minggu.

Ari Sihasale bersama produser Nia Zulkarnaen dan sederet nama besar yang membintangi film “Rumah Merah Putih” seperti Pevita Pearce, Yama Carlos, dan Shafira Umm, berada di Kota Kupang dalam rangka penayangan perdana film tersebut di Lippo Plaza Kupang pada Sabtu (15/6) malam.

Ia mengatakan dirinya sering kali melakukan syuting film di wilayah Indonesia bagian timur seperti di Nusa Tenggara Timur maupun Papua.

“Kenapa saya harus syuting di NTT, di Papua, jawaban saya kenapa tidak saya harus syuting di NTT, kenapa harus syuting di Jakarta,” kata Ale, sapaan akrab Ari Sihasale.

Ia menambahkan, “Jadi kita harus banyak belajar di sini (NTT), banyak belajar dari saudara-saudara, adik-adik (anak-anak asli dari NTT yang membintangi film “Rumah Merah Putih”, red) kita di sini”.

Menurutnya, alasan ini mendasari dirinya membuat film “Rumah Merah Putih” di NTT agar warga Indonesia di daerah lain yang sering kali berselisih karena berbagai kepentingan dapat belajar tentang pesan persaudaraan dari daerah setempat.

Film “Rumah Merah Putih” yang diproduksi Alenia Pictures tayang perdana di Kota Kupang dalam kegiatan peluncuran yang dipusatkan di Lippo Plaza Kupang yang dihadiri Gubernur NTT Viktor Laiskodat bersama Wakilnya Josef Nae Soi berserta para pejabat Forkopimda dan Pemerintah Kota Kupang.

Film tersebut akan ditonton bersama Presiden RI Joko Widodo di Jakarta pada 17 Juni sebelum ditayang serentak di bioskop Tanah Air pada 20 Juni.

Syuting film bernuansa kebangsaan ini dilakukan di Desa Silawan dan Kota Atambua, Kabupaten Belu, wilayah perbatasan dengan Timor Leste dengan melibatkan anak-anak asli dari NTT sebagai pemeran utama.

Baca juga: Film “Rumah Merah Putih” tayang perdana di Kota Kupang

Baca juga: Sebelum berpetualang, Pevita Pearce juga sesuaikan budget

Baca juga: “Rumah Merah Putih” kisah tentang anak perbatasan NTT-Timor Leste

Pewarta: Aloysius Lewokeda
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kisah Doyok, Otoy dan Ali Oncom yang “Mendadak Kaya”

Jakarta (ANTARA) – Doyok, Otoy dan Ali Oncom kembali hadir dengan permasalahan baru, jika dulu mereka dipusingkan dengan urusan jodoh kini ketiganya dilanda kesusahan karena masalah uang.

Pada 2018, tiga tokoh yang diambil dari komik strip koran Poskota, hadir dalam sebuah film berjudul “Mencari Jodoh”. Kini mereka kembali menghibur masyarakat dengan cerita baru bertajuk “Mendadak Kaya”.

Di ceritakan bahwa Ali Oncom (Dwi Sasono) dikejar oleh dept collector dan di saat yang sama dia juga mendapat tekanan dari kekasihnya, Yuli (Jihane Almira) untuk segera dinikahi. Sedangkan Otoy (Pandji Pragiwaksono) diancam akan diceraikan Eli (Nirina Zubir) karena tidak pernah memberi nafkah.

Sementara itu, Doyok (Fedi Nuril) harus mengganti rugi uang puluhan juta kepada Mang Ujang (Ence Bagus) karena secara tidak sengaja membakar warung kopinya.

Ketiganya lalu terpaksa melakukan aksi tipu-tipu dengan menyamar jadi pengemis buta dan pengamen tangan buntung hingga akhirnya terlibat transaksi misterius dengan gengster. Namun peristiwa itu justru membawa keuntungan bagi Doyok, Otoy dan Ali sebab mereka berhasil membawa kabur uang miliaran rupiah.

Mimpi mereka jadi orang kaya akhirnya tercapai, namun satu hal yang tidak mereka pahami bahwa kekayaan tersebut menghadirkan malapetaka di kemudian hari.

Sama seperti film pertamanya, “Mendadak Kaya” juga menyajikan guyonan satir dan menyindir kebijakan pemerintah yang diutarakan oleh Doyok dalam setiap dialognya. Bedanya, kali ini Doyok mengutarakannya dengan lebih santai.

Dari sisi komedi, film ini juga lebih fresh. Berbeda dengan “Mencari Jodoh” yang lawakannya terkesan memaksakan, “Mendadak Kaya” humornya terdengar lebih alami dan pas dengan adegannya.

Celetukan-celetukan yang dilontarkan oleh Ali Oncom cukup membuat penonton terpingkal, belum lagi gayanya yang tengil saat penggoda perempuan yang seperti playboy atau kemampuan berpikirnya yang kurang, membuat siapa saya yang melihat ingin tertawa.

Warna yang ditawarkan dalam film ini juga sesuai dengan ciri khas Anggy Umbara selaku sutradara, mulai dari perpindahan adegan, komedi masyarakat perkotaan serta sedikit bumbu actionnya seperti yang dapat ditemukan dalam film “Comic 8”.

Meski demikian, film ini cukup memberikan hiburan bagi masyarakat perkotaan yang merindukan sosok Doyok, Otoy dan Ali Oncom.

“Mendadak Kaya” mulai tayang pada 20 Juni 2019 dan didukung juga oleh beberapa komedian seperti Opie Kumis, Lolox, Arief Didu, Muzzaki, Rasyid Albuqhari, dan Sonni Mahmuda.

Baca juga: Fedi Nuril merasa punya kemiripan dengan karakter Doyok

Baca juga: Fedi Nuril sempat takut kena UU ITE karena peran Doyok

Baca juga: Ayah punya anak di usia senja, ini yang harus dilakukan

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Rumah Merah Putih” tayang perdana di Kota Kupang

Kupang (ANTARA) – Film “Rumah Merah Putih” produksi Alenia Pictures tayang perdana di bioskop Lippo Plaza, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu malam.

Acara premier film itu dihadiri sutradara dan produser Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, serta para pemeran utama “Rumah Merah Putih” di antaranya Pevita Pearce, Yama Carlos, Shafira Umm, dan anak-anak NTT.

Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat bersama Wakil Gubernur Josef Nae Soi, Wakapolda NTT serta pejabat Forkopimda dan Pemerintah Kota Kupang juga hadir.

Saat memberikan sambutannya dalam acara peluncuran film, sesaat sebelum penayangan perdana, Gubernur NTT menyampaikan syukur karena “Rumah Merah Putih” tayang untuk pertama kali di daerah setempat.

“Kita juga sangat bangga dengan kehadiran film tersebut karena melibatkan banyak anak-anak NTT sebagai pemeran utama,” ujarnya.

Menurut dia, setelah diputar di Kota Kupang, film yang mengangkat tema nasionalisme itu akan ditonton bersama Presiden Joko Widodo di Jakarta pada 17 Juni.

“Kita berdoa agar film ini menjadi film yang bagus dan akan memberikan pelajaran berharga untuk bagaimana mencintai bangsa dan negara ini,” katanya.

Setelah kegiatan peluncuran rampung, Gubernur bersama para pejabat, serta produser dan para pemeran film, juga warga Kota Kupang bersama-sama menyaksikan “Rumah Merah Putih”.

“Rumah Merah Putih” bercerita tentang perjalanan anak-anak NTT di wilayah perbatasan untuk menyambut peringatan Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus dengan segala permasalahan yang mereka hadapi.

Syuting film dilakukan di Desa Silawan dan Kota Atambua, Kabupaten Belu, wilayah perbatasan dengan Timor Leste.

“Rumah Merah Putih” akan tayang serentak di bioskop Tanah Air pada 20 Juni 2019.

​​Baca juga: “Rumah Merah Putih” kisah tentang anak perbatasan NTT-Timor Leste

Baca juga: Sebelum berpetualang, Pevita Pearce juga sesuaikan budget
 

Pewarta: Aloysius Lewokeda
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jessica Iskandar dan Richard Kyle akan menikah tahun depan

Jakarta (ANTARA) – Pasangan selebritas Jessica Iskandar dan Richard Kyle mengatakan akan melangsungkan pernikahan mereka pada tahun depan.

“Untuk nikah, kemungkinan tahun depan, tapi untuk bulannya kapan belum tahu,” kata Jessica di Ritz-Carlton Hotel, Pacific Place, Jakarta, Sabtu.

Jessica maupun Richard telah memiliki konsep pernikahan di luar ruangan (outdoor) dan kemungkinan dilangsungkan di Pulau Dewata, Bali.

Ketika disinggung tentang jeda waktu yang cukup panjang antara pertunangan dengan acara pernikahan mereka, baik Jessica maupun Richard mengaku tidak khawatir. Richard lalu menjelaskan alasan keduanya memilih menikah pada 2020.

“Kami tidak khawatir, selain itu untuk tahun ini dari keluargaku juga tidak bisa dan berada di luar negeri. Makanya kami memilih tahun depan, menyesuaikan dengan keluarga juga,” jelas Richard.

Jessica Iskandar dan Richard Kyle mengadakan acara pertunangan yang berlangsung tertutup bersama 70 tamu undangan di Ritz-Carlton, malam ini.

Baca juga: Jessica Iskandar dan Richard Kyle resmi bertunangan
 

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Doremi & You”, sederhana tapi mengena

Jakarta (ANTARA) – Di tengah gersangnya film-film anak di Indonesia, “Doremi & You” membawa angin segar bersama para aktor belia yang aktingnya patut diacungi jempol.

Jalan ceritanya sederhana, tapi eksekusi dari skenario yang dibuat oleh Jujur Prananto (Petualangan Sherina) dan BW Purbanegara (Ziarah) mengagumkan.

Cerita yang mengangkat persahabatan anak-anak dari berbagai latar belakang untuk memecahkan masalah bersama pernah diangkat oleh BW Purbanegara sebelumnya melalui film pendek “Cheng Cheng Po” (2007) yang membawa pulang piala Film Pendek Terbaik Festival Film Indonesia 2008 serta film pendek “Say Hello to Yellow” (2011).

“Saya tertarik dengan tantangan baru, film musikal. Meski ini bukan sepenuhnya musikal, tapi unsur musikal di dalamnya cukup banyak,” ujar BW Purbanegara usai pemutaran perdana di Jakarta, Jumat (14/6).

Baca juga: Toran Waibro jauhi keramaian demi film “Doremi and You”

Baca juga: Ditawari main film, Toran Waibro sempat takut diculik

Film ini diproduseri Lexy Mere (“22 Menit”) yang tertarik menggarap film ini karena kisahnya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Persahabatan tanpa memandang suku dan agama serta adanya budaya tolong menolong,” kata dia. Anisa (Nashwa Zahira), Puteri (Naura), dan Markus (Toran Waibro) dalam kontes Doremi & You (HO/ist)

“Doremi & You” bercerita tentang persahabatan empat remaja dari berbagai latar belakang suku berbeda yaitu Naura sebagai Putri dari keluarga Sunda, Fatih Unru sebagai Imung yang berdarah Bugis, Nashwa Zahira – Indonesia Idol Junior 2018 — sebagai Anisa dari Medan dan Toran Waibro sebagai Markus dari Papua.

Film yang tata musiknya dipercayakan pada Andi Rianto ini dibuka dengan lagu ceria “Hari Ini Indah” lengkap dengan koreografi seru, memperlihatkan rutinitas empat sekawan bersepeda bersama dari rumah ke sekolah melewati sawah-sawah yang membentang hijau.

Dalam perjalanan pulang, saat sedang asyik berfoto-foto, ada insiden di mana amplop berisi uang milik teman-teman paduan suara yang dipegang oleh Markus si bendahara hanyut terbawa aliran sungai. Markus (Toran Waibro), Imung (Fatih Unru), Anisa (Nashwa Zahira), dan Puteri (Naura) di film “Doremi & You” (HO/ist)

Panik, keempatnya sempat saling menyalahkan namun akhirnya memutar otak untuk mencari solusi yang tepat. Mereka bertekad keluar sebagai pemenang di kompetisi menyanyi Doremi & You yang berhadiah uang tunai.

Kekompakan empat sahabat ini juga diuji karena setiap orang punya masalah tersendiri.

Anisa harus berlatih tanpa sepengetahuan pamannya yang tegas, diperankan Teuku Rifnu Wikana yang mencuri perhatian meski adegannya tidak banyak.

Markus, yang merasa paling bersalah karena dia adalah bendahara, juga tidak bisa meminta uang dari ayahnya karena kondisi keuangan mereka pas-pasan.

Reno (Devano Danendra), siswa SMA yang biasanya jadi asisten pelatih paduan suara, menjadi andalan untuk melatih mereka agar tampil sempurna saat lomba. Namun diam-diam sang pelatih justru jadi saingan terberat di kompetisi. Imung (Fatih Unru), Markus (Toran Waibro), Anisa (Nashwa Zahira), dan Puteri (Naura) sedang menemui Reno (Devano) untuk minta tolong melatih mereka di film “Doremi & You” (HO/ist)

Dalam sebuah dialog, seorang tokoh mengemukakan interpretasinya tentang “pertikaian” antara kaum yang memilih menyantap bubur diaduk atau tidak diaduk dengan jenis musik. Bubur diaduk bisa diibaratkan sebagai musik klasik yang terdengar harmonis, sementara bubur tidak diaduk bagai musik mash up yang setiap bunyi instrumennya bagai bertabrakan, tapi tetap asyik dinikmati.

Sama seperti bubur yang tidak diaduk, setiap pemain seperti mewakili komponen yang berbeda-beda namun serasi saat dipadukan. Adegan tarian dan nyanyian “Harmoni” Puteri (Naura) dan Reno (Devano) di film “Doremi & You” (HO/ist)

Padanan antara drama dari karakter Putri, Anisa dan Markus semakin lengkap dengan kehadiran karakter Imung, si jago beatbox yang lucu. Semuanya tampil alami tidak dibuat-buat, termasuk Nashwa dan Toran yang baru pertama kali bermain film.

Sebagian besar lagu di film ini dibuat oleh Simhala Avadhana alias Mhala “Numata” Tantra “Numata”, termasuk di antaranya adalah “Hari Ini Indah” dan “Harmoni”.

Setelah menulis lagu untuk dinyanyikan karakter ayah Putri, Mhala belakangan diminta untuk sekalian memerankan tokoh tersebut karena suaranya dianggap paling cocok.

“Tiga hari bikin empat lagu,” ujar Mhala yang sebelumnya sudah membuat banyak lagu untuk Naura.

Andi Rianto, penata musik “Doremi & You”, langsung memberi lampu hijau ketika tahu ia akan bekerjasama dengan Mhala dan Tantra.

“Saya yakin mereka akan membuat lagu-lagu anak sesuai umurnya,” kata Andi yang mengagumi karya-karya dua musisi itu.

Devano Danendra, putra penyanyi Iis Dahlia, di film ini membawakan lagu berjudul “Cintaku Hilang ” yang merupakan ciptaannya sendiri.

Film yang tayang pada 20 Juni ini juga dibintangi oleh Teuku Rifnu Wikana, Ence Bagus, Sekar Sari, Michael Jakarimilena, Simhala Avadhana (Mhala “Numata”) serta GPH Paundrakarna yang berperan sebagai ayah Reno.

Baca juga: Fatih Unru ditantang menari di “Doremi & You”

Baca juga: Film “Doremi & You” ceritakan perjalanan empat sekawan

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lama jadi penggemar, Devano Danendra beradu akting dengan Naura

Jakarta (ANTARA) – Aktor muda Devano Danendra dan penyanyi Adyla Rafa Naura Ayu beradu akting sebagai senior dan junior di film remaja “Doremi & You”.

Dalam film arahan sutradara BW Purbanegara itu, Devano berperan sebagai pelatih vokal Naura dan kawan-kawan. Putra dari penyanyi Iis Dahlia itu berakting menjadi remaja yang irit bicara dan terkesan dingin pada juniornya.

Devano banyak berbagi adegan bersama Naura, putri dari Nola B3, di film dengan unsur musikal tersebut. Kesempatan beradu akting bersama penyanyi idolanya merupakan pengalaman menyenangkan bagi Devano.,

“Aku enggak nyangka (bisa main film bareng).. Aku memang ngefans sama Naura,” ujar Devano usai pemutaran perdana “Doremi & You” di Jakarta, Jumat.

Remaja yang hafal lagu-lagu Naura itu sudah kenal lama dengan idolanya, salah satu alasan mengapa chemistry mereka terlihat di layar lebar. Devano pernah ikut berpartisipasi dalam konser Naura beberapa waktu belakangan.

Naura memang sudah beberapa kali menggelar konser musikal, yang pertama adalah konser dari album pertama “Dongeng” yang diadakan pada 2015.

Interaksi mereka di film membuat kedua aktor muda ini menjadi lebih akrab. Devano mengungkapkan dulu obrolan dengan Naura hanya sekadar basa-basi, kini keduanya berinteraksi lebih intens sebagai lawan main.

“Doremi & You” bercerita tentang empat sahabat; Putri (Adyla Rafa Naura Ayu), Anisa (Nashwa Zahira), Imung (Fatih Unru) dan Markus (Toran Waibro) yang berjuang untuk mengganti uang ekstrakurikuler paduan suara yang tak sengaja mereka hilangkan dengan mengikuti lomba menyanyi.

Upaya mereka menghadapi kendala ketika Reno (Devano), asisten pelatih paduan suara yang diharapkan jadi pelatih malah jadi saingan terberat di kompetisi.

“Doremi & You” akan tayang mulai 20 Juni mendatang.

Baca juga: Sibuk akting, Nashwa “Idol Junior” prioritaskan pendidikan

Baca juga: Ditawari main film, Toran Waibro sempat takut diculik

Baca juga: Fatih Unru ditantang menari di “Doremi & You”

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Fatih Unru ditantang menari di “Doremi & You”

Jakarta (ANTARA) – Fatih Unru ditantang untuk menguasai kemampuan tari dan nyanyi demi perannya sebagai Imung, salah satu dari empat sekawan di film “Doremi & You”.

Putra aktor Yayu Unru yang sudah membintangi beberapa film, termasuk di antaranya “Warkop DKI Reborn” dan “Orang Kaya Baru” itu berperan sebagai remaja yang membantu tiga temannya berlatih lomba menyanyi.

Dalam beberapa adegan, dia juga harus mengikuti gerakan sesuai koreografi.

“Paling susah nari karena aku enggak banyak gerak,” kata Fatih usai pemutaran perdana “Doremi & You” di Jakarta, Jumat.

Karakter Imung yang diperankan Fatih adalah salah satu pemantik tawa di film remaja tersebut.

Pengalaman dan kemampuan Fatih menjadi salah satu alasan mengapa aktor muda itu dipilih oleh sutradara BW Purbanegara untuk ikut serta dalam film bernuansa musikal pertamanya.

“Fatih sudah beberapa kali main film… Tidak susah untuk mengarahkannya karena dia memang berbakat,” puji BW Purbanegara.

Di antara teman-temannya yang lain, Fatih memang termasuk yang paling banyak pengalamannya di dunia akting. Naura, yang berlatar belakang penyanyi, juga sudah membintangi beberapa film, sementara Nashwa Zahira dan Toran Waibro baru pertama kali berakting di layar lebar.

Baca juga: Film “Doremi & You” ceritakan perjalanan empat sekawan

“Doremi & You” bercerita tentang empat sahabat yakni Putri (Adyla Rafa Naura Ayu), Anisa (Nashwa Zahira), Imung (Fatih Unru) dan Markus (Toran Waibro) yang berjuang untuk mengganti uang ekstrakurikuler paduan suara yang tak sengaja mereka hilangkan dengan mengikuti lomba menyanyi.

Upaya mereka menghadapi kendala ketika Reno (Devano), asisten pelatih paduan suara yang diharapkan jadi pelatih malah jadi saingan terberat di kompetisi.

Film yang disutradarai BW Purbanegara dan skenarionya digarap olehnya bersama Jujur Prananto itu mengambil lokasi syuting di Yogyakarta.

Film yang tayang pada 20 Juni itu juga dibintangi oleh Teuku Rifnu Wikana, Ence Bagus, Sekar Sari, Michael Jakarimilena, Simhala Avadhana (Mhala “Numata”) serta GPH Paundrakarna yang berperan sebagai ayah Reno.

Baca juga: Nashwa bernyanyi seperti bercerita dalam “Doremi & You”

Baca juga: Toran Waibro jauhi keramaian demi film “Doremi and You”
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“X-Men: Dark Phoenix”, puncak dari saga X-Men

Jakarta (ANTARA) – “X-Men: Dark Phoenix” dibuka dengan latar belakang tahun 1992 di mana para pahlawan mutan X-Men dipanggil pemerintah untuk menyelamatkan astronaut yang mengalami kesulitan di luar angkasa. 

Mereka pun menaiki X-Jet menembus angkasa dan menyelamatkan para astronaut. Namun, di tengah proses evakuasi, ada energi kosmik misterius yang merasuk ke tubuh Jean Grey (Sophie Turner).

Tanpa diduga, energi itu justru membuat kekuatannya jadi meningkat drastis dan sekembalinya ke bumi, ia merasa kekuatan barunya terlalu liar, sulit untuk dikendalikan.

Jean menjauh dari keluarganya karena ia tak ingin membuat masalah akibat kekuatan misterius itu. Perlahan, rahasia yang selama ini disimpan Charles Xavier (James McAvoy) dari Jean sejak kecil terungkap, membuat sang mutan makin tak terkendali.

Perubahan pada diri Jean membuat X-Men terbelah, ada yang bersikeras menyelamatkan Jean, dan ada yang berpendapat harus menyelamatkan orang-orang darinya. Mereka terpecah.
  X Men: Dark Phoenix (HO/ist)

“X-Men: Dark Phoenix” memberi porsi yang besar pada tokoh-tokoh mutan perempuan, di mana fokus cerita berada pada tokoh Jean Grey, juga sosok antagonis Vuk (Jessica Chastain).

Namun kehadiran Vuk yang harusnya menambah bumbu keseruan dalam film terasa kurang dimaksimalkan. Latar belakangnya tak cukup digarap sehingga ada adegan-adegan yang terasa hambar.

Eksekusi adegan juga dirasa kurang greget saat seorang mutan yang dicintai banyak orang menghadapi nasib yang mengejutkan.

Lebih baik tonton dulu film-film X-Men sebelumnya bila tak ingin kebingungan memahami cerita “Dark Phoenix” beserta karakter-karakter ikoniknya, seperti Hank (Nicholas Hoult) yang bisa berubah jadi monster biru, Cyclops (Tye Sheridan), Nightcrawler (Kodi Smit-McPhee) yang dapat berteleportasi, Storm (Alexandra Shipp) yang punya kekuatan mengontrol cuaca, hingga Quicksilver (Evan Peters) yang bisa bergerak secepat kilat.

Di luar kekurangannya, film berdurasi 114 menit ini tetap layak untuk ditonton oleh pencinta X-Men. Apalagi kisah yang disuguhkan dalam film ini sangat manusiawi, tentang bagaimana menghadapi diri sendiri dan sebuah arti keluarga yang sebenarnya.

Menurut Sophie Turner, pemeran Jean, karakter yang dimainkannya di episode ini cukup menarik karena berada di area abu-abu. Jean bukan penjahat, tapi juga bukan orang suci.

“Dia adalah salah satu karakter yang sangat terluka dan tersiksa. Ada realisme dalam dirinya, menyakitkan dan pengalamannya mengingatkanmu pada gangguan mental… Tidak ada hitam dan putih, dia ada di area abu-abu. Itu adalah kesulitan yang sangat dekat dengan banyak orang dan alasan mengapa banyak orang menyukainya.”

Baca juga: “X-Men: Dark Phoenix” diperkirakan rugi 100 juta dolar

Baca juga: “Dark Phoenix” dianggap sebagai film “X-Men” terburuk
 

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Fedi Nuril sempat takut kena UU ITE karena peran Doyok

Jakarta (ANTARA) – Berperan sebagai sosok pelaak Doyok yang banyak mengeluarkan lelucon kritis dalam film “Mendadak Kaya” membuat Fedi Nuril mengaku takut terkena Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Saya lebih takut karena karakernya Doyok mengkritik pemerintah. Saya takut kalau nanti jokes-nya salah tempat karena sekarang ada undang-undang ITE,” kata Fedi saat berbincang usai pemutaran perdana film “Mendadak Kaya” di Jakarta, Kamis.

Dalam film tersebut, Doyok memang digambarkan sebagai seorang pemuda yang kritis. Dia selalu mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah layaknya aktivis namun dengan gaya yang “sok tahu”.

Bagi Fedi hal tersebut tidaklah mudah, sebab dia takut menyinggung pihak tertentu.

“Kata Pandji (Pandji Pragiwaksono) sekarang itu enggak bisa ditebak siapa yang bisa tersinggung. Misalnya kita ngomong A tahunya yang tersinggung malah si B. Jadi hati-hati banget dan deg-degan,” jelas pemain film “Ayat Ayat Cinta” itu.

Fedi juga melakukan beberapa diskusi dengan sang sutradara, Anggy Umbara untuk menentukan jenis lelucon yang bisa digunakan, bahkan ada beberapa yang akhirnya tidak dimasukkan ke dalam film.

“Kita diskusi dulu sih, ini aman apa enggak,” ujar Fedi.

“Mendadak Kaya” bercerita tentang Doyok, Ali Oncom dan Otoy yang ingin menjadi orang kaya. Suatu hari, mereka menemukan sebuah koper yang berisi uang. Ketiganya lantas menjadi kaya raya, namun hal-hal tak terduga juga telah menanti dihadapan mereka.

“Mendadak Kaya” mulai tayang di bioskop pada 20 Juni 2019. Film tersebut juga dibintangi oleh Nirina Zubir, Opi Kumis, Jihane Almira dan Ence Bagus.

Baca juga: Aktor Fedi Nuril idolakan Freddie Mercury

Baca juga: Ayat-Ayat Cinta 2 sebarkan pesan kedamaian

Baca juga: Fedi Nuril tidak bisa asal menangis di Ayat-Ayat Cinta 2

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Fedi Nuril merasa punya kemiripan dengan karakter Doyok

Jakarta (ANTARA) – Fedi Nuril mengaku memiliki kemiripan karakter dengan sosok Doyok yang dimainkannya dalam film “Mendadak Kaya”, terutama soal kesukaan pada sepak bola dan sikap kritis terkait situasi terkini.

“Bisa dibilang gue mengikuti situasi terkini tentang negara, pemerintahan, dan Doyok juga kan suka bola. Tapi gue mengkritik hal-hal yang gue ngerti, yang gue ngerti dengan kapasitas gue. Itu yang gue kritisi,” kata Fedi ditemui usai pemutaran perdan film “Mendadak Kaya” di Jakarta, Kamis.

Menurut pemain film “Ayat Ayat Cinta” itu, Doyok sebenarnya adalah sosok orang yang bijak meski tidak bisa menerapkan pada dirinya sendiri.

“Menurut gue si Doyok itu paling lucu karena dia sok bijak tapi pada akhirnya enggak bisa dia lakukan didirinya sendiri,” ujar Fedi.

Fedi mengatakan ada beberapa hal yang bisa dijadikan pelajaran dari tokoh Doyok, Ali Oncom dan Otoy, salah satunya adalah kritis terhadap sesuatu dan ini sangat relevan dengan kehidupan masyarakat sekarang.

“Kita harus perhatian pada sekeliling kita dari yang kecil lalu ke yang besar. Kita harus kritis terhadap sesuatu yang janggal, kita harus tanya dulu jangan ditelan mentah-mentah apalagi dengan hoax seperti sekarang yang selalu berseliweran, sangat related dengan keadaan sekarang,” jelas pemain film “D.O.A” itu.

Baca juga: Fedi Nuril sempat takut kena UU ITE karena peran Doyok

Baca juga: Aktor Fedi Nuril idolakan Freddie Mercury

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Matt Reeves cari sosok penjahat untuk “The Batman”

Jakarta (ANTARA) – Setelah menemukan Robert Pattinson yang memerankan Batman, Matt Reeves kini dilaporkan sedang mencari aktor untuk mengisi karakter empat penjahat dalam “The Batman”.

“The Batman” akan menampilkan empat penjahat utama yang semuanya berasal dari buku komik, bahkan tiga sebelumnya pernah ditampilkan dalam film superhero DC, demikian dilansir Aceshowbiz, Kamis.

Reeves akan menggunakan The Riddler untuk penjahat utamanya, dia digambarkan sebagai dalang kriminal di kota Gotham yang senang memasukkan teka-teki ke dalam setiap rencananya dan meninggalkannya sebagai petunjuk untuk diselesaikan oleh pihak berwenang.

Reeves mencari seorang aktor pria dari berbagai etnis yang berusia antara 30 hingga 40 tahun untuk memerankan karakter tersebut.

Penjahat kedua adalah The Penguin, seorang mafia kota Gotham yang digambarkan sebagai pria gemuk pendek dengan hidung panjang dan dia menggunakan payung berteknologi tinggi sebagai senjata.

Reeves membutuhkan seorang aktor laki-laki dari segala etnis antara usia 20 – 40 tahun untuk mengambil peran itu.

Selanjutnya adalah Catwoman. Seorang pencuri di kota Gotham yang mengenakan pakaian one piece ketat dan menggunakan bullwhip sebagai senjata. Yang dibutuhkan adalah aktris berusia 20-30 tahun untuk mengikuti audisi peran tersebut.

Terakhir adalah Firefly, dia adalah orang membakar semua tempat jika tidak mendapat hak istimewa sebagai anak yatim. Untuk peran ini, Reeves mencari aktor laki-laki dari berbagai etnis yang berusia antara 20-30 tahun.

Tidak seperti tiga penjahat pertama yang pernah ditampilkan dalam film-film Batman sebelumnya, Firefly kurang dikenal. Namun, dia telah muncul sebagai tokoh antagonis sekunder dalam video game “Batman: Arkham Origins” pada tahun 2013.

Firefly juga tampil dalam film DC Animated Movie Universe, “Batman: Bad Blood” pada 2016 dengan Steve Blum sebagai pengisi suaranya.

Meski demikian, baik Reeves ataupun Warner Bros belum mengkonfirmasi perihal masalah ini. Pembuatan film “The Batman” diharapkan akan mulai pada musim gugur ini di London dan tayang pada musim panas 2021.

Baca juga: Robert Pattinson resmi perankan Batman

Baca juga: Robert Pattinson akan tes kostum Batman

Baca juga: Jawaban Robert Pattinson soal peran Batman

Superman & Batman Rayakan Hari Pers Nasional

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019