“Dumbo” gagal melambung di box office Amerika Utara

Jakarta (ANTARA) – Film live-action terbaru dari Disney, “Dumbo”, gagal tampil mengesankan pada pekan pembukaan box office Amerika Utara, kata pengamat industri Exhibitor Relations, dilansir AFP, Senin (1/4).

Alih-alih mendapat pemasukan 50juta dolar AS, film itu hanya meraup 46 juta dolar AS. Sedangkan anggaran untuk film tentang gajah kecil bertelinga ajaib itu sebesar 170 juta dolar AS.

Padahal, film garapan Tim Burton dan Disney sebelumnya “Alice in Wonderland,” mampu meraup 1,02 miliar dolar AS di seluruh dunia.

Kendati demikian, “Dumbo” sempat menekan pemimpin box office akhir pekan lalu “Us” yang turun ke posisi kedua. Film horor garapan Universal itu bertahan dengan menghasilkan 33,2 juta dolar AS.

Ditulis dan disutradarai Jordan Peele, “Us” dibintangi Lupita Nyong’o dan Winston Duke sebagai pasangan yang ditakut-takuti oleh sosok asing.

Di tempat ketiga ada “Captain Marvel” dengan penjualan tiket 20,7 juta dolar di Amerika Utara. Pemenang Oscar Brie Larson berperan sebagai mantan pilot pesawat tempur dengan kekuatan super.

Tempat keempat terdapat film “Unplanned” tentang kisah nyata perjuangan aktivis anti-aborsi garapan Pure Flix, yang mengantongi 6,4 juta dolar AS.

“Five Feet Apart” dari Lionsgate berada di urutan kelima dengan pendapatan 6,2 juta dolar AS, disusul “Wonder Park” (5 juta dolar AS), “How to Train Your Dragon: Hidden World (4,4 juta dolar AS), “Hotel Mumbai” (3,2 juta dolar AS), “A Madea Family Funeral (2,7 juta dolar AS) dan “The Beach Bum” (1,8 juta dolar AS).

Baca juga: “Dumbo” kisah tentang keluarga dan impian

Baca juga: Raline Shah rasakan tayangan perdana “Dumbo” di Hollywood

Baca juga: Will Smith akan bintangi live-action “Dumbo”?

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Mantan Manten”, Soal Perjumpaan Perempuan pada Jalan Hidup Baru

Jakarta (ANTARA) – Karier dan kisah cinta yang hancur bukan akhir segalanya. Anda tak akan pernah tahu bisa saja ini awal yang baru untuk hidup anda. Jika anda menerima kondisi ini lalu bangkit, ada jalan lain yang menanti anda.

Hal inilah yang Yasnina (Atiqah Hasiholan) alami dalam film terbaru sutradara Farishad Latjuba, “Mantan Manten”. Karier cemerlang perempuan metropolitan itu di bidang perencanaan keuangan tiba-tiba berputar 180 derajat. Dia mendapat hujatan dari banyak orang karena terganjal kasus investasi.

Bos yang selama ini berjanji akan selalu melindungi Yasnina, Iskandar (Tio Pakusadewo) justru angkat tangan. Dia bahkan berbalik menyerang Nina.

Nina awalnya hanya berharap pada Surya (Arifin Putra), tunangan yang juga putra Iskandar. Menggantungkan harapan pada seseorang? Nina salah besar. Surya bukan orang yang tepat untuknya bergantung. Hasil tangkapan layar trailer film “Mantan Manten” (YouTube/Visinema Pictures)

Di tengah upaya balas dendam pada Iskandar, Nina bertemu Marjanti (Tutie Kirana), seorang dukun manten di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Ada sesuatu yang membuat Nina tertahan kembali ke Jakarta. Dia harus menjadi pemaes, menemani Marjanti.

Nina sempat menolak permintaan Marjanti, namun akhirnya mengiyakan. Perlahan dia belajar seluk beluk paes–tata rias pengantin di Jawa, termasuk soal nrimo atau ikhlas pada Marjanti.

Selama hampir dua jam, anda akan terbawa masalah yang umum terjadi di sekeliling dan mungkin pernah anda alami sendiri. Satu hal yang membuat lega adalah tak ada kata putus asa dari benak tokoh Nina. Walau memang dia sempat frustasi dan merasa hidupnya sangat amat hancur.

Farishad juga mengajak anda bersentuhan dengan budaya Jawa yang diwakili pekerjaan paes dan ritual di dalamnya. Melalui penyelaman Nina di dunia paes, anda akan tahu apa sedikit banyak soal perjuangan pemaes, dia bukan semata membuat pengantin tampak menarik.

Hanya saja, masih ada pertanyaan menyoal akhir kisah Nina. Saat dia mengiyakan permintaan Marjanti, apakah dia akan benar-benar jadi pemaes atau ini hanya sementara sampai dia menemukan ilmu ikhlas? Bagaimana kelanjutan upaya somasinya pada Iskandar?

Selain itu, ada beberapa potongan cerita yang terasa tak masuk nalar, seperti bagaimana bisa Nina yang sudah tak memiliki apa-apa bisa menyewa kamar hotel atau sekadar memesan tempat di salah satu restoran mewah.

Sisanya, silakan anda menilai sendiri Film “Mantan Manten” yang juga diramaikan sejumlah selebriti, antara lain Arifin Putra, Oxcel, Tio Pakusadewo, Marthino Lio, Dodit Mulyanto, Asri Welas, Melissa Karim dan Aimee Saras.

Film ini rencananya tayang pada 4 April mendatang di seluruh bioskop Tanah Air.
 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Melodylan” Lika-liku Perjalanan Cinta Remaja

Jakarta (ANTARA) – Film “Melodylan” arahan sutradara Fajar Nugros ini mengisahkan cinta remaja yang penuh dengan lika-liku di dalamnya, dan film ini juga diangkat dari novel remaja karya Astri Aci yang merupakan film terbaru dari Intercept FilmCraft.

“Saya sudah lama membaca novel yang sangat bagus ini, dan saya langsung menghubungi Fajar, saya minta Fajar yang menangani film ini,” ujar Producer Intercept FilmCraft Rajesh Punjabi, di XXI Metropole Jakarta, Senin.

Sutradara Film “Melodylan” Fajar Nugros juga mengatakan bahwa awalnya sempat merasa kesusahan karena ceritanya yang terlampau jauh dari usianya sekarang yang menjadikan tidak bisa memberi manuver yang baik. “Namun saya yakin bahwa film ini akan menjadi film hiburan bagi anak remaja saat ini, dan memang relate dengan kehidupan anak remaja saat ini,” ujarnya lagi.

Lebih lanjut Rajesh menambahkan, film yang mempunyai umur persiapan hingga satu tahun dan memiliki masa produksi selama enam bulan, serta terdapat komposisi dan sutradara yang bagus, menjadikan film ini sangat menarik.

“Saya optimistis film ini dapat menarik perhatian penonton film Indonesia,” ujar Rajesh kepada awak media.

Film yang dibintangi oleh Devano Danendra sebagai Dylan, dikenal sebagai cowok yang ganteng di sekolahnya dan mempunyai popularitas yang tinggi di sekolah tersebut. Sedangkan Aisyah Aqilah yang memerankan Melody adalah cewek junior sekaligus anak baru di sekolah tersebut.

Pertemuan mereka berawal di sebuah kafe yang membuat mereka saling tertarik karena keberanian dari Melody mengungkapkan pendapatnya.

Hal itu juga menarik perhatian Angga Aldi Yunanda yang berperan sebagai Fathur, diam-diam juga menaruh hati kepada Melody, di sisi lain ada juga Zoe Jackson yang memerankan Bella, sahabat Dylan yang lemah karena sedang terkena penyakit dan menyukai Fathur.

Kisah cinta yang melilbatkan banyak orang inilah menjadi sentral perhatian satu sekolah, dan ditambah aksi lucu dari sahabat mereka, sehingga film ini semakin menarik untuk disaksikan.

Film ini akan tayang perdana mulai 4 April 2019 serentak di seluruh bioskop di Indonesia.

Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Bali: Beats of Paradise” tayang di Super Plex G, Seoul

Jakarta (ANTARA) – Film “Bali: Beats of Paradise” yang disutradarai Livi Zheng tayang di teater dengan layar terbesar di dunia menurut Guinness World Records, Super Plex G, Seoul, Korea Selatan, Minggu (31/3)

Super Plex G di Lotte World Mall, menghadirkan teater yang dapat menampung 622 orang, dengan layar selebar 34 meter dan panjang 13,8 meter.

Sebelumnya, trailer film itu tayang di Seoul Sky, bangunan tertinggi di Korsel, demikian menurut Pensosbud KBRI Seoul Purno Widodo dalam keterangan yang diterima Antara, Senin.

Penayangan film yang digarap di Amerika Serikat dan Bali itu mendapat sambutan baik dari penonton. Di antara yang hadir menyaksikan yakni sejumlah duta besar, pejabat pemerintah Korsel dan CEO perusahaan di Negeri Ginseng itu.

Livi Zheng menjelaskan film garapannya itu bercerita tentang perjalanan sepasang seniman dari Bali yang bermimpi memperkenalkan gamelan ke dunia internasional.

Baca juga: Film Livi Zheng “Bali: Beats of Paradise” kisahkan seniman Bali

Sejumlah musisi terkenal terlibat dalam pembuatannya, yakni Judith Hill, penyanyi dan juga pencipta lagu asal California dan I Wayan Balawan, gitaris jazz Indonesia dari Bali yang terkenal dengan touch tapping style-nya.

“Saya semakin terinspirasi dan mendalami gamelan saat menyutradarai film ini. Saya akan terus mengangkat kebudayaan dan seni Indonesia di panggung dunia,” ujar Livi yang juga menjadi produser “Bali: Beats of Paradise”.

Film yang rencananya tayang di Indonesia pada Juli itu, turut diproduseri oleh Duta Besar RI untuk Korea Selatan Umar Hadi dan bankir Julia Gouw.  

“Saya beruntung bertemu dengan sutradara Livi Zheng dan bankir Indonesia di Amerika Julia Gouw yang punya hasrat sama yaitu mempromosikan gamelan. Itulah awal terciptanya film ini. Saya ingin gamelan semakin dikenal di mancanegara dan terus diajarkan dan diwariskan ke generasi muda kita,” ujar Umar yang mengikuti penggarapan fllm saat menjabat sebagai Konjen RI di LA.

Sementara itu, sejumlah penonton mengaku terkesan dengan “Bali: Beats of Paradise”.

“Film ini sangat berbeda dan mengesankan. Perpaduan budaya Indonesia dan Amerika menghadirkan rasa tersendiri. Film ini menjadi salah satu gerakan film Asia yang sangat baik,” ujar Jacob Choi.

Senada dengan Jacob Choi, Youngsil Park pun menyampaikan pujiannya.

“Amazing Film! Saya jadi makin suka gamelan dan kebudayaan Indonesia. Saya merekomendasikan film ini untuk ditonton,” katanya.

Baca juga: Khofifah diajak Livi Zheng saksikan “Bali: Beats of Paradise”
Baca juga: Livi Zheng sabet penghargaan berkat “Bali Beats of Paradise”

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dwisetyo Award promosikan wisata Gorontalo

Gorontalo (ANTARA) – Dwisetyo Awards atau malam penganugerahan perfilman di daerah itu adalah bentuk promosi pariwisata Gorontalo, kata Sekda Provinsi Gorontalo Darda Daraba.

“Saya melihat penganugerahan ini sebagai bentuk pengoptimalan seluruh aspek untuk bisa mempromosikan budaya dan pariwisata Gorontalo. Sehingga dunia luar bisa melihat seperti apa itu Gorontalo”, ujar Darda di Gorontalo, Minggu.

Malam Penganugerahan Dwisetyo Awards 2019 merupakan rangkaian kegiatan Festival Film Gorontalo dalam memperingati Hari Film Nasional.

Dari dua film yang telah di produksi oleh Dwisetyo Production (DSP), keduanya mengambil latar di Provinsi Gorontalo.

Hal itu menurut Darda, menjadi peluang untuk mengenalkan Gorontalo ke tingkat nasional maupun internasional.

Sementara itu Direktur DSP Atje Antu membenarkan bahwa akan ada dua film yang akan diproduksi dan mengeksplor seluruh tempat serta budaya Gorontalo.

Bahkan, lanjutnya, para pemerannya sebagian besar adalah anak muda Gorontalo.

“Ini merupakan nilai tambah untuk pengenalan dan pengembangan pariwisata Gorontalo. Para pemerannya juga 70 persen anak-anak berprestasi Gorontalo. Sehingga kami mengharapkan respons yang positif dari masyarakat dan pemerintah Provinsi Gorontalo”, tambahnya.

Perhelatan ini juga sebagai bentuk penghargaan bakat para pemuda dalam bidang seni peran di Provinsi Gorontalo.

Terdapat beberapa nominasi yang akan diperebutkan di antaranya, Nominasi Editor Terbaik, Naskah Terbaik, Kameraman Terbaik, Sutradara Terbaik dan Aktor serta Aktris Terbaik. 

Baca juga: 15 film Indonesia terlaris 2019
Baca juga: Film Budaya Gorontalo Raih Penghargaan Khusus FFB

Pewarta: Debby H. Mano
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sineas: Film Indonesia keren!

Jakarta (ANTARA) – Industri Film Indonesia, saat ini sudah berada pada masa keemasan dan senafas dengan tema Hari Film Nasional (HFN) ke-69 pada 2019 yaitu “Film Indonesia Keren”

“Film Indonesia berada pada masa paling gemilang. Tidak hanya dari segi penonton, film-film Indonesia sudah diakui dunia. Jadi, memang keren,” ujar sutradara film nasional Joko Anwar kepada Antara di Jakarta, Jumat (29/3).

Pendapat serupa disampaikan pula oleh produser dan sutradara Garin Nugroho, yang mengatakan industri film Tanah Air telah berada pada kondisi terbaik di Indonesia.

“Industri film komersial bertumbuh, bahkan cukup banyak yang masuk lima besar box office. Angkanya di atas satu juta. Di sisi lain, film independen juga bertumbuh. Ini menjadi catatan penting di film Indonesia,” kata Garin, kepada Antara, Sabtu.

Pertumbuhan film, lanjut Garin, juga sudah merata hingga ke pelosok-pelosok di Indonesia. Tapi, masih terjadi kelemahan pada tataran dasar yaitu sistem peraturan yang masih rapuh.

“Indonesia punya ciri yang cepat tumbuh, cepat krisis. Pertumbuhan cemerlang itu rapuh. Agar tidak rapuh, perfilman nasional perlu didukung sistem peraturan yang menghormati global dan melindungi lokal,” ujar sutradara “Cinta dalam Sepotong Roti” itu.

Baca juga: Mengenang Bapak Film Nasional, Usmar Ismail

Catatan sineas

Sistem peraturan itu pertama terkait kuota impor. Garin meminta peraturan kuota impor harus ditinjau kembali. Kedua, organisasi film yang masih separuh jadi.

“Penciptaan bertumbuh subur, tapi tidak paralel dengan per-undang-undangan dan organisasi,” ujarnya.

Bahkan pada titik tertentu, Garin melihat banyak sensor dari organisasi masyarakat (ormas) yang menjadi dilema bagi perfilman Indonesia.

“Pada aspek nilai kebebasan berpendapat terkait agama, kita mengalami kemunduran. Kendali terbesar bukan dari pemerintah, tapi ormas. Pemerintah malah tidak tegas,” kata Garin.

Garin mengkhawatirkan kendali sensor film dari ormas di Indonesia dapat memundurkan kreativitas sineas dan berdampak pada kemunduran masa emas perfilm-an Indonesia.

Baca juga: Film Indonesia, tontonan dan tuntunan

Sementara itu, Joko Anwar melihat talenta yang minim menjadi tantangan di industri film. “Kurangnya kru film dan pemain yang punya skill,” ujar dia.

Menurut sutradara “Pengabdi Setan” itu, kekurangan talenta berbakat film Indonesia disebabkan oleh kekurangan institusi pendidikan film di Indonesia, baik formal maupun non-formal.

“Bisa dihitung pakai jari jumlah sekolah film di Indonesia. Semuanya terfokus di Jakarta dan Jawa. Orang mau bikin film, demand terhadap film Indonesia semakin tinggi. Tapi, kru filmnya sampai rebutan, jadi kurang banget,” kata Joko Anwar.

Joko mengatakan persoalan kekurangan sumber daya manusia film nasional dapat terselesaikan jika semua pemangku kepentingan dengan kemampuan dan kapasitas dalam pendidikan film dapat membuat pelatihan dalam bidang film.

“Pemerintah bisa membuat sekolah film atau bisa mendorong swasta untuk membuat sekolah film. Kementerian dan Bekraf bisa bikin pelatihan film dengan pengajar yang baik,” ujar Joko Anwar.

“Bahkan, PH (rumah produksi) dibanding mereka membayar pekerja film yang engga punya skill, mending mereka membuat pelatihan atau inkubasi untuk menciptakan pekerja film yang punya skill dan akhirnya bisa mereka pekerjakan,” ujarnya.

Baca juga: Rio Dewanto harapkan asosiasi film punya satu tujuan

Pewarta: Peserta SusdapeXIX/Arindra Meodia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mengenang Bapak Film Nasional, Usmar Ismail

Jakarta (ANTARA) – Peringatan Hari Film Nasional (HFN) ke-69 pada 2019 akan lebih bermakna dengan mengenang sosok Usmar Ismail sebagai pelopor drama modern di Indonesia dan juga Bapak Film Indonesia.

Pria kelahiran Bukittinggi Sumatera Barat itu mengawali kiprahnya dari panggung teater, kemudian terjun pada bidang perfilman Indonesia. Hari pertama syuting “Darah dan Doa” tanggal 30 Maret karya Umar Ismail lantas diperingati sebagai Hari Film Nasional (HFN).

“Selain seniman, dia (Usmar Ismail) juga sastrawan, tokoh militer, businessman, organisiator, dan wartawan. Ada unsur sosoknya begitu kuat. Dan untuk seperti itu, tidak gampang ditumbuhkan,” ujar sutradara Garin Nugroho kepada Antara di Jakarta, Sabtu.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Usmar Ismail lahir pada tanggal 20 Maret 1921.

Usmar menunjukkan bakat sastranya sejak masih duduk di bangku SMP, saat dia bersama teman-temannya, antara lain Rosihan Anwar, ingin tampil dalam acara perayaan hari ulang tahun Putri Mahkota, Ratu Wilhelmina, di Pelabuhan Muara, Padang.

Baca juga: Film Indonesia, tontonan dan tuntunan

Setelah duduk di bangku SMA, di Yogyakarta, Usmar semakin banyak terlibat dalam bidang sastra. Dia memperdalam pengetahuan dramanya dan aktif dalam kegiatan drama di sekolahnya. Dia juga mulai mengirimkan karangan-karangannya ke berbagai majalah.

Bakat Usmar berkembang saat bekerja di Keimin Bunka Sidosho (Kantor Besar Pusat Kebudayaan Jepang). Di tempat itu, dia bersama Armijn Pane dan budayawan lainnya bekerja sama untuk mementaskan drama.

Pada 1943, Usmar Ismail bersama abangnya, El Hakim, juga Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, serta H.B. Jassin mendirikan kelompok sandiwara yang diberi nama Maya.

Maya mementaskan sandiwara berdasarkan teknik teater Barat. Kehadiran kelompok sandiwara itu kemudian dianggap sebagai tonggak lahirnya teater modern di Indonesia.

Setelah masa proklamasi kemerdekaan, Usmar menjalani dinas militer dan aktif di dunia jurnalistik di Jakarta. Bersama dua rekannya, dia mendirikan surat kabar yang diberi nama Rakyat, juga sempat mendirikan harian Patriot dan bulanan Arena.

Baca juga: Lala Timothy: Hari Film Nasional adalah pengingat untuk saling dukung

Usmar pernah dijebloskan ke penjara oleh Belanda karena dituduh terlibat kegiatan subversi ketika menjalankan profesi sebagai wartawan.

Sutradara film “Lewat Djam Malam” (1954) itu tercatat pernah bekerja sebagai wartawan politik di kantor berita Antara dan sedang meliput perundingan Belanda – RI di Jakarta, pada tahun 1948.

Pada perkembangan selanjutnya, Usmar mulai menaruh minatnya yang lebih serius pada perfilman.

Film-film yang pernah disutradarai oleh Usmar Ismail antara lain, “Darah dan Doa” (1950), “Enam jam di Yogya” (1951), “Dosa Tak Berampun” (1951), “Krisis” (1953), “Kafedo” (1953), “Tiga Dara” (1955) dan “Pejuang” (1960).

Usmar Ismail meninggal pada 2 Januari 1971 karena stroke dalam usia hampir genap 50 tahun.

Baca juga: Reza Rahadian rayakan keberagaman sinema di Hari Film Nasional

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rio Dewanto harapkan asosiasi film punya satu tujuan

Jakarta (ANTARA) – Aktor film nasional Rio Dewanto mengharapkan asosiasi-asosiasi film di Indonesia punya satu tujuan yang jelas, bahkan menyatu dan memperjuangkan kesejahteraan para pelaku film sebagai bentuk peringatan Hari Film Nasional pada 30 Maret.

Gue bukan tipe orang berorganisasi ya, tapi gue ngeliat kayak asosiasinya tuh kok terlalu banyak ya. Apakah itu sehat atau enggak, tapi apakah tidak lebih baik kalau asosiasi itu menjadi satu,” kata Aktor Rio Dewanto kepada Antara di Jakarta, Jumat (29/3).

Rio mengatakan asosiasi-asosiasi film di Indonesia seperti Rumah Aktor Indonesia (RAI), Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi), dan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) seolah-olah membuat perfilman di Indonesia memiliki tujuan yang berbeda-beda.

“Nah, kalau jadi satu kan akan lebih kuat untuk menyuarakan apa yang menjadi keluhan maksudnya apa yang pengen kita perjuangkan gitu,” ujar Rio.

Aktor berusia 31 tahun itu mengatakan kehadiran asosiasi film dengan tujuan yang lebih jelas akan memperbaiki kesejahteraan para pelaku film dan bukan hanya aktor, termasuk para pendukung film dan mereka yang akan masuk dunia seni peran.

Pendapat serupa juga disampaikan salah satu penata musik dalam industri film yaitu Charlie Meliala. Charlie menyatakan asosiasi dalam bidang perfilman Tanah Air sudah banyak tapi sistem regulasinya tidak terlihat.

“Kalau Hollywood itu kan udah jadi industri ya jadi asosiasinya jelas, terus campur tangan asosiasi ke regulasinya juga jelas dengan begitu kan sistem kerjanya akan bener,” kata Charlie.

Masalah distribusi

Penata musik dalam film “Kartini” itu mengatakan masalah terbesar dalam perfilman Indonesia adalah distribusi.

“Kalau di Indonesia outlet distribusi film itu mereka enggak cuman distribusi, tapi juga importir film. Kalau di negara lain, itu enggak boleh,” ujar Charlie.

Charlie menambahkan persoalan distribusi film sudah dikeluhkan sejak era 1970-an karena outlet distribusi film akan mendapatkan keuntungan lebih. Keuntungan itu diperoleh karena film asing yang masuk ke Indonesia lebih banyak.

Padahal, celah bagi film Indonesia untuk tayang di negeri sendiri, lanjut Charlie, lebih sulit menyusul kehadiran film-film impor itu.

“Ketika mereka memutar film Indonesia, mereka kena potongan tuh. Tapi kalau untuk film barat, mereka bisa dapet seratus persen karena yang impor dan distributornya mereka sendiri,” kata Charlie.

Baca juga: Reza Rahadian rayakan keberagaman sinema di Hari Film Nasional

Baca juga: Pesan Ernest Prakasa di Hari Film Nasional: Tonton yang orisinal

Baca juga: Lala Timothy: Hari Film Nasional adalah pengingat untuk saling dukung

Pewarta: Muhammad Adimaja
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Reza Rahadian rayakan keberagaman sinema di Hari Film Nasional

Jakarta (ANTARA) – Hari Film Nasional bagi aktor Reza Rahadian adalah waktu yang tepat untuk merayakan keberagaman sinema Indonesia, sekaligus memberi apresiasi kepada seluruh pekerja film Indonesia.

“Ini adalah momentum yang tepat untuk merayakan keberagaman film Indonesia, karena kita punya banyak genre film dari horor, komedi, drama. Secara kualitas kita juga bisa lihat apa yang ditawarkan oleh film-film Indonesia dari opening tahun ini aja deh,” kata Reza setelah acara nonton bareng film “My Stupid Boss 2” di Jakarta, Jumat (29/3).

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada para pekerja film yang telah bekerja keras menjaga dan meningkatkan kualitas film Indonesia, serta mengeluarkan seluruh kemampuannya demi menghasilkan karya terbaik.

“Para sutradara, para penulis skenario, para kru, para editor, para produser yang tetap setia membuat film-film Indonesia. Buat saya ini perlu mendapat apresiasi tertinggi untuk pembuat film Indonesia,” ujar Reza yang telah berperan di banyak film.

Menurut penerima penghargaan Piala Citra itu, perfilman Indonesia sedang menggeliat hebat dalam tiga tahun terakhir. Layar-layar bioskop di Indonesia pun diwarnai dengan film-film lokal beragam genre.

“Dari market share-nya aja deh, yang dari tahun sebelumnya sekitar 48 persen, kalau enggak salah di tahun ini diperkirakan akan ada di angka 52 persen. Jadi buat saya, ini semua seperti apa ya bisa dibilang tiga tahun terakhir sebagai momentum kebangkitan film nasional,” lanjut Reza yang memerankan tokoh Bossman di film “My Stupid Boss” itu.

Dalam perayaan Hari Film Nasional, ia pun berharap jumlah bioskop di Indonesia makin bertambah agar masyarakat punya kesempatan yang sama untuk menyaksikan film-film lokal.

“Karena di daerah-daerah masih banyak yang belum terjangkau bioskop. Ini yang harus dipikirkan baik untuk pemerintah atau kerja sama dengan pihak-pihak terkait. Karena semakin banyak bioskop, semakin banyak layar, maka kesempatan untuk meraih penonton juga semakin tinggi,” demikian ujar Reza Rahadian.

Baca juga: Yoriko Angeline senang film Indonesia diterima baik oleh masyarakat
Baca juga: Bekraf : film memiliki efek multiplier yang baik
Baca juga: JK serahkan apresiasi kesetiaan saat peringatan Hari Film Nasional

 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

15 film Indonesia terlaris 2019

Jakarta (ANTARA) – Industri perfilman Indonesia semakin berkembang, terutama dalam dua tahun terakhir, yang ditandai dengan lahirnya sejumlah film yang mampu menyedot perhatian masyarakat di negeri ini.

Beberapa film Indonesia bahkan sukses mendapatkan pengakuan dunia, termasuk Hollywood dan festival-festival film internasional.

Di antara yang menyita perhatian publik Indonesia, “Dilan 1991” diakui sebagai film terlaris 2019, dengan jumlah penonton mencapai 5,2 juta lebih, jauh di atas “Keluarga Cemara”, “Preman Pensiun”, dan lainnya.

Berikut 15 film Indonesia peringkat teratas berdasarkan jumlah penonton pada 2019, mengutip data filmindonesia.or.id yang didirikan oleh Yayasan Konfiden, Sabtu.

Data jumlah penonton itu dikumpulkan dari Cinema 21, Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI), produser film, dan sumber-sumber lainnya. Untuk tahun berjalan, data jumlah penonton ini diperbarui setiap minggunya.

Baca juga: Reza Rahadian rayakan keberagaman sinema di Hari Film Nasional
Baca juga: Pesan Ernest Prakasa di Hari Film Nasional: Tonton yang orisinal
Baca juga: Lala Timothy: Hari Film Nasional adalah pengingat untuk saling dukung

Pewarta: Suryanto
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pesan Ernest Prakasa di Hari Film Nasional: Tonton yang orisinal

Jakarta (ANTARA) – Sutradara dan aktor Ernest Pakasa punya pesan khusus bagi masyarakat pada peringatan Hari Film Nasional 30 Maret yaitu selalu tonton film orisinal.

“Nonton bioskop itu effort-nya kan gede banget. Keluar rumah ada biaya dan waktu yang udah mereka luangkan. Dengan kita minta orang nonton film kita, kita udah demand so much ke mereka. Kalau aku dengan orang nonton film aja, itu udah puji Tuhan banget,” kata Ernest yang ditemui di Jakarta, baru-baru ini.

“Kalau nonton ya yang original, jangan yang di situs-situs itu,” katanya melanjutkan.

Dengan menonton film orisinal di bioskop maupun saluran resmi, akan sangat membantu para pembuat film untuk terus berproduksi menghasilkan karya-karya yang terbaik, jelasnya.

Menurut Ernest jumlah penonton film Indonesia sepanjang tahun juga terus meningkat, yang menunjukkan industri film Indonesia berkembang dengan sangat baik. Selain itu genre film lokal juga tidak lagi didominasi dengan satu tema saja.

Masuknya film-film box office Hollywood nyatanya tidak menghalangi minat masyarakat untuk menyaksikan karya anak bangsa di bioskop.

“Jumlah penonton film Indonesia secara proporsi juga terus bertumbuh dibandingkan dengan film Hollywood. Jadi sebenarnya progres kita beberapa tahun terakhir bagus sekali, we run in the right track, bagus sekali,” jelas aktor yang juga seorang komika itu.

Ia pun berharap sineas Tanah Air untuk tetap menjaga industri film Indonesia tetap sehat.

“Dari sisi filmmaker sih aku berharap salah satu ciri industri yang sehat adalah variasi film. Variasi seperti ini lebih sehat walaupun horor masih ngetren. Tapi tetap ada kemunculan-kemunculan dari berbagai genre lain juga. Semoga terus dilestarikan oleh filmmaker lain,” demikian Ernest.

Baca juga: Lala Timothy: Hari Film Nasional adalah pengingat untuk saling dukung
Baca juga: Yoriko Angeline senang film Indonesia diterima baik oleh masyarakat

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lala Timothy: Hari Film Nasional adalah pengingat untuk saling dukung

Intinya Hari Film Nasional adalah selebrasi untuk mengingatkan kita untuk berkarya lebih dan saling support sama lain. Enggak cuma filmmaker, penonton juga, media juga

Jakarta (ANTARA) – Hari Film Nasional adalah selebrasi untuk mengingatkan para pembuat film agar saling mendukung satu sama lain kata produser Sheila Timothy, yang akrab disapa Lala.

“Buat saya hanya mengingatkan kita filmmaker, terutama filmmaker Indonesia bahwa kita punya industri dan kita sebagai stakeholder perfilman Indonesia harus sama-sama bisa maju,” kata produser “Wiro Sableng” itu, saat ditemui di Jakarta, baru-baru ini.

“Dan kita industri perfilman Indonesia masih punya banyak PR untuk bisa maju seperti negara-negara lain,” ujarnya lebih lanjut.

Meski demikian, Lala sangat optimistis jika film Indonesia mampu bersaing di pasar global.

“Tahun ini sangat optimis. Bersaing di market global sekarang ini jadi agak tidak sama seperti lima tahun lalu, karena sekarang sudah digital. Begitu kita masuk digital kita harus worldwide,” ujar kakak kandung aktris Marsha Timothy itu.

“Beda dengan dulu yang kita istilahnya harus ke teritori-teritori. Sekarang biasanya begitu masuk ke satu, let’s say Netflix, worldwide udah tayang semua di sana,” katanya menambahkan.

Baca juga: Yoriko Angeline senang film Indonesia diterima baik oleh masyarakat
Baca juga: Bekraf : film memiliki efek multiplier yang baik
Baca juga: JK serahkan apresiasi kesetiaan saat peringatan Hari Film Nasional

 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Yoriko Angeline senang film Indonesia diterima baik oleh masyarakat

Semoga perfilman Indonesia ke depannya semakin maju dan bisa menjadi tuan rumah di negaranya sendiri

Jakarta (ANTARA) – Pendatang baru di industri sinema Tanah Air, aktris Yoriko Angeline merasa bahwa film Indonesia makin diterima dengan baik oleh masyarakat.

Pemeran Wati dalam “Dilan” itu, mengatakan, film Indonesia kian beragam bahkan banyak rumah produksi baru yang bermunculan dan menghadirkan tontonan layar lebar yang berkualitas.

“Semakin ke sini makin appreciate sama perfilman Indonesia yang sekarang sudah bener-bener diterima dengan baik. Ini bisa dilihat dari banyaknya PH (production house) film baru bermunculan di Indonesia dan banyak menghasilkan karya-karya yang luar biasa,” ujar Yoriko saat dihubungi Antara di Jakarta, Jumat (29/3).

Bagi Yoriko, dukungan dari bioskop-bioskop juga menjadi bukti bahwa film lokal telah mendapat tempat di hati masyarakat.

“Kita bisa lihat juga support dari bioskop-bioskop di seluruh Indonesia juga luar biasa. Karena film ‘Dilan 1991’ mendapat layar yang luar biasa banyak sehingga ‘Dilan’ bisa dinikmati dan diapresiasi dengan sangat baik oleh penonton,” kata bintang “After Met You” itu.

Dengan dirayakannya Hari Film Nasional pada 30 Maret, Yoriko berharap perfilman Indonesia semakin bersinar.

“Semoga perfilman Indonesia ke depannya semakin maju dan bisa menjadi tuan rumah di negaranya sendiri,” ujar Yoriko.

Baca juga: JK serahkan apresiasi kesetiaan saat peringatan Hari Film Nasional
Baca juga: Bekraf : film memiliki efek multiplier yang baik
Baca juga: Yoriko terkejut ada iklan mirip adegan Dilan 1991

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Iko Uwais tampilkan kembangan pencak silat dalam “Triple Threat”

Jakarta (ANTARA) – Aktor Iko Uwais menampilkan banyak jurus kembangan pencak silat pada film terbarunya “Triple Threat” yang digarap sutradara asal Inggris Jesse V Johnson.

Kembangan dalam pencak silat merupakan gerakan tangan dan sikap tubuh yang dilakukan sambil memperhatikan, mewaspadai gerak-gerik musuh.

Murhananto, dalam buku “Menyelami Pencak Silat” terbitan Puspa Swara pada 1993, menjelaskan jurus kembangan itu sekaligus berupa gerakan mengintai celah pertahanan lawan

Jurus yang ditampilkan aktor berusia 36 tahun itu memiliki gerakan yang indah dipandang layaknya tarian, tapi dapat melumpuhkan lawan.

Pada film yang dirilis Maret 2019 itu, Iko Uwais beradu peran dengan sejumlah aktor laga mancanegara seperti Tony Jaa dan Tiger Chen, serta Scott Adkins, Michael Jai White dan Michael Bisping dari Hollywood.

Triple Threat mengisahkan Jaka (Iko Uwais) yang ingin membalas kematian istrinya karena menjadi korban tentara bayaran yang dipimpin Collins (Scott Adkins).

Untuk menuntaskan misinya, Jaka bertarung melawan tentara bayaran lain dengan menggunakan jurus kembangan pencak silat itu.

Dialog film berdurasi 96 menit itu menggunakan sejumlah bahasa yaitu Inggris, Thailand, Mandarin, dan Indonesia. Tapi, tokoh Jaka justru menggunakan bahasa Indonesia ketika menelepon kedutaan China untuk melaporkan keberadaan Xian (Celina Jade).

Triple Threat yang mengambil lokasi syuting di Amerika Serikat, China, dan Thailand itu mendapatkan rating 5,9/10 menurut Internet Movie Database (IMDb).

Baca juga: “Triple Threat” film laga terbaru dari Iko Uwais

Pewarta: Muhammad Adimaja
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Minat jadi produser di Indonesia masih sedikit

Jakarta (ANTARA) – Lala Timothy mengatakan bahwa tidak banyak anak muda yang mau menjadi produser. Rata-rata mereka hanya tertarik dengan dunia sutradara dan penulis naskah.

Produser juga merupakan bagian yang tak kalah penting dari sebuah film. Sebab, dialah yang akan mengatur semua perencanaan untuk keberhasilan film.

“Saya kan sering banget ke daerah-daerah ke komunitas. Rata-rata semuanya mau jadi writer, tapi siapa yang produksi filmnya? Makanya produser penting banget dan dari produser kita ke ranah yang lain,” ujar produser film “Wiro Sableng” itu dalam acara “Ngobrol Aja Dulu #2: The Movie Agent” di Jakarta, Kamis (28/3).

Untuk menjadi produser, kata Lala, seseorang harus mengerti soal mengatur keuangan, perencanaan target, mengatur pemain serta menjadi psikolog.

“Kunci menjadi produser adalah management, bagaimana me-manage uang, pegawai dan kru. Dan harus multitasking. Produser juga harus bisa jadi guru, psikolog dan enggak melulu juga produser harus tahu film, tapi dia harus tahu semua yang ada di film,” kata Lala.

Bagi Lala tantangan terbesarnya adalah ketika menjadi produser “Wiro Sableng”. Sebab, dia membawahi lebih dari 1.000 orang kru. Selain itu, “Wiro Sableng” juga merupakan sebuah film kolosal dengan banyak adegan berat.

Lala harus bisa memastikan bahwa setiap detail syuting dan perlengkapan film harus berjalan sesuai rencana. Jika tidak akan berpengaruh pada anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

“Untuk film “Wiro Sableng” banyak banget krunya dan budgetnya terbesar. Ini film kolosal pertama saya dan kita baru pertama kali bikin film sekompleks ini. Tanggung jawab berat, karena kerja sama dengan production house luar negeri. Kadang-kadang gemetar juga,” kata kakak kandung Marsha Timothy ini.

Baca juga: Kata Lala Timothy dan Ernest Prakasa soal film Indonesia

Baca juga: Wiro Sableng, kembalinya jagoan lokal di layar lebar

Baca juga: Vino G Bastian menangis saksikan film “Wiro Sableng”

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ernest Prakasa akan rilis “Imperfect”, film dengan sedikit komika

Jakarta (ANTARA) – Tahun ini, Ernest Prakasa akan merilis film kelimanya yang berjudul “Imperfect” yang lebih bercerita soal kisah romantis, dengan sedikit lelucon komika.

Dalam setiap filmnya, Ernest selalu mengajak para komika untuk memperkuat sisi komedi. Namun berkaca dari film sebelumnya, ternyata bagian komedi bisa dihadirkan melalui dialog dari pemain di luar komedian.

“Mungkin ini bisa jadi film gue dengan komika paling sedikit. Kemarin yang di “Milly & Mamet” untuk pertama kali gue pakai kurang dari 10 orang komika. Karena gue ambil komedinya dari Isyana Sarasvati, Melly Goeslaw dan lainnya,” ujar Ernest usai acara “Ngobrol Aja Dulu #2: The Movie Agent” di Jakarta, Kamis (28/3).

“Nah, di sini juga kayaknya bakal kayak gitu. Mau gue bebankan ke pemain utamanya aja karena mau kedepankan romance-nya,” lanjutnya.

Selain itu, upaya mengurangi jumlah komika disebabkan karena Ernest pernah mendapat kritikan tentang pengulangan pemain antara film “Cek Toko Sebelah” dengan “Susah Sinyal”.

“Itu yang coba gue tinggalkan di “Milly & Mamet”. Makanya di situ gue pakainya dikit banget. Kayaknya nanti di “Imperfect” juga gitu. Kalau ada pengulangan paling 2-3 orang doang. Enggak semua orang kritiknya gue dengerin, tapi kritik yang kayak tadi gue ambil bahwa jangan terlalu banyak pemain yang diulang,” jelas sutradara “Cek Toko Sebelah” itu.

“Imperfect” diambil dari buku karya Meira Anastasia yang merupakan istri Ernest. Film tersebut akan bergenre komedi romantis. Saat ini, Ernest dan sang istri sedang merampungkan naskahnya.

“Ini pertama pertama kalinya gue bikin romance comedy, ini sisi romantisnya jadi sisi utama. Gue belum tahu berperan jadi apa, karena masih 60 persen skenarionya ditulis. Nanti kalau udah jadi, gue baru bisa milih kayaknya gue cocok meranin ini. Jadi belum tahu mernanin apa, tapi pasti tetap main,” katanya.

Baca juga: Kata Lala Timothy dan Ernest Prakasa soal film Indonesia

Baca juga: Ernest Prakasa pertimbangkan berhenti jadi aktor

Baca juga: Ernest Prakasa prediksi film action akan berjaya di 2019

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kata Lala Timothy dan Ernest Prakasa soal film Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Produser film Sheila Timothy dan Ernest Prakarsa bicara soal film Indonesia yang menurut mereka punya banyak tema untuk diangkat.

Dibandingkan dengan Korea Selatan yang dikenal dengan film romantisnya dan Thailand yang unggul di film horor, genre unggulan film Indonesia lebih bervariasi.

“Film Indonesia itu lebih beragam karena Indonesia multikultur. Jadi justru kekayaan bahasa itu jadi kekayaan kita. Itu jadi salah satu kelebihan kita. Jadi untuk apa punya satu wajah,” kata Sheila yang akrab disapa Lala dalam acara “Ngobrol Aja Dulu #2: The Movie Agent” di Jakarta, Kamis (28/3).

Sementara, menurut Ernest yang hadir dalam acara sama, film Indonesia yang masuk box office justru dari genre yang berbeda-beda. Selain itu, banyak juga film Indonesia yang tayang di berbagai festival dan mendapat penghargaan di luar negeri.

“Film kita sangat variatif komedi, romansa, action, horor tentunya, gue sampai saat ini belum bisa menentukan cirinya,” ujarnya.

“Karena ragam kita luar biasa. Kayak film box office ‘Dilan, ‘Warkop’. Dari film festival, ‘Marlina’, ‘Sekala Niskala’, range-nya sangat luas sekali. Kalau ciri susah juga,” jelas sutradara “Cek Toko Sebelah” itu.

Dalam kesempatan itu, Ernest juga menekankan bahwa penonton Indonesia saat ini sudah sangat kritis terhadap kualitas film yang mereka saksikan.

Para penonton bisa memilih dan membedakan mana film yang bagus atau tidak sehingga mendorong industri film Tanah Air untuk menghasilkan film berkualitas.

“Enggak usah mikirin film Korea begitu, film Thailand begini. Bikin film aja, yang penting penonton ketika nonton enggak kapok, kalau udah gitu kan bahaya,” ujarnya.

Baca juga: Kemdikbud ingin HFN jadi momentum pemajuan film Indonesia
Baca juga: “Dilan 1991” kembali pecahkan rekor, begini tanggapan sutradara

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Andrea Hirata belum mau filmkan novel barunya meski ditawar mahal

Jakarta (ANTARA) – Penulis tetralogi “Laskar Pelangi” Andrea Hirata belum tertarik untuk memfilmkan novel terbarunya yang berjudul “Orang-Orang Biasa” kendati telah mendapat tawaran hingga miliaran rupiah oleh beberapa sineas.

“Sudah banyak yang datang menawarkan dengan harga miliaran, tapi saya belum menemukan yang pas. Sementara ini cukup tiga novel dulu lah,” ujar Andrea Hirata dalam peluncuran buku “Orang-Orang Biasa” di Jakarta Selatan, Kamis.

Ia menolak memfilmkan novel terbarunya bukan karena nilai tawaran yang tidak sesuai, melainkan belum menemukan sineas yang benar-benar dapat memahami karyanya dari sudut pandang yang sama.

“Sineas punya cara pandang yang berbeda-beda, khawatirnya sineas gagal melihat apa yang saya perjuangkan dalam novel ini,” kata penulis yang telah menerbitkan 10 novel itu.

Andrea kemudian menyinggung kesuksesan film “Laskar Pelangi” pada 2008 yang meraih banyak penghargaan, karena kesamaan sudut pandang antara penulis novel dengan pembuat film.

“Mengapa saya senang dengan Riri Riza dan Mira Lesmana memfilmkan ‘Laskar Pelangi’ karena mereka melihat ‘Laskar Pelangi’ sama seperti cara saya melihatnya, dapet gitu,” tuturnya.

Selain belum menemukan sineas yang sehati, kesibukan Andrea dalam mengurus persiapan penerbitan novel di luar negeri juga menjadi faktor tambahan yang membuatnya belum mau memfilmkan karyanya.

“‘Orang-Orang Biasa’ akhir tahun ini kalau tidak ada halangan akan terbit di Amerika, ‘Sang Pemimpi’ akan terbit di Jepang, bahkan ‘Padang Bulan’ mau terbit di Jerman,” katanya.

Kendati demikian, pria berusia 51 tahun itu menyatakan tetap membuka peluang memfilmkan karyanya apabila semua novel luar negerinya terbit dan menemukan sineas yang tepat.

Baca juga: Membaca “Sirkus Pohon”, menyimak atraksi kehidupan
Baca juga: Andrea Hirata ingin Riri Reza kembali garap adaptasi novelnya

Peserta Susdape/Kuntum Khaira Riswan

Pewarta: Peserta Susdape/Kuntum Khaira Riswan
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Angelina Jolie negosiasi untuk film Marvel “The Eternals”

Jakarta (ANTARA) – Angelina Jolie dikabarkan sedang melakukan negosiasi untuk film superhero pertamanya di Marvel yakni “The Eternals”.

“The Eternals” diperkirakan akan menjadi film superhero besar besar berikutnya dalam Marvel Cinematic Universe. Meski demikian, belum diketahui dengan jelas peran apa yang akan dimainkan oleh Jolie, demikian dilansir Variety, Kamis.

“The Eternals” diciptakan oleh Jack Kirby pada tahun 1976. “The Eternals” mengambil latar belakang jutaan tahun yang lalu dan menceritakan kisah The Celestials, ras dewa ruang angkasa yang menciptakan tim pahlawan setelah bereksperimen pada manusia dan menghadiahkan mereka dengan kekuatan kosmik serta dekat dengan keabadian.

Sementara itu The Eternal adalah pasukan yang setia pada kebaikan. Mereka terjebak dalam perang sengit dengan musuh bebuyutannya, The Deviants yang juga diciptakan oleh The Celestials.

Meski “The Eternals” belum sepenuhnya diperkenalkan ke MCU, mereka sempat sedikit disinggung dalam “Guardians of The Galaxy”.

Tanggal rilisnya sendiri belum dikonfirmasi, namun Chloe Zhao telah dipastikan akan berada di belakang kamera. Chloe sebelumnya telah menyutradarai “The Rider”, “Songs My Brother Taught Me”.

Pada Februari lalu, bos Marvel Kevin Feige mengkonfirmasi bahwa penggemar akan mendapatkan detail film MCU terbaru pada bulan Juli setelah “Spider-Man: Far From Home” rilis.

“Seperti yang telah kami lakukan selama bertahun-tahun, kami tidak akan mengumumkan apa pun sampai “Avengers: Endgame” atau “Spider-Man” selesai,” ujar Feige.

“Seperti yang Anda ketahui sebagai penggemar, ada banyak sekali potensi dan sejumlah besar karakter tambahan serta alur cerita dan karakter grup yang akan terus kami mainkan,” lanjutnya.

Baca juga: Jolie dan Brad Pitt sebentar lagi jomblo

Baca juga: Cinta Angelina Jolie hanya untuk Brad Pitt

Baca juga: Brad Pitt dan Charlize Theron dikabarkan berkencan

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Si Doel the Movie 2” resmi luncurkan poster dan trailer

Jakarta (ANTARA) – Falcon Pictures dan Karno’s Film hari ini merilis trailer dan poster film “Si Doel the Movie 2” yang akan tayang pada Lebaran 2019.

Hal itu dimaksudkan untuk menggelitik rasa penasaran penonton siapa yang akan dipilih oleh Doel dalam film itu, Zaenab atau Sarah.

Penggemar film “Si Doel” terpecah menjadi dua kelompok yakni Tim Sarah dan Tim Zaenab yang sering saling serang di media sosial.

Rano Karno selaku sutradara sekaligus pemain mengaku sangat senang dengan penggemar Sarah dan Zaenab yang  antusias itu. Meski terjadi pro dan kontra, bagi Rano ini adalah sebuah bukti dari ketertarikan penonton.

“Antusiasnya cukup baik ya, dengan kita lihat di Instagram masing-masing walaupun ada pro dan kontra antara Sarah dan Zaenab, berarti ini kan ceritanya menarik. Dengan dilaunching-nya trailer dan poster, tentu para penyuka film ‘Doel’ akan semakin menunggu film ini,” kata Rano dalam peluncuran trailer dan poster “Si Doel the Movie 2” di Jakarta, Rabu.

Jika pada film pertama banyak melakukan syuting di Belanda, kali ini “Si Doel 2” lebih mengambil latar belakang cerita di Indonesia. Rano juga mengatakan bahwa akan ada penambahan karakter dalam filmnya.

“Tidak mungkin ‘Si Doel’ hanya ini-ini saja. Tentu punya pengembangan karakter masing-masing. Atun punya anak dari mas Karyo, yang namanya siapa tuh. Doel juga punya anak dan akan tumbuh besar. Apakah kita akan terus bekerja sama, nah itu dia, tunggu aja,” kata Rano sambil tertawa.

Sebagai penulis skenario, Rano juga mengalami kesulitan dalam membuat cerita. Apalagi untuk menentukan siapa yang akan dipilih dalam rumitnya cinta segitiga antara Doel, Sarah dan Zaenab. “Secara psikologis yang paling sulit apakah tetap pada sarah atau menyakiti Zaenab. Ini kayak cerita nyata padahal fiktif,” ujarnya.

Selain pemain lama, seperti Mandra, Suti Karno, Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Adam Jagwani dan Ahong, film “Si Doel The Movie 2” juga akan menghadirkan pemain baru seperti Wizzy dan Reybong.

Dalam trailer tersebut digambarkan tentang kepulangan Doel dari Belanda. Mandra yang tidak bisa menjaga rahasia memberi tahu Atun jika keponakannya itu bertemu dengan Sarah dan anak kandungnya. Mandra juga memberitahu Atun jika Sarah meminta cerai. Zaenab menjadi galau dan takut ditinggalkan Doel. Namun, Atun dan Munaroh meyakinkan bahwa Zaenab harus bertarung dengan Sarah untuk mendapatkan cinta Doel.

Baca juga: Film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang 2018

Baca juga: Cerita Mak Nyak antusias syuting “Si Doel 2”

Baca juga: Dedi Mulyadi kecewa kepada Rano Karno

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Dumbo” kisah tentang keluarga dan impian

Jakarta (ANTARA) – Kisah klasik “Dumbo” dirilis kembali dalam bentuk live-action. Tak hanya bercerita tentang seekor anak gajah yang memiliki telinga besar, film juga berbicara mengenai hubungan antara keluarga dan sebuah impian.

“Dumbo” pertama kali diangkat ke layar lebar pada 23 Oktober 1941. Ini adalah karya pertama yang diproduksi oleh Disney saat membuka studionya di Burbank. Film tersebut menjadi salah satu kisah favorit para penggemar dan kritikus film serta berhasil memenangkan penghargaan Academy Awards.

Di bawah arahan Tim Burton, cerita “Dumbo” menjadi lebih lebar. Tak hanya Dumbo yang menjadi sorotan utama, karakter manusia dalam film ini juga menjadi naratif utama yang menarik sehingga makin menguatkan film tersebut.

Kisah dimulai ketika Max Medici, seorang pemilik sirkus memperkerjakan Holt Farier, seorang mantan pemain sirkus dan anaknya, Milly serta Joe untuk menjaga seekor anak gajah yang memiliki telinga sangat besar sehingga dianggap aneh dan mendapat ejekan. Namun, Milly dan Joe menemukan keajaiban dari Dumbo. Ternyata telinga yang aneh itu bisa membuat Dumbo terbang.

Milly yang tertarik pada hal-hal berbau ilmu pengetahuan lalu mengajarkan Dumbo untuk berlatih terbang. Sayangnya, Holt tidak pernah percaya pada kemampuan anaknya dan melarang anaknya untuk melakukan hal aneh.

Milly dan Joe akhirnya dengan berani mempertontonkan kemahiran Dumbo dihadapan penonton sirkus. Dumbo pun menjadi terkenal hingga membuat seorang pengusaha hiburan ternama, V.A Vandervere berambisi untuk memilikinya. Vandervere kemudian mengajak Max Medici untuk bergabung dengan sirkusnya namun dibalik semua itu dia memiliki rencana yang jahat.

“Dumbo” mengutamakan kisah tentang hubungan anak dan orangtua. Baik Dumbo dengan ibu gajahnya serta Holt dengan anak-anaknya yang berjarak setelah sang istri meninggal. Dumbo yang mau menjalani semua pertunjukan hanya untuk bis bertemu dengan ibunya dan Milly yang berusaha meyakinkan ayahnya tentang impiannya menjadi ilmuan.

Max Medici yang hanya peduli dengan uang ternyata juga menganggap para pemain sirkusnya sebagai keluarga dan akan melakukan apapun untuk mempertahankan mereka.

Petualangan baru dari “Dumbo” ini memang tidak berjalan jauh dari kisah aslinya. Namun dengan pengembangan baru, Tim Burton mampu membuat cerita yang sangat sederhana ini menjadi sesuatu yang penuh dengan sentuhan emosi.

Secara keseluruhan film ini sangat imajinatif. Sosok Dumbo pun digambarkan memiliki wajah lucu dan menggemaskan yang akan membuat anak-anak senang menyaksikannya. Dumbo yang masih kecil juga memiliki tingkah yang lucu layaknya seorang anak-anak.

“Dumbo” dibintangi oleh Collin Farrell sebagai Holt Farrier, Michael Keaton sebagai VA Vandevere, Danny DeVito sebagai Max Medici, Eve Green sebagai Collete Marchant serta Nico Parker dan Finley Hobbins sebagai Milly dan Joe. Film ini mulai tayang di bioskop tanah air pada 27 Maret 2019.

Baca juga: Raline Shah rasakan tayangan perdana “Dumbo” di Hollywood

Baca juga: Tim Burton akan buat film “Dumbo”

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Si Doel The Movie 2” adalah kunci untuk sekuel terakhir

Jakarta (ANTARA) – “Si Doel The Movie 2” bukanlah kisah akhir dari cinta segitiga antara Doel, Sarah dan Zaenab. Namun sekuel ini merupakan jembatan untuk keputusan akhir Doel dalam menetapkan cintanya.

Dalam film mendatang, Doel masih digambarkan bingung memilih antara kembali pada Sarah atau harus bertahan dengan Zaenab. Apalagi setelah dia bertemu dengan anak kandungnya di Belanda.

Rano yang bertindak sebagai sutradara sekaligus pemain dalam film ini mengatakan bahwa “Si Doel 2” memiliki banyak momen emas.

“Ini banyak golden scene-nya. Sarah itu banyak bahasa yang saya sembunyikan di trailer-nya. Tidak saya ceritakan dia posisinya di mana seperti apa. Karena itulah jawaban dari cerita kedua ini, ada pada Sarah. Ini lebih problem dan padat untuk dramanya,” jelas Rano dalam peluncuran trailer dan poster “Si Doel The Movie 2” di Jakarta, Rabu.

Cornelia Agatha yang berperan sebagai Sarah mengaku tidak terlalu banyak muncul dalam film ini. Namun, adegan yang dilakoninya cukup berat.

“Adegan saya juga menentukan adegan Maudy dan bang Rano serta lainnya. Cuma memang walaupun saya tampil tidak terlalu banyak scene-nya, tapi berat-berat semua, maksudnya berat tuh saya menganggapnya golden scene, karena ada duh ntar bocor nih. Ya pokoknya ada adegan yang sangat golden scene lah. Itu adegan yang mungkin ditunggu-tunggu oleh seluruh masyarakat yang selama ini mencintai Si Doel,” kata Cornelia.

Sementara itu, Maudy Koesnaedi mengatakan bahwa sekuel kali ini lebih banyak bicara tentang Zaenab dengan segala kesedihannya.

“Aku syuting kedua ini berkecamuk. Perasaannya gelisah banget, pas lagi syuting di sini tuh berasa, gitu-gitu lah pokoknya kecamuk banget. Kalau di Doel pertama kan konfliknya di Sarah. Di sini memang jatahnya Zaenab,” ungkap Maudy.

“Si Doel The Movie 2” dijadwalkan akan tayang pada Lebaran 2019.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Eddy K Sinoel
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Si Doel the Movie” resmi luncurkan poster dan trailer

Jakarta (ANTARA) – Falcon Pictures dan Karno’s Film hari ini merilis trailer dan poster film “Si Doel the Movie 2” yang baru akan tayang pada Lebaran 2019.

Hal itu dimaksudkan untuk menggelitik rasa penasaran penonton siapa yang akan dipilih oleh Doel dalam film itu, Zaenab atau Sarah.

Penggemar film “Si Doel” terpecah menjadi dua kelompok yakni Tim Sarah dan Tim Zaenab yang sering saling serang di media sosial.

Rano Karno selaku sutradara sekaligus pemain mengaku sangat senang dengan antusias penggemar Sarah dan Zaenab itu. Meski terjadi pro dan kontra, bagi Rano ini adalah sebuah bukti dari ketertarikan penonton.

“Antusiasnya cukup baik ya, dengan kita lihat di Instagram masing-masing walaupun ada pro dan kontra antara Sarah dan Zaenab, berarti ini kan ceritanya menarik. Dengan dilaunching-nya trailer dan poster, tentu para penyuka film ‘Doel’ akan semakin menunggu film ini,” kata Rano dalam peluncuran trailer dan poster “Si Doel the Movie 2” di Jakarta, Rabu.

Jika pada film pertama banyak melakukan syuting di Belanda, kali ini “Si Doel 2” lebih mengambil latar belakang cerita di Indonesia. Rano juga mengatakan bahwa akan ada penambahan karakter dalam filmnya.

“Tidak mungkin “Si Doel” hanya ini-ini saja. Tentu punya pengembangan karakter masing-masing. Atun punya anak dari mas Karyo, yang namanya siapa tuh. Doel juga punya anak dan akan tumbuh besar. Apakah kita akan terus bekerja sama, nah itu dia, tunggu aja,” kata Rano sambil tertawa. Sebagai penulis skenario, Rano juga mengalami kesulitan dalam membuat cerita. Apalagi untuk menentukan siapa yang akan dipilih dalam rumitnya cinta segitiga antara Doel, Sarah dan Zaenab.

“Secara psikologis yang paling sulit apakah tetap pada sarah atau menyakiti Zaenab. Ini kayak cerita nyata padahal fiktif,” ujarnya.

Selain pemain lama, seperti Mandra, Suti Karno, Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Adam Jagwani dan Ahong, film “Si Doel The Movie 2” juga akan menghadirkan pemain baru seperti Wizzy dan Reybong.

Dalam trailer tersebut digambarkan tentang kepulangan Doel dari Belanda. Mandra yang tidak bisa menjaga rahasia memberi tahu Atun jika keponakannya itu bertemu dengan Sarah dan anak kandungnya. Mandra juga memberitahu Atun jika Sarah meminta cerai. Zaenab menjadi galau dan takut ditinggalkan Doel. Namun, Atun dan Munaroh meyakinkan bahwa Zaenab harus bertarung dengan Sarah untuk mendapatkan cinta Doel.

Baca juga: Film Indonesia dengan jumlah penonton terbanyak sepanjang 2018

Baca juga: Cerita Mak Nyak antusias syuting “Si Doel 2”

Baca juga: Dedi Mulyadi kecewa kepada Rano Karno

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rano Karno tak ingin buat sinetron “Si Doel” lagi

Jakarta (ANTARA) – Rano Karno lebih memilih untuk membuat film “Si Doel” dengan konsep trilogi daripada harus menjadi sinetron seperti tahun 1990an silam.

“Karena jujur dalam format sekarang tidak mungkin saya membuat dalam bentuk sinetron. Kalau sinetron kan sekarang formatnya striping. Nah alasannya juga ada beberapa,” kata Rano dalam peluncuran trailer dan poster “Si Doel the Movie 2” di Jakarta, Rabu.

Alasan pertama yang tidak bisa dia hindari adalah masalah kesehatan Mak Nyak atau Aminah Cendrakasih yang tidak memungkinkan untuk syuting setiap hari.

“Kita semua enggak mungkin kuat, Mak Nyak enggak bisa kerja tiap hari. Untuk syuting aja beliau akan kita buat di studio,” jelas Rano.

Striping itu butuh kekuatan luar biasa. Kedua saya juga sudah senja, saya sudah 58 tahun, mungkin tenaga saya juga sudah tidak seperti dulu,” lanjutnya.

Selain itu, membuat skenario untuk “Si Doel” bukanlah hal yang mudah. Untuk menulis cerita saja, Rano membutuhkan waktu yang lama.

“Bikin cerita “Si Doel” tidak mudah. Saya nulis skenarionya butuh waktu tujuh bulan. “Doel 1” bikinnya tujuh bulan, “Doel 2″ bikinnya juga tujuh bulan. Tapi untuk trilogi insya Allah saya akan siapkan nanti September mulai nulis,” ujar mantan gubernur Banten tersebut.

“Si Doel the Movie 2” akan tayang saat Lebaran 2019. Selain Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Adam Jagwani dan Ahong, film ini juga akan menghadirkan pemain baru seperti Wizzy dan Reybong.

“Barangkali “Si Doel” ini memberikan rezeki yang sama. Karena dulu “Si Doel” pertama ditayangkan di bulan Ramadan,” tutup Rano.

Baca juga: “Si Doel the Movie” resmi luncurkan poster dan trailer

Baca juga: Si Doel The Movie 2 mulai syuting

Baca juga: Cerita Mak Nyak antusias syuting “Si Doel 2”

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kemdikbud ingin HFN jadi momentum pemajuan film Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Hari Film Nasional (HFN) menjadi momentum dalam pemajuan sektor perfilman Indonesia,  kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid.

“Pada HFN nanti, kita bisa mencanangkan strategi-strategi pemajuan sektor film. Baik penyebarannya dan hal lainnya,” ujar Hilmar dalam taklimat media di Jakarta, Rabu.

Selain itu cara lainnya, ujar dia, Undang-undang (UU) Perfilman yang sudah ada sejak 2019 perlu diperbaharui.

Hilmar mengatakan sejak 2019 sampai sekarang belum ada pembaruan, padahal perkembangan film sudah jauh berkembang. Contohnya dulu tidak ada platform online seperti saat ini.

“Makanya ini harus diperbaharui lagi,” kata Hilmar lagi.

Dia menjelaskan apresiasi masyarakat terhadap film Indonesia meningkat dari tahun ke tahun, sebaliknya film impor terus mengalami penurunan.

“Sekarang bagaimana caranya agar film ini dari segi kualitas dan juga penonton terus meningkat.”

Kemendikbud melalui Pusat Pengembangan Perfilman akan memperingati Hari Film Nasional (HFN) ke-69 yang jatuh pada 30 Maret 2019 dengan tema tahun ini  “Film Indonesia Keren”.

Sejumlah acara diselenggarakan mulai dari Kampanye Film, Pameran Sejarah Perfilman, Pemutaran Film Indonesia, Bincang Film dan Apresiasi Kesetiaan yang puncaknya akan dilaksanakan pada Kamis hingga Sabtu (28-30/3). 

Puncak Perayaan HFN berupa seremonial dilaksanakan pada Jumat (29/3), yang akan dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta akan dihadiri Presiden Jokowi.

Saat itu Presiden akan memberikan Apresiasi Kesetiaan kepada 10 (sepuluh) orang sineas Indonesia yang telah bekerja lebih dari 30 (tiga puluh) tahun di bidangnya masing-masing, dan menyerahkan sertifikat kompetensi secara simbolis kepada insan film yang telah bersertifikat.

Baca juga: “Mencari Hilal” akhiri roadshow HFN
Baca juga: Film Indonesia yang diapresiasi luar negeri sepanjang 2018

 

Pewarta: Indriani
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kemdikbud ingin HFN jadi momen pemajuan film Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Hari Film Nasional (HFN) menjadi momentum dalam pemajuan sektor perfilman Indonesia,  kata Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Hilmar Farid.

“Pada HFN nanti, kita bisa mencanangkan strategi-strategi pemajuan sektor film. Baik penyebarannya dan hal lainnya,” ujar Hilmar dalam taklimat media di Jakarta, Rabu.

Selain itu cara lainnya, ujar dia, Undang-undang (UU) Perfilman yang sudah ada sejak 2019 perlu diperbaharui.

Hilmar mengatakan sejak 2019 sampai sekarang belum ada pembaruan, padahal perkembangan film sudah jauh berkembang. Contohnya dulu tidak ada platform online seperti saat ini.

“Makanya ini harus diperbaharui lagi,” kata Hilmar lagi.

Dia menjelaskan apresiasi masyarakat terhadap film Indonesia meningkat dari tahun ke tahun, sebaliknya film impor terus mengalami penurunan.

“Sekarang bagaimana caranya agar film ini dari segi kualitas dan juga penonton terus meningkat.”

Kemendikbud melalui Pusat Pengembangan Perfilman akan memperingati Hari Film Nasional (HFN) ke-69 yang jatuh pada 30 Maret 2019 dengan tema tahun ini  “Film Indonesia Keren”.

Sejumlah acara diselenggarakan mulai dari Kampanye Film, Pameran Sejarah Perfilman, Pemutaran Film Indonesia, Bincang Film dan Apresiasi Kesetiaan yang puncaknya akan dilaksanakan pada Kamis hingga Sabtu (28-30/3). 

Puncak Perayaan HFN berupa seremonial dilaksanakan pada Jumat (29/3), yang akan dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan serta akan dihadiri Presiden Jokowi.

Saat itu Presiden akan memberikan Apresiasi Kesetiaan kepada 10 (sepuluh) orang sineas Indonesia yang telah bekerja lebih dari 30 (tiga puluh) tahun di bidangnya masing-masing, dan menyerahkan sertifikat kompetensi secara simbolis kepada insan film yang telah bersertifikat.

Baca juga: “Mencari Hilal” akhiri roadshow HFN
Baca juga: Film Indonesia yang diapresiasi luar negeri sepanjang 2018

 

Pewarta: Indriani
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Avengers: Endgame” jadi film terpanjang MCU

Jakarta (ANTARA) – Sekuel terakhir film Marvel Cinematic Universe (MCU) “Avengers: Endgame” akan menjadi film berdurasi terpanjang tokoh-tokoh Marvel Studio yaitu tiga jam dua menit.

“Saat ini, kami pikir film itu berjalan dengan baik dan kami mendapat respon yang bagus dari para penonton yang telah mencoba untuk menontonnya. Kami merasa itu hal yang tepat,” kata salah satu Sutradara “Avengers: Endgame: Joe Russo seperti dilansir Aceshowbiz, Rabu.

Rumor tentang “Avengers: Endgame” yang akan menjadi film berdurasi panjang sudah pernah muncul pada 2018. Tapi, kabar itu belum dapat dipastikan karena film tentang kisah perlawanan Captain America, Iron Man, Hulk dan kawan-kawan itu masih dalam proses pengeditan.

Penjual tiket resmi Fandango lantas mengonfirmasi melalui akun Twitter mereka bahwa “Avengers: Endgame” memiliki waktu tayang sepanjang 182 menit.

Baca juga: Stan Lee akan hadir sebagai cameo di “Avengers: Endgame”

Anthony dan Joe Russo, sebagai sutradara sekuel terakhir MCU itu, mengatakan studio Disney telah memberikan hasil cerita yang terbaik dengan durasi terbaik yang mereka anggap sesuai.

“Kami masih melakukan pengeditan film itu dan belum selesai. Sekali lagi, itu adalah gabungan dari 22 film dan banyak cerita yang disampaikan di dalamnya. Emosi adalah hal yang menarik bagi kami. Ketika Anda harus menceritakan kisah yang benar-benar rumit dan Anda ingin momen emosional yang kuat untuk karakternya, itu memerlukan banyak hal untuk dibangun,” lanjutnya.

Film sebelumnya, “Avengers: Infinity War” berdurasi 149 menit dan sempat memegang rekor sebagai film Marvel terlama. Tapi, rekor itu akan segera terganti dengan “Avengers: Endgame”.

“Avengers: Endgame” punya jadwal tayang di bioskop-bioskop Amerika Serikat pada 26 April.

Baca juga: Trailer “Avengers Endgame” ungkap pentingnya Ant-Man

Baca juga: Wolverine diduga akan hadir di “Avengers: Endgame”

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

MUI harap film Buya Hamka lebih laris dari film Dilan

Jakarta (ANTARA) – Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Yunahar Ilyas mengatakan bahwa MUI mendukung penuh dan bakal ikut mempromosikan film Buya Hamka.

“Insya Allah MUI ikut mempromosikan dan mendoakan,” kata Prof Yunahar saat konferensi pers Film Buya Hamka, di Jakarta, Senin.

Ia bahkan berharap film ini bisa ditonton masyarakat melebihi jumlah penonton film Dilan.

“Semoga melebihi Dilan,” katanya.

Dua perusahaan film Indonesia, Starvision dan Falcon Pictures tengah menggarap film tentang Buya Hamka.

Film yang akan mulai syuting pada awal April 2019 di Maninjau, Sumatera Barat ini dibintangi oleh Vino G. Sebastian sebagai pemeran utama.

Film ini akan ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia pada tahun depan.  

Baca juga: Vino Bastian perankan sosok Buya Hamka
Baca juga: Starvision-Falcon Pictures garap film Buya Hamka

 

Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Starvision-Falcon Pictures garap film Buya Hamka

Kami bekerja keras agar film ini bisa dinikmati oleh seluruh pecinta film Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Dua perusahaan film Indonesia, Starvision dan Falcon Pictures, bekerja sama menggarap film yang mengangkat kisah hidup ulama besar Buya Hamka.

“Ini kolaborasi Falcon, Starvision, dan MUI. Tentu semua mengenal ketokohan Buya Hamka. Semoga nanti film ini bisa menjadi pencerahan inspiratif buat kita semua, penonton film di Indonesia dan seluruh dunia,” kata produser rumah produksi Starvision, Chan Parwez, di Jakarta, Senin.

Film itu pun mendapat dukungan penuh dari Majelis Ulama Indonesia.

Chan menjelaskan ide pembuatan film Buya Hamka itu terjadi pada 2014 ketika dia bertemu dengan mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin.

Penulisan naskah film pun kerap mengalami perubahan dan memakan waktu lama.

“Semenjak saya ketemu Pak Din pada 2014. Cukup lama tapi itu proses yang mesti dijalani. Karya ini bukan karya ringan tapi karya besar,” katanya.

Produser Falcon Pictures, Frederica, menyebut film tersebut sebagai istimewa.

“Bagi kami film ini sangat istimewa. Kami bekerja keras agar film ini bisa dinikmati oleh seluruh pecinta film Indonesia,” kata dia.

Karakter Buya Hamka akan diperankan oleh Vino G. Sebastian.

Film itu akan mulai syuting pada awal April 2019 di Maninjau, Sumatera Barat.

Selain di Sumbar, rencananya film itu akan mengambil lokasi syuting di Jawa Tengah (Semarang, Tegal), Jakarta dan Jawa Barat (Sukabumi).

Film itu akan ditayangkan di bioskop pada tahun depan.

Selain Vino, sejumlah karakter di film itu akan diperkuat oleh Laudya Cynthia Bella, Desi Ratna Sari, Donny Damara, Ayudia Bing Slamet, Mellya Baskarani, Resa Putri, Mawar De Jongh, Ben Kasyafani, Verdi Solaiman, Marthino Lio, Alfie Alfandy, Yoga Pratama, Rebong, Rifnu Wikana, dan Ayu Laksmi.

Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“My Stupid Boss 2”, sekuel yang lebih jenaka

Jakarta (ANTARA) – Usaha sutradara Upi untuk membuat skenario yang tak kalah menggigit untuk sekuel “My Stupid Boss” akhirnya terbayar.

Kisah komedi tentang bos absurd yang jadi sumber penderitaan anak buahnya ini lebih menghibur dari pendahulunya.

Bossman (Reza Rahadian) si penganut prinsip “bos selalu benar” kembali beraksi dengan tingkah nyentrik yang selalu menguji kesabaran para karyawannya.

Diana (Bunga Citra Lestari) yang biasa dipanggil Kerani (pegawai administrasi) adalah tumpuan dari karyawan lain di perusahaan yang berlokasi di Malaysia itu.

Kerani selalu dimintai tolong oleh karyawan-karyawan yang ingin bicara pada Bossman karena sudah hampir dipastikan apa yang mereka minta bakal ditolak mentah-mentah.

Kelakuan Bossman masih dan makin membuat Kerani pusing tujuh keliling, apalagi suaminya (Alex Abbad) justru berkawan baik dengan si bos.

Bossman masih super pelit dan bertindak seenak jidat yang mengakibatkan sejumlah pekerjanya memilih angkat kaki.

Masalah ini membuat perusahaan kekurangan karyawan. Bossman punya solusi, mencari pekerja-pekerja upah murah dari Vietnam.

Bossman bertolak ke Vietnam bersama Kerani, Mr. Kho (Che Kin Wah) dan Adrian (Iedil Putra) untuk menemui Nguyen (Morgan Oey) yang sudah menjanjikan calon karyawan untuk si bos.

Norahsikin (Atiqah Suhaime) dan Azhari (Iskandar Zulkarnain) kebagian tugas menjaga kantor.

Pekerjaan yang awalnya disangka ringan justru mengancam keselamatan karena pada saat itulah para gangster India (Sahil Shah) dan China (Verdi Solaiman) datang untuk menagih hutang si bos yang sering menunggak.

Interaksi duo gangster dari geng berbeda ini merupakan salah satu adegan menghibur dan penuh kejutan dengan dialog Hindi, Mandarin dan Melayu.

Trio Kerani, Mr. Kho dan Adrian juga mengalami nasib apes di Vietnam, tentu saja gara-gara ulah Bossman yang tak pernah merasa punya kesalahan.

Makin jenaka

Pemilihan tone warna yang hangat dan mencolok seperti film pertama masih konsisten diterapkan di sini, pun lagu-lagu melayu yang mengingatkan pada suasana Negeri Jiran.

Semua tokoh punya karakter yang khas, masing-masing punya porsi yang pas.

Si bos yang ngaco dan sering nyerocos dalam bahasa Indonesia medok Jawa tanpa mempedulikan bahwa sebagian anak buahnya tak paham seperti Mr. Kho.

Kerani yang sering stres karena Bossman, Adrian yang naksir berat tapi bertepuk sebelah tangan pada Sikin, dan Azhari yang sangat alim.

“Ini film yang paling banyak pahala, seloroh Iskandar, pemeran Azhari yang senantiasa mengucapkan doa saat berada di posisi terjepit.

Selain deretan pemain lama, ada wajah-wajah baru dalam film yang diadaptasi dari novel berjudul sama dari chaos@work berdasarkan pengalaman nyatanya bekerja di negeri jiran.

Karakter Adrian yang tadinya dimainkan Bront Palarae kini diperankan oleh Iedil Putra yang berhasil memberikan nafas baru dalam karakter tersebut.

Acungan jempol juga buat Morgan Oey sebagai Nguyen, di mana dia dituntut bisa mencerocos dalam bahasa Vietnam.

Film “My Stupid Boss 2” akan rilis pada 28 Maret 2019.

Baca juga: Reza Rahadian bangkitkan ingatan Bossman selepas tiga tahun

Baca juga: “Siap terlihat jelek”, Morgan Oey dapat peran di film Upi

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Paramount minta Sutradara “Rocketman” hilangkan adegan gay

Jakarta (ANTARA) – Pimpinan Paramount Pictures meminta sutradara film  “Rocketman” agar menghapus adegan telanjang seusai melakukan seks sesama jenis dalam film biografi Elton John itu, kemudian mengubahnya menjadi adegan yang mengenakan busana.

“Rocketman” akan menampilkan hari-hari awal Elton John sebagai anak berbakat dari Royal Academy of Music, kerja sama musiknya dengan Berbie Taupin serta perjuangannya terhadap penyalahgunaan zat, depresi dan penerimaan atas orientasi seksualnya.

Adegan yang dimaksud adalah saat John dan manager lamanya John Reid selesai berhubungan seks dan menampilkan tubuh dalam kondisi tanpa busana.

“Paramount memaksa sutradara untuk memotong adegan tersebut sehingga bisa masuk peringkat PG-13 Amerika (PG-13 setara dengan 12A di Inggris),” ujar Bamigboye dari Daily Mail, dilansir Aceshowbiz, Minggu.

Menurut Bamigboye, adegan tersebut kini dibuat menjadi lebih sopan yakni dengan menggunakan pakaian.

John dikabarkan tidak masalah jika filmnya hanya bisa disaksikan dengan rating terbatas dan dia sempat menginstruksikan kepada para produser dan sutradara pada awal produksi untuk menceritakan semuanya.

“Ceritakan semuanya. Ambil sesuai dengan nilai R (rating usia) yang kalian butuhkan,” kata Elton saat itu.

Alasan pimpinan Paramount Pictures ingin mengurangi adegan tersebut, diduga berhubungan dengan kesuksesan film biopik Queen “Bohemian Rhapsody”.

Meski demikian perwakilan Paramount Pictures belum memberikan komentar mengenai masalah tersebut.

Elton John akan diperankan oleh Taron Egerton. Sedangkan John Reid dimainkan oleh Richard Madden. “Rocketman” disutradarai oleh Dexter Fletcher dan akan tayang pada Mei 2019.

Baca juga: Tampilan Taron Egerton sebagai Elton John dalam “Rocketman”

Baca juga: Teaser pertama film “Rocketman” tampilkan Taron Egerton sebagai Elton John

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Zac Efron dan Amanda Seyfried isi suara untuk film Scooby-Doo

Jakarta (ANTARA) – Zac Efron dan Amanda Seyfried akan mengisi suara untuk Fred dan Daphne dalam film “Scooby-Doo” terbaru.

Sebelumnya Warner Bros Animation Grup telah mengumumkan bahwa Will Forte, Gina Rodriguez dan Tracy Morgan akan mengisi suara untuk Shaggy, Velma dan Kapten Caveman, dilansir Deadline, Minggu.

Sementara itu, Frank Welker akan mengulangi suara Scoob seperti dalam serial “Scooby-Doo, Where Are You!” yang tayang pada 1969-1970.

Dalam film mendatang, diperlihatkan bahwa geng Mystery Inc akan bekerja sama dengan karakter lain dalam Hanna-Barbera Universe untuk menyelamatkan dunia dari kejahatan Dick Dastardly.

Tony Cervone bertindak sebagai sutradara dalam film ini dan naskahnya ditulis oleh Matt Lieberman. Sedangkan Chris Columbus, Pam Coats dan Allison Abbate duduk di kursi produser.

Sementara Charles Roven, Richard Suckle, Dan Povenmire dan Adam Sztykiel menjabat sebagai produser eksekutif. Film ini dijadwalkan tayang pada 15 Mei 2020.

“Scooby-Doo” diciptakan oleh Joe Ruby dan Ken Spears sebagai serial animasi dan telah diangkat ke dalam berbagai media mulai dari komik, film televisi, film dan dua film live action “Scooby-Doo” pada 2002 dan “Scooby-Doo 2: Monsters Unlieashed” pada 2004 yang dibintangi oleh Freddie Prinze Jr sebagai Fred, Sarah Michelle Gellar sebagai Daphne, Matthew Lillard sebagai Shaggy, Linda Cardellini sebagai Velma dan Neil Fanning sebagai suara Scooby-Doo.

Baca juga: Scooby-Doo kembali hadir di layar lebar

Baca juga: Animasi Scooby-Doo akan hadir di layar lebar

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Siap terlihat jelek”, Morgan Oey dapat peran di film Upi

Jakarta (ANTARA) – Kesempatan berakting di “My Stupid Boss 2” datang ke hadapan Morgan Oey setelah mengiyakan syarat dari sutradara Upi Avianto bahwa dirinya harus “siap dibikin jelek”.

“Kayaknya ini look saya yang paling jelek dalam film,” seloroh Morgan usai pemutaran perdana “My Stupid Boss 2” di Jakarta, Sabtu (23/3) malam.

Dalam film komedi yang diangkap dari novel berjudul sama, Morgan berperan sebagai Nguyen, penyedia jasa buruh asal Vietnam yang bekerjasama dengan Bossman (Reza Rahadian).

Pria yang awalnya dikenal sebagai anggota grup musik SM*SH itu merombak total penampilannya.

Nguyen memiliki potongan rambut bowl cut yang bagian dalamnya dipangkas habis, mirip seperti karakter komik Kobo-chan.

Sebagai Nguyen, pria asli Vietnam, Morgan juga dituntut untuk menguasai bahasa Vietnam, khususnya dialek masyarakat di bagian utara yang terdengar lebih medok.

Ini bukan pengalaman pertama Morgan berakting sebagai pria asing.

Bagai bunglon, Morgan sudah pernah menjelma jadi orang China di “Assalamualaikum Beijing”, menjadi pria Korea Selatan di “Jilbab Traveler: Love Sparks in Korea” juga orang Jepang di film “Winter in Tokyo”.

Mempelajari beberapa bahasa asing untuk kebutuhan syuting membuat Morgan lebih cepat beradaptasi saat menghadapi bahasa baru.

Meski demikian, Morgan berpendapat Vietnam adalah yang tersulit dari semua bahasa Asia yang pernah ia pelajari.

Pemenang Pemeran Utama Pria Terpuji di Festival Film Bandung 2018 itu hanya belajar intensif selama sepekan bersama guru di Indonesia.

Kemampuan bahasanya dipertajam selama pengambilan gambar di Vietnam di mana dia berusaha bertingkah laku seperti layaknya warga lokal.

“Upi juga mengawasi terus agar bahasanya tidak terdengar seperti bahasa Thailand atau seperti Vietnam Selatan,” kata Morgan yang senang bisa terlibat dalam film komedi arahan Upi.

Menjajal karakter yang segar, meski porsinya tidak sebanyak pemeran utama, dia anggap jadi kesempatan mengasah kemampuan ketimbang terjebak pada peran yang itu-itu saja.

Dalam film “My Stupid Boss 2”, Nguyen digambarkan sebagai pria berwajah manis di depan klien, tapi bengis di hadapan anak buah. Berakting marah-marah rupanya melelahkan.

“Saya paling ingat adegan di kapal, kan suaranya (sekitar) kencang, saya lumayan jerit-jerit (agar suara terdengar).”

Baca juga: Ketika Morgan Oey perankan karakter bertolak belakang dari kepribadiannya

Baca juga: Ayushita, Morgan Oey, Yuki Kato bakal menari bersama ribuan orang

Baca juga: Morgan Oey jadi penderita alzheimer

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Reza Rahadian bangkitkan ingatan Bossman selepas tiga tahun

Jakarta (ANTARA) – Aktor Tanah Air Reza Rahadian punya cara khas untuk kembali menjelma sebagai tokoh Bossman dalam film “My Stupid Boss 2” dengan menonton ulang film pertama “My Stupid Boss” demi membangkitkan ingatan sosok itu.

Usai pemutaran perdana “My Stupid Boss 2″di Jakarta, Sabtu (23/3) malam, Reza mengaku selalu menyimpan ingatan untuk tokoh-tokoh yang pernah diperankannya.

Pemanggilan kembali ingatan tentang sosok bos super yang menyebalkan dan seringkali membuat karyawan naik darah itu dilakukan Reza menyusul kehadiran film pertama itu pada 2016.

Aktor yang memenangkan penghargaan sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik Festival Film Indonesia pada 2013 itu menonton kembali “My Stupid Boss” yang juga disutradarai Upi Avianto.

“Saat kumpul bersama para pemeran (termasuk yang) baru, Upi ajak nonton (My Stupid Boss) yang lama. Jadi, saya bisa mengingat kembali,” ujar Reza tentang film yang mendapatkan penonton lebih dari tiga juta orang itu.

Dalam sekuel itu, Reza tidak mau sekadar menghadirkan karakter yang sama, tapi dia ingin memberikan nuansa baru yang disebutnya “bisa menambah value dari karakter itu”.

Ucapan “tempe bener, sih!” yang sering keluar dari mulut Bossman kembali menghiasi film. Begitupula, celetukan-celetukan spontan yang menambah bumbu komedi.

Baca juga: Pemutaran perdana “My Stupid Boss 2” jadi kejutan buat BCL

“Kadang saya tidak bisa memunculkan itu ketika membaca naskah, celetukan seperti itu spontan saja keluar. Celetukan itu adalah respons dari ruang-ruang yang diberikan oleh lawan main,” jelas aktor yang mengawali karir sebagai model itu.

Perawakan Bossman yang tambun mengharuskan Reza mengenakan fat suit. Untuk mengimbangi badannya yang membesar, aktor berusia 32 tahun itu pun menambah berat badan sehingga wajahnya terlihat lebih gemuk.

“Biar ada lipatan lehernya,” kata aktor yang sering bermain di film biopik, memerankan karakter Presiden B.J. Habibie, Benyamin Sueb sampai pemimpin Sarekat Islam Oemar Said Tjokroaminoto itu.

“My Stupid Boss 2” berkisah tentang Bossman yang mengalami krisis kekurangan karyawan pabrik dan memutuskan untuk mencari pekerja murah dari Vietnam.

Dia bersama Diana alias Kerani (Bunga Citra Lestari), Mr. Kho (Che Kin Wah) dan Adrian (Iedil Putra) pun pergi ke Vietnam. Tapi alih-alih mendapatkan karyawan, mereka justru menghadapi masalah baru.

Film itu dibintangi juga oleh Morgan Oey, Alex Abbad, Atiqah Suhaime, Iskandar Zulkarnain dan Melisa Karim. “My Stupid Boss 2” akan rilis pada 28 Maret 2019.

Baca juga: “My Stupid Boss 2” rilis trailer dan poster

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“27 Steps of May” tayang 27 April di Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Karya terbaru sutradara Ravi Bharwani yang berjudul “27 Steps of May” akan segera ditayangkan di bioskop-bioskop Indonesia setelah “jalan- jalan” ke beberapa festival film internasional sejak Oktober 2018 lalu.

“Kami akhirnya memutuskan untuk tayang perdana di bioskop-bioskop Indonesia mulai 27 April 2019, setelah berdiskusi dengan pihak XXI Cineplex. Pemilihan tanggal penuh pertimbangan karena hampir berbarengan dengan rilisnya film superhero Hollywood dan pemilu,” ujar produser Wilza Lubis dalam keterangan pers, Sabtu.

Film yang mengangkat isu trauma pasca-kekerasan seksual terhadap perempuan itu memakan proses sekitar lima tahun, mulai dari tahap riset sampai sesudah produksi.

“Sebagai film yang minim dialog dan menitikberatkan elemen-elemen visual dalam bercerita, maka semua elemen ini harus dibuat dan ditata secara detail dan rapi. Hal tersebut memerlukan ketelitian, kesabaran, dan tentunya waktu. Manajemen waktu ini yang menjadi tantangan paling berat,” ungkap Ravi Bharwani.

Film yang diproduksi oleh Green Glow Pictures dan didukung oleh Go Studio itu diawali dengan adegan May –diperankan oleh aktris Raihaanun– yang kala itu berusia 14 tahun diperkosa oleh sekelompok orang tak dikenal.

Akibat trauma yang mendalam, May menarik diri sepenuhnya dari kehidupan.

May menjalani hidupnya tanpa koneksi, emosi, dan kata-kata. Peristiwa tersebut tidak hanya berdampak pada kehidupan May, tetapi juga Bapak –yang dimainkan oleh aktor Lukman Sardi.

Bapak May sangat terpukul dan menyalahkan dirinya karena tidak dapat menjaga putrinya. Ia memiliki karakter lembut yang siap mengorbankan segalanya untuk memberikan kenyamanan dan perlindungan bagi anaknya.

Namun, di luar rumah Bapak memiliki karakter yang berbeda. Ia menyalurkan semua emosinya di ring tinju. Trauma yang mereka alami itu berlangsung hingga delapan tahun.

Film berdurasi 112 menit itu juga dibintangi oleh Ario Bayu dan Verdi Solaiman.

“27 Steps of May” pertama kali diputar di Busan International Film Festival pada Oktober tahun lalu, juga Cape Town International Film Market & Festival, Goteborg Film Festival, dan Bengaluru International Film Festival.

“Waktu melihat antusias yang besar dari penonton film ’27 Steps of May’ pada dua pemutaran di Indonesia–Jogja-NETPAC Asian Film Festival dan Plaza Indonesia Film Festival–saya semakin deg-degan sekaligus tidak sabar menanti 27 April nanti,” ujar Raihaanun.

Baca juga: “27 Steps of May” ke tiga festival film di Bengaluru, Mesir, Kamboja
Baca juga: Kesulitan Raihaanun perankan korban perkosaan

 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Titi Kamal jatuh cinta skenario “Rumput Tetangga”

Jakarta (ANTARA) – Aktris Titi Kamal mengaku jatuh cinta dengan skenario film “Rumput Tetangga” setelah menerima tawaran Raffi Ahmad dalam pesan singkat aplikasi Whatsapp.

“Saya berperan jadi Kirana, ibu rumah tangga yang dulunya aktif berorganisasi dan bercita-cita jadi PR consultant,” ujar Titi dalam jumpa pers “Rumput Tetangga” di Jakarta, Kamis.

Titi mengaku langsung tertarik untuk terlibat dalam film yang diproduseri Raffi melalui rumah produksi RA Pictures itu setelah membaca skenario yang disebutnya sesuai dengan kehidupan sehari-hari.

Karakter dan konflik yang muncul dalam “Rumput Tetangga”, menurut Titi, sekitar kehidupan ibu rumah tangga dan wanita karir.

Baca juga: Alasan Raffi Ahmad produksi banyak film

Aktris berusia 37 tahun itu memerankan tokoh Kirana yang digambarkan sebagai ibu rumah tangga dengan ambisi untuk menjadi wanita karir.

Film yang disutradarai Guntur Soeharjanto itu juga dibintangi oleh Raffi Ahmad, Donita, Gading Marten dan Tora Sudiro.

Sementara, Gisel ditunjuk sebagai penyanyi soundtrack “Yang Kumau”, lagu yang dipopulerkan Krisdayanti dan diaransemen ulang oleh Melly Goeslaw dan Anto Hoed.

Film berdurasi 95 menit ini akan tayang pada 18 April 2019.

Baca juga: Raffi Ahmad ingin ke fokus ke rumah produksi miliknya

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Buku sekuel “Bird Box” akan dirilis Oktober

Jakarta (ANTARA) – Penulis “Bird Box” telah mengkonfirmasi bahwa sekuel buku aslinya akan diterbitkan pada Oktober mendatang.

Novel karya Josh Malerman yang dirilis pada 2014 itu, diadaptasi Netflix menjadi film berdurasi panjang yang dibintangi Sandra Bullock, Trevante Rhodes dan John Malkovich.

Film “Bird Box” kemudian menjadi hits saat diluncurkan pada Desember tahun lalu. Jumlah penonton streaming pada pekan pertama merupakan yang terbaik sepanjang sejarah film Netflix original.

Perhatian yang besar dari penonton membuat Malerman segera menyelesaikan sekuelnya. Malerman mengatakan bahwa buku berikutnya akan diberi judul “Malorie” dan terbit pada 1 Oktober.

“Saat “Bird Box” keluar, saat itu saya sedang menulis “Malorie”, saya ditanya banyak orang, orang ingin tahu apa yang terjadi dengan Boy dan Girl,” kata Malerman dilansir NME, Kamis.

“Tapi sama seperti kepedulian saya tentang Boy and Girl, ini bukan kisah mereka. The Bird Boxworld adalah kisah Malorie, dan saya ingin tahu lebih banyak tentangnya. Saya ingin mengenalnya lebih baik. Di akhir film, saya menoleh ke anakku Allison dan berkata, ‘Aku ingin tahu apa yang terjadi selanjutnya!’ Dan dia seperti, ‘Yah, kau tahu, kau bisa mewujudkannya,’ Jadi ini benar-benar perasaan yang hangat,” lanjut Malerman.

Baca juga: YouTube larang konten tantangan dan candaan berbahaya

Baca juga: “Bird Box” Sandra Bullock pecahkan rekor Netflix

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Disney dan Pixar rilis trailer “Toy Story 4”

Jakarta (ANTARA) – Walt Disney dan Pixar merilis trailer film animasi “Toy Story 4” berdurasi dua menit lebih yang menampilkan Woody, Buzz Lightyear, Bo Peep dan mainan baru bernama Forky.

Dalam trailer itu, Woody berkata pada para mainan lainnya mengenai pentingnya Forky bagi Bonnie, demikian seperti dilansir Variety, Selasa (19/3)

Dia juga memberitahu Forky (disuarakan oleh Tony Hale) yang saat itu meragukan diri sendiri untuk mendalami perannya sebagai mainan.

Setelah Bonnie membawa semua mainannya dalam perjalanan keluarga, Woody mengalami kejadian tak terduga yang membawanya bertemu teman lama, Bo Peep (Annie Potts).

Bo Peep mencoba meyakinkan Woody untuk meninggalkan Bonnie. Apa jawaban Woody?

“Toy Story 4” juga memperkenalkan tiga mainan baru yakni boneka bernama Gabby Gabby (Christina Hendricks), boneka akrobat Duke Caboom (Keanu Reeves) dan boneka miniatur Giggle McDimples (Ally Maki).

Dalam film yang disutradarai Josh Cooley itu aktor Tom Hanks mengisi suara Woody, Tim Allen sebagai Buzz, Joan Cusack sebagai Jessie, dan Don Rickles dan Estelle Harris sebagai Potato Heads.

“Toy Story” merupakan film animasi penuh komputer pertama dan pernah menjadi film terlaris. Dua sekuel film berikutnya dirilis pada tahun 1999 dan 2010 dan menghasilkan 1,97 miliar dolar AS secara global di box office.

“Toy Story 4” akan tayang 19 Juni 2019, 24 tahun setelah film pertamanya.

Baca juga: Keanu Reeves akan muncul di “Toy Story 4”
Baca juga: Toy Story hadir dalam bentuk kosmetik

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jordan Peele ingin mengulang kesuksesannya di film “Us”

Film yang berkisah tentang trauma yang dialami oleh Adelaide Wilson yang diperankan oleh Lupita Nyong’o, ketika ia masih kecil pada tahun 1986 di sebuah pantai di Amerika Serikat ia menemukan kejadian yang tak terlupakan di dalam arena taman bermain

Jakarta (ANTARA) – Setelah sukses dengan film horor “Get Out” yang mendapat piala Oscar dengan “Best Original Screenplay” kini Jordan Peele ingin mengulang kesuksesan tersebut dengan merilis film horor yang berjudul “Us” yang tayang perdana tepat pada hari ini Rabu (20/3).

Film yang berkisah tentang trauma yang dialami oleh Adelaide Wilson yang diperankan oleh Lupita Nyong’o, ketika ia masih kecil pada tahun 1986 di sebuah pantai di Amerika Serikat ia menemukan kejadian yang tak terlupakan di dalam arena taman bermain yang masih terus menghantuinya hingga ia memiliki keluarga.

Pada libur musim panas Adelaide Wilson dan keluarganya memutuskan unutk berlibur ke pantai di Amerika Serikat, mereka menginap di sebuah rumah di tepi pantai yang tak terhubung dan jauh dari keramaian.

Pada suatu malam, Adelaide Wilson menceritakan kondisi yang ia alami kepada suaminya, tak lama berselang trauma yang menghantuinya hingga sampai saat ini benar benar muncul meneror. Satu keluarga mendatangi kediaman yang ditinggali oleh Adelaide Wilson dan keluarganya.

Kendati demikian, teror yang menghantui keluarga dari Adelaide Wilson juga menghantui keluarga dari Elisabeth Moss sebagai Mrs. Tyler yang tinggal lumayan jauh dari kediamannya, semakin malam suasana semakin mencekam akibat teror yang dilakukan oleh sebuah mahluk yang menyeramkan.

Akankah Adelaide Wilson selamat dari kejaran teror yang menggangu dirinya juga keluarganya dan akankah hilang trauma yang dari sejak kecil ia rasakan?

Film yang diproduksi oleh Blumhouse Productions dan Monkeypaw Productions ini mempunyai kesan yang membuat penonton tegang dalam melihat setiap adegan yang meneror keluarga Adelaide Wilson, peran yang dimainkan oleh Lupita Nyong’o juga sangat membuat penonton greget dengan aksinya dalam melawan mahluk yang menerornya, tidak hanya kesan horor. Jordan Peele juga tidak lupa untuk memasukan unsur komedi dalam film “Us” yang sukses memancing satu studio untuk tertawa akibat peran dan tingkah laku yang dimainkan oleh Winston Duke sebagai Gabe Wilson,

Tidak salah jika Film ini mendapat nilai yang cukup baik dari Rotten Tomatoes yang dimana diketahui situs ini dikenal pedas jika mengkritik sebuah film yang baru dirilis.

Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Amanda Rawles ketagihan lari gara-gara syuting “Running Girl”

Jadi ketagihan karena banyak lari di alam, ternyata seru juga

Jakarta (ANTARA) – Aktris Amanda Rawles mengaku ketagihan olahraga lari sejak membintangi mini seri “Running Girl”, yang berkisah tentang seorang mahasiswi penyuka aktivitas di luar ruangan.

Amanda menjalani proses syuting “Running Girl” selama kurang lebih satu minggu dan di setiap episodenya, selalu ada adegan dia sedang berlari termasuk di alam terbuka.

“Ini tantangan banget sih karena selama main film belum pernah ada adegan lari-lari sebanyak ini. Siang-siang panas tapi tetap semangat. Jadi ketagihan karena banyak lari di alam, ternyata seru juga,” kata Amanda setelah pemutaran perdana “Running Girl” di Jakarta, Selasa.

Ia pun mengatakan terinspirasi dengan karakter yang diperankannya di mini seri itu, membuatnya bertekad lebih rajin berlari.

“Aku sangat terinspirasi banget. Sebelumnya ogah-ogahan sih olahraganya. Kayaknya aku mau mulai fokus, karena sekarang juga lagi banyak waktu luangnya,” ujarnya

“Running Girl” merupakan mini seri pertama Amanda. Sebelumnya, ia membintangi sejumlah judul film yakni “Dear Nathan” dan “Dear Nathan: Hello Salma”.

Ia lalu menjelaskan perbedaan syuting untuk layar lebar dan mini seri.

“Ini (mini seri) cepat banget, enggak selama film yang perlu pakai perubahan karakter. Ceritanya cepat banget tapi sampai ke penonton. Aku sendiri suka nonton mini seri jadinya ketagihan juga sih,” ujar gadis kelahiran 25 Agustus 2000 itu.

Baca juga: “Running Girl”, kisah Amanda Rawles jadi pelari cantik
Baca juga: Amanda Rawles bakal tampil jadul di film baru Mira Lesmana-Riri Riza

 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Running Girl”, kisah Amanda Rawles jadi pelari cantik

Jakarta (ANTARA) – Viu kembali menghadirkan serial original berjudul “Running Girl”, yang mengisahkan pelari cantik yang diperankan oleh Amanda Rawles.

“Running Girl” bercerita tentang Amanda, seorang mahasiswi perguruan tinggi negeri yang aktif, cerdas, dan sangat menyukai aktivitas luar ruangan. Dia juga suka berpartisipasi dalam kompetisi maraton dan tidak pernah takut kehilangan kecantikannya saat berada di bawah terik matahari.

Hobi Amanda berlari maraton mempertemukannya dengan Dante (Endy Arfian Putra). Dante terpesona dengan kegigihan dan kecantikan wajah Amanda yang tetap cerah dan bersih meski terpapar sinar matahari terus-menerus.

Baca juga: Amanda Rawles bakal tampil jadul di film baru Mira Lesmana-Riri Riza “Kami melihat bahwa “Running Girl” merupakan sebuah contoh tentang kisah menarik dari Indonesia yang perlu diceritakan, sesuai dengan komitmen kami untuk berinvestasi pada bakat dan talenta lokal. Kami berharap serial pendek ini dapat diterima dengan baik oleh masyarakat,” ujar Myra Suraryo, wakil presiden senior Viu untuk pemasaran Indonesia, dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa.

Serial pendek ini disutradarai oleh Hilman Mutasi. Melalui serial tersebut, Hilman ingin menyampaikan kepada generasi Z untuk tidak mudah menyerah.

Baca juga: Cara Amanda Rawles “bersahabat” dengan matahari

“Running Girl juga ingin menyampaikan pesan kepada Gen Z Indonesia untuk menjadi berani, tidak mudah menyerah, dan tetap fokus pada tujuan yang ingin mereka capai,” kata Hilman.

Sejak syuting serial mini ini, Amanda Rawless mengaku jadi senang dengan olah raga lari. Bahkan dia ingin mencoba untuk ikutan lari maraton.

“Aku jadi terinspirasi dari karakter ini juga. Sebelumnya ogah-ogahan sih olah raganya,” kata Amanda.

“Running Girl” mulai tayang di Viu Indonesia dan Malaysia pada 21 Maret hingga 30 April 2019.

Baca juga: Bekraf gandeng Viu kembangkan ekosistem film Indonesia
Baca juga: Viu bangkitkan film lokal lewat festival

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Siswa SMK bikin film Aqidah Cinta

Rencananya film ini juga akan ditayangkan di bioskop

Jakarta (ANTARA) – Sejumlah siswa dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Dewi Sartika Jakarta dan Sekolah Menengah Atas (SMA) Global Islamic School berkolaborasi membuat film berjudul Aqidah Cinta.

“Film ini bagus karena semua pemainnya adalah siswa SMA dan SMK. Begitu juga kru-nya juga dari siswa. Ada beberapa film yang dibuat siswa tapi untuk kru-nya biasanya dari rumah produksi,” ujar Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Dr Maman Wijaya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa.

Dengan keterlibatan siswa baik sebagai pemain dan juga kru-nya, Maman berharap para siswa bisa belajar banyak dari pengalaman tersebut. Sehingga menjadi bekal para siswa ketika terjun di dunia industri.

Maman berharap dengan dimulainya pengerjaan film yang berjudul Aqidah Cinta tersebut, menjadi tonggak perfilman sekolah menengah. Film merupakan salah satu instrumen pendidikan.

“Terimakasih kepada sekolah yang telah menginisiasi pembuatan film oleh siswa,” kata dia.

Kepsek SMK Dewi Sartika, Gilang Gerrialga, mengatakan semua pemain dan kru dari film tersebut merupakan siswa SMK Dewi Sartika dan SMA Global Islamic School. Sebelumnya, mereka hanya membuat film-film pendek.

“Ini pertama kalinya, kami membuat film panjang dengan durasi 90 menit. Rencananya film ini juga akan ditayangkan di bioskop,” ujar Gilang.

Wakil Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), Dody Budiatman, mengatakan sebelum film ditayangkan maka harus melalui seleksi di LSF terlebih dahulu.

“Mendengar LSF, banyak yang takut. Takut filmnya diobrak-abrik. Sekarang LSF tidak seperti itu sekarang,” kata Dody.

Dody mengatakan LSF tidak hanya melihat film sebagai karya seni, tapi berpotensi membangun karakter bangsa, meningkatkan ketahanan dan alat promosi.

Baca juga: YouTube susul Amazon masuk bioskop
Baca juga: Keunggulan menyaksikan film di bioskop ketimbang platform digital
 

Pewarta: Indriani
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Abimana senang tapi takut perankan Gundala

Jakarta (ANTARA) – Sebagai aktor berpengalaman, Abimana Aryasatya masih menyimpan perasaan yang tidak biasa saat dipilih sebagai pemeran pahlawan super Indonesia, “Gundala”.

“Perasannya senang, tapi juga takut seperti melihat lahiran anak,” ujar sang aktor berusia 36 tahun itu dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Selasa.

Abimana mengaku aktingnya sangat terbantu oleh arahan Joko Anwar sebagai sutradara dan penulis skenario.

“Kerja dengan Joko sangat mudah karena dia tahu apa yang mau dia sampaikan. Semua sudah dipikirkan dan dikonsep olehnya.”
  Muzakki Ramdhan di film “Gundala” (HO/ist)

Sebagaimana Abimana, pemeran tokoh Sancaka, nama asli Gundala kecil, Muzakki Ramdhan juga mengaku senang walau kelelahan.

“Om Joko selalu bilang ke aku untuk selalu memberikan penampilan terbaik. Biasanya kalau sudah selesai syuting, aku disuruh menemani Om Joko dulu, sampai ngantuk baru aku pulang.” ujar aktor kecil berusia sembilan tahun itu.

Abimana dan Muzakki berbagi layar sebagai Sancaka.

Sancaka atau Gundala adalah tokoh komik rekaan Harya Suraminata yang muncul pertama kali dalam komik Gundala Putra Petir pada 1969.

Total 23 komik sudah diterbitkan oleh Harya sepanjang hidupnya. Kini hak cipta Gundala dipegang oleh Bumilangit, rumah bagi lebih dari 1.000 karakter komik Indonesia.

Film Gundala dijadwalkan tayang pada 2019. Film itu diproduksi oleh Screenplay Films, Bumilangit Studios, serta Legacy Pictures.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Police Evo”, Film laga pertama Raline Shah

Jakarta (ANTARA) – Aktris Raline Shah debut di film genre laga berjudul “Police Evo”, hasil kolaborasi Screenplay Films, Astro Shaw, SCM dan Blackflag yang akan tayang pada 18 April 2019 mendatang.

Sebagai pemain utama, Raline menjalani serangkaian latihan fisik dan belajar menembak.

“Karakter Rian sebagai polisi menjadi karakter yang paling kuat dan tidak mudah untuk saya perankan apalagi saya belum pernah main film action. Jadi, untuk menjadi Rian adalah tantangan dan pengalaman seru bagi saya,” kata Raline dalam siaran pers, Senin.

“Hampir 8 bulan saya latihan fisik, latihan menggunakan senjata setiap hari selama 3 jam. Ada target berat badan harus naik 5 kg, jadi saya harus latihan disiplin mulai dari angkat beban. Kemudian harus belajar bela diri. Semua saya lakukan demi peran di film Police Evo,” lanjutnya.

Dalam trailer film berdurasi 1 menit 20 detik, terlihat berbagai suguhan laga dan aksi tembak yang menegangkan. Adegan awal dibuka dengan percakapan tentang sebuah misi yang harus dijalankan Rian (Raline Shah). Rian adalah seorang anggota polisi yang ditugaskan untuk membongkar jaringan narkoba.

Baca juga: Raline Shah rasakan tayangan perdana “Dumbo” di Hollywood

Usaha Rian dalam menjalankan misinya ternyata tidak mudah. Statusnya sebagai polisi dipertanyakan. Di sisi lain, kelompak mafia yang diincar berubah menjadi kelompok ekstremis.

Pada saat itulah Rian bersama rekan-rekannya harus melumpuhkan kelompok tersebut. Deru tembakan dan suara ledakan mewarnai aksi Rian dan kawan-kawannya.

Selain Raline Shah, sejumlah pemain yang turut membintangi film “Police Evo” diantaranya Tanta Ginting, Mike Lucock, Shaheizy Sam, Zizan Razak dan Hasnul Rahmat.

Baca juga: “Orang Kaya Baru” tembus sejuta penonton

Baca juga: Kemarin, para pemenang Grammy hingga Samsung Galaxy M20 hadir di Indonesia

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kekuatan “Captain Marvel” tak tertandingi di box office

Jakarta (ANTARA) – Belum ada yang bisa menandingi kekuatan “Captain Marvel” pada pekan kedua box office. Film Marvel Studio pertama yang dipimpin oleh perempuan ini meraup 69 juta dolar AS atau Rp981,6 miliar sehingga pendapatan domestiknya saat ini mencapai 265 juta dolar AS atau Rp3,7 triliun.

Di luar negeri, film yang dibintangi oleh Brie Larson itu telah mengumpulkan lebih dari 494 juta dolar AS atau Rp7,02 triliun sehingga pendapatan globalnya sejauh ini mencapai 760 juta dolar AS atau Rp10,8 triliun, dilansir Aceshowbiz, Senin.

Dalam dua minggu, film ini telah melampaui pendapatan “Ant-Man and the Wasp” (623 juta dolar atau Rp8,86 triliun), “Iron Man 2” (624 juta dolar atau Rp8,87 triliun), “Thor: The Dark World” (645 juta dolar atau Rp9,17 triliun) dan “Captain America: The Winter Soldier” (714 juta dolar atau Rp10,14 triliun) secara global.

Namun “Captain Marvel” mengalami penurunan sebanyak 54,8 persen di minggu kedua jika dibandingkan dengan pendahulunya “Avengers: Infinity War”. Pada tahap ini, film yang diarahkan oleh Anna Boden dan Ryan Fleck akan dengan mudaj bergabung dengan klub 1 miliar dolar atau Rp14,2 triliun dalam waktu singkat.

Sementara itu, peringkat kedua box office pekan ini diduduki oleh “Wonder Park” yang memulai debut dengan angka 16 juta dolar atau Rp227,3 miliar. Film animasi dari Paramount Pictures itu menghabiskan biaya produksi mencapai hampir 100 juta dolar atau Rp1,4 triliun.

Ulasan para kritikus ternyata tidak membantu peruntungan film ini karena hanya memiliki peringkat persetujuan sebesar 30 persen di Rotten Tomatoes. Namun penonton lebih menghargai dengan memberikan nilai B+ di CinemaScore.

Paul Dergarabedian analis media senior untuk Comscore mengatakan bahwa sulit untuk bersaing dengan “Captain Marvel” yang bisa disaksikan untuk semua umur dan audiensi.

“Anda tidak selalu harus jadi nomor satu untuk sukses. Dan “Five Feet Apart” telah membuktikan hal itu,” kata Paul.

Pada posisi ketiga box office ditempati oleh “Five Feet Apart”. Lalu disusul dengan “How to Train Your Dragon: The Hidden World” dan “Tyler Perry’s a Madea Family Funeral”.

Baca juga: “Captain Marvel”, kisah super hero perempuan tayang hari ini

Baca juga: Brie Larson “Captain Marvel” dorong inklusi di balik layar

Baca juga: Beradegan dengan kucing, Brie Larson “Captain Marvel” alergi

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Richard Erdman, aktor “Community” dan “Twilight Zone” tutup usia

Jakarta (ANTARA) – Richard Erdman, aktor senior yang berperan sebagai mahasiswa lanjut usia bernama Leonard di serial “Community” tutup usia.

Pria yang juga membintangi serial televisi “Twilight Zone” dan “Stalag 17” itu meninggal pada usia 93 tahun, Sabtu (16/3), demikian seperti dikutip dari laman Variety, Minggu (17/3).

Kematiannya dikabarkan sahabatnya, seorang sejarawan film Alan K Rode lewat Twitter.

Bintang “Community” Joel McHale menyampaikan penghormatannya bagi Erdman di Twitter. “Orang yang baik dan lucu. Kami akan merindukanmu ‘Leonard’,” katanya.

Aktris “Community” Yvette Nicole Brown juga mencuit kata-kata perpisahan untuk sang aktor. Ia menyebut Erdman adalah kegembiraan.

Sementara itu, komedian dan aktor “Community” Ken Jeong menyampaikan duka lewat Facebook.

“Terima kasih Richard Erdman sudah memberkati kami dengan kecerdasan mu. Baik, lembut dan pemberani. Sukses di tiap pengambilan adegan. Selalu membuat ku tertawa terbahak-bahak.”

Karir Richard Erdman dimulai sekitar tahun 1940-an lewat sejumlah komedi dan musikal. Pada 1953 dia bermain di komedi perang Billy Wilder “Stalag 17”, dsebagai ketua barak Sersan Hoffy Hoffman.

Lahir di Oklahoma, Erdman besar di Colorado Springs sebelum pindah ke Hollywood di mana dia masuk SMA Hollywood High dan kemudian dengan cepat ditemukan oleh pencari bakat dan dikontrak Warner Bros.

Dia mulai muncul di TV awal 1950-an lewat “Where’s Raymond?”, “Alfred Hitchcock Presents” dan “Make Room for Daddy.”

Sementara suaranya mengisi sejumlah film mulai dari “The Smurfs”, “Scooby-Doo” dan “Duck Tale.”

Istri dan putrinya sudah meninggal lebih dulu, demikian seperti dilansir The Verge.
 

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Cara Garin Nugroho manfaatkan gawai, rekam ide hingga tulis naskah

Gunakan handphone untuk kreativitas

Jakarta (ANTARA) – Sutradara Garin Nugroho menyatakan kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh para pembuat film, termasuk untuk menunjang proses kreatif dalam pembuatan sinema.

Pada LA Indie Movie “Your Movie Goes Digital” di Jakarta, Garin mengatakan kemajuan teknologi tidak bisa dilawan. Dia pun sudah mengalami berbagai perubahan dalam perkembangan pembuatan film, mulai dari mengambil gambar dengan kamera 8mm sampai menggunakan ponsel.

Garin mengatakan, sebuah ponsel bisa digunakan untuk melahirkan ide sebuah film, menulis naskah, membuat proposal ataupun melakukan audisi.

“Harus memanfaatkan secara produktif dan memanfaatkan alternatif lain. Teknologi itu selalu melahirkan pilihan. Dunia digital adalah jalan raya terbesar, perpustakaan terbesar, transformasi terbesar, distribusi terbesar, studio terbesar dan outlet terbesar bagi setiap orang,” ujar sutradara “Kucumbu Tubuh Indahku” itu, Sabtu.

“Sekarang itu hidup dengan handphone. Anda punya ide, misalnya kayak saya rekam aja Rianto (pemain “Kucumbu Tubuh Indahku”) sedang nari, lalu saya kirim aja ke produser ini bagus lho, tinggal cari referensi untuk tambahannya. Atau jadi bahan riset, rekam lalu kasih ke calon sponsor. Kalau hasil riset Anda bagus, itu bisa jadi studio kecil Anda,” jelas Garin.

Baca juga: Film Indonesia butuh perspektif perempuan

Garin mengaku banyak mendapat pekerjaan lewat sosial media. Biasanya, mereka menawarkan dengan mengirim pesan pribadi.

“Saya banyak dapat pekerjaan dari Instagram. Ditawarin isi workshop dan lainnya. Kita bisa membuat sosial media sesuai dengan kebutuhan kita, bisa jadi studio, jadi warung kopi atau apapun yang kita butuhkan,” katanya.

“Banyak orang yang tidak menggunakan handphone untuk perpustakaan dan referensi. Padahal ini adalah perpustakaan dan referensi yang terbesar,” lanjut Garin.

Sayangnya, menurut Garin masyarakat belum mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi sehingga sampai saat ini Indonesia hanya menjadi followers saja.

“Teknologi membuat hidup Anda lebih efektif. Persoalannya, kalau menulis pada maunya ditempat khusus. Saya bisa nulis di tengah ombak, di mobil. Orang mengatakan era digital di mana-mana tapi kemampuan Anda enggak ada di mana-mana, enggak mampu beradaptasi dengan dunia digital. Gunakan handphone-mu untuk kreativitas,” tutup Garin.

Baca juga: Film Indonesia butuh perspektif perempuan

Baca juga: Keroncong hingga hip-hop, peran musik dalam film Asia Tenggara

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Keunggulan menyaksikan film di bioskop ketimbang platform digital

Jakarta (ANTARA) – Sutradara Indonesia Garin Nugroho berpendapat bahwa penonton akan tetap memilih bioskop untuk menyaksikan film favoritnya kendati saat ini bermunculan platform film digital yang menawarkan kemudahan untuk menyaksikan sinema.

Ia menilai bioskop akan tetap menjadi pilihan pertama masyarakat untuk menyaksikan film karena kemampuannya dalam menghadirkan gambar dan suara tidak bisa didapatkan dari ponsel, PC atau televisi.

“Tontonan bioskop dan tontonan di handphone mengalami perubahan-perubahan yang sangat dahsyat. Tapi tetap tontonan yang memiliki syarat terbaik tetap bioskop karena memiliki fokus, ruang lebar dan suara yang baik masih di bioskop,” kata sutradari “Nyai” itu kepada Antara di Jakarta, Sabtu.

Garin mengatakan, terjadi perubahan besar pada industri film Indonesia dan dunia, terutama saat platform digital seperti Netflix dan Iflix muncul dan menjanjikan pengalaman yang berbeda kepada penonton yakni, menyaksikan banyak film dalam genggaman.

Kendati demikian, kata Garin, platform digital memiliki beberapa kelemahan, salah satunya adalah tidak membuat penonton fokus karena bisa dibarengi dengan kegiatan lain seperti makan.

“Kelemahannya tidak fragmentasi, tidak fokus karena nontonnya sambil makan, sambil pacaran, suaranya kecil. Tapi dia memang punya apa yang disebut sebagai ruang distribusi yang sangat beragam, itulah ciri zaman ini,” jelas Garin.

“Percepatan film mengalami hal yang luar biasa. Dulu dari bioskop ke TV bisa dua tahun, sekarang jarak antara tayang di bioskop dan diputar di TV cuma dua bulan. Tapi bioskop tetap menjadi tiang utamanya,” lanjutnya.

Baca juga: Cara Garin Nugroho manfaatkan gawai, rekam ide hingga tulis naskah

Baca juga: Film “Kucumbu Tubuh Indahku” Garin Nugroho segera tayang

Baca juga: Film Indonesia butuh perspektif perempuan

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemeran baru Warkop DKI Reborn

Aktor Indro Warkop menyerahkan potongan tumpeng kepada Randy Danistha (kedua kiri), Adipati Dolken (kedua kanan) dan Aliando Syarief (kanan) pada jumpa pers pemeran baru film Warkop DKI Reborn di Jakarta, Jumat (15/3/2019). Rumah produksi Falcon Pictures mengumumkan tiga aktor pemeran baru pada film Warkop DKI Reborn yang akan datang yakni Aliando Syarief sebagai Dono, Adipati Dolken sebagai Kasino dan Randy Danistha sebagai Indro. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/pras.

“A Private War”, pergulatan seorang jurnalis perang

Jakarta (ANTARA) – Setiap profesi tentu punya risiko. Bagi wartawan perang, risiko itu adalah nyawanya sendiri. Ada banyak alasan untuk terus bertahan meski digempur dengan bahaya sepanjang waktu.

Serangan, ledakan, penembakan dan bentrokan bukan hal asing bagi koresponden veteran The Sunday Times Marie Colvin, demikian tayangan film biografi “A Private War” di bioskop di Jakarta, pekan ketiga Maret.

Marie Colvin (Rosamund Pike) tidak suka berada di zona perang, tapi tempat berbahaya tersebut bagai magnet untuk jurnalis perang Amerika yang bekerja di surat kabar Inggris itu.

Menjadi saksi mata di berbagai medan perang harus dibayar Marie dengan kehilangan satu mata yang terluka akibat serangan granat di Sri Lanka.

Semenjak itu, Marie selalu mengenakan penutup mata, layaknya bajak laut. Tapi, dia seakan tidak kapok untuk terjun ke zona perang lain.

Bersama fotografer Paul Conroy (Jamie Dornan), Marie menyampaikan kisah-kisah warga sipil yang jadi korban tak bersalah dari perang hingga mengungkap pelecehan seksual yang menimpa perempuan-perempuan di daerah konflik.
  A Private War (HO/ist)

Jurnalis peraih penghargaan British Press Award itu berhadapan dengan Muammar Gaddafi dalam sebuah wawancara ketika meliput situasi konflik di Baghdad hingga Homs di Suriah. Itulah liputan terakhirnya karena nyawanya direnggut di sana akibat serangan bom.

Beberapa jam sebelum kematiannya pada usia 56 tahun, Marie tampil di program berita Amerika dan Inggris, melaporkan pengalaman mengerikan melihat balita Suriah kehilangan nyawa akibat serangan militer. A Private War (HO/ist)

Film berdurasi satu jam 50 menit itu menghadirkan adegan-adegan yang membuat jantung berdegup kencang dan menguras adrenalin, apalagi cerita yang disuguhkan diangkat dari kisah nyata.

Aktris Rosamund Pike betul-betul berubah drastis dalam menghayati peran Marie Colvin.

Lupakan sosok perempuan rapi dan menawan di film “Gone Girl” karena di “A Private War”, Rosamund tampil sangat berbeda.

Gaya rambutnya berantakan, suara yang berat akibat terlalu banyak merokok serta jiwa yang terguncang akibat melihat banyak hal-hal traumatis di medan perang.

“A Private War” bukan cuma bercerita tentang perang yang dilihat oleh Marie Colvin, tetapi pergulatannya menghadapi diri sendiri, gangguan stres pascatrauma (PTSD) atas apa yang dilihatnya selama jadi jurnalis perang, profesi yang melekat hingga akhir hayatnya.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rekomendasi film Australia dari Mira Lesmana (Video)

Jakarta (ANTARA) – Film adalah medium untuk mengenal kehidupan orang lain di berbagai tempat, sehingga  produser Mira Lesmana selalu penasaran dan ingin menikmati karya-karya sineas dari penjuru dunia, termasuk Australia.

Produser yang dipilih sebagai Sahabat Festival Sinema Australia Indonesia 2019 itu kemudian berbagi rekomendasi film-film dari Negeri Kangguru yang wajib ditonton.

1. Picnic at Hanging Rock

Film drama misteri yang disutradarai Peter Weir ini tayang pada 1975. Film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Joan Lindsay. “Picnic at Hanging Rock” berkisah tentang menghilangnya beberapa siswi dan guru saat berpiknik di Hanging Rock, Victoria, pada hari Valentine tahun 1900.

2. Gallipoli

Film ini juga disutradarai Peter Weir dan dirilis di Australia pada 1981. Dibintangi Mel Gibson, “Gallipoli” berkisah tentang pemuda-pemuda yang menjadi tentara Australia saat Perang Dunia I. Film ini disebut memperlihatkan kehidupan di Australia pada era 1910-an.

3. Lantana

Film drama ini dirilis pada 2001. “Lantana” disutradarai Ray Lawrence ini membawa pulang gelar film terbaik dan skenario adaptasi terbaik dari Australian Academy of Cinema and Television Arts Awards.

Mengambil latar belakang Sydney,
“Lantana” berkisah tentang hubungan rumit antara karakter-karakter dalam film. Lantana diambil dari nama tanaman tempat seorang mayat perempuan ditemukan di awal film ini.

4. Rabbit-Proof Fence

Film arahan Phillip Noyce ini diangkat dari buku “Follow the Rabbit-Proof Fence”. Film ini berkisah tentang keluarga Aborigin yang berjalan kaki selama sembilan pekan untuk kembali ke komunitas mereka di Jigalong, melarikan diri dari penegak hukum kulit putih dan para pelacak Aborigin.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penghargaan Indonesian Movie Actors Awards 2019

Aktris Nirina Zubir memberikan sambutan pada acara Indonesian Movie Actors Awards 2019 di Jakarta, Kamis (14/3/2019). Nirina terpilih sebagai pemeran pasangan terbaik bersama Ringgo Agus Rahman dalam Film Keluarga Cemara. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/aww.

Livi Zheng sabet penghargaan berkat “Bali Beats of Paradise”

Jakarta (ANTARA) – Sutradara Indonesia Livi Zheng mendapat penghargaan Tourism Marketeers of The Year 2019, berkat film “Bali Beats of Paradise” yang telah mempromosikan destinasi wisata nusantara ke dunia.

Penghargaan yang pertama kali diterima Livi di Indonesia itu diserahkan pada ajang WOW BRAND Festive Day 2019, di Ballroom Raffles Hotel, Jakarta, Kamis.

“Senang banget karena film ‘Bali Beats of Paradise’ diapresiasi. Ini adalah penghargaan pertama yang saya terima di Indonesia,” ujar Livi usai menerima penghargaan.

Acara ini juga dihadiri oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia, Imam Nahrawi, yang kemudian menantang Livi untuk kembali mengangkat budaya lain di Indonesia.

“Saya ingin pencak silat suatu saat bisa diangkat oleh Livi. Apa yang beliau lakukan itu begitu bermakna untuk Indonesia,” kata Imam.

Menanggapi tantangan dari Imam Nahrawi, Livi mengatakan bahwa dia dan timnya sudah melakukan riset di beberapa daerah Indonesia.

“Sebenarnya saya sudah pernah syuting di Madura, Jawa Barat, Yogyakarta. Tim saya juga sudah survei di beberapa tempat. Karena Indonesia punya banyak budaya dan tempat yang menarik untuk diangkat,” jelas Livi.

“Bali Beats of Paradise” rencananya akan tayang di bioskop tanah air pada Juli 2019.

“Semoga bulan Juli nanti antusiasnya sama kayak yang di luar negeri. Karena di luar negeri sangat antusias dan cukup sering sold out. Hopefully di Juli juga tinggi,” katanya.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Ada Apa Dengan Cinta?” hadir lagi di bioskop

Jakarta (ANTARA) – Film remaja fenomenal “Ada Apa Dengan Cinta?” (AADC) dan sekuelnya kembali hadir secara terbatas di layar lebar sebagai bagian dari Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) 2019.

Dipilihnya film AADC itu merupakan keputusan dari penyelenggara, kata produser Mira Lesmana yang didapuk sebagai Sahabat Festival Sinema Australia Indonesia 2019.

Meski demikian, sebenarnya ada hubungan antara film yang dibintangi Dian Sastrowardoyo itu dengan Negeri Kangguru.

“Film Ada Apa Dengan Cinta pernah masuk kurikulum di sekolah Australia,” kata Mira usai pembukaan FSAI 2019, Jakarta, Kamis.

Film itu ditonton oleh murid-murid di sekolah Australia untuk mempelajari bahasa serta kehidupan di Indonesia.

“Ada Apa Dengan Cinta?” dan sekuelnya bakal tayang pada 16 Maret 2019 di Jakarta dan Mataram, tanggal 23 Maret di Makassar, 24 Maret di Bandung dan 30 Maret di Surabaya.

Selain film remaja itu, industri perfilman Indonesia juga diwakili oleh karya sutradara Kamila Andini “Sekala Niskala”.

FSAI yang memasuki tahun keempat diadakan di Jakarta, Surabaya, Makassar dan untuk pertama kalinya di Bandung dan Mataram.

Film-film Australia lain yang tayang di festival ini meliputi drama keluarga “Storm Boy”, film thriller fiksi ilmiah alien “Occupation” serta film dokumenter mengenai paduan suara perempuan penduduk asli Australia “The Song Keepers”, juga “Ladies in Black.

Baca juga: Dian Sastro merasa lebih cantik di sekuel AADC

Baca juga: Paket wisata film AADC 2 dijual di Malaysia

Baca juga: Dian Sastro berbagi cerita nyetir Mitsubishi di AADC 2

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Merayakan kolaborasi di Festival Sinema Australia Indonesia 2019

Jakarta (ANTARA) – Festival Sinema Australia Indonesia (FSAI) resmi dibuka di Jakarta dengan pemutaran perdana “Ladies in Black”, film Australia pemenang penghargaan Australia Academy of Cinema and Television Arts 2018.

“Festival Sinema Australia Indonesia adalah platform hebat untuk menghubungkan para sineas Australia dan Indonesia,” kata Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gary Quinlan dalam pembukaan FSAI 2019 di Jakarta, Kamis.

FSAI yang memasuki tahun keempat akan diadakan di Jakarta, Surabaya, Makassar dan untuk pertama kalinya di Bandung dan Mataram.

“Kita gampang nonton film Hollywood, tapi jarang bisa nonton film Australia di layar lebar,” ujar produser Mira Lesmana yang dinobatkan sebagai Sahabat FSAI 2019.

Selain membawa beragam film kepada penonton Indonesia, FSAI menawarkan peluang untuk membangun persahabatan antara industri film Australia dan Indonesia.

Serangkaian masterclass pun digelar dengan tujuan meningkatkan kolaborasi antara sineas dari dua negara.

Paul Damien Williams, sutradara dan penulis film dokumenter “Gurrumul” juga menghadiri pembukaan festival di Jakarta.

Paul akan hadir dalam sesi tanya jawab serta menghadiri masterclass di Jakarta serta Mataram.

Simon Wilmot dan Dr. Victoria Duckett, dosen dari Deakin University, juga akan menjadi pemateri di lokakarya untuk sineas muda Indonesia di Jakarta, Makassar dan Bandung.

Mira menyambut gembira adanya peluang kolaborasi ini. Dia berpendapat pendidikan film di Indonesia masih harus ditingkatkan dan masterclass yang jadi bagian festival ini bisa menambah ilmu para sineas muda untuk menghasilkan karya yang lebih berkualitas.

Film-film Australia lain yang akan tayang di festival ini meliputi drama keluarga “Storm Boy”, film thriller fiksi ilmiah alien “Occupation” serta film dokumenter mengenai paduan suara perempuan penduduk asli Australia “The Song Keepers”.

Film remaja fenomenal Tanah Air yang banyak dicintai penonton Indonesia, “Ada Apa Dengan Cinta?” juga kembali ditayangkan atas permintaan khalayak ramai.

Sekuelnya, “Ada Apa Dengan Cinta? 2” juga bisa disaksikan di festival yang didukung Australia now ASEAN, inisiatif pemerintah Australia merayakan inovasi, kreativitas dan gaya hidup Australia di Asia Tenggara sepanjang 2019.

Tak hanya karya dari produser Mira Lesmana yang jadi Festival Sinema Australia Indonesia, penonton juga dapat menyaksikan film pemenang penghargaan karya Kamila Andini, “The Seen and Unseen” atau “Sekala Niskala”.

Tiket untuk film-film yang diputar di FSAI tersedia di fsai2019.eventbrite.com yang bisa didapat secara cuma-cuma.

Baca juga: Alasan Ernest rilis film saat akhir tahun

Baca juga: “AADC” sangat mungkin dibikin universenya

Baca juga: Mira Lesmana-Riri Riza buat versi Indonesia Film Korea “Sunny”

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Stan Lee akan hadir sebagai cameo di “Avengers: Endgame”

Jakarta (ANTARA) – Bos Marvel Studios, Kevin Feige mengonfirmasi bahwa Stan Lee akan hadir sebagai cameo dalam film “Avengers: Endgame”.

Dalam sebuah wawancara di acara Entertainment Tonight, Feige mengatakan bahwa kehadiran Lee di “Avengers: Endgame” bukanlah yang terakhir.

Bahkan saat ditanya apakah Lee akan muncul di “Spider-Man: Far From Home”, ia menjawab: “Kita akan lihat. Kami sudah syuting untuk beberapa lagi…,” ujar Feige, seperti dikutip dari NME, Kamis.

Stan Lee, penulis komik, produser dan mantan pemimpin redaksi Marvel, memang sering menjadi cameo di setiap film Marvel Cinematic Universe.

Lee meninggal tahun lalu pada usia 95 tahun.

“Avengers: Endgame” disebut sebagai akhir dari seri “Avengers”. Feige sebelumnya telah berbicara tentang pentingnya sekuel “Avengers: Infinity War” itu.

“Ini akan membawa Anda pada hal-hal yang belum pernah Anda lihat dalam film superhero. Ini adalah final,” jelas Feige.

Baca juga: “Avengers: Endgame” jadi film Marvel terakhir Gwyneth Paltrow
Baca juga: Trailer “Avengers Endgame” ungkap pentingnya Ant-Man

 

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ini bocoran film horor Roy Kiyoshi

Jakarta (ANTARA) – Paranormal Roy Kiyoshi akan membintangi film terbaru tentang kasusnya yang belum pernah dipublikasikan di media massa serta mengusut masa lalunya yang misterius.

Film besutan sutradara Jose Poernomo itu, dalam keterangan pers rumah produksi MVP Pictures yang diterima Antara di Jakarta, Kamis, bercerita tentang keahlian Roy dalam menyelesaikan persoalan magis.

Pria berusia 32 tahun itu dikisahkan berhasil menyelamatkan nyawa seorang anak dari ancaman makhluk halus jahat sebagai sebuah kasus yang ditanganinya.

Setibanya di rumah, Roy terkejut karena Rani, adiknya, melakukan ritual pemanggilan roh jahat berupa api, Banaspati. Rani tidak menyadari kegiatannya itu berakibat dia diculik oleh Banaspati.

Roy, yang diselimuti rasa putus asa, lantas terjebak dalam kebiasaan buruk karena merasa gagal menyelematkan Rani.

Pria kelahiran Jakarta itu harus bergelut dengan dilema antara kondisi tak menentu dirinya dengan kemungkinan menyelamatkan Rani.

Adalah Sheila (Angel Karamoy), seorang aktivis lembaga swadaya masyarakat yang menggantikan pekerja yang tewas secara misterius hadir dalam kehidupan Roy.

Sheila meyakini Roy punya kemampuan luar biasa untuk bisa menyelamatkan adiknya. Tapi, usaha itu tidak berlangsung mudah.

Apakah Sheila berhasil meyakinkan Roy seraya menemukan jawaban Rani dan anak-anak lain yang hilang diculik Banaspati?

Film “Roy Kiyoshi The Untold Story” akan tayang di Indonesia, mulai 21 Maret 2019.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019