Analis: IHSG ditutup turun tipis dan cenderung melemah jelang Pemilu

Sentimen eksternal relatif datar, saat ini fokusnya ke pelaksanaan pemilu hingga hasil hitung cepat

Jakarta (ANTARA) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat sore ditutup melemah tipis menjelang penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu)  2019 yang akan memilih presiden/wakil presiden dan legislatif pada 17 April.

IHSG BEI ditutup melemah sebesar 4,30 poin atau 0,39 persen menjadi 6.405,86. Sedangkan kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 bergerak naik 0,50 poin atau 0,05 persen menjadi 1.008,46.

“Pelaku pasar saham cenderung mengambil posisi wait and see menjelang Pemilu sehingga pergerakan IHSG relatif mendatar dengan kecenderungan melemah,” ujar Analis Indopremier Sekuritas, Mino, di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, fokus pelaku pasar saham yang saat ini menginginkan pelaksanaan pesta demokrasi nanti berjalan kondusif adalah agenda pemilu.

“Sentimen eksternal relatif datar, saat ini fokusnya ke pelaksanaan pemilu hingga hasil hitung cepat,” katanya.

Pelaku pasar saham, tambah dia, mengharapkan pemenang pemilu adalah pasangan calon yang menang di survei yang beredar agar tidak menimbulkan kekhawatiran.

“Kalau pasangan lain yang menang maka kita harus meraba-raba lagi programnya,” kata Mino.

Kepala Riset Valbury Sekuritas Alfiansyah menyebutkan IHSG masih berkonsolidasi di tengah dinamika politik, menjelang pemilu yang tinggal menghitung hari.

“Situasi global masih menantang, kendati masih adanya poin positif dari pembicaraan AS-China, ditambah pemilu yang diselenggarakan pekan depan, masih mendorong IHSG bergerak sideways cenderung melemah,” katanya.

Sementara itu tercatat, frekuensi perdagangan saham pada hari ini (12/4) sebanyak 407.398 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 17,02 miliar lembar saham senilai Rp12,35 triliun. Sebanyak 158 saham naik, 232 saham menurun, dan 138 saham tidak bergerak nilainya.

Bursa regional, di antaranya Indeks Nikkei menguat 159,18 poin (0,73 persen) ke 21.870,56, Indeks Hang Seng menguat 70,31 poin (0,24 persen) ke 29.909,76, dan Indeks Straits Times menguat 1,16 poin (0,03 persen) ke posisi 3.331,98.

Baca juga: Analis: Rupiah menguat akhir pekan, tetap waspadai sentimen global

Baca juga: Harga emas jatuh, penurunan terbesar pada April

Baca juga: Bursa Singapura menguat, Indeks Straits Times ditutup naik 0,03

Baca juga: Bursa Malaysia menguat, Indeks Komposit KLCI ditutup naik 28,06 poin

Pewarta: Satyagraha
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemilu serentak digelar untuk WNI di Uni Emirat Arab

Kegiatan pemungutan suara Pemilu 2019 untuk WNI di Uni Emirat Arab di Tempat Pemungutan Suara (TPS) KBRI Abu Dhabi pada Jumat (12/4/2019). (KBRI Abu Dhabi)

Jakarta (ANTARA) – Kegiatan pemilihan umum (Pemilu) serentak 2019 bagi para warga negara Indonesia (WNI) di Uni Emirat Arab dilaksanakan oleh Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Abu Dhabi pada Jumat, 12 April 2019.

PPLN Abu Dhabi menyelenggarakan kegiatan Pemilu Serentak 2019 bagi WNI yang bermukim di Abu Dhabi pada hari ini (Jumat) sejak pukul 08.00 pagi hingga 18.00 sore di Tempat Pemungutan Suara (TPS) KBRI Abu Dhabi.

Selain melalui metode pemilihan TPS, kegiatan pemungutan suara di Abu Dhabi juga dilakukan dengan dua metode lain, yaitu Kotak Suara Keliling (KSK) dan Pos.

Tercatat 4.406 orang WNI terdaftar sebagai pemilih di Abu Dhabi. Dari angka tersebut, 2.667 orang memilih untuk mencoblos langsung di TPS, 812 orang dengan metode KSK, dan sisanya 927 orang melalui pos.

Khusus bagi pemilih dengan metode KSK, periode pemungutan suara adalah 8-11 April 2019. Sementara bagi pemilih yang menggunakan pos sudah dapat mencoblos lebih awal sejak menerima surat suara yang dikirimkan oleh petugas KPPSLN sejak pertengahan Maret 2019.

Pelaksanaan pemungutan suara dengan KSK dipusatkan di kota Abu Dhabi, Al Ain, dan Ruwais. Para petugas telah menemui langsung para pemilih yang berada di rumah-rumah, kantor tempat para pemilih bekerja, dan bahkan di atas kapal laut yang tengah bersandar.

Hal itu mengingat besarnya antusiasme para pelaut berkebangsaan Indonesia yang ingin menggunakan hak pilihnya namun terkendala dengan situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan untuk dapat mendatangi langsung TPS.

Kegiatan pemungutan suara di TPS KBRI Abu Dhabi dimeriahkan dengan kehadiran bazaar kuliner khas Indonesia dan diwarnai kegiatan bakti sosial pemeriksaan kesehatan gratis oleh sejumlah perawat yang tergabung dalam Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Uni Emirat Arab.

Pewarta:
Editor: Bambang Purwanto
Copyright © ANTARA 2019

Film horor Indonesia makin berkualitas, kata Nadya Arina

Jakarta (ANTARA) – Film horor Tanah Air sempat mendapat stereotipe kurang baik, tapi belakangan genre ini kembali naik daun seiring munculnya karya-karya yang dinikmati penonton.

Fenomena ini menjadi salah satu alasan Nadya Arina untuk membintangi “Pocong The Origin”, padahal awalnya dia ingin menjajal genre berbeda setelah berakting dalam film horor “Kafir” (2018).

“Tadinya habis ‘Kafir’ mau jeda, ambil drama atau genre lain,” kata Nadya usai pemutaran “Pocong The Origin”, Jakarta, Kamis (11/4).

Namun skenario yang berasal dari cerita “Pocong” karya Monty Tiwa yang tertunda selama 13 tahun itu mencuri hatinya.

“Kalau skrip suka, pasti aku lihat rumah produksinya, di belakang layar siapa saja, dan film ini sangat mendukung dari berbagai aspek,” tutur pemeran Sasthi itu.

Saat mendalami tokoh Sasthi, Nadya dituntut untuk bisa bermain ukulele yang sama sekali tida dikuasai sebelumnya.

Dia juga diminta untuk memperlihatkan kepiawaiannya menyanyikan lagu “Bumi” ciptaan Monty Tiwa dalam film tersebut.

Nadya yang berangkat dari serial televisi merasa beruntung bisa merasakan perbedaan produksi serial dan film layar lebar.

Menurut dia, keduanya butuh kemampuan akting, namun yang membedakan adalah keleluasaan untuk mengeksplorasi sebuah karya.

Dalam sinetron yang jarak jadwal syuting dengan penayangannya seringkali berdekatan, tidak banyak ruang tersisa untuk mengembangkan lagi apa yang disodorkan padanya.

“Di film, ada persiapan, ruang eksplorasi karya itu sendiri,” ujar dia.

Menjajal dua dunia itu tak berarti dia mengecilkan salah satunya. Selain film, Nadya masih mengambil proyek-proyek film televisi bila memang sesuai dengan jadwalnya.

“Kalau (syuting sinetron) stripping sudah tidak ambil karena tidak sesuai jadwal, karena harus tiap hari pulang pagi, belum sesuai sama (jadwal) aku.”

Baca juga: Pemain “Pocong The Origin” Nadya Arina tak mau golput

Baca juga: “Pocong The Origin”, horor berbalut drama keluarga

Baca juga: “Kafir, Bersekutu Dengan Setan,” horor klasik dengan cerita kuat

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kareena Kapoor beri dukungan pada Ad

Jakarta (ANTARA) – Aktris Bollywood Kareena Kapoor turut memberi dukungan kepada Ad, siswi SMP yang dilaporkan menjadi korban perundungan alias bullying di Pontianak.

“Kami semua di sini untukmu..,” tulis Kareena yang menyertai unggahan foto poster dengan tagar #JusticeForAudrey di akun resmi Instagram-nya yang dipublikasikan sekira 10 jam lalu.

“Sangat menyedihkan dan memuakkan mendengar kabar ini… Penyiksaan terhadap anak bukan hal yang main-main.”

Unggahan selama 10 jam itu sudah disukai oleh hampir 40 ribuan lebih pengguna Instagram.
 

Ad (14) adalah seorang siswi SMP di Pontianak Kalimantan Barat yang dilaporkan dikeroyok oleh sejumlah siswi SMA.

Akibatnya, korban mengalami trauma dan dirawat di sebuah rumah sakit. Pemicu peristiwa itu diduga akibat masalah asmara dan saling komentar di media sosial.

Kasus tersebut sempat menghebohkan dunia dengan menjadi trending topic di Twitter dan media sosial lainnya.

Selain itu, warganet juga membuat sebuah petisi di change.org guna menuntut keadilan untuk Ad.

Hingga saat ini, petisi online itu sudah ditanda tangani oleh 2.676.242 orang dari target 3.000.000 orang.

Baca juga: Akademisi: kasus Audrey mengingatkan pentingnya pendidikan karakter
Baca juga: KPAI sesalkan pengeroyokan Audrey

 

Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Pocong The Origin”, horor berbalut drama keluarga

Jakarta (ANTARA) – Karya terbaru Monty Tiwa, “Pocong The Origin”, menyajikan cerita horor yang tak cuma menawarkan adegan-adegan mengejutkan, tapi kisah drama mengharukan ayah dan anak dengan sedikit bumbu komedi yang membuat penonton bisa melepas ketegangan barang sejenak.

“Pocong The Origin” berkisah tentang Ananta (Surya Saputra), seorang pembunuh berdarah dingin yang dieksekusi mati oleh negara. Jasadnya diantar oleh putrinya, Sasthi (Nadya Arina), menuju kampung halamannya di Cimacan.

Sasthi berpacu dengan waktu menuju kampung Ananda, diantar sipir penjara bernama Yama (Samuel Rizal), dalam perjalanan yang penuh gangguan makhluk tak kasat mata.

Perjalanan semakin pelik dengan kehadiran pewarta bernama Jayanthi (Della Dartyan) yang memburu berita karena sahabat beserta keluarganya adalah korban Ananta.

Sutradara-penulis skenario Monty Tiwa pernah menulis cerita berjudul “Pocong” pada 2005 yang disutradarai Rudi Soedjarwo dan diproduksi Sinemart.

Namun, “Pocong” dilarang beredar oleh Lembaga Sensor Film dengan alasan masyarakat belum siap dengan konten di dalamnya.

Setelah 13 tahun berlalu, pembuat film horor “Keramat” (2009) itu masih merasa ada hutang kreatif yang belum lunas.

“Sebagai penulis, saat membuat karya rasanya seperti anak sendiri. Bayangkan, saya punya anak selama 13 tahun disayang tapi tidak boleh berkembang,” ujar Monty dalam konferensi pers usai penayangan “Pocong The Origin” di Jakarta, Kamis (11/4).

Cerita yang belum pernah disampaikan kepada publik itu bereinkarnasi lewat rumah produksi Starvision dengan modifikasi agar relevan dengan zaman.
  Pocong The Origin (Screenshot YouTube StarvisionPlus)

Sosok pocong yang jadi pusat cerita digambarkan lebih dari sekadar karakter antagonis. Seperti manusia yang punya sisi abu-abu, Ananta juga punya alasan di balik kebrutalannya sehingga menjadi seorang kriminal.

“Saya sedikit paranoid pas ditawarin, tapi ceritanya bagus, apalagi ini dibuat oleh Monty Tiwa,” kata Surya Saputra mengemukakan alasannya berperan sebagai Ananta.

Surya berhasil memperlihatkan sisi manusia Ananta dalam adegan-adegan kilas balik, membuat penonton bisa memaklumi sikap Sasthi yang bertentangan dengan pandangan orang lain menghadapi Ananta si pembunuh.

Selain itu, Surya juga ditantang untuk mengalahkan rasa takutnya pada tempat sempit karena dia harus dililit kain putih saat menjadi pocong.
  Pocong The Origin (Screenshot YouTube StarvisionPlus)

Nuansa suram dalam film yang skenarionya juga ditulis oleh Eric Tiwa, kakak Monty, diseimbangkan dengan karakter dan dialog penuai tawa yang diwakili oleh aktor Samuel Rizal sebagai sipir sekaligus supir pengantar jasad Ananta.

Samuel melepaskan diri dari stereotipe pria kalem misterius yang terbentuk sejak membintangi “Eiffel I’m in Love” (2003). Karakter Yama yang bicara dengan logat Jawa kental membuat perjalanan Sasthi mengantarkan ayah ke liang lahat jadi lebih berwarna.

Ini juga jadi titik kembalinya Samuel beraksi di film horor setelah “Tusuk Jelangkung” yang dirilis pada 2003 silam.

Film ini juga dibintangi oleh Tyo Pakusadewo, Yama Carlos, Yeyen Lidya, Yusril Fahriza, Ananta Rispo, Reza Nangin, Egi Fedly dan Ozzol Ramdhan.

“Pocong The Origin” mulai tayang pada 18 April 2019.

Baca juga: “Police Evo”, Film laga pertama Raline Shah
Baca juga: “Hellboy”, pertarungan antara iblis dan kata hati

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pemain “Pocong The Origin” Nadya Arina tak mau golput

Jakarta (ANTARA) – Aktris Nadya Arina Pramudita tahun ini untuk pertama kalinya akan menggunakan hak suara di pemilihan umum yang bakal menentukan pemimpin negara periode 2019-2024.

“Pasti ikut…Insya Allah sudah (menentukan pilihan),” ujar aktris 21 tahun itu usai konferensi pers “Pocong The Origin” di Jakarta, Kamis (11/4).

Nadya tidak mau menyia-nyiakan hak suaranya dengan golput dan dia berharap orang lain juga ikut menentukan calon pilihannya di bilik suara nanti.

“Banyak orang mikir, ya sudah satu suara ini enggak akan berpengaruh. Tapi kalau banyak yang mikir seperti itu, nanti bisa dipakai orang lain entah bagaimana caranya,” kata Nadya, peraih nominasi Pemeran Pendukung Wanita Terbaik Indonesia Box Office Movie Awards 2016.

Agar hak itu tidak dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggungjawab, lebih baik digunakan sebaik-baiknya oleh orang yang berhak. Bagi Nadya, perihal siapa yang menang adalah urusan belakangan, yang penting hak suaranya tidak diselewengkan.

“Sekarang kita harus ikut andil, ini buat masa depan kita juga,” ujarnya.

Nadya baru membintangi film “Pocong The Origin” yang disutradarai Monty Tiwa. Dia berperan sebagai Sasthi, anak dari pembunuh berdarah dingin Ananta (Surya Saputra) yang dieksekusi negara.

Karena alasan tertentu, Nadya harus membawa jasad ayahnya yang sudah dikafani ke kampung halaman, tempatnya ingin dikebumikan. Namun, perjalanan mengantar jenazah ayahnya ke Cimacan mendapatkan beragam gangguan.

Baca juga: “Pocong The Origin”, horor berbalut drama keluarga
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kareena Kapoor beri dukungan pada Au

Jakarta (ANTARA) – Aktris Bollywood Kareena Kapoor turut memberi dukungan kepada Au, siswi SMP yang dilaporkan menjadi korban perundungan alias bullying di Pontianak.

“Kami semua di sini untukmu..,” tulis Kareena yang menyertai unggahan foto poster dengan tagar #JusticeForAudrey di akun resmi Instagram-nya yang dipublikasikan sekira 10 jam lalu.

“Sangat menyedihkan dan memuakkan mendengar kabar ini… Penyiksaan terhadap anak bukan hal yang main-main.”

Unggahan selama 10 jam itu sudah disukai oleh hampir 40 ribuan lebih pengguna Instagram.
 

Au (14) adalah seorang siswi SMP di Pontianak Kalimantan Barat yang dilaporkan dikeroyok oleh sejumlah siswi SMA.

Akibatnya, Au mengalami trauma dan dirawat di sebuah rumah sakit. Pemicu peristiwa itu diduga akibat masalah asmara dan saling komentar di media sosial.

Kasus Au sempat menghebohkan dunia dengan menjadi trending topic di Twitter dengan tagar #JusticeForAudrey.

Selain itu, warganet juga membuat sebuah petisi di change.org guna menuntut keadilan untuk Au.

Hingga saat ini, petisi online itu sudah ditanda tangani oleh 2.676.242 orang dari target 3.000.000 orang.

Baca juga: Akademisi: kasus Audrey mengingatkan pentingnya pendidikan karakter
Baca juga: KPAI sesalkan pengeroyokan Audrey

 

Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Disney akan buat serial tokoh Marvel Hawkeye

Jakarta (ANTARA) – Disney dikabarkan bakal membuat serial tokoh Marvel dan kali ini karakter yang akan dikembangkan adalah Hawkeye.

Serial tentang Hawkeye akan bercerita tentang petualangan master memanah Clint Barton atau Hawkeye. Dia akan memberikan obor kepada Kate Bishop, anggota kelompok Young Avengers dan orang pertama yang memanggilnya Hawkeye. Menurut Variety, yang dikutip Jumat, serial tersebut rencananya akan hadir di Disney+, layanan streaming Disney yang akan datang.

Dalam film Avengers, tokoh Hawkeye diperankan oleh aktor Jeremy Renner dan ia digadang-gadang akan terlibat juga dalam proyek serial itu.

Meski demikian, perwakilan dari Disney, Marvel serta Jeremy Renner menolak untuk mengomentari rumor tersebut.

Renner telah bermain sebagai Hawkeye sejak 2011 pada film “Thor” namun namanya tidak disebut. Kemudian dia tampil pada “The Avengers”, “Avengers: Age of Ultron” dan “Captain America: Civil War”.

Pada “Avengers: Infinity War”, Renner absen dan baru akan muncul kembali di “Avengers: Endgame” yang rilis bulan ini, di mana ia akan muncul dengan penampilan yang berbeda dan mendapat kode nama baru yakni Ronin.

Serial Loki

Serial Hawkeye adalah proyek terbaru yang sedang dikembangkan lewat layanan streaming. Sebelum itu, Disney+ membuat mini seri yang menampilkan Loki dan Scarlet Witch dari Marvel yang diperankan oleh Tom Hiddleston dan Elizabeth Olsen.

Serial Loki ditulis oleh Michael Waldron dari “Rick and Morty”. Sebelumnya seorang sumber mengungkapkan bahwa Loki akan digambarkan sebagai penipu ulung dan orang yang mampu mengubah bentuk berbagai rupa sepanjang sejarah peradaban manusia.

Baca juga: Tiket “Avengers: Endgame” pecahkan rekor, dijual 500 dolar di eBay
Baca juga: “Avengers: Endgame” jadi film terpanjang MCU
Baca juga: Stan Lee akan hadir sebagai cameo di “Avengers: Endgame”

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Platform nonton bertebaran, Nia Dinata setia ke bioskop

Jakarta (ANTARA) – Sutradara Nia Dinata mengatakan dia akan  tetap memilih menonton di bioskop dibandingkan dari platform digital di gawai.

“Saya, tuh, orang zaman dulu, saya lebih memilih sinema. Saya lebih senang menonton di ruang yang gelap (bioskop), matikan gadget,” kata Nia Dinata saat di acara Telkom Digisummit 2019 di Jakarta, Kamis.

Nia beralasan menonton di bioskop merupakan salah satu “me time”, memberi waktu bersantai untuk diri sendiri, sekaligus mengasah berpikir kritis ketika menikmati sebuah karya.

Begitu juga ketika berkarya, Nia mengutamakan membuat film untuk layar lebar dibandingkan dengan platform konten digital, tapi, tidak berarti dia anti berkarya di platform digital.

Dia melihat platform digital, termasuk juga televisi, merupakan komplenter tempat dia menyebarkan karyanya.

Bagi Nia Dinata, yang sukses mengadaptasi “Ca Bau Kan” karya Remy Sylado ke layar lebar pada 2002 lalu, membuat film bukan semata menghasilkan uang, tapi, dia mencari kepuasan.

“Aku kerja bukan cari untung, tapi, cari kebahagiaan kepuasan,” kata dia.

Nia pernah bekerja sama dengan perusahaan over-the top untuk memproduksi dua judul film yang khusus ditayangkan di platform tertentu. Menurut dia, salah satu keuntungan membuat film dengan platform digital adalah dapat segera mengetahui statistik respons masyarakat terhadap film tersebut.

Nia mengaku saat pertama kali membuat film untuk platform digital, di hari yang sama dengan peluncuran film, dia bisa langsung mendapatkan laporan mengenai jumlah penonton hari itu, siapa saja yang menonton dan dari mana mereka menonton film tersebut.

Bagi sineas seperti Nia, data-data seperti itu berharga karena dia dapat memahami penonton, termasuk film seperti apa yang disukai masyarakat, tanpa harus membuat sang sutradara merasa disetir pasar untuk membuat karya.

Baca juga: Nia Dinata ajak masyarakat jaga suara Pemilu 2019

Baca juga: Nia Dinata angkat profil perempuan di Festival Film Firenze

Baca juga: Ini kelemahan perfilman Indonesia versi Nia Dinata

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dian Sastro curhat bedanya syuting dulu dan sekarang

Jakarta (ANTARA) – Aktris Dian Sastro mengaku merasa beruntung dapat merasakan fase perkembangan dunia film sejak dia terjun ke dunia film, termasuk perbedaan pola kerja akibat perkembangan teknologi dalam dunia film.

Dian terjun ke dunia akting sejak awal tahun 2000an, sebelumnya dia banyak terlibat dalam video musik. Dian masih mengalami pengambilan gambar dengan kamera analog 35 milimeter saat dia awal berkarier.

Di masa itu, pengambilan gambar diusahakan tidak lebih dari tiga kali “take” agar tidak boros gulungan film. Menurut Dian, pada masa itu, aktris disiplin berlatih agar dapat menghasilkan adegan terbaik tanpa harus banyak mengulang.

“Jadi, disiplin latihan, meluapkan emosi pas syuting,” kata Dian saat acara Telkom Digisummit 2019 di Jakarta, Kamis.

Dian masih aktif di dunia film ketika kamera beralih ke digital, pengambilan gambar yang tadinya mengambil waktu lebih dari sebulan berubah menjadi hanya dua minggu untuk menghasilkan satu film.

“Dulu, nggak mungkin seperti itu, bisa sebulan lebih,” kata dia.

Saat ini, medium menikmati film juga bertambah melalui platform digital, rupanya hal tersebut juga mempengaruhi kebiasaan menonton dan juga produksi film.

“Ruang nonton berubah. Dulu, di bioskop, sekarang bisa sambil commuting di MRT misalnya, nonton di ponsel,” kata dia.

Menurut dia, produksi film saat ini pun lebih cepat dibandingkan masa sebelumnya.

Dian mengaku mendengar pendapat yang menilai kualitas film menurun seiring dengan perkembangan zaman, namun, menurut dia, perubahan ke dunia digital tidak selalu menurunkan kualitas karya.

Dia melihat dengan maraknya platform digital untuk menonton, ide untuk sebuah konten atau film pun semakin beragam dan bagus, begitu juga investasi yang masuk sehingga sebuah ide dapat direalisasikan menjadi film betulan.

Baca juga: Alasan Dian Sastro bangun bisnis kuliner sehat

Baca juga: Kemarin, Dian Sastro debut sebagai produser hingga Insight mendarat di Mars

Baca juga: Kesulitan yang dihadapi Dian Sastrowardoyo saat jadi produser

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pengin jadi pengacara, Kim Kardashian magang empat tahun

Jakarta (ANTARA) – Kim Kardashian West mengatakan dia sedang magang hukum empat tahun sejak musim panas lalu dan berencana mengikuti ujian pengacara pada 2020.

Ia mengatakan dalam wawancara dengan Vogue edisi Mei bahwa dia menjadi semakin terlibat dengan para pendukung reformasi peradilan pidana sejak tahun lalu.

Dia mulai aktif ketika bergabung dengan komentator dan aktivis CNN Van Jones dan beberapa pengacara untuk bertemu dengan Presiden Donald Trump di Gedung Putih. Mereka meminta Trump mengubah hukuman bagi Alice Marie Johnson.

Johnson adalah seorang wanita berusia 63 tahun yang dipenjara di Alabama atas tuduhan narkoba tanpa kekerasan sejak 1996.

Trump akhirnya mengubah hukuman Johnson musim panas lalu.

Kardashian West mengatakan dia telah bekerja dengan Jones dan pengacara Jessica Jackson, salah satu pendiri kelompok reformasi peradilan-pidana bipartisan #cut50.

“Untuk melakukan sesuatu itu tak pernah bisa satu orang; itu selalu merupakan kerja dari sekumpulan orang, dan saya selalu tahu peran saya, tetapi saya hanya merasa seperti saya ingin bisa berjuang untuk orang-orang yang telah membayar pengabdian mereka kepada masyarakat,” kata Kardashian West pada Vogue, seperti dikutip Time, Kamis.

“Saya hanya merasa sistemnya bisa sangat berbeda, dan saya ingin berjuang untuk memperbaikinya, dan jika saya tahu lebih banyak, saya bisa berbuat lebih banyak.”

Meskipun Kardashian West tidak pernah menerima gelar sarjana, California adalah di antara empat negara bagian AS yang menawarkan cara alternatif untuk lulus ujian yakni magang dengan pengacara atau hakim, yang dikenal sebagai “reading the bar.”

Musim panas ini, Kardashian West dijadwalkan untuk mengambil tes negara “baby bar,” yang memungkinkannya untuk terus belajar selama tiga tahun, demikian laporan Time.

Baca juga: Cerita Kenny G soal penampilannya untuk Kim Kardashian saat Valentine
Baca juga: Kim Kardashian kembali ke Gedung Putih bicara keadilan

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Berakting dengan aktor Malaysia, Mike Lucock hati-hati pilih kata

Jakarta (ANTARA) – Bahasa Indonesia dan bahasa Melayu yang serupa tapi tidak sama membuat aktor Mike Lucock berhati-hati saat bercakap-cakap dengan aktor kawakan Malaysia, Hasnul Rahmat, dalam film laga “Police Evo”.

“Dia pakai bahasa Melayu. Saya berbahasa Indonesia. Kami saling enggak mengerti,” ujar Mike dalam konferensi pers “Police Evo” di Jakarta, Rabu.

Aktor Indonesia berusia 32 tahun itu mengaku sadar terdapat kata-kata dalam bahasa Indonesia yang punya arti negatif dalam bahasa Melayu.

“Ada kata yang sebaiknya enggak boleh saya sebut,” kata Mike.

Mantan presenter MTV itu mengaku sempat menghadapi kendala berkomunikasi ketika memerankan tokoh Najr dalam “Police Evo”. Mike bersyukur miskomunikasi itu ditanggapi secara santai oleh lawan bicaranya.

Walaupun harus berhati-hati dengan pilihan kata, Mike merasa bangga karena beradu akting secara langsung dengan Hasnul yang punya jam terbang tinggi dalam industri hiburan Negeri Jiran. Mike pun mengagumi penampilan Hasnul dalam drama “Teratai Kemboja”.

“Pas ketemu, dia baik banget dan humble,” ujar Mike tentang Hasnul yang mengenalkan industri hiburan di Malaysia.

“Police Evo” dibintangi oleh Raline Shah, Tanta Ginting selain aktor Shaheizy Sam dan Zizan Razak dari Negeri Jiran. Proses pengambilan gambar berlangsung di kota Kuantan, Malaysia.

Meski jauh dari rumah, pria yang pernah mempunyai paspor Selandia Baru itu merasa nyaman melakukan syuting di Malaysia yang disebutnya dapat mengapresiasi film-film Indonesia.

Film kolaborasi Screenplay Films, Astro Shaw, SCM dan Blackflag itu akan tayang pada 18 April 2019 di bioskop Indonesia. Film itu sudah tayang di Malaysia pada 2018 dengan judul “Polis Evo 2”.

“Police Evo” berkisah tentang usaha Rian (Raline Shah) bersama rekan-rekannya sesama polisi untuk menuntaskan misi memberantas jaringan narkoba. Mereka harus berhadapan dengan teroris yang menyandera para penduduk.

Baca juga: Berakting jadi polisi bikin Raline Shah piawai pegang senjata

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Berakting jadi polisi bikin Raline Shah piawai pegang senjata

Jakarta (ANTARA) – Raline Shah tak main-main saat mendapatkan kesempatan berakting dalam film laga, genre yang baru dicicipinya selama berkarir di dunia seni peran.

Setelah digembleng selama delapan bulan agar bisa terlihat dan berakting seperti polisi betulan dalam “Police Evo”, Raline Shah kini piawai dalam hal memegang senjata.

Sang aktris berperan sebagai polisi bernama Rian, pemeran utama dalam film kolaborasi Screenplay Films, Astro Shaw, SCM dan Blackflag itu. Rian ditugaskan untuk membongkar jaringan narkoba.

“Sekarang sambil tutup mata pun saya bisa ganti peluru dan mengokang senjata,” tutur Raline di konferensi pers “Police Evo”, Jakarta, Rabu.

Dibantu oleh para profesional, Raline diminta untuk membuat badannya lebih berisi dan berotot agar terlihat tegap dan kuat. Bobotnya naik 6,5 kilogram berkat makanan kaya kalori.

“Otot-otot yang saya enggak pernah tahu ada di badan jadi muncul,” tutur aktris 34 tahun itu berseloroh, menambahkan bahwa kini bobot tubuhnya sudah kembali seperti semula.

Latihan fisik, bela diri dan menembak dijalaninya secara intensif.
  Raline Shah di film “Police Evo”. (HO/ist)

Proses membiasakan diri memakai senjata agar tidak terlihat kagok membutuhkan proses panjang. Dimulai dari teori, Raline yang berlatih dengan pistol Glock 17 belajar cara memegang senjata secara benar.

Setelahnya, dia membiasakan diri mengisi amunisi ratusan kali sampai gerakan itu secara otomatis diingat tubuhnya.

“Setelah itu belajar reload tanpa lihat senjata, jadi matanya ditutup,” kata sang aktris yang juga berlatih menembak target.

Raline awalnya tak menyangka proses menyelami karakter Rian bakal seberat itu. Dia sempat merasa sudah punya modal pengalaman memegang senjata saat berburu bersama ayahnya sejak kecil.

“Ternyata berbeda banget, harus kelihatan bahwa Rian ini biasa menggunakan senjata,” kata dia.

“Alah bisa karena biasa saya pahami dari film ini,” ujar Raline, menambahkan proses latihan yang keras itu manis untuk dikenang tapi berat saat dijalani.

Seluruh adegan dilakoninya tanpa pemeran pengganti. Lebam-lebam di tubuh pun dianggapnya sudah biasa.

“Police Evo” bercerita tentang usaha Rian dan rekan-rekannya menjalani misi memberantas jaringan narkoba. Namun kelompok mafia yang diincarnya berubah jadi kelompok ekstremis yang menyandera penduduk.

“Filosofi paling penting bahwa polisi bekerja dan berkorban mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkan banyak orang,” kata dia.

Selain Raline Shah, film ini juga dibintangi oleh Tanta Ginting, Mike Lucock, Shaheizy Sam, Zizan Razak dan Hasnul Rahmat.

Di Malaysia, film berjudul “Polis Evo 2” ini menjadi film terlaris di posisi empat pada 2018, namun baru tayang di Indonesia pada 18 April mendatang.

Baca juga: “Police Evo”, Film laga pertama Raline Shah
Baca juga: Raline Shah rasakan tayangan perdana “Dumbo” di Hollywood

 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Camila Cabello akan perankan Cinderella

Jakarta (ANTARA) – Penyanyi Camila Cabello akan membintangi film Sony “Cinderella” terbaru yang disutradarai dan ditulis oleh Kay Cannon.

Mengutip Variety, Rabu, Cabello juga dikabarkan akan terlibat dalam penggarapan musiknya, yang ide awalnya muncul dari James Corden yang merupakan produser film tersebut.

“Cinderella” versi baru akan jadi semacam film musikal.

Film “Cinderella” paling terkenal adalah drama animasi Disney, dirilis pada 1950, dan dua adaptasi live-action yakni versi 1997 dibintangi oleh Brandy dan Whitney Houston, lalu versi 2015 dibintangi Lily James.

Cinderella versi terakhir (2015), meraup 543 juta dolar AS di seluruh dunia.

Cabello yang berasal dari Kuba, adalah mantan anggota grup Fifth Harmony sebelum memutuskan jadi penyanyi solo.

Ia menjadi superstar tahun lalu lewat lagu “Havana” dan album perdananya “Camilla,” yang memulai debutnya di peringkat atas tangga lagu iTunes seluruh dunia.

Sementara, Cannon adalah penulis nominasi Emmy untuk “30 Rock”, juga komedi “Pitch Perfect”.

Dia memulai debut sebagai sutradara lewat komedi Universal “Blockers,” yang dibintangi Kathryn Newton, Leslie Mann, Ike Barinholtz, dan John Cena, demikian seperti dikutip dari Variety.

Baca juga: Disney akan produksi film “Deadpool”
Baca juga: James Corden menangis di Carpool Karaoke bersama Paul McCartney

 

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kareena Kapoor beri dukungan pada Audrey

Jakarta (ANTARA) – Aktris Bollywood Kareena Kapoor turut memberi dukungan kepada Audrey, korban perundungan alias bullying di Pontianak.

“Kami semua di sini untukmu Audrey,” tulis Kareena yang menyertai unggahan foto poster dengan tagar #JusticeForAudrey di akun resmi Instagram-nya yang dipublikasikan sekira 10 jam lalu.

“Sangat menyedihkan dan memuakkan mendengar kabar ini… Penyiksaan terhadap anak bukan hal yang main-main. Mari kirim doa pada Audrey dan keluarganya.”

Unggahan selama 10 jam itu sudah disukai oleh hampir 40 ribuan lebih pengguna Instagram.
 

Audrey (14) adalah seorang siswi SMP di Pontianak Kalimantan Barat yang dikeroyok oleh sejumlah siswi SMA.

Akibat pengeroyokan itu, Audrey mengalami trauma dan dirawat di sebuah rumah sakit. Pemicu pengeroyokan diduga akibat masalah asmara dan saling komentar di media sosial.

Kasus Audrey sempat menghebohkan dunia dengan menjadi trending topic di Twitter dengan tagar #JusticeForAudrey.

Selain itu, warganet juga membuat sebuah petisi di change.org guna menuntut keadilan untuk Audrey. Petisi diberi judul “KPAI dan KPPAD, Segera Berikan Keadilan untuk Audrey #JusticeForAudrey!”

Hingga saat ini, petisi online itu sudah ditanda tangani oleh 2.676.242 orang dari target 3.000.000 orang.

Baca juga: Akademisi: kasus Audrey mengingatkan pentingnya pendidikan karakter
Baca juga: KPAI sesalkan pengeroyokan Audrey

 

Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Aktris Moon Geun-young kembali ke layar kaca

Jakarta (ANTARA) – Aktris Moon Geun-young akan kembali ke layar kaca lewat serial berjudul “Catch The Ghost” setelah empat tahun hiatus, kata agensi Namoo Actors, Selasa (9/4).

Dilansir Korea Times, serial tersebut bercerita mengenai petugas polisi subway. Dia berperan sebagai Yoo Ryung (artinya hantu dalam bahasa Korea), seorang petugas baru yang tidak bisa menoleransi ketidakadilan. Kim Sun-ho akan menjadi rekannya.

Rekam jejak Moon di dunia seni peran Korea Selatan dimulai sejak 1999. Namanya melejit pada 2000 setelah membintangi serial “Autumn in My Heart” (di Indonesia judulnya “Endless Love”) sebagai versi belia karakter yang diperankan Song Hye-kyo.

Setelah itu, Moon Geun-young sudah membintangi sederet proyek hits, termasuk drama “Painter of the Wind” pada 2008.

Serial baru Moon Geun-young akan tayang pada paruh kedua tahun ini.

Baca juga: Moon Geun Young dan Kim Beom berpacaran

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Impian versus realita di “Rumput Tetangga”

Jakarta (ANTARA) – Terkadang, orang merasa apa yang dia inginkan jauh lebih penting ketimbang hal yang dia butuhkan. Jika mendapatkan kesempatan memilih, mana yang akan Anda kejar?

Hal serupa terjadi pada Kirana (Titi Kamal) dalam film “Rumput Tetangga”. Kirana begitu populer dan cerdas semasa duduk di sekolah menengah atas. Impiannya kala itu menjadi konsultan public relations yang sukses.

Namun kenyataannya berbeda dari harapan Kirana. Dia menikah setelah kuliah dengan Ben (Raffi Ahmad) dan mendapatkan dua buah hati Rega (Daffa Deddy) dan Windy (Aqila Herby). Impiannya pupus karena dia terlalu sibuk menjani peran sebagai ibu rumah tangga.

Di satu sisi, Diana (Donita) hidup berkebalikan dengan kondisi Kirana. Sahabat Kirana semasa SMA itu seorang konsultan public relations yang sukses, namun masih melajang. Salah satu adegan dalam film “Rumput Tetangga” (HO)

Suatu hari, Diana membuat acara reuni SMA. Kirana dan Ben hadir dalam acara yang bagi sebagian orang menjadi ajang pamer dan mengumbar kebohongan itu.

Di sana, Kirana bertemu seorang peramal bernama Madam Sri Menyan (Asri Welas) dan dia mendapatkan kesempatan kembali ke titik awal hidupnya. Mana yang nantinya Kirana pilih, hidup sesuai keinginannya atau hidup sesuai kebutuhannya?

Selama hampir 95 menit, sutradara Guntur Soeharjanto mengajak penonton menyelami kehidupan dua sosok wanita. Di satu sisi ada Kirana yang mewakili para ibu ramah tangga kebanyakan, sementara di lain sisi ada Diana, seorang wanita karir yang sukses.

Ada dilema besar antara kedua sosok wanita ini, berkeluarga lalu menjalani peran sebagai ibu rumah tangga atau mengejar karir. Apa Diana bahagia sebagai wanita karir sukses?

Terkadang tak semua wanita bisa melakukan keduanya sehingga dia harus memilih salah satu.

Penonton mungkin akan mudah menebak alur cerita film kedelapan produksi RA Pictures itu, karena begitu umum.

Film bergenre drama komedi itu juga dibintangi aktor Tora Sudiro, Jeremy Thomas, Kirana Larasati, Yeyen Lidya, Dewi Rezer, Vega Darwanti, Astrid, Maya Septha dan Nunung.

“Rumput Tetangga” akan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 18 April mendatang.
 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Unggul Tri Ratomo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sekuel “Shazam!” akan segera dibuat

Jakarta (ANTARA) – “Shazam!” dilaporkan akan segera dibuat sekuelnya dan Henry Gayden sedang menulis naskah untuk film tersebut.

Menurut laporan The Hollywood Reporter, Selasa, David F. Sandberg dan Peter Safran akan kembali duduk sebagai sutradara serta produsernya.

Film yang dibintangi oleh Zachary Levi itu meraup penghasilan sebesar Rp53,5 juta dolar atau senilai Rp757,1 miliar selama akhir pekan box office.

Film DC tersebut berkisah tentang anak remaja Billy Batson diperankan oleh Asher Angel yang dapat berubah menjadi superhero dewasa. Dia harus berhadapan dengan Dr.Sivina dimainkan oleh Mark Strong, tokoh jahat yang mendapat bantuan dari saudara angkatnya.

“Shazam!” cukup mendapat pujian karena ceritanya yang ringan dan menyentuh hati penonton yang lebih muda. Menurut PostTrak, lebih dari sepatuh film tersebut berusia di 25 tahun.

DC juga dikabarkan sedang menyiapkan banyak film sekuel potensial. Akan ada cameo kejutan dan dengan lebih banyak superhero yang dilibatkan dan cuplikan penjahat misterius pada bagian mid-kreditnya.

Dwayne Johnson juga akan membintangi film solonya sebagai penjahat klasik Shazam yang bernama Black Adam dan mungkin akan berhadapan dengannya di beberapa adegan.

Henry Gayden sendiri sebelumnya menulis naskah untuk “Earth to Echo” pada 2014. Dia juga menulis untuk film sci-fi karya Phil Lord dan Chris Miller, “Last Human” namun digantikan oleh UTA.

Baca juga: Trailer Shazam!, film jagoan DC terbaru dirilis

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kunjungan artis film Bumi Itu Bulat

Artis pemeran film Bumi Itu Bulat (kiri-kanan) Qausar Harta, Tissa Biani, Kenny Austin, Aldy Riady berpose saat kunjungan ke Kantor Berita Antara, di Wisma Antara, Jakarta, Selasa (9/4/2019). Kunjungan tersebut dalam rangka promosi film berjudul Bumi Itu Bulat yang akan tayang pada 11 April 2019. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc.

Komentar Kenny Austin disebut mirip artis Korea Selatan

Jakarta (ANTARA) – Lahir dari orang tua asal Medan, Sumatera Utara, penampilan aktor muda Kenny Austin kerap disebut warganet mirip dengan pesohor dari Negeri Ginseng, Korea Selatan.

Ada yang menyebutnya mirip dengan aktor Jung Hae-in (Prison Playbook), bahkan ada juga yang menganggap parasnya serupa dengan Suho dari grup K-pop EXO.

“Aku enggak merasa mirip, ibuku juga bilang enggak mirip,” ujar Kenny saat berkunjung ke kantor berita ANTARA, Jakarta, Selasa.

“Tapi pada bilang mirip,” imbuh dia.

Sambil bergurau, perwakilan Indonesia dalam kontes Mister International 2015 itu mengatakan tidak ada darah Korea Selatan yang mengalir di tubuhnya.

“Saya produk lokal,” ujarnya berseloroh.

Kenny baru membintangi film “Bumi itu Bulat” yang mengangkat tema rasa saling peduli terhadap toleransi antar umat beragama.

Film arahan sutradara Ron Widodo itu bercerita tentang Rahabi (Rayn Wijaya) yang memiliki grup musik bernama Rujak Acapella yang terdiri dari Hitu, muslim Ambon yang bercita-cita jadi Banser, Markus (Kenny Austin), seorang keturunan Tionghoa Kristen, Sayid (Qausar Harta) seorang muslim Muhammadiyah asal Minang dan Tiara (Rania Putrisari) gadis berhijab yang menyukai Rahabi.

Karakter Markus, ujar Kenny, disebut sebagai pria yang kalem dan lebih bijaksana dibandingkan teman-temannya. Bila diibaratkan sebagai bagian dari rujak, nama grup akapela mereka, Markus adalah sambal yang menyatukan semua potongan buah.

“Dia beda sendiri, tapi menyatu di Rujak Acappela,” ujar model 26 tahun itu.

Bila mengibaratkan dirinya sendiri dalam rujak, buah apa yang akan Kenny pilih?

“Jeruk, karena jeruk favoritku.”

“Bumi itu Bulat” akan tayang di bioskop mulai 11 April 2019. Rencananya film yang diproduksi oleh Inspiration Pictures, Ideosource Entertainment, Astro Shaw dan GP Anshor ini juga akan diedarkan di Malaysia.

Baca juga: Tissa Biani bangga satu film dengan Christine Hakim
Baca juga: Qausar Harta asah kemampuan akapela dalam “Bumi Itu Bulat”
Baca juga: Aldy Rialdy belajar logat Ambon demi “Bumi Itu Bulat”

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Para pemain “Bumi Itu Bulat” tolak golput

Jakarta (ANTARA) – Para pemain film “Bumi Itu Bulat” dengan kompak menolak untuk tidak memilih atau golput (golongan putih) dalam Pemilu 2019 yang akan berlangsung pada 17 April.

“Kenapa tidak kita coblos yang menurut kita kompeten. Pilih program bagusnya. Sayang nanti, suara kita kepakai orang yang tidak bertanggung jawab,” kata pemeran tokoh Sayid dalam “Bumi Itu Bulat” Qausar Harta dalam kunjungan di Kantor Berita Antara di Jakarta, Selasa.

Senada dengan Qausar, pemeran tokoh Hitu, Aldy Rinaldy, juga mengajak masyarakat untuk menggunakan hak pilih mereka dalam Pemilihan Umum Legislatif dan Pemilihan Umum Presiden 2019.

“Tahun ini pertama kalinya saya ikut Pemilu. Jadi, harus dipakai suaranya. Kalau tidak, pasti dipakai orang yang tidak bertanggung jawab,” kata Aldy yang baru berusia 21 tahun ini.

Baca juga: Tissa Biani bangga satu film dengan Christine Hakim

Sementara, Kenny Austin berpendapat gerakan golput tidak serta-merta menjadikan masa depan Indonesia lebih cerah.

“Kita harus mikirin pilihan kita. Itu memengaruhi masa depan Indonesia. Sayang banget kalau tidak memilih,” kata Kenny yang memerankan tokoh Markus.

Meskipun belum punya hak untuk memilih, Tissa Biani juga berpendapat golput bukan keputusan yang bijak bagi setiap warga Indonesia yang punya hak memilih.

Gua sendiri yang belum bisa memilih dan ingin banget untuk membuat Indonesia ke depannya lebih baik,” kata pemain termuda berusia 16 tahun di film “Bumi itu Bulat” itu.

Baca juga: Qausar Harta asah kemampuan akapela dalam “Bumi Itu Bulat”

Keempat selebritis muda itu berjanji akan menggunakan hak memilih mereka pada 17 April meskipun mereka harus mengikuti roadshow  untuk film mereka pada hari yang sama.

“Kami semua pasti memilih dan pakai hak suara kami,” kata Qausar yang diikuti Aldy dan Kenny secara kompak.

Kenny mengatakan film “Bumi Itu Bulat” punya misi mengajak masyarakat lebih menghargai perbedaan.

“Film itu mengenai toleransi. Menjelang Pemilu, intoleransi semakin sering terjadi. Kami ingin menumbuhkan rasa toleransi demi bangsa kita,” kata Kenny.

Film arahan sutradara Ron Widodo itu akan tayang di seluruh bioskop di Indonesia mulai 11 April 2019.

Baca juga: Aldy Rialdy belajar logat Ambon demi “Bumi Itu Bulat”

Pewarta: Livia Kristianti
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film Suara April akan tayang perdana di Sumut

Medan (ANTARA) – Film Layar Lebar berjudul Suara April yang diproduksi oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Republik Indonesia (RI) akan tayang perdana di Medan, Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara pada 14 April 2019.

Ketua Komisi Pemilihan Umum Sumatera Utara Yulhasni di Medan, Senin (8/4), mengatakan, film tersebut akan diputar XXI Ringroad Citywalks Kota Medan pada 14 April 2019 untuk 250 orang.

Film Suara April tersebut, kata dia, merupakan ajang sosialisasi dari KPU yang dikemas dalam bentuk film untuk menyasar kalangan muda termasuk kaum milenial.

Hal itu juga berdasarkan Peraturan KPU (PKPU) RI Nomor 10 Tahun 2018 tentang Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, dan Partisipasi Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pemilu.

Diharapkan film itu dapat menarik perhatian pemilih muda agar menggunakan hak suaranya di TPS saat pencoblosan dalam menentukan masa depan bangsa lima tahun ke depan.

“Pesan yang ingin disampaikan agar pemilih bisa memilih pemimpin yang terbaik pada 17 April nanti,” katanya.

Penayangan film Suara April juga dijadikan instrumen untuk menyosialisasikan tata cara pencoblosan, ajakan memilih pada 17 April 2019, jenis-jenis surat suara, pengenalan peserta pemilu, tata cara pindah memilih, dan hal-hal penting yang perlu diketahui masyarakat.

“Film ini juga untuk memberikan pendidikan pemilih pada peserta pemilu. Mengajak pemilih menggunakan hak pilih tanpa vote buying dan pemilu damai,” katanya.

Sebelumnya, film Suara April telah diluncurkan pada 15 Maret lalu di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan.

Selain pemutaran film, juga akan diselenggarakan jumpa fans (meet and greet) dalam bentuk talkshow atau ramah tamah dengan para aktor dan aktris film.

Pewarta: Juraidi
Editor: Ridwan Chaidir
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Teror 120 menit di “Hotel Mumbai”

Jakarta (ANTARA) – Mumbai yang damai dan menjadi tempat tujuan para turis berbagai negara tiba-tiba berubah menjadi kota yang mencekam di bawah teror sepuluh pemuda.

Para pemuda itu membawa senjata api, bom, dan menjalankan misi bunuh diri mengatasnamakan Islam di bawah perintah seorang yang mereka sebut “Saudara”.

Gambaran Mumbai yang dilanda teror mencekam karena aksi kejam itu menjadi cerita utama yang dibawa sutradara Anthony Maras di film berjudul “Hotel Mumbai”, yang dicuplik dari kisah tragis pada 26 November 2008.

Cerita “Hotel Mumbai” berawal dari adegan Abdullah (diperankan aktor Suhail Nayyar), Imran (Amandeep Singh) dan delapan orang rekannya menuju Mumbai menggunakan perahu karet. Mereka lalu  berpencar ke berbagai tempat seperti stasiun kereta api, kafe dan Taj Mahal Palace Hotel.  

Target para teroris itu adalah warga berpaspor Amerika dan Inggris, namun tanpa kenal ampun mereka juga membunuh warga India yang berada di sana.

Sesampai di lokasi, mereka menembaki semua orang di sana dengan membabi buta. Di Taj Mahal Palace Hotel, teroris memasuki hotel dan memberondong siapa saja. Darah, desingan peluru dan ledakan menjadi sajian utama sepanjang film.

Selama hampir 123 menit, jantung penonton akan berdegup kencang dan batin pun diaduk-aduk saat menyaksikan adegan demi adegan kekerasan dalam film thriller itu. Salah satu adegan dalam film Hotel Mumbai (HO)

Kisah sang pelayan

Di tengah kepanikan, seorang pelayan hotel bernama Arjun (Dev Patel), chef Hermant Oberoi (Anupam Kher) dan staf hotel berjuang menyelamatkan para tamu, di tengah serangan yang bertubi-tubi.

Di antara para tamu itu adalah pasangan suami istri, Zahra (Nazanin Boniadi) dan David (Armie Hammer) beserta anak mereka Cameron dan pengasuhnya, Sally (Tilda Cobham), lalu pria asal Rusia, Vasili (Jason Isaacs).

Lakon para tetamu di film ini, menjadi bumbu drama yang membuat penonton terpancing emosi.

Arjun yang ketakutan luar biasa berusaha menenangkan para tamu yang terjebak dalam sebuah restoran dan bilik rahasia. Ia bisa saja lari menyelamatkan dirinya sendiri, namun karena “tamu adalah dewa”, Arjun bertahan di hotel dan bertindak sebagai pahlawan.

Ia bahkan rela melepaskan pagri –sorban– yang menjadi kehormatan keluarganya demi menyelamatkan turis Asia bernama Bree (Natasha Liu) yang terluka parah.

Staf hotel lainnya juga memilih untuk tetap berada di hotel dan melakukan yang mereka bisa untuk para tamu. Lalu apa balasan dari para tamu terhormat itu? Salah satu adegan dalam film Hotel Mumbai (HO)
Citra buruk

Dalam kejadian sesungguhnya, teror di Mumbai pada 2008, menurut pemerintah dan aparat India dilakukan oleh sepuluh pemuda asal Pakistan di bawah organisasi teroris yang mengatasnamakan Islam, Laskhar e-Taiba. Gara-gara kejadian tersebut hubungan India dan Pakistan memanas, pun citra Islam menjadi buruk.

Namun, detail informasi itu tidak dibawa oleh sutradara Maras dalam filmnya. Beberapa bagian kecil dari film yang justru terlihat menonjol adalah pemilihan nama teroris, penyebutan “kafir”, hingga ucapan “Alhamdulillah”.

Istilah Islam radikal juga mencuat di tengah film, mengacu pada kelompok yang mengatasnamakan agama untuk melakukan teror.

Sejumlah penonton “Hotel Mumbai” bisa jadi merasa geram karena adegan kejam yang membawa-bawa nama Islam. Ditambah lagi, gambaran tentang aparat keamanan yang terlihat tidak kompeten karena saat itu Mumbai tidak memiliki pasukan khusus teror.

Untuk itu, sebelum menyaksikan film “Hotel Mumbai”, penonton perlu membekali diri tentang latar belakang dan kronologi seputar peristiwa berdarah itu agar mendapat gambaran yang utuh.

“Hotel Mumbai” tayang di Toronto International Film Festival pada 2018, Australia dan Amerika Serikat pada Maret 2019 dan akan hadir di bioskop Indonesia pada 10 April 2019.

Baca juga: “Dumbo” kisah tentang keluarga dan impian
Baca juga: “My Stupid Boss 2”, sekuel yang lebih jenaka
Baca juga: Film “Melodylan” Lika-liku Perjalanan Cinta Remaja

Oleh Lia Wanadriani Santosa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

AntaraKita bersama Titi Kamal dan Donita

Antara, Dunia perfilman Indonesia kembali diramaikan dengan kehadiran film produksi Rafi Ahmad berjudul Rumput Tetangga. Dua pemain film itu, Titi Kamal dan Donita berkunjung ke newsroom LKBN Antara untuk mempromosikannya. Saksikan perbincangan selengkapnya dalam AntaraKita. (Perwiranta/Soni)

Si Unyil Yang Melegenda

Si Unyil Yang Melegenda

Pada April 1982, sebuah film boneka Indonesia berjudul Si Unyil muncul pertama kali di TVRI. Seketika, Unyil, menjadi teman untuk anak-anak Indonesia yang selalu tayang di hari Minggu pagi. Menghibur jutaan penonton kala itu.

“Rumput Tetangga” kuras emosi Titi Kamal

Jakarta (ANTARA) – Syuting film “Rumput Tetangga” menguras emosi Titi Kamal karena pemeran tokoh Kirana itu harus mengatur perasaan sedih demi kelancaran alur cerita.

“Karena saya di situ 99 persen, ya jadi full banget. Kesulitannya, aku harus mengatur emosi dari scene 1-100 tetap stabil. Karena jomplang banget adegan-adegannya, dari yang nangis pindah lagi ke scene lain yang enggak berhubungan,” kata istri Christian Sugiono itu dalam kunjungan media promosi film “Rumput Tetangga” di Kantor Berita Antara, Jakarta, Jumat.

Titi mengaku pernah mengulang adegan menangis sampai berkali-kali karena kadar sedih dalam setiap adegan selalu berbeda.

“Itu udah jam dua pagi. Jadi, aku harus benar-benar konsentrasi karena bawa anak juga. Jadi, aku melakukannya dengan benar. Kasihan kru lain kalau harus diulang,” ujar ibu dua anak itu.

Meski menguras emosinya, Titi mengaku tetap semangat menjalani proses syuting karena suasana di lokasi syuting sangat menyenangkan.

Baca juga: Titi Kamal jatuh cinta skenario “Rumput Tetangga”

“Dibawa fun aja. Suka dukanya ya banyakan sukanya ya karena anaknya kocak-kocak dan makanannya banyak. Kalau ada makanan aman deh,” kata pemain film “Mendadak Dangdut” itu.

“Rumput Tetangga” bercerita tentang Kirana (Titi Kamal), seorang ibu dua anak yang semasa SMA adalah perempuan yang aktif dalam kegiatan sekolah, popular dan juga memiliki prestasi yang baik. Semua orang berpikir jika Kirana akan menjadi wanita karir yang sukses. Pada kenyataannya, Kirana hanya menjadi seorang ibu rumah tangga.

Dalam sebuah reuni sekolah, Diana (Donita) mengatakan kepada semua temannya bahwa Kirana berkarir pada bidang public relation dan sangat sukses. Permasalahan pun muncul, Kirana berharap jika hidupnya bisa ditukar seperti apa yang dia impikan.

Film yang tayang pada 18 April 2019 itu dibintangi oleh Donita,Tora Sudiro, Raffi Ahmad, Gadeng Marten, Aqila Herby, Yeyen Lidya, Dewi Rezer, Vega Darwanti, Nunung, Jeremy Thomas, Melanie Berentz, dan Kirana Larasati.

Baca juga: Titi Kamal dan Donita akui dilema cerita “Rumput Tetangga” nyata

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Titi Kamal dan Donita akui dilema cerita “Rumput Tetangga” nyata

Jakarta (ANTARA) – Aktris Titi Kamal dan Donita mengaku dilema tokoh Kirana dalam cerita film “Rumput Tetangga” terasa nyata pada kehidupan mereka masing-masing.

“Cerita itu kayak kehidupan ibu-ibu pada umumnya ya. Mau jadi apa, fulltime mom, apa wanita karir apa dijalanin dua-duanya. Aku juga gitu waktu belum nikah, kerja bisa full. Sekarang setelah nikah, semua berubah. Film itu sangat cocok ditonton para wanita karena banyak banget pelajaran yang dikemas secara komedi,” kata Titi dalam kunjungan media promosi film “Rumput Tetangga” di Kantor Berita Antara, Jumat.

Titi dan Donita mengaku merasakan apa yang dialami oleh Kirana. Sebagai ibu rumah tangga yang juga bekerja sebagai aktris, keduanya mengaku sempat bimbang antara mengurus anak atau bekerja yang sesuai hobi.

“Ibu rumah tangga itu sebenarnya bukan pilihan kan tapi kewajiban. Kalau suami enggak mengizinkan ya, itu aturan keluarganya sendiri. Ada yang memilih ibu rumah tangga sambil kerja. Kalau kami sih beruntung suami masih mengizinkan untuk mengikuti hobi,” ujar Donita.

“Rumput Tetangga” bercerita tentang Kirana (Titi Kamal), seorang ibu dua anak yang semasa SMA adalah perempuan yang aktif dalam kegiatan sekolah, populer, dan juga memiliki prestasi yang baik. Semua teman Kirana berpikir jika nantinya dia akan menjadi wanita karir yang sukses. Namun, Kirana hanya menjadi seorang ibu rumah tangga.

Baca juga: Asri Welas jadi peramal di “Rumput Tetangga”

Lalu dalam sebuah reuni sekolah, Diana (Donita) mengatakan kepada semua temannya bahwa Kirana punya karir yang sukses dalam bidang public relation.

Permasalahan pun muncul karena Kirana berharap hidupnya bisa ditukar seperti apa yang dia impikan.

Donita mengatakan “Rumput Tetangga” bukan hanya menawarkan cerita drama saja melainkan komedi dalam kisahnya.

“Cerita film sangat lengkap. Kalau orang nonton film tujuannya untuk hiburan, di sini ada part-part yang bikin nyelekit. Ada Tora, anak-anak standup comedy, Asri Welas. Jadi kalau menghibur ya menghibur, tapi ini nangis banget,” jelas istri dari Adi Nugroho itu.

“Kami pas nonton aja mata kami bengkak. Bisa ngerasain banget perasaan Kirana dan Diana. Ini satu paket yang sangat menghibur,” tambah Titi.

“Rumput Tetangga” akan tayang pada 18 April 2019 di seluruh bioskop Tanah Air.

Selain kedua nama di atas, film yang disutradarai oleh Guntur Soeharjanto ini juga dibintangi oleh Tora Sudiro, Raffi Ahmad, Gadeng Marten, Aqila Herby, Yeyen Lidya, Dewi Rezer, Vega Darwanti, Nunung, Jeremy Thomas, Melanie Berentz, dan Kirana Larasati.

Baca juga: Titi Kamal jatuh cinta skenario “Rumput Tetangga”

Baca juga: Cerita Kirana Larasati bertemu KH Ma’ruf Amin

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kunjungan pemeran film Rumput Tetangga

Aktris pemeran film Rumput Tetangga, Titi Kamal saat melakukan kunjungan ke Kantor Berita Antara, di Wisma Antara, Jakarta, Jumat (5/4/2019). Kunjungan tersebut dalam rangka promosi film genre drama komedi berjudul Rumput Tetangga yang akan tayang pada18 April 2019. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww.

Disney akan produksi film “Deadpool”

Jakarta (ANTARA) – Pimpinan Disney, Alan Horn mengkonfirmasi masa depan “Deadpool” setelah perusahaan itu bergabung dengan 21st Century Fox.

Ryan Reynolds, yang berperan sebagai Deadpool, menjelaskan perihal merger tersebut dalam unggahan status Twitter-nya.

Pada foto tersebut, Deadpool duduk di bus sekolah berwarna kuning dengan tulisan “Disney” dan dia mengenakan topi Mickey Mouse.

Horn pun menunjukkan tweet tersebut dan membicarakannya dalam sebuah presentasi di acara CinemaCon, Las Vegas.

“Kalian akan melihat lebih banyak Deadpool di tahun-tahun mendatang,” kata Horn dilansir NME, Jumat.

“Deadpool” sekarang menjadi bagian dari Marvel Cinematic Universe bersama dengan banyak karakter lain seperti geng X-Men dan Fantastic Four.

 Meskipun tokoh-tokoh tersebut terpisah dari Marvel Cinematic Universe, para pimpinan Marvel dilaporkan akan menyatukan mereka di masa depan.

Sementara itu, Reynolds mengungkapkan di awal tahun ini bahwa “Deadpool 3” akan memiliki cerita yang berbeda dengan film sebelumnya.

 Dia mengatakan bahwa merger antara Disney dan Fox akan berpengaruh pada sekuel berikutnya. Namun menurutnya, perubahan tidak selalu menjadi hal yang buruk.

“Sering kali mereka reboot atau mengubah karakter mungkin seperti empat film yang terlambat,” ujar Reynolds.

Tahun lalu, aktor ini juga berbicara tentang keinginan untuk mengeksplorasi seksualitas anti-pahlawan dalam film masa depan.

Baca juga: Ryan Reynolds bocorkan soal “Deadpool 3”

Baca juga: X-Men dan Deadpool resmi masuk Marvel Cinematic Universe

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Doremi & You” ceritakan perjalanan empat sekawan

Jakarta (ANTARA) – Setelah sukses dengan Film Ziarah pada 2017, kini rumah produksi GoodWork ingin mengulang kesuksesannya dengan menggandeng kembali BW Purbanegara sebagai sutradara dalam produksi film drama anak remaja “Doremi & You”.

Film yang diproduseri oleh Lexy Mere, Arifin Wiguna dan Ridla An-Nuur akan melakukan pengambilan gambar sepenuhnya di Yogyakarta.

Pembuatan film “Doremi & You” berawal dari diskusi produser yang tertarik dengan ide film pendek karya BW Purbanegara “Cheng Cheng Po” pada 2007, yang meraih piala citra di Festival Film Indonesia di 2008 dengan kategori film pendek terbaik.

Bersama dengan penulis skenario Jujur Prananto, proses pengembangan ide ini sudah dimulai sejak September 2018 lalu.

“Mohon doa dari teman-teman semua supaya proses syuting berjalan lancar dan bisa menghasilkan film yang baik, kami ingin anak – anak dan remaja Indonesia pun memiliki pilihan menonton yang sesuai dengan usia.”, ungkap Produser Film Doremi & You”, Lexy Mere dalam keterangan resmi yang diterima Antara, Jumat.

Film yang mengisahkan tentang persahabatan empat anak ini berawal dari saat mereka tidak sengaja menghilangkan uang jaket ekstrakulikuler paduan suara di sekolahnya.

Akhirnya, mereka harus menggantikan uang yang hilang itu dengan cara mengikuti audisi lomba menyanyi. Dalam perjalanannya, Putri berharap Reno (Devano Danendra), senior sekaligus asisten pelatih paduan suara di sekolah bersedia menjadi pelatih mereka. Tetapi ada hal yang tidak disangka-sangka yang membuat mereka menjadi frustasi.

Film ini diperankan Naura sebagai Putri , Fatih Unru sebagai Imung, Nashwa Zahira – Indonesia Idol Junior 2018 sebagai Anisa dan Toran Waibro sebagai Markus.

“Doremi & You” juga didukung oleh aktor senior, seperti Sekar Sari yang berperan sebagai Ibu Putri, Simhala Avadana sebagai Ayah Putri dan GPH. Paundrakarna JS sebagai Ayah Reno.

Proses syuting film “Doremi & You” masih akan berlanjut hingga pertengahan April ini di Yogyakarta dan film ini rencananya akan tayang di bioskop pada saat liburan sekolah tahun ini.

Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Komaruddin Hidayat: Film “Bumi Itu Bulat” ajarkan cinta Tanah Air

Para bintang Film Bumi Itu Bulat saat konferensi pers di Epicentrum XXI Setiabudi Jakarta Selatan, Rabu (3/4/2019). (Istimewa)

Jakarta (ANTARA) –

Film berjudul “Bumi Itu Bulat” mengajarkan masyarakat untuk mencintai Tanah Air dan menjaga sikap toleransi antar pemeluk agama, demikian disampaikan Akademisi Komaruddin Hidayat.

“Sebuah film yang harus ditonton,” kata Kamaruddin saat dihubungi di Jakarta, Kamis.

Kamaruddin mengatakan film yang diproduksi Robert Ronny itu mengangkat isu pandangan atau primordialisme etnis dan keagamaan yang ditarik ke ranah politik praktis sehingga menciptakan polarisasi dalam masyarakat.

Mantan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menuturkan masyarakat Indonesia dapat belajar dan mengambil hikmah dari film “Bumi Itu Bulat” menyusul kecenderungan masyarakat yang terpolarisasi menjelang pemilihan umum 2019.

Cendekiawan muslim itu menilai film yang digarap kerja sama antara Inspiration Picture, Astro Shaw, Gerakan Pemuda (GP) Ansor, dan Ideosource Entertainment itu dapat memperkuat bangsa Indonesia.

“Film, selain merupakan sebuah hiburan, bisa juga sebagai sarana persatuan. Lewat film seperti itu, masyarakat akan mudah menyerap pesan arti penting persahabatan dan persatuan,” ujar Komaruddin.

Film Bumi Itu Bulat menceritakan kelompok musik Rujak Acapella yang memiliki lima orang anggota dari latar belakang berbeda.

Namun, konflik muncul ketika Rahabi (Rayn Wijaya) mengajak Aisha (Febby Rastanty) yang berperan sebagai seorang muslim garis keras untuk bergabung.

Pewarta:
Editor: Imam Santoso
Copyright © ANTARA 2019

Tiket “Avengers: Endgame” pecahkan rekor, dijual 500 dolar di eBay

Jakarta (ANTARA) – Penjualan tiket awal untuk film superhero Marvel “Avengers: Endgame” pada Selasa (2/4) berhasil melampaui dua film “Star Wars” terakhir, dan beberapa lembar ditawarkan di situs lego dengan harga mencapai 500 dolar AS sekira Rp7 juta per lembarnya.

Fandango dan Atom –dua situs web penjualan tiket paling top di Amerika Serikat– mengatakan penjualan tiket awal pada hari pertama untuk film Disney “Avengers: Endgame” telah melewati film “Star Wars: The Force Awakens” (2015) dan “Star Wars: The Last Jedi” (2017).

Namun, kedua situs itu tidak memberikan angka penjualannya, demikian seperti dilansir Reuters, Rabu.

Film Avengers paling gres, yang menyatukan beberapa karakter komik termasuk Iron Man, Captain Marvel, Black Widow, Thor dan Ant-Man, menandai akhir dari 22 film Marvel.

Menurut survei penggemar pada tahun lalu, “Avengers: Endgame” adalah film yang paling dinanti tahun ini.

“Penjualan ‘Avengers: Endgame’ telah melampaui semua ekspektasi dan berhasil melewati ‘Star Wars: The Force Awakens,’ pemegang rekor sebelumnya, untuk menjadi film terlaris Fandango dalam 24 jam pertama penjualannya, dan Endgame mencapai prestasi itu hanya dalam 6 jam,” kata managing editor Fandango Erik Davis dalam pernyataannya.

Sementara, Atom mengatakan film itu telah mencatat rekor untuk layanan tiket seluler mereka, dengan jumlah yang terjual tiga kali lebih banyak dalam satu jam pertama, dibandingkan dengan “Avengers: Infinity War” tahun lalu.

“Avengers: Endgame” mulai meluncur di bioskop pada 24 April di Australia dan China sebelum tiba di Amerika Serikat pada 25 April.

Di eBay, satu tiket untuk pemutaran IMAX hari pertama di Hollywood ditawarkan dengan harga 500 dolar AS. Tawaran awal untuk tiket lainnya masing-masing sekitar 35 dolar per lembar.

Para penggemar pun mengeluh di media sosial tentang situs web yang eror, salah kode, dan lama waktu menunggu untuk mendapatkan tiket mereka.

“Butuh waktu 5 jam untuk mendapatkan tiket #AvengersEndgame,” cuit Meghan Keatley di Twitter.

“Sudah berjam-jam dan mereka menghentikan sementara situsnya,” tulis seorang penggemar bernama Bakuhoe di Twitter.

Lima jam kemudian Bakuhoe kembali mencuit, “Sangat menyenangkan menunggu dengan kalian semua, semoga kalian mendapatkan tiket dan kita bisa menderita di tangan kejam Marvel bersama-sama.”

“Avengers: Infinity War” adalah film terbesar tahun 2018, meraup 2,04 miliar dolar di box office seluruh dunia.”Star Wars: The Force Awakens,” dengan box office global 2,06 miliar dolar, adalah film terbesar ketiga sepanjang masa setelah “Avatar” dan “Titanic”.

Baca juga: Stan Lee akan hadir sebagai cameo di “Avengers: Endgame”

Baca juga: “Avengers: Endgame” jadi film Marvel terakhir Gwyneth Paltrow

Baca juga: “Avengers: Endgame” jadi film terpanjang MCU

Penerjemah: Heppy Ratna Sari
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penuh ironi, poster pertama “Joker” dirilis

Jakarta (ANTARA) – Todd Phillips telah meluncurkan poster pertama untuk film “Joker” melalui laman Instagramnya. Film ini akan menceritakan tentang kegelapan musuh bebuyutan Batman.

Pada poster tersebut terlihat bahwa Arthur Fleck atau Joker terlihat tidak bahagia, hal ini berbanding terbalik dengan tagline-nya yang berbunyi “Put on a Happy Face”. Arthur mengenakan riasan badutnya. Kepalanya terangkat dan salah satu tangannya juga terangkat. Lalu seperti ada noda darah pada wajahnya, dilansir Aceshowbiz, Rabu.

Sutradara “Joker” tersebut juga mengatakan kepada penggemarnya bahwa trailer teaser pertama akan dirilis pada 3 April waktu setempat.
 

Sementara itu, penonton di CinemaCon berhasil mengintip cuplikan film ketika pertama kali dirilis selama presentasi. Rekaman tersebut mengisyaratkan gejolak emosional Arthur ketika dia terlihat di kantor psikiater.

“Apakah ada gunanya meminta seseorang untuk diajak bicara?” kata dokter bertanya kepadanya.

Seorang penampil yang gagal perlahan-lahan tidak percaya lagi pada kenyataan, dia lalu merenung, “Ibuku biasa menyuruhku untuk tersenyum dan memasang wajah bahagia. Kupikir tujuanku adalah membawa tawa dan kegembiraan pada dunia,” ujar Arthur.

Pada suatu ketika, dia terlihat membuat senyum yang mengerikan sambil melihat ke cermin di ruang ganti. Arthur juga ditabrak oleh beberapa orang di jalan sambil berkata dalam hati, “Apakah cuma saya atau memang di luar sana semakin gila?”. Dia juga berkali-kali dipukuli oleh orang-orang di kereta bawah tanah.

Saat dunia semakin penuh dengan amarah, Arthur berubah menjadi Badut Pangeran Kejahatan. “Dulu aku mengira hidupku adalah tragedi. Tapi sekarang aku sadar, itu komedi,” gumamnya.

Dalam presentasi itu, Phillips juga mengatakan bahwa banyak rumor dan laporan yang tidak akurat tentang “Joker”.

“Tapi memang itu yang diharapkan ketika membuat film tentang karakter yang tidak memiliki kisah asal yang definitif,” ujar Phillips.

“Joker” juga akan dibintangi oleh Robert De Niro, Shea Whigham, Frances Conroy, Marc Maron dan Douglas Hodge. Film ini menceritakan asal usul penjahat yang berhadapan dengan Batman. Phillips juga menulis untuk naskahnya. Film ini dijadwalkan tayang di AS pada 4 Oktober.

Baca juga: Sutradara unggah foto pertama Joaquin Phoenix sebagai Joker

Baca juga: Gantikan Alec Baldwin, Brett Cullen perankan ayah Batman di “The Joker”

Baca juga: Jared Leto buka-bukaan soal Joker
 

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hugh Jackman konfirmasi sekuel “The Greatest Showman”

Jakarta (ANTARA) – Hugh Jackman mengkonfirmasi bahwa sekuel “The Greatest Showman 2” tengah dalam proses pengerjaan.

“The Greatest Showman” dirilis pertama kali pada Desember 2017 dan Jackman berperan sebagai pimpinan sirlis P T Barnum. Soundtracknya sendiri terjual lebih dari 1,6 juta kopi dan masuk dalam UK Album Chart Top 5.

Jackman belum lama ini membahas bahwa sekuel “The Greatest Showman kemungkinan akan hadir meskipun dia masih tidak yakin.

“Saya benar-benar jujur pada Anda, ada pembicaraan tentang sesuatu yang terjadi tetapi tidak ada yang benar-benar yakin. Tapi saya pikir seseorang sedang mengerjakan sesuatu. Saya tahu mereka, mereka sedang melakukan sesuatu,” kata Jackman dilansir NME, Rabu.

Jackman juga mengatakan bahwa dia akan tetap memainkan karakternya pada sekuel mendatang. Namun pemeran “Wolverine” ini tidak yakin apakah film mendatang akan tetap bercerita tentang karakternya.

“Saya tidak tahu. Saya tidak tahu. Saya ingin menjadi bagian darinya dan saya tidak tahu apakah itu akan berpusat pada karakter saya,” jelasnya.

Baca juga: Stan Lee Wafat, pemeran superhero Marvel berduka

“Hal lainnya adalah, memang butuh delapan tahun untuk membuatnya dan itu tidak cukup untuk meyakinkan orang selama delapan tahun. Butuh waktu lama untuk menulisnya,” lanjutnya.

Awal bulan ini, Jackman juga menanggapi kritikan seputar dominasi soundtrack “The Greatest Showman”.

“Ada banyak orang yang menyukainya. Pada akhirnya, saya adalah seorang pendongeng. Saya seorang aktor yang bercerita. Beberapa orang tidak menyukai ‘The Greatest Showman’ dan itu tidak masalah bagi saya,” kata Jackman.

Sementara itu, Jackman dijadwalkan untuk tur Eropa dan Inggris pada bulan Mei dan Juni.

Baca juga: Wolverine diduga akan hadir di “Avengers: Endgame”

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Bumi itu Bulat”, kisah persahabatan dan kekuatan toleransi

Jakarta (ANTARA) – “Bumi itu Bulat” merupakan film yang menggarisbawahi rasa saling peduli dan sikap bertoleransi antara umat beragama.

Kehadiran film ini diharapkan mampu menyebarkan pesan positif melalui kisah persahabatan anak muda yang memiliki latar belakang berbeda.

Film arahan sutradara Ron Widodo ini bercerita tentang Rahabi (Rayn Wijaya) memiliki grup musik bernama Rujak Acapella yang terdari Hitu, muslim Ambon yang bercita-cita jadi Banser, Markus, seorang keturunan Tionghoa Kristen, Sayid, seorang muslim Muhammadiyah asal Minang dan Tiara gadis berhijab yang menyukai Rahabi.

Ayah Rahabi, Syamsul (Mathias Muchus) bekerja di Organisasi Milisi Islam yang dikenal sebagai Banser. Dia menghabiskan banyak waktu di organisasi sehingga jarang bersama keluarga. Akhirnya Rahabi mengambil alih tanggung jawab untuk membiayai adik perempuannya, Rara (Tissa Biani) dengan berusaha merilis album dan sukses.

Jalan itu mulai terbuka ketika Aldi (Arie Kriting), produser musik, menawarkan rekaman kepada mereka asalkan ada Aisha (Febby Rastanty).

Aisha sendiri adalah mantan penyanyi yang mundur karena sudah berhijrah. Demi mewujudkan impiannya, Rahabi pun rela melakukan apa saja yang diperintahan oleh Aisha mulai dari mewawancarai Farah, dosen yang dipecat karena dituduh menyebarkan paham kebencian hingga masuk dalam organisasi radikal.

Awalnya Rahabi merasa tidak ada yang berbahaya dengan Aisha hingga keluarga dan keempat sahabat mencurigainya ikut terlibat dalam paham radikal. Kini Rahabi harus bisa mengambil sikap tegas meski itu artinya dia harus mempertaruhkan impian.

Sebagian orang mungkin akan menganggap bahwa film ini memiliki isu yang sangat sensitif, apalagi tentang ajaran radikal. Di sini juga digambarkan bahwa Aisha memiliki pandangan yang berbeda tentang Islam dibandingkan dengan teman-teman sebayanya. Bagi Aisha, jika ada orang yang memiliki kepercayaan berbeda dengannya wajib untuk dijauhi.

Aisha juga berusaha meyakinkan Rahabi untuk berhijrah dengannya dan meninggalkan segala urusan dunia. Bagi Rahabi apa yang disampaikan oleh Aisha memang tidak salah, hanya saja dia merasa bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk saling bermusuhan.

Baca juga: Ingin ajarkan toleransi, Arie Kriting terlibat film “Bumi itu Bulat”

Masalah yang terjadi antara Rahadi dan Aisha banyak ditemui di kalangan anak muda saat ini sehingga meningkatkan nilai-nilai intoleran. Meski demikian, film ini sama sekali tidak memojokkan aliran atau kepercayaan tertentu dan juga tidak menyalahkan ataupun membenci paham tertentu.

Semua perbedaan yang ada mulai dari pandangan, suku serta agama dijadikan kekuatan untuk sama-sama membangun Indonesia, bahwa perbedaan sebenarnya bukanlah alasan untuk saling membenci dan menciptakan konflik.

Baca juga: Christine Hakim belajar Indonesia lebih dalam lewat film sejarah

Namun ada adegan yang cukup menggelitik yakni ketika pada akhirnya grup Rujak Acapella bisa tampil pada pembukaan Asian Games 2018.

Sayangnya, penggunaan CGI di sini cukup menganggu karena terlihat seperti mengada-ada. Meski tujuannya memberikan contoh bahwa Asian Games merupakan bukti nyata kesuksesan toleransi, di mana semua orang mengesampingkan ideologi untuk mendukung Indonesia.

Di luar kekurangan tersebut, film ini mampu menyampaikan pesan toleransi melalui kisah persahabatan, cinta dan hubungan orangtua dengan anak. Dengan memberikan latar belakang anak-anak muda yang mengejar impian, sesuatu yang relevan dengan anak muda masa kini, cerita film tersebut mudah dicerna serta gampang terkoneksi dengan siapapun.

“Bumi itu Bulat” akan tayang di bioskop mulai 11 April 2019. Rencananya film yang diproduksi oleh Inspiration Pictures, Ideosource Entertainment, Astro Shaw dan GP Anshor ini juga akan diedarkan di Malaysia.

Pewarta: Maria C Galuh
 

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ingin ajarkan toleransi, Arie Kriting terlibat film “Bumi itu Bulat”

Masa kita tunggu sampai parah sih untuk mengingatkan toleransi

Jakarta (ANTARA) – Arie Kriting ingin mengajarkan sikap toleransi kepada anak muda melalui keterlibatan dalam film “Bumi itu Bulat”, sebab dia tak mau lagi merasakan konflik antarsuku dan agama.

Arie salah satu inisiator pembuatan film “Bumi itu Bulat”. Film tersebut menceritakan tentang toleransi antarumat beragama di kalangan anak muda saat ini, tentang bagaimana perbedaan pandangan pada suatu kepercayaan seharusnya bisa saling melengkapi.

“Kalau saya sejak awal gabung bantu terlibat, tujuannya karena di sini ada muatan toleransinya yang disampaikan. Kalau saya melihatnya, kadang berbicara toleransi itu berat, bersinggungan sama etnis SARA yang ujungnya negatif, berbobot berat,” kata Arie dalam pemutaran perdana film “Bumi itu Bulat” di Jakarta, Selasa..

Padahal, ucap dia, masalah toleransi bisa hadir dalam keseharian.

“Contoh sederhana ini anak-anak (Dalam film “Bumi itu Bulat”, red.) mimpi mau tampil di ‘event’ besar sebagai grup akapela tapi terbentur toleransi,” lanjutnya.

Bagi Arie, isu toleransi di Indonesia penting untuk diangkat, apalagi saat ini masyarakat mudah terpancing oleh hal-hal sensitif seperti agama.

Menumbuhkan rasa toleransi bagi Arie tidak perlu sampai menunggu terjadinya konflik. Sikap itu bisa dipupuk sejak dini, khususnya di kalangan anak muda.

“Masa kita tunggu sampai parah sih untuk mengingatkan toleransi. Kami pernah merasakan konflik perbedaan suku, agama, dan jangan sampai merasakan itu lagi. Sekarang kan isu ke mana-mana, saya pribadi berharap bisa jadi bangsa preventif. Menurut saya harus diingatkan kembali ada mekanisme untuk meringankan pergesekan itu namanya toleransi,” jelas komika tersebut.
 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: M. Hari Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Perankan gadis syar’i, Febby Rastanty diminta warganet berhijab

Jakarta (ANTARA) – Dalam film terbarunya “Bumi itu Bulat”, Febby Rastanty berperan sebagai perempuan yang mengenakan hijab syar’i.

Peran itu membuat Febby diminta warganet untuk mengenakan hijab dalam kehidupan sehari-hari, kendati mantan kekasih Derby Romero itu memang belum mengenakan hijab.

“Sebagai manusia, itu mungkin syar’i sesuai dengan syariat Islam mungkin baik, kan sesama manusia tugasnya saling mengingatkan. Tapi ya kalau bisa jangan dipaksa karena kalau sudah ranahnya agama itu urusan manusia pribadi sama Tuhannya. Tapi kalau misalnya diingatkan, Febby terima kasih. Semoga insya Allah secepatnya,” kata gadis kelahiran 1 Februari 1996 itu, di Jakarta, Selasa.

Febby pun menerima semua masukan dari penggemar dan warganet dengan senang hati. Menurutnya, berperan sebagai perempuan berhijab bukanlah yang pertama.

“Enggak cuma dapat karakter yang seperti ini, sebelumnya juga aku sempat dapat karakter yang emang berjilbab. Tapi banyak juga yang mendorong agar aku berjilbab sehari-hari dan aku cuma bisa bilang terima kasih,” ujarnya.

Menurut Febby, selama saran tersebut tidak mengancam dan mengusiknya, dia tidak akan mempermasalahkan.

So far belum ada yang kayak jambak rambut aku, atau kayak narik baju aku untuk memaksa aku melakukan sih. Jadi kalau cuma sekedar ngomong di Instagram mungkin ada yang caranya agak kasar atau enggak baik, ya mungkin beda-beda ya attitude orang, tapi ya maksudku kalau aku masih acceptable,” jelas mantan personel Blink itu.

Baca juga: Febby Rastanty ingin jadi ibu rumah tangga

Baca juga: Quipper luncurkan Super Teacher, gandeng Vidi Aldiano dan Febby Rastanty

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Priyanka Chopra diduga perankan jagoan baru Marvel

Jakarta (ANTARA) – Aktris India Priyanka Copra dikabarkan akan menjadi bintang berikutnya dalam film Marvel Cinematic Universe (MCU) menyusul berakhirnya “fase 3” setelah “Avengers: Endgame.”

Marvel Studio, dilansir Aceshowbiz, Selasa, sedang mencari wajah-wajah baru untuk membintangi proyek masa selanjutnya.

Selepas Brie Larson memerankan tokoh Captain Marvel, Priyanka yang diduga akan menjadi bintang jagoan perempuan Marvel yang juga punya film sendiri.

Sutradara “Avengers: Endgame” Joe Russo mengisyaratkan studio itu telah melakukan pembicaraan dengan istri Joe Jonas itu. Pernyataan Russo itu terlontar ketika dia datang di Mumbai untuk mempromosikan film Marvel dan berbincang dengan Priyanka.

“Saya ingin sekali bekerja dengan Priyanka. Saya tersenyum karena kami berpeluang membicarakan sesuatu dengannya. Saya hanya belum mengatakan apapun,” kata Russo.

Baca juga: Wolverine diduga akan hadir di “Avengers: Endgame”

Namun, Russo belum menentukan proyek apa yang akan dilakukannya bersama Priyanka. Aktris berusia 36 tahun itu berpeluang memerankan tokoh film di luar MCU menyusul sejumlah proyek Russo bersama Anthony Russo di luar Marvel.

Priyanka Chopra adalah pemenang kontes Miss World 2000. Dia merupakan salah satu selebriti India dengan bayaran tertinggi dan paling populer sebelum melebarkan karirnya di Hollywood.

Priyanka juga mendapat peran utama dalam serial “Quantico” di saluran ABC yang berlangsung dari 2015 hingga 2018. Beberapa filmnya yang terkenal adalah “Baywatch” (2017) dan “Isn’t It Romantic” (2019). Dia juga mengumumkan untuk bergabung dengan para pemeran “Cowboy Ninja Viking”.

“Avengers: Endgame” disebut-sebut sebagai film superhero paling ramai karena berisi Chris Evans, Robert Downey Jr., Scarlett Johansson, Chris Hemsworth, Mark Ruffalo, Jeremy Renner, Paul Rudd dan masih banyak lagi.

Beberapa di antara mereka juga kemungkinan tidak akan selamat dari pertarungan kedua dengan Thanos (Josh Brolin) dan kemungkinan tidak akan kembali dalam film masa depan.

“Avengers: Endgame” mulai tayang pada 26 April di AS.

Baca juga: Angelina Jolie negosiasi untuk film Marvel “The Eternals”

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Aladdin on Broadway” kumpulkan lima “Jin” dalam satu panggung

Jakarta (ANTARA) – Disney merayakan hari jadi kelima Aladdin versi Broadway dengan menampilkan lima aktor pemeran Jin dalam satu panggung teater di New Amsterdam Theatre Broadway, New York, Minggu (31/3).

Lima aktor itu bukanlah para pengisi suara Jin dalam film animasi besutan Disney yang tayang perdana pada 1992, melainkan para seniman teater yang mengisi pentas “Aladdin on Broadway”.

James Monroe Iglehart, bergabung dengan sosok “Jin” lainnya yakni Michael James Scott, Juwan Crawley, Deonte Warren, dan Major Attaway, yang menampilkan pertunjukkan gabungan pada akhir pertunjukkan, dilansir Billboard, Selasa.

Kelima jin itu mengenakan kostum klasik berkelir biru yang dikombinasi emas, kemudian menyanyikan “Proud of Your Boy”, “These Palace Walls”, “High Adventure,” dan tentu saja dua lagu soundtrack populer Aladdin yakni “A Whole New World” dan “Friend Like Me”

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Dumbo” gagal melambung di box office Amerika Utara

Jakarta (ANTARA) – Film live-action terbaru dari Disney, “Dumbo”, gagal tampil mengesankan pada pekan pembukaan box office Amerika Utara, kata pengamat industri Exhibitor Relations, dilansir AFP, Senin (1/4).

Alih-alih mendapat pemasukan 50juta dolar AS, film itu hanya meraup 46 juta dolar AS. Sedangkan anggaran untuk film tentang gajah kecil bertelinga ajaib itu sebesar 170 juta dolar AS.

Padahal, film garapan Tim Burton dan Disney sebelumnya “Alice in Wonderland,” mampu meraup 1,02 miliar dolar AS di seluruh dunia.

Kendati demikian, “Dumbo” sempat menekan pemimpin box office akhir pekan lalu “Us” yang turun ke posisi kedua. Film horor garapan Universal itu bertahan dengan menghasilkan 33,2 juta dolar AS.

Ditulis dan disutradarai Jordan Peele, “Us” dibintangi Lupita Nyong’o dan Winston Duke sebagai pasangan yang ditakut-takuti oleh sosok asing.

Di tempat ketiga ada “Captain Marvel” dengan penjualan tiket 20,7 juta dolar di Amerika Utara. Pemenang Oscar Brie Larson berperan sebagai mantan pilot pesawat tempur dengan kekuatan super.

Tempat keempat terdapat film “Unplanned” tentang kisah nyata perjuangan aktivis anti-aborsi garapan Pure Flix, yang mengantongi 6,4 juta dolar AS.

“Five Feet Apart” dari Lionsgate berada di urutan kelima dengan pendapatan 6,2 juta dolar AS, disusul “Wonder Park” (5 juta dolar AS), “How to Train Your Dragon: Hidden World (4,4 juta dolar AS), “Hotel Mumbai” (3,2 juta dolar AS), “A Madea Family Funeral (2,7 juta dolar AS) dan “The Beach Bum” (1,8 juta dolar AS).

Baca juga: “Dumbo” kisah tentang keluarga dan impian

Baca juga: Raline Shah rasakan tayangan perdana “Dumbo” di Hollywood

Baca juga: Will Smith akan bintangi live-action “Dumbo”?

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Mantan Manten”, Soal Perjumpaan Perempuan pada Jalan Hidup Baru

Jakarta (ANTARA) – Karier dan kisah cinta yang hancur bukan akhir segalanya. Anda tak akan pernah tahu bisa saja ini awal yang baru untuk hidup anda. Jika anda menerima kondisi ini lalu bangkit, ada jalan lain yang menanti anda.

Hal inilah yang Yasnina (Atiqah Hasiholan) alami dalam film terbaru sutradara Farishad Latjuba, “Mantan Manten”. Karier cemerlang perempuan metropolitan itu di bidang perencanaan keuangan tiba-tiba berputar 180 derajat. Dia mendapat hujatan dari banyak orang karena terganjal kasus investasi.

Bos yang selama ini berjanji akan selalu melindungi Yasnina, Iskandar (Tio Pakusadewo) justru angkat tangan. Dia bahkan berbalik menyerang Nina.

Nina awalnya hanya berharap pada Surya (Arifin Putra), tunangan yang juga putra Iskandar. Menggantungkan harapan pada seseorang? Nina salah besar. Surya bukan orang yang tepat untuknya bergantung. Hasil tangkapan layar trailer film “Mantan Manten” (YouTube/Visinema Pictures)

Di tengah upaya balas dendam pada Iskandar, Nina bertemu Marjanti (Tutie Kirana), seorang dukun manten di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. Ada sesuatu yang membuat Nina tertahan kembali ke Jakarta. Dia harus menjadi pemaes, menemani Marjanti.

Nina sempat menolak permintaan Marjanti, namun akhirnya mengiyakan. Perlahan dia belajar seluk beluk paes–tata rias pengantin di Jawa, termasuk soal nrimo atau ikhlas pada Marjanti.

Selama hampir dua jam, anda akan terbawa masalah yang umum terjadi di sekeliling dan mungkin pernah anda alami sendiri. Satu hal yang membuat lega adalah tak ada kata putus asa dari benak tokoh Nina. Walau memang dia sempat frustasi dan merasa hidupnya sangat amat hancur.

Farishad juga mengajak anda bersentuhan dengan budaya Jawa yang diwakili pekerjaan paes dan ritual di dalamnya. Melalui penyelaman Nina di dunia paes, anda akan tahu apa sedikit banyak soal perjuangan pemaes, dia bukan semata membuat pengantin tampak menarik.

Hanya saja, masih ada pertanyaan menyoal akhir kisah Nina. Saat dia mengiyakan permintaan Marjanti, apakah dia akan benar-benar jadi pemaes atau ini hanya sementara sampai dia menemukan ilmu ikhlas? Bagaimana kelanjutan upaya somasinya pada Iskandar?

Selain itu, ada beberapa potongan cerita yang terasa tak masuk nalar, seperti bagaimana bisa Nina yang sudah tak memiliki apa-apa bisa menyewa kamar hotel atau sekadar memesan tempat di salah satu restoran mewah.

Sisanya, silakan anda menilai sendiri Film “Mantan Manten” yang juga diramaikan sejumlah selebriti, antara lain Arifin Putra, Oxcel, Tio Pakusadewo, Marthino Lio, Dodit Mulyanto, Asri Welas, Melissa Karim dan Aimee Saras.

Film ini rencananya tayang pada 4 April mendatang di seluruh bioskop Tanah Air.
 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Melodylan” Lika-liku Perjalanan Cinta Remaja

Jakarta (ANTARA) – Film “Melodylan” arahan sutradara Fajar Nugros ini mengisahkan cinta remaja yang penuh dengan lika-liku di dalamnya, dan film ini juga diangkat dari novel remaja karya Astri Aci yang merupakan film terbaru dari Intercept FilmCraft.

“Saya sudah lama membaca novel yang sangat bagus ini, dan saya langsung menghubungi Fajar, saya minta Fajar yang menangani film ini,” ujar Producer Intercept FilmCraft Rajesh Punjabi, di XXI Metropole Jakarta, Senin.

Sutradara Film “Melodylan” Fajar Nugros juga mengatakan bahwa awalnya sempat merasa kesusahan karena ceritanya yang terlampau jauh dari usianya sekarang yang menjadikan tidak bisa memberi manuver yang baik. “Namun saya yakin bahwa film ini akan menjadi film hiburan bagi anak remaja saat ini, dan memang relate dengan kehidupan anak remaja saat ini,” ujarnya lagi.

Lebih lanjut Rajesh menambahkan, film yang mempunyai umur persiapan hingga satu tahun dan memiliki masa produksi selama enam bulan, serta terdapat komposisi dan sutradara yang bagus, menjadikan film ini sangat menarik.

“Saya optimistis film ini dapat menarik perhatian penonton film Indonesia,” ujar Rajesh kepada awak media.

Film yang dibintangi oleh Devano Danendra sebagai Dylan, dikenal sebagai cowok yang ganteng di sekolahnya dan mempunyai popularitas yang tinggi di sekolah tersebut. Sedangkan Aisyah Aqilah yang memerankan Melody adalah cewek junior sekaligus anak baru di sekolah tersebut.

Pertemuan mereka berawal di sebuah kafe yang membuat mereka saling tertarik karena keberanian dari Melody mengungkapkan pendapatnya.

Hal itu juga menarik perhatian Angga Aldi Yunanda yang berperan sebagai Fathur, diam-diam juga menaruh hati kepada Melody, di sisi lain ada juga Zoe Jackson yang memerankan Bella, sahabat Dylan yang lemah karena sedang terkena penyakit dan menyukai Fathur.

Kisah cinta yang melilbatkan banyak orang inilah menjadi sentral perhatian satu sekolah, dan ditambah aksi lucu dari sahabat mereka, sehingga film ini semakin menarik untuk disaksikan.

Film ini akan tayang perdana mulai 4 April 2019 serentak di seluruh bioskop di Indonesia.

Pewarta: Chairul Rohman
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Bali: Beats of Paradise” tayang di Super Plex G, Seoul

Jakarta (ANTARA) – Film “Bali: Beats of Paradise” yang disutradarai Livi Zheng tayang di teater dengan layar terbesar di dunia menurut Guinness World Records, Super Plex G, Seoul, Korea Selatan, Minggu (31/3)

Super Plex G di Lotte World Mall, menghadirkan teater yang dapat menampung 622 orang, dengan layar selebar 34 meter dan panjang 13,8 meter.

Sebelumnya, trailer film itu tayang di Seoul Sky, bangunan tertinggi di Korsel, demikian menurut Pensosbud KBRI Seoul Purno Widodo dalam keterangan yang diterima Antara, Senin.

Penayangan film yang digarap di Amerika Serikat dan Bali itu mendapat sambutan baik dari penonton. Di antara yang hadir menyaksikan yakni sejumlah duta besar, pejabat pemerintah Korsel dan CEO perusahaan di Negeri Ginseng itu.

Livi Zheng menjelaskan film garapannya itu bercerita tentang perjalanan sepasang seniman dari Bali yang bermimpi memperkenalkan gamelan ke dunia internasional.

Baca juga: Film Livi Zheng “Bali: Beats of Paradise” kisahkan seniman Bali

Sejumlah musisi terkenal terlibat dalam pembuatannya, yakni Judith Hill, penyanyi dan juga pencipta lagu asal California dan I Wayan Balawan, gitaris jazz Indonesia dari Bali yang terkenal dengan touch tapping style-nya.

“Saya semakin terinspirasi dan mendalami gamelan saat menyutradarai film ini. Saya akan terus mengangkat kebudayaan dan seni Indonesia di panggung dunia,” ujar Livi yang juga menjadi produser “Bali: Beats of Paradise”.

Film yang rencananya tayang di Indonesia pada Juli itu, turut diproduseri oleh Duta Besar RI untuk Korea Selatan Umar Hadi dan bankir Julia Gouw.  

“Saya beruntung bertemu dengan sutradara Livi Zheng dan bankir Indonesia di Amerika Julia Gouw yang punya hasrat sama yaitu mempromosikan gamelan. Itulah awal terciptanya film ini. Saya ingin gamelan semakin dikenal di mancanegara dan terus diajarkan dan diwariskan ke generasi muda kita,” ujar Umar yang mengikuti penggarapan fllm saat menjabat sebagai Konjen RI di LA.

Sementara itu, sejumlah penonton mengaku terkesan dengan “Bali: Beats of Paradise”.

“Film ini sangat berbeda dan mengesankan. Perpaduan budaya Indonesia dan Amerika menghadirkan rasa tersendiri. Film ini menjadi salah satu gerakan film Asia yang sangat baik,” ujar Jacob Choi.

Senada dengan Jacob Choi, Youngsil Park pun menyampaikan pujiannya.

“Amazing Film! Saya jadi makin suka gamelan dan kebudayaan Indonesia. Saya merekomendasikan film ini untuk ditonton,” katanya.

Baca juga: Khofifah diajak Livi Zheng saksikan “Bali: Beats of Paradise”
Baca juga: Livi Zheng sabet penghargaan berkat “Bali Beats of Paradise”

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dwisetyo Award promosikan wisata Gorontalo

Gorontalo (ANTARA) – Dwisetyo Awards atau malam penganugerahan perfilman di daerah itu adalah bentuk promosi pariwisata Gorontalo, kata Sekda Provinsi Gorontalo Darda Daraba.

“Saya melihat penganugerahan ini sebagai bentuk pengoptimalan seluruh aspek untuk bisa mempromosikan budaya dan pariwisata Gorontalo. Sehingga dunia luar bisa melihat seperti apa itu Gorontalo”, ujar Darda di Gorontalo, Minggu.

Malam Penganugerahan Dwisetyo Awards 2019 merupakan rangkaian kegiatan Festival Film Gorontalo dalam memperingati Hari Film Nasional.

Dari dua film yang telah di produksi oleh Dwisetyo Production (DSP), keduanya mengambil latar di Provinsi Gorontalo.

Hal itu menurut Darda, menjadi peluang untuk mengenalkan Gorontalo ke tingkat nasional maupun internasional.

Sementara itu Direktur DSP Atje Antu membenarkan bahwa akan ada dua film yang akan diproduksi dan mengeksplor seluruh tempat serta budaya Gorontalo.

Bahkan, lanjutnya, para pemerannya sebagian besar adalah anak muda Gorontalo.

“Ini merupakan nilai tambah untuk pengenalan dan pengembangan pariwisata Gorontalo. Para pemerannya juga 70 persen anak-anak berprestasi Gorontalo. Sehingga kami mengharapkan respons yang positif dari masyarakat dan pemerintah Provinsi Gorontalo”, tambahnya.

Perhelatan ini juga sebagai bentuk penghargaan bakat para pemuda dalam bidang seni peran di Provinsi Gorontalo.

Terdapat beberapa nominasi yang akan diperebutkan di antaranya, Nominasi Editor Terbaik, Naskah Terbaik, Kameraman Terbaik, Sutradara Terbaik dan Aktor serta Aktris Terbaik. 

Baca juga: 15 film Indonesia terlaris 2019
Baca juga: Film Budaya Gorontalo Raih Penghargaan Khusus FFB

Pewarta: Debby H. Mano
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sineas: Film Indonesia keren!

Jakarta (ANTARA) – Industri Film Indonesia, saat ini sudah berada pada masa keemasan dan senafas dengan tema Hari Film Nasional (HFN) ke-69 pada 2019 yaitu “Film Indonesia Keren”

“Film Indonesia berada pada masa paling gemilang. Tidak hanya dari segi penonton, film-film Indonesia sudah diakui dunia. Jadi, memang keren,” ujar sutradara film nasional Joko Anwar kepada Antara di Jakarta, Jumat (29/3).

Pendapat serupa disampaikan pula oleh produser dan sutradara Garin Nugroho, yang mengatakan industri film Tanah Air telah berada pada kondisi terbaik di Indonesia.

“Industri film komersial bertumbuh, bahkan cukup banyak yang masuk lima besar box office. Angkanya di atas satu juta. Di sisi lain, film independen juga bertumbuh. Ini menjadi catatan penting di film Indonesia,” kata Garin, kepada Antara, Sabtu.

Pertumbuhan film, lanjut Garin, juga sudah merata hingga ke pelosok-pelosok di Indonesia. Tapi, masih terjadi kelemahan pada tataran dasar yaitu sistem peraturan yang masih rapuh.

“Indonesia punya ciri yang cepat tumbuh, cepat krisis. Pertumbuhan cemerlang itu rapuh. Agar tidak rapuh, perfilman nasional perlu didukung sistem peraturan yang menghormati global dan melindungi lokal,” ujar sutradara “Cinta dalam Sepotong Roti” itu.

Baca juga: Mengenang Bapak Film Nasional, Usmar Ismail

Catatan sineas

Sistem peraturan itu pertama terkait kuota impor. Garin meminta peraturan kuota impor harus ditinjau kembali. Kedua, organisasi film yang masih separuh jadi.

“Penciptaan bertumbuh subur, tapi tidak paralel dengan per-undang-undangan dan organisasi,” ujarnya.

Bahkan pada titik tertentu, Garin melihat banyak sensor dari organisasi masyarakat (ormas) yang menjadi dilema bagi perfilman Indonesia.

“Pada aspek nilai kebebasan berpendapat terkait agama, kita mengalami kemunduran. Kendali terbesar bukan dari pemerintah, tapi ormas. Pemerintah malah tidak tegas,” kata Garin.

Garin mengkhawatirkan kendali sensor film dari ormas di Indonesia dapat memundurkan kreativitas sineas dan berdampak pada kemunduran masa emas perfilm-an Indonesia.

Baca juga: Film Indonesia, tontonan dan tuntunan

Sementara itu, Joko Anwar melihat talenta yang minim menjadi tantangan di industri film. “Kurangnya kru film dan pemain yang punya skill,” ujar dia.

Menurut sutradara “Pengabdi Setan” itu, kekurangan talenta berbakat film Indonesia disebabkan oleh kekurangan institusi pendidikan film di Indonesia, baik formal maupun non-formal.

“Bisa dihitung pakai jari jumlah sekolah film di Indonesia. Semuanya terfokus di Jakarta dan Jawa. Orang mau bikin film, demand terhadap film Indonesia semakin tinggi. Tapi, kru filmnya sampai rebutan, jadi kurang banget,” kata Joko Anwar.

Joko mengatakan persoalan kekurangan sumber daya manusia film nasional dapat terselesaikan jika semua pemangku kepentingan dengan kemampuan dan kapasitas dalam pendidikan film dapat membuat pelatihan dalam bidang film.

“Pemerintah bisa membuat sekolah film atau bisa mendorong swasta untuk membuat sekolah film. Kementerian dan Bekraf bisa bikin pelatihan film dengan pengajar yang baik,” ujar Joko Anwar.

“Bahkan, PH (rumah produksi) dibanding mereka membayar pekerja film yang engga punya skill, mending mereka membuat pelatihan atau inkubasi untuk menciptakan pekerja film yang punya skill dan akhirnya bisa mereka pekerjakan,” ujarnya.

Baca juga: Rio Dewanto harapkan asosiasi film punya satu tujuan

Pewarta: Peserta SusdapeXIX/Arindra Meodia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mengenang Bapak Film Nasional, Usmar Ismail

Jakarta (ANTARA) – Peringatan Hari Film Nasional (HFN) ke-69 pada 2019 akan lebih bermakna dengan mengenang sosok Usmar Ismail sebagai pelopor drama modern di Indonesia dan juga Bapak Film Indonesia.

Pria kelahiran Bukittinggi Sumatera Barat itu mengawali kiprahnya dari panggung teater, kemudian terjun pada bidang perfilman Indonesia. Hari pertama syuting “Darah dan Doa” tanggal 30 Maret karya Umar Ismail lantas diperingati sebagai Hari Film Nasional (HFN).

“Selain seniman, dia (Usmar Ismail) juga sastrawan, tokoh militer, businessman, organisiator, dan wartawan. Ada unsur sosoknya begitu kuat. Dan untuk seperti itu, tidak gampang ditumbuhkan,” ujar sutradara Garin Nugroho kepada Antara di Jakarta, Sabtu.

Dikutip dari laman resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Usmar Ismail lahir pada tanggal 20 Maret 1921.

Usmar menunjukkan bakat sastranya sejak masih duduk di bangku SMP, saat dia bersama teman-temannya, antara lain Rosihan Anwar, ingin tampil dalam acara perayaan hari ulang tahun Putri Mahkota, Ratu Wilhelmina, di Pelabuhan Muara, Padang.

Baca juga: Film Indonesia, tontonan dan tuntunan

Setelah duduk di bangku SMA, di Yogyakarta, Usmar semakin banyak terlibat dalam bidang sastra. Dia memperdalam pengetahuan dramanya dan aktif dalam kegiatan drama di sekolahnya. Dia juga mulai mengirimkan karangan-karangannya ke berbagai majalah.

Bakat Usmar berkembang saat bekerja di Keimin Bunka Sidosho (Kantor Besar Pusat Kebudayaan Jepang). Di tempat itu, dia bersama Armijn Pane dan budayawan lainnya bekerja sama untuk mementaskan drama.

Pada 1943, Usmar Ismail bersama abangnya, El Hakim, juga Rosihan Anwar, Cornel Simanjuntak, serta H.B. Jassin mendirikan kelompok sandiwara yang diberi nama Maya.

Maya mementaskan sandiwara berdasarkan teknik teater Barat. Kehadiran kelompok sandiwara itu kemudian dianggap sebagai tonggak lahirnya teater modern di Indonesia.

Setelah masa proklamasi kemerdekaan, Usmar menjalani dinas militer dan aktif di dunia jurnalistik di Jakarta. Bersama dua rekannya, dia mendirikan surat kabar yang diberi nama Rakyat, juga sempat mendirikan harian Patriot dan bulanan Arena.

Baca juga: Lala Timothy: Hari Film Nasional adalah pengingat untuk saling dukung

Usmar pernah dijebloskan ke penjara oleh Belanda karena dituduh terlibat kegiatan subversi ketika menjalankan profesi sebagai wartawan.

Sutradara film “Lewat Djam Malam” (1954) itu tercatat pernah bekerja sebagai wartawan politik di kantor berita Antara dan sedang meliput perundingan Belanda – RI di Jakarta, pada tahun 1948.

Pada perkembangan selanjutnya, Usmar mulai menaruh minatnya yang lebih serius pada perfilman.

Film-film yang pernah disutradarai oleh Usmar Ismail antara lain, “Darah dan Doa” (1950), “Enam jam di Yogya” (1951), “Dosa Tak Berampun” (1951), “Krisis” (1953), “Kafedo” (1953), “Tiga Dara” (1955) dan “Pejuang” (1960).

Usmar Ismail meninggal pada 2 Januari 1971 karena stroke dalam usia hampir genap 50 tahun.

Baca juga: Reza Rahadian rayakan keberagaman sinema di Hari Film Nasional

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rio Dewanto harapkan asosiasi film punya satu tujuan

Jakarta (ANTARA) – Aktor film nasional Rio Dewanto mengharapkan asosiasi-asosiasi film di Indonesia punya satu tujuan yang jelas, bahkan menyatu dan memperjuangkan kesejahteraan para pelaku film sebagai bentuk peringatan Hari Film Nasional pada 30 Maret.

Gue bukan tipe orang berorganisasi ya, tapi gue ngeliat kayak asosiasinya tuh kok terlalu banyak ya. Apakah itu sehat atau enggak, tapi apakah tidak lebih baik kalau asosiasi itu menjadi satu,” kata Aktor Rio Dewanto kepada Antara di Jakarta, Jumat (29/3).

Rio mengatakan asosiasi-asosiasi film di Indonesia seperti Rumah Aktor Indonesia (RAI), Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi), dan Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) seolah-olah membuat perfilman di Indonesia memiliki tujuan yang berbeda-beda.

“Nah, kalau jadi satu kan akan lebih kuat untuk menyuarakan apa yang menjadi keluhan maksudnya apa yang pengen kita perjuangkan gitu,” ujar Rio.

Aktor berusia 31 tahun itu mengatakan kehadiran asosiasi film dengan tujuan yang lebih jelas akan memperbaiki kesejahteraan para pelaku film dan bukan hanya aktor, termasuk para pendukung film dan mereka yang akan masuk dunia seni peran.

Pendapat serupa juga disampaikan salah satu penata musik dalam industri film yaitu Charlie Meliala. Charlie menyatakan asosiasi dalam bidang perfilman Tanah Air sudah banyak tapi sistem regulasinya tidak terlihat.

“Kalau Hollywood itu kan udah jadi industri ya jadi asosiasinya jelas, terus campur tangan asosiasi ke regulasinya juga jelas dengan begitu kan sistem kerjanya akan bener,” kata Charlie.

Masalah distribusi

Penata musik dalam film “Kartini” itu mengatakan masalah terbesar dalam perfilman Indonesia adalah distribusi.

“Kalau di Indonesia outlet distribusi film itu mereka enggak cuman distribusi, tapi juga importir film. Kalau di negara lain, itu enggak boleh,” ujar Charlie.

Charlie menambahkan persoalan distribusi film sudah dikeluhkan sejak era 1970-an karena outlet distribusi film akan mendapatkan keuntungan lebih. Keuntungan itu diperoleh karena film asing yang masuk ke Indonesia lebih banyak.

Padahal, celah bagi film Indonesia untuk tayang di negeri sendiri, lanjut Charlie, lebih sulit menyusul kehadiran film-film impor itu.

“Ketika mereka memutar film Indonesia, mereka kena potongan tuh. Tapi kalau untuk film barat, mereka bisa dapet seratus persen karena yang impor dan distributornya mereka sendiri,” kata Charlie.

Baca juga: Reza Rahadian rayakan keberagaman sinema di Hari Film Nasional

Baca juga: Pesan Ernest Prakasa di Hari Film Nasional: Tonton yang orisinal

Baca juga: Lala Timothy: Hari Film Nasional adalah pengingat untuk saling dukung

Pewarta: Muhammad Adimaja
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Reza Rahadian rayakan keberagaman sinema di Hari Film Nasional

Jakarta (ANTARA) – Hari Film Nasional bagi aktor Reza Rahadian adalah waktu yang tepat untuk merayakan keberagaman sinema Indonesia, sekaligus memberi apresiasi kepada seluruh pekerja film Indonesia.

“Ini adalah momentum yang tepat untuk merayakan keberagaman film Indonesia, karena kita punya banyak genre film dari horor, komedi, drama. Secara kualitas kita juga bisa lihat apa yang ditawarkan oleh film-film Indonesia dari opening tahun ini aja deh,” kata Reza setelah acara nonton bareng film “My Stupid Boss 2” di Jakarta, Jumat (29/3).

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada para pekerja film yang telah bekerja keras menjaga dan meningkatkan kualitas film Indonesia, serta mengeluarkan seluruh kemampuannya demi menghasilkan karya terbaik.

“Para sutradara, para penulis skenario, para kru, para editor, para produser yang tetap setia membuat film-film Indonesia. Buat saya ini perlu mendapat apresiasi tertinggi untuk pembuat film Indonesia,” ujar Reza yang telah berperan di banyak film.

Menurut penerima penghargaan Piala Citra itu, perfilman Indonesia sedang menggeliat hebat dalam tiga tahun terakhir. Layar-layar bioskop di Indonesia pun diwarnai dengan film-film lokal beragam genre.

“Dari market share-nya aja deh, yang dari tahun sebelumnya sekitar 48 persen, kalau enggak salah di tahun ini diperkirakan akan ada di angka 52 persen. Jadi buat saya, ini semua seperti apa ya bisa dibilang tiga tahun terakhir sebagai momentum kebangkitan film nasional,” lanjut Reza yang memerankan tokoh Bossman di film “My Stupid Boss” itu.

Dalam perayaan Hari Film Nasional, ia pun berharap jumlah bioskop di Indonesia makin bertambah agar masyarakat punya kesempatan yang sama untuk menyaksikan film-film lokal.

“Karena di daerah-daerah masih banyak yang belum terjangkau bioskop. Ini yang harus dipikirkan baik untuk pemerintah atau kerja sama dengan pihak-pihak terkait. Karena semakin banyak bioskop, semakin banyak layar, maka kesempatan untuk meraih penonton juga semakin tinggi,” demikian ujar Reza Rahadian.

Baca juga: Yoriko Angeline senang film Indonesia diterima baik oleh masyarakat
Baca juga: Bekraf : film memiliki efek multiplier yang baik
Baca juga: JK serahkan apresiasi kesetiaan saat peringatan Hari Film Nasional

 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

15 film Indonesia terlaris 2019

Jakarta (ANTARA) – Industri perfilman Indonesia semakin berkembang, terutama dalam dua tahun terakhir, yang ditandai dengan lahirnya sejumlah film yang mampu menyedot perhatian masyarakat di negeri ini.

Beberapa film Indonesia bahkan sukses mendapatkan pengakuan dunia, termasuk Hollywood dan festival-festival film internasional.

Di antara yang menyita perhatian publik Indonesia, “Dilan 1991” diakui sebagai film terlaris 2019, dengan jumlah penonton mencapai 5,2 juta lebih, jauh di atas “Keluarga Cemara”, “Preman Pensiun”, dan lainnya.

Berikut 15 film Indonesia peringkat teratas berdasarkan jumlah penonton pada 2019, mengutip data filmindonesia.or.id yang didirikan oleh Yayasan Konfiden, Sabtu.

Data jumlah penonton itu dikumpulkan dari Cinema 21, Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI), produser film, dan sumber-sumber lainnya. Untuk tahun berjalan, data jumlah penonton ini diperbarui setiap minggunya.

Baca juga: Reza Rahadian rayakan keberagaman sinema di Hari Film Nasional
Baca juga: Pesan Ernest Prakasa di Hari Film Nasional: Tonton yang orisinal
Baca juga: Lala Timothy: Hari Film Nasional adalah pengingat untuk saling dukung

Pewarta: Suryanto
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pesan Ernest Prakasa di Hari Film Nasional: Tonton yang orisinal

Jakarta (ANTARA) – Sutradara dan aktor Ernest Pakasa punya pesan khusus bagi masyarakat pada peringatan Hari Film Nasional 30 Maret yaitu selalu tonton film orisinal.

“Nonton bioskop itu effort-nya kan gede banget. Keluar rumah ada biaya dan waktu yang udah mereka luangkan. Dengan kita minta orang nonton film kita, kita udah demand so much ke mereka. Kalau aku dengan orang nonton film aja, itu udah puji Tuhan banget,” kata Ernest yang ditemui di Jakarta, baru-baru ini.

“Kalau nonton ya yang original, jangan yang di situs-situs itu,” katanya melanjutkan.

Dengan menonton film orisinal di bioskop maupun saluran resmi, akan sangat membantu para pembuat film untuk terus berproduksi menghasilkan karya-karya yang terbaik, jelasnya.

Menurut Ernest jumlah penonton film Indonesia sepanjang tahun juga terus meningkat, yang menunjukkan industri film Indonesia berkembang dengan sangat baik. Selain itu genre film lokal juga tidak lagi didominasi dengan satu tema saja.

Masuknya film-film box office Hollywood nyatanya tidak menghalangi minat masyarakat untuk menyaksikan karya anak bangsa di bioskop.

“Jumlah penonton film Indonesia secara proporsi juga terus bertumbuh dibandingkan dengan film Hollywood. Jadi sebenarnya progres kita beberapa tahun terakhir bagus sekali, we run in the right track, bagus sekali,” jelas aktor yang juga seorang komika itu.

Ia pun berharap sineas Tanah Air untuk tetap menjaga industri film Indonesia tetap sehat.

“Dari sisi filmmaker sih aku berharap salah satu ciri industri yang sehat adalah variasi film. Variasi seperti ini lebih sehat walaupun horor masih ngetren. Tapi tetap ada kemunculan-kemunculan dari berbagai genre lain juga. Semoga terus dilestarikan oleh filmmaker lain,” demikian Ernest.

Baca juga: Lala Timothy: Hari Film Nasional adalah pengingat untuk saling dukung
Baca juga: Yoriko Angeline senang film Indonesia diterima baik oleh masyarakat

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lala Timothy: Hari Film Nasional adalah pengingat untuk saling dukung

Intinya Hari Film Nasional adalah selebrasi untuk mengingatkan kita untuk berkarya lebih dan saling support sama lain. Enggak cuma filmmaker, penonton juga, media juga

Jakarta (ANTARA) – Hari Film Nasional adalah selebrasi untuk mengingatkan para pembuat film agar saling mendukung satu sama lain kata produser Sheila Timothy, yang akrab disapa Lala.

“Buat saya hanya mengingatkan kita filmmaker, terutama filmmaker Indonesia bahwa kita punya industri dan kita sebagai stakeholder perfilman Indonesia harus sama-sama bisa maju,” kata produser “Wiro Sableng” itu, saat ditemui di Jakarta, baru-baru ini.

“Dan kita industri perfilman Indonesia masih punya banyak PR untuk bisa maju seperti negara-negara lain,” ujarnya lebih lanjut.

Meski demikian, Lala sangat optimistis jika film Indonesia mampu bersaing di pasar global.

“Tahun ini sangat optimis. Bersaing di market global sekarang ini jadi agak tidak sama seperti lima tahun lalu, karena sekarang sudah digital. Begitu kita masuk digital kita harus worldwide,” ujar kakak kandung aktris Marsha Timothy itu.

“Beda dengan dulu yang kita istilahnya harus ke teritori-teritori. Sekarang biasanya begitu masuk ke satu, let’s say Netflix, worldwide udah tayang semua di sana,” katanya menambahkan.

Baca juga: Yoriko Angeline senang film Indonesia diterima baik oleh masyarakat
Baca juga: Bekraf : film memiliki efek multiplier yang baik
Baca juga: JK serahkan apresiasi kesetiaan saat peringatan Hari Film Nasional

 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Yoriko Angeline senang film Indonesia diterima baik oleh masyarakat

Semoga perfilman Indonesia ke depannya semakin maju dan bisa menjadi tuan rumah di negaranya sendiri

Jakarta (ANTARA) – Pendatang baru di industri sinema Tanah Air, aktris Yoriko Angeline merasa bahwa film Indonesia makin diterima dengan baik oleh masyarakat.

Pemeran Wati dalam “Dilan” itu, mengatakan, film Indonesia kian beragam bahkan banyak rumah produksi baru yang bermunculan dan menghadirkan tontonan layar lebar yang berkualitas.

“Semakin ke sini makin appreciate sama perfilman Indonesia yang sekarang sudah bener-bener diterima dengan baik. Ini bisa dilihat dari banyaknya PH (production house) film baru bermunculan di Indonesia dan banyak menghasilkan karya-karya yang luar biasa,” ujar Yoriko saat dihubungi Antara di Jakarta, Jumat (29/3).

Bagi Yoriko, dukungan dari bioskop-bioskop juga menjadi bukti bahwa film lokal telah mendapat tempat di hati masyarakat.

“Kita bisa lihat juga support dari bioskop-bioskop di seluruh Indonesia juga luar biasa. Karena film ‘Dilan 1991’ mendapat layar yang luar biasa banyak sehingga ‘Dilan’ bisa dinikmati dan diapresiasi dengan sangat baik oleh penonton,” kata bintang “After Met You” itu.

Dengan dirayakannya Hari Film Nasional pada 30 Maret, Yoriko berharap perfilman Indonesia semakin bersinar.

“Semoga perfilman Indonesia ke depannya semakin maju dan bisa menjadi tuan rumah di negaranya sendiri,” ujar Yoriko.

Baca juga: JK serahkan apresiasi kesetiaan saat peringatan Hari Film Nasional
Baca juga: Bekraf : film memiliki efek multiplier yang baik
Baca juga: Yoriko terkejut ada iklan mirip adegan Dilan 1991

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Iko Uwais tampilkan kembangan pencak silat dalam “Triple Threat”

Jakarta (ANTARA) – Aktor Iko Uwais menampilkan banyak jurus kembangan pencak silat pada film terbarunya “Triple Threat” yang digarap sutradara asal Inggris Jesse V Johnson.

Kembangan dalam pencak silat merupakan gerakan tangan dan sikap tubuh yang dilakukan sambil memperhatikan, mewaspadai gerak-gerik musuh.

Murhananto, dalam buku “Menyelami Pencak Silat” terbitan Puspa Swara pada 1993, menjelaskan jurus kembangan itu sekaligus berupa gerakan mengintai celah pertahanan lawan

Jurus yang ditampilkan aktor berusia 36 tahun itu memiliki gerakan yang indah dipandang layaknya tarian, tapi dapat melumpuhkan lawan.

Pada film yang dirilis Maret 2019 itu, Iko Uwais beradu peran dengan sejumlah aktor laga mancanegara seperti Tony Jaa dan Tiger Chen, serta Scott Adkins, Michael Jai White dan Michael Bisping dari Hollywood.

Triple Threat mengisahkan Jaka (Iko Uwais) yang ingin membalas kematian istrinya karena menjadi korban tentara bayaran yang dipimpin Collins (Scott Adkins).

Untuk menuntaskan misinya, Jaka bertarung melawan tentara bayaran lain dengan menggunakan jurus kembangan pencak silat itu.

Dialog film berdurasi 96 menit itu menggunakan sejumlah bahasa yaitu Inggris, Thailand, Mandarin, dan Indonesia. Tapi, tokoh Jaka justru menggunakan bahasa Indonesia ketika menelepon kedutaan China untuk melaporkan keberadaan Xian (Celina Jade).

Triple Threat yang mengambil lokasi syuting di Amerika Serikat, China, dan Thailand itu mendapatkan rating 5,9/10 menurut Internet Movie Database (IMDb).

Baca juga: “Triple Threat” film laga terbaru dari Iko Uwais

Pewarta: Muhammad Adimaja
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Minat jadi produser di Indonesia masih sedikit

Jakarta (ANTARA) – Lala Timothy mengatakan bahwa tidak banyak anak muda yang mau menjadi produser. Rata-rata mereka hanya tertarik dengan dunia sutradara dan penulis naskah.

Produser juga merupakan bagian yang tak kalah penting dari sebuah film. Sebab, dialah yang akan mengatur semua perencanaan untuk keberhasilan film.

“Saya kan sering banget ke daerah-daerah ke komunitas. Rata-rata semuanya mau jadi writer, tapi siapa yang produksi filmnya? Makanya produser penting banget dan dari produser kita ke ranah yang lain,” ujar produser film “Wiro Sableng” itu dalam acara “Ngobrol Aja Dulu #2: The Movie Agent” di Jakarta, Kamis (28/3).

Untuk menjadi produser, kata Lala, seseorang harus mengerti soal mengatur keuangan, perencanaan target, mengatur pemain serta menjadi psikolog.

“Kunci menjadi produser adalah management, bagaimana me-manage uang, pegawai dan kru. Dan harus multitasking. Produser juga harus bisa jadi guru, psikolog dan enggak melulu juga produser harus tahu film, tapi dia harus tahu semua yang ada di film,” kata Lala.

Bagi Lala tantangan terbesarnya adalah ketika menjadi produser “Wiro Sableng”. Sebab, dia membawahi lebih dari 1.000 orang kru. Selain itu, “Wiro Sableng” juga merupakan sebuah film kolosal dengan banyak adegan berat.

Lala harus bisa memastikan bahwa setiap detail syuting dan perlengkapan film harus berjalan sesuai rencana. Jika tidak akan berpengaruh pada anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

“Untuk film “Wiro Sableng” banyak banget krunya dan budgetnya terbesar. Ini film kolosal pertama saya dan kita baru pertama kali bikin film sekompleks ini. Tanggung jawab berat, karena kerja sama dengan production house luar negeri. Kadang-kadang gemetar juga,” kata kakak kandung Marsha Timothy ini.

Baca juga: Kata Lala Timothy dan Ernest Prakasa soal film Indonesia

Baca juga: Wiro Sableng, kembalinya jagoan lokal di layar lebar

Baca juga: Vino G Bastian menangis saksikan film “Wiro Sableng”

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ernest Prakasa akan rilis “Imperfect”, film dengan sedikit komika

Jakarta (ANTARA) – Tahun ini, Ernest Prakasa akan merilis film kelimanya yang berjudul “Imperfect” yang lebih bercerita soal kisah romantis, dengan sedikit lelucon komika.

Dalam setiap filmnya, Ernest selalu mengajak para komika untuk memperkuat sisi komedi. Namun berkaca dari film sebelumnya, ternyata bagian komedi bisa dihadirkan melalui dialog dari pemain di luar komedian.

“Mungkin ini bisa jadi film gue dengan komika paling sedikit. Kemarin yang di “Milly & Mamet” untuk pertama kali gue pakai kurang dari 10 orang komika. Karena gue ambil komedinya dari Isyana Sarasvati, Melly Goeslaw dan lainnya,” ujar Ernest usai acara “Ngobrol Aja Dulu #2: The Movie Agent” di Jakarta, Kamis (28/3).

“Nah, di sini juga kayaknya bakal kayak gitu. Mau gue bebankan ke pemain utamanya aja karena mau kedepankan romance-nya,” lanjutnya.

Selain itu, upaya mengurangi jumlah komika disebabkan karena Ernest pernah mendapat kritikan tentang pengulangan pemain antara film “Cek Toko Sebelah” dengan “Susah Sinyal”.

“Itu yang coba gue tinggalkan di “Milly & Mamet”. Makanya di situ gue pakainya dikit banget. Kayaknya nanti di “Imperfect” juga gitu. Kalau ada pengulangan paling 2-3 orang doang. Enggak semua orang kritiknya gue dengerin, tapi kritik yang kayak tadi gue ambil bahwa jangan terlalu banyak pemain yang diulang,” jelas sutradara “Cek Toko Sebelah” itu.

“Imperfect” diambil dari buku karya Meira Anastasia yang merupakan istri Ernest. Film tersebut akan bergenre komedi romantis. Saat ini, Ernest dan sang istri sedang merampungkan naskahnya.

“Ini pertama pertama kalinya gue bikin romance comedy, ini sisi romantisnya jadi sisi utama. Gue belum tahu berperan jadi apa, karena masih 60 persen skenarionya ditulis. Nanti kalau udah jadi, gue baru bisa milih kayaknya gue cocok meranin ini. Jadi belum tahu mernanin apa, tapi pasti tetap main,” katanya.

Baca juga: Kata Lala Timothy dan Ernest Prakasa soal film Indonesia

Baca juga: Ernest Prakasa pertimbangkan berhenti jadi aktor

Baca juga: Ernest Prakasa prediksi film action akan berjaya di 2019

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kata Lala Timothy dan Ernest Prakasa soal film Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Produser film Sheila Timothy dan Ernest Prakarsa bicara soal film Indonesia yang menurut mereka punya banyak tema untuk diangkat.

Dibandingkan dengan Korea Selatan yang dikenal dengan film romantisnya dan Thailand yang unggul di film horor, genre unggulan film Indonesia lebih bervariasi.

“Film Indonesia itu lebih beragam karena Indonesia multikultur. Jadi justru kekayaan bahasa itu jadi kekayaan kita. Itu jadi salah satu kelebihan kita. Jadi untuk apa punya satu wajah,” kata Sheila yang akrab disapa Lala dalam acara “Ngobrol Aja Dulu #2: The Movie Agent” di Jakarta, Kamis (28/3).

Sementara, menurut Ernest yang hadir dalam acara sama, film Indonesia yang masuk box office justru dari genre yang berbeda-beda. Selain itu, banyak juga film Indonesia yang tayang di berbagai festival dan mendapat penghargaan di luar negeri.

“Film kita sangat variatif komedi, romansa, action, horor tentunya, gue sampai saat ini belum bisa menentukan cirinya,” ujarnya.

“Karena ragam kita luar biasa. Kayak film box office ‘Dilan, ‘Warkop’. Dari film festival, ‘Marlina’, ‘Sekala Niskala’, range-nya sangat luas sekali. Kalau ciri susah juga,” jelas sutradara “Cek Toko Sebelah” itu.

Dalam kesempatan itu, Ernest juga menekankan bahwa penonton Indonesia saat ini sudah sangat kritis terhadap kualitas film yang mereka saksikan.

Para penonton bisa memilih dan membedakan mana film yang bagus atau tidak sehingga mendorong industri film Tanah Air untuk menghasilkan film berkualitas.

“Enggak usah mikirin film Korea begitu, film Thailand begini. Bikin film aja, yang penting penonton ketika nonton enggak kapok, kalau udah gitu kan bahaya,” ujarnya.

Baca juga: Kemdikbud ingin HFN jadi momentum pemajuan film Indonesia
Baca juga: “Dilan 1991” kembali pecahkan rekor, begini tanggapan sutradara

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019