Joaquin Phoenix: Joker adalah pengalaman terbesar saya

Jakarta (ANTARA) – Aktor Joaquin Phoenix mengaku peran sebagai Joker adalah pengalaman terbesar dalam karirnya meski sempat ragu sebelum menandatangi kontrak untuk film terbaru Todd Philips itu.

“Jujur saja, itu bukan keputusan yang mudah pada awalnya. Saya tidak tahu, saya benar-benar tidak tahu. Tapi kemudian, ada sesuatu yang menarik saya ke sana,” kata Phoenix dilansir Variety, Rabu.

“Semuanya berkembang saat kami bekerja sama. Itu menjadi sesuatu yang lebih besar dari perkiraan saya. Ini menjadi salah satu pengalaman terbesar dalam karir saya,” lanjutnya.

Baca juga: Joaquin Phoenix tak akan jadi Joker di film “The Batman”

Interpretasi Phoenix tentang Joker datang ketika Warner Bros (WB) sedang mencoba mengubah DC Universe, mengikuti hasil yang mengecewakan dari “Justice League” 2017 dengan Batman dan Superman.

Sementara, Todd Phillips mengatakan bahwa dia melempar “Joker” ke eksekutif WB sebagai cerita asal-usul, mirip dengan film tahun 1970-an dan 80-an yang tumbuh dengan berat seperti “Raging Bull” dan “Network.”

“Apa yang hebat tentang Joker adalah dia narator yang tidak bisa diandalkan dan dia tidak punya cerita asal. Kami memiliki kebebasan. Kami memilih dari beberapa komik. Itu benar-benar membebaskan,” ujar Phillip.

Baca juga: Sutradara “Joker” raih penghargaan tertinggi di Venice Film Festival

Phillips mengaku sudah terpikir Phoenix ketika menulis naskah, tetapi butuh beberapa waktu untuk meyakinkan aktor tersebut.

“Saya selalu mengatakan dia tidak pernah benar-benar masuk ke film. Dia baru saja muncul untuk pakaian yang pas,” ujar Phillips.

Tidak seperti film-film komik lainnya, Warner Bros memasarkan dan memposisikan “Joker” sebagai drama dewasa dan penantang penghargaan serius.

Baca juga: Sutradara mulai pertimbangkan sekuel “Joker”

Film itu ditayangkan perdana dalam Festival Film Venice pada 31 Agustus, dan memicu desas-desus bahwa Phoenix dapat dinominasikan untuk aktor terbaik Oscar.

Sebelumnya, Heath Ledger, yang memainkan Joker dalam “The Dark Knight,” memenangkan aktor pendukung terbaik Academy Award anumerta pada 2009.

Baca juga: “The Joker” dapat rating tinggi meski belum dirilis di bioskop

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Reza Rahadian harap GKFP munculkan talenta baru di industri film

Jakarta (ANTARA) – Aktor Reza Rahadian berharap Gelar Karya Film Pelajar (GKFP) 2019 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) akan melahirkan talenta-talenta baru di industri film.

“Melalui GKFP, saya berharap talenta-talenta baru di industri film akan bermunculan sehingga terjadi keberlangsungan di industri film Indonesia. Selain itu, ini merupakan salah satu kontribusi saya di industri film Indonesia,” kata Reza Rahadian selaku Direktur Festival GKFP, seperti dikutip dari keterangan pers yang diterima Antara, Selasa.

Harapan serupa juga disampaikan Angga Aldi Yunanda yang terpilih sebagai ikon GKFP 2019. Angga yang dikenal lewat aktingnya dalam film “Dua Garis Biru” garapan sutradara Gina S. Noer, dianggap mewakili suara generasi milenial.

“Ini adalah jalan pembuka untuk generasi saya untuk bisa terjun ke industri film dan membawa ide-ide baru bagi perfilman Indonesia,” ujar Angga.

GKFP merupakan ajang kreativitas dan pencarian bakat baru di industri film, yang diikuti oleh sineas muda tingkat SMA/SMK/sederajat. Ada dua kategori film yang dikompetisikan, yakni film pendek fiksi dan dokumenter.

Setiap sekolah hanya diperbolehkan mengirimkan satu karya berdurasi maksimal 10 menit.

Film-film yang masuk akan diseleksi secara administrasi oleh tim pusbangfilm, selanjutnya dinilai dan dipilih oleh tim ahli serta dewan juri.

Tim ahli yang beranggotakan praktisi film yakni Pritagita Arianegara, Gita Fara, Titien Watimena, Gritte Agatha, dan Wicaksono Wisnu Legowo akan memilih 30 film pendek fiksi dan 30 film pendek dokumenter dari seluruh karya yang masuk.

Sedangkan dewan juri yang terdiri atas Garin Nugroho, Sheila Timothy, dan Yudi Datau akan menentukan masing-masing 20 pembuat film pendek fiksi dan dokumenter untuk mengikuti lokakarya di Jakarta.

Dewan juri juga akan menentukan lima nominasi film pendek fiksi dan dokumenter terbaik.

Pendaftaran untuk mengikuti GKFP dapat dilakukan melalui laman pusbangfilm.kemendikbud.go.id atau Instagram @gkfp_2019 dengan mengunduh formulir pendaftarannya pada profil akun tersebut sebelum 30 September 2019.

Baca juga: “Dragon Dance” film karya pelajar SMP di Kudus nominator GKFP 2018

Baca juga: Reza Rahadian rayakan keberagaman sinema di Hari Film Nasional
 

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Alasan Nicky Tirta belum cari pendamping lagi

Jakarta (ANTARA) – Nicky Tirta, aktor yang kini menggeluti dunia kuliner, mengungkap alasan dirinya hingga saat ini belum juga mencari pendamping hidup setelah bercerai.

“Jadi salah satu alasan sih. Anakku cukup posesif, misalkan meeting untuk urusan masak, udah jelas kan itu klien, anak aku sudah mulai diam dan enggak mau kenalan,” ujar Nicky dalam acara “Indofood : Cooking Gathering MasakApaYa” di Jakarta, Selasa.

“Ellyna (Naara Ellyna Tirta) posesif sekali, enggak boleh punya yang lain katanya,” lanjutnya.

Nicky menikah dengan Liza Elly Purnamasari, runner-up pertama Puteri Indonesia 2011 pada 2012. Setelah menikah enam tahun, keduanya memutuskan untuk bercerai.

Baca juga: Sibuk masak, Nicky Tirta tinggalkan akting

Bintang sinetron “Senandung Masa Puber” itu mengaku tidak trauma dengan kegagalan rumah tangganya. Saat ini ia memilih untuk fokus mengurus anak dan karir barunya sebagai chef.

“Aku prinsipnya jalani hidup dengan ikhlas. Apa pun yang terjadi di dalam hidupku itu sudah takdir dan harus lapang dada. Ketika aku ikhlas dengan tulus, lebih enak buat aku menjalani hidup, rezeki juga banyak ngalir ke aku,” ujarnya.

Nicky lantas bercerita bahwa ada beberapa orang yang menyatakan cinta kepadanya melalui media sosial.

“Ada yang kayak senang karena lihat aku suka masak, terus akhirnya dia nyatain perasaan, ada juga yang kasihan lihat keseharian aku yang kerjaannya masak sama ngurusin anak aja, terus dia nyatain perasaan ujung-ujungnya. Tapi aku juga bingung respons-nya gimana, enggak terlalu kenal,” kata Nicky.

Baca juga: Nicky Tirta rajin coba resep baru
 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Face/Off” akan dibuat ulang

Jakarta (ANTARA) – Paramount Pictures akan membuat ulang film aksi thriller “Face/Off” tanpa menghilangkan inti cerita alias versi “reboot”. Saat ini film tengah digodok.

Menurut laporan The Hollywood Reporter, Selasa, penulis skenario “22 Jump Street”, Oren Uziel akan menulis naskahnya. Sementara pada jajaran produser akan diduduki oleh Neal Moritz dan David Permut.

Disutradarai oleh John Woo, “Face/Off” dirilis pada 1997 dan dibintangi John Travolta sebagai Sean Archer, seorang agen FBI yang sangat ingin menangkap teroris Castor Troy (Nicolas Cage), pria yang membunuh putranya.

Dalam upaya penyamaran, Archer menjalani operasi transplantasi dan dia mengambil wajah Castor untuk masuk ke penjara.

Sayangnya masalah menjadi semakin rumit saat Castor terbangun dari koma dan mengadopsi wajah asli Archer.

“Face/Off” asli menjadi hit besar dengan pendapatan global sebesar 245 juta dolar AS. Namun tanggal rilis dan keterlibatan John Travolta atau Nicholas Cage belum dikonfirmasi.

Sementara itu, John Travolta baru saja merilis film terbarunya “Fanatic” yang disutradarai oleh vokalis Limp Bizkit, Fred Durst.

Baca juga: Hilary Duff bilang “reboot” Lizzy McGuire masuki babak baru

Baca juga: John Travolta sumbangkan pesawatnya untuk museum Australia

Baca juga: Nicholas Cage Sumbang $2 Juta Untuk Anak-anak Bekas Tentara

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Joaquin Phoenix tak akan jadi Joker di film “The Batman”

Jakarta (ANTARA) – Sutradara film “Joker” Todd Phillips mengatakan bahwa Joker versi Joaquin Phoenix dipastikan tidak akan muncul dalam film “The Batman” yang dibintangi oleh Robert Pattinson.

Baca juga: Kristen Stewart dukung Robert Pattinson perankan Batman

“Tidak, pasti tidak,” kata dia ketika ditanya apakah duo tersebut akan muncul dalam film terbaru Batman, di sela-sela acara Festival Film Internasional Toronto (TIFF), dilansir dari Variety, Selasa.

Meski demikian, Phillips menegaskan bahwa “Joker” bukanlah film terakhir yang akan menceritakan soal salah satu musuh terbesar di semesta DC Comics itu.

Baca juga: Sutradara “Joker” raih penghargaan tertinggi di Venice Film Festival

Menurut Phillips, sebuah karakter atau cerita dapat dibuat ke berbagai versi, pun dengan karakter komik seperti Joker. “Komik itu bagaikan Shakespere, sedangkan kita bisa membuat banyak versi dari ‘Hamlet’,” ujarnya mengibaratkan.

Ia pun mengatakan bahwa ia optimistis akan ada banyak versi “Joker” yang bisa dibawa ke layar perak.

“Saya yakin akan ada banyak Joker lagi di masa depan,” tutupnya.

Sementara itu, pemutaran perdana “Joker” akan segera dilakukan di Festival Film Internasional Toronto (TIFF) tak lama setelah film itu dianugerahi sebagai film terbaik dalam ajang Festival Film Venice beberapa waktu lalu.

Rencananya, film ini akan tayang di Amerika Serikat 4 Oktober mendatang.

Baca juga: Premier di Venice, “Joker” dapat “standing ovation” delapan menit

Baca juga: “The Joker” dapat rating tinggi meski belum dirilis di bioskop

Baca juga: Joaquin Phoenix terinspirasi pasien gangguan mental perankan Joker

Penerjemah: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Bill Skarsgard sebut ada kemungkinan untuk “It: Chapter 3”

Jakarta (ANTARA) – Aktor pemeran badut Pennywise dalam film seri “It”, Bill Skarsgard, menyebutkan adanya kemungkinan untuk bagian alias chapter ketiga film yang diadaptasi dari novel karya Stephen King tersebut.

Kendati Sutradara Andy Muschietti sekarang telah secara tuntas menghabiskan jalan cerita dari novel “It”, aktor asal Swedia itu mengaku siap untuk memerankan si badut yang meneror kota Derry itu.

“Film kedua sudah berakhir sesuai di novel. Namun, ada aspek menarik untuk kembali ke masa sebelum semua ini terjadi. Mungkin ada cerita di sana yang perlu ditelusuri,” kata Skarsgard dilansir dari Entertainment Weekly, Senin.

Menurut dia, cerita backstory yang tidak ada di buku dapat dibuat menjadi cerita yang berdiri sendiri (spinoff), dan tentunya akan menyajikan kesegaran yang baru.

“Jelas itu akan menjadi cerita yang tidak ada di buku, itu akan menjadi cerita yang berdiri sendiri, tetapi berada di universe ‘It’. Jadi, mungkin ada sesuatu yang menarik darinya, dan akan menyenangkan,” papar aktor berusia 29 tahun itu.

Sementara itu, aksi dari janji yang pernah dibuat oleh “The Losers Club” dalam sekuel kedua film “It” dapat ditonton di bioskop-bioskop Tanah Air mulai Rabu (4/9).

“It: Chapter 2” yang turut dibintangi James McAvoy ini seakan menguak sedikit demi sedikit misteri dari ‘it’ maupun para karakternya, dengan durasi film selama 176 menit.

Baca juga: Si badut Pennywise kembali mengajak bermain dalam “It: Chapter 2”

Baca juga: “It: Chapter Two” raih 100 juta dolar di pekan perdana box office

Baca juga: James McAvoy akan lelang kemeja dipenuhi tanda tangan selebritis Oscar

Penerjemah: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hailee Steinfeld diincar untuk gabung di serial TV “Hawkeye”

Jakarta (ANTARA) – Hailee Steinfeld dikabarkan tengah menjalani pembicaraan awal terkait rencana keterlibatannya dalam serial televisi produksi Disney + yakni “Hawkeye”.

Dilansir The Hollywood Reporter, Selasa, Hailee Steinfeld akan memerankan Kate Bishop, seorang pahlawan muda yang dilatih oleh Clint Barton (Jeremy Renner) untuk melawan kejahatan dengan bantuan senjata busur dan anak panah.

Baca juga: Disney akan buat serial tokoh Marvel Hawkeye

Dalam komik, Kate Bishop memulai debutnya di “Young Avengers No 1” tahun 2005 dan diciptakan oleh penulis skenario “Wonder Woman” Allan Heinberg dan artis Jim Cheung.

Bishop dikisahkan memulai karir sebagai atlet amatir yang kemudian bergabung dengan Young Avengers, sekelompok pahlawan remaja yang terinspirasi oleh Avengers.

Dikenal karena kepribadian sarkastiknya, Bishop dengan cepat menjadi favorit penggemar.

Baca juga: Jeremy Renner “Hawkeye” ingin Spider-Man kembali ke Marvel

Hailee Steinfeld sebelumnya pernah masuk dalam nominasi Oscar kategori Aktris Pendukung Terbaik atas perannya di film “True Grit” di tahun 2010 lalu.

Dia juga sudah menjadi anggota keluarga Marvel dengan ikut sebagai pengisi suara Spider-Gwen dalam film animasi pemenang penghargaan “Spider-Man: Into the Spider-Verse”.

Serial TV “Hawkeye” rencananya akan tayang pada musim gugur 2021.

Baca juga: “True Grit” Melesat

Baca juga: Hailee Steinfeld dan Jeremy Zucker siap “goyang” SGF 2019

Baca juga: “Spider-Man: Into the Spider-Verse” menangkan animasi terbaik Oscar 2019

Penerjemah: Yogi Rachman
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kristen Stewart dukung Robert Pattinson perankan Batman

Jakarta (ANTARA) – Kristen Stewart memberikan dukungan untuk mantan kekasihnya, Robert Pattinson yang mendapat peran sebagai Batman.

Menurut bintang “Twilight” itu, Pattinson sangat ideal berperan sebagai Bruce Wayne dan tidak sabar ingin melihatnya mengenakan jubah.

Baca juga: Robert Pattinson sempat kesal perannya di “Batman” bocor

“Saya merasa sepertinya dia satu-satunya pria yang bisa memainkan peran itu,” kata Stewart dilansir Variety, Selasa.

“Saya sangat berbahagia untuknya. Ini gila. Saya sangat, sangat senang tentang itu. Saya mendengar itu dan saya berkata, ‘Ya ampun!’ Ini luar biasa,” lanjutnya.

Selain itu, bagi Stewart, Pattinson memiliki tulang pipi yang sangat sempurna untuk menjadi Batman.

Dukungan yang diberikan oleh Stewart muncul setelah produser “Batman”, Michael E. Uslan membela Pattinson untuk melawan orang-orang yang tidak menyukainya berperan sebagai Batman dengan berkata, “Tunggu sampai Anda melihatnya”.

Kristen Stewart saat ini sedang disibukkan dengan berbagai proyek layar lebar, salah satunya reboot “Charlie’s Angels” yang disutradarai oleh Elizabeth Banks.
   

Baca juga: Eddie Redmayne tertarik perankan musuh Batman, “The Riddler”

Baca juga: Kristen Stewart akan terima Golden Eye Award

Baca juga: Kristen Stewart ingin Jean Seberg dikenal lebih dari sekadar rambutnya

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Eddie Redmayne tertarik perankan musuh Batman, “The Riddler”

Jakarta (ANTARA) – Aktor Inggris, Eddie Redmayne, mengungkapkan ketertarikannya untuk memerankan The Riddler, karakter musuh dari komik Batman buatan DC Comics apabila diadaptasi ke dalam bentuk film.

“Aku ingin memerankannya (The Riddler),” ujar Redmayne seperti dilansir Comicbook, Selasa.

The Riddler merupakan tokoh antagonis dan salah satu musuh Batman yang pertama kali muncul di komik pada 1948. The Riddler digambarkan sebagai tokoh yang memiliki obsesi pada segala hal yang berhubungan dengan teka-teki.

Baca juga: Matt Reeves cari sosok penjahat untuk “The Batman”

Baca juga: Robert Pattinson sempat kesal perannya di “Batman” bocor

Redmayne pun mengaku bahwa ia merupakan penggemar dan pembaca cerita-cerita tokoh superhero di buku komik.

Bahkan, aktor terbaik Academy Awards pada tahun 2015 itu disebut-sebut pernah mengikuti audisi untuk dua film Marvel “The Amazing Spider-Man” dan “Guardians of The Galaxy”.

“Aku menggemari komik sejak lama. Aku juga menonton film-film itu,” paparnya.

Sementara itu, setelah menemukan Robert Pattinson yang memerankan Batman, sutradara Matt Reeves kini dilaporkan sedang mencari aktor untuk mengisi karakter empat penjahat dalam “The Batman”, dengan The Riddler sebagai penjahat utamanya.

Meski demikian, baik Reeves ataupun Warner Bros belum mengkonfirmasi perihal masalah ini. Pembuatan film “The Batman” diharapkan akan mulai pada musim gugur ini di London dan tayang pada musim panas 2021.

Baca juga: Eddie Redmayne harapkan kesetaraan gender di Hollywood

Baca juga: Stephen Hawking “ganti suara”, Eddie Redmayne hingga Liam Neeson ikut audisi

Baca juga: Eddie Redmayne pernah ditolak jadi Voldemort

Penerjemah: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Absen 18 tahun, Winky Wiryawan perlu adaptasi untuk film horor

Jakarta (ANTARA) – Setelah sempat absen selama 18 tahun untuk berperan dalam film berjenis horor, aktor Winky Wiryawan mengaku bahwa kendala yang paling rasakan ialah membiasakan diri untuk unjuk gigi di depan kamera.

“Kendala sih kalo buat gue, soal menghafal skrip gitu enggak terlalu jadi masalah sih. Itu ibaratnya kayak lama enggak naik sepeda, tapi sebenernya lo masih bisa kan (naik sepeda). Cuma untuk jadi luwesnya itu kan butuh latihan lagi,” ungkap Winky di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (9/9) malam.

Setelah ia mendapatkan panggilan casting kemudian lolos menjadi pemeran Reza dalam film “Lorong”, aktor yang juga dikenal sebagai disk jockey (DJ) itu harus mengikuti latihan akting di teater.

“Makanya gue dua sampai tiga minggu sebelum reading itu gue ketemu sama temen gue yang aktif di teater, gue pingin tahu olah tubuh, lidah, rahang, kaki yang biasa dilakukan sama pemeran,” ujar dia.

Baca juga: Winky Wiryawan jatuh cinta dengan akting Prisia Nasution

Baca juga: Cerita DJ Winky hampir batal manggung gara-gara jarum

Selain itu, ia juga menambahkan harus berkali-kali memastikan kepada sutradara maupun produser untuk pendalaman karakter. Wingky juga banyak diberikan referensi film agar ia dapat menjiwai perannya di film itu.

Wingky pertama kalinya muncul dalam film horor “Jelangkung” karya Riza Mantovani pada 2001. Namun, setelahnya ia justru banyak bermain di kategori film lain, drama misalnya.

“Gue enggak aktif di dunia film sekitar 5-8 tahunan lah karena gue fokus di musik. Gue di belakang layar banyak banget bikin musik,” jelasnya.

“Lorong” dari MVP Pictures berkisah tentang Mayang (Prisia Nasution), seorang ibu yang kehilangan anaknya tepat setelah ia melahirkan. Selain Winky Wiryawan dan Prisia Nasution, hadir pula Nova Eliza sebagai Dokter Vera, Teuku Rifnu Wikana sebagai Darmo, dan artis-artis lainnya yang ikut andil sebagai penyempurna cerita.

Film “Lorong” akan mulai tayang serentak di bioskop pada 12 September 2019.

Baca juga: Kimo Stamboel nilai film horor Indonesia bisa bersaing internasional

Baca juga: Raffi Ahmad kesulitan yakinkan Rudi Soedjarwo sutradarai film horor

Baca juga: Jasmine Elfira kagum dengan pemeran”Scary Stories to Tell in the Dark”

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Winky Wiryawan jatuh cinta dengan akting Prisia Nasution

Jakarta (ANTARA) – Aktor Winky Wiryawan merasa jatuh cinta dengan kemampuan akting Prisia Nasution yang menjadi lawan mainnya dalam film “Lorong”.

“Gue jatuh cinta banget sama aktingnya dia (Prisia). Pas dua minggu sebelum syuting dia datang, gue Alhamdulillah banget. Gue bilang sama dia, gue suka banget sama lo, cara lo handle akting dan segala macamnya. Senang gue bisa kerja sama sama lo,” ungkap Winky di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, Senin (9/9) malam.

Winky juga mengungkapkan bahwa Prisia merupakan nama yang ia usulkan kepada sutradara Hestu Saputra, lantaran belum ditemukannya pemeran tokoh Mayang hingga beberapa hari sebelum syuting.

Baca juga: Cerita DJ Winky hampir batal manggung gara-gara jarum

Baca juga: “Rocker Balik Kampung” akan tayang 12 Juli

Aktor yang juga merupakan seorang disk jockey (DJ) itu menilai Prisia merupakan aktris dengan kemampuan akting yang sangat baik dan telah terbukti di industri perfilman Indonesia.

Penilaian Winky didasari kesuksesan akting Prisia di film “Sang Penari” (2011) dalam membangun chemistry dengan lawan mainnya, Oka Antara. Ia merasa, Prisia pun mampu membangun chemistry sebagai pasangannya di film “Lorong” sangat kuat.

Sementara itu, “Lorong”, film berjenis drama horor dari MVP Pictures berkisah tentang Mayang (Prisia Nasution), seorang ibu yang kehilangan anaknya tepat setelah ia melahirkan.

Sutradara Hestu Pamungkas mengatakan bahwa film ini akan menyuguhkan cerita yang berbeda dari film bergenre sama, karena Hestu berusaha menciptakan film yang ia sutradarai ini agar masuk akal dengan memininalisir jalan cerita yang tidak logis.

Selain Winky Wiryawan dan Prisia Nasution, hadir pula Nova Eliza sebagai Dokter Vera, Teuku Rifnu Wikana sebagai Darmo, dan artis-artis lainnya yang ikut andil sebagai penyempurna cerita.

Film “Lorong” akan mulai tayang serentak di bioskop pada 12 September 2019.

Baca juga: Iedil Putra berguru akting pada Prisia Nasution

Baca juga: Prisia Nasution promosi film Indonesia di India

Baca juga: Prisia ingin menonton pertandingan final pencak silat

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kemarin, Livi Zheng ke Dewan Pers dan penggarapan film “The Santri”

Jakarta (ANTARA) – Sutradara Livi Zheng mediasi dengan tiga media nasional di Dewan Pers, 25 kabupaten di Papua sudah bisa akses internet, Iku Uwais isyaratkan main “Si Buta dari Gua Hantu,” Mercedes luncurkan dua kendaraan hibrida, hingga Livi Zheng gandeng PBNU garap film “The Santri.”

Berikut rangkuman berita kemarin dari kanal hiburan, teknologi dan otomotif yang layak dibaca.

1. Hasil mediasi di Dewan Pers, Livi Zheng akan buat hak jawab
Livi Zheng akan memberikan hak jawabnya terkait pemberitaan mengenai dirinya yang dimuat di media online Tirto.id berdasarkan hasil mediasi dengan pihak terlapor di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin.

Selengkapnya di sini

2. 25 kabupaten di Papua sudah bisa akses internet
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) sudah membuka blokir jaringan internet di 25 kabupaten di Papua setelah sebagian besar wilayah dinyatakan kondusif.

Selengkapnya di sini.

3. Iko Uwais perankan Si Buta dari Gua Hantu?
Unggahan di akun Instagram sutradara Timo Tjahjanto menimbulkan kecurigaan di kalangan penggemar film. Pasalnya, Timo seperti memberikan pesan tersembunyi bahwa aktor Iko Uwais akan memerankan ‘Si Buta dari Gua Hantu’.

Selengkapnya di sini.

4. Mercedes luncurkan dua kendaraan hibrida di Frankfrut Motor Show
Mercedes Benz akan meluncurkan dua kendaraan hibrida GLC 350e 4MATIC EQ Power dan GLE 350 de 4MATIC pada ajang Frankfrut Motor Show 2019,

Selengkapnya di sini.

5. Livi Zheng gandeng PBNU garap film “The Santri”
Sutradara Livi Zheng bersiap membuat gebrakan baru dengan menggarap film “The Santri” yang mengangkat petualangan santri Indonesia sampai di Amerika Serikat.

Film yang produksinya bekerja sama dengan pihak Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut diperankan Gus Azmi, Veve Zulfikar, Wirda Mansur dan Emil Dardak.

Selengkapnya di sini.

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Bill Skarsgrd sebut ada kemungkinan untuk “It: Chapter 3”

Jakarta (ANTARA) – Aktor pemeran badut Pennywise dalam film seri “It”, Bill Skarsgrd, menyebutkan adanya kemungkinan untuk bagian alias chapter ketiga film yang diadaptasi dari novel karya Stephen King tersebut.

Kendati Sutradara Andy Muschietti sekarang telah secara tuntas menghabiskan jalan cerita dari novel “It”, aktor asal Swedia itu mengaku siap untuk memerankan si badut yang meneror kota Derry itu.

“Film kedua sudah berakhir sesuai di novel. Namun, ada aspek menarik untuk kembali ke masa sebelum semua ini terjadi. Mungkin ada cerita di sana yang perlu ditelusuri,” kata Skarsgård dilansir dari Entertainment Weekly, Senin.

Menurut dia, cerita backstory yang tidak ada di buku dapat dibuat menjadi cerita yang berdiri sendiri (spinoff), dan tentunya akan menyajikan kesegaran yang baru.

“Jelas itu akan menjadi cerita yang tidak ada di buku, itu akan menjadi cerita yang berdiri sendiri, tetapi berada di universe ‘It’. Jadi, mungkin ada sesuatu yang menarik darinya, dan akan menyenangkan,” papar aktor berusia 29 tahun itu.

Sementara itu, aksi dari janji yang pernah dibuat oleh “The Losers Club” dalam sekuel kedua film “It” dapat ditonton di bioskop-bioskop Tanah Air mulai Rabu (4/9).

“It: Chapter 2” yang turut dibintangi James McAvoy ini seakan menguak sedikit demi sedikit misteri dari ‘it’ maupun para karakternya, dengan durasi film selama 176 menit.

Baca juga: Si badut Pennywise kembali mengajak bermain dalam “It: Chapter 2”

Baca juga: “It: Chapter Two” raih 100 juta dolar di pekan perdana box office

Baca juga: James McAvoy akan lelang kemeja dipenuhi tanda tangan selebritis Oscar

Penerjemah: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Livi Zheng gandeng PBNU garap film “The Santri”

…Intinya semua yang bermaksud baik untuk kemajuan Indonesia harus saya support

Jakarta (ANTARA) – Sutradara Livi Zheng bersiap membuat gebrakan baru dengan menggarap film “The Santri” yang mengangkat petualangan santri Indonesia sampai di Amerika Serikat.

Baca juga: Livi Zheng enggan komentar soal keterlibatannya di Disney

“Ketika diminta menyutradarai film ‘The Santri’, sebuah kebanggaan. Sejarah Indonesia tidak lepas dari sejarah santri. Lalu ini mengangkat keragaman budaya Indonesia,” kata Livi dalam konferensi pers di kantor PBNU, Jakarta, Senin.

Film yang produksinya bekerja sama dengan pihak Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tersebut diperankan Gus Azmi, Veve Zulfikar, Wirda Mansur dan Emil Dardak.

Ketika ditanya apakah Livi juga akan ikut ambil bagian sebagai pemain seperti di sejumlah film dia sebelumnya, Livi mengaku belum memutuskannya karena masih berdiskusi dengan tim produksi.

Baca juga: Pertama ke premiere film, Deddy Corbuzier puji “Brush with Danger”

Menurut Livi, syuting akan berlangsung di Indonesia dan Amerika Serikat mulai Oktober mendatang. Film diprediksi tayang pada April 2020.

Dalam kesempatan itu, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj mengatakan, “The Santri” bisa menjadi media dakwah dalam konteks pendidikan, budaya dan akhlak sekaligus sarana memperkuat, memperkokoh Islam di Nusantara.

“Ciri khas Islam Nusantara, Islam yang harmonis dengan budaya, kecuali budaya yang bertentangan dengan syariat. Melalui film ini kita dakwahkan Islam yang santun, menjadikan Indonesia kiblat peradaban bukan kiblat solat ya,” tutur dia.

Baca juga: Sutradara Livi Zheng favoritkan “korbek”

Kemudian, mengenai alasan menggandeng Livi, PBNU mengatakan, terlepas dari pembicaraan banyak orang, jaringan Livi di Hollywood yang diyakini luas menjadi salah satu alasannya.

Selain itu, sosok Livi yang muda diharapkan bisa menghasilkan karya yang cocok untuk para milenial, tidak hanya di Indonesia tetapi dunia.

Komposer Purwacaraka juga terlibat dalam film tersebut. Saat ini, Purwacarakan mengaku masih berdiskusi dengan sejumlah pihak terkait indentitas Ke-Indonesia-an seperti apa yang akan ditonjolkan dalam film “The Santri” lewat musik pengiringnya.

“Kita nanti akan lihat, masih harus berdiskusi sejauh mana identitas muncul agar pas di market. Intinya semua yang bermaksud baik untuk kemajuan Indonesia harus saya support,” tutur Purwacaraka.

Baca juga: Inspirasi dari Livi Zheng demi tuai kesuksesan

Baca juga: Keindahan Bali dipertontonkan pada pertemuan IMF-Bank Dunia

Baca juga: Livi Zheng siap bersaing di Academy Awards 2019

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hasil mediasi di Dewan Pers, Livi Zheng akan buat hak jawab

…media terlapor mengaku sudah mencoba konfirmasi dengan pihak Livi Zheng, namun tidak ada jawaban.

Jakarta (ANTARA) – Livi Zheng akan memberikan hak jawabnya terkait pemberitaan mengenai dirinya yang dimuat di media online Tirto.id berdasarkan hasil mediasi dengan pihak terlapor di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin.

Baca juga: Livi Zheng adukan tiga media nasional ke Dewan Pers

Sutradara film “Bali : Beats of Paradise” itu merasa dirugikan dengan beberapa artikel di Tirto.id terkait dirinya yang dianggap tidak melakukan konfirmasi kebenaran terlebih dahulu dengannya.

“Tadi dewan pers sudah memediasi, nanti Tirto akan meminta maaf dan saya akan melakukan hak jawab. Banyak sekali yang keliru dan nanti akan dibuat dalam hak jawab,” kata Livi Zheng usai mediasi.

Baca juga: Livi Zheng gandeng PBNU garap film “The Santri”

Livi menyoroti perihal pemberitaan dalam artikel yang dimuat Tirto.id yang menyinggung soal latar belakang keluarganya. Dia menganggap pemberitaan tersebut keliru dan perlu diluruskan.

“Makanya sudah ada kesepakatan sama Tirto, mereka minta maaf dan saya mendapatkan hak jawab,” ujarnya.

Sementara itu, Arif Zulkifli selaku Ketua Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Pers Dewan Pers mengatakan bahwa Livi Zheng sebagai pihak pelapor baru menyepakati hasil mediasi dengan Tirto.id sebagai salah satu terlapor.

Sedangkan dengan dua media lain, yaitu Geotimes.co.id, dan. Asumsi.co, pihak Livi Zheng masih perlu melakukan pertimbangan.

Baca juga: Pertama ke premiere film, Deddy Corbuzier puji “Brush with Danger”

“Pihak media (teradu) setuju jika Livi akan menimbang-nimbang lebih dulu. Paling lambat hari Kamis akan di follow up lagi untuk kesepakatan damai. Kalau tidak gimana? Nanti Dewan Pers akan buat PPR (Pernyataan Penilaian dan Rekomendasi). Itu sifatnya mengikat dan itu adalah hak preogratif Dewan Pers,” kata Arif.

Arif mengatakan bahwa Tirto.id telah membuat pemberitaan yang mengandung opini dan menghakimi tanpa adanya konfirmasi terhadap Livi Zheng. Hal yang sama juga ditemukan dalam artikel yang dimuat oleh Asumsi.co.

Baca juga: Livi Zheng enggan komentar soal keterlibatannya di Disney

“Setelah kita cek, terhadap Geotimes, dia adalah portal opini. Orang boleh beropini kan. Kalau ada orang yang keberatan kepada orang lain itu, dalam konteks ini adalah Livi. Maka bisa untuk memberikan opini lain, opini lain itu adalah bentuk hak jawab,” imbuh Arif.

Arif menambahkan bahwa pihak media terlapor mengaku sudah mencoba konfirmasi dengan pihak Livi Zheng, namun tidak ada jawaban.

“Dalam hal seperti itu, harus ditulis “kami sudah menghubungi, kami sudah mendatangi tapi orangnya tidak ada” karena itu menunjukkan itikad baik dari si media untuk wawancara orang yang dituduhkan,” kata dia.

Baca juga: Wapres, Menpar, hingga Kapolri ajak tonton “Bali: Beats of Paradise”

Baca juga: Livi Zheng wakili dunia film bekali diplomat RI

Baca juga: Keindahan Bali dipertontonkan pada pertemuan IMF-Bank Dunia

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kristen Stewart akan terima Golden Eye Award

Jakarta (ANTARA) – Aktris Kristen Stewart akan menerima Golden Eye Award, penghargaan dalam Festival Film Zurich, demikian menurut penyelenggara acara pada Senin, seperti dikutip Hollywood Reporter.

Stewart akan hadir di Zurich bersama sutradara Benedict Andrews untuk premier film terbarunya “Seberg”, di mana ia berperan sebagai Jean Seberg.

Baca juga: Kristen Stewart ingin Jean Seberg dikenal lebih dari sekadar rambutnya

“Meski ia bisa terlibat dalam film blocbuster setelah serial ‘Twilight’, Stewart secara konsisten memilih film indie yang ditulis oleh Walter Salles, Olivier Assayas dan Ang Lee,” kata co-director festival Zurich, Nadja Schildknecht dan Karl Spoerri.

“Dia berhasil menyeimbangkan antara mainstream dan arthouse dengan cara yang patut dicontoh. Dengan penggambarannya yang tak kenal takut tentang Jean Seberg, dia sekali lagi terbukti menjadi salah satu aktris paling serba bisa di generasi kita.”

Stewart dikenal luas mulai 2002 lewat penampilannya bersama aktris Jodie Foster dalam film “Panic Room”. Pada 2015, Stewart menjadi aktris Amerika Serikat pertama yang dianugerahi Cesar Award, kategori aktris pendukung terbaik untuk perannya dalam “Assayas ’Clouds of Sils Maria”, yang ia bintangi bersama Juliette Binoche.

Musim gugur ini, di samping film produksi Amazon Studios “Seberg”, Stewart juga membintangi “Charlie’s Angels” produksi milik Sony yang disutradarai oleh Elizabeth Banks.

Festival Film Zurich ke-15 berlangsung pada September 26 Oktober 6, dengan Oliver Stone sebagai ketua juri.

Baca juga: Arnold Schwarzenegger raih penghargaan Golden Icon

Penerjemah: Heppy Ratna Sari
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Iko Uwais perankan Si Buta dari Gua Hantu?

Jakarta (ANTARA) – Unggahan di akun Instagram sutradara Timo Tjahjanto menimbulkan kecurigaan di kalangan penggemar film. Pasalnya, Timo seperti memberikan pesan tersembunyi bahwa aktor Iko Uwais akan memerankan ‘Si Buta dari Gua Hantu’.

“Selamat untuk si soBat imUt Tanah bekAsi @iko.uwais bakal main di #GiJOESNAKEEYES. walau digambar kedua kita semua tahu siapa Hard Master sejati,” kata Timo, dikutip di Jakarta, Senin.

Apabila huruf-huruf kapital dalam keterangan foto disusun, maka didapat kata “Buta”, yang kemudian diartikan sebagai pengenalan Iko sebagai Si Buta dari Gua Hantu, jagoan dari Jagad Sinema BumiLangit era Legenda itu.  

Di kolom komentar, aktor Iko Uwais membalas, “TerimA HatUr Nuhun DirEctor Paling pANtastis YAng pAling gAnteng @timobros,” kata Iko yang juga menggunakan pola kombinasi huruf kapital serupa dan membentuk kalimat, “Tahun depan yaa.”

Hingga berita ini diturunkan, baik Timo maupun Iko belum memberikan keterangan resmi soal kolaborasi keduanya dalam film itu.

Sebelumnya, Timo pernah mengunggah foto sampul naskah film “Si Buta dari Gua Hantu: Mata Malaikat” pada Selasa (21/8) tahun lalu. Ia juga mengungkapkan bahwa rencana film tersebut akan ditayangkan pada 2020.

Adaptasi komik buatan Ganesh TH pada 1960-an ini direncanakan akan mulai produksi pada Oktober tahun ini, serta ditayangkan di bioskop pada 2020.

Sebelumnya, “Si Buta dari Gua Hantu” sudah pernah diadaptasi dalam bentuk film. Keenam film tersebut yaitu “Borobudur” (1972), “Sorga yang Hilang” (1977), “Duel di Kawah Bromo” (1977), “Neraka Perut Bumi” (1985), “Lembah Maut “(1990), dan “Bangkitnya Si Mata Malaikat” (1988).

Baca juga: Sri Asih, Gundala, Si Buta dari Gua Hantu siap terbit tahun ini
Baca juga: Timo Tjahjanto akan buat film “Si Buta dari Gua Hantu”

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Livi Zheng enggan komentar soal keterlibatannya di Disney

Jakarta (ANTARA) – Sutradara Livi Zheng enggan berkomentar soal kabar keterlibatannya dalam proyek pembuatan film “Raya and The Last Dragon” produksi Walt Disney Animation Studios.

Livi beralasan Disney yang berwenang mengeluarkan pernyataan soal itu, bukan dirinya.

“Itu mesti dari Walt Disney langsung. Kemarin kan yang konfirmasi Walt Disney, jadi mereka saja,” kata Livi Zheng saat ditemui di Gedung Dewan Pers, Jakarta, Senin.

Sebelumnya diberitakan Disney menggandeng beberapa sineas Asia Tenggara, salah satunya Livi Zheng untuk bersama-sama melakukan penelitian terkait proyek film baru yang terinspirasi dari kebudayaan Asia Tenggara.

Film baru itu, “Raya and The Last Dragon” merupakan film original dari Disney yang rencananya tayang pada 2020. Film tersebut bercerita tentang seorang pendekar bernama Raya yang mencari naga terakhir di dunia.

“Saya enggak bisa kasih statement. Yang kasih statement kan harus dari pihak Walt Disney. Kita tunggu saja,” ujarnya menambahkan.

Baca juga: Livi Zheng adukan tiga media nasional ke Dewan Pers
 

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gracia Indri puji adiknya Gisela Cindy makin dewasa dan mandiri

Bekasi (ANTARA) – Aktris Gracia Indri memuji adiknya Gisela Cindy yang menjadi lebih mandiri dan dewasa semenjak tinggal di luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.

Gisela saat ini tinggal di Kanada setelah menyelesaikan pendidikan diploma jurusan Film Production di Vancouver Film School pada 2015 lalu dan Humber College, Toronto, Kanada, jurusan desain busana.

“Jadi semakin dewasa dengan dia harus hidup sendiri, ngatur duit sendiri. Dia harus bekerja part time dan sempat jadi waiters untuk mencukupi uang sehari-hari. Jadi dia tidak mengandalkan pengiriman uang dari sini,” kata Gracia Indri saat ditemui di Bekasi, Jawa Barat, Minggu.

Baca juga: Gracia Indri tidak ingin terburu-buru cari jodoh

Kemandirian yang ditunjukkan adiknya, menurut Gracia, membuat sang ibu juga bangga meski awalnya sempat khawatir dengan anak perempuannya tersebut karena harus tinggal jauh dari keluarga.

“Itu hal bertanggung jawab yang dilakukan adik saya untuk ibu dan saya,” ujarnya.

Meski terpisah ribuan kilometer, namun Gracia mengaku rutin berkomunikasi dengan sang adik. Hal ini juga yang membuatnya tidak lagi mencemaskan keadaan adiknya di negeri orang.

“Saya mengirimkan dia pergi keluar negeri sampai bersekolah dan kerja di sana karena anaknya bertanggung jawab. Sejauh ini tidak ada yang dikhawatirkan,” imbuhnya.

Baca juga: Punya kulit sensitif, Gracia Indri tak mau sembarangan perawatan
 

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Angelina Jolie puji film asal Afghanistan di Venice Film Festival

Jakarta (ANTARA) – Angelina Jolie memberikan dukungannya untuk film asal Afghanistan “Hava, Maryam, Ayesha” dalam Venice Film Festival 2019.

Film tersebut tayang perdana pada Jumat (6/9) waktu setempat. Angelina memuji karya Sahraa Karimi yang baru pertama kali menyutradarai film.

“Film yang dibuat dengan hati-hati dan bergerak menceritakan kehidupan perempuan muda di Afghanistan. Itu menunjukkan rahmat, keindahan, dan semangat perempuan Afghanistan saat mereka menavigasi pernikahan, cinta, persahabatan, keluarga dan ibu,” ujar Angelina dilansir Variety, Minggu.

“Hava, Maryam, Ayesha” melibatkan para pemain dan kru asal Afghanistan yang sepenuhnya lokal. Menurut mantan istri Brad Pitt itu, film itu adalah pencapaian yang luar biasa bagi negara di mana kaum perempuan masih berjuang untuk mendapatkan hak-hak dasar.

Baca juga: Angelina Jolie hingga Mahershala Ali gabung ke dunia Marvel

“Setiap film yang dibuat di Afghanistan adalah kemenangan melawan rintangan. Pada masanya nanti, itu akan mengingatkan kita semua tentang yang dipertaruhkan oleh jutaan perempuan Afghanistan dalam mendapatkan kebebasan, kemandirian, dan keselamatan untuk membuat pilihan mereka sendiri, di rumah mereka sendiri, dan di seluruh masyarakat secara keseluruhan,” kata Jolie.

“Hava, Maryam, Ayesha” menceritakan tentang kehidupan tiga perempuan Afghanistan dari berbagai latar belakang sosial yang tinggal di negara konflik.

Sementara, Sahraa mengucapkan terima kasih kepada para pemimpin festival film karena telah memberinya kesempatan untuk membawa perhatian pada masalah-masalah yang dihadapi di Afghanistan, khususnya yang menjamin hak-hak dasar perempuan.

Baca juga: Film terbaru Brad Pitt, “Ad Astra” tuai pujian di Venice Film Festival

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Perankan sosok Dono, gigi palsu Aliando sampai patah

Jakarta (ANTARA) – Aliando Syarief yang memerankan sosok komedian legendaris Dono dalam film “Warkop DKI Reborn” merasa “menderita” karena harus menggunakan gigi palsu selama proses syuting.

Dia mengatakan bahwa gigi palsu yang digunakannya sempat patah beberapa kali, padahal ketersediaan gigi palsu untuk syuting film itu tidak terlalu banyak.

“Pernah patah. Gue enggak bisa diem juga kebawa vibe rame yang seru. Ini enggak main-main patahnya, beneran. Kami semua diam, wah parah, karena enggak banyak stok,” kata Aliando saat ditemui usai pemutaran perdana film “Warkop DKI Reborn” di Jakarta, Sabtu (7/9).

Baca juga: Kenapa “Warkop DKI Reborn” tidak libatkan komika?

Aliando juga mengungkapkan kesulitannya menggunakan gigi palsu saat berakting, terutama saat tertawa karena tak jarang gigi palsunya terlepas dari mulut hingga jatuh.

“Pas lagi ketawa gigi palsunya lompat. Harus di cut, akting lagi,” ujarnya.

Aliando juga teringat bahwa ada satu adegan yang menurutnya paling sulit dilakukan dengan menggunakan gigi palsu, yaitu saat adegan makan.

“Nah itu adegan paling sulit, makan pakai gigi palsu,” imbuhnya.

Baca juga: Improvisasi pemain utama “Warkop DKI Reborn” tetap berpedoman naskah

Baca juga: Aliando Syarief kangen main bola di Maroko

Baca juga: Beda selera makanan aktor “Warkop DKI Reborn 3” saat syuting di Maroko

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Improvisasi pemain utama “Warkop DKI Reborn” tetap berpedoman naskah

Jakarta (ANTARA) – Para pemeran utama film “Warkop DKI Reborn” melakukan improvisasi pada beberapa adegan untuk film komedi yang disutradarai Rako Prijanto.

Kendati demikian, para pemeran utama Waseperti Adipati Dolken, Aliando, dan Randy Nidji mengatakan tidak melakukan improvisasi secara asal-asalan.

“Kita selalu berdiskusi terlebih dahulu sebelum melakukan improvisasi kalau seperti ini masuk enggak,” kata Adipati Dolken saat ditemui usai pemutaran perdana film “Warkop DKI Reborn” di Jakarta, Sabtu (7/9).

Komunikasi, menurut Randy, menjadi hal yang penting dilakukan oleh para pemain agar tercipta chemistry yang membuat adegan semakin hidup.

Baca juga: Ganindra Bimo berubah total demi film “Warkop DKI Reborn”

Baca juga: Salshabilla Adriani tinggalkan zona nyaman demi film komedi

Meski demikian, Randy mengatakan tetap berpedoman pada naskah yang telah dibuat dan tidak melakukan improvisasi berlebihan yang justru nantinya dapat merusak film.

“Kita sebagai aktor harus disiplin dengan skrip. Terus kadang-kadang kalau kita improve di luar skrip, mau melucu atau bagaimana kadang di kamera jadi enggak lucu,” kata Randy yang berperan sebagai Indro.

Film “Warkop DKI Reborn” juga dibintangi oleh Salshabilla Adriani, Indro Warkop, Mandra, hingga Ganindra Bimo, Dewa Dayana, Aurora Ribero, Khiva Iskak dan Mawar De Jongh. Film ini rencananya akan tayang di bioskop mulai tanggal 12 September 2019.

Baca juga: Indro Warkop ingin “Warkop DKI Reborn 3” disaksikan masyarakat Papua

Baca juga: Tiket premiere “Warkop DKI Reborn 3” dijual Rp5.000

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kenapa “Warkop DKI Reborn” tidak libatkan komika?

Jakarta (ANTARA) – Indro Warkop membeberkan alasan tidak adanya nama komika yang terlibat dalam film “Warkop DKI Reborn” yang disutradarai oleh Rako Prijanto.

“Enggak ada masalah apa-apa, cuma setelah casting ternyata ini yang kami dapat,” kata Indro Warkop saat ditemui usai pemutaran perdana film “Warkop DKI Reborn” di Jakarta, Sabtu (7/9).

Saat ini, keterlibatan para komika sering ditemui dalam pembuatan film bergenre komedi. Bahkan di film “Warkop DKI Reborn” sebelumnya juga ada beberapa nama komika yang terlibat.

“Enggak ada maksud menjauhi, tidak sama sekali. Bahkan maaf-maaf ketika kita minta bantuan komika mereka lagi banyak job,” ujarnya.

Baca juga: Ernest Prakasa akan rilis “Imperfect”, film dengan sedikit komika

Meski demikian, Indro bersyukur karena saat ini banyak komika yang namanya mulai dikenal dengan membintangi berbagai judul film.

“Saya bersyukur menjadi juri mereka. Saya ikut membesarkan mereka. Tapi sekali lagi kita bukan bermaksud tidak mau melibatkan mereka,” imbuhnya.

Film “Warkop DKI Reborn” dibintangi juga oleh Adipati Dolken, Aliando Syarief, Randy Nidji, Indro Warkop, Mandra, hingga Ganindra Bimo. Film ini rencananya akan tayang di bioskop mulai tanggal 12 September 2019.

Baca juga: Sebelum jadi komika, Marshel Widianto sempat jadi penonton alay

Baca juga: Improvisasi pemain utama “Warkop DKI Reborn” tetap berpedoman naskah

Baca juga: Salshabilla Adriani tinggalkan zona nyaman demi film komedi

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hayley Atwell bergabung dengan Tom Cruise di “Mission: Impossible”

Jakarta (ANTARA) – Aktris Hayley Atwell dikabarkan akan beradu peran dengan Tom Cruise dalam sekuel terbaru “Mission: Impossible”, dilansir dari Variety, Minggu.

Sutradara Christopher McQuarrie memposting foto pemeran Agent Carter di akun instagram-nya, dengan keterangan “Should you choose to accept...,” merujuk kutipan terkenal “Mission: Impossible”.

Cruise akan kembali sebagai Ethan Hunt, agen rahasia tak terkalahkan. Paramount telah menandai film ketujuh itu akan dirilis pada 23 Juli 2021, dilanjutkan pada 5 Agustus 2022 untuk sekuel selanjutnya.

Baca juga: Tom Cruise bikin penggemar girang dengan trailer “Top Gun: Maverick”

McQuarrie siap untuk mengarahkan kedua film tersebut. Dia sebelumnya mengarahkan “Rogue Nation” (2015) dan “Fallout” (2018) yang merupakan film franchise terbaik dengan total pendapatan USD791,1 juta secara global.

Jika digabungkan, keenam film dalam seri ini sukses meraup USD3,57 miliar dalam box office di seluruh dunia. Setelah bertahun-tahun beralih direktur untuk memberikan nuansa baru di setiap sekuel, baik Cruise dan Paramount tetap memilih McQuarrie sebagai sutradara.

Baca juga: Tom Cruise ragu untuk jatuh cinta lagi setelah bercerai

Baca juga: “Top Gun: Maverick”, tak ada bendera Jepang Taiwan di jaket Tom Cruise

Penerjemah: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ganindra Bimo berubah total demi film “Warkop DKI Reborn”

Jakarta (ANTARA) – Aktor Ganindra Bimo mendapat tantangan baru saat memerankan karakter Amir Muka di film “Warkop DKI Reborn” yang membuatnya penampilannya berubah total.

“Untuk karakter saya dikasih kumis, rambut dan kulit dibikin gelap,” kata Ganindra Bimo saya ditemui usai pemutaran perdana film “Warkop DKI Reborn” di Jakarta, Sabtu (7/9).

Bimo yang dalam film itu digambarkan sebagai pria keturunan India juga harus mampu berbicara dengan dialek khas India.

Meski demikian, dia mengaku beruntung karena Rako Prijanto sebagai sutradara memberinya kebebasan dalam memerankan karakter tersebut.

“Setiap aktor dikasih kebebasan sama tim terutama Pak Rako dan Falcon. Asik banget dikasih kebebasan,” kata Ganindra Bimo.

Baca juga: Salshabilla Adriani tinggalkan zona nyaman demi film komedi

Warkop DKI Reborn kali ini hadir dengan cerita baru yang menceritakan Dono, Kasino dan Indro sebagai agen rahasia.

Mereka di bawah komando Komandan Cok (Indro Warkop) yang kehilangan tangan kanannya, Karman (Mandra), mensinyalir adanya money laundry di dunia perfilman Indonesia.

Money laundry itu diduga terjadi di sebuah PH milik Amir Muka (Ganindra Bimo). Ketiganya bisa masuk dalam dunia film dan terlibat dalam sebuah pembuatan film komedi berpasangan dengan artis sinetron yang hijrah ke dunia film, Inka (Salshabilla Adriani).

Saat pesta, Warkop DKI yang sedang menyelidiki malah membuat Inka terjebak bersama mereka di sebuah ruangan. Warkop DKI dan Inka jatuh pingsan. Saat terbangun, Warkop DKI kaget karena berada di padang pasir, tapi Inka lenyap.

Warkop DKI pun mencari jejak Inka, tapi pencarian itu malah menyeret mereka dalam petualangan seru di padang pasir. Film ini tayang di bioskop mulai tanggal 12 September 2019.

Baca juga: Film kartun Warkop DKI diluncurkan

Baca juga: Beda selera makanan aktor “Warkop DKI Reborn 3” saat syuting di Maroko

Baca juga: Aliando Syarief kangen main bola di Maroko
 

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lukanya batin Gundala dan rating Joko Anwar

Joko Anwar berhasil memadukan penyesuian komiknya dengan lancar dan rapi

Jakarta (ANTARA) –  Ada sesuatu yang tersembunyi di balik film Gundala karya terbaru sutradara Joko Anwar, padahal hal tersembunyi itu sesuatu yang penting. Oleh sebab itu, untuk dapat membaca film ini secara utuh, sesuatu yang tersembunyi tersebut perlu dibeberkan.

Sebagian besar penonton film Gundala akan melulu melihat film ini merupakan sebuah film penuh kekerasan fisik. Ini tidak salah.

Dari awal sampai akhir film memang berisi kekejaman, penganiayaan, siksaan, perkelahian dan pembunuhan. Kendati demikian, di balik begitu banyak kekerasan fisik, sebenarnya, film ini juga merupakan film kekerasan batin yang sangat mengiris dan menyayat.

Justeru kekerasan batin inilah yang dihadirkan lebih luluh lantak, dan dari kacamata ini, luka batin yang sedemikian nyerinya, lebih  “mengerikan” dibanding dengan berbagai kekerasan fisik yang menyertainya.

Sejak kecil Sancaka (Muzakki Ramdhan) hidup dalam luka batin yang dalam. Jiwanya mengalami teror kekerasan yang luar biasa. Ayahnya (Rio Dewanto) yang dijadikan panutan, selalu mengajarkan,”Kalau ada ketidakadilan dan kita diam saja, kita bukan manusia lagi!” Nilai-nilai yang ditularkan dari “idolanya” ini, bersemayam kuat di hati Sancaka kecil.

Di lain pihak, Awang (Faris Fadjar), yang menolong dan menyelamatkan nyawanya, justru mengajarkan sebaliknya. ”Loe jangan suka ikut campur urusan orang lain, nanti loe jadi susah.” Dua “filosofi” yang bertentangan ini, membuatnya menjadi manusia yang labil. Ini membuat selama hidup Gundala (Abimana Aryasatya) atau Sancaka dewasa, lebih menyiksa ketimbang hajaran fisik yang menerpanya.

Sebelumnya, jiwa Sancaka sudah lebih dahulu dihajar kekerasan. Dia melihat dengan matanya, sang ayah terbunuh. Tapi waktu itu, bukan fisik Sancaka yang terkena kekerasan, tapi batin Sancakalah yang terhantam kekerasan dahsyat.

Kekerasan jiwa berikutnya dialami Sancaka sewaktu ditinggal ibunya (Marissa Anita). “Waktu kamu pulang sekolah nanti, ibu sudah siapkan makanan,” kata ibunya sebelum pergi. Namun ketika janji si ibu tidak ditepati, janji itu langsung merusak jiwa sang anak. Si ibu membuatnya sebatang kara.

“Dia meninggalkan saya!” katanya kepada Wulan (Tara Basa ) kenalan perempuannya, mengungkapkan lubuk hatinya. 

Baca juga: Film “Gundala” syuting di 70 lokasi

Kisah berawal dari perjuangan Ayah Sancaka sebagai tokoh buruh. Dia dikhianati sesama buruh, lantas terbunuh dalam sebuah kerusuhan waktu demonstrasi buruh melawan pasukan para pengusaha. Kemudian untuk mencari penghasilan, ibu Sancaka harus terpencar dari anaknya, dan jadilah Sancaka anak jalanan sebatang kara.

Berumah atap langit, Sancaka mulai menjalani beratnya kehidupan jalanan. Sancaka bukan hanya melihat kekerasan jalanan, tetapi juga langsung mengalaminya. Dia hidup dikejar-kejar dan dianiaya kelompok-kelompok anak jalanan. Masih beruntung dia ditolong oleh Awang.

Setelah besar, Sancaka yang kemudian menjadi Gundala harus berhadapan dengan Pengkor, big boss mafia yang kejahatannya juga merangsek ke dalam dunia politik.

Tabiat Pengkor (Bront Palarae)  bermula dari rasa sakit jiwanya diperlakukan dengan kejam di Panti Asuhan dan membuatnya tumbuh sebagai manusia  sadis dan licik. Pengkorlah yang mengatur pemilik panti asuhan untuk disiksa dan menjadikan semua anak panti asuhan pasukannya.

Selain menyuguhkan kekerasan fisik, film berdurasi 123 menit ini secara paralel juga menampilkan persembunyian kekerasan terhadap jiwa-jiwa anak manusia yang kemudian diikuti berbagai kekerasan fisik. Kekerasan terhadap jiwa  inilah yang nyaris tak “dibaca” oleh penonton kebanyakan.

Baca juga: Joko Anwar berharap “Gundala” jadi pembuka genre film jagoan lokal

Kuat dan matang

Melalui film yang diangkat dari karya komik Hasmi Suraminata yang terbit tahun 1969, sutradara Joko Anwar memproklamirkan diri. Bagi dirinya masalah teknikal film atau sinematografi bukan lagi persoalan, bahkan memakainya sebagai alat mencapai tujuan estetiknya. Rangkaian adegan ditata dengan apik: kuat, konsisten, pengambilan sudut kamera yang “indah,” sekaligus juga menawarkan “filosofis” menarik.

Adegan Sancaka setelah menendang rantang dan disusul merangkak meraba makanan yang diambil dengan  sudut pandang dari belakang atas, bukan sekedar memperlihatkan dirinya sangat lapar, tapi sekaligus  simbolisme betapa itulah nasibnya kelak: tertatih-tatih dan terhina  menghadapi kesulitan hidup.

Pengambilan gambar dari belakang ketika Sancaka keluar dari rumah dengan latar pabrik  juga menggambarkan kontras lingkungan di situ. Pabrik berdiri gagah perkasa, sementara  lingkungan sekitar tempat tinggal para buruh yang begitu sederhana.

Demikian pula pengambilan gambar Sancaka melihat suatu peristiwa dari balik  jendela kecil,  memberi makna kepada kehidupan yang dijalaninya.

Film Gundala juga cukup banyak menghadirkan adegan lari. Dari mulai Sancaka kecil dikejar-kejar, hingga Sancaka harus berlari sekuat tenaga mengejar Awang untuk dapat ikut naik kereta bersamanya.

Adegan ini bukan cuma sekedar adegan tegang Sancaka mengejar  Awang, tetapi juga bermakna terlepasnya satu episode kehidupan Sancaka dan dia harus masuk ke episode kehidupan baru.   

Simbolisme seperti itu ditampilkan menyatu dalam satu kesatuan film, dan dengan satu tarikan nafas unsur cerita. Lari di film ini bukan sekedar hiasan pemanis film, namun “dibaca” sebagai salah satu pesan film.

Pada film Gundala sutradara lulusan ITB jurusan teknik penerbangan ini mendemonstrasikan, dia tidak hanya terampil secara teknikal, sesuatu yang sampai kini tetap masih menjadi masalah buat banyak sutradara  lainnya, tetapi telah  sampai pada  estetika film.

Joko mengendalikan film dengan ukuran yang ketat, kuat dan menarik. Dia mampu membetot konsentrasi penonton dari awal sambil akhir untuk terus memelototi film.

Dengan begitu, lewat film ini Joko yang saat ini berusia 43 tahun, memproklamir diri masuk ke dalam daftar sutradara Indonesia, meminjam terminologi dari dunia olah raga, “peringkat super” dengan elo rating  (metode menghitung tingkat keterampilan pemain) sangat tinggi. Demikian pula meminjam istilah manajemen, joko mencapai KPI (key performe indicator) yang juga sangat memuaskan.

Baca juga: “Gundala”, sebuah bukti Indonesia mampu bermain di genre superhero

Kritik Sosial

Kendati ini film kekerasan, tetapi Gundala juga  menghadirkan kritik sosial. Adegan petugas pembagi obat buat ibu-ibu hamil yang dapat disogok oleh orang tertentu, menggambarkan realitas sehari-hari masyarakat kita yang masih mudah disuap. Di sini Joko seperti menyindir tanpa membuat marah.

Joko juga mengkritik masyarakat yang lebih suka ber-selfie ria atau mengambil gambar dari orang yang sedang memerlukan pertolongan, ketimbang berbuat konkret menolong yang membutuhkan pertolongan.

Adegan di sebuah apartemen ada korban yang dirampok di depan banyak orang, tetapi masyarakat malah mengambil gambar kejadian itu lewat telepon seluler dan bukan menolong, menyentil perilaku sehari-hari yang tidak peka dan sebaliknya suka pamer menyebarkan peristiwa menarik paling dulu.

Banyak perilaku anggota parlemen yang dikendalikan melalui remote control oleh orang yang membiayai masuk jadi anggota parlemen, juga merupakan kritik kepada kehidupan politik.

Cuma segelintir anggota parlemen yang benar-benar bekerja berdasarkan hati nuraninya. Selebihnya cuma memperhitungkan kepentingan diri dan kelompoknya atau orang yang membayarnya, tanpa peduli dengan kepentingan rakyat yang diwakilinya.

Kritik sosial ini sebenarnya keras, namun lantaran penyampaiannya sebagai bagian dari cerita dan dibalut sangat luwes, sehingga terasa sebagai teguran yang menyegarkan.

Adanya kritik sosial ini, meskipin sangat minim, membuat film tak melulu menjual adegan kekerasan melainkan juga menyentil  secara halus. Hal ini perlu dicatat pula sebagai salah satu point lebih dari film ini.

Skenario yang ditulis sendiri oleh Joko Anwar memang kuat. Alur cerita, permasalahan dan karakteristik Gundala memungkinkan menjadi karya film yang menarik.

Meski memang benang merah film ini tetap sama dengan komik Gundala karya Hasmi, namun terdapat sejumlah penyesuaian latar belakang dan karakter tokoh. Joko Anwar berhasil memadukan penyesuian dari komiknya itu dengan lancar dan rapi.

Baca juga: “Gundala” tembus Festival Film Internasional Toronto 2019

Sebelumnya tahun 1981 dari komik yang sama juga pernah dibuat film dengan judul: Gundala Putra Petir disutradarai Lilik Sudjiu dengan bintang aktor kenamaan saat itu, Teddy Purba (Sancaka), Ami Prijono (Profesor Saelan), Anna Tairas (Minarti), dan W.D. Mochtar (Gazul). Versi film pertama bercerita tentang Sancaka dan Profesor Saelan yang berhasil menemukan serum antimorfin.

Pada film pertama kostum Gundala masih berwarna biru dengan kuping abu-abu dan sarung tangan merah. Film yang masih dibuat dengan sistem pita seleloit itu juga menampilkan banyak aksi laga. Skenaro Joko Anwar berhasil keluar dari imaji-imaji film Gundala pertama dan membentuk kisah dan karakter sendiri.

Peran editor (Dinda Amanda) sangat terasa pada film ini. Naik turun dramaturgi film disusun dengan apik. Penyambungan adegan sangat lancar dan tepat sasaran. Dengan begitu, irama film dan kelangsungan tetek bengek adegan dapat tersusun rapi dan buntutnya tentu saja “sedap” dinikmati.

Tentu tak perlu diragukan, di belakang itu, kemampuan penata kamera (Ical Tanjung) menghadirkan gambar-gambar  bersih, dengan pelbagai angle yang menarik, menjadi salah satu dasar kekuatan film ini. Gambar tak hanya “bagus,” tapi juga memberikan arti.

Joko Anwar pada film ini menunjukkan  kekuatannya menggarap akting para pemain filmnya. Pada kebanyakan film Indonesia, fokus sutradara biasanya hanya tertuju kepada akting beberapa pemainya saja, terutama pemain-pemain utama atau pemain “kesayangannya”.

Walhasil, sering kali  akting segelintir tokoh utamanya bagus, tetapi sebagian besar lainnya “kedodoran,” sehingga menciptakan  kejomplangan akting antara pemain pada satu film.

Hal itu jelas sangat mengganggu. Pada film Gundala, Joko terhindar dari hal semacam itu. Semua pemain, dapat diarahkan menampilkan akting yang sesuai tuntutan cerita.

Peran Sancaka kecil dapat dibawakan dengan penjiwaan anak kecil yang penuh penderitaan secara pas.  Peran ini dilanjutkan dengan baik pula oleh Gundala sebagai Sancaka besar. Ekspresi Gundala yang “dingin” lantaran pergumulan batinnya selama ini, berhasil memberikan tafsir yang cocok.

Tak hanya itu gerakan-gerakan perkelahian pun ditata dengan baik. Kentara sekali tendangan, pukulan, menyerang, menangkis, mengelak dan sebagainya, aliran bela diri manapun yang dipakai, dilakukan dengan gerakan-gerakan benar, tidak sekedar apa adanya.

Ini bukan lantaran sejak kecil joko sudah senang menonton film-film laga tapi memang setiap adegan laga perkelahian digarap dengan serius dan cermat.

*) Wina Armada Sukardi adalah Kritikus Film

Oleh Wina Armada Sukardi *)
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sutradara “Joker” raih penghargaan tertinggi di Venice Film Festival

Jakarta (ANTARA) – Sutradara “Joker”, Todd Phillips membawa pulang piala Golden Lion dalam ajang Venice Film Festival 2019.

Setelah menerima penghargaan tertinggi di festival film tertua di dunia itu, Phillips mengucapkan terimakasih kepada Warner Bros dan DC.

“Terimakasih karena sudah berani keluar dari zona nyaman mereka dan memberikan kepercayaan penuh pada saya atas film ini,” kata Phillips dilansir The Hollywood Reporter, Minggu.

“Film ini tidak akan ada tanpa Joaquin Phoenix. Joaquin adalah singa yang paling keras, paling cerdas dan paling berpikiran terbuka yang saya tahu. Terimakasih karena mempercayai saya dengan bakat gila Anda,” lanjutnya.

Selain Todd Phillips, Roy Andersson juga memenangkan piala Silver Lion untuk penyutradaraan terbaik lewat film “About Endlessness”.

Sebelumnya dia pernah membawa pulang Golden Lion pada 2014 untuk “A Pigeon Sat on a Branch Reflecting on Existence”.

Berikut adalah daftar pemenang Venice Awards 2019:

Golden Lion:
Todd Philips – “Joker”

Silver Lion Grand Jury Prize:
Roman Polanski – “An Officer and a Spy”

Silver Lion Best Director:
Roy Andersson – “About Endlessness”

Volpi Cup for Best Actress:
Ariane Ascaride – “Gloria Mundi”

Volpi Cup for Best Actor:
Luca Marinelli – “Martin Eden”

Best Screenplay Award:
Yofan – sutradara dan penulis “No.7 Chery Lane”

Special Jury Prize
Franco Maresco – “The Mafia is No Longer What It Used to Be”

Marcello Mastroianni Award:
Toby Wallace – “Babyteeth” dan sutradara Shannon Murphy.

Baca juga: “The Joker” dapat rating tinggi meski belum dirilis di bioskop

Baca juga: Kemarin, tip merawat motor klasik dan premier film “Joker”

Baca juga: Premier di Venice, “Joker” dapat “standing ovation” delapan menit  

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Salshabilla Adriani tinggalkan zona nyaman demi film komedi

Jakarta (ANTARA) – Salshabilla Adriani mencoba keluar dari zona nyaman sebagai aktris yang biasa bermain drama remaja, untuk berperan dalam film bergenre komedi berjudul “Warkop DKI Reborn”.

“Karena aku merasa ini berada di luar zona nyaman aku. Orang tahunya aku ada di zona nyaman terus,” kata Salshabilla Adriani saat ditemui usai pemutaran perdana film “Warkop DKI Reborn” di Jakarta, Sabtu (7/9).

Salshabilla Adriani sebelumnya dikenal dengan perannya di beberapa film bergenre drama remaja. Namun seiring bertambahnya usia, dia mengaku ingin mencoba hal baru dalam dunia akting.

“Sekarang setelah beranjak dewasa, mulai aku berpikir mau sampai kapan ada di zona nyaman,” ujarnya.

Ke depannya, Salshabilla Adriani mengatakan bahwa tidak menutup kemungkinan untuk terlibat dalam berbagai genre film yang belum pernah dimainkannya.

“Tentu kenapa tidak, sekarang tidak menutup kemungkinan apapun genrenya kalau menurut aku bisa. Aku akan coba,” imbuhnya.

Film “Warkop DKI Reborn” dibintangi juga oleh Adipati Dolken, Aliando Syarief, Randy Nidji, Indro Warkop, Mandra, hingga Ganindra Bimo. Film ini rencananya akan tayang di bioskop mulai tanggal 12 September 2019.

Baca juga: Harapan sederhana Adipati Dolken untuk “Warkop DKI Reborn 3”

Baca juga: Cara Indro Warkop memaknai 46 tahun lahirnya Warkop DKI

Baca juga: Aliando Syarief kangen main bola di Maroko

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kemarin, Iko Uwais di “G.I Joe: Snake Eyes” hingga harga mobil Esemka

Jakarta (ANTARA) – Aktor film action “The Raid” Iko Uwais, dikabarkan sedang dalam negosiasi untuk bergabung dengan film spinoff “G.I. Joe: Snake Eyes”, yang dijadwalkan tayang pada 2020.

Presiden Direktur Esemka Eddy Wirajaya sudah mengumumkan harga pickup Esemka Bima 1.2 dan 1.3 yang dipatok sekitar Rp110 juta. Lalu bagaimana dengan harga SUV Esemka Garuda 1?

Selain dua di atas, ada juga beberapa berita kemarin yang menarik untuk disimak. Berikut adalah rangkumannya.

1. Iko Uwais dipertimbangkan bergabung di film G.I Joe: Snake Eyes

Aktor film action “The Raid” Iko Uwais, dikabarkan sedang dalam negosiasi untuk bergabung dengan film spinoff “G.I. Joe: Snake Eyes”, yang dijadwalkan tayang pada 2020.

Selengkapnya di sini

2. Alasan peran Captain Marvel sedikit dalam “Avengers: Endgame”

Para penulis “Avengers: Endgame” memberi penjelasan tentang peran Captain Marvel yang sedikit dalam film berdurasi 181 menit itu.

Selengkapnya di sini

3. Perankan Virgo, Zara JKT48 latihan main gitar

Adhisty Zara atau dikenal dengan sapaan Zara JKT48 mengaku akan belajar bermain gitar demi dapat berperan sebagai Virgo di film “Virgo and The Sparklings”.

Selengkapnya di sini

4. Game Ragnarok diangkat jadi web series “Cinta Abadi”

Penerbit game Gravity Game Link membuat web series “Cinta Abadi” yang terinspirasi dari game “Ragnarok: Forever Love.”

Selengkapnya di sini

5. Berapa harga mobil Esemka Garuda 1 dan Bima?

Pabrik mobil dalam negeri PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) telah diresmikan Presiden Joko Widodo di Boyolali, Jumat (6/9), dan menandai debut terbuka mobil merek Indonesia dalam pasar otomotif nasional.

Selengkapnya di sini

Oleh Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“It: Chapter Two” raih 100 juta dolar di pekan perdana box office

Jakarta (ANTARA) – Film “It: Chapter Two” mampu meraih 100 juta dolar dalam pembukaan perdananya di box office, angka tersebut sesuai dengan yang diharapkan.

Menurut laporan The Hollywood Reporter, Sabtu, yang diperoleh “It: Chapter Two” ini menjadi pembukaan terbaik kedua untuk film bergenre horor.

Posisi pertama diraih oleh “It” seri pertama dengan mendapat 123,4 juta dolar pada minggu perdananya di tahun 2017.

Pada Jumat (6/9) “It: Chapter Two” meraih 10,5 juta dolar, angka tersebut didapat dari hasil preview yang dilakukan pada Kamis (5/9) malam. Film tersebut bermain di 4.570 bioskop dan bisa dibilang jumlahnya terbanyak untuk bulan September.

Di luar negeri, film ini juga memiliki awal yang kuat, dengan menghasilkan 16,5 juta dolar pada hari Rabu dan Kamis. Di beberapa pasar, termasuk Rusia (2,1 juta dolar), “It: Chapter Two” mencetak awal terbaik sepanjang masa untuk film horor.

“It: Chapter Two” kembali disutradarai oleh Andy Muschietti dan kisahnya mengadaptasi novel klasik karya Stephen King.

Film tersebut dibintangi oleh Jessica Chastain, James McAvoy, Isaiah Mustafa dan Bill Hader. Kisah kali ini menampilkan inkarnasi dewasa dari anak-anak yang melawan badut menyeramkan Pennywise (Bill Skarsgard) pada 27 tahun sebelumnya.

Rotten Tomatoes memberikan peringkat 67 persen untuk film ini, sedangkan “It” mendapat 86 persen. Sementara pada CinemaScore meraih nilai B+ sama seperti film yang pertama.

Itu: Bab 2 saat ini memiliki peringkat 67 persen pada Rotten Tomatoes, dibandingkan dengan 86 persen untuk film pertama (penonton lebih memaafkan dalam memberikan sekuel dengan B + CinemaSocre, nilai yang sama dengan yang diterima film 2017).

Baca juga: “Angel Has Fallen” bertahan di puncak box office minggu ini

Baca juga: Si badut Pennywise kembali mengajak bermain dalam “It: Chapter 2”

Baca juga: James McAvoy akan lelang kemeja dipenuhi tanda tangan selebritis Oscar

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Main di web series Ragnarok, Brandon Salim jadi ketagihan main game

Jakarta (ANTARA) – Aktor Brandon Salim mengaku ketagihan bermain game mobile Ragnarok karena mendalami perannya dalam web series “Cinta Abadi” yang terinspirasi dari game jenis MMORPG tersebut.

“Semua orang tahu Ragnarok, tapi gue salah satu orang yang enggak pernah main Ragnarok, jadi kita main terus karena itu jadi ketagihan, jadi seneng akhirnya,” ujar Brandon ditemui usai peluncuran web series “Cinta Abadi” di Jakarta, Sabtu.

Namun, Brandon berharap rasa ketagihan tersebut tidak menjadi candu dalam dirinya. Meski telat masuk ke dunia game mobile online putra aktor Ferry Salim tersebut mengaku telah sejak lama suka bermain game.

Bahkan, Brandon mengatakan game punya sentimental value di hatinya. “Kalau senang main game, kalau sakit hati galau, main game juga. Game itu safe heaven buat aku,” kata dia.

Salah satu game yang dia mainkan saat awal bermain game mobile online adalah Getamped, game adu jotos asal Jepang yang pasarkan di Indonesia oleh penerbit game Lyto.

Sementara itu, dalam web series “Cinta Abadi,” Brandon berperan sebagai Andi yang berkenalan dengan Renata (Amanda Rawles) lewat game.

“Aku sama renata, kita jatuh cinta karena main game bareng, terus akhirnya cintanya dan persahabatannya bertumbuh dari game. Ini seperti jadi culture baru, dari game bisa ketemu jodoh, teman baru,” ujar Brandon.

Web series “Cinta Abadi” akan tayang pada 11 September 2019, bersamaan dengan open beta game terbaru penerbit game Gravity Game Link “Ragnarok: Forever Love,” di channel Youtube Ragnarok: Forever Love.

Baca juga: Pra-Registrasi Ragnarok: Forever Love berhadiah 100 juta rupiah

Baca juga: “Ragnarok: Forever Love” meluncur, Project H diumumkan

Baca juga: Game Ragnarok diangkat jadi web series “Cinta Abadi”

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Perankan Virgo, Zara JKT48 latihan main gitar

Jakarta (ANTARA) – Adhisty Zara atau dikenal dengan sapaan Zara JKT48 mengaku akan belajar bermain gitar demi dapat berperan sebagai Virgo di film “Virgo and The Sparklings”.

Baca juga: Alasan Joko Anwar pilih Zara JKT48 sebagai pemeran Virgo

“Main gitar aku belum pernah sama sekali. Jadi ini tantangan banget buat aku, karena Virgo tuh jago banget main gitarnya,” kata Zara saat ditemui dalam jumpa pers film “Virgo and The Sparklings” di Jakarta, Sabtu.

Selain harus mampu bermain gitar, Zara juga dituntut untuk melatih fisik dan belajar bela diri. Hal inilah yang menurut dia menjadi tantangan bagi Zara JKT48.

“Sebenarnya kan aku di JKT48 juga ada latihan fisik, karena sebagai member juga harus kuat kan. Mungkin di sini akan lebih ekstra lagi, karena beda, kalau di sana untuk nari, di sini untuk bela diri juga,” kata dia.

Film “Virgo and The Sparklings” rencananya akan memulai proses syuting pada tahun depan.

Selain itu, film produksi Screenplay Bumilangit itu juga akan membuka audisi yang diberi nama Virgo Talent Search yang akan mencari dua karakter pendamping Zara di grup band The Sparklings, yaitu Ussy (keyboard) dan Monica (drummer).

Virgo pertama kali diciptakan oleh Jan Mintaraga dan melakukan debut di komik pada tahun 1973. Di tahun 2017, Annisa Nisfihani dan Ellie Goh mengadaptasi ke versi komik modern yang ditayangkan di Line Webtoon.

Baca juga: Alasan Joko Anwar pilih Zara JKT48 sebagai pemeran Virgo

Baca juga: Perankan Euis, Zara JKT48 tak tahu “Keluarga Cemara”

Baca juga: Zara JKT48 akui sempat takut berperan di film horror

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Virgo and The Sparklings” buka audisi pendamping Zara JKT48

Jakarta (ANTARA) – Film “Virgo and The Sparklings” dari rumah produksi Screenplay Bumilangit resmi mengumumkan pembukaan audisi untuk mencari dua karakter pendamping Zara JKT48 yang berperan sebagai Virgo.

Audisi yang diberi nama Virgo Talent Search itu akan mencari dua karakter yang berada di grup band The Sparklings, yaitu Ussy (keyboard) dan Monica (drummer).

“Kita mencari pemain band ada tiga termasuk Zara jadi kita cari dua lagi. Ada satu peran utama laki-laki namanya Leo, tapi selain itu kita ada 15-an karakter yang kita cari pemainnya juga. Total sekitar ada 20 pemain yang kita jaring dari Virgo Talent Search,” kata Joko Anwar selaku salah satu produser film “Virgo and The Sparklings” dalam jumpa pers di Jakarta, Sabtu.

Joko Anwar mengatakan bahwa kriteria untuk dapat memerankan dua karakter pendamping Zara JKT48 adalah harus perempuan berusia 14 – 19 tahun atau perempuan yang dapat berperan sebagai sosok usia 14 – 19 tahun.

Selain itu, Joko mengatakan kandidat yang dapat bernyanyi dan bermain musik memiliki nilai tambah, namun terlebih dahulu harus mengunggah video berdurasi satu menit yang menunjukkan kemampuan akting atau bernyanyi dengan menggunakan hastag #virgotalentsearch.

“Semoga Virgo Talent Search ini menjadi ajang kita bisa menemukan talenta baru untuk perfilman Indonesia,” ujarnya.

Sutradara film “Gundala” itu juga menambahkan bahwa saat ini industri perfilman Indonesia kekurangan sumber daya manusia. Sehingga ajang pencarian bakat pemeran pendamping Zara JKT48 dirasa tepat untuk mencari bibit baru di industri perfilman.

“Selama ini kan banyak orang bertanya kok pemainnya ini lagi. Jangankan pemain, pembuat filmnya juga itu lagi, itu lagi. Sekarang kita memang sangat kurang sumber daya manusia,” imbuhnya.

Baca juga: Alasan Joko Anwar pilih Zara JKT48 sebagai pemeran Virgo

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Zooey Deschanel dan Jacob Pechenik berpisah

Jakarta (ANTARA) – Aktris Zooey Deschanel (39) dan Jacob Pechenik (47) memutuskan untuk berpisah setelah empat tahun menikah.

“Setelah melalui banyak diskusi dan periode kontemplasi yang panjang, kami memutuskan bahwa kami lebih baik berteman, mitra bisnis, dan orang tua daripada pasangan hidup,” kata pasangan itu dalam pernyataan bersama kepada Page Six, Jumat (6/9).

“Kami tetap berkomitmen pada bisnis kami, nilai-nilai kami, dan terutama anak-anak kami. Terima kasih telah menghormati privasi kami saat ini.”

Deschanel dan Pechenik mulai berkencan pada pertengahan 2014 dan menikah dalam upacara perkawinan rahasia pada 2015, sekitar waktu yang sama ketika mereka menyambut anak pertama mereka Elsie Otter.

Mereka juga orang tua dari Charlie Wolf yang kini berusia dua tahun.

Pemain serial “New Girl” itu sebelumnya menikah dengan pentolan band indie Death Cab for Cutie, Ben Gibbard pada 2009 hingga 2012.

Baca juga: Zooey Deschanel rayakan 10 tahun film “(500) Days of Summer”

Baca juga: Zooey Deschanel dan vokalis utama Death Cab berpisah
 

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Iko Uwais dipertimbangkan bergabung di film G.I Joe: Snake Eyes

Jakarta (ANTARA) – Aktor film action “The Raid” Iko Uwais, dikabarkan sedang dalam negosiasi untuk bergabung dengan film spinoff “G.I. Joe: Snake Eyes”, yang dijadwalkan tayang pada 2020.

Dilansir dari The Hollywood Reporter pada Sabtu, Iko akan memainkan peran “Hard Master” yang merupakan guru dari “Snake Eyes” dan mengajarinya untuk menjadi ninja dan swordmaster handal.

Sebelumnya, Iko sudah mulai melebarkan sayap dalam industri perfilman internasional menyusul keterlibatannya dalam beberapa film Hollywood seperti “Star Wars: The Force Awakens” dan “Mile 22”. Dia juga sempat beradu akting bersama Dave Bautista dan Kumail Nanjiani dalam film “Stuber”.

Selain Iko, pemain film “Crazy Rich Asian” Henry Golding juga akan bergabung sebagai pemeran utama dalam film yang disutradarai oleh Robert Schwentke itu.

Baca juga: Pertarungan Iko Uwais dan Dave Bautista dalam “Stuber”

Bintang Asia lainnya, Andre Koji, sudah siap untuk memerankan “Storm Shadow”, seorang ninja yang merupakan musuh utama “Snake Eyes”.

Ditulis oleh penulis naskah Evan Spiliotopoulos, cerita film spinoff G.I Joe yang ketiga itu berpusat pada karakter “Snake Eyes” yang ingin balas dendam atas kematian ayahnya dengan bergabung dengan klan ninja.

Lokasi syuting film action-thriller yang diproduseri oleh Lorenzo di Bonaventura dan Brian Goldner itu akan berada di Vancouver dan Tokyo pada musim gugur 2019.

Baca juga: Aktor laga Iko Uwais kenalkan senjata tradisional kerambit

Penerjemah: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Alasan peran Captain Marvel sedikit dalam “Avengers: Endgame”

Jakarta (ANTARA) – Para penulis “Avengers: Endgame” memberi penjelasan tentang peran Captain Marvel yang sedikit dalam film berdurasi 181 menit itu.

Dalam sebuah wawancara dengan Vanity Fair yang dilansir pada Sabtu, Stephen McFeely dan Christopher Markus mendiskusikan masa ketika mereka mengerjakan Marvel Cinematic Universe (MCU) dan pengembangan untuk “Avengers: Endgame”.

Karakter Captain Marvel, menurut Markus, terbukti bermasalah karena berbagai alasan.

Baca juga: Kekuatan “Captain Marvel” tak tertandingi di box office

“Dia selalu akan berada di dalamnya, tetapi kami tidak memiliki banyak hal untuk dilanjutkan. Mereka memiliki peran itu dan itulah yang terjadi,” kata Markus.

“Ini adalah hal yang sulit saat Anda memiliki karakter yang kuat dan harus dimasukkan. Namun Anda tidak ingin terlihat hanya sekadar ada seperti misalnya, kami membawa orang ini untuk membersihkan rumah yang kami tidak bisa bersihkan pada film sebelumnya,” ujarnya.

Markus melanjutkan, “Kami memutuskan untuk membuat keseimbangan agar tidak terasa seperti kameo tetapi juga tidak membuat dia terlihat terlalu banyak dan menyelesaikan masalah untuk semua orang.”

Baca juga: “Avengers: Endgame” keruk pendapatan 1,785 miliar dolar

McFeely juga menunjukkan  kekuatan yang dimiliki Captain Marvel berpotensi untuk memperbaiki semua masalah yang ada di film. Tapi, tujuan “Avengers: Endgame” adalah untuk fokus pada anggota asli tim.

“Inti dari film kedua adalah mengucapkan selamat tinggal pada enam Avengers asli. Jadi, cerita mereka akan jauh di sini. Itu tidak adil bagi enam Avengers lain ketika Captain Marvel masuk dan menyelesaikan semua masalah mereka. Itu bukan seperti cerita yang bagus,” jelas McFeely.

Pada awal September, Marvel meluncurkan sisa Fase 4 – yang meliputi “The Eternals”, “Blade Reboot”, dan “Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings”.

Baca juga: Brie Larson “Captain Marvel” dorong inklusi di balik layar

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “The Science of Fictions” karya Yosep Anggi Noen tayang di Busan

Jakarta (ANTARA) – Film “The Science of Fictions” karya sineas lokal Yosep Anggi Noen akan tayang perdana pada tingkat Asia dalam Busan Internasional Film Festival 3-12 Oktober 2019 dalam program “A Window on Asian Cinema”, berdasarkan keterangan pers yang diterima Antara, Sabtu.

“A Window on Asian Cinema” adalah program yang menunjukkan karya-karya pembuat film berbakat yang dianggap sebagai tren terbaru di Asia. Sebuah jendela untuk melihat perkembangan sinema Asia.

Sebelumnya, film “The Science of Fictions” juga telah tayang perdana dan memenangkan Special Mention Award di Locarno International Film Festival.

“The Science of Fictions” yang diproduseri Arya Sweta, Edwin Nazir, Yulia Evina Bhara dan Yosep Anggi Noen itu dikembangkan sejak 2013 dan dipresentasikan pada Asian Project Market 2014, Produire Au Sud 2016, Venice GAP Financing –Venice Film Festival 2017.

Baca juga: “Tak Ada yang Gila di Kota Ini” berkompetisi dalam festival film Busan

Film itu juga mendapatkan dukungan keuangan dari Asian Cinema Fund 2013 dan Hubert Bals Fund +Europe –Rotterdam International Film Festival.

Film yang berkisah tentang Siman, seorang pemuda di pelosok Yogyakarta yang melihat pengambilan gambar pendaratan manusia di bulan oleh kru asing di Pantai Parangtritis, Yogyakarta pada tahun 60-an.

Dia ditangkap dan dipotong lidahnya. Setelah itu, Siman menjalani hidupnya dengan bergerak lambat anti-gravitasi sebagaimana astronot di ruang angkasa. Penduduk desa menganggap Siman gila karena Siman membangun bangunan mirip roket di belakang rumahnya.

“The Science of Fictions” adalah produksi Angka Fortuna Sinema, KawanKawan Media, dan Limaenam Films dan ko-produksi dengan Andolfi (Perancis), Astro Shaw (Malaysia), GoStudio (Indonesia), dan Focused Equipment (Indonesia).

Film itu melibatkan sederet aktor dan aktris lokal, seperti Gunawan Maryanto, Yudi Ahmad Tajudin, Lukman Sardi, Ecky Lamoh, Alex Suhendra, Marissa Anita, Rusini, dan Asmara Abigail.

Baca juga: SeaShorts Film Festival di Malaka tampilkan 26 karya Asia Tenggara

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Raffi Ahmad tak masalah masih dicap “playboy”

Jakarta (ANTARA) – Raffi Ahmad mengaku tidak masalah dengan predikat playboy yang melekat pada dirinya dan menganggap hal itu sebagai lelucon, karena saat ini ia sudah berkeluarga dan memiliki anak.

“Ya enggak apa-apa, yang pentingkan istrinya cuma satu,” ujar Raffi dalam jumpa pers Nostalgia 90an di Jakarta, Jumat.

Suami Nagita Slavina ini mengaku jika sebenarnya tidak bangga dengan predikat tersebut. Namun, dia tidak memungkiri bahwa sebelum menikah memang memiliki banyak pacar.

“Gue kalau gue jadi playboy enggak bangga sebenernya, cuma itukan bernostalgia saja. Jadi ya kalau dibahas di internal teman-teman dekat, ya lucu saja, tapi kalau diceritain gitu kayaknya buat gue ya enggak begitu,” jelas personel grup vokal Bukan Bintang Biasa itu.

Raffi juga berharap sifat playboy-nya ini tidak menurun pada sang anak, Rafathar Malik Ahmad.

“Anak gue gimana ya mudah-mudahan tetap jadi anak yang baik, diajarin yang benar deh,” katanya.

Baca juga: Raffi Ahmad kesulitan yakinkan Rudi Soedjarwo sutradarai film horor

Baca juga: Raffi Ahmad lakukan akupunktur atasi radang pita suara

Baca juga: Raffi Ahmad akan ajari Rafathar pengibaran bendera Merah Putih

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Robert Downey Jr minta fans “jauhi” akun Instagram-nya yang diretas

Jakarta (ANTARA) – Robert Downey Jr mengatakan kepada penggemarnya untuk “menjauhi” akun Instagram-nya, setelah sempat diretas oleh hacker pada Jumat.

“Saya menyesal untuk mengatakan bahwa Instagram saya telah disusupi. Saat ini sedang disortir, jadi tolong ‘jauhi’ dulu (akun instagram saya). Terima kasih semua. I love you 3000,” cuit Downey melalui akun Twitter-nya.

​​​Halaman akun media sosial pemeran “Iron Man” itu sempat dihiasi iklan yang memberikan kartu hadiah (gift card) PlayStation, Amazon, Tesla Model Xs, dan juga giveaway iPhone X.

Bukan hanya itu,  para peretas  juga mengubah informasi biodata.
Downey yang memiliki 43,2 juta pengikut itu mengimbau penggemar untuk tidak mengklik salah satu dari tawaran tersebut.

Sebelum menyerang akun milik mantan bintang Marvel tersebut, kejadian serupa sempat menghampiri Instagram Jason Momoa juga baru-baru ini diretas dengan cara yang mirip dengan Downey Jr.

Lawan main Downey di Avengers, Jeremy Renner, juga sempat menutup aplikasi penggemarnya (fan app) beberapa waktu lalu, setelah aplikasinya juga diretas.

Baca juga: Baju Iron Man yang dipakai Robert Downey Jr dicuri

Baca juga: “Avengers: Infinity War” cetak rekor

Baca juga: Pidato emosional Robert Downey Jr. sebelum premiere Avengers: Infinity War

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film terbaru Brad Pitt, “Ad Astra” tuai pujian di Venice Film Festival

Jakarta (ANTARA) – Film yang diproduseri sekaligus dibintangi oleh aktor kawakan Brad Pitt, “Ad Astra”, menuai pujian pada pemutaran perdananya di Venice Film Festival, Kamis (29/8) lalu, dilansir dari keterangan tertulis pada Jumat.

Baca juga: Berperan jadi astronot, “Ad Astra” film paling menantang Brad Pitt

“Ad Astra” yang disutradarai oleh James Gray itu mendapatkan sambutan positif dari para kritikus yang hadir dalam acara tersebut. Film ini disebut sebagai salah satu mahakarya Gray yang sebelumnya telah populer melalui deretan filmnya seperti “The Lost City of Z”, “We Own the Night” dan “The Immigrant”.

Kritikus film Candice Frederick dari The Wrap menyebutkan bahwa Brad Pitt mampu memerankan karakter Roy McBride dengan mengagumkan dan merupakan salah satu performanya yang paling menakjubkan.

Sedangkan kritikus film Xan Brooks dari The Guardian mengatakan, kolaborasi James Gray dan Brad Pitt dalam ‘Ad Astra’ juga dianggap sebagai film dengan perpaduan tepat dan kisah yang kuat. Skor sempurna dari The Telegraph juga menjadi pujian lainnya bagi film bergenre sci-fi ini.

“Ad Astra” sendiri menceritakan tentang seorang astronot yang melakukan perjalanan ke tepi luar tata surya untuk menemukan ayahnya dan mengungkap misteri yang mengancam kelangsungan hidup planet bumi.

Dia mengungkap rahasia yang menantang keberadaan manusia dan planet di kosmos.

Film yang naskahnya ditulis oleh Ethan Gross ini turut dibintangi oleh aktor pemenang Academy Award Tommy Lee Jones dan Donald Sutherland.

“Ad Astra” akan tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai tanggal 20 September mendatang.

Baca juga: Premier di Venice, “Joker” dapat “standing ovation” delapan menit

Baca juga: Film “Maryam” raih juara di Venice

Baca juga: Brad Pitt sebut “Once Upon a Time in Hollywood” bisa dijadikan serial

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Brad Pitt sebut “Once Upon a Time in Hollywood” bisa dijadikan serial

Jakarta (ANTARA) – Film “Once Upon a Time in… Hollywood” masih diputar di bioskop. Namun, Brad Pitt yang membintangi film tersebut mengatakan bahwa tidak menutup kemungkinan bagi film garapan Quentin Tarantino itu untuk dibuat versi serial mini dalam platform streaming.

Baca juga: Anak tertua Angelina Jolie pilih kuliah di Korea Selatan

Baca juga: DiCaprio, Brad Pitt, dan Margot hadirkan nuansa Hollywood di Cannes

“Ya, dia (Tarantino) membicarakannya (serial). Itu ide yang cukup membangkitkan gairah,” kata Pitt dilansir dari Variety, Jumat.

Menurut Pitt, film yang juga dibintangi Leonardo DiCaprio dan Margot Robbie ini dapat memberikan lebih banyak kebebasan untuk pengembangan karakter dan cerita apabila disuguhkan dalam format serial dengan beberapa episode.

“Dalam bentuk serial, saya melihat bahwa kita bisa mengeksplorasi karakter dan cerita, serta menjelajahi sudut yang tidak selalu kita dapatkan dalam film,” ujar mantan suami Angelina Jolie itu.

Mengenai adaptasi dalam serial mini, Pitt mengutip film Tarantino “Hateful Eight” (2015), yang merilis empat episode film tersebut di Netflix pada April lalu.

“Anda memiliki pengalaman sinema yang ada, tetapi Anda benar-benar dapat menempatkan lebih banyak konten dalam format seri,” ujar dia.

Sementara itu, film “Once Upon a Time in… Hollywood” yang menceritakan tentang kisah yang terjadi di Los Angeles pada 1969 itu secara resmi tayang di bioskop-bioskop Indonesia mulai Rabu (27/8) lalu.

Baca juga: Berperan jadi astronot, “Ad Astra” film paling menantang Brad Pitt
 

Penerjemah: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film kartun Warkop DKI diluncurkan

Jakarta (ANTARA) – Sebuah film kartun berdurasi pendek diluncurkan sebagai bagian pembuka film Warkop DKI Reborn dan untuk merayakan HUT ke-46 Warkop DKI, grup lawak legendaris Indonesia.

Film kartun berdurasi dua menit tersebut tetap menghadirkan Aliando, Adipati Dolken, Randy “Nidji” dan Indro Warkop sebagai pengisi suara karakter Dono, Kasino dan Indro.

“Kami memberikan sebuah kejutan, dengan menghadirkan film kartun Warkop DKI di pembuka film Warkop DKI Reborn,” kata produser Falcon Pictures Frederica dalam keterangan pers di Jakarta pada Jumat.

Baca juga: “Warkop DKI Reborn 3”, soal agen rahasia ungkap kasus “money laundry”

Personel Warkop DKI, Indro, menyatakan film kartun Warkop DKI merupakan bagian dari perjalanan karir Warkop yang berkesinambungan.

“Kita selain menghadirkan film Warkop yang orang, kita juga ingin film Warkop DKI memiliki karakter kartun, karena kita juga harus menggiatkan animasi. Semoga film animasi Warkop DKI bisa menjadi raja di negerinya sendiri,” kata Indro seperti dikutip dari keterangan pers tersebut.

Pemeran Dono dalam film Warkop DKI Reborn, dan pengisi suara Dono dalam versi kartun, Aliando menyatakan senang menjadi bagian dalam film Kartun Warkop DKI.

Baca juga: Tiket premiere “Warkop DKI Reborn 3” dijual Rp5.000

“Ini pertama kalinya Warkop DKI dibuat film animasi, dan ini memperluas lagi segmennya, ke anak kecil atau anak sekolah. Bayangkan berapa banyak anak-anak yang ingin menonton kartun karya anak bangsa, apalagi Warkop sudah melegenda,” kata Aliando.

Hal senada juga disampaikan oleh pengisi suara Kasino, dalam film kartun Warkop DKI, Adipati Dolken.

“Bagus banget, dengan hadirnya Warkop kartun, bisa merangkul semua kalangan umur. Jadi lebih variabel dan inovatif,” katanya.

Baca juga: Indro Warkop ingin “Warkop DKI Reborn 3” disaksikan masyarakat Papua

Sedangkan Randy “Nidji” yang mengisi suara Indro yakin film kartun Warkop DKI akan lebih lucu lagi.

“Humornya akan lebih parah lagi, karena kartun itu tidak terbatas mengkhayalnya kaya gimana, bisa di-translate ke film kartun sebebas mungkin. Jadi orang bisa bebas menikmati. Kayak Mr Bean, saat dibikin kartun, kartunnya lebih gila idenya,” ujarnya.

“Karena, gambar dan imajinasi di kepala bisa dituangkan semua. Begitu juga di Warkop, hal-hal yang tidak bisa dilakukan disyuting asli, di kartun bisa dilakukan, dan itu bakal menarik banget ya,” katanya melanjutkan.

Film kartun Warkop DKI akan tayang serentak diseluruh bioskop di Indonesia pada 12 September 2019.

Baca juga: Cara Indro Warkop memaknai 46 tahun lahirnya Warkop DKI
 

Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sony Pictures pastikan “Spider-Man” tak kembali ke MCU

Jakarta (ANTARA) – Pimpinan Sony Pictures, Tony Vinciquerra mengatakan bahwa pihaknya saat ini telah menutup pintu untuk Spider-Man bisa kembali ke Marvel Cinematic Universe (MCU)

Meski demikian, ia menyebut bahwa “Spider-Man” memiliki umur yang panjang sehingga mungkin saja di masa depan Peter Parker akan kembali bersama Disney.

Kepada Variety yang dilansir pada Jumat, Vinciquerra juga bersikeras bahwa tidak ada niat buruk antara Sony dan Marvel, setelah keduanya gagal mencapai kesepakatan tentang persyaratan pembiayaan untuk film “Spider-Man” mendatang.

Dia juga mengakui jika reaksi penggemar terhadap berita tersebut cukup mengejutkan dan sangat memengaruhi studionya.

Baca juga: Tom Holland soal keluarnya Spider-Man dari MCU: “I love you 3000”

Menurut Vinciquerra, bos Marvel, Kevin Feige terlalu ingin melakukan banyak hal tanpa memberi cukup waktu dan fokus. Itulah salah satu alasan di balik kegagalan mereka dalam negosiasi.

“Kami telah melakukan hal yang hebat dengan Feige di film ‘Spider-Man’. Kami mencoba melihat apakah ada cara untuk menyelesaikannya,” kata Vinciquerra.

“Orang-orang Marvel adalah orang-orang hebat, kami sangat menghormati mereka, tetapi di sisi lain kami juga memiliki orang-orang yang cukup hebat,” lanjutnya.

Baca juga: Jeremy Renner “Hawkeye” ingin Spider-Man kembali ke Marvel

Sekarang setelah salah satu properti terbesarnya kembali, Sony berencana untuk meluncurkan Universe-nya sendiri dengan menggunakan beragam karakter Spider-Man.

Sony Pictures saat ini sedang menggarap “Venom 2”. Vinciquerra berani menyatakan keyakinannya bahwa karakter tersebut akan baik-baik saja di luar MCU, merujuk pada kesuksesan “Spider-Man: Into the Spider-Verse” dan seri Sony-Amazon “The Boys” sebagai bukti bahwa Sony sepenuhnya mampu berada di depan.

“Spider-Man baik-baik saja sebelum adanya film itu dan melakukan lebih baik lagi setelah film, dan sekarang kita memiliki semesta kita sendiri, dia akan memainkan karakter lain juga. Saya pikir kita cukup mampu melakukan apa yang harus kita lakukan di sini,” Vinciquerra menjelaskan.

Baca juga: Penggemar Marvel bikin petisi pertahankan Spider-Man
 

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Marsha Timothy, Baim Wong bakal reuni di bioskop sambil nobar “Bebas”

Jakarta (ANTARA) – Aktris Marsha Timothy, Dian Sastrowardoyo dan aktor Baim Wong akan mengadakan reuni SMA di bioskop sambil menonton bareng film “Bebas” pada 14 September mendatang.

Produser film “Bebas”, Mira Lesmana mengatakan reuni ini nantinya berlangsung di bioskop berbeda sesuai keinginan pihak-pihak yang berkepentingan dan tak terbatas pada selebritas.

“Marsha Timothy, Baim Wong dan SMA-nya akan nonton bareng. Reuni di bioskop, biasanya di tempat makan. Di bioskop nanti ada waktu dua jam bersama geng “Bebas” (menonton film). Bisa ikut menyanyi dan menari,” kata dia dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.

“Ini semacam Special Screening sebelum Gala Premiere pada 3 Oktober 2019,” sambung Mira.

Anda yang juga ingin ikut mengadakan reuni di bioskop bersama rekan-rekan SMA bisa mencari informasi melalui laman Instagram Miles Film.

Film “Bebas” yang mengadaptasi film “Sunny” asal Korea Selatan mengisahkan persahabatan enam orang remaja Jakarta tahun 1995/1996. Mereka sempat terpisahkan selama 23 tahun namun kembali bersatu karena suatu alasan. Nantinya, film menggambarkan kota Jakarta di era tahun 90-an dan Jakarta di tahun 2019.

Ada sederet selebritas yang bergabung dalam film ini antara lain: Marsha Timothy, Baim Wong, Baskara Mahendra, Susan Bachtiar, Indy Barends, Amanda Rawles, Kevin Ardilova, Giorgino Abraham, Brandon Salim dan Agatha Pricilla.

“Kami berharap penonton ikut bernostalgia dan reuni bersama sambil menonton film “Bebas” di bioskop,” kata Mira.

Baca juga: Di balik “Kado” yang sudah diputar di festival film bergengsi dunia

Baca juga: Riri Riza dan Mira Lesmana luncurkan trailer film “Bebas”

Baca juga: “Bebas”, film dengan jumlah pemain terbanyak produksi Miles Films
 

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Mira Lesmana akui tak sulit adaptasi film “Sunny”

Jakarta (ANTARA) – Produser Mira Lesmana tak mengalami kesulitan mengadaptasi film asal Korea Selatan “Sunny” menjadi film “Bebas” yang menggambarkan remaja Jakarta era tahun 90-an.

“Tidak sulit, fun mengadaptasinya. Pihak Korea (CJ Entertainment) menyerahkan, mereka bilang film (“Bebas”) ini harus menjadi film Indonesia,” kata Mira di Jakarta, Kamis.

Dia mengatakan tumbuh dan besar di era tahun 90-an sehingga paham hal-hal yang terjadi saat itu, termasuk lagu-lagu populer, situasi yang terjadi hingga lokasi-lokasi anak-anak muda bergaul.

Film “Bebas” yang mengadaptasi film “Sunny” asal Korea Selatan mengisahkan persahabatan enam orang remaja Jakarta tahun 1995/1996. Mereka sempat terpisahkan selama 23 tahun namun kembali bersatu karena suatu alasan.

Nantinya, film menggambarkan kota Jakarta di era tahun 90-an dan Jakarta di tahun 2019.

“Kami hunting lokasi, seperti di Blok M, Melawai, ada sudut-sudut menarik, lalu kawasan Kota (Tua). Rumah-rumah juga yang kira-kira di era tahun 90-an,” tutur Mira.

Produksi film “Bebas” memakan waktu sekitar setahun lebih, dengan enam bulan masa latihan bersama para pemain seperti Marsha Timothy, Baim Wong, Baskara Mahendra, Susan Bachtiar, Indy Barends, Amanda Rawles, Kevin Ardilova, Giorgino Abraham, Brandon Salim dan Agatha Pricilla.

Baca juga: Marsha Timothy, Baim Wong bakal reuni di bioskop sambil nobar “Bebas”

Baca juga: Di balik “Kado” yang sudah diputar di festival film bergengsi dunia

Baca juga: “Bebas”, film dengan jumlah pemain terbanyak produksi Miles Films

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Di balik “Kado” yang sudah diputar di festival film bergengsi dunia

Jakarta (ANTARA) – Film pendek berjudul “Kado” yang belakangan wara-wiri di berbagai festival film internasional, antara lain Sundance International Film Festival 2019 Venice International Film Festival 2018 dan Melbourne International Film Festival 2019 punya cerita di balik pembuatannya.

Film berdurasi 15 menit karya sutradara muda Aditya Ahmad dan diproduksi bersama produser Mira Lesmana pada 2018 ini mengeksplorasi identitas seorang insan muda bernama Isfi, yang mempersiapkan hadiah ulang tahun untuk temannya, Nita.

“Sebenarnya cerita ini lahir dari pertanyaan saya waktu sedang terlalu dalam mempertanyakan eksistensi saya sebagai manusia, dari sisi karir, indentitas,” kata Adit, sapaan akrab Aditya Ahmad, saat berbincang di Kedutaan Besar Australia, Jakarta Selatan, Rabu (4/9).

Di tengah kegalauannya, Adit kembali bertemu Isfira Febiana (nama tokoh dan nama sebenarnya) yang saat itu juga merasakan hal yang sama. Isfi mencurahkan isi hatinya pada Adit termasuk tentang bagaimana dirinya bisa menjadi seperti saat ini.

Isfi bukan orang baru dalam hidup Adit. Perempuan yang kini sudah berusia 19 tahun itu sebelumnya bermain dalam film pendek karya Adit, “Sepatu Baru”
beberapa tahun lalu.

Baca juga: “Sepatu Baru” masuk festival film internasional Berlin

“Akhirnya kami putuskan kalau menjadikan ini satu cerita. Kami mencari jawaban lewat film,” tutur Adit.

Di sisi lain, Mira Lesmana yang sudah tak sabar menanti karya Adit memberi lampu hijau. Tanpa banyak berpikir dia mengiyakan rencana Adit mengangkat kisah Isfi.

“Adit punya kepekaan yang spesial. Cara dia men-treat pendekatan visual dan cerita. Saya dan Riri suka dengan yang punya kepekaan seperti ini,” tutur Mira.

Setelah mendapat persetujuan Mira, Adit lalu mengikuti keseharian Isfi selama tiga bulan. Dia mencatat dan merekam apa saja dan siapa saja yang sang tokoh utama temui termasuk teman-temannya.

“Prosesnya kayak membuat film dokumenter. Saya belajar kehidupan Isfi. Pertanyaan dan perasaan saya, saya masukan, jadilah “Kado”,” ujar dia.

Bagi Adit, “Kado” membawa pesan semua manusia kado spesial dari Tuhan dan manusia seharusnya juga menjadi kado untuk semua ciptaan Tuhan lainnya.

Sementara bagi Mira, film ini memotret kehidupan nyata hari ini, tidak judgemental dan tidak sibuk mencari pesan moral.

Ketika ditanya apakah “Kado” berpeluang dibuat versi film panjang, baik Adit maupun Mira mengiyakan. Namun mereka belum tahu waktu pasti realisasinya karena masih mempertimbangkan sejumlah hal.
 

Baca juga: “KADO” akan tayang di Sundance International Film Festival 2018

Baca juga: PR industri film di mata Mira Lesmana

Baca juga: Film pendek Aditya Ahmad berkompetisi di Festival Film Venesia

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Tak Ada yang Gila di Kota Ini” berkompetisi dalam festival film Busan

Jakarta (ANTARA) – “Tak Ada yang Gila di Kota Ini” (No One is Crazy in This Town) yang disutradarai Wregas Bhanuteja terpilih untuk berkompetisi dalam program Wide Angle: Asian Short Film Competition di Busan International Film Festival (BIFF) ke-24 pada 3-12 Oktober 2019 di Busan, Korea Selatan.

Film berdurasi 20 menit yang diproduseri Adi Ekatama dari Rekata Studio itu dibintangi sejumlah aktor di antaranya Oka Antara, Sekar Sari, Pritt Timothy, Jamaluddin Latif, dan Kedung Darma Romansha.

BIFF 2019 juga menjadi ajang untuk penayangan perdana secara global “Tak Ada yang Gila di Kota Ini”, demikian menurut keterangan tertulis dari Rekata Studio yang diterima di Jakarta, Rabu.

Film itu berkisah saat masa liburan tiba. Bos salah satu hotel besar dan berpengaruh di kota memerintahkan Marwan (Oka Antara) dan teman-temannya untuk mengangkuti semua orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang masih berkeliaran di jalan-jalan raya dan dibuang ke hutan.

Sebab, sang Bos tidak ingin kehadiran mereka mengganggu para turis dan merusak wajah kota. Alih-alih membiarkan ODGJ itu tewas di hutan, ternyata Marwan punya rencana rahasia.

Selain menyutradarai, Wregas juga menulis skenario film tersebut dengan mengadaptasinya dari cerpen berjudul sama karya sastrawan Eka Kurniawan, yang telah menelurkan “Cantik Itu Luka”, “Lelaki Harimau”, “O”, dan “Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas”.

“Pertimbangan pertama mengapa memilih cerpen ini adalah emosi. Saat membacanya, saya merasakan emosi kemarahan yang sama terhadap suatu hal, yakni kuasa,” kata Wregas, dikutip dari keterangan tertulis tersebut.

Sementara itu produser Adi Ekatama berharap dengan dibuatnya film pendek itu, maka semakin banyak lagi film Indonesia bahkan film internasional, yang mengadaptasi cerpen atau novel karya penulis Indonesia dari berbagai genre.

Cerpen “Tak Ada yang Gila di Kota Ini” telah diterbitkan dalam buku “Cinta Tak Ada Mati” oleh Gramedia Pustaka Utama pada 2018.
Baca juga: “Gundala” tembus Festival Film Internasional Toronto 2019
 

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Cerita Danilla soal musik pengiring “Pretty Boys”

Proses bikin lagu itu proses syuting juga …”

Jakarta (ANTARA) – Musisi Danilla Riyadi menjadi satu-satunya pengisi lagu pengiring film (original soundtrack) “Pretty Boys” yang diproduseri oleh Vincent dan Desta.

Pelantun “Senja Di Ambang Pilu” itu mengatakan proses pembuatan lagu dilakukan saat pengambilan gambar berlangsung.

“Proses bikin lagu itu proses syuting juga, jadi mood waktu bikin lagunya itu sama seperti mood aku waktu berperan di film itu juga, jadi ceritanya kurang lebih mirip-mirip dengan film itu sendiri,” ujar Danilla saat berkunjung ke redaksi Antara, di Jakarta, Rabu, bersama Vincent dan Desta.

Baca juga: Danilla Riyadi jatuh hati dengan seni peran

Selain Danilla, 11 musisi lain juga mengisi soundtrack “Pretty Boys,” di antaranya Pamungkas, Ardhito Pramono, Endah N Rhesa, White Shoes & The Couple Company dan Nadin Amizah.

“Kita banyak musisi indie sih, kita mau buat yang fresh,” kata Desta.

“Pretty Boys” merupakan film perdana rumah produksi Desta dan Vincent, dengan tema yang tidak jauh dari pekerjaan mereka.

Baca juga: Jadi produser pertama kali, Desta: Gue suka tantangan

Film tersebut bercerita tentang mimpi sepasang sahabat Rahmat (Desta) dan Anugerah (Vincent) untuk terkenal dalam industri hiburan sebagai presenter.

Sebagai produser, Desta mengaku tidak memasang target untuk film perdananya itu.

“Gue enggak mikirin berapa jumlah penonton, yang penting kita berkarir sebaik mungkin saja, memberikan tontonan yang baik yang bagus, penonton nanti kan akan mengalir sendiri kalau kita bikin yang bagus,” ujar Desta.

Baca juga: “Pretty Boys” film serba pertama bagi Vincent-Desta

Hal senada juga disampaikan Vincent. Dari awal perencanaan pembuatan film, dia berkomitmen bahwa film yang akan dia produksi tidak untuk mencari untung.

“Kalau mau cari duit logikanya film horor, yang udah ketahuan pasarnya, 60-70 persen laku. Ya udah kita berkarya, peduli ntar hasilnya gimana yang penting yang terbaik,” kata Vincent.

Film bergenre komedi itu dijadwalkan tayang perdana di bioskop-bioskop pada 19 September 2019.

Baca juga: Desta sanjung debut Tompi sebagai sutradara
 

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jadi produser pertama kali, Desta: Gue suka tantangan

Jakarta (ANTARA) – Aktor Deddy Mahendra Desta atau yang akrab disapa Desta mencoba tantangan berbeda dengan bertindak sebagai produser untuk film “Pretty Boys” dan merasa bahwa tugas tersebut cukup sulit.

Meski demikian, Desta tetap menikmati tugasnya sebagai produser untuk pertama kalinya itu, bersama dengan sahabat dekatnya Vincent Rompies.

“Gue memang suka dengan tantangan, jadi ya dijalani aja walaupun kayaknya kapok jadi produser, tapi ya kita lihat aja nantinya,” kata Desta saat berkunjung ke redaksi Antara dalam rangka promosi film “Pretty Boys”, Rabu.

Baca juga: “Pretty Boys” film serba pertama bagi Vincent-Desta

Desta dan Vincent yang juga berperan dalam film arahan sutradara Tompi tersebut bahkan membuat rumah produksi sendiri bernama Pretty Boys Pictures.

Saat ditanya soal target penonton, Desta mengaku tidak terlalu memikirkan hal itu. Menurut dia yang terpenting adalah bisa menghasilkan karya baru sebaik mungkin.

Baca juga: Desta sanjung debut Tompi sebagai sutradara

“Gue tercebur di dunia produser, kan biasa di depan layar, ini di belakang layar. Gue sih enggak mikirin berapa jumlah penonton, yang penting kita berkarir sebaik mungkin aja, memberikan tontonan yang baik yang bagus, penonton nanti kan akan mengalir sendiri kalau kita bikin yang bagus,” ujarnya.

Setelah “Pretty Boys”, Desta mengatakan sudah punya beberapa rencana untuk membuat film layar lebar di kemudian hari.

“Ada beberapa ide di kepala, tapi masih belum tahu. Kita mau lihat dulu flow-nya ‘Pretty Boys’ seperti apa, dinikmati dulu,” katanya menambahkan.

Baca juga: Danilla Riyadi jatuh hati dengan seni peran
 

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Cerita Danilla soal pembuatan soundtrack “Pretty Boys”

Jakarta (ANTARA) – Musisi Danilla Riyadi menjadi satu-satunya pengisi lagu pengiring film (original soundtrack) “Pretty Boys” yang diproduseri oleh Vincent dan Desta.

Pelantun “Senja Di Ambang Pilu” itu mengatakan proses pembuatan lagu dilakukan saat pengambilan gambar berlangsung.

“Proses bikin lagu itu proses syuting juga, jadi mood waktu bikin lagunya itu sama seperti mood aku waktu berperan di film itu juga, jadi ceritanya kurang lebih mirip-mirip dengan film itu sendiri,” ujar Danilla saat berkunjung ke redaksi Antara, di Jakarta, Rabu, bersama Vincent dan Desta.

Baca juga: Danilla Riyadi jatuh hati dengan seni peran

Selain Danilla, 11 musisi lain juga mengisi soundtrack “Pretty Boys,” di antaranya Pamungkas, Ardhito Pramono, Endah N Rhesa, White Shoes & The Couple Company dan Nadin Amizah.

“Kita banyak musisi indie sih, kita mau buat yang fresh,” kata Desta.

“Pretty Boys” merupakan film perdana rumah produksi Desta dan Vincent, dengan tema yang tidak jauh dari pekerjaan mereka.

Baca juga: Jadi produser pertama kali, Desta: Gue suka tantangan

Film tersebut bercerita tentang mimpi sepasang sahabat Rahmat (Desta) dan Anugerah (Vincent) untuk terkenal dalam industri hiburan sebagai presenter.

Sebagai produser, Desta mengaku tidak memasang target untuk film perdananya itu.

“Gue enggak mikirin berapa jumlah penonton, yang penting kita berkarir sebaik mungkin saja, memberikan tontonan yang baik yang bagus, penonton nanti kan akan mengalir sendiri kalau kita bikin yang bagus,” ujar Desta.

Baca juga: “Pretty Boys” film serba pertama bagi Vincent-Desta

Hal senada juga disampaikan Vincent. Dari awal perencanaan pembuatan film, dia berkomitmen bahwa film yang akan dia produksi tidak untuk mencari untung.

“Kalau mau cari duit logikanya film horor, yang udah ketahuan pasarnya, 60-70 persen laku. Ya udah kita berkarya, peduli ntar hasilnya gimana yang penting yang terbaik,” kata Vincent.

Film bergenre komedi itu dijadwalkan tayang perdana di bioskop-bioskop pada 19 September 2019.

Baca juga: Desta sanjung debut Tompi sebagai sutradara
 

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Promosi film Pretty Boys

Artis pemeran film “Pretty Boys” Vincent Rompies (kanan), Danilla Riyadi (tengah) dan Deddy Mahendra Desta (kiri) berpose saat kunjungan media ke Kantor Berita Antara di Gedung Wisma Antara, Jakarta, Rabu (4/9/2019). Kunjungan tersebut dalam rangka promosi film “Pretty Boys” bergenre komedi yang akan tayang secara serentak 19 September mendatang. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/ama

“Pretty Boys” film serba pertama bagi Vincent-Desta

Jakarta (ANTARA) – Aktor Vincent dan Desta mengaku bahwa pembuatan film “Pretty Boys” menjadi pengalaman baru sekaligus menjadi yang serba pertama bagi keduanya.

Pasalnya dalam film arahan sutradara Tompi itu, duo Vincent-Desta untuk pertama kalinya bermain dalam satu judul film yang sama setelah sekian lama.

“Banyak hal pertama di film ini. Pertama kalinya saya sama Desta satu film setelah Desta berpuluh-puluh film dan saya juga tapi kita enggak pernah satu produksi berdua,” kata Vincent saat berkunjung ke redaksi Antara dalam rangka promosi film “Pretty Boys”, Rabu.

Baca juga: Desta sanjung debut Tompi sebagai sutradara

Tak hanya itu saja, Vincent-Desta juga untuk pertama kalinya bertindak sebagai produser dalam sebuah proyek film dengan membentuk rumah produksi Pretty Boys Pictures.

“Ini film pertama production house yang kita bangun bersama Desta,” lanjut Vincent.

Bagi Desta, pengalaman menjadi produser merupakan hal yang tak terlupakan karena membuatnya tertantang. Meskipun dia awalnya mengaku sempat pusing, namun tetap menikmati proses pengerjaan film bergenre komedi tersebut.

“Gue terlibat dari awal dari pembangunan karakter sama-sama. Gue terlibat dari awal sampai post production, semuanya lah sampai pemilihan warna, scoring music, juga soundtrack. Semuanya bikin pusing tapi menyenangkan karena ini challenging,” ujar Desta.

“Pretty Boys” bercerita tentang Rahmat Maha Esa (Desta) dan Anugerah Santoso (Vincent Rompies) dua orang sahabat yang dari kecil bermimpi masuk TV dan terkenal. Meski demikian mereka berbeda, Rahmat ingin terkenal agar dikelilingi oleh perempuan cantik.

Sementara itu, Anugerah ingin masuk TV agar bisa disandingkan dengan pembawa acara idolanya seperti Koes Hendratmo, Nico Siahaan, Bob Tutupoli, Sonny Tulung dan lainnya.

Akan tetapi, perjuangan untuk terkenal tentu tidak mudah. Saat sudah masuk TV pun, mereka masih harus menghadapi berbagai halangan dan rintangan yang tidak sesuai hati nurani mereka.

Akankah mimpi Rahmat dan Anugerah menaklukkan dunia pertelevisian membuahkan hasil? “Pretty Boys” disutradarai oleh Teuku Adifitrian (Tompi) dan akan tayang di bioskop mulai 19 September 2019.

Baca juga: Film “Pretty Boys” terinspirasi dari dunia pertelevisian

Baca juga: Desta dan Vincent tak pikirkan jumlah penonton “The Pretty Boys”

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“The Joker” dapat rating tinggi meski belum dirilis di bioskop

Jakarta (ANTARA) – “The Joker” yang dibintangi aktor Joaquin Phoenix sudah menjadi film dengan rating tinggi yakni 9,6 dari 10 di IMDb, meski belum resmi rilis di bioskop,

Sebagai perbandingannya, film yang juga dibuat berdasarkan karakter komik, “Avengers: Endgame” mendapat rating 8,6. Sedangkan “The Dark Knight” karya Christopher Nolan yang dibintangi oleh Heath Ledger sebagai Joker memperoleh penilaian 9 dari 10.

Baca juga: Premier di Venice, “Joker” dapat “standing ovation” delapan menit

Meski peringkat tersebut kemungkinan akan berubah pada saat rilis, itu menandakan “The Joker” telah mendapat impresi awal yang bagus dan akan menjadi pesaing yang kuat dalam ajang pemberian penghargaan, demikian seperti dilansir NME, Rabu

Sementara penggambaran Joaquin Phoenix tentang Clown Prince of Crime dalam “The Joker” akan tayang di bioskop pada Oktober.

Baca juga: Sutradara mulai pertimbangkan sekuel “Joker”

Sementara itu, pada perhelatan Venice Film Festival akhir pekan lalu, sutradara Todd Phillips, Joaquin Phoenix dan lawan mainnya, Zazie Beetz mendapat tepuk tangan dari penonton selama delapan menit setelah pemutaran film.

Todd juga sempat mengatakan bahwa dia sudah memiliki pandangan untuk sekuel “The Joker” setelah melihat kerja keras dari Phoenix.

Baca juga: Joaquin Phoenix terinspirasi pasien gangguan mental perankan Joker
 

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Danilla Riyadi jatuh hati dengan seni peran

Jakarta (ANTARA) – Musisi Danilla Riyadi mengaku telah menemukan titik menarik dalam dunia seni peran.

“Kalau seni musik itu sudah di dalam, kalau ini memang baru, tapi sudah bisa menemukan titik menariknya sih,” ujar Danilla saat media visit film “Pretty Boys” ke Kantor LKBN Antara di Jakarta, Rabu.

Menurut Danilla, film dan musik masih menjadi satu kesatuan dalam dunia seni, sehingga masih sangat terbuka bagi dirinya untuk masuk ke dunia itu. Meski begitu, dia mengatakan masih memilih cerita yang akan diperankannya.

Baca juga: “Pretty Boys” film serba pertama bagi Vincent-Desta

Saat ditanya peran yang ingin dimainkannya, secara mengejutkan Danilla menjawab “pesulap.”

Sementara itu, “Pretty Boys” menjadi film kedua Danilla setelah berakting pertama kali dalam film “Koboy Kampus” karya penulis buku Pidi Baiq. Pemeran dan Produser film “Pretty Boys” Deddy Mahendra Desta bersama Danilla Riyadi dalam kunjungannya ke kantor LKBN ANTARA, Jakarta, Rabu (4/9/19). (ANTARA News/Alviansyah)

Meski “Pretty Boys” film kedua bagi dirinya, Danilla mengaku masih canggung sebab karakter dan jalan cerita yang berbeda dari film yang pertama.

“Tapi pengerjaannya cukup menyenangkan. Aku rasa kayak main-main berkarya bersama semua orang yang ada di tim ini,” kata Danilla.

Baca juga: Desta sanjung debut Tompi sebagai sutradara

Baca juga: Film “Pretty Boys” terinspirasi dari dunia pertelevisian

Dalam “Pretty Boys,” musisi yang telah merilis album “Telisik” dan “Lintasan Waktu” itu memerankan karakter Asty, yang dia sebut cuek dan agak tomboy.

“Pretty Boys” sendiri bercerita tenatng mimpi sepasang sahabat Rahmat (Desta) dan Anugerah (Vincent) untuk terkenal dalam industri hiburan Tanah Air sebagai presenter.

Film ber-genre komedi itu dijadwalkan tayang perdana di bioskop-bioskop Tanah Air pada 19 September 2019.

“Kalau mau nonton “Pretty Boys” tonton dengan pikiran yang terbuka, itu penting sekali, jadi tidak melihat sebuah film dari sebelah mata saja,” ujar Danilla.

Baca juga: Tompi menikmati debut sebagai sutradara film

Baca juga: Demi adu akting, Desta-Vincent bikin The Pretty Boys

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Desta sanjung debut Tompi sebagai sutradara

Jakarta (ANTARA) – Aktor Deddy Mahendra Desta atau akrab disapa dengan Desta memuji debut Tompi sebagai sutradara di film bergenre komedi berjudul “Pretty Boys”.

Desta yang mengaku sudah kenal lama dengan Tompi, menilai bahwa salah satu personel Trio Lestari itu sangat bersemangat dan mampu menghidupkan suasana saat proses syuting berlangsung.

“Orangnya memang seperti itu, berapi-api, semangat, cuma dia membangun semangatnya itu memang luar biasa, di saat kita udah capek dia masih bisa membangkitkan semangat kita lagi, orangnya sih energik banget,” kata Desta saat berkunjung ke redaksi LKBN Antara dalam rangka promosi film “Pretty Boys”, Rabu.

Baca juga: Film “Pretty Boys” terinspirasi dari dunia pertelevisian

Tak hanya itu, Desta yang dalam film tersebut berperan sebagai Rahmat mengatakan bahwa Tompi adalah orang yang sangat memperhatikan hal-hal detail.

“Dia cukup detail dalam memperhatikan hal yang kecil, misalnya baju, sering kita temui film harusnya baju-baju yang sudah dipakai lama, tapi baju pakai baru, nah dia sedetail itu,” kata dia.
  Pemeran film “Pretty Boys” Vincent Rompies, Danilla dan Deddy “Desta” Mahendra dalam kunjungannya ke kantor LKBN ANTARA, Jakarta, Rabu (4/9/19). (ANTARA/Adrianus Mehan)

Desta yang juga bertindak sebagai produser di film itu juga mengatakan bahwa ide awal cerita “Pretty Boys” berasal dari Tompi.

“Gue ngomong sama tompi, waktu itu dia ada di Rusia. Gue nanya Tompi ada ide cerita enggak, terus dia minta waktu sebentar. Terus hubungi gue dari sana dan bilang ada cerita. Gue bilang ini keren banget untuk dijadikan film. Tompi juga sudah kenal kita dari cara bercanda, dan masuklah satu visi,” ujarnya.

Film “Pretty Boys” juga menmapilkan akting dari Vincent Rompies, Danilla Riyadi, Roy Marten, Imam Darto, dan Onadio Leonardo.

Rencananya film “Pretty Boys” akan tayang di bioskop seluruh Indonesia pada tanggal 19 September 2019.

Baca juga: Desta dan Vincent tak pikirkan jumlah penonton “The Pretty Boys”

Baca juga: Tompi menikmati debut sebagai sutradara film

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Al Ghazali kecewa tak bisa rayakan ulang tahun bersama Ahmad Dhani

Jakarta (ANTARA) – Al Ghazali kecewa karena tidak bisa merayakan ulang tahunnya ke-22 bersama Ahmad Dhani pada 1 September 2019 di Rutan Cipinang tempat sang ayah menjalani masa hukuman.

Namun, kekecewaannya sedikit terobati dengan kiriman ucapan selamat ulang tahun dari Dhani yang dikirim via aplikasi pesan singkat. 

“Ayah WA (WhatsApp), kemarin mau tiup lilin di Cipinang tapi karena ada jadwal syuting jadi enggak bisa. Mungkin besok libur atau kapan nanti aku ke Cipinang,” kata Al Ghazali saat ditemui di sela jumpa pers film  “Kembalinya Anak Iblis” di Jakarta, Selasa (3/9).

Baca juga: Ahmad Dhani divonis satu tahun penjara

Ia pun merayakan hari ulang tahunnya bersama orang-orang terdekat walau terasa tak lengkap. Al Ghazali mengaku mendapat kado ulang tahun spesial dari sang bunda Maia Estianty.

Ia lantas membagikan momen kebahagiaan tersebut melalui akun Instagramnya.

Al, demikian ia akrab disapa, berharap bisa menjadi pribadi yang semakin bersyukur di usianya yang telah menginjak 22 tahun.

“Yang namanya manusia enggak ada yang puas tapi bersyukur dan di umur 22 ini bakal dapet lebih baik lagi ke depannya dan teman-teman di sekeliling gue lebih baik juga untuk mendorong aku lebih maju ke depan,” ujarnya.

Baca juga: Al Ghazali perankan kekasih Jessica Mila dalam “Mengejar Surga”

Baca juga: “Kembalinya Anak Iblis”, teror arwah penasaran penunggu pulau
 

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Robert Pattinson sempat kesal perannya di “Batman” bocor

Jakarta (ANTARA) – Robert Pattinson kesal karena laporan mengenai perannya sebagai “Batman” bocor, menurutnya masih terlalu dini untuk membahas masalah tersebut.

Dalam sebuah wawancara dengan Variety, Rabu, bintang “Twilight” itu merasa ketakutan saat berita tentang perannya sebagai Batman bocor.

Oleh karena itu, dia ingin agar Warner Bros Studio mempertimbangkannya lagi.

Pattinson juga mengatakan jika saat berita tersebut keluar, dia belum mengikuti audisi untuk “Batman”.

“Ketika hal itu bocor, aku benar-benar marah. Semua orang sangat kesal, semua orang dari tim saya panik. Saya merasa semuanya meledak begitu saja,” kata Pattinson.

Baca juga: Matt Reeves cari sosok penjahat untuk “The Batman”

Baca juga: Robert Pattinson resmi perankan Batman

“Itu menakutkan. Saya seperti, “Oh, sial’. Apakah itu akan mengacaukan semuanya, karena mereka telah benar-benar menjaga kerahasiaan,” lanjutnya.

Belum lama ini terungkap bahwa “Batman” versi Pattinson akan rilis pada 2021 dan tidak akan seperti film yang lain. Kali ini lebih menggali pada masa lalu dari Bruce Wayne.

Sementara itu, produser “Batman”, Michael E. Uslan juga mendapat serangan perihal casting Pattinson sebagai pemeran Batman.

“Tunggu sampai Anda melihatnya. Percaya dan berikan saja pada si pembuat film, lihat visi dan manfaat dari keraguan itu,” ujar Michael. Baca juga: Robert Pattinson akan tes kostum Batman

Baca juga: Jawaban Robert Pattinson soal peran Batman

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film animasi Boboiboy terlaris di Malaysia

Kuala Lumpur (ANTARA) – Film animasi produksi Malaysia Boboiboy Movie 2 (BBBM2) menjadi film animasi terlaris di Malaysia pada bulan ini setelah meraih pendapatan sebanyak RM27,7 juta dalam waktu 26 hari.

Dilansir Astro Shaw dan Animonsta Studios, Selasa (3/9), dengan jumlah pendapatan tersebut menjadikan BBBM2 sebagai film animasi terlaris nomor satu di Malaysia mengalahkan film-film animasi setempat yang pernah diproduksi di Malaysia.

BBBM2 juga berhasil mengalahkan pendapatan film animasi luar negeri yang pernah ditayangkan di Malaysia.

Baca juga: Animator asli kecewa film “The Lion King”

CEO Animonsta Studios, Nizam Abdul Razak, merasa sangat tersanjung dengan pencapaian BoBoiBoy Movie 2 yang berhasil memecahkan rekor pendapatan tertinggi semua film animasi di Malaysia.

“Saya ingin mengucapkan jutaan terima kasih kepada jutaan penonton dari pelbagai bangsa dan lapisan umur yang mendukung,” katanya.

Sementara itu Wakil Presiden Ketua Astro Shaw & Nusantara, Raja Jastina Raja Arshad mengatakan pihaknya gembira apabila segala usaha promosi dan pemasaran yang diprogramkan dan dijalankan benar-benar memberikan dampak positif.

“Ini merupakan perkembangan yang sangat baik dalam industri film lokal dan menunjukkan film animasi lokal kita mampu bersaing dengan film internasional,” katanya.

Dia menyampaikan terima kasih kepada penonton yang telah menonton dan menjadikan film BBBM2 sebagai film animasi nomor satu Malaysia.

Sebelum BBBM2 beredar beberapa waktu lalu produsen Upin & Ipin juga meluncurkan film Upin & Ipin Keris Si Amang Tunggal.

Baca juga: “Detektif Conan” berpetualang di Singapura dalam film terbaru

Baca juga: “Weathering with You”, kisah mengusir hujan yang masuk Oscar 2020

Baca juga: MONSTA X ramaikan serial animasi “We Bare Bears”

Pewarta: Agus Setiawan
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sutradara “Avengers: Endgame” rilis film thriller berbahasa Arab

Jakarta (ANTARA) – Sutradara “Avengers: Endgame”, Joe Russo dan Anthony Russo menindaklanjuti blockbuster Marvel dengan merilis film thriller berbahasa Arab.

Film yang berjudul “Mosul” itu ditayangkan perdana pada Venice Film Festival, Senin (2/9). Film tersebut didasarkan pada artikel New Yorker “The Avengers of Mosul” dan sejarah anggota tim elit SWAT Irak yang memerangi anggota ISIS.

Anthony mengaku cukup sulit untuk membuat sebuah film Arab agar mendapatkan penonton. Tantangan itu tentu tidak sesulit ketika menghadirkan “Avengers: Endgame” yang telah menjadi film dengan pendapatan tertinggi.

“Ambisi film itu, keunikan film itu, kami telah banyak berbicara tentang hal-hal itu. Tetapi, saya pikir itu adalah kisah di balik film yang akan menarik banyak orang,” ujar Anthony dilansir Variety, Rabu.

Baca juga: Sutradara tidak sesali akhir cerita “Avengers: Endgame”

“Saya pikir mungkin faktor yang paling penting adalah apakah orang akan melihat atau tidak. Kisah film itu perlu diceritakan kepada orang-orang sehingga mereka mengerti mengapa film itu relevan, mengapa itu penting, mengapa akan membawa pengamalan yang memperkaya orang yang menyaksikannya,” ujar Anthony.

Sementara, Joe Russo mengaku sama sekali tidak menyesal dengan akhir film epik tersebut.

Joe yang menyutradarai Marvel bersama saudaranya, Anthony, mengatakan mereka tidak akan mengubah apapun yang ada di filmnya dan sekarang “Endgame” menjadi film terlaris sepanjang masa.

“Jika kami menyesali apa pun pada akhirnya, kami tidak melakukan pekerjaan kami dengan benar. Saat membuat film, kami syuting selama satu tahun,” kata Joe.

Baca juga: Sutradara “Avengers: Endgame” pertimbangkan peran untuk Keanu Reeves

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Si badut Pennywise kembali mengajak bermain dalam “It: Chapter 2”

Jakarta (ANTARA) – Kelompok berisikan tujuh anak-anak asal kota Derry, yang menyebut diri mereka sebagaiThe Losers, berkumpul kembali setelah lebih dari dua dekade menjalani hidup masing-masing.
 

Bill Denbourgh (James McAvoy) berkarir sebagai seorang penulis buku dan film. Lalu, anggota perempuan satu-satunya dalam gang, Beverly Marsh (Jessica Chastain), merupakan seorang istri dari suami yang kaya namun pemarah.
 

Kemudian, Richie Tozier (Bill Hader) berkarir sebagai stand-up comedian. Eddie Kaspberg (James Ranson) bekerja di sebuah perusahaan ansuransi.
 

Sementara, Ben Hanscom (Jay Ryan) telah menjadi sosok yang atletis, dan Stanley Uris (Andy Bean) merupakan sosok yang tak jauh berbeda sebagaimana ketika kecil.
 

Pertemuan kembali mereka di-inisiasi oleh Mike Hanlon (Isaiah Mustafa) yang menelepon enam sahabat masa kecilnya itu karena teror “It”, atau badut Pennywise (Bill Skarsgård), yang kembali datang setelah 27 tahun berlalu dan menghilangkan anak-anak lain.
 

Sekuel itu merupakan kelanjutan sekaligus akhir film “It (2017), ketika The Losers bersumpah untuk kembali ke Derry jika makhluk misterius badut Pennywise muncul lagi dan meneror kota kecil itu.

Baca juga: “It: Chapter 2” tanyang mulai hari ini
 

Cuplikan dari film “It: Chapter 2”. (Dok. Warner Bros)
Meskipun keraguan hadir pada diri ketujuh bocah yang telah dewasa itu, Bill dan kawan-kawan akhirnya sepakat untuk mengikuti ajakan “bermain” si badut dan bertekad menghentikan teror mengerikan tersebut, serta menguak misteri ‘It’.
 

Petualangan itu lalu mengantarkan mereka pada nostalgia masa kecil dan juga menghidupkan kembali kenangan serta adegan-adegan ikonis pada film pertamanya kepada penonton.
 

Kendati terdapat percikan memori masa kecil yang menyenangkan, perjalanan kelompok itu di kota Derry juga mengingatkan mereka dengan ketakutan dan trauma yang dimiliki masing-masing.
 

Dalam film itu, si badut juga mendorong anak-anak untuk “bermain” dalam permainan truth or dare yang mengharuskan mereka mengakui dan menghadapi ketakutan serta rahasia yang disembunyikan.
 

Beberapa isu yang juga diangkat dalam film garapan sutradara Andy Muschietti itu, seperti isu kesehatan mental hingga homofobia.
 

Film yang ditulis oleh Gary Dauberman yang juga merupakan penulis naskah untuk saga “The Conjuring” itu setidaknya punya balutan komedi yang menggelitik sehingga penonton seakan diantarkan untuk rehat sejenak dari atmosfer mencekam dan ngeri.

Baca juga: Film-“It” kisah persahabatan melawan teror badut
 

Cuplikan dari film “It: Chapter 2”. (Dok. Warner Bros)
Bagi para penggemar film lawas, beberapa referensi budaya pop pada era ketika kelompok itu masih kecil juga seakan memancing senyuman menyusul penempatan yang cerdas di tengah-tengah film horor itu, selain tentunya dialog-dialog khas anak-anak kota Derry.
 

Akting dari para pemain dan disusul teknologi efek visual (CGI) ikut menyempurnakan imajinasi penggemar novel berjudul sama karya Stephen King yang dirilis pada 1986 itu.
 

Sekuel “It” seakan menguak sedikit demi sedikit misteri badut Pennywise maupun para karakter yang terlibat di dalamnya. Walaupun berdurasi 176 menit, pertanyaan-pertanyaan dalam film sebelumnya pada dua tahun lalu akan terjawab dalam sekuel itu.
 

Jadi, apakah Anda sudah siapkan balon merah untuk bermain dengan Pennywise? Ia tak sabar bertemu dengan Anda mulai hari ini di bioskop Indonesia!

Baca juga: Unggulan MTV Movie & TV Awards 2018

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019