Kisah perjuangan dan pengkhianatan dalam “Perburuan”

Jakarta (ANTARA) – Hari ini ada dua karya sastra dari Pramoedya Ananta Toer yang dirilis dalam bentuk film, salah satunya adalah “Perburuan” hasil arahan sutradara Richard Oh.

“Perburuan” bercerita tentang Hardo (Adipati Dolken), seorang tentara PETA (Pembela Tanah Air) yang melakukan pemberontakan pada 14 Februari 1945. Namun, usahanya tidak berhasil karena adanya pengkhianatan dan menyebabkan beberapa temannya gugur.

Hardo pun menjadi orang yang paling diburu oleh tentara Jepang, dia kemudian mengasingkan diri dan bersembunyi di gua dan meninggalkan segalanya termasuk keluarga serta kekasihnya (Ningsih).

Setelah beberapa bulan pergi, Hardo pun kembali dan melihat banyak hal yang seperti ayahnya kehilangan jabatan dan ibunya meninggal. Namun, Indonesia belum juga merdeka dan Hardo masih menjadi orang yang diburu.

Dalam sebuah pengejaran selama satu hari dan malam menjelang proklamasi kemerdekaan, sebuah drama perjuangan terungkap.

Kemampuan Adipati dalam memerankan sosok Hardo tidak perlu diragukan lagi, dia terlihat begitu bekerja keras untuk dapat menyampaikan pesan dari tokoh yang dimainkannya. Terlebih saat dia menunjukkan ekspresi marah, sedih, frustasi dan kecewa, semua tergambar dengan baik diwajahnya.

Dalam film ini juga dipertontonkan ketika Adipati memperlihatkan kemampuannya dalam bermonolog dengan gagasan-gagasan Hardo, mungkin hal tersebut tidak akan dijumpai pada film-filmnya yang lain dan menjadi sebuah poin tambahan di “Perburuan”.

Ayushita sebagai Ningsih pun mampu mengimbangi lawan mainnya. Dia sukses memerankan sosok perempuan yang berani bersikap dan memiliki pendirian kuat untuk membantu anak-anak mendapatkan pendidikan sekaligus penuh welas asih.

“Perburuan” memang memiliki durasi yang lebih cepat dari “Bumi Manusia” yakni sekira 1 jam 38 menit, namun secara bobot cerita film ini terasa lebih “berat” sebab tutur bahasa yang digunakan “sangat sastra”.

Richard Oh pun pernah mengakui saat gala premier yang berlangsung di Surabaya pada 9 Agustus lalu bahwa dialog yang digunakan dalam “Perburuan” sama seperti yang tertulis dalam novel.

Dalam film ini, penonton diajak untuk ikut berpikir dan mendalami makna yang disampaikan oleh Hardo ataupun para pemain lainnya seperti Ernest Samudra yang berperan sebagai Dipo, Khiva Ishak sebagai Karmin dan Michael Kho sebagai Shidokan.

Yang disayangkan, kekuatan dari pemainnya seolah hanya diletakkan pada Adipati dan Ayushita saja. Sedangkan para pemeran pendukung terlihat hanya sebagai pelengkap kecuali untuk Egi Fedly (ayah Ningsih) dan Otig Pakis (ayah Hardo) yang tak perlu lagi diragukan kemampuannya dalam memainkan karakter yang keras.

Adegan yang paling menarik dalam film ini adalah saat Hardo dan sang ayah saling bercerita, namun keduanya memutuskan untuk tidak mengenal satu sama lain.

Terlepas dari semua itu, film ini mengajar penonton untuk memahami perjuangan para kaum muda dalam merebut kemerdekaan, pengkhiatan, putus asa dan keyakinan yang teguh sangat jelas tergambar dalam “Perburuan”.

Menyaksikan “Perburuan” juga cukup membangkitkan jiwa nasionalisme, setidaknya setelah melihat film tersebut, para penonton yang belum mengenal karya Pramoedya Ananta Toer akan mencari novelnya.

Baca juga: Tantangan terberat Adipati Dolken di film “Perburuan”

Baca juga: Ayu Laksmi: Generasi muda perlu ditularkan sejarah

Baca juga: Harapan Richard Oh untuk penonton film “Perburuan”

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019