Hanung Bramantyo: Film “Bumi Manusia” adalah bentuk pengabdian

Mencintai seseorang bukan karena fisik, tapi karena ada alasan melawan ketidakadilan. Ini berat dan membuat terbuka. Mencintai seseorang ada harga yang dibayar, seperti kerinduan, hingga perpisahan,

Jakarta (ANTARA) – Sutradara Hanung Bramantyo mengatakan bahwa membawa karya Pramoedya Ananta Toer “Bumi Manusia” ke dalam bentuk film, baginya merupakan sebuah bentuk pengabdian bagi tokoh sastra nasional tersebut.

“Film karya Pak Pramoedya itu bukan sebuah pekerjaan, tapi ini pengabdian kepada kemanusiaan, keadilan, dan cinta,” ujar sutradara itu dalam acara perilisan trailer “Bumi Manusia” di Epicentrum, Jakarta Selatan, Kamis.

Cinta, lanjut Hanung memiliki bentuk lain yang coba disampaikan Pramoedya sebagai penulis buku, dan juga Hanung sebagai orang yang mengadaptasinya ke layar perak, yaitu cinta kepada keabadian dan keadilan.

Baca juga: Cuplikan “Bumi Manusia” dan “Perburuan” dirilis serentak

“Mencintai seseorang bukan karena fisik, tapi karena ada alasan melawan ketidakadilan. Ini berat dan membuat terbuka. Mencintai seseorang ada harga yang dibayar, seperti kerinduan, hingga perpisahan,” jelas dia.

Sementara itu, film “Bumi Manusia” menceritakan tentang kehidupan Minke (Iqbaal Ramadhan) yang dekat dengan keluarga Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febrianti). Dia jatuh cinta pada anak perempuan keluarga itu yang bernama Annelies (Mawar Eva De Jongh) yang merupakan anak dari ayah berkebangsaan Belanda.

Film ini akan tayang serentak dengan film adaptasi novel karya Pramoedya Ananta Toer lainnya, “Perburuan” yang dirilis pada tanggal 15 Agustus 2019 di bioskop.

Baca juga: Demi jadi Minke, Iqbaal belajar makan sambil duduk di lantai

Baca juga: Hanung bicara soal Jokowi dan KH Ahmad Dahlan

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Hendra Agusta
COPYRIGHT © ANTARA 2019