“Dora and the Lost City of Gold”, petualangan seru si remaja berponi

Jakarta (ANTARA) – “Dora The Explorer” adalah serial animasi televisi yang ditujukan untuk anak-anak, termasuk penonton Indonesia yang menyaksikan aksinya bertualang pada periode 2000-an.

Dora digambarkan sebagai anak perempuan ceria. Penampilannya khas, rambut bob berponi, kaos merah muda dan celana pendek lengkap dengan ransel yang bisa bicara. Dia selalu ditemani Boots, kera yang memakai sepatu bot warna merah.

Apa jadinya bila Dora diadaptasi ke layar lebar dalam bentuk live action?

“Dora and the Lost City of Gold” menjawab pertanyaan itu.

Dora (Isabela Moner) kini sudah beranjak remaja, namun tetap berjiwa petualang. Sebagai anak satu-satunya dari orangtua yang senang menjelajahi tempat baru, Dora punya ruang bermain yang sangat luas: hutan.

Ketika remaja seumurnya sibuk berpesta dan bercengkrama bersama teman, Dora sedang berlarian di jalan setapak hutan, menghindari kejaran gajah, menyapa anak-anak buaya dan membaca tulisan kuno yang terpahat di batu.
  Dora and the Lost City of Gold (HO/ist)

Hidupnya yang bebas di hutan membuatnya tetap polos seperti anak kecil, bukan remaja puber yang kadang kala menyebalkan karena gejolak hormon.

Dora tetap seorang anak ceria dan berpikiran positif, apa pun yang terjadi.

Sikap optimisme itu dipertahankan ketika dia diminta kedua orangtuanya (Michael Peña dan Eva Longoria) untuk menjalani kehidupan normal di kota.

Dora dikirim ke rumah sepupunya, Diego (Jeff Wahlberg), yang dahulu merupakan sahabat karibnya.

Ketika bertemu Dora, petualangan masa kecil mereka kembali terulang, hanya saja kali ini lebih nyata, menegangkan dan berbahaya untuk menyelamatkan ayah dan ibu Dora yang menghilang serta menguak misteri di balik kota Emas yang hilang.
  Dora and the Lost City of Gold (HO/ist) Dora and the Lost City of Gold (HO/ist)

Film ini menimbulkan rasa nostalgia untuk penonton setia “Dora The Explorer” yang kini mungkin sudah beranjak remaja dan dewasa muda.

Dua karakter kartun yang identik dalam serial Dora juga hadir di sini, yaitu Boots si kera dan Swiper si rubah pencuri. Hewan-hewan ini dimunculkan dengan efek kartun, tidak senyata versi live action “Lion King”.

Cara Dora berbicara, termasuk ketika bertanya langsung menghadap kamera seperti yang selalu dia lakukan di setiap episode dalam serial animasi, menimbulkan gelak tawa penonton.

Pertama kali dia melakukannya, kedua orangtuanya terheran-heran karena Dora bicara pada sosok tak terlihat. Mereka berharap kebiasaan aneh itu akan hilang dengan sendirinya.

Dora versi animasi tak cuma menghibur, tapi juga memberi edukasi bagi penonton belia lewat lagu. Aspek ini juga diterjemahkan ke film menjadi adegan lucu tentang cara membuat toilet darurat di tengah hutan.

Humor menyelip di sana sini lewat dialog orangtua Dora yang khawatir saat melepas Dora ke “belantara kota” yang tak kalah berbahaya serta kenorakan Dora melihat hal-hal baru di kota yang tak pernah ia rasakan sejak lahir.

“Dora The Explorer” punya daya pikat untuk penonton dari semua umur, tidak terlalu rumit sehingga bisa dinikmati anak-anak, tapi tetap menyenangkan bagi penonton dewasa.

Baca juga: Disney pilih Halle Bailey jadi Ariel di live action “Little Mermaid”

Baca juga: Margot Robbie jadi pemeran utama film live action Barbie
​​​​​​​

Baca juga: Alasan pusar Jasmine tertutup dalam “Aladdin” live action

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019