Maizura hafalkan dialog kesurupan sebelum audisi film “Bebas”

Jakarta (ANTARA) – Aktris-penyanyi Maizura yang berasal dari Makassar dituntut fasih dan punya logat Sunda agar tampil meyakinkan sebagai gadis Sumedang dalam film “Bebas”, karya sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana.

Ada sebuah adegan di mana karakter Vina disangka kerasukan karena mencerocos dalam bahasa Sunda. Rupanya dialog kerasukan itu sudah ia hafal sebelum audisi (casting).

“Dari sebelum casting dikasih itu dulu, fokus hafalin sampai akhirnya tahu artinya,” ungkap Maizura di konferensi pers penayangan film “Bebas”, Jakarta, Rabu.

Maizura membutuhkan waktu tiga bulan untuk belajar bahasa Sunda yang awalnya sama sekali tidak ia pahami.

Logat Sunda yang kental berhasil ia kuasai berkat bantuan lawan-lawan main yang berperan sebagai keluarganya: Sarah Sechan, Irgi Fahrezi dan Bisma Karisma.

Film “Bebas” bercerita tentang persahabatan enam remaja di Jakarta pada 1995-1996.

Mereka terpisah selama 23 tahun dan akhirnya bertemu lagi karena sebuah alasan. Pertemuan itu tak hanya menuntaskan rindu, tapi membuat mereka mengingat diri mereka sebelum menghadapi masa dewasa.

Aktris yang memerankan tokoh Vina versi dewasa adalah Marsha Timothy. Maizura mengaku bangga bisa berakting jadi Marsha versi remaja.

“Pas ketemu pertama, (Marsha) memang cantik banget… Semoga pas gede aku jadi (kayak) Marsha,” gurau dia.

Film produksi Miles Films dan CJ Entertainment bersama Ideosource Entertainment dan BASE Entertainment ini akan tayang pada 3 Oktober 2019.

Baca juga: Susan Bachtiar belajar mengumpat dari Sheryl Sheinafia untuk “Bebas”

Baca juga: Konser nostalgia Pesta 90-an dihelat jelang penayangan “Bebas”

Baca juga: Mira Lesmana akui tak sulit adaptasi film “Sunny”

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Selena Gomez produseri serial dokumenter di Netflix

Jakarta (ANTARA) – Penyanyi pop dan aktris Selena Gomez dikonfirmasi turut memproduseri serial dokumenter (docuseries) berjudul “Living Undocumented” yang akan ditayangkan di layanan streaming Netflix.

Serial ini menceritakan tentang delapan keluarga tidak berdokumen kewarganegaraan Amerika Serikat  (AS) legal yang mengambil risiko untuk tinggal di AS dengan kemungkinan deportasi.

“Saya memilih untuk memproduksi seri ini, ‘Living Undocumented,’ karena selama beberapa tahun terakhir, kata imigran tampaknya menjadi kata yang negatif,” kata Gomez seperti dilansir dari Variety, Rabu.

Melalui serial ini, lanjut Gomez, ia ingin menunjukkan bagaimana perjalanan para imigran ini bertahan dalam pencarian mereka untuk mengejar American dream yang mereka dambakan.

“Harapan saya adalah bahwa seri ini dapat menjelaskan bagaimana rasanya hidup di negara ini sebagai imigran tidak berdokumen secara langsung, dari orang-orang pemberani yang telah memilih untuk berbagi cerita mereka.” papar mantan kekasih Justin Bieber itu.

Serial yang dijadwalkan akan tayang pada 2 Oktober ini disutradarai oleh Aaron Saidman dan Anna Chai. Eli Holzman dan Saidman akan memproduksi secara eksekutif melalui Media Industri’s Intelektual Property Corporation, bersama dengan Gomez, Chai, Mandy Teefey, dan Sean O’Grady.

“‘Living Undocumented’ dirancang untuk menerangi salah satu masalah terpenting di zaman kita. Tetapi alih-alih membahas masalah ini hanya dengan statistik dan debat kebijakan, kami ingin para penonton mendengar langsung dari para imigran sendiri, dengan kata-kata mereka sendiri, dengan semua kekuatan dan emosi yang dicerminkan oleh kisah-kisah ini,”tambah Saidman.

Baca juga: Selena Gomez merambah bisnis produk kecantikan

Baca juga: Hadir di Cannes, Selena Gomez keluhkan bahaya media sosial

Baca juga: Selena Gomez pilih “hot pilates” untuk pemulihan diri

Penerjemah: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Brad Pitt dikabarkan bintangi film garapan Guy Ritchie

Jakarta (ANTARA) – Brad Pitt dikabarkan akan bermain dalam film besutan sutradara Guy Ritchie, setelah keduanya pernah berkolaborasi untuk “Snatch” yang dirilis tahun 2000 silam.

Seorang sumber mengatakan nama Brad Pitt dijejalkan pada detik-detik terakhir di antara deretan aktor pemain film teranyar Ritchie “The Gentlemen” bersama dengan Hugh Grant dan Matthew McConaughey.

Pagesix melansir pada Rabu bahwa Ritchie terkesan dengan akting Pitt di film Quentin Tarantino “Once Upon a Time in … Hollywood” sehingga ia pun menambahkan dalam daftar pemain.

Baca juga: Brad Pitt tanya astronot, lebih bagus aktingnya atau George Clooney

Pihak Ritchie sudah mendekati Pitt namun sumber lain mengatakan film itu sudah selesai dibuat dan nama Pitt tak bisa masuk lagi.

Film “The Gentlemen” sudah mengalami perubahan beberapa kali, salah satunya pada bagian judul.

Dulu film itu diberi judul “Toff Guys” lalu berubah lagi menjadi “Bush”, kemudian aktris Kate Beckinsale keluar dan diganti oleh Michelle Dockery.

Baca juga: Film terbaru Brad Pitt, “Ad Astra” tuai pujian di Venice Film Festival
 

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Susan Bachtiar belajar mengumpat dari Sheryl Sheinafia untuk “Bebas”

Jakarta (ANTARA) –

Aktris Susan Bachtiar dan Sheryl Sheinafia memerankan tokoh yang sama di film “Bebas”, karya terbaru duo sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana. Mereka berperan jadi Kris di film yang diadaptasi dari film Korea Selatan “Sunny”, Susan jadi Kris dewasa, sedangkan Sheryl versi remaja.

Untuk mendalami karakter ketua geng Bebas, Susan dan Sheryl saling belajar satu sama lain sehingga versi remaja dan dewasa tetap konsisten meski diperankan aktris berbeda.

Tokoh Kris digambarkan sebagai perempuan tangguh yang jago bela diri taekwondo yang ternyata betul-betul ditekuni oleh Susan.

“Tadinya karate, tapi disesuaikan taekwondo karena yang jago ada di sini,” ujar Sheryl seraya menunjuk Susan dalam konferensi pers penayangan film “Bebas”, Jakarta, Rabu.

Dua bulan lamanya Sheryl mempelajari gerakan taekwondo tertentu yang dibutuhkan untuk adegan dalam film. “Sampai cedera lutut,” kenang penyanyi berusia 22 tahun tersebut.

Susan menambahkan taekwondo digelutinya bertahun-tahun lalu ketika duduk di bangku SMA. Untuk melancarkan lagi kemampuannya, ia diberikan latihan khusus sebelum syuting.

Ada satu hal yang dipelajari Susan dari Sheryl: mengumpat. Karakter Kris kerap mengucapkan “monyet”, baik sebagai umpatan maupun sebutan bernada canda ketika memanggil teman-temannya.

“Pas aku ngomong ‘monyet’ semua tertawa, jadi aku belajar cara Sheryl ngomong ‘Nyet’, biar senada.”

Ia mendapat beberapa pesan suara dari Sheryl berisi beberapa variasi caranya melontarkan kata tersebut. Susan mengenang, ketika pesan itu sampai dia tak bisa langsung mendengarkan dan berlatih mengumpat karena ia sedang bersama anaknya.

Film “Bebas” bercerita tentang persahabatan enam remaja di Jakarta pada 1995-1996. Mereka terpisah selama 23 tahun dan akhirnya bertemu lagi karena sebuah alasan. Pertemuan itu tak hanya menuntaskan rindu, tapi membuat mereka mengingat diri mereka sebelum menghadapi masa dewasa.

Karakter-karakter remaja dalam “Bebas” dihidupkan juga oleh Maizura, Agatha Pricilla, Lutesha, Zulfa Maharani, Baskara Mahendra. Sementara versi dewasanya dimainkan oleh Marsha Timothy, Indy Barends, Widi Mulia dan Baim Wong.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Konser nostalgia Pesta 90-an dihelat jelang penayangan “Bebas”

Jakarta (ANTARA) – Konser BEBAS Pesta 90an yang bakal memantik nostalgia akan digelar menjelang penayangan film “Bebas”, karya terbaru dari sutradara Riri Riza dan produser Mira Lesmana.

Konser akan berlangsung pada 27 September 2019 di LIVESPACE Lot 8 SCBD, Jakarta.

Konser ini terinspirasi film “Bebas” yang mengambil latar cerita pada dua masa, yaitu 2019 dan 1995-1996.

Lagu-lagu yang menjadi soundtrack film ini sebagian besar adalah lagu-lagu yang hits pada masa ’90-an, termasuk “Bebas” dari Iwa k yang jadi lagu tema.

Berbagai lagu dari era 90-an akan dibawakan dalam oleh musisi lintas generasi dan lintas warna musik, seperti Iwa K, Vina Panduwinata, Andra and the Backbone, NTRL, Project Pop, Eva Celia, Vidi Aldiano, dan juga pemain film “Bebas”, yaitu Sheryl Sheinafia dan Maizura.

“Era 90-an bukan hanya milik mereka yang tumbuh remaja dan dewasa pada masa itu, tapi bahkan menjadimilik mereka yang lahir setelahnya. Buat saya ini menarik sekali, di mana sebuah era dapat membawa rasa nostalgia dan semangat yang sama bagi lintas generasi,” kata Riri Riza di Jakarta, Rabu.

Konser ini juga bakal dihadiri para pemain filmnya, yakni Marsha Timothy, Susan Bachtiar, Widi Mulia, Agatha Pricilla, Zulfa Maharani, Baskara Mahendra, Lutesha, Giorgino Abraham juga Dea Panendra.

Baca juga: Berat badan Sheryl Sheinafia naik 6 kg setelah syuting “Bebas”

Baca juga: Syuting film “Bebas”, Indy Barends diprotes anak

Baca juga: “Bebas”, film dengan jumlah pemain terbanyak produksi Miles Films

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Kucumbu Tubuh Indahku” wakili Indonesia untuk Oscar 2020

Jakarta (ANTARA) – Film garapan sutradara Garin Nugroho, “Kucumbu Tubuh Indahku” (“Memories of My Body) resmi menjadi wakil Indonesia di ajang Academy Awards ke-92, memperebutkan piala Oscar untuk kategori International Feature Film.

Dikutip di Jakarta pada Rabu, Garin, dalam unggahannya di Instagram, memberikan ucapan terima kasih kepada Komite Seleksi Film Indonesia (KSFI) yang telah memilih filmnya untuk bersaing pada ajang perfilman internasional itu tahun depan.
 

Sebelumnya, pada Selasa (17/9), film “Kucumbu Tubuh Indahku” diumumkan oleh KSFI untuk mewakili Indonesia setelah menggeser dua kandidat kuat lainnya, “Ave Maryam” dan “27 Steps of May”. Menurut KSFI, film yang menceritakan tentang penari lengger itu memenuhi kriteria yang telah ditetapkan.

“Kucumbu Tubuh Indahku” yang tayang di Indonesia sejak 18 April lalu itu sudah mendapat beberapa penghargaan internasional, termasuk dari Italia, Prancis, Australia, dan Meksiko. Film itu juga sudah diputar di lebih dari 30 festival film di seluruh dunia.

Film yang tayang perdana di Festival Film Internasional Venesia ke-75 itu meraih penghargaan “Venice Independent Film Critic 2018”, kemudian Film Terbaik di Festival Des 3 Continents 2018, dan Asia Pasific Screen Awards 2018.

Academy Awards ke-92 sendiri akan digelar di Dolby Theatre Hollywood Los Angeles, 9 Februari 2020.

Nantinya, “Kucumbu Tubuh Indahku” akan bersaing dengan film-film hebat dari negara lain seperti “Parasite” (Korea Selatan), “Painted Bird” (Ceko) dan “Weathering with You” (Jepang) untuk menjadi nominasi kategori tersebut.

Baca juga: “Kucumbu Tubuh Indahku” sebuah film tentang mencintai diri

Baca juga: Produser yakin “Kucumbu Tubuh Indahku” tak mungkin diboikot

Baca juga: Cara Muhammad Khan hidupkan jiwa feminim
 

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Serial TV “Lord of the Rings” syuting di Selandia Baru

Jakarta (ANTARA) – Serial televisi “Lord of the Rings” yang akan tayang di Amazon memilih Selandia Baru sebagai tempat pengambilan gambar.

Serial yang diangkat dari novel fantasi J.R.R. Tolkien itu sudah memulai praproduksi di negara yang jadi tempat syuting versi layar lebarnya. Produksi di Auckland dikabarkan akan dimulai beberapa bulan mendatang.

Dikutip dari Hollywood Reporter, ini merupakan keuntungan bagi Selandia Baru. Bukan cuma mendapat bayaran kira-kira 250 juta dolar AS dari Amazon atas hak global properti, orang dalam memperkirakan total dana yang digelontorkan senilai 1 miliar dolar AS bila menghitung dana produksi, efek visual serta pemeran dan tim kreatif.

“Saat kami mencari lokasi untuk menghidupkan keindahan Second Age of Middle-earth, kami tahu kami harus mencari tempat yang luas dengan pantai tak terjamah, hutan dan gunung, juga rumah dari set, studio, pengrajin dan staf berpengalaman kelas dunia,” kata produser eksekutif J.D . Payne dan Patrick McKay dalam pernyataan.

“Kami senang bisa secara resmi mengumumkan Selandia Baru sebagai rumah dari serial yang diangkat dari kisah ‘The Lord of the Rings” J.R.R. Tolkien.”

Mereka juga mengucapkan terima kasih pada pemerintah Selandia Baru, khususnya Auckland, atas dukungannya selama fase praproduksi.

Dengan latar belakang Middle-earth, serial televisi dari kisah ikonik itu akan menjelajahi cerita baru sebelum “The Fellowship of the Ring”.

Versi film yang disutradarai Peter Jackson meraup pendapatan kotor hampir 6 miliar dolar AS secara global dan membawa pulang 17 Academy Award, termasuk film terbaik Oscar.

 Baca juga: Orlando Bloom merasa terlalu tua untuk serial televisi “LOTR”

Baca juga: Amazon produksi serial televisi
 

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Brad Pitt tanya astronot, lebih bagus aktingnya atau George Clooney

Jakarta (ANTARA) – Brad Pitt, bintang dari film luar angkasa baru “Ad Astra” punya pertanyaan penting untuk astronot: “Siapa yang aktingnya paling meyakinkan? George Clooney atau Brad Pitt?”

Dalam panggilan suara yang disiarkan di televisi, Senin, astronot NASA Nick Hague menjawab “tentu saja” Brad Pitt yang disambut dengan tawa.

Sahabat Brad Pitt, George Clooney, pernah membintangi film luar angkasa pada 2013 berjudul “Gravity”. Astronot Nick Hague dan kru dari Stasiun Luar Angkasa Internasional baru menonton “Ad Astra” beberapa pekan lalu, seperti dilansir Time.

Brad Pitt juga memberondong pertanyaan seputar hidup di luar angkasa, seperti siapa yang bertanggung jawab mengontrol jam box alias musik di stasiun luar angkasa.

“Kami punya daftar lagu yang diputar bergantian. Asyik juga karena ada sentuhan internasional,” kata Hague. “Mendengarkan musik tradisional dari Rusia saat makan malam adalah perubahan menyenangkan.”

Dilansir Reuters, Pitt berperan sebagai astronot Roy McBride yang berkelana ke luar angkasa untuk mencari ayahnya yang hilang, mengongrontasi misteri yang mengancam eksistensi manusia di bumi.

“Ad Astra” yang dalam bahasa Latin artinya “menuju bintang-bintang” dibuka di bioskop AS pada Jumat.

Baca juga: Film terbaru Brad Pitt, “Ad Astra” tuai pujian di Venice Film Festival

Baca juga: Ditanya soal Brad Pitt, ini jawaban Maddox Jolie-Pitt

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: AA Ariwibowo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dennis Adhiswara adaptasi novel “Journal Of Terror” jadi web series

Jakarta (ANTARA) – Aktor Dennis Adhiswara tengah sibuk dengan proyek barunya membuat serial web (web series) yang diadaptasi dari novel horor “Journal of Terror” karya Sweta Kartika.

Dennis yang dikenal lewat perannya di film “Ada Apa Dengan Cinta” itu bertindak sebagai produser eksekutif dalam proyek web series tersebut.

Dia lantas memberi bocoran tentang aktor yang akan menjadi pemeran utamanya.

“Ini lagi syuting yang main Dikta salah satu vokalis Yovie and The Nuno. Habis ini saya cek lokasi syuting,” katanya di Jakarta, Selasa.

“Kebetulan temen-temen produser, sutradara, kru yg lain, sudah cukup berpengalaman dan bekerja dengan saya sebelumnya,” ujarnya melanjutkan.

Namun, ia belum bisa mengungkap aktor lain yang akan terlibat dalam proyek tersebut.

“Pokoknya nanti ikutin terus aja di IG (Instagram) gue,” ujarnya.

Bagi Dennis, mengadaptasi cerita novel ke dalam bentuk web series punya tantangan tersendiri.

“Tantangan kita adalah harus menyamakan persepsi imajinasi penonton supaya bisa dianggap sama-sama bagus. Kita harus menyamakan selera penonton dan kita,” ujarnya.

Serial web itu bercerita tentang seorang laki-laki yang memiliki saudara kembar yang meninggal saat kanak-kanak. Ia lalu tersadar bahwa kembarannya itu selalu mengikutinya dan membuatnya bisa melihat dunia lain.

Dennis mengatakan rencananya serial itu mulai tayang pada Oktober mendatang.

Baca juga: Main di web series Ragnarok, Brandon Salim jadi ketagihan main game

Baca juga: Game Ragnarok diangkat jadi web series “Cinta Abadi”
 

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

3.000 tiket gratis film “Martabak Bangka” di Pangkalpinang

Pangkalpinang (ANTARA) – PT Timah Tbk membagikan 3.000 tiket gratis film “Martabak Bangka” yang tayang di Bioskop Bes Cinema Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sebagai apresiasi perusahaan terhadal film yang menceritakan keindahan wisata dan kearifan lokal masyarakat daerah itu.

“Tiket nobar film ‘Martabak Bangka’ ini dibagikan kepada masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, dan petugas kebersihan,” kata Kepala Bidang Komunikasi Perusahaan PT Timah Tbk, Anggi Siahan, di Pangkalpinang, Selasa.

Film yang bergenre drama besutan sutradara Eman Pradipta tersebut mengangkat kuliner Hok Lo Pan, atau yang di kenal luas masyarakat Indonesia dengan sebutan martabak, yang merupakan panganan khas Kepulauan Bangka Belitung sekaligus menjadi media akulturasi budaya antara etnis Melayu dan Tionghoa yang harmonis.

Film yang dibintangi Ramon Y Tungka dan Ario Astungkoro itu bukan hanya membahas soal kuliner khas Bangka Belitung, namun juga menunjukkan keindahan wisata Pulau Bangka, karena lokasi syuting di film layar lebar ini mengambil beberapa destinasi unggulan Babel.

Film berdurasi 115 menit itu mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda bernama Jaya yang sedang mengalami dilema saat menjual kedai Martabak Bangka Acun.

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman, mengajak masyarakat Babel untuk menyaksikan film yang disutradarai Eman Pradipta ini.

“Mari kita nonton film ini, film ini syutingnya di Bangka dan ini juga memperkenalkan potensi pariwisata Babel,” kata Erzaldi.

Film “Martabak Bangka” mulai  tayang 19 September 2019.

Baca juga: Pemkab Bangka Tengah apresiasi film “Oase di Gurun Timah”

Pewarta: Aprionis
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jennifer Lawrence dikabarkan menikah

Jakarta (ANTARA) – Jennifer Lawrence dikabarkan menikah dengan tunangannya Cooke Maroney setelah keduanya terlihat berada di biro pernikahan Kota New York pada Senin, bersama dua petugas keamanan, seorang fotografer dan seorang teman, seperti dilansir Pagesix, Selasa.

Pasangan aktris dan penjual barang seni itu tampak bergaya santai. Maroney hanya mengenakan sweater putih dan celana jins.

Sementara J Law, nama panggilan Jennifer Lawrence, mengenakan kaus cropped top warna putih dengan blazer dan bawahan rok merah muda. Aktris peraih Oscar itu tampak memegang selembar kertas.

Salah seorang sumber mengatakan pada Pagesix bahwa sang fotografer adalah Mark Seliger. Dia adalah fotografer selebritas yang terkenal memotret untuk sampul majalah Vanity Fair dan GQ.

Seliger juga memotret pesta studio Oscar untuk Vanity Fair. Sederet bintang mulai dari Lawrence, Mick Jagger, Gisele Bundchen, Bob Dylan, Bono, Iggy Pop hingga Miley Cyrus pernah terabadikan lensanya.

Baca juga: Jennifer Lawrence bertunangan dengan Cooke Maroney

Dalam satu gambar yang diperoleh The Post, Maroney tampak menutupi jari manis di tangan kirinya di luar gedung.

J Law dan Maroney bertunangan pada Februari. Dan, bintang film “Silver Linings Playbook” itu mengakui bahwa ia mengalami momen “bridezilla” yakni ungkapan untuk menyebut calon pengantin wanita yang stres karena akan menikah.

Pasangan itu dijadwalkan menggelar pesta pernikahan besar pada bulan depan dan J Law mengaku menangis setelah dia menyelenggarakan pesta lajang pada menit terakhir namun tidak ada teman yang bisa hadir.

Dia mengatakan di podcast “NAKED with Catt Sadler”: “Aku menangis. Aku sudah resmi bergabung dengan klub.”

Berbicara tentang pernikahan, J Law yang baru-baru ini kembali bekerja setelah cuti setahun, bersikeras bahwa dia tidak gugup. Ia mengatakan dirinya baik-baik saja dan tidak neurotik.

“Aku melihat gaun yang kusukai dan ‘itu gaunnya.’ Aku melihat sebuah venue, ‘keren!, kita dapat venue.'”

Baca juga: Peretas foto bugil Jennifer Lawrence dipenjara

Aktris yang berkencan dengan aktor Nicholas Hoult selama empat tahun itu juga mengatakan bahwa ia tidak pernah berpikir tentang pernikahan sebelum bertemu Maroney.

“Aku benar-benar tidak berada di tempat di mana aku siap untuk menikah.”

“Aku baru saja bertemu Cooke dan aku ingin menikah dengannya. Kami ingin saling menikah. Kami ingin berkomitmen penuh dan kau tahu, dia adalah teman terbaikku. Aku merasa sangat terhormat menjadi Maroney.”

Dia membenarkan bahwa dia akan memakai nama belakang Maroney. Namun, sang aktris akan tetap mempertahankan nama panggungnya sebagai Jennifer Lawrence.

J Law mulai berkencan dengan Maroney, direktur galeri seni Gladstone 64 di Upper East Side pada Juni 2018.

Orang tua Maroney, pedagang seni James Maroney dan Suki Fredericks, memiliki Oliver Hill Farm di Vermont – tempat pernikahan yang populer.

Sementara itu, perwakilan dari J Law dan Maroney tidak dapat dihubungi untuk mengonfirmasi kabar pernikahan tersebut, demikian Pagesix.

Baca juga: Jennifer Lawrence bantah pernah berhubungan seksual dengan Harvey Weinstein
 

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

3.000 tiket flim “Martabak Bangka” dibagikan gratis di Pangkalpinang

Pangkalpinang (ANTARA) – PT Timah Tbk membagikan 3.000 tiket film “Martabak Bangka” gratis yang tayang di Bioskop Bes Cinema Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, sebagai bentuk apresiasi perusahaan pemutaran flim yang menceritakan tentang keindahan wisata dan kearifan lokal masyarakat daerah itu.

“Tiket nobar Flim Martabak Bangka ini dibagikan kepada masyarakat umum, pelajar, mahasiswa, dan petugas kebersihan,” kata Kepala Bidang Komunikasi Perusahaan PT Timah Tbk, Anggi Siahan di Pangkalpinang, Selasa.

Film yang bergenre drama besutan sutradara Eman Pradipta tersebut mengangkat kuliner Hok Lo Pan atau yang di kenal luas masyarakat Indonesia dengan sebutan martabak yang merupakan penganan khas yang berasal dari Kepulauan Bangka Belitung dan menjadi media akulturasi budaya antara etnis Melayu dan Tionghoa yang harmonis.

Film yang dibintangi Ramon Y Tungka dan Ario Astungkoro itu bukan hanya membahas soal kuliner khas Bangka Belitung, namun juga menunjukkan keindahan wisata Pulau Bangka, karena lokasi syuting di film layar lebar ini mengambil beberapa tempat destinasi unggulan Babel.

Film berdurasi 115 menit itu mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda bernama Jaya yang sedang mengalami dilema saat menjual kedai Martabak Bangka Acun.

Gubernur Kepulauan Bangka Belitung, Erzaldi Rosman mengajak masyarakat Babel untuk menyaksikan film yang disutradarai Eman Pradipta ini.

“Mari kita nonton film ini, film ini syutingnya di Bangka dan ini juga memperkenalkan potensi pariwisata Babel,” kata Erzaldi.

Film “Martabak Bangka” tayang 19 September.

Baca juga: Pemkab Bangka Tengah apresiasi film “Oase di Gurun Timah”

Pewarta: Aprionis
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Pretty Boys”, pentingnya persahabatan dan keluarga

Jakarta (ANTARA) – Rahmat Maha Esa (Desta) dan Anugerah Santoso (Vincent Rompies) adalah dua orang sahabat yang dari kecil bermimpi masuk TV dan menjadi terkenal.

Meski demikian mereka memiliki motivasi berbeda, Rahmat ingin terkenal agar dikelilingi oleh perempuan cantik.

Sementara itu, Anugerah ingin masuk TV agar bisa disandingkan dengan pembawa acara idolanya seperti Koes Hendratmo, Nico Siahaan, Bob Tutupoli, Sonny Tulung dan lainnya.

Baca juga: Danilla pilih-pilih peran untuk film layar lebar

Akan tetapi, perjuangan mereka untuk menjadi terkenal tentu tidak mudah. Anugerah mendapat pertentangan dari sang ayah Jono (Roy Marten) yang menganggap dunia hiburan dengan hal-hal buruk.

Anugerah pun kabur daritanah kelahirannya untuk mengadu nasib di Jakarta bersama Rahmat. Namun, nasib berkata lain bahwa karir mereka hanya mentok menjadi pelayan dan koki restoran.

Untunglah, ada Asty (Danilla Riyadi) yang selalu menjadi pemberi semangat bagi keduanya dalam meraih impian untuk menjadi terkenal.

Hingga pada suatu hari, Rahmat dan Anugerah bertemu Roni (Onadio Leonardo), kordinator penonton bayaran dan Bayu (Imam Darto) yang membuka jalan untuk mewujudkan impian mereka.

Baca juga: “Pretty Boys” film terakhir Vincent sebagai aktor

Namun lagi-lagi saat sudah masuk TV pun, mereka masih harus menghadapi berbagai halangan dan rintangan yang tidak sesuai hati nurani mereka.

Akankah mimpi Rahmat dan Anugerah menaklukkan dunia pertelevisian membuahkan hasil?

Potongan cerita tersebut merupakan bagian dari film komedi berjudul “Pretty Boys” yang menjadi debut perdana Tompi sebagai sutradara film layar lebar.

“Pretty Boys” juga menjadi film serba pertama tak hanya bagi Tompi, namun juga bagi Desta yang juga baru pertama duduk di kursi produser dan pertama kalinya bisa beradu peran dengan Vincent dalam satu judul yang sama.

Baca juga: Tompi hampir tolak Onad dalam “Pretty Boys”

Film produksi The Pretty Boys Pictures dan Anami Films ini terinspirasi dari realita yang terjadi pada dunia pertelevisian Indonesia yang jarang diangkat kedalam layar lebar.

Imam Darto sebagai penulis skenario mencoba menangkap keresahan yangs ekama ini ia rasakan mengenai industri televisi sekarang ini yang rela melakukan apapun demi sebuah rating.

Ide mengangkat realita dalam industri pertelevisian itu diakui Darto datang begitu saja setelah menerima konsep cerita dari Vincent dan Desta.

“Vincent Desta datang ke saya minta tolong bikin cerita premisnya tentang dua sahabat yang mau coba sukses di Jakarta tapi harus berkorban harga diri mereka. Nah, kenapa enggak sekalian aja angkat cerita tentang televisi,” ujar Darto.

Skenario tersebut berhasil diterjemahkan oleh Tompi melalui adegan-adegan dalam film dengan sangat ringan dan mudah dipahami tanpa mengurangi pesan yang ingin disampaikan “Pretty Boys”.

Tompi dianggap oleh rekan-rekannya sangat detail dalam penggarapan film komedi ini. Terutama terkait masalah adegan dan dialog yang ditampilkan.

“Tantangannya buat saya karena ini isu sensitif. Jadi kita memilih memilih waktu selama syuting ada adegan yang kita ulang kayaknya jangan pakai kata-kata ini untuk menjaga perasaan orang lain,” kata Tompi.

Tompi juga mampu meramu komedi yang sanggup mengocok perut dengan lawakan khas duo Vincent-Desta, namun di sisi lain juga bisa membuat penonton terenyuh ketika melihat konflik yang dialami oleh dua karakter utama.

Kehadiran Danilla sebagai Asty juga menjadi penyejuk dalam panasnya konflik yang nantinya akan dialami oleh kedua sahabat tersebut. Pujian juga layak disematkan untuk Onadio Leonardo yang secara sempurna mampu memerankan karakter Roni dengan segala keunikannya.

Meskipun film ini menjadi debut perdana aktingnya di layar lebar, namun Onad tampak tidak kalah saat bersanding dengan nama-nama yang lebih berpengalaman di dunia seni peran.

Penggarapan musik pengiring untuk film ini juga tidak sembarangan dengan melibatkan berbagai musisi dalam jajarannya, seperti Ardhito Pramono, Endah N Rhesa, Mooner, White Shoes & The Couples Company, Nadin Amizah, Naif, Gugun & bues Shelter, Daramuda, Feel Koplo, hingga The Cash.

Bahkan Danilla Riyadi juga secara khusus menciptakan lagu “Kembali Pulih” yang bercerita tentang kekecewaan terhadap seseorang karena ia telah berbuat kesalahan untuk “Pretty Boys”.

“Pretty Boys” dibintangi juga oleh Tora Sudiro, Joe P-Project, Ferry Maryadi, Dwi Sasono, Natasha Rizki, Najwa Shihab, Rowiena Umboh, Aurelie Moeremans, Iyang Darmawan, hingga Glenn Fredly.

Film ini rencananya mulai tayang di bioskop seluruh Indonesia pada tanggal 19 September 2019.

Baca juga: Imam Darto tuangkan realita pertelevisian di skenario “Pretty Boys”

Baca juga: Jadi produser pertama kali, Desta: Gue suka tantangan

Baca juga: “Pretty Boys” film serba pertama bagi Vincent-Desta

Oleh Yogi Rachman
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Terlibat dua film, Asmara Abigail bolak-balik antarprovinsi

Jakarta (ANTARA) – Aktris Asmara Abigail sedang terlibat film lain saat menjalani proses pengambilan gambar film horor “Perempuan Tanah Jahanam” yang sebagian besar mengambil lokasi di Jawa Timur, padahal proyek lainnya berlokasi di Depok, Jawa Barat.

Alhasil ia harus membagi jadwal yang sudah diatur secara seksama agar bisa maksimal di kedua proyek, termasuk bolak-balik antarprovinsi untuk bekerja secara simultan di film berbeda.

“Bolak-balik karena filmnya barengan, flight pagi syuting (Perempuan Tanah Jahanam), tek tok sama produksi lain,” kata Asmara di Jakarta, Senin (16/9).

Baca juga: Bergaya dengan kemeja flanel ala Andien dan Asmara Abigail

“Dalam sehari, aku switch jadi dua karakter,” tutur dia, menambahkan dua karakter itu berbeda, memudahkan proses transisi.

Tapi Asmara tidak terlalu khawatir soal waktu istirahat yang terbatas. Rupanya dia mudah tidur di mana saja sehingga ia bisa tidur kala luang, seperti di pesawat.

“Aku bisa tidur di mana saja, termasuk di kursi bakso,” seloroh aktris yang piawai menari tango, flamenco dan pole dancing.

Aktivitasnya yang menuntut mobilitas tinggi membuat Asmara sering melewati perjalanan berdurasi lama di pesawat. Sisi baiknya, dia jadi lebih mudah beradaptasi meski harus berpindah tempat dalam waktu singkat.

“Sudah biasa badannya,” ujar aktris 27 tahun itu.

Keputusan mengambil dua film dalam waktu yang sama telah melewati pemikiran matang bersama manajemen dengan pertimbangan keduanya baik untuk perjalanan kariernya di dunia akting yang dimulai sejak “Setan Jawa” (2016) garapan Garin Nugroho.

Baca juga: Asmara Abigail main “Setan Jawa” berkat tari tiang

Sejak “Setan Jawa”, seniman yang baru empat tahun menyelami dunia seni peran ini sudah mendapat beberapa tawaran film horor, seperti “Pengabdi Setan” dan “Sekte”.

Apa komentar Asmara bila ada yang berpendapat genre horor cocok karena wajahnya yang menguarkan aura misterius?

“Senang saja kalau ada yang anggap begitu…Kalau dianggap mukaku horor, terima kasih pujiannya,” seloroh dia.

“Tapi mudah-mudahan bisa main karakter lain,” ujar Asmara, ingin memperkaya pengalaman.

Baca juga: Film bisu “Setan Jawa” akan tampil beda di tiap negara

Baca juga: Bergaya dengan kemeja flanel ala Andien dan Asmara Abigail

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Iron Man berpeluang muncul di film “Black Widow”

Jakarta (ANTARA) – Robert Downey Jr kemungkinan muncul kembali sebagai Iron Man dalam film “Black Widow” yang akan datang.

Meski kisahnya telah berakhir di “Avengers: Endgame”, prekuel yang akan datang adalah tentang asal-usul dan kisah bagaimana mata-mata Rusia Natasha Romanoff yang diperankan oleh Scarlett Johansson bisa menjadi pemain kunci di SHIELD. Jadi kemungkinan akan diceritakan beberapa kejadian sebelum kematian Tony Stark.

Menurut Deadline, Selasa, Downey Jr akan diperlihatkan sebagai Stark meski tidak mungkin melakukan adegan baru atau memiliki peran yang cukup besar dalam film tersebut.

Adegan apapun yang akan melibatkan Stark, kemungkinan besar berasal dari adegan yang terhapus dalam “Captain America: Civil War” di mana Iron Man menyuruh Romanoff untuk bersembunyi.

Para pemain yang terlibat dalam film ini masih belum terungkap. Namun dalam panel Comic-Con yang berlangsung belum lama mengungkapkan bahwa penjahat Taskmaster akan muncul dan Florence Pugh akan muncul sebagai saudara perempuan Romanoff, Yelena Belova dan Rachel Weisz akan memainkan pemimpin mata-mata.

“Black Widow” sendiri baru akan dirilis pada Mei 2020.

Sementara itu, awal bulan ini dilaporkan bahwa Iron Man akan kembali ke keluarga Marvel sekali lagi dalam acara televisi Disney+ yang baru.

Dalam sebuah laporan baru dari We Got This Covered, menunjukkan bahwa bos Marvel sedang mengembangkan seri yang didasarkan pada Ironheart, remaja jenius yang melanjutkan karya Tony Stark dalam buku komik Marvel.

Sementara Downey Jr tidak akan membuat pengembalian penuh, sumber mengklaim bahwa dia akan mengulangi peran untuk mengisi suara yang mirip dengan JARVIS.

Karaker Ironheart alias Riri Williams diperkenalkan saat Stark dalam keadaan koma. Dia dilatih oleh AI yang disuarakan oleh Stark sendiri.

Baca juga: Adegan post-credit “Iron Man” singgung soal X-Men dan Spider-Man

Baca juga: Pemakaman Tony Stark, adegan termahal “Avengers: Endgame”

Baca juga: “Iron Man 3” dituduh jiplak komik lain, Marvel digugat  

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rihanna jadi Poison Ivy di “Batman”?

Jakarta (ANTARA) – Rihanna memberikan komentar tentang spekulasi bahwa dia akan berperan sebagai Poison Ivy dalam film “Batman”.

Sebelumnya, pelantun “Umbrella” ini menyulut desas-desus bahwa dia bisa berperan dalam film Matt Reeves mendatang.

“Bat-mobile, tapi ini lebih fesyen,” tulis Rihanna pada keterangan video saat dirinya mengenakan sepatu boots kulit tinggi yang diunggah di Instagram.

Akibat unggahan Rihanna, spekulasi pun terus berkembang dan dia pun memberikan komentar mengenai masalah ini.

“Tidak, itu tidak ada hubungannya dengan Poison Ivy,” ungkap Rihanna dalam sebuah wawancara dengan Entertainment Tonight, dilansir NME, Selasa.

“Unggahan itu mungkin banyak berhubungan dengan Batman tapi saya punya obsesi terpisah. Saya memang memiliki obsesi yang lebih besar terhadap Poison Ivy. Saya hanya berkata jujur. Dan ya, saya mengecat rambut berwarna mereka karena melihat Uma Thurman (pemeran Poison Ivy) dalam film,” jelas Rihanna melanjutkan.

Baca juga: Sutradara pastikan “Joker” terpisah dari DC Universe

Baca juga: Christian Bale sebut Robert Pattinson pilihan bagus untuk “Batman”

Baca juga: Kristen Stewart dukung Robert Pattinson perankan Batman

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tara Basro ogah sendirian di lokasi syuting “Perempuan Tanah Jahanam”

Jakarta (ANTARA) – Lokasi pengambilan gambar film horor “Perempuan Tanah Jahanam” karya Joko Anwar bertempat di daerah yang selama ini terisolasi dan sulit diakses.

“Banyak set yang belum pernah dipakai sama sekali sehingga kru harus membuka jalan untuk sampai ke sana,” tutur aktris Tara Basro, pemeran Maya, di konferensi pers peluncuran poster dan trailer “Perempuan Tanah Jahanam”, Jakarta, Senin (16//9).

Pengambilan gambar berlangsung di desa-desa sekitar Malang, Gempol, Lumbang, Bromo, Lumajang, Ijen, dan Banyuwangi.

Meski apa yang digambarkan dalam trailer memperlihatkan tempat yang mencekam, Tara bisa melawan rasa takut di lokasi syuting karena ia tidak sendirian.

“Minta temenin orang, untung selalu ramai-ramai di set. Kalau sendiri… malas!” kata aktris 29 tahun itu.

Terlibat dalam film yang tayang 17 Oktober 2019 ini membuatnya harus menjaga stamina dan berolahraga karena banyak adegan-adegan yang menguras tenaga.

Dengan stamina maksimal, ia juga bisa bekerja secara optimal saat harus terjaga meski malam larut.

“Makin sehat, makin kuat, karena banyak begadang.”

Ini bukan proyek pertamanya bersama Joko Anwar, Tara terlibat dalam film “A Copy of My Mind”, film horor “Pengabdi Setan” yang meraih banyak penghargaan juga “Gundala” yang diangkat dari karakter komik buatan mendiang Hasmi.

Bekerjasama beberapa kali dengan Joko Anwar tak pernah membosankan, ujar Tara.

“Bang Joko selalu punya ide baru yang diceritakan. Enggak pernah sama dan boring, menantang buat pemain,” ungkap dia.

“Perempuan Tanah Jahanam” mengisahkan Maya (Tara Basro), gadis yang mengalami nasib buruk. Setelah mendapat serangan mendadak, Maya dapat informasi ada kemungkinan ia mendapat harta warisan di desa leluhurnya. Bersama temannya, Dini (Marissa Anita), Maya kembali ke kampung halaman.

Namun ia tidak menyadari masyarakat sudah berusaha mencari dan menghabisinya karena sebuah alasan.

Baca juga: Film favorit karya Joko Anwar versi Tara Basro

Baca juga: Antusiasme Tara Basro dan Marissa Anita berakting “Gundala”

Baca juga: Tara Basro pikir panjang sebelum main di “Pengabdi Setan” (Video)

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gaya film “Perempuan Tanah Jahanam” akan beda dari “Pengabdi Setan”

Jakarta (ANTARA) – Hanya dua tahun berselang antara penayangan film horor “Pengabdi Setan” (2017) dan Perempuan Tanah Jahanam” yang hadir pada pertengahan Oktober, tapi sutradara Joko Anwar menjanjikan penonton akan mendapat suguhan yang sama sekali berbeda.

“Film ini berbeda dari style dan feel ‘Pengabdi Setan’,” ujar Joko di konferensi pers peluncuran trailer “Perempuan Tanah Jahanam”, Jakarta, Senin.

Dia sudah memperlihatkan hasilnya pada sebagian orang yang melontarkan komentar serupa.

Apakah film yang ceritanya sudah ia garap selama 10 tahun itu bakal melampaui standard “Pengabdi Setan” yang membawa pulang banyak penghargaan?

Joko menyerahkan penilaian itu pada penonton. Satu hal yang ia tegaskan, setiap pembuatan karya baru selalu diiringi niat dan usaha agar hasilnya lebih baik dari sebelumnya.

“Maunya selalu meningkat, dari segi teknis dan estetika harus lebih baik,” kata dia.

“Perempuan Tanah Jahanam” bercerita tentang keluarga, sebuah karya hasil renungan Joko mengenai fungsi anggota keluarga.

“Perempuan Tanah Jahanam” mengisahkan Maya (Tara Basro), gadis yang mengalami nasib buruk. Setelah mendapat serangan mendadak, Maya dapat informasi ada kemungkinan ia mendapat harta warisan di desa leluhurnya. Bersama temannya, Dini (Marissa Anita), Maya kembali ke kampung halaman.

Namun ia tidak menyadari masyarakat sudah berusaha mencari dan menghabisinya karena sebuah alasan.

Pengambilan gambar berlangsung di desa-desa sekitar Malang, Gempol, Lumbang, Bromo, Lumajang, Ijen, dan Banyuwangi.

Baca juga: Film favorit karya Joko Anwar versi Tara Basro

Baca juga: Lukanya batin Gundala dan rating Joko Anwar

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Danilla pilih-pilih peran untuk film layar lebar

Jakarta (ANTARA) – Danilla Riyadi yang telah melebarkan sayap di dunia seni peran mengatakan tidak ingin sembarangan mengambil tawaran bermain dalam film layar lebar.

Dia memiliki beberapa pertimbangan tersendiri sebelum memutuskan menerima tawaran berakting dalam sebuah judul film.

“Aku harus melihat dari jalan cerita, harus oke, juga siapa orang yang kerja kreatif sama aku. Kalau orang orang sudah sering kerja itu rasanya kayak kita ngerjain tugas kampus gitu rasanya,” kata Danilla saat berbincang usai pemutaran perdana film “Pretty Boys” di Jakarta, Senin.

Pertimbangan itu pula yang membuat Danilla mau menerima tawaran berperan sebagai Asty di film “Pretty Boys” arahan sutradara Tompi.

Danilla mengaku belajar banyak hal dari keterlibatannya di film bergenre komedi tersebut. Terutama dalam membangun karakter yang diperankan.

“Bagaimana aku harus bikin karakter ini nyaman di aku. Dan Mas Tompi sama sekali enggak ngasih beban ke kita. Dia cuma ngasih imajinasi seperti ini sisanya kita yang ngembangin,” ujar dia.

Film “Pretty Boys” dibintangi juga oleh Desta, Vincent, Onadio Leonardo, Imam Darto, Roy Marten, Tora Sudiro, Joe P-Project, Ferry Maryadi, hingga Dwi Sasono.

Film ini tayang mulai tanggal 19 September 2019 di seluruh bioskop Indonesia.

Baca juga: Cerita Danilla soal musik pengiring “Pretty Boys”

Baca juga: Danilla akui canggung main dalam film pertama

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film favorit karya Joko Anwar versi Tara Basro

Saya sudah tercengang karena ceritanya menarik

Jakarta (ANTARA) – Aktris Tara Basro sudah berkali-kali bekerjasama dengan sutradara Joko Anwar, dan  dari semua itu “Perempuan Tanah Jahanam” adalah karya yang paling dia sukai. Judul itu adalah film terbaru Joko yang bakal tayang pada Oktober mendatang.

Sebelumnya, Tara pernah membintangi film garapan Joko berjudul “Pengabdi Setan” dan “A Copy of My Mind”.

“Ini proyek yang sudah digodok Joko 10 tahun, berasa banget saat lagi baca skrip dan syuting, ini mungkin karyamu yang paling kusuka,” ujar Tara dalam konferensi pers peluncuran trailer “Perempuan Tanah Jahanam” di Jakarta, Senin.

Baca juga: Joko Anwar berharap “Gundala” jadi pembuka genre film jagoan lokal

Dia mengaku langsung jatuh cinta dengan skenario yang dibacanya meski baru melahap lembar-lembar awal.

“Saya sudah tercengang karena ceritanya menarik,” katanya.

Joko mengatakan film ini bercerita tentang keluarga, buah pikiran hasil kontemplasinya mengenai fungsi anggota keluarga. Naskahnya ia tulis ketika sedang punya banyak pikiran tentang keluarga.

Baca juga: “Pengabdi Setan” raih penghargaan Film Horor Terbaik di Toronto

Dalam “Perempuan Tanah Jahanam”, Tara bermain sebagai Maya, gadis yang mengalami nasib buruk. Setelah mendapat serangan mendadak, Maya dapat informasi ada kemungkinan ia mendapat harta warisan di desa leluhurnya. Bersama temannya, Dini (Marissa Anita), Maya kembali ke kampung halaman.

Namun ia tidak menyadari masyarakat sudah berusaha mencari dan menghabisinya karena sebuah alasan. Ketika masa lalunya terungkap, Maya menemukan dirinya dalam pertarungan untuk menyelamatkan hidupnya.

“Perempuan Tanah Jahanam” juga dibintangi Asmara Abigail, Christine Hakim, Ario Bayu, Kiki Narendra, Tengku Rifnu, Zidni Hakim, Faradina Mufti, Abdurahman Arif, Mian Tiara, Eka Nusa Pertiwi, Aghniny Haque, Arswendy Bening Swara, Ramadhan Al Rasyid, dan Ical Tanjung.

Jajaran pemain juga diisi beberapa aktor yang baru pertama kali berakting dalam sebuah film. Pencarian pemain dilakukan di lokasi-lokasi syuting, termasuk di desa-desa sekitar Malang, Gempol, Lumbang, Bromo, Lumajang, Ijen, dan Banyuwangi.

Film “Perempuan Tanah Jahanam” tayang 17 Oktober 2019.

Baca juga: Poster film horor “Perempuan Tanah Jahanam” dirilis

Baca juga: Antusiasme Tara Basro dan Marissa Anita berakting “Gundala”

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Bintang “Beverly Hills, 90210” Brian Turk meninggal dunia

Jakarta (ANTARA) – Bintang “Beverly Hills, 90210” Brian Turk meninggal dunia pada usia 49 tahun setelah berjuang melawan kanker, Pagesix melaporkan, Senin.

Turk meninggalkan seorang istri dan putra yang masih berusia delapan tahun.

Sebuah penggalangan dana online di GoFundMe yang bernama “Dukung Keluarga Brian Tuk” yang dibuka sejak Juli menjelaskan Turk kena kanker setahun lalu namun tetap merahasiakannya dari sahabat dan keluarga.

“Sayangnya kankernya kini jadi mematikan,
Brian telah memengaruhi banyak dari kita dengan cara yang positif apakah itu di lapangan sepak bola, di Mater Dei atau USC, di atas panggung atau dalam kehidupan pribadi kita. Dia selalu ada untuk kita di saat kita membutuhkan dan merayakan.”

Selain “Beverly Hills, 90210”, Turk membintangi sejumlah serial televisi seperti “Carnivale,” “ER,” dan “Boy Meets World.”

Selain itu, dia juga membintangi sederet film seperti “American Pie 2,” “Crocodile Dundee in Los Angeles,” dan “The Lost World: Jurassic Park.”

Baca juga: Mayat aktor Charles Levin ditemukan di daerah terpencil Oregon

Baca juga: Richard Erdman, aktor “Community” dan “Twilight Zone” tutup usia

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Painted Bird” wakili Ceko di ajang Oscar

Jakarta (ANTARA) – Film “Painted Bird” garapan sutradara Vaclav Marhoul akan mewakili Republik Ceko di ajang Academy Awards ke-92 untuk kategori film fitur internasional terbaik.

Film adaptasi dari novel Jerzy Kosinski itu telah mendorong para penonton keluar dari bioskop selama pemutarannya di Festival Film Venesia dan di Toronto.

Film yang kontroversial itu bercerita tentang bocah lelaki Yahudi yang berkeliaran sendirian di Polandia yang diduduki Nazi, tempat ia menyaksikan kekejaman mengerikan.

Baca juga: Penonton ramai-ramai tinggalkan film “The Painted Bird” di Toronto

Di Festival Film Internasional Toronto, sekitar 40 penonton meninggalkan teater Bell Lightbox 1 saat film masih berlangsung.

Pengarah program festival film Toronto, Dorota Lech telah memperingatkan penonton bahwa film itu akan “terjun ke sudut-sudut paling gelap jiwa manusia” dan mendesak mereka untuk tetap tinggal sampai akhir.

“Kadang-kadang sangat sulit untuk menonton kekejaman di layar, tetapi sangat penting untuk menjadi saksi,” katanya, seperti dilansir Hollywood Reporter, Senin.

Marhoul cukup lama mengerjakan film adaptasi dari novel Kosinski, yang menimbulkan kontroversi ketika pertama kali diterbitkan pada 1960-an.

Setelah penulisan ulang puluhan kali dan beberapa awal yang salah, Marhoul mengumpulkan para pemain di antaranya Harvey Keitel, Stellan Skarsgard, Julian Sands, dan Udo Kier.

The Hollywood Reporter Venesia menjuluki film berdurasi 169 menit sebagai “pukulan emosional selama tiga jam.”

Ceko telah mengirimkan film ke ajang Oscar sejak 1960-an sebagai Cekoslowakia dan sejak 1994 sebagai Republik Ceko.

Meskipun tanpa nominasi dalam 15 tahun terakhir, film Ceko terakhir yang memenangi Oscar adalah “Kolya” garapan Jan Sverak pada 1996. Pada 1960-an ada dua kemenangan yang berhasil diraih lewat film “The Shop on Main Street” dan “Closely Watched Trains”.

Baca juga: “Jojo Rabbit” menang di festival film Toronto, berpeluang masuk Oscar

Baca juga: “Weathering with You”, kisah mengusir hujan yang masuk Oscar 2020

Penerjemah: Heppy Ratna Sari
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Imam Darto tuangkan realita pertelevisian di skenario “Pretty Boys”

Jakarta (ANTARA) – Imam Darto yang ikut terlibat dalam “Pretty Boys” sebagai penulis skenario mengaku menuangkan realita yang terjadi di dunia pertelevisian Indonesia di film tersebut.

“Saya coba menangkap keresahan di balik layar bahwa memang ekosistemnya seperti itu,” kata Imam Darto saat ditemui usai pemutaran perdana film “Pretty Boys” di Jakarta, Senin.

Ide mengangkat realita dalam industri pertelevisian itu diakui Darto datang begitu saja setelah menerima konsep cerita dari Vincent dan Desta.

Baca juga: Jadi produser pertama kali, Desta: Gue suka tantangan

“Vincent Desta datang ke saya minta tolong bikin cerita premisnya tentang dua sahabat yang mau coba sukses di Jakarta tapi harus berkorban harga diri mereka. Nah, kenapa enggak sekalian aja angkat cerita tentang televisi,” ujar Darto.

Dalam proses penulisan skenario, Darto mengatakan tidak menemukan kendala berarti karena sudah melakukan riset terkait ide cerita yang ingin diangkat.

“Enggak ada kesulitan karena kita risetnya sudah cukup banyak ya, dari pengalaman kita sendiri,” ujarnya.

Film “Pretty Boys” disutradarai Tompi dan dibintangi oleh Desta, Vincent, Onadio Leonardo, Danilla Riyadi, Imam Darto, Roy Marten, Tora Sudiro, Joe P-Project, Ferry Maryadi, hingga Dwi Sasono.

Film “Pretty Boys” rencananya akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 19 September 2019.

Baca juga: Desta tolak film-film yang ingin memasangkannya dengan Vincent

Baca juga: “Pretty Boys” film terakhir Vincent sebagai aktor

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film pendek “Battle at Big Rock” jadi petunjuk sekuel “Jurassic World”

Jakarta (ANTARA) – Penayangan perdana film pendek terbaru “Jurassic World” yang berjudul “Battle at Big Rock” memberikan pandangan pertama bagi penggemar tentang masa depan franchise tersebut dalam seri film ketiganya.

Dilansir dari Comicbook pada Senin, sutradara Colin Trevorrow jelas memiliki rencana besar tentang bagaimana dunia akan terpengaruh setelah “Jurassic World: Fallen Kingdom” yang dirilis pada 2018.

Trevorrow juga mengatakan film pendek dari seri “Jurrasic World” itu adalah film yang selalu ingin dia buat. Upaya pertamanya untuk menciptakan hype pun berhasil di kalangan penggemar film dinosaurus itu.

“Walaupun hanya berdurasi delapan menit, #BattleAtBigRock adalah film pendek yang intens. Jika ini hanyalah pembuka dari film berikutnya, saya terkesan dan lebih bersemangat untuk Jurassic World 3!” demikian unggahan salah satu penggemar, Blake Gordon, kepada Trevorrow dalam Twitter.

Baca juga: “Star Wars: Force Awakens” kalahkan “Jurrasic World”

“Jurassic World: Battle at Big Rock” yang dapat disaksikan melalui akun Twitter @JurassicWorld menceritakan tentang adanya penampakan dinosaurus, serta laporan kelahiran dinosaurus pertama di Amerika Serikat.

Film pendek itu akan mengenalkan beberapa jenis dinosaurus baru dan mematikan. Terdapat beberapa kekacauan yang disebabkan oleh para dinosaurus dan manusia mulai mencari sumber masalah tersebut.

Dalam credit scene, film pendek berdurasi delapan menit 39 detik itu menunjukkan bagaimana dinosaurus berdampak pada kelangsungan di dunia secara luas.

Seri film ketiga “Jurassic World” akan kembali dibintangi oleh dua pemain utamanya yakni Chris Pratt dan Bryce Dallas. Film itu dijadwalkan akan dirilis di bioskop di seluruh dunia pada 2021.

Baca juga: Colin Trevorrow sutradarai “Jurrasic Park 4”

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Onad ingin ikuti jejak Jared Leto sukses di film

Jakarta (ANTARA) – Onadio Leonardo atau yang akrab disapa Onad mengaku ingin mengikuti Jared Leto yang sangat sukses baik sebagai anak band maupun sebagai aktor.

Onad yang telah memulai debut akting di film “Pretty Boys” itu mengungkapkan tidak akan meninggalkan dunia musik yang telah lama digelutinya.

“Enggak lah. Kayak Jared Leto aja. Musik iya, ini (film) iya,” kata Onad saat ditemui usai pemutaran perdana film “Pretty Boys” di Jakarta, Senin.

Baca juga: Desta sanjung debut Tompi sebagai sutradara

Onad yang dalam film tersebut berperan sebagai Roni mengatakan ketagihan untuk bisa kembali berperan dalam film layar lebar.

“Dengan adanya ini mungkin ke depannya gue mesti main film lagi. Nagih,” ujar dia.

Meski demikian, Onad tidak menampik bahwa ia menemui banyak kesulitan dalam debut aktingnya. Untuk itu, dia pun hanya bisa menyiapkan mental yang kuat agar dapat memerankan karakter Roni dengan baik.

Apalagi dalam film ini, Onad juga harus beradu akting dengan sejumlah aktor yang jauh lebih berpengalaman di dunia seni peran dibandingkan dengannya.

“Gue takut banget sih. Begitu kita ketemu ada Roy Marten, ada Tompi. Terus gue, yakin nih gue. Cuma entah kenapa Desta dan Vincent tuh amat sangat membantu karir gue sih,” ujarnya.

Baca juga: Tompi hampir tolak Onad dalam “Pretty Boys”

Baca juga: “Pretty Boys” film terakhir Vincent sebagai aktor

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Desta tolak film-film yang ingin memasangkannya dengan Vincent

Jakarta (ANTARA) – Selebritas Deddy Mahendra Desta atau akrab disapa Desta mengaku telah menolak berbagai tawaran dari sejumlah produser yang ingin memasangkannya dengan Vincent Rompies dalam film.

“Ada beberapa cerita yang kerasa, ah enggak ah. Kami kan memang orangnya gitu kan. Kami dasarnya memang anak tongkrongan banget. Jadi ya, apa yang sesuai sama kami ya kami ambil,” kata Desta saat ditemui usai pemutaran perdana film “Pretty Boys” di Jakarta, Senin.

Baik Desta dan Vincent merasa cerita dalam film-film yang ditawarkan kepadanya tidak cocok sehingga tawaran tersebut terpaksa ditolak.

Alasan itulah yang kemudian mendorong Desta dan Vincent membentuk rumah produksi film sendiri, The Pretty Boys Pictures.

Baca juga: Desta sanjung debut Tompi sebagai sutradara

Film “Pretty Boys” yang disutradarai oleh Tompi menjadi produksi pertama yang dihasilkan oleh rumah produksi yang dibentuk dua sahabat tersebut.

“Karena ada beberapa cerita yang kami mainnya enggak pas, bukan kami itu mah. Makanya, akhirnya kami benar-benar buat sendiri PH (rumah produksi) itu karena awalnya itu,” ujar Desta.

Film “Pretty Boys” dibintangi oleh Desta, Vincent, Onadio Leonardo, Danilla Riyadi, Imam Darto, Roy Marten, Tora Sudiro, Joe P-Project, Ferry Maryadi, hingga Dwi Sasono.

Film “Pretty Boys” akan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 19 September 2019.

Baca juga: Jadi produser pertama kali, Desta: Gue suka tantangan

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Pretty Boys” film terakhir Vincent sebagai aktor

Jakarta (ANTARA) – Selebritas Vincent Rompies mengungkapkan “Pretty Boys” kemungkinan menjadi film terakhirnya sebagai aktor.

Vincent, saat ditemui usai pemutaran perdana film “Pretty Boys” di Jakarta, Senin, mengatakan dunia seni peran sudah tidak lagi cocok dengannya. Selain itu, dia mengaku ingin kembali fokus bermusik seperti sebelumnya.

So far sih, kayak-nya saya ya udahlah. Enggak, saya ingin kembali bermusik,” kata mantan personel grup musik Clubeighties itu.

Pemeran tokoh Anugerah dalam film arahan sutradara Tompi itu juga merasa kemampuannya sebagai aktor masih kalah jauh dibandingkan aktor-aktor lain.

Baca juga: Desta buka suara soal reuni Clubeighties

“Lebih ke kemampuan sih. Saya lihat masih banyak aktor-aktor lain. Saya bukan aktor soalnya,” ujarnya.

Meski demikian, Vincent mengatakan akan tetap berada dalam industri film. Hanya saja, pria berusia 39 tahun itu bukan sebagai aktor melainkan bekerja dari belakang layar.

Terkait keputusan untuk kembali fokus bermusik, Vincent mengungkapkan bahwa itu adalah dunianya. Dia juga mengaku tengah menyiapkan sebuah proyek besar dalam industri musik Tanah Air.

“Ya itu rumah saya, saya nyaman berkarya lewat situ. Ya selama ini juga masih bermusik. Ada plan besar, beberapa project band seperti apa,” ujarnya.

Baca juga: “Pretty Boys” film serba pertama bagi Vincent-Desta

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Peluncuran film Pretty Boys

Sutradara film Pretty Boys Tompi (kiri) bersama pemeran Deddy Mahendra Desta (tengah) dan Vincent Ryan Rompies, dalam jumpa pers peluncuran film tersebut, di Epicentrum, Jakarta, Senin (16/9/2019). Film Pretty Boys yang akan tayang serentak di bioskop pada 19 September 2019 tersebut bercerita tentang keprihatinan terhadap tayangan-tayangan televisi yang mulai bergeser jauh dari pakemnya. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/foc.

Tompi hampir tolak Onad dalam “Pretty Boys”

Jakarta (ANTARA) – Sutradara film “Pretty Boys”, Teuku Adifitrian atau akrab disapa Tompi, mengungkapkan Onadio Leonardo (Onad) hampir gagal berperan sebagai Roni dalam film arahannya itu karena dianggap tidak mampu memerankan karakter tersebut.

“Jadi memang ketika Desta ajukan nama Onad, saya bilang memang enggak ada yang lain? Gua melihat Onad band metal. Jadi bertolak belakang,” kata Tompi saat berbincang usai pemutaran perdana film “Pretty Boys” di Jakarta, Senin.

Tompi pun mengajukan syarat bahwa Onad harus mengikuti proses pra-produksi (casting) terlebih dahulu untuk melihat kemampuannya dalam memerankan karakter Roni yang disebut Tompi tidak mudah.

Baca juga: Desta sanjung debut Tompi sebagai sutradara

“Hasil casting dikasih lihat, gue bilang tuh kan jangan dia. Tapi, Desta maksa. Akhirnya, ketemu coaching sih Onad. Karena peran waria enggak gampang,” ujarnya.

Bahkan, Tompi sempat bersikap tegas kepada Desta yang juga bertindak sebagai produser untuk mencari pemain lain.

“Sampai gue bilang sama Desta, kalau lu enggak mau ganti (Onad) ya udah ganti director aja,” kata Tompi.

Baca juga: Jadi produser pertama kali, Desta: Gue suka tantangan

Namun seiring waktu, Tompi melihat keseriusan Onad untuk mendalami peran tersebut dan tidak tampak main-main. Tompi pun menilai Onad sukses memerankan karakter waria dengan sangat baik.

“Onad WA belom siap, tapi ada lanjutannya. Dia minta boleh enggak ada tambahan waktu buat belajar. Dari situ, gue ngomong ke Desta kayak-nya dia orang tepat. Menurut gue, yang penting orang yang tahu batasan dan mau belajar,” katanya.

Baca juga: “Pretty Boys” film serba pertama bagi Vincent-Desta

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Michael Fassbender akan bintangi film terbaru Taika Waititi?

Jakarta (ANTARA) – Aktor Michael Fassbender dikabarkan sedang dalam tahap negosiasi untuk membintangi “Next Goal Wins”, proyek film terbaru yang akan digarap oleh sutradara Taika Waititi, dilansir Entertainment Weekly, Senin.

Fassbender dikabarkan akan berperan sebagai pelatih berkebangsaan Belanda untuk tim sepak bola American Samoa, yakni Thomas Rongen dalam film ber-genre “dramedy” atau drama komedi.

Proyek ini akan menyatukan kembali Waititi dengan Fox Searchlight Pictures, kolaborasi yang menghasilkan film satir dan kontender kuat Oscar, “Jojo Rabbit”.

Baca juga: Sutradara “Thor: Ragnarok” garap film komedi sindiran “anti Hitler”

Baca juga: “Jojo Rabbit” menang di festival film Toronto, berpeluang masuk Oscar

“Next Goal Wins” diadaptasi dari film dokumenter Inggris 2014 dengan judul sama, yang berfokus pada tim sepak bola nasional American Samoa.

Film ini akan menyoroti perjalanan pelatih Thomas Rongen (Fassbender) ketika ia mencoba untuk mengubah nasib tim underdog itu untuk lolos ke Piala Dunia FIFA.

Pada tahun 2001, tim tersebut sempat menderita kekalahan terburuk dalam sejarah sepak bola internasional dengan skor 31-0.

Waititi menulis skenario film dengan penulis Inggris Iain Morris, dan diproduseri oleh pemain dan pembuat film Andy Serkis. Rencananya, produksi film ini akan dimulai terlebih dahulu sebelum pembuatan sekuel film keempat “Thor”, yakni “Love and Thunder” yang merupakan salah satu film fase keempat Marvel Cinematic Universe.

Sedangkan Fassbender baru-baru ini muncul dalam film X-Men: Dark Phoenix, mengulang perannya sebagai Magneto.

Baca juga: Pemeran Magneto turun gelanggang balap Ferrari

Baca juga: “Steve Jobs” tutup Festival Film London
 

Penerjemah: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Jojo Rabbit” menang di festival film Toronto, berpeluang masuk Oscar

Jakarta (ANTARA) – “Jojo Rabbit” garapan sutradara Selandia Baru Taika Waititi memenangi penghargaan “people’s choice” yang diberikan di akhir Festival Film Internasional Toronto.

Selama bertahun-tahun, biasanya pemenang penghargaan itu berpeluang besar sukses di Academy Award, demikian seperti dilansir Reuters.

Dalam 20 tahun terakhir, pemenang penghargaan Grolsch People’s Choice yang dipilih berdasarkan pemungutan suara penonton di festival Toronto, telah memenangi film terbaik Oscar sebanyak lima kali yakni “Green Book” tahun lalu, “12 Years a Slave”, “The King’s Speech”, ” Slumdog Millionaire”dan” American Beauty.”

Dua runner up Toronto, “Spotlight” dan “Argo,” juga menang Oscar saat itu dan hampir semua pemenang penghargaan Toronto dalam kurun 10 tahun juga dinominasikan untuk film terbaik Oscar.

Runner up tahun ini adalah “Marriage Story” dari Noah Baumbach dan film Korea Selatan “Parasite” karya Bong Joon-ho. Sementara “The Platform” dari Galder Gaztelu-Urrutia dapat penghargaan Midnight Madness dan penghargaan dokumenter jatuh pada “The Cave” dari Feras Fayyad.

“Jojo Rabbit” adalah cerita satir tentang bocah Jerman berusia 10 tahun bernama Jojo (Roman Griffin Davis) pada Perang Dunia II, yang menemukan bahwa ibunya (Scarlett Johansson) menyembunyikan gadis Yahudi (Thomasin McKenzie) di loteng mereka dan meminta tolong pada teman khayalannya, Adolph Hitler (Waititi).

Dikutip dari Guardian, Waititi pernah bicara tentang kesulitan untuk mencari aktor yang berperan sebagai Hitler dan akhirnya karakter itu ia perankan sendiri.

“Kupikir susah bagi orang untuk melihat itu adalah pilihan yang bagus untuk karir, dan saya sangat mengerti. Siapa sih yang mau melihat mereka jadi Adolf Hitler di poster?”

Pekan lalu, Waititi mendapat penghargaan Ebert Director Award di festival itu, dan menuai pujian dari pemandu program festival Cameron Bailey yang mengatakan ia punya “humor yang tajam, gaya yang tak bercela dan kemurahan hati yang tak terbatas.”

Dilansir Reuters, film populer yang dibuat oleh sutradara berdarah Maori-Yahudi itu di antaranya “Thor: Ragnarok”, kisah pahlawan super Thor yang diangkat dari karakter komik Marvel. Dia juga dikenal lewat karya “Boy” dan “Hunt for the Wilderpeople”.

Baca juga: Sutradara “Thor: Ragnarok” garap film komedi sindiran “anti Hitler”

Baca juga: Sutradara “Thor: Ragnarok” kembali untuk “Thor 4”
 

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Adegan post-credit “Iron Man” singgung soal X-Men dan Spider-Man

Jakarta (ANTARA) – Di saat Spider-Man dihapus dari Marvel Cinematic Universe dan X-Men belum bergabung, adegan post-credit dari film “Iron Man” menunjukkan dua pihak itu sudah dipikirkan sejak awal.

Adegan, yang tayang di Saturn Awards, Sabtu, adalah versi panjang dari pidato Nick Fury di akhir film “Iron Man” yang secara implisit mengarah pada Spider-Man dan X-Men.

Dikutip dari EW, Nick Fury menyinggung soal Spider-Man dan X-Men tanpa betul-betul menyebut nama mereka.

Adegan itu dimulai saat Fury mendekati Tony Stark (Robert Downey Jr.) pada akhir “Iron Man”, film pertama MCU, tentang Avenger Initiative, sama seperti adegan yang betulan ditayangkan di film.

Namun dalam adegan yang dihapus, Fury juga bicara soal “kecelakaan gamma, gigitan serangga radioaktif dan berbagai mutan” sebelum mengomel bahwa dia harus berhadapan dengan “orang manja yang tidak akur dengan orang lain dan ingin menyimpan semua mainannya sendiri” alias Tony.

Meski singkat, adegan itu punya arti yang besar. Walau tidak punya akses memasukkan Spider-Man dan X-Men saat “Iron Man” dirilis pada 2008, Marvel jelas ingin karakter-karakter itu ada di MCU.

Satu dekade kemudian, X-Men masih belum bisa bergabung di MCU dan Spider-Man hadir di lima film, namun dihapus karena Sony dan Marvel tidak mencapai kesepakatan.

Baca juga: Sutradara “Avengers”: hilangnya Spider-Man dari MCU “kesalahan tragis”

Baca juga: Sony Pictures pastikan “Spider-Man” tak kembali ke MCU

Baca juga: Tom Holland soal keluarnya Spider-Man dari MCU: “I love you 3000”

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Navicula siapkan film dokumenter “Pulau Plastik”

Jakarta (ANTARA) – Grup musik asal Bali, Navicula bersama rumah produksi Visinema Pictures dan organisasi Kopernik menyiapkan sebuah film dokumenter “Pulau Plastik”.

Film yang masih dalam tahap produksi ini akan menghadirkan fakta-fakta tentang sampah plastik di Bali. Film tersebut juga mengeksplorasi fakta di balik sampah plastik yang memenuhi tempat pembuangan akhir hingga mencemari laut dan akhirnya masuk ke tubuh manusia lewat makanan yang dilahap.

“Kita cuma berbagi informasi tentang bahaya plastik, terutama plastik sekali pakai kayak sedotan dan botol air,” ujar Dadang Pranoto, gitaris Navicula, pada ANTARA ditemui di Soundrenaline 2019, Bali, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Navicula rilis album “Earthship”, karya terakhir bersama Made Indra

Navicula juga akan tampil di film ini, termasuk sang vokalis, Gede Robi Supriyanto, yang pernah membawa sampah sebanyak satu truk dari Bali ke Jakarta, Juli lalu, untuk dibuat menjadi instalasi ikan berbentuk monster dalam kampanye anti plastik sekali pakai di Car Free Day dipajang di Monas.

“Itu juga jadi bagian dalam film,” kata Dadang, menambahkan lokasi syuting ada di berbagai tempat, termasuk Bali dan Jakarta.

Ia belum tahu pasti kapan film ini akan ditayangkan, tapi berharap bakal bisa dinikmati setidaknya pada akhir 2019, bukan cuma di bioskop tapi juga di lembaga-lembaga pendidikan.

Navicula masih gencar mempromosikan aksi sederhana untuk mengurangi pemakaian sampah sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu yang beririsan dengan aktivitas mereka sebagai musisi adalah gerakan ramah lingkungan kala menonton acara musik.

Alih-alih membeli botol air kemasan, penonton dapat membawa botol sendiri dari rumah yang bisa diisi ulang, tentunya ini berlaku untuk acara-acara musik yang memang menyediakan tempat untuk isi ulang air minum.

Baca juga: Navicula unjuk gigi di enam negara benua Eropa

Baca juga: Slank dan Navicula siapkan karya tentang sampah plastik

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sutradara “Avengers”: hilangnya Spider-Man dari MCU “kesalahan tragis”

Jakarta (ANTARA) – Joe Russo, co-sutradara dari “Avengers: Endgame” berkomentar tentang keputusan Sony menarik Spider-Man dari Marvel Cinematic Universe.

Joe yang menyutradarai film tersebut bersama saudaranya, Anthony, mengatakan pada Toronto Sun bahwa Sony telah membuat “kesalahan tragis” saat gagal mencapai kesepakatan untuk menampilkan karakter itu di film-film berikutnya.

The Russo brothers memperkenalkan versi terbaru dari Spider-Man di film “Captain America: Civil War” pada 2016. Dilansir NME, Anthony mengenang betapa sulitnya membawa karakter itu ke dalam film.

Baca juga: Adegan emosional ini hampir dihapus dari “Avengers: Endgame”

“Prosesnya panjang dan sulit. Tapi kami bertekad mewujudkannya,” kata dia.

“Namun (bos Marvel Studio) Kevin Feige entah bagaimana berhasil melakukannya. Disney dan orang-orang baik dari Sony menemukan cara untuk menghadirkan itu dan bertahan dalam beberapa film.”

“Kami mendapatkan pengalaman menyenangkan dan kupikir penonton sangat mengapresiasi kolaborasi itu.”

“Namun kami tahu betapa sulitnya kolaborasi tersebut sejak awal, jadi fakta ketika kolaborasi ini buyar tidak mengejutkan bagiku dan Joe.”

Beberapa waktu lalu, pimpinan Sony Pictures, Tony Vinciquerra mengatakan pihaknya saat ini telah menutup pintu untuk Spider-Man bisa kembali ke Marvel Cinematic Universe (MCU)

Meski demikian, ia menyebut bahwa “Spider-Man” memiliki umur yang panjang sehingga mungkin saja di masa depan Peter Parker akan kembali bersama Disney.

Sony Pictures saat ini sedang menggarap “Venom 2”. Vinciquerra berani menyatakan keyakinannya bahwa karakter tersebut akan baik-baik saja di luar MCU, merujuk pada kesuksesan “Spider-Man: Into the Spider-Verse” dan seri Sony-Amazon “The Boys” sebagai bukti bahwa Sony sepenuhnya mampu berada di depan.

“Spider-Man baik-baik saja sebelum adanya film itu dan melakukan lebih baik lagi setelah film, dan sekarang kita memiliki semesta kita sendiri, dia akan memainkan karakter lain juga. Saya pikir kita cukup mampu melakukan apa yang harus kita lakukan di sini,” Vinciquerra menjelaskan.

Baca juga: Sutradara “Avengers: Endgame” tertarik kerjakan film lain MCU

Baca juga: Alasan peran Captain Marvel sedikit dalam “Avengers: Endgame”

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Bos Disney mundur dari jajaran direksi Apple

Jakarta (ANTARA) – Apple mengatakan bahwa Chief Executive Officer Walt Disney Bob Iger telah mengundurkan diri dari dewan direksi perusahaan pada 10 September ketika kedua perusahaan tersebut bersiap untuk bersaing dalam bisnis televisi streaming.

Iger, lansir Reuters, Jumat (13/9), meninggalkan jajaran direksi Apple pada hari yang sama saat Apple mengungkap rincian baru tentang Apple TV+, layanan televisi streaming 4,99 dolar AS (sekitar Rp70 ribu) per bulan, yang akan diluncurkan pada 1 November.

Apple dilaporkan telah menghabiskan miliaran dolar di Hollywood untuk membuat tayangan program untuk layanan tersebut.

Harga berlangganan bulanan untuk Apple TV+ lebih murah dari Disney. Pada awal 2019, Disney mengumumkan layanan streaming yang akan menampilkan konten anak-anak, yaitu 6,99 dolar AS (sekitar Rp98 ribu) per bulan. Layanan Disney+ tersebut akan debut pada 12 November.

Baca juga: Apple siap luncurkan layanan “streaming” berlangganan TV+

Baca juga: “Toy Story 4” raup 1 miliar dolar AS

Apple dan Disney telah lama memiliki hubungan unik di antara perusahaan-perusahaan besar Amerika. Pendiri Apple Steve jobs menjadi direktur Disney dan pemegang saham utama ketika raksasa hiburan itu membeli Pixar, studio animasi digital yang mayoritas dimiliki oleh Jobs. Iger lantas menjadi direktur Apple dalam waktu tidak lama setelah kematian Jobs pada 2011.

“Meskipun kami sangat kehilangan kontribusinya sebagai anggota dewan, kami menghormati keputusannya dan kami memiliki harapan bahwa hubungan kami dengan Bob dan Disney akan berlanjut,” kata Apple dalam pernyataan tertulis.

Iger mengatakan “hak istimewa yang luar biasa” untuk dapat berada di jajaran direksi Apple selama delapan tahun.

“Saya sangat menghormati Tim Cook, timnya di Apple, dan untuk sesama anggota dewan. Apple adalah salah satu perusahaan yang paling dikagumi di dunia, yang dikenal karena kualitas dan integritas produk dan orang-orangnya,” ujar Iger dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Tom Holland soal keluarnya Spider-Man dari MCU: “I love you 3000”

Baca juga: Apple TV siap bersaing dengan Netflix

Penerjemah: Arindra Meodia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

J.K. Rowling sumbang 18,8 juta dolar AS untuk penelitian MS

Jakarta (ANTARA) – Penulis J.K. Rowling menyumbang 18,8 juta dolar Amerika Serikat atau setara Rp262 miliar untuk penelitian perawatan multiple sclerosis (MS) di pusat penelitian Anne Rowling yang berbasis di University of Edinburgh di Skotlandia.

Seperti dilansir Time, Jumat (13/9), Rowling juga pernah menyumbang di pusat penelitian yang dinamai sesuai nama ibundanya itu pada 2010. Anne Rowling meninggal dunia pada usia 45 tahun karena menderita MS.

Rowling mengaku bangga karena pusat penelitian itu melakukan studi penting sekaligus menyediakan dukungan dan perawatan untuk orang-orang dengan MS.

MS disebabkan sel imun yang menyerang organ-organ tubuh. Biasanya, penderita MS mengalami gejala selalu lelah walau tidak beraktivitas sama sekali.

Penyandang MS juga umumnya mengalami gangguan penglihatan, bermasalah dalam keseimbangan sehingga susah berjalan, mudah kebas atau kram dan kesulitan saat berpikir.

Baca juga: J.K Rowling bocorkan proyek misterius “Harry Potter”

Baca juga: JK Rowling siap luncurkan empat buku baru
 

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Anne Watanabe kembali ke layar kaca lewat serial “Fake Affair”

Jakarta (ANTARA) – Aktris Jepang Anne yang merupakan putri dari aktor ternama Ken Watanabe, kembali ke layar kaca setelah empat tahun vakum.

Dia berperan sebagai Shoko Hama dalam serial “Fake Affair” yang diadaptasi dari komik Jepang (manga) berjudul “Gisou Furin”.

“Sudah lama sejak saya terakhir bekerja di lokasi syuting, dan saya juga belum pernah memiliki kesempatan untuk berperan di drama romantis seperti ini sebelumnya. Ini semua merupakan hal baru bagi saya dan saya bekerja seolah-olah saya seorang aktris pemula lagi,” ujar Anne seperti dikutip dari siaran pers Gem, Sabtu.

“Ini sangat menyenangkan. Sudah dua bulan sejak kami mulai syuting, jadi sepertinya kami telah mencapai klimaks,” ujar Anne.

Pada 2015, Anne menikah dengan aktor Masahiro Higashide lalu melahirkan putri kembar setahun kemudian, dan melahirkan seorang putra pada 2017.

Sejak itu, Anne absen dari layar kaca meski di sela rehat ia sempat berakting di layar lebar.
  Adegan drama Jepang “Fake Affair” (HO/Nippon TV)

“Fake Affair” berkisah tentang Shoko, perempuan lajang dan pekerja kontrak yang tidak beruntung dalam hal percintaan. Dia memutuskan melakukan perjalanan solo untuk pertama kalinya.

Selama perjalanan, Shoko berbohong pada lelaki yang ia temui dan mengatakan bahwa ia sudah menikah. Keduanya memutuskan untuk “berselingkuh” dan Shoko mendapati dia betul-betul jatuh cinta.

Anne mengatakan ia memahami perasaan karakter Shoko yang berbohong karena merasa kurang percaya diri, meski ia merasa seseorang tak pantas berbohong tentang status pernikahan.

“Tapi Shoko adalah tipe wanita yang membuatmu ingin menyemangati dan menghiburnya,” ujar Anne.

Anne beradu akting dengan Hio Miyazawa yang berperan sebagai Jo Banno. Miyazawa mengaku pengalamannya di drama ini menantang karena dia jarang mendapat peran di dalam drama romantis.

“Oleh karena itu saya ingin mempelajari cara membuat jantung para wanita berdebar,” ujar Miyazawa.

“Fake Affair” mulai tayang di GEM TV Asia mulai 16 September.

Baca juga: Tomohisa Yamashita bintangi drama live-action “In Hand”

Baca juga: Kento Kaku bicara soal drama terbarunya “Today it’s My Turn!!”
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Cerita kreator “Dalang Pelo” yang masih mandiri dan target ke depan

Jakarta (ANTARA) – Di balik karya animasi populer “Dalang Pelo”, ada sosok Nur Alif Ramadhan atau akrab disapa Acil sebagai kreator yang serba sendiri.

Sejak tahun 2016, pria yang kini mengambil jurusan periklanan di salah satu perguruan tinggi swasta kawasan Jakarta itu memproduksi animasi “Dalang Pelo” mulai dari dubbing, menggambar, editing video dan mempublikasikannya seorang diri laman Instagram.

“’Dalang Pelo’ dibuat tahun 2016, saat masih kelas 1 SMK. Aku awalnya enggak tahu apa-apa soal animasi tetapi suka menggambar. Pertama kali posting di Instagram,” ujar dia di sela acara Bekraf Animation Conference (BEACON) 2019 di Jakarta, Sabtu.

Bukannya semata ingin mandiri, Acil mengatakan belum menemukan partner kerja yang pas untuknya. Kreator animasi “Dalang Pelo”, Nur Alif Ramadhan atau akrab disapa Acil. (ANTARA News/Lia Wanadriani Santosa)

Menurut dia, kebanyakan orang yang datang padanya sebatas ingin membantu sebagai pengisis suara. Sementara Acil membutuhkan sosok yang juga mampu membuat animasi seperti dirinya.

Kelak, dia ingin bekerja dalam tim sehingga bisa mengiyakan berbagai tawaran kerja sama yang datang padanya, salah satunya dalam produksi komik “Dalang Pelo”.

Soal genre animasi, pria yang mengaku pendiam itu akan terus fokus berada pada jalur hiburan walau mungkin nantinya menambahkan unsur horor atau romansa khas anak muda.

“Di Indonesia kan orang-orangnya suka yang lucu-lucu. Aku lebih fokus pada yang hiburan, walau nantinya bisa dimasukkan unsur horor, cinta-cintaan, mistis,” kata Acil.

Sambil menanti impian kerja bersama tim terkabul, dia berencana terus merapikan konten, termasuk dari sisi gayanya menggambar karakter dan frekuensi perilisan konten.

“Mungkin dari style gambar dan background jadi lebih simpel dan lucu. Lalu gerakan enggak kaku. Berharap biar konten bisa keluar dua kali dalam seminggu. Sekarang baru bisa seminggu sekali,” kata dia.

“Dalang Pelo” menghadirkan empat tokoh utama yakni Acil, Leri, Monyet dan Om Gepeng yang terlibat dalam berbagai kejadian yang tak jarang mengundang tawa atau bahkan gelengan kepala para penontonnya.

Animasi ini sudah memiliki sekitar 3,9 juta pengikut di laman Instagramnya dan 1,6 juta pelanggan di laman YouTube.

Baca juga: Startup Korea gandeng studio animasi lokal buat Webtoon Institute

Baca juga: Film animasi Bilal Bin Rabah akan tayang di Indonesia

Baca juga: Film animasi Korea “The Underdog” diekspor juga ke Indonesia

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Priyanka Chopra ingin ubah stigma seks film Bollywood

Jakarta (ANTARA) – Di antara bintang film asal India, mungkin tidak ada yang lebih besar dari Priyanka Chopra, yang mampu berkarir di Hollywood.

Untuk itu, aktris berusia 37 tahun yang membintangi Baywatch (2017) itu ingin memanfaatkan film yang dibintanginya untuk menepis stigma seksual dalam film Bollywood.

Baca juga: Priyanka Chopra didesak mundur jadi Duta Kebaikan UNICEF

Chopra merupakan aktris India pertama yang membintangi drama seri yang tayang secara primetime di AS, “Quantico” bersama Josh Hopkins dan Jake McLaughlin. Status sosialnya diperkuat setelah menikah dengan penyanyi pop Nick Jonas pada Desember tahun lalu.

Daya tarik Chopra membuat festival film Toronto memberikan karpet merah untuk film berbahasa India berjudul “The Sky is Pink” yang ia bintangi.

“Orang-orang terkejut ketika mereka melihat ‘The Sky is Pink’ dan mereka menilai ‘ini bukan film Bollywood’. Tapi, Bollywood bukanlah genre film!” tegas Chopra mengatakan kepada AFP, Sabtu.

“Ini benar-benar upaya saya untuk mendidik orang dalam hal itu,” kata Chopra.

Baca juga: Priyanka Chopra diduga perankan jagoan baru Marvel

Disutradarai Shonali Bose, “The Sky is Pink” menceritakan kisah nyata Aisha Chaudhary, remaja inspiratif asal Delhi yang hidupnya terganggu karena kelainan genetik langka.

Di kehidupan nyata, Aisha Chaudhary, menulis buku tentang perjuangannya sebelum meninggal di usia 18 tahun pada 2015. Film ini menyoroti perjuangan cinta orang tua Chaudhary dalam menghadapi berbagai masalah.

Adegan berciuman pun jarang ditemui pada film Bollywood meski dibuat oleh kalangan konservatif, namun sisi romantisme dan musik-musik khas yang dimainkan dengan tarian masih tetap dipertahankan.

Baca juga: Gunakan hewan untuk pernikahan, Priyanka Chopra dikecam PETA

Belajar dari sutradara

Chopra menilai bahwa seksualitas dibicarakan dengan berbagai cara pada film-film India yang menggabungkan modernitas dengan tradisi.

“Saya pikir seksualitas dibicarakan dengan berbagai cara di sinema India”, kemudian menambahkan, “Itu sensitif secara budaya.”

“(Film) India menggabungkan antara modernitas dan tradisi. Dan film ini dibuat oleh orang India modern. Jadi, Anda mengerti bahasanya dan benar untuk siapa,” katanya.

Sutradara Shonali Bose yang perkawinannya berakhir setelah kehilangan anak, didekati orang tua Chaudhary untuk membuat film itu.

Baca juga: Priyanka Chopra ungkap bagian wajah yang paling dia banggakan

Chaudhary adalah penggemar berat karya Shonali Bose, namun orang tuanya tidak dapat memenuhi “keinginannya anaknya saat sekarat” untuk menonton film Bose berjudul “Margarita With A Straw.”

Kepada AFP, Bose mengaku tersentuh atas permintaan itu, namun ia mengalihkan fokusnya pada orang tua Chaudhary yang terus mempertahankan pernikahan kendati sudah kehilangan anak.

“Mereka mau film tentang anak mereka, gadis remaja yang heroik. Tapi saya tidak merasa bahwa anak itu ingin difilmkan — karena sebenarnya dia sosok luar biasa dan rendah hati,” katanya.

Chopra memang belum memiliki anak, namun ia akan berusaha keras memerankan sosok Aditi — ibu dari Chaudhary — dengan cara menimba pengalaman dari sang sutradara, demikian AFP.

Baca juga: Priyanka Chopra dituduh pro perang nuklir India-Pakistan

Baca juga: Pakistan minta UNICEF copot Priyanka Chopra sebagai duta

Baca juga: Meghan Markle korban rasisme, kata Priyanka Chopra

Penerjemah: Alviansyah Pasaribu
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pembuat “Friends” tegaskan takkan ada versi reboot

Jakarta (ANTARA) – Pencinta serial televisi 1990-an “Friends” tak perlu menantikan bakal ada versi reboot alias dibuat ulang tanpa menghilangkan inti cerita karena para pembuatnya sudah menegaskan itu takkan terjadi.

Orang-orang di balik serial komedi situasi itu menepis segala kemungkinan akan ada tayangan istimewa dari “Friends” saat menjadi pembicara di panel perayaan 25 tahun “Friends”.

“Kami takkan membuat show reuni, kami tidak akan membuat reboot,” kata ko-kreator dan produser eksekutif Marta Kauffman di Tribeca TV Festival di Lower Manhattan seperti dikutip dari Deadline.

Kauffman membicarakan itu dalam perbincangan bersama ko-kreator David Crane dan produser eksekutif Kevin Bright.

Kauffman menegaskan tidak akan ada reboot “Friends”, “Ada dua alasan. Pertama adalah kami takkan membuat reuni karena ini serial mengenai sebuah masa dalam hidup ketika teman adalah keluarga. Dan ketika kau sudah berkeluarga, itu berubah. Tapi alasan lainnya adalah versi baru takkan mengalahkan apa yang sudah ada.”

Crane menambahkan, “Kami membuat serial sesuai yang kami inginkan. Kami sudah melakukannya dengan benar dan menyelesaikannya.”

“Jika kita melihat lagi karakter itu sekarang, tidak akan sama, tidak akan sebagus dulu.”

Baca juga: Lisa Kudrow ogah nonton ulang “Friends”, ini alasannya

Baca juga: Jennifer Aniston ungkap rahasia para pemain soal theme song “Friends”

Baca juga: Sitkom “Friends” siap dijadikan parodi musikal Broadway
 

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

John Cena dan dua alumni Marvel gabung film baru “Suicide Squad”

Jakarta (ANTARA) – Penulis-sutradara James Gunn mengungkapkan daftar lengkap pemain untuk film reboot “Suicide Squad”, termasuk John Cena dan dua alumni Marvel.

Margot Robbie akan kembali memerankan Harley Quinn, begitu pun Joel Kinnaman sebagai agen pemerintah Rick Flag, Jai Courtney sebagai Captain Boomerang dan Viola Davis sebagai Amanda Waller.

Meski banyak pemain yang kembali memerankan karakter lamanya, produser Peter Safran mengatakan pada Entertainment bahwa film ini bukan sekuel dan “betul-betul reboot”.

“Ini adalah semua yang kau harap dari skenario James Gunn, dan kupikir itu sudah menjanjikan dan ku tahu kami akan memewujudkannya,” kata dia.

Baca juga: Idris Elba akan gantikan Will Smith di sekuel “Suicide Squad”

Baca juga: “Suicide Squad” di puncak box office tiga pekan berturut-turut

Dilansir CNA, nama-nama baru juga bergabung dalam film itu.

Idris Elba berperan sebagai karakter baru yang belum ada namanya, veteran “Guardians of the Galaxy” Michael Rooker (dikabarkan bermain sebagai King Shark), Nathan Fillion (Firefly), bintang WWE John Cena, Peter Capaldi (“Doctor Who)”, Taika Waititi (“Thor: Ragnarok”), komedian Saturday Night Live Pete Davidson (dikabarkan akan jadi cameo), David Dastmalchian dari “The Dark Knight” (dikabarkan menjadi Polka-Dot Man), dan pendatang baru Daniela Melchior (dikabarkan menjadi Ratcatcher).

Nama lama dari film “Suicide Squad” (2016) yang tidak bergabung di film baru ini meliputi Will Smith (Deadshot), Jared Leto (Joker), Cara Delevingne (Enchantress), Karen Fukuhara (Katana) dan Adewale Akinnuoye-Agbaje (Killer Croc).

“The Suicide Squad” akan rilis pada 6 Agustus 2021.

Baca juga: John Cena akan bergabung dalam film “Fast & Furious 9”

Baca juga: Sutradara “Avengers: Endgame” tertarik kerjakan film lain MCU

Baca juga: Alasan peran Captain Marvel sedikit dalam “Avengers: Endgame”

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kemarin, alasan gatal pada malam hari hingga rahasia awet muda Gunawan

Jakarta (ANTARA) – Rahasia awet muda aktor Gunawan, alasan gatal sangat terasa pada malam hari, tampilan Vivo V18, dua kendaraan mewah dari Hongqi dan restoran Padang berisi makanan vegan adalah berita menarik pada kanal Tekno, Otomotif, Lifestyle dan Hiburan Antara pada Jumat (13/9) yang laik Anda baca hari ini.

1. Mengapa gatal sangat terasa pada malam hari?

Terkadang, sebagian orang menganggap rasa gatal lebih terasa pada malam ketimbang siang hari dan dokter punya jawaban sederhana mengenai hal ini.

Selengkapnya di sini

2. Awet muda, ini rahasia Gunawan

Aktor Gunawan Sudradjat atau yang lebih kenal dengan Gunawan terlihat awet muda padahal usianya hampir menginjak 50 tahun. Apa rahasianya?

Selengkapnya di sini

3. Vivo V17 Pro bakal meluncur, ini tampilannya

Setelah meluncurkan V15 pada awal Maret, Vivo Indonesia akan meluncurkan ponsel lain seri V, V17 Pro, di pasar Indonesia dalam waktu dekat.

Selengkapnya di sini

4. Hongqi gemparkan Frankfurt Motor Show dengan dua kendaraan mewahnya

Hongqi merek kendaraan mewah asala China, membawa dua kendaraan mewah ke Frankfurt Motor Show 2019 dan langsung menjadi pusat perhatian pada ajang otomotif tahunan itu.

Selengkapnya di sini

5. Restoran ini sajikan masakan Padang untuk vegan

Makanan Padang identik dengan lauk pauk berupa daging berbumbu rempah yang begitu menggoda lidah, tidak mudah mengaitkannya dengan makanan vegetarian dan vegan yang mengonsumsi makanan non-hewani.

Selengkapnya di sini

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sutradara pastikan “Joker” terpisah dari DC Universe

Jakarta (ANTARA) – Sutradara “Joker”, Todd Phillips, menegaskan kembali filmnya tidak berhubungan dengan DC Universe, termasuk “Batman” yang akan dibintangi oleh Robert Pattinson.

Dalam sebuah tanya jawab pada ajang Toronto International Film Festival 2019, Phillips mengonfirmasi “Joker” adalah produk baru dari Warner Bros dan merupakan proyek DC yang berdiri sendiri.

“Itu benar-benar tidak terhubung dengan (DC) Universe dan itu memang tidak sengaja,” ujar Phillips menanggapi spekulasi penggemar yang menemukan koneksi antara “Joker” dan “The Dark Knight”, demikian dilansir NME, Jumat.

Baca juga: Joaquin Phoenix tak akan jadi Joker di film “The Batman”

“Maksud saya, ketika saya datang ke Warner Bros dengan ide itu, itu bukan hanya tentang satu film tetapi tentang semacam label dari sisi lain DC, di mana Anda dapat melakukan studi untuk karakternya, membayar sewa yang rendah, anggaran rendah, di mana sang pembuat film bisa masuk dan melakukan beberapa penyelaman yang mendalam pada karakter itu,” ujarnya.

Phillips yang baru saja mendapat penghargaan pada Venice Film Festival 2019 itu menambahkan, “Jadi itu tidak pernah dimaksudkan untuk terhubung satu sama lain. Saya tidak melihatnya terhubung pada film apapun pada masa depan. Saya pikir hanya film itu saja.”

Sebelumnya pada awal pekan kedua September, Phillips menolak klaim bahwa Joaquin Phoenix bisa menjadi penjahat ikonis untuk bertempur melawan Robert Pattinson yang berperan sebagai Batman.

Baca juga: Joaquin Phoenix terinspirasi pasien gangguan mental perankan Joker

Spekulasi lebih lanjut menyatakan bahwa Joker akan bertanggung jawab untuk memicu dunia baru di alam semesta DC yang dapat mencakup Batman dan Joaquin Phoenix sebagai salah satu penjahatnya.

Namun, Phillips menolak gagasan itu dan mengkonfirmasi bahwa kedua karakter tersebut tidak akan muncul bersama dalam film masa depan.

Baca juga: Sutradara mulai pertimbangkan sekuel “Joker”

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ari Irham dan Aghniny Haque riset demi “Generasi 90an: Melankolia”

Jakarta (ANTARA) – Aktor Ari Irham dan aktris Aghniny Haque melakukan beberapa riset sebelum mulai syuting film “Generasi 90an: Melankolia” menyusul kedua selebritas itu tidak tumbuh pada era 1990an.

“Harus sih itu. Kami nonton film tahun 1990an. Kami searching dan banyak banget,” ujar Aghniny ditemui dalam jumpa pers film “Generasi 90an: Melankolia” di Jakarta, Jumat.

“Kalau aku lebih ke mengenal barang-barang tahun 1990an, karena di buku “Generasi 90an” saja udah jelas dan aku belajar dari situ,” kata Ari.

Selain itu, Ari dan Aghniny juga mencoba berbagai gaya yang pernah menjadi tren pada 1990an. Menurut mereka, berbagai riset dan cara itu berguna untuk mendalami karakter yang akan mereka perankan dalam film.

Baca juga: Film “Generasi 90an: Melankolia” terinspirasi dari tiga band 90an

“Kalau buat mendalami, ya kami sering-sering main. Kalau untuk style, aku suka pakai jeans cutbray dan docmart (merek sepatu Dr. Martens yang tren pada 1990an),” ujar Aghniny.

Ari melanjutkan, “Style 90an masih jadi pilihan buat sehari-hari kami sih soalnya.”

Dalam film “Generasi 90an: Melankolia”, Aghniny berperan sebagai Indah yang karakternya diambil dari lagu Padi berjudul “Begitu Indah”. Sedangkan Ari akan berperan sebagai Abi.

“Generasi 90an: Melankolia” akan mulai syuting pada Oktober 2019. Tapi, sang sutradara, M. Irfan Ramli belum membeberkan jalan cerita film itu.

Baca juga: Benda ikonis 1990-an akan difilmkan dalam “Generasi 90an: Melankolia”

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Balinale 2019 siap putar film 28 negara

Jakarta (ANTARA) – Bali International Film Festival 2019, atau lebih dikenal dengan Balinale, akan menayangkan sebanyak 92 film dari 28 negara selama enam hari perhelatan pada 24-29 September 2019 di Badung, Bali.

Keterangan tertulis Bali Film Center yang diterima di Jakarta, Jumat, menyebutkan, deretan film perdana dalam berbagai kategori, yaitu sembilan World Premieres, lima International Premieres, dan 19 Asian Premieres akan diputar pada ajang yang berlangsung pada 2019.

Festival itu juga akan dihadiri para sineas Indonesia serta pelaku industri perfilman internasional.

Baca juga: Pekan Film Indonesia “La Fete du Cin Indonesien” sukses digelar

Dari Indonesia, sejumlah pelaku industri perfilman yang akan hadir antara lain Ismael Basbeth (sutradara/ produser), Djenar Maesa Ayu (Sutradara/ pemain), Cornelio Sunny (pemain/ produser), dan Hanung Bramantyo (sutradara/ produser).

Beberapa film yang akan diputar dalam gelaran Balinale yang memasuki tahun ke-13 itu antara lain “Burning Cane” (AS), “Burning” (Korea), “Kado” (Indonesia), “Perburuan” (Indonesia), “Le Chocolat de H” (Jepang), dan “Skin” (AS).

Film Indonesia yang akan diputar pada Balinale 2019 mengalami peningkatan jumlah yakni sebanyak 27 judul film. Beberapa film diantaranya diproduksi oleh para sineas Bali.

Baca juga: Cuplikan Garuda Superhero di Balinale International Film Festival

Dalam ajang Balinale, Bali International Film Festival Industry Forum (BalinaleX) juga akan digelar khusus untuk pelaku industri perfilman. Acara diskusi itu mempertemukan puluhan sineas dari berbagai penjuru dunia dan Indonesia.

Beberapa pembuat film asing akan berbagi pengalaman dari produksi maupun proses kreatif di industri film diantaranya, Donna Smith, wanita pertama yang menjadi President of Production untuk Universal Studios dan seorang produser pemenang Academy Award.

Kemudian Sarah Xu, seorang co-founder dan CEO dari AY Entertainment Group yang mengatur kegiatan dan mempromosikan artis-artis “A-List”, Broadway, dan CIRQUE di Asia dan dari Indonesia yakni Ismail Basbeth, produser, sutradara, dan penulis naskah.

Baca juga: Balinale 2018 tayangkan 100 film

Pewarta: Subagyo
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Awet muda, ini rahasia Gunawan

Jakarta (ANTARA) – Aktor Gunawan Sudradjat atau yang lebih kenal dengan Gunawan terlihat awet muda padahal usianya hampir menginjak 50 tahun. Apa rahasianya?

“Gampang sih, olahraga cukup, tidur cukup, makan tidak terlalu banyak, menjalani masalah jangan terlalu stres. Kalau tip seorang muslim, ya salat,” katanya saat ditemui dalam jumpa pers film “Generasi 90an: Melankolia” di Jakarta, Jumat.

Gunawan mengatakan tidak pernah sehari pun meninggalkan olahraga dan itu sudah dilakukannya sejak masih muda.

“Saya dari dulu senengnya olahraga ya, sehari sekali. Kalau enggak olahraga kayak ada yang hilang gitu, enggak enak badannya,” jelas pemain sinetron “Air Mata Ibu” itu.

Saat ini, ayah dua anak itu sedang menekuni olahraga golf, yang menurutnya paling sulit dibanding lainnya.

“Itu olahraga yang paling susah sih, dulu saya pernah nyoba bulu tangkis juga. Golf itu olahraga yang indah, dari atas sampai bawah harus seirama, gerakannya itu indah banget,” ujar Gunawan.

Baca juga: Film “Generasi 90an: Melankolia” terinspirasi dari tiga band 90an
 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gunawan lebih nyaman main sinetron dibanding film

Jakarta (ANTARA) – Aktor Gunawan yang membintangi film “Generasi 90an: Melankolia” mengaku lebih menemukan kenyamanan saat main sinetron daripada layar lebar.

“Zona nyaman sebetulnya sinetron tapi untuk stripping panjang ya. Tapi untuk film ya nyaman juga sih. Kalau untuk mengembangkan akting lebih ke film ya,” ujar Gunawan ditemui dalam jumpa pers film “Generasi 90an: Melankolia” di Jakarta, Jumat.

Gunawan selama ini dikenal sebagai pemain sinetron, meski sempat juga bermain dalam beberapa judul film seperti “Pingky Promise”, “Meet Me After Sunset” dan “Serendipity”.

Pria yang dikenal lewat aktingnya dalam sinetron, salah satunya “Air Mata Ibu” itu, mengatakan bahwa dunia sinetron saat ini berbeda jauh dengan tahun 1990an, di mana dia masih bisa memilih karakter yang diinginkan.

Baca juga: Awet muda, ini rahasia Gunawan

Menurutnya saat ini, cerita sinetron sudah ditentukan oleh stasiun televisi dengan pertimbangan hal-hal yang sedang digandrungi masyarakat.

“Kalau dulu, misalnya berapa episode untuk setahun kita masih bisa memilih karakter atau mengeksplor kemampuan kita. Kalau sekarang ini agak sulit ya,” ujar suami dari Sybilla Ernova Hartoto itu.

Soal pendapatan, Gunawan mengaku bayaran main sinetron lumayan besar apalagi jika syuting kejar tayang untuk puluhan episode.

“Tergantung stripping-nya ya, tapi capeknya juga pasti ya seimbang menurut saya,” katanya.

Baca juga: Film “Generasi 90an: Melankolia” terinspirasi dari tiga band 90an
 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Generasi 90an: Melankolia” terinspirasi dari tiga band 90an

Jakarta (ANTARA) – Visinema Pictures berkolaborasi dengan tim “Generasi 90an” dalam mengangkat kisah tiga grup musik populer di Tanah Air pada periode 1990-an dalam film “Generasi 90an: Melankolia”.

“Kami bekerjasama dengan tiga superband Indonesia yang sampai hari ini belum ada lagi yang seperti mereka yaitu Dewa 19, Padi, dan Sheila on 7,” kata Produser Eksekutif “Generasi 90an: Melankolia” Angga Dwimas Sasongko dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat.

Angga mengatakan “Generasi 90an: Melankolia”  itu semula hanya akan mengangkat satu lagu dari periode 1990an dalam sebuah film. “Terus, saya ketemu Piyu. Dia bilang mau ikutan juga. Tapi, saya enggak bisa ketemu sama Dhani. Tapi, Dewa sangat terbuka dengan proyek itu,” kata Angga.

Sementara, M. Irfan Ramli selaku sutradara menjelaskan karakter-karakter dalam film ini diambil dari judul lagu miliki band tersebut seperti Indah (Aghniny Haque) dari lagu Padi yang berjudul “Begitu Indah”, Sephia (Taskya Namya) dari lagu “Sephia” milik Sheila on 7, dan Kirana (Jennifer Coppen) dari lagu “Kirana” milik Dewa 19.

Baca juga: Benda ikonis 1990-an akan difilmkan dalam “Generasi 90an: Melankolia”

“Angga pernah bilang gimana kalau kita bikin film dari tiga superband itu? Dan kesampaian lah. Jadi, kami coba mendalami karakternya dari lagu-lagu yang ada dari tiga band itu,” ujar Irfan.

Meski film tersebut bernuansa periode 1990an, Irfan menyatakan bahwa “Generasi 90an: Melankolia” tidak secara spesifik mengambil latar belakang tahun tersebut. Menurutnya, film itu hanya berusaha menampilkan benda-benda yang populer pada periode 1990an saja.

“Untuk waktu penceritaan sendiri, tidak kami jelaskan persis. Kami cuma menghidupkan benda-bendanya. Kami coba create waktu yang ceritanya bisa 90an dan cerita pada tahun-tahun itu. Tapi, kami enggak sebutin tahunnya. Ada benda-benda, ada trennya, ada fashion-nya,” ujar pria yang juga penulis skenario film “Love for Sale” itu.

“Generasi 90an: Melankolia” juga dibintangi oleh Ari Irham, Gunawan, Amara Lingua dan Frans Mohede”. Film tersebut akan mulai proses syuting pada Oktober 2019.

Baca juga: Nostalgia 90an di Tamasya Mesin Waktu

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penonton ramai-ramai tinggalkan film “The Painted Bird” di Toronto

Jakarta (ANTARA) – Film “The Painted Bird” kembali mengundang “mass walkout”, para penonton ramai-ramai meninggalkan gedung bioskop saat film sedang ditayangkan pada pemutaran perdananya di Festival Film Toronto (TIFF) 2019, setelah hal yang sama sempat terjadi sebelumnya pada pemutaran di Festival Film Venesia beberapa waktu lalu.

“Kadang-kadang sangat sulit untuk menonton ‘kekejaman’ di layar, tetapi sangat penting bagi kita untuk menjadi saksi,” kata perwakilan dari TIFF, Dorota Lech sebelum pemutaran film tersebut di Toronto, dilansir dari The Hollywood Reporter, Jumat.

Meski Lech telah meminta penonton untuk tetap tinggal dan menyaksikan film tersebut hingga akhir, namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

Pada durasi satu jam, sekitar 30 penonton meninggalkan teater Bell Lightbox dengan kapasitas 522 kursi. “Walkout” kemudian disusul dengan 12 lainnya pada bagian akhir film.

Film yang diadaptasi oleh sutradara Vaclav Marhoul dari novel ber-genre holocaust berjudul sama karya Jerzy Kosinski di tahun 1965 ini bercerita tentang menggambarkan seorang anak lelaki mengembara di Eropa Timur yang diduduki Nazi selama Perang Dunia II.

“The Painted Bird” dibintangi oleh aktor pendatang baru Petr Kotlar. Selain itu, Stellan Skarsgard yang sempat bergabung dalam film “Thor” serta Harvey Keitel yang terkenal melalui “Pulp Fiction” dan “The Budapest Hotel” juga ada dalam film ini.

Baca juga: “Gundala” disambut hangat dalam Toronto International Film Festival

Baca juga: “Gundala” tembus Festival Film Internasional Toronto 2019

Baca juga: “Pengabdi Setan” raih penghargaan Film Horor Terbaik di Toronto

Penerjemah: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sebelum meninggal, Habibie masih sempat tanyakan film “Ainun”

Jakarta (ANTARA) – Produser film “Habibie & Ainun” Manoj Punjabi mengatakan almarhum Bacharuddin Jusuf Habibie sempat menanyakan soal kelanjutan film yang dirilis pada 2012 itu.

“Tanggal sembilan, bulan sembilan, dua hari sebelum wafatnya pak Habibie, beliau masih ngobrol sama saya masih nanya sudah bikin film Habibie Ainun? Sudah bikin film tentang Rudy Habibie? Sekarang film tentang Ainun,” ujar Manoj di Jakarta, Kamis.

Film “Habibie & Ainun 3” akan mengisahkan kehidupan masa muda Ainun. Film garapan sutradara Hanung Bramantyo itu dijawalkan tayang pada Desember 2019.

Namun, Manoj mengaku belum mengetahui apakah akan ada perubahan dalam proses kreatif film tersebut.

“Saya belum tahu kreatifnya mau dibawa ke mana karena itu di luar dugaan saya. Rencana bulan Desember akan rilis, mau diubah mau di apa kami belum tahu,” kata Manoj.

Baca juga: Habibie pun bertemu kembali dengan cinta sejatinya

Menurut Manoj film tersebut telah merampungkan proses pengambilan gambar yang sesuai dengan keinginan dan persetujuan Habibie.

Film “Habibie & Ainun 3” dijadwalkan rilis poster pada Rabu (11/9). Tapi, rencana itu dibatalkan menyusul kabar duka pada sang tokoh yang difilm-kan itu.

“Semalam, rilis poster enggak tepat. Minggu depan, kami akan update trailer baru kami,” kata Manoj.

Manoj mengenang sosok Habibie, yang telah dikenalnya sejak 2010, sebagai tokoh yang inspiratif.

“Dia positif, energi. Dia adalah hero saya,” ujar dia.

Baca juga: PT POS serahkan perangko perjalanan cinta Habibie-Ainun

Baca juga: “Habibie & Ainun 3” tetap tayang tanpa Jefri Nichol

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Gundala” disambut hangat dalam Toronto International Film Festival

Jakarta (ANTARA) – “Gundala” mendapat sambutan yang sangat baik dari penonton dalam penayangan, Kamis, pada ajang Toronto International Film Festival 2019.

Melalui laman resmi Instagram Joko Anwar, dia membagikan suasana menjelang pemutaran “Gundala”. Pada video tersebut, terlihat antrian penonton yang akan menyaksikan karya terbaru darinya.

“Antrean nonton ‘Gundala’ di Toronto, sejam sebelum jam tayang. 30 menit kemudian tambah mengular sampai ke jalan yang lain. #gundala #guladaditoronto,” tulis Joko pada keterangan videonya, dikutip Antara pada Kamis.

Baca juga: Lukanya batin Gundala dan rating Joko Anwar

Sutradara “A Copy of My Mind” itu juga memperlihatkan studio yang digunakan untuk pemutaran film yang diangkat dari komik karya Hasmi itu hampir terisi sepenuhnya oleh penonton.

Joko tidak lupa menyampaikan bahwa “Gundala” mendapat sambutan yang bagus dari penonton Toronto International Film Festival. Dia pun mengunggah beberapa komentar dari penonton.

“Pemutaran Gundala di Toronto Sukses! Pada suka dan pada nangkep cerita dan subtext-nya. Pada enggak sabar nunggu lanjutannya! Sekarang Jagat Sinema Bumilangit sudah jadi milik semua orang. Bukan hanya orang Indonesia. Woohoo!” kata sutradara “Pengabdi Setan” itu.

Baca juga: “Gundala”, sebuah bukti Indonesia mampu bermain di genre superhero

“Saya sangat bangga Indonesia memiliki MCU (Marvel Cinematic Universe) sendiri yang namanya BCU ‘Bumilangit Cinematic Universe’. Film pertamanya yang tayang adalah ‘Gundala’. Saya berharap film itu juga diputar di bioskop US,” tulis salah satu penonton, Yusuf As-Siddiq.
 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sutradara “Avengers: Endgame” tertarik kerjakan film lain MCU

Jakarta (ANTARA) – Dua sutradara Joe dan Anthony Russo mengungkapkan kemungkinan untuk mengerjakan film lain dalam Marvel Cinematic Universe (MCU).

Setelah merger besar-besaran Disney dengan Fox, akan ada banyak proyek masa depan yang menarik sutradara “Avengers: Endgame” itu, di antaranya adalah “X-Men” dan “Fantastic Four”.

“Saya tumbuh saat John Byrne’s X-Men sedang berjalan. Ben Grimm adalah karakter favorit yang saya sukai yang tumbuh menjadi the Thing. Dan, Fantastic Four sekarang berada dalam Marvel. Ada banyak,” kata Joe dilansir NME, Kamis.

Baca juga: Tom Holland soal keluarnya Spider-Man dari MCU: “I love you 3000”

“Silver Surfer adalah karakter yang luar biasa. Menjadi sangat besar dalam kosmik dan akan sangat menyenangkan. Jadi ada banyak hal yang bisa menarik kami,” ujar Joe.

Jika memang akan kembali, Joe dan Anthony mengakui bahwa harus pada skala masa lalu mereka.

“Saya pikir setelah Anda melanjutkan perjalanan yang kami lalui – karena ada narasi yang komprehensif, kisah menyeluruh dari ‘Winter Soldier’ hingga akhir ‘Endgame’ yang melibatkan Tony dan Cap, melalui ‘Civil War’, melalui ‘Infinity War’ – Saya berpikir bahwa skala ambisi dalam mendongeng adalah sesuatu yang menggigit kita,” ujar Joe.

Baca juga: Jeremy Renner “Hawkeye” ingin Spider-Man kembali ke Marvel

“Dan kami terpaksa menceritakan lebih banyak kisah pada skala itu, dengan ambisi selama bertahun-tahun bagi mereka,” katanya.

Sementara, baru-baru ini diumumkan bahwa serial TV “Spider-Man” sedang dalam pengerjaan, menyusul kembalinya karakter MCU ke Sony.

Baca juga: Sutradara “Avengers: Endgame” pertimbangkan peran untuk Keanu Reeves

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film Gundala menginspirasi, sebut Kemendikbud

Film Gundala bagus karena sangat menginspirasi dan menggugah serta memiliki figur ketokohan yang kuat. Kami berharap semoga betul-betul menjadi tonggak kebangkitan ‘superhero lokal’ yang menguasai dunia

Jakarta (ANTARA) – Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Maman Wijaya mengatakan film besutan sutradara Joko Anwar yakni Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot, menginspirasi dan menggugah serta figur ketokohan yang kuat.

“Film Gundala bagus karena sangat menginspirasi dan menggugah serta memiliki figur ketokohan yang kuat. Kami berharap semoga betul-betul menjadi tonggak kebangkitan ‘superhero lokal’ yang menguasai dunia,” katanya di Jakarta, Kamis.

Ia menambahkan Indonesia memiliki banyak tokoh superhero yang dinilai layak untuk difilmkan seperti Godam Manusia Besi, Zantoro, Volt, Sembrani, Aquanis, hingga Kalong.

Film Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot dirilis pada 29 Agustus dan hingga Rabu (11/9) berhasil menggaet 1,3 juta penonton. Film tersebut bercerita mengenai seorang pemuda bernama Sancaka yang diperankan oleh Abimana Aryasatya. Sancaka mendapat kekuatan super setelah tersambar petir waktu kecil.

Saat dewasa, ia kembali tersambar petir dan ternyata ia memiliki kekuatan super serta mampu mengeluarkan sengatan petir dari tangannya. Dengan kekuatan itu, ia kemudian para penjahat yang menindas rakyat kecil.

Tokoh Gundala berasal dari tokoh pahlawan di komik Gundala Putra Petir karya Harya Suryaminata atau Hasmi. Komik tersebut terinspirasi dari tokoh legenda Jawa, Ki Ageng Selo, yang bisa menangkap petir dengan tangannya.

Baca juga: Lukanya batin Gundala dan rating Joko Anwar

Baca juga: “Gundala”, sebuah bukti Indonesia mampu bermain di genre superhero

Baca juga: Abimana akui peran pengganti Gundala demi keamanan

Pewarta: Indriani
Editor: Andi Jauhary
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ditanya soal Brad Pitt, ini jawaban Maddox Jolie-Pitt

Jakarta (ANTARA) – Anak pertama Angelina Jolie, Maddox Jolie-Pitt, mengungkapkan hubungannya dengan Brad Pitt dalam sebuah video yang didapat In Touch.

“Aku tak tahu soal itu, memangnya apa yang terjadi?” kata Maddox saat ditanya paparazi apakah sang ayah akan mengunjunginya di Universitas Yonsei, Korea Selatan, tempat dia kini menimba ilmu.

Harper Bazaar melansir pada Rabu (11/9) bahwa paparazi lanjut bertanya apakah hubungan Maddox dan sang ayah sudah berakhir.

“Apa yang terjadi terjadilah,” kata mahasiswa jurusan biokimia itu.

Baca juga: Putra Angelina Jolie mulai kuliah di Universitas Yonsei

Saat itu Maddox juga sempat menjawab singkat soal perasaan saudara-saudaranya, Zahara, Pax, Shiloh, Vivienne, dan Knox soal dia sekolah di Yonsei.

“Ya kurasa,” jawabnya singkat.

Itu adalah pertama kalinya anak pasangan yang dulu dijuluki Brangelina itu buka suara soal kabar hubungan mereka yang tak akur dengan sang ayah.

Pada 2016, beredar rumor Maddox bertengkar dengan Brad Pitt saat mereka berada di jet pribadi sehingga menyebabkan Angelina Jolie mengajukan cerai terhadap aktor tersebut.

Sejak itulah Maddox dan Brad Pitt jarang berkomunikasi.

Sementara itu, Brad Pitt baru-baru ini berbicara pada publik bahwa dia berhenti minum alkohol sejak bercerai dari Jolie.

Dalam sebuah wawancara dengan The New York Times, aktor tersebut mengungkapkan bahwa ia bergabung dengan grup Alcoholics Anonymous.

“Saya sudah berusaha sejauh yang saya bisa, jadi saya menghilangkan hak minum saya,” katanya. Dia juga berbicara tentang masa itu dalam hidupnya, mengatakan, “Aku punya urusan keluarga yang sedang berlangsung. Kita akan berhenti di situ.”

Baca juga: Angelina Jolie keliling kampus anaknya di Korea Selatan
 

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Gina S Noer: Habibie sosok yang percaya kekuatan film

Jakarta (ANTARA) – Penulis naskah film “Habibie & Ainun” (2013), Gina S Noer mengatakan bahwa Presiden Ketiga Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie merupakan sosok yang sangat percaya pada kekuatan film untuk menyalurkan sebuah gagasan dan nilai.

Baca juga: Asal mula nama Habibie

“Beliau merupakan sosok yang sangat percaya bahwa film dan cerita memiliki kekuatan untuk membagikan kecintaannya terhadap bangsa,” ujar Gina saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Rabu.

Sutradara film “Dua Garis Biru” ini kemudian mengenang Habibie sebagai pribadi yang terbuka dan seorang “problem solver” yang handal. Gina menuturkan bahwa banyak pelajaran yang bisa diambil dari nasehat dan masukan Habibie kepadanya.

“Dan dari beliau, saya belajar untuk fokus kepada tujuan hidup saya, dan besar sekali pengaruhnya buat saya sebagai penulis,” kata Penulis Skenario Film Terbaik di Festival Film Indonesia 2013 untuk film “Habibie & Ainun” ini.

Gina kemudian menyampaikan belasungkawa atas berpulangnya BJ Habibie. Ia berharap, orang-orang yang ditinggalkan Habibie dapat terus menjaga amanahnya untuk nusa dan bangsa.

Bacharuddin Jusuf Habibie atau BJ Habibie mengembuskan nafas terakhirnya di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, pada pukul 18.05 WIB di usia 83 tahun.

Wafatnya BJ Habibie diumumkan putranya Thareq Habibie, setelah sehari sebelumnya disebutkan bahwa kondisi kesehatan BJ Habibie mulai stabil setelah menjalani perawatan di ruang ICU RSPAD Gatot Subroto Jakarta Pusat.

Baca juga: “Habibie & Ainun 3” tetap tayang tanpa Jefri Nichol

Baca juga: Film kisah cinta Habibie dan Ainun akan dibuat lima seri

Baca juga: BJ Habibie pilih BCL untuk perankan Ainun
 

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BJ Habibie wafat, Kemendikbud sebut film Habibie fenomenal

Dunia perfilman telah kehilangan putra terbaik bangsa,

Jakarta (ANTARA) – Kepala Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Maman Wijaya mengatakan film yang diangkat dari biografi Presiden ketiga Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie fenomenal.

“Film-film beliau fenomenal dan banyak yang menyukainya,” ujar Maman di Jakarta, Rabu.

Dua film diangkat dari biografi BJ Habibie yakni Habibie & Ainun dan Rudy Habibie meraih penonton di atas dua juta penonton selama masa penayangannya. Habibie & Ainun ditonton 4,58 juta penonton, sedangkan Rudy Habibie sebanyak 2,01 juta penonton.

Baca juga: Film kisah cinta Habibie dan Ainun akan dibuat lima seri

​​​​
Film tersebut diangkat dari memoar Habibie, mengenai kisah hidupnya bersama istri tercinta Ainun Habibie dalam buku Habibie dan Ainun.

“Dunia perfilman telah kehilangan putra terbaik bangsa, seorang teknokrat dan negarawan yang memiliki kepedulian nyata terhadap perfilman nasional, yang telah secara konkret turut memajukan film Indonesia,” terang dia.

Baca juga: “Rudy Habibie” raih Film Terpuji FFB 2016

BJ Habibie meninggal akibat gangguan pada jantung pada Rabu pukul 18.05 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta.

Habibie dirawat di RSPAD sejak 1 September dan ditangani 44 tim dokter dipimpin oleh tim dokter kepresidenan.

Habibie lahir di Parepare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1936. Selain pernah menjadi presiden, Habibie juga pernah menjabat sebagai Wakil Presiden, dan Menteri Riset dan Teknologi. Habibie juga mempelopori lahirnya industri penerbangan di Tanah Air.*

Baca juga: “Habibie & Ainun 3” tetap tayang tanpa Jefri Nichol
 

Pewarta: Indriani
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

BJ Habibie wafat, Ernest Prakasa berduka

Jakarta (ANTARA) – Sutradara, penulis, dan stand-up comedian Ernest Prakasa menyampaikan pernyataan berduka atas berpulangnya Presiden Republik Indonesia ketiga, Bacharuddin Jusuf Habibie di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta pada Rabu.

“Turut berdukacita mendalam atas meninggalnya Eyang BJ Habibie. Selamat beristirahat dengan tenang,” cuit Ernest di Twitter disertai emoji hati di belakangnya.

Ernest pernah terlibat dalam film biopik “Rudy Habibie” pada 2016. Dalam film itu ia berperan sebagai Liem Keng Kie.

Ernest sempat berbagi cerita beberapa waktu lalu, bahwa Habibie merupakan tokoh yang sangat mendukung industri perfilman di Indonesia.

Sementara itu, BJ Habibie mengembuskan napas terakhirnya di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat, pada pukul 18.05 WIB dalam usia 83 tahun.

Wafatnya BJ Habibie diumumkan putranya Thareq Habibie, setelah sehari sebelumnya disebutkan bahwa kondisi kesehatan BJ Habibie mulai stabil usai menjalani perawatan di ruang ICU Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto Jakarta Pusat.

Baca juga: Habibie, jenius pembuat pesawat itu telah pergi

Baca juga: Duka Melanie Subono atas meninggalnya BJ Habibie

Baca juga: Habibie wafat, Jokowi ungkap bela sungkawa di RSPAD Gatot Subroto

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Pandji Pragiwaksono kenang sosok ramah dan enerjik Habibie

Satu lagi negarawan meninggalkan negeri

Jakarta (ANTARA) – Aktor Pandji Pragiwaksono mengaku sangat terkenang dengan sosok Presiden RI ke-3, Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie, sebagai sosok dengan pribadi yang ramah, selalu enerjik dan penuh semangat.

Pandji yang pernah membintangi film biopik BJ Habibie yang berjudul “Rudy Habibie” itu mengatakan akan sangat merindukan sosok seperti Habibie.

“Beliau adalah sosok yang sangat sangat ramah. Sangat enerjik. Semangat dalam hatinya yang mendikte tubuhnya,” kata Pandji Pragiwaksono saat dihubungi Antara di Jakarta, Rabu.

Pria yang juga dikenal sebagai komika itu juga terkenang dengan semangat Habibie yang menggebu ketika membicarakan masalah kebangsaan.

“Kalau berbicara mengenai kebangsaan matanya berapi-api dan tenaganya seakan muda kembali,” ujarnya.

Namun Pandji mengatakan ada satu momen yang tidak akan pernah dilupakan dari sosok Habibie, yaitu ketika pernah melayangkan pujian atas aktingnya dalam film “Insya Allah Sah”.

“‘Hebat kamu, susah lho akting seperti itu’, ucap beliau usai nonton ‘Insya Allah Sah’ yang lebih menggambarkan kebaikan hati almarhum ketimbang kualitas akting saya,” kenang Pandji.

Pandji menambahkan, “Satu lagi negarawan meninggalkan negeri yang dicintainya. A very kind – one of a kind, person,” imbuhnya.

Baca juga: “Rudy Habibie” raih Film Terpuji FFB 2016

Baca juga: Habibie ungkap dua calon kandidat aktor sebelum Reza Rahadian

Baca juga: Salah paham Habibie soal BCL mengundang tawa (video)

Pewarta: Yogi Rachman
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Menelusuri teka-teki dan misteri dalam film “Lorong”

Jakarta (ANTARA) – Film “Lorong” menceritakan Mayang (Prisia Nasution) yang mendapatkan kabar bahwa anak yang baru saja ia lahirkan tidak selamat. Diselimuti rasa sedih, sang suami, Reza (Winky Wiryawan) pun meyakinkan istrinya bahwa anaknya telah meninggal.

Hal itu membuat Mayang merasa tidak percaya. Ia berusaha meyakinkan suami dan dokter Vera (Nova Eliza) bahwa ketika proses persalinan, ia mendengar suara tangis anaknya.

Dia lantas menghubungi pihak kepolisian untuk mencari titik terang kasus janggal ini. Usaha Mayang menemui jalan buntu setelah pihak rumah sakit berhasil memberikan bukti berupa dokumen kematian bayinya, lengkap dengan beberapa foto kejadian.

Insting Mayang sebagai seorang ibu kemudian menuntun dirinya untuk menemukan si bayi. Hal ini membuat semua orang di rumah sakit yakin bahwa Mayang depresi dan mulai berhalusinasi, termasuk oleh suaminya sendiri.

Perjuangan Mayang juga dihantui oleh roh penasaran yang mengikutinya kemana pun ia pergi, sehingga menimbulkan ketakutan pada dirinya yang sudah dianggap gila itu.
  Cuplikan adegan dalam film “Lorong”. (MVP Pictures)

Film yang disutradarai oleh Hestu Saputra tersebut membalut emosi dibungkus dengan ketegangan (suspense), serta ditambah dengan sentuhan horor yang diklaim sesuai dengan logika cerita di realita kehidupan.

Hestu dalam pernyataannya di Gala Premiere film terbarunya itu mengatakan bahwa tujuan dari “Lorong” adalah untuk mencampuradukkan psikologi penonton karena memiliki misteri di setiap potongan adegannya.

“Lorong”, meskipun diklaim sebagai film suspense/thriller, rupanya memiliki sentuhan drama yang cukup kuat, mengingat sutradara Hestu Saputra dikenal dengan karya film ber-genre drama.

Tak hanya itu, kehadiran Teuku Rifnu Wikana sebagai tokoh Darmo yang tidak banyak bicara ini rupanya mengundang tawa dan menambah kesegaran di dalam film yang didominasi dengan tone warna gelap itu.

Perjuangan Mayang menelusuri misteri di balik lorong-lorong rumah sakit ini dapat disaksikan di bioskop pada 12 September mendatang.

Baca juga: Winky Wiryawan jatuh cinta dengan akting Prisia Nasution

Baca juga: Absen 18 tahun, Winky Wiryawan perlu adaptasi untuk film horor

Baca juga: Prisia Nasution usul tiap KBRI adakan pekan film Indonesia

Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Christian Bale sebut Robert Pattinson pilihan bagus untuk “Batman”

Jakarta (ANTARA) – Aktor Christian Bale menyebut Robert Pattinson adalah pilihan yang bagus untuk film “Batman”.

“Pilihan yang bagus! Dia menarik,” kata Bale saat diwawancara Variety di sela-sela gelaran Festival Film Toronto (TIFF), pada Minggu (8/9).

Bale diwawancara bersama dengan rekan mainnya dalam film “Ford v. Ferrari” Matt Damon yang menyepakati pernyataan Bale tersebut.

“Kau nonton film Safdie bersaudara yang dia mainkan?” Kata Damon bertanya. “Dia luar biasa lho.”

Baca juga: Joaquin Phoenix tak akan jadi Joker di film “The Batman”
​​​​​
Bale yang jadi pemeran sang Dark Knight dalam trilogi film Batman versi sutradara Christopher Nolan pada 2000-an pernah berbicara tentang mengenakan kostum Batman yang susah dan membutuhkan bantuan banyak kru.

Saat ditanya soal nasehat buat Pattinson, Bale mengatakan pesan yang sama yang dia berikan pada Ben Affleck.​​​​

“Pastikan kamu bisa pipis sendiri tanpa bantuan orang lain. Kau tak akan merasa seperti pahlawan super kalau tak bisa pipis sendiri,” ujar Bale.

Dalam film “Ford v. Ferrari”, Christian Bale dan Matt Damon berperan sebagai legenda balap Ken Miles (Bale) dan Carroll Shelby yang bersama-sama membuat mobil balap untuk Ford Motor Company pada 1960-an.

Baca juga: Kristen Stewart dukung Robert Pattinson perankan Batman

“Kami benar-benar fokus menempatkan kalian dalam sudut pandang pengemudi,” kata sutradara James Mangold. “Aku tidak ingin itu terlihat seperti apa yang kau lihat di siaran olahraga.”

Dalam film itu, Bale dan Damon mengendarai mobil sendiri meski bukan mobil asli.

“Kami mengendarai mobil yang merupakan mobil kit yang memiliki mesin seperti Mazda Miata,” kata Damon sembari tertawa. “Tapi mereka berjalan cukup cepat. GT 40 asli yang selamat dari era itu adalah mobil seharga 25 juta dolar yang sekarang ada di museum.”

Bale menambahkan, “Aku ingin mengatakan ‘Ya ampun, kami sudah menyetir sendiri,’ tetapi saya harus terus mengingatkan diri sendiri. Aku berlagak seolah-olah tahu apa yang kulakukan, dan kita punya beberapa pebalap terbaik di dunia. Jika kita ikut balap betulan, urutan balap itu tidak akan semenarik ini.”

“Ford v. Ferrari,” yang diputar di Toronto Film Festival, tayang di bioskop AS pada 19 November.

Baca juga: Robert Pattinson sempat kesal perannya di “Batman” bocor

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019