“Alita: Battle Angel”, film yang tertunda 20 tahun

Jakarta (ANTARA News) – Alita tidak bisa mengingat siapa dirinya setelah Dr. Dyson Ido memperbaikinya dan memperkenalkannya pada kehidupan di Iron City.

Alita (Rosa Salazar), seorang cyborg, tiba-tiba tertarik pada olahraga motorball, yang dimainkannya bersama teman manusia Hugo. Semua makhluk yang tinggal di kota punya impian untuk dapat pergi ke kota terapung Zalem karena kehidupan di Iron City sangat tidak menguntungkan sejak perang dengan United Republic of Mars ratusan tahun yang lalu.

Hanya ada dua cara bagi para penduduk kota untuk bisa naik ke Zalem, menang motorball atau menjadi Ksatria Pemburu (Warrior Hunter) dan mendapat bayaran yang akan dihitung sebagai kredit untuk bisa ke Zalem. 

Tertunda 20 tahun

“Alita: Battle Angel” diangkat dari serual manga Jepang “Gunm” buatan Yukito Kishiro, cerita ini juga dikenal sebagai “Battle Angel Alita”. Laman Hollywood Reporter menulis James Cameron tertarik mengadaptasi manga tahun 90an ini sejak 2003 lalu.

Sayangnya, Alita harus tertunda karena Cameron juga menyiapkan film “Avatar”, salah satu film populer sepanjang masa dan film terkenal Cameron lainnya setelah “Titanic”.

Film ini terus tertunda, namun, Cameron masih berminat menggarapnya. Sutradara Robert Rodriguez akhirnya masuk ke dalam proyek film “Alita: Battle Angel”, Cameron menjadi produser dan penulis naskah.

Cerita versus CGI

Film ini mungkin diuntungkan oleh penundaan hingga lebih dari 20 tahun, computer generated image (CGI) yang dipakai di film ini sangat halus sehingga cyborg dapat hadir dengan kepala manusia betulan dan terlihat natural dengan keadaan di sekitarnya.
  Salah satu adegan dalam film “Alita: Battle Angel” karya sutradara Robert Rodriguez. (foxmovies.com)

Pertempuran para cyborg maupun olahraga motorball, campuran bermain basket dengan sepatu roda tampil memukau berkat teknologi ini.

Permainan motorball menjadi salah satu adegan  yang menarik sepanjang film, namun, penonton perlu berhati-hati jika ingin mengajak anak-anak untuk menonton film ini karena adegan tersebut cukup brutal: para cyborg keluar hidup-hidup atau mati terpotong-potong di arena motorball.

“Alita: Battle Angel” mencampurkan kehidupan manusia di masa depan dengan para cyborg, bukan hal yang aneh dalam film ini melihat kepala manusia dengan badan robot, namun, dapat bergerak secara luwes seperti manusia betulan.

Begitu juga yang terjadi dengan Alita, dia berpakaian layaknya remaja usia 17 tahunan, namun seluruh badannya, kecuali kepala, merupakan robot.

Wajah Rosa Salazar, pemeran Alita, direkayasa sedemikian rupa hingga menjadi animasi hidup khas seperti yang bisa ditemui di anime, rambut lurus, bibir mungil, dagu runcing dan bermata besar. Tampilan Alita kontras dengan cyborg lain, yang umumnya berwajah seperti manusia biasa (bukan seperti kartun) dipasangkan ke badan robot.

Efek visual CGI yang memukau tidak diimbangi dengan alur cerita, jalinan kisah “Alita:Battle Angel” agak sulit dipahami. Entah bagaimana, Alita yang semula tidak mengetahui siapa dirinya dan apa kemampuannya sebagai cyborg, menjelma menjadi cyborg mungil yang super kuat hingga bisa mengalahkan salah satu cyborg paling ditakuti di kota, Zapan, hingga pemimpin para cyborg jahat, Grewishka.
  Salah satu adegan dalam film “Alita: Battle Angel” karya sutradara Robert Rodriguez. (foxmovies.com)

Belakangan, masa lalu Alita terkuak, namun, tidak cukup menjawab mengapa dia bisa menjadi begitu kuat. Kekuatan tersebut seolah datang begitu saja bahkan tanpa perlu berlatih atau, formula yang sering dipakai untuk para superhero Hollywood, muncul tidak sengaja dan membuat kaget sang empunya.

Begitu kuatnya Alita, dia masih bisa bertahan dan memukul mundur Grewishka dalam kondisi badan robotnya sudah terlepas, menyisakan torso dan kepala, sesuatu yang hampir tidak terjadi di cyborg lain yang langsung mati atau tidak berdaya begitu anggota tubuhnya terlepas.

Akhir film ini mengesankan akan ada sekuel “Alita: Battle Angel”, hal itu juga mungkin yang membuat cerita cukup Alita membingungkan. 

“Alita: Battle Angel” dibintangi Jennifer Connely, Christoph Waltz, Mahersala Ali dan Ed Skrein, meluncur di Inggris Raya sejak 31 Januari lalu. Film ini akan tayang di Indonesia mulai 5 Februari.

Baca juga: Sutradara “Lord of The Rings” garap film dokumenter The Beatles

Baca juga: Jake Gyllenhaal jadi kritikus seni di film “Velvet Buzzsaw”

Baca juga: Film dokumenter Michael Jackson “Leaving Neverland” hebohkan Sundance

Baca juga: “Untouchable”, film dokumenter soal Harvey Weinstein diputar di Sundance

Pewarta: Natisha Andarningtyas
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019