Daniel Craig akan operasi pergelangan kaki, film “Bond” sesuai jadwal

Jakarta (ANTARA) – Aktor James Bond, Daniel Craig, akan menjalani operasi pergelangan kaki akibat cedera saat menjalani pengambilan gambar film terbaru kisah agen rahasia itu, seperti dilansir Reuters.

Namun operasi itu tidak mengganggu jadwal penayangan yang direncanakan berlangsung pada April 2020, kata produser, Rabu (22/5).

Unggahan dari akun Twitter resmi James Bond mengatakan itu adalah operasi kecil di mana Craig cedera saat syuting di Jamaika.

“Produksi akan berlanjut sembari Craig rehabilitasi selama dua pekan pascaoperasi. Jadwal penayangan masih sama pada April 2020,” bunyi cuitan itu.

Film yang belum punya judul itu akan jadi film kelima Craig berperan jadi agen rahasia Inggris terkenal itu.

Media Inggris melaporkan bahwa Craig (51), terpeleset dan cedera di lokasi syuting pekan lalu saat melakukan adegan laga.

Film agen rahasia itu jadi salah satu film dengan profit besar di dunia. Film “Spectre” pada 2015 yang diarahkan sutradara Sam Mendes mendapatkan 880 juta dolar AS dari box office global, sementara “Skyfall” (2012) meraup lebih dari 1 miliar dolar AS dari bioskop global.

Film terbaru James Bond disutradarai oleh Joji Fukunaga.

Baca juga: Kata Rami Malek soal peran penjahat di “Bond 25”

Baca juga: Aston Martin luncurkan karya klasik dari James Bond

James Riyadi Bersaksi di Sidang Perkara Meikarta

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Zhang Ziyi jadi ketua dewan juri Festival Film Tokyo 2019

Jakarta (ANTARA) – Aktris China Zhang Ziyi dipilih menjadi ketua dewan juri kompetisi internasional di Festival Film Internasional Tokyo (TIFF) ke-32.

“Kami sangat senang menyambut Zhang Ziyi sebagai ketua dewan juri kompetisi,” kata Direktur Festival TIFF Takeo Hisamatsu dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Jakarta, Kamis.

Zhang Ziyi, menurut Hisamatsu, adalah aktris ternama yang diakui di dunia dan penampilan dalam film pertamanya berjudul “The Road Home” masih tidak terlupakan.

“Dia juga membintangi film ‘Princess Raccoon’ dari Seijun Suzuki yang membuatnya mendapatkan banyak penggemar Jepang,” ujar Hisamatsu yang menambahkan tidak sabar bekerjasama dengan sang aktris pada 2019.

Zhang, yang merayakan 20 tahun karirnya itu, sudah membintangi sederet film terkemuka, seperti “Crouching Tiger, Hidden Dragon” yang disutradarai Ang Lee maupun “Memoirs of a Geisha” arahan Rob Marshall yang membuatnya masuk nominasi Aktris Terbaik di BAFTA dan Golden Globe Awards.

Baca juga: Elle Fanning jadi juri Festival Film Cannes

Aktris berusia 39 tahun itu mengenang pengalamannya saat pertama kali ke Tokyo bertahun-tahun lalu saat membintangi film panjang pertamanya “The Road Home”.

“Saya terharu dengan kehangatan penonton yang menyaksikan ‘The Road Home’. Saya melihat sendiri cinta yang dicurahkan Jepang untuk seni pembuatan film,” ujar perempuan kelahiran Beijing itu.

Zhang mengaku bangga bisa berpartisipasi dalam Festival Film Tokyo 2019 untuk menghabiskan waktu bersama para pencinta film di Jepang.

“Memimpin dewan juri tahun ini akan jadi pengalaman berharga untuk bekerjasama dengan sesama sineas dalam menemukan dan merayakan film-film hebat,” ujar Zhang.

Baca juga: Sineas: Tidak ada yang istimewa dari Piala Oscar 2019

Festival sahur-sahur Mempawah masuk rekor Muri

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Festival Film Internasional Shanghai 2019 umumkan dewan juri

Jakarta (ANTARA) – Festival Film Internasional Shanghai (SIFF) 2019 mengumumkan daftar dewan juri yang berasal dari berbagai negara untuk memutuskan pemenang Golden Goblet Award.

Sutradara Turki Nuri Bilge Ceylan dipercaya menjadi ketua juri kompetisi film panjang bersama sutradara Italia Paolo Genovese, sutradara Rusia Aleksey German JR., sutradara India Rajkumar Hirani, produser Meksiko Nicolas Celis dan aktor China Wang Jingchun serta aktris Zhao Tao.

Kemudian, untuk kompetisi film dokumenter, dewan juri terdiri dari sutradara Rusia Viktor Kossakovsky, produser Belanda Isabelle Arrate Fernandez dan sutradara China Zhou Hao.

Kompetisi film animasi akan dinilai oleh sutradara Irlandia Tomm Moore bersama sutradara Mongolia Myagmar Sodnompil dan produser China Gao Weihua, demikian seperti dikutip dari keterangan resmi SIFF, Jumat.

Sementara para kandidat kompetisi film pendek akan dinilai oleh sutradara Amerika Raul Garcia bersama sutradara Portugis Leonel Vieira dan sutradara China Sonthar Gyal.

Pemenang Golden Goblet Awards akan diumumkan pada 23 Juni mendatang.

Festival film yang berlangsung pada 15-24 Juni ini juga merayakan tema 70 tahun Republik Rakyat China, di mana bakal ada 12 film panjang dua dokumenter dari berbagai periode yang memperlihatkan kejadian-kejadian bersejarah selama masa itu.

Film-film dari negara Asia lain juga akan ditampilkan pada bagian panorama, termasuk di antaranya Indonesia, Iran, Thailand, India dan Jepang.

Baca juga: Zhang Ziyi jadi ketua dewan juri Festival Film Tokyo 2019
 

Festival sahur-sahur Mempawah masuk rekor Muri

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Aktor Joo Ji-hoon akan mulai tur perdana di Asia

Jakarta (ANTARA) – Aktor asal Korea Selatan, Joo Ji-hoon akan mengadakan tur pertamanya di beberapa kota di Asia untuk bertemu para penggemarnya pada Juli mendatang.

Seperti dilansir Soompi, Jumat, acara jumpa penggemar bertajuk “All About Joo Ji-hoon,” akan dimulai di Seoul pada 21 Juli 2019, dilanjutkan di Bangkok, Hong Kong dan Taipei.

Belum ada informasi apakah Jakarta atau kota lainnya di Indonesia menjadi bagian dari tur Ji-hoon.

Sang aktor belum lama ini membintangi serangkaian film dan drama populer termasuk seri “Along with the Gods”,”The Spy Gone North”, “Dark Figure of Crime”, dan seri populer Netflix “Kingdom”, yang memasuki musim kedua.

Baca juga: DJ Khalid ungkap persahabatannya dengan BTS

Baca juga: Psy “Gangnam Style” akan luncurkan album baru Juli
 

Ribuan bibit lobster hasil sitaan dilepasliarkan

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Harvey Weinstein dan penggugat capai kesepakatan kompensasi

Jakarta (ANTARA) – Harvey Weinsten, perempuan-perempuan yang menuduhnya melakukan pelecehan seksual, dewan direksi bekas studio filmnya dan kantor kejaksaan umum New York telah mencapai kesepakatan tentatif senilai 44 juta dolar AS untuk menyelesaikan masalah hukum dan memberi kompensasi terhadap para korban, lapor Wall Street Journal, Kamis (23/3).

Kesepakatan itu, bila ditetapkan, akan menyelesaikan gugatan dari kejaksaan umum New York tahun lalu yang menuduh para dewan direksi Weinstein Co gagal untuk melindungi para pekerja dari lingkungan kerja yang tidak aman dan dari pelecehan seksual Weinstein.

Perwakilan dari Harvey Weinstein dan Weinstein Co tidak merespons permintaan untuk berkomentar. Sebelumnya, Weinstein selalu membantah melakukan hubungan seks tanpa paksaan dengan siapa pun.

Nama baik pria yang meraih banyak penghargaan melalui perusahaannya dan studio lain, Miramax, untuk film-film seperti “Shakespeare in Love” dan “The King’s Speech”, langsung tercoreng ketika lebih dari 70 perempuan, sebagian besar aktris muda dan orang-orang di dunia film, menuduhnya melakukan pelecehan seksual yang telah berlangsung puluhan tahun.

Ketika tuduhan itu makin menggunung, perusahaan Weinstein Co memecatnya dan menyatakan kebangkrutan. Weinstein juga ditendang dari Academy of Motion Picture Arts and Sciences.

Kasus yang menimpa Weinstein mencetuskan gerakan #MeToo, yang membuat banyak tuduhan pelecehan seksual ditujukan pada pria-pria berkuasa di dunia hiburan, politik dan bidang lain.

Baca juga: “Untouchable”, film dokumenter soal Harvey Weinstein diputar di Sundance

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sylvester Stallone promosi Rambo V di Festival Film Cannes

Artis kawakan Amerika Serikat, Sylvester Stallone menghadiri Festival Fim Cannes untuk promosi film terbarunya Rambo V: Last Blood di Paris, Jumat (24/5/2019). Film terbaru Rambo V yang disutradari oleh Adrdrien Grunberg itu rencananya akan ditayangkan pada 20 September mendatang. ANTARA FOTO/REUTERS/Eric Gaillard/pras.

Artis film “Preman Pensiun” jualan keripik kicimpring di Garut

Garut (ANTARA) – Sejumlah artis dalam film dan sinetron “Preman Pensiun” menggelar aksi sosial dengan berjualan makanan khas dari bahan baku singkong yakni keripik kicimpring di Bunderan Simpang Lima, Kabupaten Garut, Jawa Barat, menjelang buka puasa, Jumat.

Sejumlah artis salah satunya pemeran utama dalam film “Preman Pensiun” EpyEpy Kusnandar atau Kang Mus menawarkan langsung kepada masyarakat atau pengguna jalan yang melewati jalan utama pusat kota itu.

Epy Kusnandar menyampaikan, kicimpring yang dijajakannya dihargai Rp10 ribu untuk satu bungkus yang nantinya uang hasil dari jualan tersebut akan diamalkan untuk kegiatan-kegiatan sosial guna membantu warga yang kurang beruntung.

“Ini kicimpring amal, kami jualan kicimpring, terus dana yang terkumpul akan dipakai untuk kegiatan amal,” katanya.

Ia mengungkapkan, dana dari jualan itu rencananya akan disalurkan ke sejumlah lembaga pendidikan, pesantren, dan orang kurang mampu yang membutuhkan bantuan.

Kegiatan yang sudah dilakukan, kata Epy, yakni melalui Yayasan Amal Aris Nugraha Peduli (ANP) yang didirikan oleh Sutradra Preman Pensiun, seperti membangun masjid di Tarogong Kidul, Garut.

“Sebelum jualan, kami juga menyapa para santri di Ponpes Yadul Ulya di Tarogong Kidul, sejak beberapa bulan lalu, kami menggalang dana untuk membangun masjid di sana,” katanya.

Kehadiran sejumlah artis “Preman Pensiun” itu mendapatkan perhatian dan disambut meriah oleh warga yang melewati Bunderan Simpang Lima Garut, bahkan tidak sedikit warga turun dari kendaraannya hanya untuk membeli dan meminta foto bersama dengan artis.

Sebelumnya, makanan ringan kicimpring itu dalam tayangan film “Preman Pensiun” menjadi lahan usaha Kang Mus setelah berhenti menjadi pimpinan preman, bahkan usaha tersebut merupakan sumber mata pencaharian bagi beberapa mantan preman dalam film itu.

Baca juga: Ica Naga mengaku karakternya mirip Kang Pipit di “Preman Pensiun”

Baca juga: Keluarga kenang peran Didi Petet di “Preman Pensiun”

Keluarga Cemara curi perhatian masyarakat Inggris

London (ANTARA) – Film “Keluarga Cemara” berhasil mencuri perhatian penonton setelah berhasil menguras emosi penonton karena telah menyajikan nilai-nilai keluarga yang secara tradisional ada di Indonesia.

Dalam perhelatan ASEAN Film Festival, KBRI London menghadirkan film “Keluarga Cemara” dalam sesi screening film “Keluarga Cemara” mendapat sambutan yang positif dari penonton yang terdiri dari kalangan umum, tamu undangan ASEAN London Committee (ALC) dan staf kedutaan besar negara-negara ASEAN di Inggris yang ditayangkan di SOAS University, London, Kamis malam (23/5)

Pensosbud KBRI London Juliartha Nugrahaeny Pardede kepada Antara London, Jumat menyebutkan dalam sesi after screening discussion, Hana A. Satriyo, istri Dubes RI London yang notabene sebagai pemerhati masalah-masalah sosial dan Eric Sasono dari Indonesian Film Society bertindak sebagai nara sumber dan Ben Murtagh dari SOAS bertindak sebagai moderator.

Hana A Satriyo menyampaikan bahwa Keluarga Cemara merupakan film nostalgia yang sukses menyajikan genre film keluarga yang memadukan drama, komedi dan kelucuan yang menampilkan problematika keluarga yang dekat dengan masyarakat Indonesia dan ASEAN pada umumnya. Kombinasi yang harmonis tersebut telah berhasil membuat penonton larut dalam film.

Sementara itu Eric Sasono memiliki pendapat yang serupa dengan Ibu Hana Satriyo dan menambahkan bahwa film Keluarga Cemara telah berhasil menunjukkan adanya perubahan nilai-nilai keluarga di industri perfilman Indonesia.

Film Keluarga Cemara menampilkan secara apik tradisi keluarga Indonesia dalam proses pengambilan keputusan dalam keluarga yang umum ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Pada akhirnya, Ben Murtagh menyimpulkan bahwa Keluarga Cemara merupakan film yang sangat komplit dalam menyajikan drama dan komedi yang juga didukung oleh sisi musikal dan tarian yang indah sehingga Keluarga Cemara menjadi film yang sangat menarik dan mudah dinikmati oleh seluruh anggota keluarga.

Pemutaran film Keluarga Cemara dalam ASEAN Film Festival diharapkan dapat memberikan sudut pandang baru bagi insan film di Inggris mengenai perkembangan industri perfilman di Indonesia.

Buka puasa bersama keluarga di rumah tahanan

Pewarta: Zeynita Gibbons
Editor: Heru Dwi Suryatmojo
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jadwal tayang “Sonic The Hedgehog” mundur akibat desain ulang

Jakarta (ANTARA) – Film “Sonic The Hedgehog” terpaksa mundur penayangannya hingga 14 Februari 2020 menyusul desain ulang tampilan Sonic.

Film yang terinspirasi dari video game itu mendapat kritikan dari para penggemar setelah cuplikan film dirilis. Banyak penggemar yang menyebutkan jika tampilan Sonic sangat menyeramkan terlebih pada bagian gigi.

Sang sutradara Sonic The Hedgehog Jeff Fowler beserta tim desainnya akan kembali bekerja untuk memikirkan tampilan ulang Sonic.

“Mengambil sedikit waktu lagi untuk membuat Sonic benar,” kata Fowler dilansir Aceshowbiz, Sabtu.

“Terima kasih atas dukungannya. Dan kritiknya. Pesannya keras dan jelas. Anda tidak senang dengan desain & Anda ingin perubahan. Ini akan terjadi. Semua orang di Paramount & Sega berkomitmen penuh untuk membuat karakter ini menjadi yang terbaik,” lanjutnya.

“Sonic The Hedgehog” semula dijadwalkan tayang pada November 2019. Para penggemarnya pun harus bersabar hingga 2020 agar mendapatkan Sonic versi terbaik.

Film tersebut akan menampilkan Jim Carrey, James Marsden, dan Ben Schwartz sebagai pengisi suara Sonic.

Cerita Maxime Bouttier main Film Kuntilanak 2

Penerjemah: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Alasan pusar Jasmine tertutup dalam “Aladdin” live action

Jakarta (ANTARA) – Busana ikonis tokoh Jasmine dari film animasi “Aladdin” yang terdiri dari celana harem dan atasan turqoise yang memperlihatkan bahu serta perut dan pusarnya dirombak dalam versi film live action.

“Film kartunnya dibuat pada 1992. Kami ingin membuat film live action jadi lebih modern dan beberapa hal tidak pantas untuk keluarga saat ini,” ujar produser “Aladdin” Dan Lin.

Salah satu perubahan itu adalah busana Jasmine yang lebih tertutup dalam versi film live action.

Naomi Scott (26), aktris pemeran Jasmine, mengatakan keputusan kostumnya “adalah yang paling cocok untuk masa ini. Kupikir, itu keputusan yang tepat,” katanya seperti dilansir USA Today.

Baca juga: Ini dia pemeran Aladdin live action

Produser Jonathan Eirich punya alasan lain membuat kostum Jasmine lebih tertutup: istrinya.

“Dia bilang aku akan dibunuh bila Jasmine memakai baju dengan perut terbuka, atau setidaknya diceraikan,” ujar Eirich. “Aku masih menikah,” katanya.

Busana Jasmine bukan satu-satunya hal yang dirombak dalam versi live action. Aladdin, yang biasanya tampil hanya dengan rompi ungu dan celana, juga mengenakan baju dalam film itu.

Baca juga: “Aladdin” hadirkan kisah 1001 yang penuh keajaiban

Mempopulerkan tenun Masalili melalui peragaan busana

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Koki Koki Cilik 2” hadirkan pemain-pemain baru

Jakarta (ANTARA) – MNC Pictures menghadirkan sekuel film “Koki Koki Cilik” dengan beberapa pemain baru dan pengembangan cerita dari sebelumnya.

“Beberapa karakter yang tidak lagi bermain dalam film kedua itu karena umur mereka sudah masuk usia remaja, bukan anak-anak,” ujar EVP MNC Pictures Muhammad Sofan dalam keterangan resmi yang diterima Antara, Sabtu.

Salah satu pemain yang tidak lagi terlibat dalam film “Koki Koki Cilik 2” adalah Chloe X yang kini sudah memasuki usia remaja.

“Film pertama itu syuting dua tahun sebelum rilis, menuju film kedua jaraknya empat tahun. Terjadi perubahan di suara, postur, sehingga tidak cocok menyandang kata-kata cilik,” ujar Sofan.

Beberapa pemain baru yang terlibat dalam “Koki Koki Cilik 2” adalah Christian Sugiono sebagai Chef Evan, seorang selebriti chef, Kimberly Ryder sebagai Adel, tante dari Adit, dan Adhiyat sebagai Adhi.

Para pemain “Koki Koki Cilik” yang masih membintangi sekuel itu adalah Ringgo Agus Rahman (Chef Grant), Farras Fatik (Bima), Alifa Lubis, Marcello, Ali Fikri, Romaria, dan Clarice Cutie.

Dari sisi cerita, film yang disutradarai oleh Viva Westi itu lebih banyak menonjolkan unsur drama dan petualangan. Sedangkan pada seri pertamanya, film itu menceritakan tentang kompetisi memasak untuk anak-anak.

“Film kedua itu menceritakan bagaimana mereka (anak-anak di Cooking Camp) menyelamatkan supaya Cooking Camp tidak ditutup,” kata Viva Westi.

Viva mengatakan film “Koki Koki Cilik 2” akan tayang pada 27 Juni 2019 dan diharapkan menjadi edukasi serta motivasi bagi anak-anak.

Baca juga: Kejutan baru di sekuel “Koki-Koki Cilik 2”

Cerita Maxime Bouttier main Film Kuntilanak 2

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Say I Love You”, perjuangan anak-anak tak mampu untuk mandiri

Jakarta (ANTARA) – Perjuangan siswa-siswa SMA Selamat Pagi Indonesia (SPI), di Batu, Malang, Jawa Timur, dalam meraih mimpi dan menggapai cita-cita, telah menginspirasi sutradara Faozan Rizal untuk mengangkat kisah mereka ke layar lebar.

SMA SPI adalah sekolah untuk anak-anak tidak mampu dan menggratiskan semua biaya hingga mereka lulus. Cerita tentang kegigihan siswa SMA SPI itu kemudian diabadikan oleh Faozan lewat film berjudul “Say I Love You”.

“Sebagian besar cerita ‘Say I Love You’ faktual, bukan cerita fiktif. Film ini terinspirasi dari kehidupan siswa-siswa di SMU SPI. Para pelakunya masih ada,” kata sutradara yang sukses menggarap film “Habibie & Ainun” itu di Jakarta, Sabtu.

“Say I Love You” juga menjadi film drama romantis dengan menghadirkan kisah cinta, ujarnya, yang tak jauh berbeda dari kehidupan mereka sesungguhnya, begitu juga perjuangan inspiratif anak-anak sekolah Selamat Pagi Indonesia,

“Mereka berjuang mengubah takdir masa depan mereka. Takdir sebagai anak-anak tak berpunya, juga takdir mereka memperjuangkan cinta,” ujar Faozan.

Film garapan rumah produksi Multi Buana Kreasindo itu dibintangi pemain-pemain muda seperti Dinda Hauw, Aldi Maldini, Teuku Ryzki, Nadira Octova, Amy Namira, Shenina Cinnamon dan Rachel Amanda,

Menurut sang sutradara, “Say I Love You” menjadi film menarik bagi para pemain yang umumnya masih muda karena tidak saja berakting, namun mereka memerankan karakter atau tokoh-tokoh inspiratif yang masih eksis.

“Saya hanya ingin mengajak kita semua untuk tidak takut punya impian besar. Juga untuk mencintai dengan tulus, tanpa mengharapkan apa-apa, murni hanya memberi tanpa meminta. Seperti cinta Koh Jul terhadap anak-anak yatim piatu di SMA Selamat Pagi Indonesia, sebuah sekolah yang didirikan juga dengan impian besar akan pendidikan gratis untuk seluruh anak-anak Indonesia dengan segala bentuk permasalahan yang cukup kompleks,” katanya.

“Say I love You” akan tayang di bioskop Indonesia mulai 4 Juli 2019 bertepatan dengan libur sekolah.

Baca juga: “Koki Koki Cilik 2” hadirkan pemain-pemain baru

Baca juga: Ari Sihasale dan Nia konsisten angkat film Indonesia Timur
 

Rizal Ramli tawarkan resep Prabowo tingkatkan pertumbuhan ekonomi

Pewarta: Subagyo
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Cornelia Agatha: Sarah adalah saya

Jakarta (ANTARA) – 20 tahun memerankan karakter Sarah, membuat Cornelia Agatha merasa bahwa Sarah adalah bagian dari dirinya yang tidak bisa dihilangkan.

“Saya selalu rasakan betul sampai saat ini, saya merasa kalau Sarah itu saya,” kata perempuan yang akrab disapa Lia ini ditemui usai pemutaran perdana film “Si Doel The Movie 2” di Jakarta, Sabtu (25/5) malam.

Baik dalam sinetron pada era 1990-an hingga dua film “Si Doel”, Lia tetap menjaga karakter Sarah dalam hidupnya mulai dari cara berpikir hingga sikap dalam kehidupan sehari-hari.

“Peran udah nempel, udah jadi milik jadi kita paham banget psikologi dan karakternya seperti apa. Seperti ketika tiba-tiba saya main Twitter terus tulis-tulis puisi, itu perasaannya Sarah gitu,” ujarnya.

“Saya merasakan jatuh cintanya Sarah ke Doel, saya konsisten menjaga karakter Sarah pokoknya,” lanjut Lia.

Namun dalam film “Si Doel The Movie 2”, ibu dua anak itu merasa ada perubahan sifat secara signifikan yang dirasakan oleh Sarah.

“Kalau dibandikan Sarah dulu, yang tadi ini lebih dewasa dan terlihat tangguh. Sebelumnya kekanak-kanakan juga, kadang egois. Ada adegan sama Zaenab, yang saya bilang ke bang Rano, ‘Saya enggak mau nangis’. Dia sudah lebih matang, berani mengambil keputusan,” jelas Lia.

“Si Doel The Movie 2” mulai tayang pada 4 Juni 2019. Di sini, porsi kemunculan Sarah lebih sedikit sebab lebih banyak mengungkap bagaimana perasaan Zaenab.

Baca juga: Lolos ke Senayan, Rano Karno tetap garap “Si Doel 3”

Baca juga: Atun pilih Sarah atau Zaenab? Ini jawaban Suti Karno

Baca juga: Adakah nostalgia dalam “Si Doel the Movie 2”?

Mengenal si pembunuh senyap nomor 1 di dunia

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Maudy Koesnaedi ingin terlepas dari karakter Zaenab, tapi sulit

Jakarta (ANTARA) – Berbeda dengan Cornelia Agatha yang merasa sudah menjadi bagian dari karakter Sarah, Maudy justru berusaha keras untuk melepasnya. Namun, saat melihat sosok Zaenab, dia malah terbawa perasaan (baper).

“Aku tuh selalu bilang, ‘Saya tuh saya, Zaenab tuh Zaenab. Tapi saat saya melihat Zaenab, rasanya saya larut banget, ini posisi yang sulit,” ujar Maudy ditemui usai pemutaran perdana film “Si Doel The Movie 2” di Jakarta, Sabtu (25/5) malam.

“Hal ini bisa terjadi di kehidupan sehari-hari dan enggak dibuat-buat dan apa yang saya rasakan saat ini, rasanya masih berat banget masih galau. Di ending-nya gantung ya. Di sini masih gantung di hati enggak enak banget,” lanjutnya.

Namun di sisi lain, Maudy merasa bangga. Artinya, dia mampu memainkan perankan dengan baik. Sebab dikehidupan nyata, Maudy kerap dianggap sebagai Zaenab sungguhan.

“Berhasil itu ketika film itu diomongin orang, orang inget adegannya, dibecandain, diomongin. Jadi enggak usah sedihlah dibilangin “dasar zaenab”, ya udah enggak apa-apa itu keberhasilan kalau karakternya keluar,” jelas pemain film “Ave Maryam” itu.

Sementara itu, Maudy juga mengaku bahwa menjaga karakter Zaenab agar tetap konsisten selama 20 tahun lebih, bukanlah hal yang mudah.

“Saya berkali-kali bilang ketika saya menjadi Zaenab saya akan total. Saya akan menjaga konsistensi saya ketika dilihat di layar tuh, Zaenab sekarang tuh sama dengan Zaenab yang dulu,” katanya.

Maudy menambahkan, “Tapi saya juga cukup susah menjaga karakter Zaenab, rambut panjang enggak berbentuk, bajunya gitu, kan pengin gaya juga. Tapi itu dia, kalau saya sudah jadi Zaenab, ya saya akan menjadi Zaenab.”

Baca juga: Atun pilih Sarah atau Zaenab? Ini jawaban Suti Karno

Baca juga: Garap “Si Doel 2”, Rano Karno merasa diteror tim Sarah maupun Zaenab

Mengenal si pembunuh senyap nomor 1 di dunia

Oleh Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film Korea Selatan “Parasite” raih Palme d’Or Cannes 2019

Jakarta (ANTARA) – Film besutan sutradara Korea Selatan, Bong Joon-ho, “Parasite” menyabet penghargaan Palme d’Or, atau penghargaan tertinggi festival film Cannes 2019

Film bergenre dark komedi itu menceritakan keluarga miskin yang gemar menipu dan menyindir diri sendiri.

Seperti dilansir the Guardian, Sabtu (25/5), Joon-ho menjadi sutradara Korea pertama yang memenangkan penghargaan tertinggi di Cannes itu.

Dia adalah pemenang Asia kedua dalam beberapa tahun berturut-turut, setelah sutradara Jepang Hirokazu Kore-eda yang membawa pulang penghargaan pada 2018 melalui film “Shoplifters”.

Dalam konferensi pers setelah upacara penghargaan, sang sutradara berterima kasih kepada Cannes atas kehormatan ini.

“Ini adalah peringatan ke-100 bioskop di Korea. Cannes telah memberikan hadiah besar kepada bioskop Korea,” kata dia.

Joon-ho mengaku senang mengetahui juri sepakat memilih film karyanya sebagai pemenang tahun ini.

Dia lalu menolak anggapan “Parasite” berisi komentar yang ditujukan ke Korea Utara. Menurut dia, suatu hari masyarakat di Korea Utara akan tertawa jika menonton film ini.

“Jika Korea Utara melihat filmku suatu hari, aku pikir mereka akan tertawa,” tutur sutradara film Okja dan Snowpiercer.

Baca juga: Film garapan Quentin Tarantino dapat tepuk tangan panjang di Cannes

Baca juga: DiCaprio, Brad Pitt, dan Margot hadirkan nuansa Hollywood di Cannes

Mabes Polri beberkan 11 tersangka kerusuhan 22 Mei

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Antonio Banderas – Emily Beecham aktor dan aktris terbaik Cannes 2019

Jakarta (ANTARA) – Aktor Antonio Banderas menjadi aktor terbaik dalam festival film Cannes 2019 untuk aktingnya dalam film “Pain and Glory Pedro Almodovar”.

Sementara itu, Emily Beecham meraih penghargaan aktris terbaik melalui film “Little Joe” dalam acara yang puncaknya berlangsung pada Sabtu (25/5) di Palais des Festivals et des Congrès, Cannes, Prancis itu.

Beecham menjadi aktor Inggris lainnya yang memenangkan penghargaan kategori ini setelah Kathy Burke melalui film “Nil by Mouth” karya Gary Oldman pada tahun 1997.

Dalam konferensi pers setelah upacara penghargaan, Banderas mengatakan kemenangannya kabar baik bagi ahli jantungnya. Dia juga berterima kasih kepada Almódovar, sutradara Pain and Glory.

“Penghargaan ini untuk karakter yang kumainkan, dan itu adalah alter-ego dari Pedro Almódovar. Aku berterima kasih padanya selama bertahun-tahun,” kata dia.

Di sisi lain, Beecham mengaku mendapatkan firasat soal kemenangannya ini. Dia mengungkapkan kewalahan memerankan karakter Jessica Hausner dalam film “Little Joe”.

“Aku punya semacam firasat pagi ini karena mendapat telepon dari produser [Little Joe]. Aku harus memasukkan barang-barangku di ransel dan naik pesawat,” tutur dia.

Baca juga: Film Korea Selatan “Parasite” raih Palme d’Or Cannes 2019

Baca juga: Film garapan Quentin Tarantino dapat tepuk tangan panjang di Cannes

Mabes Polri beberkan 11 tersangka kerusuhan 22 Mei

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Daftar pemenang festival film Cannes 2019

Jakarta (ANTARA) – Film Korea Selatan “Parasite” yang disutradarai Bong Joon-ho memenangkan penghargaan Palme d’Or, lalu Antonio Banderas dan Emily Beecham sebagai aktor dan aktris terbaik dalam festival film Cannes 2019.

Berikut daftar para pemenang untuk kategori lainnya seperti dilansir Variety, Sabtu (25/5):

Palme d’Or: “Parasite,”

Grand Prix: Mati Diop, “Atlantics,”

Sutradara terbaik : Jean-Pierre and Luc Dardenne, “Young Ahmed”

Aktor terbaik: Antonio Banderas, “Pain and Glory”

Aktris terbaik : Emily Beecham, “Little Joe”

Jury Prize — TIE: Ladj Ly untuk “Les Misérables,”Kleber Mendonça Filho dan Juliano Dornelles, “Bacurau”.

Skenario terbaik : Céline Sciamma, “Portrait of a Lady on Fire”

Special Mention: Elia Suleiman, “It Must Be Heaven,”

Penghargaan lain:

Camera d’Or: Cesar Diaz, “Our Mothers”

Short Films Palme d’Or: Vasilis Kekatos, “The Distance Between the Sky and Us”

Short Films Special Mention: Agustina San Martin, “Monster God”

Golden Eye Documentary Prize: “For Sama”

Ecumenical Jury Prize: Terrence Malick, “Hidden Life”

Queer Palm: Céline Sciamma, “Portrait of a Lady on Fire”

Baca juga: Antonio Banderas – Emily Beecham aktor dan aktris terbaik Cannes 2019

Baca juga: Film Korea Selatan “Parasite” raih Palme d’Or Cannes 2019

Mabes Polri beberkan 11 tersangka kerusuhan 22 Mei

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rano Karno sempat ingin sudahi “Si Doel” saat Benyamin meninggal

Jakarta (ANTARA) – Rano Karno mengaku sempat ingin menghentikan sinetron “Si Doel Anak Sekolahan” saat Benyamin Sueb meninggal, namun dia memikirkan nasib dari para pemain yang lain.

“Begitu Babeh (Benyamin Sueb) meninggal, saya hilang tuntunan, Kalau saya ikutin hati, itu sudah selesai saya enggak mau lagi. Tapi saya juga pikirin nasib pemain yang lain, kayak Enyak, Pak Tile, itu selalu nanya, Doel gimana kelanjutannya Doel,” kata Rano saat berbincang usai pemutaran perdana film “Si Doel The Movie 2” di Jakarta, Sabtu (25/5) malam.

“Anda bayangin, itu skenario 12 episode sudah selesai, mau syuting lho saya. Begitu kejadian Babeh meninggal, itu saya buang 12 episode,” lanjutnya.

Saat itu, Rano akhirnya memutuskan untuk menceritakan Babeh meninggal dalam sebuah kecelakaan ketika kembali dari liburan di Anyer.

Menurut sutradara film “Si Doel The Movie” ini, kisah Si Doel sebenarnya tidak memiliki akhir cerita. Oleh karena itu jika ingin dikembangkan lagi, kemungkinannya sangat besar.

“Karena Si Doel kan konsep ceritanya never ending story, jadi enggak ada habisnya. Maaf kalau umur saya udah enggak ada, kan bisa aja anak-anak bisa lanjutin. Dulu terjadi, pas Babeh enggak ada tapi tetap jalan,” jelasnya.

Rano juga memiliki ide untuk membuat “Si Doel Anak Milenial”. Ini bertujuan untuk mengenalkan budaya Betawi pada anak masa kini.

“Nah, kalau punya kesempatan panjang, Doel kecil bisa, dia bisa mengeksplor budaya Betawi. Dia tinggal di Belanda, dia bisa mengeksplor VOC itu apa, Batavia itu apa. Wah, itu bisa saya balik ceritanya. Konsep awalnya Doel kan antara tradisi dengan moderen. Tradisi ada di Babeh, moderen ada di Doel,” ujarnya.

Baca juga: Maudy Koesnaedi ingin terlepas dari karakter Zaenab, tapi sulit

Baca juga: Cornelia Agatha: Sarah adalah saya

Baca juga: Lolos ke Senayan, Rano Karno tetap garap “Si Doel 3”

Mengenal si pembunuh senyap nomor 1 di dunia

Oleh Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Konflik Sarah-Zaenab kian meruncing dalam “Si Doel The Movie 2”

Jakarta (ANTARA) – Kisah cinta segitiga antara Doel, Sarah dan Zaenab belum juga berakhir. Doel yang makin dipenuhi dengan kebimbangan serta Sarah dan Zaenab yang mulai menunjukkan sikap masing-“masing.

“Tim Sarah” dan “Tim Zaenab” mungkin penasaran siapa yang akan dipilih oleh Doel pada film ini. Untuk itu “Si Doel The Movie 2” adalah sebuah jembatan atau transisi untuk mencapai tujuan akhir di mana Rano memutuskan pada siapa cintanya diberikan.

Meski demikian bukan berarti kisah di film ini tidak menarik, justru konflik yang suguhkan lebih tajam dan membuat yang nonton menjadi gemas.

Bagian kedua film “Si Doel” memang lebih banyak mengambil sudut pandang Zaenab yang setelah belasan tahun hidup bersama Doel, ternyata harus menelan kenyataan pahit karena Sarah dan anaknya kembali ke Jakarta.

Dia pun merasa terusik dan bimbang apakah harus mundur atau memperjuangkan cintanya. Belum lagi Zaenab juga memikirkan keadaan Mak Nyak, siapa yang nanti akan merawatnya jika dia pergi.

Baca juga: Rano Karno sempat ingin sudahi “Si Doel” saat Benyamin meninggal

Sementara itu, kedatangan Sarah ke rumah Doel juga mengejutkan dan membangkitkan emosi penonton. Sarah yang bertemu dengan Mak Nyak dan mengutarakan seluruh isi hatinya cukup menguras air mata.

Zaenab yang diam-diam mendengar curahan hati Sarah, merasa semakin tersiksa sehingga berpikir bahwa tidak akan ada lagi kesempatan untuknya bisa bertahan.

Tak sampai di situ, Sarah dan Zaenab akhirnya bicara dari hati ke hati. Entah apa yang akhirnya mereka putuskan untuk mencapai kesepakatan, namun kedua adegan di atas bisa dibilang sebagai golden scene dari film ini.

Rano sebagai sutradara sekaligus penulis skenario sangat pintar memainkan psikologis penonton. Dia tahu betul bagian mana saja yang akan membuat penonton geregetan dan mampu membuat cerita “Si Doel Movie 2” menimbulkan rasa penasaran yang tinggi.

Dalam pemutaran perdana film “Si Doel The Movie 2” yang berlangsung di CGV Grand Indonesia, Jakarta, Sabtu (25/5), Rano berjanji bahwa dia akan menuntaskan penasaran penonton pada bagian ketiga. Dia akan memutuskan siapa yang akan dipilih oleh Doel namun juga tidak akan membuat ada pihak yang tersakiti.

“Emosi keduanya akan lebih meletup di ‘Si Doel 3’. Jadi menarik dan kita akan mulai syuting Agustus. Problem Doel, Sarah, Zaenab akan selesai di ‘Si Doel 3’,” kata Rano.

“Si Doel The Movie 2” akan tayang di bioskop mulai 4 Juni 2019. Selain Rano Karno, Cornelia Agatha, dan Maudy Koesnaedi, film ini juga diperankan oleh Mandra, Suti Karno, Adam Jagwani, Rey Bong, Kurtubi, Hajah Fatonah, Maryati, Wizzy dan Opie Kumis.

Baca juga: Cornelia Agatha: Sarah adalah saya

Baca juga: Maudy Koesnaedi ingin terlepas dari karakter Zaenab, tapi sulit

Mengenal si pembunuh senyap nomor 1 di dunia

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hadir di Cannes, Selena Gomez keluhkan bahaya media sosial

Jakarta (ANTARA) – Penyanyi pop AS dan aktris Selena Gomez mengeluhkan bahaya media sosial dan efeknya pada generasi muda. Menurut dia, media sosial dapat berbahaya dan berkontribusi pada dunia disinformasi serta perundungan.

“Media sosial berdampak buruk pada generasiku,” ujar Gomez (26) dalam konferensi pers di festival film Cannes, Rabu (15/5), di mana sang aktris mempromosikan film zombie “The Dead Don’t Die” bersama aktor Bill Murray dan Tilda Swinton, demikian seperti dilansir Reuters.

Saat ditanya tentang bahaya yang mengancam planet, Gomez menambahkan, “Aku mengerti luar biasa untuk memakai platform-mu, tapi menakutkan ketika kau melihat betapa tak terlindung anak-anak muda ini, dan mereka tidak terlalu mengetahui berita atau apa yang terjadi.. Kupikir itu berbahaya, tentu. Aku berpikir kadang orang-orang tidak mendapatkan informasi yang benar.”

Disutradarai Jim Jarmusch, film komedi zombie itu bicara tentang orang yang menolak perubahan iklim dan mengolok-olok bahaya dari masyarakat yang terlalu materialistis, termasuk lelucon tentang zombie yang mencari koneksi Wi-Fi.

Gomez adalah salah satu pesohor yang punya pengikut banyak di Instagram, lebih dari 150 juta pengikut, tapi dia rihat dari platform tersebut.

“Kupikir tidak mungkin membuat (media sosial) aman saat ini,” kata mantan bintang Disney TV itu.

“Saya tidak banyak mengunggah foto-foto yang kurang berarti. Saya pikir saya lebih suka membuat foto yang punya arti. Buat saya menakutkan, itu saja, karena saya melihat banyak perempuan muda dan saya bertemu dengan mereka di jumpa penggemar atau sebagainya, dan mereka merasa kacau, menghadapi perundungan dan tidak bisa menyuarakan pendapat sendiri.”

Baca juga: Tilda Swinton, Selena Gomez di karpet merah Cannes

Baca juga: Ariana Grande rebut gelar ratu Instagram dari Selena Gomez
 

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Black Mirror” musim kelima hadirkan Miley Cyrus

Jakarta (ANTARA) – Serial fiksi ilmiah “Black Mirror” musim kelima akan tayang pada 5 Juni, seperti diumumkan Netflix, dengan pemeran baru seperti Miley Cyrus, aktor “Avengers” Anthony Mackie dan bintang “Fleabag” Andrew Scott.

Charlie Brooker dan Annabel Jones, pencipta “Black Mirror”, kembali dengan tiga cerita baru, sekitar enam bulan setelah penayangan “Black Mirror: Bandersnatch”, edisi istimewa interaktif dari tayangan itu yang menawarkan pilihan cerita untuk penonton.

Dilansir Reuters, Netflix mengunggah trailer untuk serial baru yang dibuka dengan karakter Scott duduk di mobil memegang pistol saat berselisih dengan polisi.

Mackie yang terlihat bosan kemudian muncul, sementara di cerita ketiga, Cyrus dengan wig ungu tampil di panggung di hadapan penonton.

“Black Mirror”, yang ceritanya mengisahkan dampak teknologi pada masyarakat modern, debut di Inggris pada 2011 sebanyak tiga episode, pertama kali menampilkan kisah fiksi perdana menteri Inggris dipaksa berhubungan badan dengan babi di siaran langsung televisi.

Musim dua tayang pada 2013, keduanya kemudian dimasukkan ke daftar tontonan Netflix.

Baca juga: Miley Cyrus wakili Liam Hemsworth di penayangan perdana “Isn’t It Romantic”

Baca juga: Di era Netflix, sutradara Inarritu mengelukan pengalaman di bioskop
 

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lisa Kudrow ogah nonton ulang “Friends”, ini alasannya

Jakarta (ANTARA) – Serial komedi “Friends” akan menginjak usia 25 tahun pada September ini, namun setidaknya salah satu dari pemeran sitkom itu takkan menonton ulang tayangan fenomenal tersebut.

Aktris Lisa Kudrow, pemeran Phoebe Buffay, mengungkapkan pada Entertainment Tonight bahwa dia tidak menonton acara itu ketika tayang di televisi.

Dia mengakui,”Aku tidak menontonnya jika muncul di TV. Aku mungkin tidak menyukai diriku (di acara itu), jadi aku lebih baik tidak mengambil risiko.

Ketika ditanya apa kenangan dan episode favoritnya, aktris 55 tahun itu menjawab, “Episode pertama. Sungguh mendebarkan rasanya waktu itu.”

Dia melanjutkan, “Kami seperti anak-anak anjing, saling memanjat satu sama lain dan bermain-main. Menyenangkan.”

Komedi tentang enam sahabat di New York City tayang perdana pada 1994 dan terus berlanjut hingga 10 musim.

Para bintang, Kudrow, Jennifer Aniston, Courteney Cox, Matthew Perry, Matt LeBlanc dan David Schwimmer, bersatu padu untuk bernegosiasi mengenai honor mereka dan akhirnya setiap orang menghasilan sejuta dolar AS tiap episode untuk dua musim terakhir.

Baca juga: Lisa Kudrow merasa terlalu tua untuk “Friends”
 

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Dokumenter Schumacher hadirkan wawancara keluarga dan kompetitor

Jakarta (ANTARA) – Mantan juara dunia Formula One Michael Schumacher akan jadi subjek film dokumenter, yang memperlihatkan arsip video yang belum tayang serta sesi wawancara, seperti diumumkan produser, Minggu (12/5), sebelum Festival Film Cannes.

Film yang disutradarai duo Jerman Michael Wech dan Hanns-Bruno Kammertoens, dibuat atas izin dari keluarga sang pebalap dan menampilkan wawancara dengan ayah Schumacher, istri, kedua anaknya, rekan-rekan yang menjadi kunci kemenangan Schumacher, hingga para kompetitor, yang akan dirilis pada akhir tahun ini.

Schumacher genap berusia 50 tahun pada 3 Januari lalu, tapi dia sudah lama tidak terlihat di hadapan umum sejak kecelakaan ski di Frech Alps lima tahun lalu yang mengakibatkan kepalanya cedera berat dan membuatnya koma.

Baca juga: Film dokumenter Schumacher diperkenalkan di Cannes

Dilansir Rueters, film itu sedang dalam proses pascaproduksi, di mana hak jual internasional akan dirilis di Marche du Film, acara bisnis yang digelar bersamaan dengan festival film di French Riviera yang dimulai pada 14 Mei.

Film lain yang akan diperkenalkan pada para buyer meliputi dokumenter band rock Led Zeppelin. Film yang belum ada judulnya itu akan menampilkan para anggota band, Jimmy Page, Robert Plant dan John Paul Jones.

Schumacher masih jadi pebalap motor paling sukses, dengan rekor 91 kemenangan grand prix. Dia mendapatkan dua gelar pertamanya dengan Benetton pada 1994 dan 1995, sebelum lima kali berturut-turut dengan Ferrari pada 2000-2004.

Pada Januari, keluarganya mengeluarkan pernyataan bahwa dia berada “dalam perawatan terbaik”.

Baca juga: Ari Sihasale ingin buat film dokumenter tentang Ambon

Baca juga: Noel akan tuntut Liam Gallagher terkait film dokumenter

Baca juga: Film dokumenter Michael Jackson “Leaving Neverland” hebohkan Sundance

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Hit & Run” didukung sineas terbaik Tanah Air

Jakarta (ANTARA) – “Hit & Run” akan menjadi salah satu tontonan yang ditunggu pada Juni 2019. Selain dibintangi oleh para aktor dan aktris ternama, ada orang-orang terbaik juga yang mengerjakannya di balik layar.

Selain bermain sebagai pemeran utama, Joe Taslim juga menguji kemampuannya sebagai creative producer. Ini adalah debut perdananya untuk ikut duduk di balik layar.

Joe sendiri berperan sebagai Tegar, di sini dia benar-benar tampil total sebab selain beraksi laga sebagai jagoan, dia juga harus berakting kocak.

Pada posisi sutradara, ada nama Ody C Harahap yang telah membuat lebih dari 10 film bergenre komedi romantis. Pengalamannya terbukti mampu mengocok perut penonton lewat film “Orang Kaya Baru”.

Ody duduk berbarengan dengan Upi dalam menulis cerita. Karya Upi pun sudah tidak diragukan lagi mulai dari thriller hingga komedi pernah digarapnya.

Untuk membuat film ini berskala epik, “Hit & Run” juga dibantu oleh Timo Tjahjanto untuk mengarahkan aksi dan Uwais Team sebagai koreografer laga. Timo telah berkolaborasi dengan Screenplay Films dalam membuat “Headshot” dan “Sebelum Iblis Menjemput”.

Film ini juga diramaikan oleh para atlet Indonesia yang berprestasi yaitu David Hendrawan, Peter Taslim, dan Simone Julia. David Hendrawan merupakan peraih medali emas wushu di PON 2016.

Sebelumnya David pertama kali diperkenalkan di film “Headshot”. Lalu ada Peter Taslim, kakak kandung Joe Taslim ini merupakan atlet judo senior yang telah menyumbangkan tiga medali emas di SEA Games 1997 dan 2011. Terakhir adalah yang paling gres, Simone Julia atlet jiu-jitsu Indonesia di Asian Games 2018.

“Hit & Run” dibintangi oleh Tatjana Saphira, Chandra Liow, Jefri Nichol, Nadya Arina dan Yayan Ruhian. Film yang tayang pada 4 Juni 2019 itu merupakan hasil kerjasama dari Screenplay Films, Legacy Pictures, Nimpuna Sinema, CJ Entertainment dan Bukalapak Pictures.

Baca juga: Jefri Nichol jadi pria cengeng di film “Hit N Run”

Baca juga: Tatjana Saphira ditantang bernyanyi di film “Hit N Run”

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Isyana – Gamaliel berkolaborasi untuk lagu tema “Aladdin”

Jakarta (ANTARA) – Menjelang peluncuran film live action yang diadaptasi dari kisah klasik Disney “Aladdin”, Disney Indonesia berkolaborasi dengan dua musisi papan atas Isyana Sarasvati dengan Gamaliel, untuk mempersembahkan versi terbaru dari lagu legendaris “A Whole New World”.

Lagu pemenang Academy Award yang dinyanyikan pertama kali di tahun 1992 oleh Lea Salonga dan Brad Kane ini merupakan salah satu lagu klasik Disney yang paling disukai oleh para penggemar hingga saat ini.

Disney Indonesia dalam keterangan pers, Senin, mengatakan versi terbaru dari “A Whole New World” akan memberikan sentuhan spesial khas Isyana dan Gamaliel yang akan membawa para penggemar di Indonesia ke sebuah dunia baru.

Lagu “A Whole New World” versi Isyana dan Gamaliel siap mengajak para penggemar bernostalgia mulai 17 Mei 2019 di seluruh digital streaming platform bersamaan dengan sebuah video klip spesial yang akan diluncurkan eksklusif di disneymusicasiaVEVO.

“Aladdin” akan hadir di bioskop-bioskop Indonesia mulai 22 Mei 2019.

Baca juga: “Aladdin on Broadway” kumpulkan lima “Jin” dalam satu panggung

Baca juga: Film live action “Aladdin” akan hadirkan lagu-lagu baru

“Aladdin” bercerita tentang petualangan seru dan penuh warna Aladdin – seorang pemuda jalanan yang menawan, Princess Jasmine yang pemberani, serta Genie yang mungkin dapat menjadi kunci bagi masa depan mereka.

Disutradarai oleh Guy Ritchie yang memberikan sentuhan luar biasa dalam kota Agrabah yang ikonik, film “Aladdin” dibuat berdasarkan naskah karya Jign August dan Ritchie berdasarkan kisah klasik dengan judul yang sama.

Film ini dibintangi oleh Will Smith sebagai Genie, Mena Massoud sebagai Aladdin, Naomi Scott sebagai Jasmine, Marwan Kenzari sebagai Jafar, Navid Negahban sebagai Sultan, Nasim Pedrad sebagai Dalia, Billy Magnussen sebagai Pangeran Anders, dan Numan Acar sebagai Hakim, tangan kanan dan kepala keamanan di istana Jafar.

Baca juga: Ini daftar film Disney yang akan tayang hingga 2019

Baca juga: LAKME luncurkan make up terinspirasi oleh Princess Jasmine
 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Avengers: Endgame masih nomor 1, Detective Pikachu raup 58 juta dolar

Jakarta (ANTARA) – “Avengers: Endgame” masih berada di posisi puncak box office Amerika Utara dengan mengumpulkan 65 juta dolar AS selama akhir pekan ketiga di bioskop.

Film pamungkas dari pertarungan para Avengers itu berhasil melewati perolehan “Avengers: Infiniy War” (679 juta dolar AS) dan “Black Panther” (700 juta dolar AS), menjadikannya film terlaris ketiga tertinggi sepanjang masa di box office domestik dengan pendapatan 724 juta dolar AS dari penjualan tiket.

Secara keseluruhan, “Avengers: Endgame” merupakan film terbesar kedua yang pernah ada di dunia, dengan raihan total 2,48 miliar dolar AS, berada di belakang “Avatar” yang meraih 2,78 miliar dolar AS.

Namun, kesuksesan “Endgame” menguasai box office dibayang-bayangi dengan kehadiran “Detective Pikachu”. Film live action produksi Warner Bros dan Legendary itu berhasil menarik pendapatan 58 juta dolar ketika ditayangkan perdana di 4.202 tempat.

“Ini adalah akhir pekan yang hebat untuk Detective Pikachu,” kata kepala distribusi domestik Warner Bros, Jeff Goldstein melalui sambungan telepon, Minggu, seperti dilansir Reuters.

Goldstein punya alasan untuk bersorak. Awal yang mengesankan untuk Detective Pikachu menandakan kemenangan yang langka untuk film yang mengadaptasi video gim.

Film-film dengan genre serupa tidak begitu berhasil seperti “Super Mario Bros” dan “Doom”. Bahkan “Tomb Raider” yang dibintangi Alicia Vikander dan “Rampage” yang menghadirkan Dwayne Johnson tidak populer di kalangan penggemar video gim.

Menurut Goldstein, faktor yang membuat film ini berhasil karena karakter film “Detective Pikachu” yang riang. “Anda tidak perlu menjadi penggemar Pokemon untuk menonton filmnya.”

Film tentang makhluk kuning elektrik yang lucu itu, berhasil mengumpulkan 103 juta dolar dari 62 wilayah internasional, dan global 161 juta dolar pada akhir pekan. Pendapatan terbesar dari China sebesar 40 juta dolar, diikuti Inggris 6,6 juta dolar.

“Detective Pikachu” mendapat ulasan beragam dari para pecinta sinema, rata-rata 64 persen di Rotten Tomatoes.

Film ini dibuat berdasarkan seri Pokemon yang populer dan video gim tahun 2016 dengan nama yang sama.

Baca juga: Pokemon: Detective Pikachu, menggemaskan dan memantik nostalgia

Penerjemah: Heppy Ratna Sari
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Siapkan menu buka puasa, Ayudia Bing Slamet: Yang penting pedas

Jakarta (ANTARA) – Ayudia Bing Slamet mengaku tidak kerepotan saat menyiapkan menu sahur dan berbuka untuk suaminya, Muhammad Pradhana Budiarto atau yang akrab disapa Ditto. Menurut dia, yang terpenting rasanya harus pedas.

“Ditto suka banget makan yang pedas, apapun itu makanannya yang penting pedas. Porsi sih dia enggak terlalu banyak, karena kalau sahur jarang makan banyak. Yang penting pedas aja,” kata Ayudia ditemui di Jakarta, Senin.

Untuk pemilihan menu, Ayudia lebih suka menyiapkan masakan yang mudah dibuat khususnya ketika sahur.

“Masaknya sih macam-macam tapi yang jelas bikin lauk yang enggak mudah basi. Bikin ayam, ikan,” tutur Ayudia yang pernah membintangi sejumlah sinetron itu.

Ditto pun mengakui kalau dirinya penggemar makanan dengan banyak cabai. Baginya, hidangan yang tak pedas itu kurang nikmat.

“Sebenarnya bukan gimana, karena udah kebiasaan pedas aja. Kalau enggak pedas kayak enggak bisa makan, kayaknya enggak sedap aja,” ujar Ditto.

Sementara itu, soal anak semata wayang mereka, Ayudia dan Ditto sudah mulai memberikan pengetahuan tentang puasa kepada Sekala Bumi.

“Jelas berbeda karena Sekala sekarang umur tiga tahun. Kita kasih tahu puasa kayak gimana meskipun dia biasa aja,” kata Ditto.

Setelah resmi menjadi suami dan istri, Ayudia dan Ditto mengaku merasa lebih nikmat menjalani ibadah selama Ramadhan. Ditambah lagi dengan kehadiran anak mereka, Sekala Bumi.

Baca juga: Inspirasi tempat berbuka puasa di Jakarta

Ayudia Bing Slamet dan Ditto sama-sama pencemburu

Jakarta (ANTARA) – Pasangan Ayudia Bing Slamet dan Ditto Percussion ternyata adalah pasangan yang pencemburu. Keduanya mengaku sering saling melontarkan ancaman ketika melihat kehadiran seseorang dari masa lalu.

Ayudia dan Ditto adalah sepasang sahabat yang akhirnya menikah. Kisah mereka berdua kemudian dituangkan ke dalam buku yang berjudul “Teman Tapi Menikah”.

Saat menghadiri acara “Ramadan Iftar Under The Stars” di Jakarta, Senin, Ayudia terdengar sedang mengancam Dito untuk tidak menyapa seseorang. Ketika ditanya perihal masalah tersebut, keduanya langsung tertawa.

“Ayu orangnya cemburuan. Dia terlalu sayang sama saya,” kata Ditto sambil tertawa.

“Ya dia kan teman saya dari SMA, jadi dia tahu semua siapa saja yang deket sama saya. Saya gimana ke orang saya ceritain semua. Dia paham banget lah tentang saya. Saya juga cemburuan sih,” lanjutnya.

Menurut Ayudia, kadar cemburu Ditto lebih tinggi dari dirinya.

“Dia lebih parah dari saya,” ujar Ayudia.

“Iyalah. Saya malah lebih deg-degan ngelihatnya,” timpal Dito.

Baca juga: Siapkan menu buka puasa, Ayudia Bing Slamet: Yang penting pedas
 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sahur hanya minum air putih, berat badan Olla Ramlan turun 2 kg

Jakarta (ANTARA) – Olla Ramlan dan suami, Aufar Hutapea mengaku hanya minum air putih saat sahur, oleh karena itu berat badannya pun susut.

“Mungkin 1,5 kg sampai 2 kg, sahurnya minum saja,” kata Olla ditemui di Jakarta, Senin.

Menurut Olla, kebiasaan sahur dengan menggunakan air putih itu ditularkan oleh sang suami. Meski demikian, baik Olla dan Aufar sama-sama kuat menjalani puasa hingga saat berbuka.

“Kalau sahur, dia (Aufar) minum air putih doang. Dia enggak makan, ya aku jadi ngikutin,” ujar presenter acara infotainment itu.

Sejauh ini, Aufar pun mengatakan tidak menghadapi kendala dengan tidak makan saat sahur.

“Ya enak saja sih. Kalau makan banyak malah haus siangnya. Kalau buka pakai kurma, kolak baru makan,” jelas Aufar.

Sementara itu, Ramadhan tahun in dirasa berbeda oleh Olla karena ketidakhadiran ayahnya di antara mereka.

“Yang paling berbeda adalah ayah aku udah enggak ada. Jadi memang tahun ini Lebaran udah enggak ada abah, itu saja sih perbedaannya. Kalau yang lain-lain keluarga besar masih tetap solid. Insya Allah ya semua baik-baik saja,” tutur ibu dari tiga anak itu.

Baca juga: Siapkan menu buka puasa, Ayudia Bing Slamet: Yang penting pedas
 

Komik “Gundala” versi moderen akan tayang di LINE Webtoon

Jakarta (ANTARA) – Komik “Gundala” versi moderen akan diluncurkan dengan nama “Gundala: Son of Lightning” dan rencananya akan terbit setiap hari Rabu di LINE Webtoon.

Untuk menggarapnya, ada nama Is Yuniarto yang juga merupakan GM Bumilangit Komik sebagai Lead Artist, dan dia berduet dengan Sweta Kartika yang menjadi penulis.

“Gundala: Son of Lightning” akan berbeda dari film “Gundala” yang tayang Agustus 2019. Di sini, ditampilkan bahwa Sancaka sudah menjadi Gundala dan menghadapi tantangan musuh yang baru.

Sancaka adalah pemuda yang mampu menyimpan dan mengendalikan kekuatan petir. Masa lalunya yang kelam telah menyeretnya hidup dan besar di jalanan. Siang hari, dia bekerja sebagai satpam di sebuah lab biokimia di perbatasan kota, dan merangkap sebagai tukang reparasi peralatan elektronik tiap akhir pekan. Pada malam harinya, dia beraksi menumpas kejahatan di balik kostum buatannya sendiri, dan dikenal oleh penduduk kota dengan nama Gundala.

“Gundala: Son of Lightning” termasuk dalam lini BumiLangit komik [R]evolusi, sebuah inisiasi untuk mengisahkan karakter-karakter komik legendaris Indonesia di era moderen untuk pembaca baru.

Is Yuniarto adalah salah satu veteran komik Indonesia terbaik yang telah produktif sejak tahun 2000-an. Is sukses di genre aksi fantasi, melalui judul “Garudayana” dan “Grand Legend Ramayana” yang telah diterjemahkan dan diterbitkan di Jepang.

Sementara Sweta Kartika yang juga merupakan komikus produktif multi-genre, dan telah memiliki beberapa karya yang dikenal di luar negeri.

Gundala sudah dan akan hadir dalam berbagai format mulai dari animasi serial TV “Patriot Cilik”, komik strip di surat kabar, komik format US style, komik format webtoon, dan film layar lebar.

Untuk film layar lebarnya disutradarai dan ditulis oleh Joko Anwar. Film ini dibintangi oleh Abimana Aryasatya (Gundala/Sancaka), Tara Basro (Wulan), Bront Palarae (Pengkor), Rio Dewanto (Bapak Sancaka), Marissa Nasution (Ibu Sancaka), Muzakki Ramdhan (Sancaka Muda), dan lainnya.

Baca juga: Antusiasme Tara Basro dan Marissa Anita berakting “Gundala”

Baca juga: Cerita Hasmi “Gundala” dedikasikan hidup untuk komik

Baca juga: Beredar prangko tokoh komik jagoan Indonesia

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Pariban: Idola dari Tanah Jawa” diharap dorong turis ke Danau Toba

Jakarta (ANTARA) – Film “Pariban: Idola dari Tanah Jawa” telah meraih lebih dari 110 ribu penonton dalam 5 hari penayangan.

Produser Agustinus Sitorus berharap tingginya antusiasme terhadap film “Pariban” berdampak terhadap peningkatan kunjungan wisata ke danau Toba yang jadi lokasi pengambilan gambar.

“Kita tahu bagaimana Pantai Tanjung Tinggi (Laskar Pelangi) dan Punthuk Setumbu (Ada Apa Dengan Cinta 2) berbondong-bondong dikunjungi oleh wisatawan sejak filmnya ditonton oleh banyak orang. Saya berharap, Pangururan, Tele, Batu Kursi Raja Siallagan dan obyek wisata lain di danau Toba juga kian banyak dikunjungi karena kehadiran film Pariban,” kata Agustinus dalam siaran pers, Selasa.

Danau Toba adalah destinasi pariwisata super prioritas yang saat ini sedang dikembangkan oleh pemerintah.

Selain kemudahan infrastruktur, tentunya kearifan budaya lokal adalah hal yang dicari wisatawan saat berwisata. Berbagai destinasi wisata menjadi menjadi kian populer terutama setelah mendapat sorotan dalam sebuah film.

Arie Prasetyo, Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Danau Toba, mengapresiasi kehadiran film “Pariban”.

“Film ini berhasil membawa kita larut dalam aktivitas dan potret kehidupan keseharian sebuah keluarga di danau Toba, dibungkus dengan kekuatan percakapan yang kocak dan setting keindahan danau Toba yang luar biasa, jujur dan natural dari kacamata masyarakat lokal maupun pendatang,” ujar Arie.

Ia berharap semakin banyak rumah produksi yang mengambil latar belakang di danau Toba dengan ide-ide baru yang berbeda.

Grace Blessing Marbun, pemeran Sundari, ingin agar film ini membuat diaspora batak terus mengingat kampung halaman.

“Semoga Pariban bisa mendorong anak untuk menghargai kampung halaman dan budaya kita, adat istiadat. Selain itu, kita mau mengenalkan keindahan alam Indonesia khususnya di Pulau Samosir, cobalah kau tengok Samosir pasti jatuh cinta,” katanya.

Pariban bercerita tentang Moan sosok pemuda Batak yang sudah lama tinggal di Jakarta. Meski usianya sudah menginjak 35 tahun, tetapi ia belum punya pacar.

Situasi ini membuat ibunya yang bermukim di Jakarta, merasa pusing dan harus turun tangan lalu memaksa Moan untuk mudik dan menikah dengan paribannya, Uli.

Di luar dugaan, Uli yang diceritakan sebagai wanita cantik dan mencintai budaya Batak, sudah memiliki kekasih.

Pariban Idola dari Tanah Jawa dibintangi oleh Atiqah Hasiholan, Ganindra Bimo, Dayu Wijanto, Rizki Mocil, Bang Tigor, Imelda Budiman, Mak Gondut, Grace Blessing Marbun, Rukman Rosadi, Surya Insomnia dan Joe P Project.

Baca juga: Atiqah Hasiholan diuntungkan referensi budaya saat akting “Pariban”

Baca juga: Ganindra tidak terobsesi menjadi pria Batak dalam “Pariban”

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Si Doel Movie 2” akan gelar bukber besar-besaran

Jakarta (ANTARA) – Keluarga film “Si Doel The Movie” akan menggelar acara buka puasa bersama (bukber) secara besar-besaran, bertajuk “Buka Puasa Raya Si Doel The Movie”, yang dilaksanakan pada 18 Mei 2019 di masjid Al-Barkah Bekasi, serta pada 21 Mei 2019 di Masjid Al-Azhom Tangerang.

Total undangan buka puasa mencapai 6.000 orang dari kedua masjid tersebut.

Dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Selasa, Rano Karno, pemeran Si Doel sekaligus sebagai sutradara film “Si Doel The Movie 2” mengatakan bukber akan jadi ajang silaturahmi dengan para penggemar di bulan Ramadhan.

“Kita mengundang kira-kira 3.000 orang di setiap masjid. Jadi, keluarga besar Si Doel yang mau ikutan buka puasa dan sholat Maghrib bareng kita, silahkan datang. Kita ketemuan di Bekasi dan Tanggerang,” ujarnya.

Baca juga: Atun pilih Sarah atau Zaenab? Ini jawaban Suti Karno

Hal senada juga disampaikan oleh produser Falcon Pictures, Frederica. Menurutnya, Falcon Pictures akan selalu membuat sesuatu yang baru untuk mempromosikan filmnya.

“Acara Bukber Raya ‘Si Doel The Movie 2’ di gelar karena bertepatan dengan Bulan Puasa. Selain bisa bersilaturahmi, kita bisa saling berbagi dan semoga di acara ini semua bisa senang,” katanya.

Selain menghadirkan Rano Karno, Mandra, Suty Karno, Maudy Koesnaedi, Cornelia Agatha, Rey Bong, Adam Jagwani dan Aminah Cendrakasih, film “Si Doel The Movie 2” juga akan menghadirkan pemain baru seperti Maryati Tohir (Munaroh), Hjh Tonah, dan Wizzy.

Film “Si Doel The Movie 2” akan tayang serentak diseluruh bioskop di Indonesia pada tanggal 4 Juni 2019. Sebelumnya, “Si Doel The Movie”, sukses mendapatkan rekor MURI sebagai film Indonesia pertama yang melaksanakan gala premier di Belanda.

Baca juga: Adakah nostalgia dalam “Si Doel the Movie 2”?

Baca juga: Garap “Si Doel 2”, Rano Karno merasa diteror tim Sarah maupun Zaenab

“Angry Birds” terbang ke Festival Film Cannes untuk sekuel

Jakarta (ANTARA) – Parade para bintang film di Festival Film Cannes dibuka secara unik oleh banyaknya burung-burung berbulu yang menandai peluncuran sekuel “Angry Birds”.

Pada festival tersebut, produser dari film animasi tersebut merayakan rencana penayangan sekuel “Angry Birds” pada awal Agustus.

Dilansir Reuters, “The Angry Birds Movie 2”, seperti film pertamanya, diangkat dari game Rovio di mana pemain menggunakan ketapel untuk menyerang babi-babi yang mencuri telur burung.

Angry Birds pertama, rilis pada 2016, membawa pulang 350 juta dolar AS di box office, mendorong penjualan game Rovio, membantu perusahaan itu mendapat untung setelah bertahun-tahun pendapatannya berkurang, memberhentikan pekerja-pekerjanya juga divestasi.

Sekuel, yang mengisahkan para burung bersatu dengan musuh bebuyutan babi hijau demi mengalahkan musuh bersama, menampilkan Jason Sudeikis yang mengisi suara Red, protagonis utama, bersama Bill Hader, Josh Gad dan Danny McBride yang juga mengisi suara.

“Kami punya kru luar biasa yang bekerja sama, kami sama-sama bermain, bereksperimen dan menemukan momen-momen lucu,” ujar sutradara Thurop Van Orman, di saat orang-orang berkostum Angry Bird menghibur para penonton.

Produser John Cohen mengatakan ia berharap bakal ada film ketiga “Angry Birds”.

Baca juga: Game Angry Birds versi AR akan hadir di iOS

Baca juga: Film sekuel “Angry Birds” akan dirilis 2019

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“John Wick 3” hadirkan pencak silat dan kerambit, Yayan Ruhian bangga

Jakarta (ANTARA) – Yayan Ruhian merasa bangga telah memperkenalkan seni bela diri pencak silat lewat dan kerambit dalam adegan yang dimainkannya pada film “John Wick: Chapter 3 – Parabellum”.

“Sebagai masyarakat silat, kami bangga karena di film ini, seperti di film-film sebelumnya, kami bisa memperkenalkan silat sebagai budaya kita,” katanya di Gala Premier XXI yang digelar di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (14/5) malam.

Selain pencak silat, Yayan juga merasa bangga memperkenalkan senjata khas Indonesia yakni kerambit.

Dalam adegan puncak yang dimainkan Yayan Ruhian sebagai Shinobi 2 dan Cecep Arief Rahman sebagai Shinobi 1, keduanya berduet menyerang John Wick yang diperankan Keanu Reeves dengan seni bela diri pencak silat dan senjata pamungkas kerambit.

Kebanggaan keduanya menjadi warga Indonesia tidak cukup dengan memperkenalkan pencak silat dan kerambit, karena dalam adegan yang mereka mainkan, keduanya juga berdialog dalam Bahasa Indonesia di sela-sela pertarungan.
  John Wick: Chapter 3 – Parabellum (ANTARA News/HO)

“Film John Wick: Chapter 3 – Parabellum” bercerita tentang pelarian diri John Wick setelah membunuh seorang anggota serikat pembunuh internasional.

Ia diburu di mana-mana dengan imbalan 14 juta dolar AS bagi mereka yang berhasil menemukan dan membunuhnya.

Film produksi terbaru Summit Entertainment – Lionsgate ini akan tayang internasional secara serentak pada Jumat, 17 Mei 2019.

Baca juga: Yayan Ruhian dan Cecep Arif main bareng Keanu Reeves

Baca juga: Bantu penumpang pesawat, ini daftar kebaikan Keanu Reeves

Baca juga: 5 aktor mancanegara yang pernah beradu akting dengan Iko Uwais
 

Pewarta: Katriana
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Maskot Upin Ipin akan hiasi sembilan bioskop di Jabodetabek

Jakarta (ANTARA) – Untuk meramaikan penayangan film “Upin Ipin: Keris Siamang Tunggal”, maskot dari bocah kembar itu dibawa langsung dari Malaysia dan akan terlihat di beberapa bioskop Jabodetabek.

“Upin Ipin: Keris Siamang Tunggal” mulai tayang pada 9 Mei 2019 untuk mengisi waktu liburan yang bertepatan dengan Ramadhan. Menurut Chandra Sapta Surya, Promo and Strategic Planner Division Head MNCP, maskot Upin Ipin memang sengaja didatangkan untuk menyenangkan hati para penggemarnya.

“Karakter atau maskot Upin Ipin dibawa langsung dari Malaysia, bahkan tidak sembarangan orang dapat menjadi cosplayernya. Maskot ini akan menyertai sepanjang acara nobar di sembilan bioskop di Jabodetabek,” ujar Chandra melalui keterangan resmi yang diterima Antara, Rabu.

“Upin Ipin: Keris Siamang Tunggal” berkisah tentang petualangan si kembar Upin Ipin dalam misi menyelamatkan sebuah kerajaan bernama Indraloka dari ancaman Raja Bersiong yang ingin menguasainya.

Film garapan Les Coupaq ini telah disiapkan sejak lima tahun yang lalu. Mereka pun mengklaim bahwa film tersebut memiliki kualitas animasi yang tidak kalah dengan produksi Hollywood.

Chandra mengatakan banyak penonton yang penasaran dengan cerita Upin Ipin versi layar lebar, apalagi promonya sudah gencar dilakukan jauh-jauh hari.

“Sambutannya cukup baik di sejumlah daerah, karena tokoh Upin Ipin sudah sangat dekat dengan mereka khususnya anak-anak. Ditambah dengan cerita di film bioskop lebih penuh petualangan, di mana Upin Ipin dan teman-temannya memasuki dunia penuh fantasi,” jelas Chandra.

Baca juga: “Upin Ipin The Movie” tayang di bioskop Indonesia hari ini

Baca juga: Produser Upin Ipin sumbang Rp542 juta untuk NTB

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Star Wars” 2022 dibuat oleh pencipta “Game of Thrones”

Jakarta (ANTARA) – Setelah saga Skywalker usai pada Desember, kisah “Star Wars” selanjutnya bakal dibuat oleh pencipta serial hit “Game of Thrones”, kata chief executive Walt Disney Co, Selasa (14/5).

Disney mengumumkan pekan lalu bahwa mereka sudah menjadwalkan film “Star Wars” untuk Desember 2022, 2024 dan 2026, tapi hanya itu yang diungkapkan. Film-film itu akan jadi film “Star Wars” pertama setelah “Star Wars: The Rise of Skywalker” pada Desember 2019.

Bicara di hadapan konferensi investor, Chief Executive Bob Iger mengonfirmasi bahwa film 2022 akan dibuat oleh David Benioff dan D.B. Weiss, yang membuat serial fantasi “Game of Thrones”, seperti dilansir Reuters.

Disney mengatakan cerita untuk film mendatang akan terpisah dari saga Skywalker yang dimulai dengan film “Star Wars” 1977.

Disney juga mengumumkan trilogi “Star Wars” terpisah yang sedang dikerjakan oleh sutradara Rian Johnson yang “Star Wars: The Last Jedi”, namun mereka belum mengungkapkan kapan tanggal penayangannya.

Baca juga: Pemeran Chewbacca dalam film “Star Wars”, Peter Mayhew meninggal

Baca juga: Setelah rilis Episode 9, film “Star Wars” akan vakum sementara

Baca juga: Disney ungkap tanggal pembukaan ekspansi “Star Wars”

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Di era Netflix, sutradara Inarritu mengelukan pengalaman di bioskop

Jakarta (ANTARA) – Ketua juri Cannes Alejandro Gonzalez Inarritu mengelukan “pengalaman komunal” menonton film di bioskop di festival film Prancis yang sedang berlangsung, di mana festival itu diikuti oleh layanan streaming seperti Netflix, Selasa (14/5).

Sineas Meksiko yang membuat film “Birdman” itu jadi ketua panel yang terdiri dari aktris AS Elle Fanning dan sutradara “The Favourite” Yorgos Lanthimos, mereka akan memilih pemenang utama Palme D’Or pada 25 Mei.

Pada saat perusahaan streaming menjadi rumah produksi yang produktif, menghasilkan pesaing-pesaing yang serius meskipun tidak ada film Netflix yang dipilih untuk berkompetisi di Cannes, Inarritu memihak bioskop.

“Saya orang yang percaya bahwa bioskop itu harus dialami dalam pengalaman komunal,” kata Inarritu dalam konferensi pers seperti dikutip dari Reuters.

Meski demikian, ia tidak menentang “menonton sesuatu di handphone”, dan mengatakan Netflix telah membantu mengangkat film lokal ke pasaran, seperti Meksiko.

Netflix telah menayangkan “Roma”, film drama keluarga yang membuat sutradaranya, Alfonso Cuaron dari Meksiko, membawa pulang piala sutradara terbaik di Oscar.

“Sungguh bagus mereka ada di televisi, tapi mengapa tidak memberi pilihan pada orang-orang untuk merasakan hal itu di bioskop,” ujar dia.

Perdebatan antara Cannes dan Netflix mengenai aturan yang mendikte bahwa film-film dalam kompetisi tidak dapat diputar lewat streaming selama tiga tahun ke depan sepertinya bakal mendominasi diskusi di festival.

Inarritu mengatakan juri akan mencari film-film yang paling mengejutkan mereka secara “emosional, intelektual” dan yang menggerakkan hati mereka.

Nama-nama besar seperti Quentin Tarantino akan melawan pendatang baru, termasuk beberapa yang menyajikan film pertama mereka, seperti sineas muda Prancis Ladj Ly dengan “Les Miserables”.

Selain Inarritu, juri-juri di Cannes terdiri dari empat pria dan empat perempuan di mana penyelenggara berusaha mendorong kesempatan untuk kaum Hawa di dunia film.

“Saya juga tak sabar menanti datangnya waktu ketika kami datang dan mereka tidak harus bilang ‘sutradara perempuan’ dan ‘para perempuan’,” kata sineas AS dan anggota juri Kelly Reichardt.

Baca juga: “Angry Birds” terbang ke Festival Film Cannes untuk sekuel

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film baru Woody Allen bakal tayang di Prancis September mendatang

Jakarta (ANTARA) – Film terbaru Woody Allen, yang ditunda di AS akibat tuduhan pelecehan seksual yang sudah berlangsung sejak beberapa dekade, akan dirilis di Prancis tahun ini, kata distributor, Selasa (14/5).

“A Rainy Day in New York” yang dibintangi Timothee Chalamet, Elle Fanning, Selena Gomez dan Jude Law bakal diputar di bioskop-bioskop Prancis pada 18 September, kata Mars Films jelang pembukaan festival film Cannes.

“Film panjang ke-50 Woody Allen… sebuah komedi romantis berlatar belakang New York City,” kata CEO Mars Films Stephane Celerier di Twitter.

Dilansir AFP, pada Februari lalu Allen menggungat 68 juta dolar AS terhadap Amazon karena melanggar kontrak, menuduh perusahaan streaming itu batal menayangkan filmnya atas tuduhan “tidak berdasar” bahwa dia melakuken pelecehan seksual terhadap putrinya.

Allen mengatakan Amazon berusaha untuk mengakhiri kesepakatan pada Juni 2018, dan sejak itu menolak untuk membayar biaya pembiayaan senilai 9 juta dolar AS untuk “A Rainy Day in New York”.

Film ini telah rampung tetapi belum tayang.

Awal bulan ini, majalah Variety melaporkan film itu akan dirilis di Italia pada Oktober.

Film ini adalah salah satu dari beberapa yang akan diproduksi oleh sutradara pemenang Oscar di bawah perjanjian setelah Allen membuat program “Crisis in Six Scenes” untuk Amazon.

Allen dituduh melecehkan Dylan Farrow, anak angkatnya, ketika dia berusia tujuh tahun pada awal 1990-an.

Dia dibebaskan dari dakwaan, pertama kali diajukan oleh pasangannya, saat itu Mia Farrow, setelah dua bulan penyelidikan terpisah, dan dengan tegas menyangkal tuduhan tersebut. Tetapi Dylan, yang sekarang sudah dewasa, terus menyatakan bahwa dia dilecehkan.

Saudara laki-laki Dylan, Ronan Farrow, menghidupkan kembali tuduhan itu pada festival film Cannes dibuka pada 2016, ia mengecam media karena tidak menanyakan hal itu pada sang sutradara.

Hubungan Amazon dengan Allen dimulai dengan “Cafe Society” (2016), di mana Amazon telah membeli hak tayang, sebelum memproduksi dan mendistribusikan “Wonder Wheel” (2017), lalu mereka berkomitmen untuk empat film tambahan.

Baca juga: Dylan Farrow beberkan pelecehan seksual Woody Allen

Baca juga: Woody Allen merasa sedih atas Harvey Weinstein

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“REWRITE” serial pertama karya Fajar Nugros

Jakarta (ANTARA) – Layanan streaming Viu meluncurkan serial original terbarunya yang berjudul “REWRITE”, yang merupakan serial pertama buatan Fajar Nugros.

“Memproduksi sebuah serial untuk platform digital dengan tema seperti ini benar-benar baru bagi saya. Tentunya ini jadi tantangan yang dengan senang hati saya ambil,” ujar Fajar dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu.

“REWRITE” bercerita tentang kesempatan kedua yang datang dalam kehidupan. Kisahnya bermula dengan kesibukan pasangan Senja (Audi Marissa) dan Abi (Maxime Bouttier) saat mempersiapkan pernikahan mereka pada tahun 2024.

Mendekati hari pernikahan, terjadi serangkaian peristiwa dalam kehidupan pribadi masing-masing yang menimbulkan gejolak emosional.

Senja yang terbenam dalam kesedihan karena sahabatnya meninggal dan Abi mulai ragu dengan pernikahan karena perceraian orangtuanya bahkan dia akhirnya tidak hadir di hari pernikahannya.

Senja marah dan membuang cincin kawinnya dan berharap dapat kembali ke masa lalu sebelum mengenal Abi. Ternyata keinginan itu dikabulkan dan Abi serta Senja akhirnya kembali ke tahun 2019 tanpa saling mengenal.

“Saya pikir ini menarik karena banyak dari kita berharap ada kesempatan kedua yang kadang enggak pernah ada, jadi saya ngerasa ini jadi isu yang menarik,” kata sutradara “Orang Kaya Baru” itu.

Selain Maxime dan Audi, aktor dan aktris lain yang juga terlibat dalam serial ini adalah Marcell Darwin, Dewi Rezer, Sonya Pandarwaman, Lia Waode dan lainnya.

“REWRITE” mulai tayang pada 15 Mei 2019 dan Viu akan menjadi platform streaming pertama di Indonesia yang akan meluncurkan secara bersamaan semua episodenya.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Beradegan mesra dengan Maxime, Audi Marissa tak enak dengan Prilly

Jakarta (ANTARA) – Audi Marissa merasa tidak enak dengan rekan sesama aktris Prilly Latuconsina lantaran ia diharuskan beradegan mesra dengan Maxime Bouttier dalam serial “REWRITE”,
 
“Aku sempat bilang ke Max, perlu bilang ke Prilly enggak tapi dia bilang nanti dia aja yang ngomong. Paling aku kayak ngajak Prilly ke lokasi syuting aja,” kata Audi dalam peluncuran serial original Viu “REWRITE” di Jakarta, Selasa.

Gadis yang mulai terkenal lewat sinetron “Diam-Diam Suka” itu, mengaku awalnya merasa canggung saat harus berakting begitu dekat dengan Maxim dan berciuman, apalagi dia baru pertama kali terlibat dalam satu proyek dengan kekasih Prilly itu.

“Jujur awalnya iya, tapi aku kemudian dapat arahan juga dari sutradara jadi enggak terlalu ada kesulitan,” ujarnya.

Beradegan ciuman dengan lawan main merupakan pengalaman pertama bagi Audi dan menganggapnya bagian dari profesionalitas.

“Enggak gimana-gimana sih, pokoknya sebatas profesional aja. Kalau take untuk adegan itu memang berkali-kali karena kan diambilnya dari berbagai angle,” jelas kekasih Billy Davidson itu.

“Saat berciuman juga enggak ngebayangin siapa-siapa. Aku ngebayanginnya aku adalah Senja dan Max adalah Abi,” katanya menambahkan.

Baca juga: “REWRITE” serial pertama karya Fajar Nugros
 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tilda Swinton, Selena Gomez di karpet merah Cannes

Jakarta (ANTARA) – Para pemain “The Dead Don’t Die”, aktris Tilda Swinton dengan gaun perak berkilauan, penyanyi Selena Gomez dan aktor Bill Murray serta Adam Driver berjalan di karpet merah festival film Cannes di French Riviera, Selasa, untuk penayangan film mereka, bersama dengan sutradara Jim Jarmusch.

“The Dead Don’t Die”, film komedi zombie yang berlatar di kota kecil Amerika Serikat menjadi salah satu film yang disoroti di sesi kompetisi Cannes, bersama dengan “Once Upon a Time in Hollywood” arahan sutradara Quentin Tarantino.

Kedua film itu akan bersaing mendapatkan penghargaan Palme D’Or, bersama dengan pendatang baru seperti Mati Diop dengan film “Atlantics” yang berlatar di pinggiran kota Dakar, Senegal, demikian seperti dilansir Reuters, Rabu.

Meski film produksi Netflix secara mencolok tak masuk dalam daftar –buntut dari pertikaian dengan Cannes mengenai aturan seleksi– perusahaan streaming itu disebut-sebut di hari pertama festival.

“Sinema adalah tentang kebersamaan,” kata Edouard Baer, seorang aktor Prancis dan pembawa acara malam pembukaan, kepada para aktor dan pesohor yang hadir di Cannes. “Pergilah keluar, daripada tinggal di rumah menyaksikan Netflix dengan pizza.”

Sehari sebelumnya, presiden dewan juri Cannes Alejandro Gonzalez Inarritu, sutradara “Birdman” dan “The Revenant” menekankan dukungannya untuk teater film.

“Pengalaman komunal itu sangat indah,” katanya.

Penyelenggara Cannes juga memberi penghormatan kepada pembuat film kelahiran Belgia, mendiang Agnes Varda. Dia adalah perintis wanita sutradara dan kekuatan berpengaruh dari gerakan New Wave dan sinema Prancis.

Varda, yang meninggal pada Maret dalam usia 90 tahun, tampil di unggahan resmi Cannes, berjongkok di belakang seorang anggota kru ketika dia mencoba mengambil gambar.

Klip dari film “Cleo from 5 to 7” garapannya yang dirilis 1962 ditayangkan di acara pembukaan Cannes.

Baca juga: “Angry Birds” terbang ke Festival Film Cannes untuk sekuel

Baca juga: Film dokumenter Schumacher diperkenalkan di Cannes

Baca juga: Di era Netflix, sutradara Inarritu mengelukan pengalaman di bioskop

Penerjemah: Heppy Ratna Sari
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Beradegan ciuman, Maxime Bouttier khawatir pendapat netizen

Jakarta (ANTARA) – Sebagai aktor, Maxime Bouttier akan melakukan adegan apa pun yang diperintahkan oleh sutradara, termasuk ciuman dengan lawan main. Bukan kekasihnya yang ia khawatirkan cemburu, melainkan pendapat penonton dan warganet

Maxime berperan sebagai Abi dalam serial “REWRITE” di platform streaming Viu. Di sini, dia adalah kekasih dari Senja yang dimainkan oleh Audi Marissa. Dalam salah satu episodenya, ada adegan di mana Maxime dan Audi berciuman mesra.

Baca juga: Pengalaman pertama Maxime Bouttier jadi sutradara

“Saya aktor, saya mainin skenario seperti itu. Yang pasti agak nervous aja karena di Indonesia perfilmannya jarang ada adegan kayak gini. Agak nervous aja dengan pendapat penonton,” kata Maxime usai peluncuran serial “REWRITE” di Jakarta, Rabu.

Kekasih Prilly Latuconsina ini akhirnya memilih untuk tidak terlalu peduli dengan komentar netizen. Sebab menurutnya, pendapat warganet tidak harus selalu didengarkan.

Baca juga: Maxime Bouttier komentari rumah mewah Prilly Latuconsina

“Kehidupan aku bukan diikutin sama netizen aja. My life, my life. Semoga aja netizen juga punya hidupnya masing-masing jadi enggak perlu terlalu ngikutin hidup aku juga,” ujar pemain “Matt & Mou”.

Maxime berharap banyak penonton yang suka dengan penampilannya dan Audi.

“Kita lakuin ini buat penonton. Mau kritik itu bagus atau jelek, it’s ok. Aku ini aktor, aku mainin yang aku dapat. Jadi semoga kalian bisa enjoy,” ucapnya.

Baca juga: “REWRITE” serial pertama karya Fajar Nugros

Baca juga: Maxime Bouttier dan Prilly rayakan valentine nonton konser Rossa
 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“SEKTE”, fanatisme buta berujung pengorbanan nyawa

Jakarta (ANTARA) – Lia (Asmara Abigail) tidak pernah menyangka keputusannya bergabung bersama Dewi (Gesatta Stella), Sony (Derby Romero), Shinta (Nadira Adnan), Diana (Fangtatis), Fajar (Natalius Cendana), Hanung (Edo Eduart) dan Desta (Trisa Triandesa) akan berujung petaka

Awalnya, tokoh Lia yang mengalami kecelakaan dan hilang ingatan sempat menyerah pada hidupnya. Lia lantas merasa mendapat secercah harapan karena Dewi dan teman-temanya berjanji akan membantu dengan segenap hati mereka.

Siapa Dewi dan kelompoknya itu? Mereka sekelompok orang yang tinggal di sebuah rumah besar dan membentuk komunitas penyembah sesosok mahluk yang mereka sebut bunda.

Dewi dan kelompoknya sangat mempercayai bunda sehingga rela melakukan apa saja sebagai bentuk kesetiaan, termasuk membunuh orang mereka sayangi.

Baca juga: Curhatan Derby Romero kerja bareng istri

Hanya saja, Lia lantas menyadari tentang perilaku kelompok penyembah bunda itu manakala mendapati peluang melarikan diri. Dengan sisa kekuatan, apakah Lia berhasil meloloskan diri atau justru menjadi korban berikutnya dalam kelompok itu?

Sutradara William Chandra menghadirkan berbagai ketegangan dalam film yang diproduseri aktor Derby Romero dan Rizky Nazar itu.

Selama sekitar 90 menit, mata penonton akan disuguhi kengerian orang-orang fanatik dan bagaimana perilaku penyembahan mereka meskipun latar belakang komunitas itu tidak diceritakan.

William juga tidak banyak menjelaskan kekuatan sosok bunda dan membiarkan penonton bertanya-tanya tentang mahluk yang disembah Dewi dan kwan-kawannya itu.

Sebagian besar scene dalam film horor thriller besutan rumah produksi Silver Bullet Films itu bernuansa kelam, baik itu siang maupun malam hari.

Film “SEKTE” akan tayang di bioskop Tanah Air pada 2 Mei 2019.

Baca juga: Derby Romero: Saya suka film horor

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Imam Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Antusiasme Tara Basro dan Marissa Anita berakting “Gundala”

Jakarta (ANTARA) – Setelah mengenalkan Abimana Aryasatya yang berperan sebagai Sancaka dan Gundala, kini ada dua pemeran lagi yang diperkenalkan dalam film “Gundala”, yakni Tara Basro dan Marissa Anita.

Tara yang sebelumnya dikenalkan di peluncuran First Look Gundala tahun lalu akan berperan sebagai Wulan, sedangkan Marissa Anita yang muncul di teaser trailer akan berakting sebagai ibu Sancaka.

Tara yang telah beberapa kali berkolaborasi dengan Joko Anwar di film-film terdahulu kali ini memainkan karakter Wulan, yang akan berjibaku dengan Sancaka untuk melawan ketidakadilan.

Mengenai perannya, Tara mengatakan antusiasmenya bermain di film “Gundala”, “Joko punya visi sendiri dan sangat jelas maunya apa, dia sudah tahu dunia yang dia mau bikin seperti apa,” kata Tara dalam keterangan pers dari Screenplay Films yang diterima Antara, Minggu.

Tara juga dipertemukan dengan Abimana dalam film ini. Berutung, sebelumnya dia dan Abimana sudah lama saling mengenal sehingga prosesnya lebih mudah dan terhindar dari rasa kikuk.

Marissa yang sudah beberapa kali berperan di karya garapan Joko memuji kemampuan sang sutradara.

“Joko adalah sutradara yang spesifik dan skillful,” kata Marissa.

Dalam perannya di “Gundala”, Marissa berbagi layar dengan aktor cilik Muzakki Ramdhan.

“Muzakki adalah anak yang loveable. Kerja sama dengannya luar biasa.”

Selain Tara dan Marissa, film “Gundala” juga dibintangi oleh Abimana Aryasatya, Muzakki Ramdhan, Bront Palarae, hingga Rio Dewanto.

Gundala, jagoan Indonesia ciptaan HASMI yang dicintai banyak penggemarnya sejak terbit tahun 1969 dalam bentuk komik, akan hadir di layar lebar di Agustus 2019.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Avengers: Endgame” pecahkan rekor di berbagai negara

Jakarta (ANTARA) – Para penggemar Marvel di dunia memenuhi bioskop untuk melihat penayangan “Avengers: Endgame” pada akhir pekan lalu, membuat hasil penjualan tiket untuk film pahlawan super itu melejit hingga 1,2 miliar dolar AS dan memecahkan rekor di banyak negara.

“Endgame” meraup pendapatan 350 juta dolar AS di Amerika Serikat dan Kanada, angka yang belum pernah dicapai film lain, dari penjualan tiket Kamis malam hingga Minggu, berdasarkan perkiraan Disney seperti dilansir Reuters, dikutip Senin.

Film berdurasi tiga jam itu mengungkapkan nasib dari Iron Man, Thor, Captain America, Black Widow dan karakter pahlawan super lain yang juga menorehkan sejarah di China, Brasil, Prancis, Mesir, Afrika Selatan dan 38 tempat lain.

Di China, pasar terbesar kedua dunia untuk industri film, “Endgame” berhasil membawa pulang pendapatan 330,5 juta dolar AS sejak tayang pada Rabu silam.

Akhir pekan bersejarah ini membuat Disney, kata para analis, memasuki tahun yang tak tertandingi. Perusahaan itu tahun ini juga bakal mengeluarkan film-film lain seperti “The Lion King” hingga “Toy Story 4”.

“Endgame” adalah film yang unik karena merupakan kisah pamungkas dari 22 film Marvel Studio sebelumnya yang telah menarik para penggemar berbondong-bondong ke bioskop selama sepuluh tahun terakhir.

Para penonton “terbukti peduli pada karakter-karakter ini,” ujar Cathleen Taff, kepala distribusi teater Disney. “Kupikir mereka ingin melihat bagaimana akhir kisah epik itu bergulir.”

“Endgame” dibintangi Robert Downey Jr., Chris Hemsworth, Scarlett Johansson dan pemeran pahlawan super lainnya yang bertarung melawan Thanos, diperankan Josh Brolin.

Hanya beberapa hari lalu, industri film punya dua pendapat berbeda mengenai apakah “Endgame” akan meraih pendapatan 300 juta dolar AS di pasar domestik. Film itu berhasil membuktikannya, jauh di atas rekor yang dipegang “Avengers: Infinity War” senilai 257,7 juta dolar AS tahun lalu.

“Infinity War” punya akhir yang menggantung, di mana sebagian pahlawan super berubah jadi debu, membuat penonton semakin tak sabar mengetahui kelanjutannya di “Endgame”.

Untuk memenuhi permintaan itu, bioskop setempat menambah jam penayangan pada jam-jam ganjil, seperti pukul 7 pagi. Operator bioskop AMC Entertainment terus membuka beberapa lokasinya selama 72 jam tanpa henti untuk terus menayangkan “Endgame”.

Bahkan perkiraan box office pun terlalu rendah.

“Yang kami tidak perhitungkan adalah penggemar dengan senang hati datang pukul 3 dini hari untuk menonton film berdurasi tiga jam,” kata Paul Dergarabedian, analis media senior di perusahaan Comscore.

“Endgame” terbukti jadi fenomena budaya global.

Stasiun subway di London punya papan penunjuk berisi permintaan agar para penumpang tidak bicara soal plot film sehingga tidak memberi bocoran pada orang lain, berdasarkan foto yang diunggah oleh Kepala Eksekutif Disney Bob Iger di Twitter.

Sebagian penggemar di China membayar lebih dari 500 yuan atau sekitar Rp1 juta untuk tiket “Endgame” di tempat ilegal, jauh lebih mahal ketimbang tiket resmi di bioskop senilai 60 yuan atau Rp126.000.

Di Hollywood, Susan Macial (44) menonton seluruh 22 film Marvel di El Capitan Theatre dalam edisi penayangan maraton yang habis terjual, dengan “Endgame” sebagai film pamungkas.

“Ini adalah tiga hari yang memuaskan,” ujar Macias setelah menonton.

Baca juga: Belum nonton “Avengers: Endgame”? Ini cara hindari spoiler di Internet

Baca juga: Hollywood rayakan akhir film “Avengers”

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Tolkien” suguhkan kisah hidup penulis “Lord of the Rings”

Jakarta (ANTARA) – Dunia khayalan penulis J.R.R. Tolkien yang berisi hobbit hingga peri telah memenangi hati penggemar di dunia selama beberapa puluh tahun sejak kisah “The Hobbit” dan “The Lord of the Rings” diterbitkan.

Kini sang novelis Inggris itu yang menjadi subjek film yang bercerita tentang masa muda dan inspirasi dari karya-karyanya, seperti dilansir Reuters.

Aktor Nicholas Hoult (“X Men”, “The Favourite”) mendapatkan peran utama di film “Tolkien”, yang bercerita tentang kehidupan sang penulis sebagai anak yatim piatu, kehidupan sekolahnya bersama teman-teman di Birmingham, kegiatan sebagai mahasiswa di Universitas Oxford dan menjadi tentara garis depan di pertempuran Somme antara Anglo-Prancis dan Jerman pada Perang Dunia I.

“Kami ingin memberi penghormatan padanya dan menceritakan kisah yang menarik, tentang masa-masa awal beliau, yang menarik untuk orang-orang,” kata Holt pada Reuters.

Aktris Lily Collins (“Mirror Mirror”) berperan sebagai Edith Bratt, yang ditemui Tolkien ketika dia pindah ke asrama dan kelak menjadi istri serta menjadi inspirasi peri Luthien dalam dunia fiksinya.

“Kami menunjukkan dirinya menari di tengah hutan.. keelokannya dan kecintaannya pada mendongeng dan bagaimana dia menginspirasi Tolkien untuk terus bercerita,” ujar Collins.

Tolkien, yang merupakan profesor Anglo-Saxon di Oxford, menerbitkan “The Hobbit” pada 1937. “The Lord of the Rings” terbit dalam tiga bagian antara 1954 dan 1955.

Lebih dari 150 juta kopi “The Lord of the Rings” telah terjual di dunia. Adaptasi film tersebut serta trilogi “The Hobbit” yang berhasil meraup sekitar 5,8 miliar dolar AS di box office global.

Tolkien meninggal 1973, pada usia 81 tahun, dua tahun setelah istrinya wafat.

Keluarga dan estate-nya tidak berpartisipasi dalam adaptasi film Tolkien, mengatakan dalam pernyataan pekan lalu bahwa mereka tidak menyetujui, mengizinkan, atau berpartisipasi dalam pembuatan film ini. Mereka tidak mendukung film itu atau kontennya dengan cara apa pun.

Studio Fox Searchlight Pictures mengatakan mereka “bangga” atas film biopik dan “tim pembuat film yang menghormati dan mengagumi Tolkien serta kontribusi fenomenalnya pada literatur”.

Sutradara Dome Karukoski mengatakan dia berharap keluarga Tolkien mau menonton film tersebut.

“Saya sebenarnya menawarkan… untuk menonton bersama mereka jadi mereka bisa melihatnya dan film itu dikerjakan dengan penuh rasa hormat dan menghargai seperti yang dirasakan penggemar,” katanya.

“Tolkien” akan tayang mulai 3 Mei.

Baca juga: Novel tak selesai JRR Tolkien akan diterbitkan

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ari Sihasale ingin buat film dokumenter tentang Ambon

Ambon (ANTARA) – Ari Sihasale berencana akan membuat film dokumenter tentang kota Ambon.

“Setelah sekian lama tidak mengunjungi kota Ambon akhirnya saya berkesempatan untuk datang dan melihat langsung kota Ambon, ke depan saya dan Nia Zulkarnaen berencana akan membuat film dokumenter tentang kota ini, ide dan konsepnya sementara kita pikirkan,” kata Ari Sihasale di Ambon, Senin.

Ia mengatakan, kunjungan ke kota Ambon merupakan salah satu upaya untuk menggali kekayaan kota Ambon yang terpendam selama ini.

“Banyak harta karun terpendam yang belum digali, karena itu kita akan memanfaatkan waktu selama di Ambon untuk menggali apa yang masih terpendam untuk digarap dalam bentuk film dokumenter,” ujarnya.

Ari Sihasale atau akrab disapa Ale,kerap membuat film dengan latar belakang budaya dan kesenian daerah seperti Papua maupun Nusa Tenggara Timur (NTT).

Produksi Alenia konsisten membuat film-film inspiratif yang menampilkan keindahan alam Indonesia dan cocok ditonton oleh anak-anak.

Sedikitnya, Ari dan Nia sudah menelurkan tujuh film bertema anak seperti “Denias, Negeri di Atas Awan” (DNDAA, 2006), “Liburan Seru” (2008), “King” (2009), “Tanah Air Beta” (2010) hingga “Serdadu Kumbang” (2011), “Di Timur Matahari” dan “Seputih Cinta Melati”.

Selain ikut bermain, Ale kemudian mengawali kiprahnya sebagai sutradara di film “King” (2009) yang terinspirasi dari perjuangan pebulutangkis legendaris Indonesia, Liem Swie King.

Bahkan, film “Denias Negeri di Atas Awan” pernah menembus ajang anugerah film paling bergengsi, Piala Oscar.

Ale mengawali karir dari dunia model yang membawanya berkiprah di bidang akting. Pria berdarah Papua-Ambon ini mulai menarik perhatian sejak tampil di serial Buana Jaka di tahun 1992.

Ale juga sempat menjadi model video klip Denada yang berjudul “Sambutlah”. Yang melejitkan nama Ari Sihasale adalah sinetron Ali Topan Anak Jalanan dimana ia berperan sebagai Ali Topan.

Baca juga: “1000 Balon”, film dari anak untuk anak

Baca juga: Ari Sihasale dan Nia enggan syuting di Jakarta

Baca juga: Ari Sihasale-Nia Zulkarnaen ajarkan cinta lingkungan lewat film
 

Pewarta: Penina Fiolana Mayaut
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Elle Fanning jadi juri Festival Film Cannes

Jakarta (ANTARA) – Aktris AS Elle Fanning, novelis grafis Prancis Enki Bilal dan sutradara peraih nominasi Oscar “The Favourite”, Yorgos Lanthimos, akan jadi anggota juri di Festival Film Cannes bulan depan, kata penyelenggara, Senin (29/4).

Dilansir Reuters, pameran film terbesar di dunia dimulai di French Riviera pada 14 Mei, dengan sutradara Meksiko Alejandro Gonzalez Inarritu sebagai pemimpin panel yang memutuskan penghargaan-penghargaan yang diberikan, termasuk penghargaan bergengsi Palme D’Or.

Dibagi menjadi empat lelaki dan empat perempuan, juri untuk festival edisi ke-72 ini juga meliputi sineas Polandia dan penulis skenario yang disebut sutradara terbaik di Cannes tahun lalu untuk film “Cold War”, Pawel Pawlikowski.

Maimouna N’Diaye, yang sudah menyutradarai film-film dokumenter dan berakting di film “Chasing Butterflies” dari Otar Iosseliani, juga akan duduk di panel tersebut, bersama dua sutradara perempuan lain.

Yakni, sutradara Kelly Reichardt dari AS, yang karyanya “Wendy and Lucy” dibintangi Michelle Williams merupakan pesaing untuk Un Certain Regard award pada Cannes 2008, menyutradarai film “Certain Women” pada 2016.

Kemudian, ada Alicia Rohrwacher dari Italia. Ia memenangi skenario terbaik di Cannes tahun lalu untuk film “Happy as Lazzarro”, kisah satir tentang keluarga petani.

Sineas Prancis Robin Campillo, yang menghebohkan Cannes pada 2017 lewat “120 BPM – Beats Per Minute”, memenangi Grand Prix untuk filmnya tentang seorang aktivis AIDS, akan bergabung dalam jejeran dewan juri.

Juga, pencipta komik Bilal, yang terkenal karena trilogi novel fiksi ilmiah Nikopol, serta menyutradarai film-film layar lebar, termasuk “Immortal” pada 2004, kata penyelenggara.

Fanning, yang mulai terjun di dunia film sejak masih anak-anak, telah membintangi beberapa film dalam kompetisi di Cannes dalam beberapa tahun terakhir, termasuk “The Beguiled” oleh Sofia Coppola pada tahun 2017.

Festival Cannesyang digelar 14-25 Mei akan dimulai dengan penayangan film terbaru sutradara AS Jim Jarmusch, “The Dead Don’t Die”.

Baca juga: Film Jepang “Shoplifter” rebut Palme d`Or Cannes
 

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Anggy Umbara angkat kisah nyata sang ibu untuk serial podcast terbaru

Jakarta (ANTARA) – Sutradara Anggy Umbara mengangkat kisah nyata sang ibunda sebagai latar cerita serial podcast (cerita yang disajikan dalam bentuk suara) terbarunya berjudul “Mata dan Mantra”.

“Ini memang berasal dari true story Ibu saya,” kata Anggy dalam jumpa pers “JOOX The Series” di kawasan Sudirman, Jakarta Selatan, Selasa.

Menurut Anggy, kisah ibundanya itu dinilai cocok untuk dituangkan dalam cerita podcast bergenre horor yang tengah dia kerjakan, lantaran mengandung unsur mistis dan gaib.

Anggy mengisahkan pada saat baru dilahirkan, ibundanya mengalami peristiwa aneh, di mana kedua matanya mengalami kebutaan dan mengeluarkan darah.

Namun kebutaan tersebut hanya berlangsung sesaat, setelah sang ibunda menjalani pengobatan. Seusai peristiwa itu, muncul hal mengejutkan, sang ibu justru bisa melihat hal-hal tak kasat mata.

“Jadi ketahuannya itu beliau bisa melihat hal-hal yang tidak bisa dilihat orang lain,” kata dia.

Dalam pengerjaan cerita podcast tersebut, Anggy menggandeng artis Shareefa Daanish dan TJ sebagai pemeran.

Cerita “Mata dan Mantra” yang tengah digarap Anggy merupakan satu dari tiga cerita podcast yang dihadirkan aplikasi streaming JOOX, bertajuk “JOOX The Series”.

Dua cerita lainnya berjudul “Bridezilla” karya sutradara Angga W. Sasongko dan Anggia Kharisma, serta “Klub Kecanduan Mantan” yang disutradarai Gina S. Noer dan Salman Aristo.

“Bridezilla” mengangkat genre romansa, tentang kisah seorang pemilik wedding organizer bernama Dara, yang berambisi memenangkan penghargaan wedding organizer of the year.

Cerita ini diperankan oleh sejumlah artis ternama, yaitu Jessica Mila, Rio Dewanto, Sheila Dara , dan Rafael Tan.

Sedangkan “Klub Kecanduan Mantan” merupakan cerita bergenre komedi yang mengisahkan tentang Janji seorang perempuan bernama Rino yang berusaha menikah lebih dulu, mendahului mantan pacarnya. Namun, dalam perjalanannya Rino kesulitan mendapatkan pasangan.

Cerita ini diperankan oleh artis dan juga penyanyi Sheryl Sheinafia, Vidi Aldiano, Kunto Aji, dan Ify Alyssa.

Baca juga: Jessica Mila kesulitan perankan tokoh serial podcast

Baca juga: Sambut Ramadan, JOOX hadirkan podcast cerita gratis

Pewarta: Peserta Susdape XIX/Fathur Rochman
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Perusahaan Obama siapkan tayangan Netflix, biopik hingga serial anak

Jakarta (ANTARA) – Perusahaan produksi Barack dan Michelle Obama menyiapkan serangkaian program beragam untuk Netflix Inc, termasuk drama sejarah di dunia mode dan biopik tentang Frederick Douglass.

Serial, dokumenter dan film dari perusahaan itu akan ditayangkan di layanan streaming selama beberapa tahun ke depan, berdasarkan pernyataan dari Higher Ground Productions, perusahaan yang dibentuk oleh mantan presiden dan mantan ibu negara AS tahun lalu.

Daftarnya meliputi drama “Bloom”, serial berlatar belakang dunia mode pasca Perang Dunia II di New York, yang mengeksplorasi batasan yang dihadapi perempuan dan orang kulit berwarna. Serial itu ditulis dan diproduksi oleh Callie Khouri yang memproduksi “Thelma and Louise” yang memenangi Oscar, seperti dilansir Reuters.

Ada juga serial untuk anak-anak usia pra-TK berjudul “Listen to Your Vegetables & Eat Your Parent” yang akan mengajak anak-anak dan orangtuanya mengikuti petualangan yang mengisahkan kisah tentang makanan.

Saat masih jadi ibu negara, Michelle Obama mengadvokasi pola makan sehat untuk anak-anak.

Proyek lain meliputi serial nonfiksi yang diangkat dari buku Michael Lewis berjudul “The Fifth Risk: Undoing Democracy”, juga adaptasi dari buku “Frederick Douglass: Prophet of Freedom”.

“Kami yakin produksi ini tak hanya akan menghibur, tapi mendidik, menghubungkan dan menginspirasi kita semua,” kata Obama dalam pernyataan.

Baca juga: Apple TV siap bersaing dengan Netflix

Baca juga: Pesaing Netflix, Disney+ diluncurkan tahun ini

Baca juga: Netflix hapus fitur AirPlay di iOS

Penerjemah: Nanien Yuniar
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sutradara “Boyz N the Hood” John Singleton tutup usia

Jakarta (ANTARA) – Sutradara peraih nominasi Oscar 1992 lewat film “Boyz N the Hood” John Singleton tutup usia. Peraih penghargaan pertama untuk keturunan Afrika-Amerika itu wafat di usia 51 tahun pada Senin (29/4) di Los Angeles.

Kematiannya, di Pusat Medis Cedars-Sinai, dikonfirmasikan dalam pernyataan keluarga setelah alat bantu hidupnya dicabut. Singleton yang dirawat sejak 17 April, dilaporkan setelah mengalami stroke dan memiliki riwayat hipertensi.

Ibunya, Shelia Ward, mengatakan pekan lalu bahwa Singleton dalam keadaan koma dan mengajukan surat-surat pengadilan yang meminta untuk ditunjuk sebagai konservator sementara. Beberapa anaknya pada saat itu menentangnya dan mencoba mengambil kendali atas keputusan medis serta keuangannya, dan secara terbuka membantah penilaiannya tentang keadaan medisnya.

“Boyz N the Hood,” sebuah film realistis suram tentang tiga remaja yang tumbuh di tengah kekerasan geng di South-Central Los Angeles. Film itu membangun kepercayaan Singleton dan mengenalkannya dengan sutradara Afrika-Amerika yang lebih mapan seperti Spike Lee, Bill Duke , Julie Dash, Robert Townsend dan Reginald Hudlin.

“Ketika saya berusia 18 tahun, saya melihat ‘She’s Gotta Have It,’” kata Singleton, mengacu pada film terobosan Lee tahun 1986, dalam sebuah video YouTube pada 2013.

“Film itu sangat kuat bagi saya, seperti seorang anak muda kulit hitam remaja yang tumbuh menonton film dengan tidak banyak orang yang mirip saya,” katanya.

Dia berusia 22 ketika dia mulai syuting “Boyz,” yang mengikuti Tre (diperankan oleh Cuba Gooding Jr.) dan teman-temannya Ricky (Morris Chestnut) dan Doughboy (Ice Cube) ketika mencoba menghindari geng dan narkoba.

Ketika Ricky ditembak dan dibunuh oleh anggota geng, Doughboy, saudara tirinya, berusaha membalas dendam, tetapi Tre mundur dari pembalasan.

Singleton lulus dari sekolah film kurang dari setahun sebelumnya. Dia kemudian mengakui bahwa ketika dia membuat “Boyz N the Hood” dia belum tahu bagaimana mengarahkan film.

“Ketika film berjalan, saya belajar bagaimana mengarahkan,” katanya setelah pemutaran ulang tahun ke-25 film di Manhattan pada 2016.

“Ketika itu menjadi lebih intens dan masuk ke babak ketiga, pengambilan gambar jadi lebih dan lebih cair, karena saya menjadi lebih baik dan lebih baik – dan mengambil lebih banyak peluang. “

Setelah Columbia menayangkannya di Festival Film Cannes 1991 – dengan Spike ada Lee di antara penonton – kritikus film Roger Ebert memuji “kekuatan, kejujuran dan keterampilan pembuatan filmnya.”

“Pada akhir ‘Boyz N the Hood,'” dia menulis, “Saya menyadari, saya tidak hanya melihat debut sutradara yang brilian, tetapi sebuah film Amerika yang sangat penting.”

Sayangnya, Singleton harus kalah di Academy Award 1992 dari sutradara terbaik Jonathan Demme, yang menang lewat film “Silence of the Lambs.” Dia juga dinominasikan untuk skenario film asli terbaik, tetapi Callie Khouri memenangkan Oscar untuk “Thelma and Louise.”

Singleton tetap menjadi nominasi Oscar termuda untuk sutradara terbaik.

Tidak ada pembuat film berkulit hitam yang memenangkan Oscar sebagai sutradara terbaik. Tetapi ketika Lee memenangkan tahun ini untuk skenario terbaik yang diadaptasi, untuk “BlacKkKlansman,” Singleton sangat gembira.

“Saudaraku Spike Lee baru saja memenangkan Oscar pertamanya,” cuit Singleton di Twitter. “Aku sangat senang!”

John Daniel Singleton lahir pada 6 Januari 1968 di Los Angeles. Ibunya adalah seorang eksekutif penjualan farmasi, dan ayahnya, Danny Singleton, adalah seorang broker. Dia tinggal bersama ibunya sampai berusia 11 tahun dan kemudian tinggal bersama ayahnya, yang mendasari karakter ayah Tre (diperankan oleh Laurence Fishburne) di “Boyz.”

Singleton menyutradarai berbagai film tetapi tidak ada yang memiliki dampak seperti “Boyz.” Mereka termasuk “Rosewood” (1997), pemeragaan ulang serangan massa terhadap orang kulit hitam di Florida pada awal 1920-an, “Shaft” (2000), sebuah remake dari film hit 1971, “Baby Boy” (2001), sebuah kisah yang datang dari zaman; “2 Fast 2 Furious” (2003), entri awal dalam waralaba “Fast and the Furious”; dan “Four Brothers” (2005), sebuah drama kejahatan. D

Ia juga pindah ke televisi, mengarahkan episode “Empire,” “The People v. O.J. Simpson: American Crime Story “dan” Milions”, New York Times dikutp Rabu.

Baca juga: Sakit hati karena didepak, Roman Polanski gugat Academy

Baca juga: Penulis “Green Book” tak kenal keluarga Don Shirley sebelum film
 

Penerjemah: Ida Nurcahyani
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Netflix akan buat miniseri penyelamatan di gua Thailand

Jakarta (ANTARA) – Netflix sudah mendapatkan hak untuk membuat miniseri mengenai penyelamatan 12 remaja dan pelatih sepak bola dari sebuah gua di Thailand tahun lalu yang menarik perhatian internasional.

“Kisah itu menggabungkan banyak tema unik lokal dan universal yang dekat dengan orang-orang dari seluruh dunia,” ujar Erika North, Director of International Originals Netlix, seperti dilansir Reuters.

“Thailand adalah pasar yang sangat penting untuk Netflix dan kami tak sabar membawa kisah lokal yang menginspirasi tapi bisa dekat dengan global ini ke layar,” imbuh dia.

Tim sepakbola “Wild Boars”, berusia antara 11 dan 16, dan pelatihnya yang berusia 25 tahun, terperangkap pada 23 Juni saat menelusuri kompleks gua di provinsi Chiang Rai ketika air hujan membanjiri isi gua.

Penyelamatan selama 17 hari melibatkan para pakar dari berbagai negara yang menawarkan bantuan.

“Kami tak sabar untuk bekerja dengan semua pihak yang terlibat untuk memastikan kisah kami diceritakan secara akurat,” kata asisten pelatih Ekkapol “Ake” Chantapong.

Miniseri itu akan disutradarai oleh sutradara Crazy Rich Asian Jon M. Chu dan Nattawut “Baz” Poonpiriya.

Netflix dan SK Global Entertainment mendapatkan hak cipta dari 13 Thamluang, perusahaan yang didirikan oleh pelatih dan murid-murid tersebut.

Sejauh ini, sudah ada dua buku yang diterbitkan mengenai penyelamatan tersebut, sementara film panjang dari sutradara Inggris-Thailand Tom Waller berjudul “The Cave” sudah rampung diproduksi pada Desember, seperti dikutip dari Hollywood Reporter.

Baca juga: Elon Musk masuk gua di Thailand pakai kapal selam mini

Baca juga: Remaja gua Thailand ditahbiskan jadi calon biksu

Baca juga: Delapan anggota tim sepak bola Thailand berhasil diselamatkan

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Cerita Kimberly Ryder berakting dengan para aktor cilik

Jakarta (ANTARA) – Pertama kali beradu akting dengan para aktor dan aktris cilik, Kimberly Ryder mendapat banyak tantangan, salah satunya adalah harus membuat anak-anak itu nyaman dengannya.

“Tantangannya adalah bermain dengan anak-anak kecil dan mencoba untuk mengerti mereka. Aku harus membangun chemistry dengan mereka dan berusaha menjadi sosok yang bisa mereka percaya. Tidak hanya dalam akting tapi juga di luar syuting,” ujar Kimberly melalui keterangan resmi yang diterima Antara, Rabu.

Dalam film “Koki Koki Cilik 2”, Kimberly berperan sebagai Tante Adel. Dia tanpa sengaja ikut dalam petualangan Bima (Farrad Fatik) dan teman-temannya di cooking camp. Bagi Kimberly, peran ini sangat baru baginya.

“Sebelumnya aku belum pernah main karakter seperti Tante Adel, jadi memang sebuah tantangan untuk mendapatkan hati anak-anak agar mereka merasa aku bagian dari grup mereka juga,” ucapnya.

Menariknya, para pemain cilik dalam film tersebut rata-rata sudah jago memasak, hal inilah yang sempat membuat Kimberly merasa malu.

“Duh, melihat anak-anak di Kocil (Koki Koki Cilik) bisa masak membuat aku malu pada diri sendiri, karena di saat aku seumuran mereka, aku sama sekali enggak bisa melakukan apa yang bisa mereka lakukan. Aku baru belajar memasak mungkin waktu sudah di atas usia 18 tahun,” jelas istri dari Edward Akbar ini.

Seperti pada sekuel pertamanya, “Koki Koki Cilik 2” juga memberikan banyak pesan positif untuk penontonnya, bahkan Kimberly juga bisa ikut merasakannya.

“Salah satu pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa kita tidak bisa langsung menilai atau menghakimi orang lain. Kadang orang terlihat buruk perilakunya, tapi biasanya ada cerita di balik kenapa mereka melakukan itu. Kalau kita mencoba untuk mengenal mereka, biasanya kita lebih bisa mengerti sisi pandang orang tersebut,” kata pemain film “Manusia Setengah Salmon” itu.

Film yang disutradarai oleh Viva Westi ini dijadwalkan tayang pada 27 Juni 2019 untuk mengisi masa libur sekolah.

Baca juga: Kebiasaan baru Kimberly Ryder setelah menikah

Baca juga: Kejutan baru di sekuel “Koki-Koki Cilik 2”

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Syuting “Ambu”, Laudya Cynthia Bella menikmati tinggal di desa Baduy

Jakarta (ANTARA) – Tinggal di desa suku Baduy selama beberapa saat untuk syuting film “Ambu”, membuat aktris Laudya Cynthia Bella belajar banyak hal, salah satunya menikmati hidup dengan sederhana dan tanpa ponsel.

“Biasanya kalau break syuting kan kita-kita yang pemain film pada main handphone. Kalau ini enggak, kita ngumpul bareng, kekeluargaan banget,” kata Bella, demikian ia akrab disapa, saat menceritakan kesannya terlibat dalam pembuatan film “Ambu”.

Ditemui saat pemutaran film terbarunya itu, di Jakarta, Rabu, ia mengaku terkesan dengan suasana hangat yang terbangun selama syuting.

Break syuting jam 5, terus kita ngumpul rame-rame, Andri (Andri Marshadi) dia manggil anak-anak daerah sana, terus kita nyanyi-nyanyi,” ujarnya.

Tidak hanya itu, Bella juga menikmati tinggal di sana dan memperhatikan bagaimana warga Baduy sehari-hari.

“Aku banyak pelajaran yang didapat bagaimana mereka hidup di sana, bagaimana mereka benar-benar mempertahankan kelestarian alam mereka, mereka temukan sabun, mereka tidak menggunakan alat kimia. Jadi menurut aku syuting di sana banyak banget pelajarannya,” katanya.

“Dan di sana kita benar-benar fresh banget. Yang bangun subuh, mandi langsung dari air sungai jadi enak banget deh,” lanjut Bella.

Pemain film “Surga Yang Tak Dirindukan” itu pun bersyukur mendapat kesempatan bermain di “Ambu”. Menurut Bella, dirinya tidak mungkin bisa berkunjung ke Baduy jika bukan karena film itu.

“Kayaknya aku enggak tahu gimana caranya untuk sampai ke sana. Kalau misalnya niatnya untuk berlibur kayaknya enggak sampai dan alhamdullilah karena film ‘Ambu’ akhirnya kesampaian,” tuturnya.

Dalam film “Ambu”, Bella berperan sebagai Fatma, seorang perempuan yang memilih meninggalkan Baduy untuk menikah dengan pemuda Jakarta.

Fatma kemudian memiliki anak bernama Nona (Lutesha) dan membawanya ke kembali ke Baduy. Namun ia mendapat penolakan dari Ambu Misnah (Widyawati), ibunya karena dianggap bukan lagi bagian dari masyarakat Baduy.

“Ambu” akan tayang pada 16 Mei 2019 dan diklaim sebagai film komersial pertama yang mengangkat latar belakang budaya Baduy.

Baca juga: Laudya Cynthia Bella dan Desy Ratnasari ditantang berbahasa Minang
 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Lama vakum, Widyawati menyanyi lagi untuk film “Ambu”

Jakarta (ANTARA) – Setelah sekian lama vakum, aktris senior Widyawati kembali ke dunia tarik suara dengan menyanyikan lagu “Semesta Pertamaku” yang merupakan musik film “Ambu”.

“Alhamdullilah saya sebenarnya pengin nyanyi sejak lama. Lalu diminta sama mas Farid (Farid Dermawan, sutradara ‘Ambu’). Memang awalnya Farid minta saya untuk nyanyi,” kata Widyawati dalam jumpa pers pemutaran perdana film “Ambu” di Jakarta, Rabu.

“Semesta Pertamaku” diciptakan oleh Titien Wattimena dan diaransemen oleh Andi Rianto. Awalnya, Widyawati sempat kesulitan menyanyikannya karena nadanya yang tinggi.

“Awalnya kayak susah ya, tapi lama-lama saya menikmati. Saya dua kali retake, ada masalah. Masalahnya teknis. Saya senang aja, sebelumnya beberapa waktu lalu kalau filmnya Sophan (Sophan Sophiaan) yang bikin, saya yang nyanyi,” kata aktris yang populer di era 1970an itu.

Bintang “Pengantin Remaja” itu mengatakan, lirik lagu “Semesta Pertamaku” begitu dalam sehingga ia sempat terbawa suasana.

“Sempet nangis sih. Ada beberapa bait yang saya nangis karena saya ngebayangin ketika kejadian itu. Jadi saya ada sedikit tersekat,” ucapnya.

Selain mengisi musik film, Widyawati juga bermain dalam film “Ambu”, sebagai Ambu Misnah, ibu dari Fatma yang dimainkan oleh Laudya Cynthia Bella.

“Ambu” bercerita tentang Fatma, seorang perempuan yang memilih meninggalkan Baduy untuk menikah dengan pemuda Jakarta.

Fatma kemudian memiliki anak bernama Nona (Lutesha) dan membawanya ke kembali ke Baduy. Namun ia mendapat penolakan dari Ambu Misnah karena dianggap bukan lagi bagian dari masyarakat Baduy.

“Ambu” akan tayang pada 16 Mei 2019 dan diklaim sebagai film komersial pertama yang mengangkat latar belakang budaya Baduy.

Baca juga: Syuting “Ambu”, Laudya Cynthia Bella menikmati tinggal di desa Baduy
 

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Long Shot” pertemukan pasangan tak lazim Charlize Theron – Seth Rogen

Jakarta (ANTARA) – Pemenang Oscar Charlize Theron dan aktor komedi Seth Rogen beradu akting di film komedi romantis “Long Shot”, di mana mereka berperan sebagai pasangan politisi berkuasa dengan jurnalis pengangguran yang berantakan.

Aktris 43 tahun itu berperan jadi Sekretaris Negara AS Charlotte Field dalam film, seorang politisi disegani dan ambisius yang ingin menduduki kursi presiden.

Dalam sebuah kesempatan, dia bertemu Fred Flarsky, diperankan Rogen, seorang reporter canggung yang pernah dia urus saat kecil dan sang reporter mulai bekerja untuknya sebagai penulis naskah pidato.

“Saya membaca dua biografi mengenai sekretaris negara perempuan. Kami punya beberapa penulis pidato di set yang sangat membantu dan sangat baik menjelaskan logistik dari pekerjaan itu,” kata Theron pada Reuters mengenai persiapan peran.

“Saya tidak pernah ingin membuatnya mirip seperti seseorang, saya hanya ingin karakter itu terlihat meyakinkan.”

Rogen mengatakan karakternya, yang mencolok karena penampilan yang kasual dan jatuh dari tangga, dibuat berdasarkan “penampilan sebagian jurnalis yang pernah mewawancarai saya.”

“Saya menyadari bahwa banyak dari mereka berdandan seperti usia 12 tahun,” imbuh dia dalam wawancara bersama Theron.

Komedi romantis, yang punya banyak adegan mengocok perut, berkisah tentang pasangan itu yang mulai menaruh hati ketika Field keliling dunia untuk mengerjakan kampanye lingkungan.

Sutradara Jonathan Levine mengatakan para aktor banyak melakukan improvisasi di lokasi syuting dan film itu ingin menyentuh banyak aspek dalam kehidupan nyata lewat cara yang lucu.

Baca juga: Brad Pitt dan Charlize Theron dikabarkan berkencan

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Zac Efron perankan pembunuh berantai Ted Bundy di drama baru

Jakarta (ANTARA) – Zac Efron, yang banyak digilai remaja perempuan berkat “High School Musical”, mengambil peran baru sebagai pembunuh berantai Amerika Ted Bundy dalam drama kriminal ““Extremely Wicked, Shockingly Evil, and Vile”.

Film, yang dirilis Netflix di AS dan oleh Sky Cinema di Inggris pada Jumat, berkisah tentang pengadilan Bundy pada 1979, yang dieksekusi di Florida pada 1989, dari sudut pandang pacarnya bernama Liz, diperankan aktris Lily Collins dari “Mirror Mirror”.

Sebelum ajalnya, Bundy mengaku telah membunuh lebih dari 30 perempuan muda di beberapa negara bagian AS pada 1970-an.

Bagi Efron, peran itu sangat berbeda dibandingkan karakter yang pernah didapatnya, di mana baru-baru ini dia membintangi film musikal “The Greatest Showman” dan komedi “Baywatch”.

“Ini adalah sebuah tinjauan lebih dalam terhadap salah satu manipulator massa paling parah dan pembunuh massal gadis-gadis yang mungkin jadi salah satu kisah yang paling sulit untuk diceritakan,” kata dia.

Judul filmnya diambil dari kata-kata juri Edward D. Cowart – diperankan John Malkovich – saat membacakan vonis hukuman mati untuk Bundy yang berusia 32 tahun, menyebut kejahatannya sangat jahat dan keji, “extremely wicked, shockingly evil, vile”.

Pengadilan di Miami yang ditayangkan di televisi menampilkan Bundy si mahasiswa hukum, yang lolos dari tahanan polisi sebanyak dua kali, berdiri di pengadilan yang dihadiri oleh penggemar-penggemarnya.

“Tidak ada yang percaya Bundy bisa melakukan kejahatan itu melihat dari penampilannya, bagaimana dia bersikap,” ujar sutradara Joe Berlinger.

“Kita hidup di era… di mana orang memberikan citra yang berbeda dari dirinya, jadi apa yang bisa dipelajari dari Bundy saya pikir relevan untuk masa kini.”

Baca juga: Produser: serial pembunuhan Versace tampilkan citra keluarga dengan baik

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film animasi Bilal Bin Rabah akan tayang di Indonesia

Jakarta (ANTARA) – Menyambut bulan Ramadhan 2019, Falcon Pictures memboyong film animasi dari Uni Emirat Arab yang berkisah tentang sosok Bilal bin Rabah berjudul “Bilal: A New Breed of Hero”

“Bilal” adalah film animasi panjang pertama dari Uni Emirat Arab garapan Barajoun Entertainment.

Dalam keterangan pers yang diterima Antara di Jakarta, Kamis, film itu dialih suarakan oleh aktor Inggris, Adewale Akinnuoye-Agbaje, yang berperan sebagai Killer Croc di film Suicide Squad.

Sebelumnya, film “Bilal” telah mencuri perhatian saat diputar di festival film Cannes, pada Mei lalu, dan mendapatkan penghargaan dari sebagai Best Inspiring Movie dalam kategori Animasi.

Produser Falcon Pictures, Frederica mengatakan, sebagai perusahaan film, Falcon Pictures akan terus mengembangkan diri.

“Kami bekerja keras, bukan hanya untuk kepentingan kami, tapi juga untuk kemajuan film Indonesia. Kami juga akan bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan film Internsional untuk menghadirkan fillm-film terbaik di Indonesia,” kata Frederica.

Film “Bilal” akan tayang serentak diseluruh bioskop CGV dan Cinemaxx di Indonesia pada tanggal 15 Mei 2019.
 

Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019