Rami Malek masuk negosiasi akhir untuk peran di “James Bond”

Jakarta (ANTARA) – Rami Malek kabarnya sudah memasuki tahap negosiasi terakhir untuk bermain sebagai penjahat utama di film “James Bond 25”.

Aktor Terbaik Oscar 2019 ini baru saja menyelesaikan syuting terakhirnya untuk Mr. Robot. Sedangkan untuk film “James Bond” terakhir dari Daniel Craig sepertinya akan segera mencapai kesepakatan, dikutip dari NME, Kamis.

Sementara itu, untuk detail lengkap karakter yang akan diperankan oleh Malek belum diketahui secara pasti.

Kemungkinan, Malek akan memainkan sosok orang buta jika merujuk pada komentar yang dibuat Said Taghmaoui, aktor asal Maroko yang awalnya terkait dengan peran tersebut saat Danny Boyle masih menjadi sutradara.

Baca juga: “James Bond 25” rilis 8 April 2020

Baca juga: Film James Bond ke-25 incar sutradara wanita

Pada bulan Januari, Malek malu-malu ketika ditanya tentang potensinya untuk memerankan karakter penjahat pada film “James Bond”.

“Kita harus melihat tentang itu, akan menyenangkan untuk memainkan penjahat, itu akan menjadi peran impian lain bagi saya. Saya harus bermain dengan sangat bagus untuk yang satu ini, jadi siapa tahu,” ujar Malek saat itu.

“James Bond 25” akan mulai memasuki proses syuting pada April tahun ini dan akan tayang pada April 2020.

Baca juga: Rami Malek raih Oscar, keluarga di Mesir rayakan kemenangan

Baca juga: Rami Malek jatuh dari panggung usai raih piala Oscar

Baca juga: Rami Malek aktor terbaik Oscar 2019

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Aquaman 2” akan dirilis 16 Desember 2022

Jakarta (ANTARA) – Warner Bros telah menetapkan tanggal rillis untuk “Aquaman 2” pada 16 Desember 2022, demikian seperti dilansir Variety, Rabu (27/2).

Studio sudah mengambil langkah pertama menuju “Aquaman 2” awal bulan ini dengan membawa kembali David Leslie Johnson-McGoldrick untuk menulis naskahnya.

“Aquaman 2” akan kembali disutradarai James Wan dan Peter Safran.

“Aquaman” berhasil melampaui proyeksi pra-rilis Warner Bros, setelah diluncurkan dengan pendapatan 68,7 juta dolar AS pada akhir pekan pembukaannya di Amerika Utara.

Film ini mendapatkan momentum dalam minggu-minggu berikutnya dan telah mencapai pendapatan 330 juta dolar AS di Amerika Utara dan 805 juta dolar AS secara internasional, dengan angka terbesar di China yakni hampir 300 juta dolar AS.

“Aquaman” saat ini menjadi film berpendapatan kotor tertinggi dunia ke-20 sepanjang masa.

Johnson-McGoldrick mulai mengerjakan skenario tiga tahun lalu setelah membaca buku komik “Aquaman” saat berada di lokasi syuting “The Conjuring 2″ garapan Wan.

Film pahlawan super itu dibintangi Jason Momoa sebagai Aquaman, dengan Amber Heard, Willem Dafoe, Patrick Wilson, Dolph Lundgren, Yahya Abdul-Mateen II, dan Nicole Kidman sebagai peran pendukung.

Warner Bros juga mengumumkan tiga minggu lalu bahwa mereka sedang mengembangkan “The Trench,” film horor spin-off  “Aquaman.” Wan dan Safran akan memproduksi “The Trench”.

“Aquaman 2” adalah film berjudul pertama yang mendarat pada 16 Desember 2022. Disney telah menjadwalkan film aksi langsung tanpa judul untuk slot yang sama.

Baca juga: Warner Bros garap spin-off “Aquaman” versi horor “The Trench”
Baca juga: “Aquaman” film DC terlaris sepanjang masa

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Bohemian Rhapsody” dapat izin tayang di China

Jakarta (ANTARA) – 20th Century Fox telah mendapat izin untuk menayangkan film biografi Freddie Mercury, “Bohemian Rhapsody” di China.

Kabar ini tentu sangat mengejutkan industri film lokal di negara itu, karena Beijing memiliki sikap yang sangat represif pada konten yang melibatkan karakter gay, dilansir Hollywood Reporter, Rabu.

Pada saat yang sama ketika berita tentang izin rilis “Bohemian Rhapsody” bisa beredar di China, protes atas sensor perusahaan streaming lokal terhadap pidato penerimaan piala Oscar dari Rami Malek sebagai Aktor Terbaik sedang ramai di media sosial.

Sementara itu, persetujuan sensor “Bohemian Rhapsody” juga disertai dengan beberapa peringatan.

Baca juga: BAFTA tangguhkan nominasi untuk “Bohemian Rhapsody”

Meski belum ada tanggal rilis yang ditetapkan, sebuah sumber mengatakan bahwa film tersebut diperkirakan akan dibuka pada pertengahan Maret.

Sumber lain juga mengungkapkan bahwa setidaknya ada satu menit adegan dalam film itu yang dipotong seperti menghilangkan penggambaran penggunaan narkoba dan beberapa ciuman intim antara Rami Malek dan aktor pria lainnya.

Film ini juga akan mendapatkan rilis terbatas melalui Aliansi Nasional China Arthouse Cinemas (NAAC), sebuah inisiatif publik-swasta yang dijalankan oleh China Film Archive yang didukung negara dan konsorsium rantai bioskop komersial.

Baca juga: Rami Malek jatuh dari panggung usai raih piala Oscar

Baca juga: Queen akan tampil di Oscars

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Dilan 1991” tak lagi soal cinta yang manis

Jakarta (ANTARA) – Berbeda dari film sebelumnya, “Dilan 1991” bercerita bahwa cinta itu tidak sepenuhnya soal kata-kata romantis, tapi juga ada kekecewaan, pertengkaran serta pahitnya perpisahan.

Bagi pembaca novel Pidi Baiq, mungkin sudah tahu akhir cerita dari “Dilan 1991”. Tapi untuk penonton yang hanya menyaksikan “Dilan” di layar lebar, akan melihat bahwa sekuel film tersebut memperlihatkan Dilan dan Milea dari sisi yang berbeda. Di sini, dunia Milea yang awalnya indah dan berbunga berubah menjadi lebih gelap dan penuh airmata.

Pada babak awal “Dilan 1991”, yakni ketika Dilan resmi berpacaran dengan Milea semua masih terasa indah. Layaknya orang yang sedang jatuh cinta, semua terasa hanya milik berdua.

Kata-kata Dilan yang sederhana, yang entah kenapa selalu terdengar begitu romantis masih menjadi unggulan dalam filmnya. Misalnya seperti “Aku enggak pernah bisa cemburu, bisa ku hanya mencintaimu.” atau “Kalau aku jadi presiden yang harus mencintai seluruh rakyatnya, maaf aku pasti tidak bisa karena aku hanya mencintai Milea.”

Sayangnya, kata-kata seperti itu tidak banyak ditemukan dalam sekuel ini. Sama seperti pasangan remaja lain, hubungan Dilan dan Milea juga mengalami pasang-surut. 

Rasa cinta dan kekhawatiran Milea pada Dilan, justru malah membuatnya semakin jauh dari Dilan. Membawanya pada sesuatu yang tidak pernah mau dibayangkan sebelumnya oleh Milea. Berpisah dengan Dilan.

Emosi Milea yang naik-turun

Milea masih diperankan oleh Vanesha Prescilla. Pada film ketiganya ini, akting Vanesha terlihat lebih mengalir dan mampu menyampaikan situasi yang ada di film dengan baik. Tidak hanya ketika menggambarkan kebahagiaannya bersama Dilan, kesedihannya ketika bertengkar dan berpisah dengan sang kekasih membuat penonton bisa ikut merasakan kesedihannya.

Hampir sepanjang film, Milea memang digambarkan selalu bersedih. Dari mulai yang hanya berkaca-kaca, menangis tersedu hingga kesedihan yang sudah tidak bisa disampaikan melalui airmata. Pandangan nanar atau tak mampu lagi merasakan kegembiraan di sekitarnya, diekspresikan dengan baik oleh Vanesha.

Dilan yang lebih membumi

Selama ini Dilan digambarkan sebagai sosok laki-laki idola para remaja yang romantis, mau melakukan apapun untuk kekasihnya, berjiwa pahlawan dan seperti dewa cinta. Namun, Dilan juga remaja laki-laki biasa yang masih melibatkan emosi dalam berpikir dan memiliki rasa egois yang tinggi.

Maka pada “Dilan 1991”, sisi Dilan yang lebih membumi diperlihatkan. Bagaimana Dilan bersikap masa bodoh ketika rasa setia kawannya ternyata lebih besar dibanding perasaannya kepada Milea, atau sikap tidak pedulinya ketika Milea memutuskan untuk berhenti jadi pacarnya dan Dilan yang tidak suka dikekang. 

Iqbaal Ramadhan sebagai pemeran Dilan juga mampu menyampaikan semua adegan tersebut dengan pas. Pada “Dilan 1990” chemistry keduanya begitu lekat, namun di sini Iqbaal dan Vanesha terlihat berjarak karena cerita aslinya memang demikian. Mereka mampu menunjukkan bagaimana kedekatan yang tadinya begitu intim, menjadi sesuatu yang saling menjauh namun masih memiliki rasa cinta.

Dalam film ini, Mas Herdy yang diperankan oleh Andovi Da Lopez juga tidak terlalu banyak ditampilkan sehingga untuk penonton pemula akan menebak-nebak siapa dia dan bagaimana pertemuannya dengan Milea. Padahal peran Mas Herdy sebenarnya cukup penting untuk kisah Dilan dan Milea.

Secara keseluruhan, film ini menarik untuk dinanti. Namun ada beberapa bagian yang pesan sponsornya terasa menggangu meski hanya sekilas. “Dilan 1991” juga menyensor adegan berciuman dan tidak ada adegan perkelahian agar penonton anak-anak bisa melihatnya.

Jangan mengharapkan cerita manis dari “Dilan 1991”.  Sebab, mengutip kata-kata Pidi Baiq pada sampul novel “Dilan – Dia adalah Dilanku Tahun 1991” yang berbunyi, “Tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah.” Seperti itulah kira-kira film “Dilan” kali ini yang akan tayang pada 28 Februari 2019 di seluruh bioskop.

Baca juga: Gelar gala premier, Bandung buat Hari Dilan

Baca juga: Dari Christi Colondam sampai Vanesha Prescilla isi ost “Dilan”

Baca juga: Kuliah di Australia, Iqbaal akan tetap promo “Dilan”

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Penulis “Green Book” tak kenal keluarga Don Shirley sebelum film

Jakarta (ANTARA) – Banyak pemilih Oscar yang menyukai film “Green Book”, tapi banyak juga yang berpikir sebaliknya.

“Green Book” mendapatkan penghargaan sebagai film terbaik, skenario original terbaik, aktor pendukung terbaik (Mahershala Ali) dalam Academy Award ke-91, Minggu malam. Film itu diangkat dari kisah nyata, pertemanan antara pianis jazz kulit hitam Don Shirley (Ali) dan penjaga klub berkulit putih bernama Tony “Lip: Vallelonga (Viggo Mortensen) setelah Shirley mempekerjakan Vallelonga sebagai supir dan penjaganya dalam tur musik Jim Crow South pada awal 1960-an.

Meski mendapat berbagai penghargaan, film ini juga dikritik oleh kritikus, sutradara Spike Lee hingga keluarga Shirley.

Pada November, keluarga Shirley yang masih hidup mengatakan film itu “simfoni kebohongan”.

Dilansir Huffington Post, mereka mengatakan tidak ada pihak produksi film yang menghubungi keluarga Don Shirley, bahwa Shirley tidak dikucilkan dari keluarganya atau komunitas kulit hitam, seperti yang diperlihatkan dalam film, dan bahwa versi film membesar-besarkan hubungan antara Shirley dan Vallelonga.

Nick Vallelonga, putra Tony Lip yang juga menulis skenario, mengatakan pada reporter setelah Oscar bahwa dia berharap bisa menghubungi keluarga Shirley, tapi “saya bahkan tidak tahu mereka ada hingga setelah kami membuat film,” katanya seperti dikutip dari The Hollywood Reporter.

“Jika kau mendiskusikan perihal keluarga Don Shirley, itu bagian saya, tapi Don Shirley sendiri mengatakan padaku untuk tidak bilang pada siapa-siapa,” kata Vallelonga. “Dia bilang padaku kisah yang ingin diceritakan. Dia melindungi kehidupan pribadinya, dan berbagai hal lain mengenainya, hal-hal luar biasa mengenainya. Dia pria hebat.”

Vallelonga melanjutkan, “Dia bicara padaku, ‘Jika kau akan menceritakan kisahnya, ceritakan dari sudut pandang ayahmu, aku, bukan yang lain. Jangan bicara pada orang lain. Buatlah seperti itu.’ Dan juga, dia bilang, ‘Jangan buat dulu sampai aku meninggal.’ Jadi saya menepati janji pada lelaki itu.”

Vallelonga juga berkata tim produksi film sudah menghubungi estate pianis itu terkait musik dan mengundang keluarga Shirley ke penayangan dan diskusi setelah filmnya rampung.

“Saya secara personal dilarang bicara pada keluarganya, atas permohonan Don Shirley.”

Komentar Vallelonga berlawanan dengan klaim dari keluarga sang pianis.

Dua anggota keluarga Shirley, Maurice Shirley (82) saudara laki-laki Don, dan keponakannya Edwin Shirley III, mengatakan pada Shadow and Act bahwa Shirley bukan cuma bicara soal rencana film Vallelonga, tetapi juga bahwa Don Shirley betul-betul menolak tawaran itu.

“Saya ingat sangat, sangat jelas, 30 tahun lalu, pamanku didekati oleh Nick Vallelonga, putra Tony Vallelonga, tentang film mengenai hidupnya, dan paman Donald menceritakan itu padaku,” ujar Edwin. “Dia menolaknya.”

Edwin mengenang dirinya pernah mencoba bicara agar pamannya berpikir ulang.

“Saya ingat pernah bilang padanya bahwa itu mungkin ide bagus, ‘Kau bisa terlibat (dalam pembuatan film’, dan dia bilang, ‘Tidak. Saya tidak mau jadi bagian itu,'” ujar Edwin, menambahkan, “Jadi saya bilang padanya, ‘Mungkin kamu bisa membuat beberapa syarat di mana kamu bisa terlibat jika mereka menyetujui agar kamu juga bisa punya kendali,’ dan jawaban dia saat itu adalah, ‘Apapun yang mereka bilang padaku sekarang, aku takkan punya kendali tentang bagaimana penggambaranku.'”

Setelah mendengar keluarga Shirley kecewa atas film itu, Ali menelepon Maurice dan Edwin serta meminta maaf bila ada hal-hal yang tidak berkenan.

Menurut Edwin, sang aktor mengatakan dia minta maaf bila ada yang tidak disukai oleh keluarga mendiang. Mahershala Ali, ujar Edwin, berkata dia berusaha sebaik mungkin dari bahan yang dimilikinya. Ali juga tidak tahu ada keluarga dekat yang bisa diajak bicara untuk memperkaya karakter yang diperankannya.

Perwakilan dari Ali mengatakan pada Huffington Post bahwa Ali bukan minta maaf “untuk filmnya”, tapi tidak memberikan rincian lebih dalam mengenai permintaan maaf itu.

Baca juga: Rami Malek, Olivia Colman dan daftar pemenang Oscar 2019

Baca juga: “Green Book” film terbaik Oscar 2019

Baca juga: “Green Book” sabet PGA Awards, digadang-gadang menang Oscar

Baca juga: Mahershala Ali sabet aktor pendukung terbaik Oscar kali kedua
 

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rami Malek raih Oscar, keluarga di Mesir rayakan kemenangan

Kairo (ANTARA News) – Keluarga aktor Rami Malek di Mesir berkumpul di depan televisi di rumah seperti sedang mendukung tim sepak bola nasional, padahal mereka sedang merayakan kemenangan piala Oscar pertama atas peran Rami di film “Bohemian Rhapsody”.

Sepupu Rami, Fadi (24), mengatakan para paman, bibi dan anak-anak mereka berkumpul di rumah keluarga di Feltaous, provinsi Minya, 265 kilometer dari selatan Kairo, untuk menonton Academy Awards secara langsung dari Los Angeles.

Saat nama Rami diumumkan sebagai aktor terbaik, keluarganya langsung saling berpelukan dan menari-nari gembira, demikian dilaporkan Reuters, Selasa.

“Rasanya seperti menonton Mesir membuat gol kemenangan,” kata Fadi pada Reuters lewat telepon dari Feltaous.

“Ini bukan cuma kemenangan untuk keluarga, tapi untuk Mesir.”

Keluarga menelepon ibu Rami di AS untuk memberikan selamat, dan mengundang sepupu mereka sang selebritas untuk mengunjungi Mesir.

“Bibi Nelly (ibu Rami) mengatakan dia dan Rami tak sabar untuk berkunjung,” kata Rami, sepupu Rami Malek bernama sama, warga Los Angeles keturunan Mesir.

Rami Malek (37) sudah difavoritkan memenangi Oscar dalam beberapa pekan terakhir setelah meraih piala Golden Globe, Screen Actors Guild dan BAFTA Inggris atas perannya sebagai Freddie Mercury, vokalis band rock Queen di “Bohemian Rhapsody”.

Saat menerima piala, Rami berkata bahwa dia adalah “putra dari imigran asal Mesir…Saya adalah generasi pertama Amerika dan sebagian dari kisah saya sedang terukir sekarang,” ujar Rami, disambut meriah oleh penonton.

Rami, sang sepupu yang juga berusia 30-an, mengatakan bakat Rami Malek sudah jelas saat dia mengunjungi Mesir ketika masih jadi siswa SMA pada 1990-an untuk pertama kalinya sejak keluarga mereka beremigrasi ke AS pada 1979.

“Saya tidak membayangkan waktu itu Rami akan jadi aktor terkenal di dunia, tapi dia jelas mencintai akting,” ujar Rami.

Baca juga: Rami Malek jatuh dari panggung usai raih piala Oscar
Baca juga: Rami Malek aktor terbaik Oscar 2019
Baca juga: Rami Malek, Olivia Colman dan daftar pemenang Oscar 2019

 

Penerjemah: Nanien Yuniar
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sineas: Tidak ada yang istimewa dari Piala Oscar 2019

Memang akan ada pro kontra karena film kan produk komersil

Jakarta (ANTARA News) – Sineas film Indonesia Sidi Saleh menilai tidak ada hal yang istimewa dari penyelenggaraan Piala Oscar 2019 yang dilaksanakan di Dolby Theatre, Los Angeles, Amerika Serikat, Minggu (24/2) malam waktu setempat.

“Sebenarnya kalau lihat Oscar sekarang tidak ada yang istimewa. Untuk festival yang tua seperti itu saya rasa semuanya sudah berjalan dengan baik,” ujarnya saat dihubungi Antara, Senin.

Dia mencontohkan bahwa penghargaan untuk “Black Panther” sebagai film besutan Marvel pertama yang meraih penghargaan dalam beberapa kategori, seperti desain kostum terbaik, desain produksi terbaik, dan musik orisinal terbaik yang menurutnya merupakan hal yang wajar.

“Secara teknis kita anggap bisa (menang penghargaan),” ujar sutradara yang pernah meraih penghargaan di ajang Venice Film Festival.

Terkait kontroversi masuknya beberapa film yang dianggap tak layak dalam nomine Piala Oscar, seperti film “Green Book” yang sukses menyabet penghargaan film terbaik, dia menilai dalam sebuah ajang penghargaan subjektivitas akan sangat berpengaruh.

“Kalau masalah bagaimana mereka memilih nominasi pasti akan selalu ada subjektivitas. Setiap hal pasti ada subjektivitasnya. Balik lagi karena persepsi,” jelasnya.

Baca juga: “Green Book” film terbaik Oscar 2019

Baca juga: “Black Panther” cetak sejarah untuk Marvel di Oscar 2019

Belajar dari Piala Oscar

Tahun ini merupakan yang ke-91 kalinya Piala Oscar diadakan sejak pertama kali digelar pada tahun 1929 silam, menjadikannya sebagai salah satu ajang penghargaan perfilman tertua di dunia.
 
Bagi Sidi Saleh, konsistensi penyelenggaraan Piala Oscar inilah yang seharusnya bisa menjadi contoh bagi ajang penghargaan film serupa yang digelar di Indonesia.

“Bisa terus konsisten setiap tahun dalam penyelenggaraan dan kualitasnya kalau bisa semakin meningkat,” ujar sutradara film “Mama Mama Jagoan” tersebut.

Sutradara kelahiran 39 tahun lalu ini juga mengatakan standardisasi Piala Oscar dalam menentukan nomine juga bisa menjadi contoh.

“Kalau di Oscar sudah punya standar. Minimal teknologinya standar. Kita enggak mungkin lihat film-film yang secara kualitas di bawah standardisasi Oscar masuk nomine,” ujarnya.

Meskipun, menurut Sidi, dalam menentukan nomine pada sebuah ajang penghargaan akan selalu ada yang namanya pro dan kontra. Namun hal itu adalah sebuah kewajaran.

“Memang akan ada pro kontra karena film kan produk komersil,” kata Sidi.

Dia juga mengaitkan sebuah ajang penghargaan perfilman bisa diselenggarakan karena tersedianya film-film berkualitas yang diproduksi.

“Bicara penghargaan kan juga enggak lepas dari ketersediaan filmnya. Saya tidak tahu jumlah produksi film Indonesia meningkat atau tidak,” tutupnya.

(Penulis: Peserta Susdape XIX/Yogi Rachman)

Baca juga: Rami Malek, Olivia Colman dan daftar pemenang Oscar 2019

Baca juga: Red carpet Oscar didominasi warna pastel

Pewarta: Monalisa
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film Livi Zheng “Bali: Beats of Paradise” kisahkan seniman Bali

Denpasar (ANTARA News) – Sutradara asal Indonesia, Livi Zheng, mengangkat kisan seniman gamelan dari Bali ke dalam film berjudul “Bali: Beats of Paradise”.

“Saya tertarik mengangkat gamelan dan Bali sebagai inspirasi dari satu karya film saya yang baru ini. Sebab, saya ingin memberitahukan kepada dunia bahwa gamelan itu adalah seni budaya yang berasal dari Indonesia,” kata Livi Zheng dalam surat elektroniknya yang diterima Antara, di Denpasar, Senin.

Livi yang juga pernah menjadi atlet bela diri Indonesia itu menambahkan, film-film Hollywood selama ini tidak sedikit yang menyelipkan gamelan sebagai pengiring dari adegan film, seperti film “Avatar”, TV seri “Star Trek” sampai game Nintendo Mario Bros.

“Namun, tidak banyak orang-orang asing yang mengetahui asal-usul dan seperti apa seni gamelan tersebut,” ucapnya.

Livi menuturkan film “Bali: Beats of Paradise” mengisahkan perjalanan hidup Nyoman Wenten, seniman gamelan dari Pulau Dewata yang tinggal di Los Angeles. Wenten dikenal juga sebagai pengajar etnomusikologi di UCLA dan Herb Alpert School of Music, serta California Institute of the Arts.

“Dalam film itu juga mengupas persinggungan Wenten dengan gamelan sejak kecil di Bali, yang membawanya melanglang buana. Nyoman Wenten kemudian bekerja sama dengan musisi Judith Hill yang sebelumnya kontestan The Voice dan pemenang Grammy-Award,” ujarnya.

Bersama Judith Hill, Nyoman Wenten menggabungkan gamelan dan tari Bali dengan musik funk dalam musik “Queen of the Hill”.

“Film “Bali: Beats of Paradise” sudah diputar di bioskop-bioskop Amerika mulai 16 November 2018. Film ini juga akan diputar di biosop-bioskop Korea Selatan pada April. Selain Bali, kota-kota besar lainnya di Indonesia juga akan mendapat kesempatan tayang perdana pada Juli mendatang.?

Dipuji wagub Bali

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) saat menerima Livi Zheng pada Sabtu (23/2) di Ubud, Gianyar, Bali, tak ketinggalan memuji film karya Livi Zheng tersebut.

Menurut Cok Ace, banyak keindahan dan karya seni Bali mulai dari seni lukis, tarian hingga buku dan manuskrip yang dieksplorasi oleh seniman dan para ahli mancanegara seperti Clifford Geertz, Mark Hobart dan Prof Yamashiro.

Tetapi, sayangnya tidak ada satu pun yang diangkat ke layar perak sebagai mahakarya Bali. Oleh karena itu, karya Livi Zheng “Bali: Beats of Paradise” tersebut, dapat dikatakan menjadi salah satu karya seni Bali yang mendunia.

“Saya sudah melihat film karya Livi Zheng ini, termasuk yang ditayangkan di hadapan Wakil Presiden Jusuf Kalla baru-baru ini. Karya ini mahakarya Bali yang sungguh luar bisa dan kita orang Bali harus berterima kasih pada Livi Zheng,” ujarnya

Tak hanya memuji film yang dikerjakan selama satu tahun di Bali dan Los Angeles, Amerika Serikat tersebut, Wagub Bali juga berharap karya-karya seni Bali lainnya dapat diangkat kembali ke layar perak sebagai karya seni dunia seperti halnya “Bali: Beats of Paradise”.

Bahkan, Wagub Cok Ace pun berterima kasih kepada Livi karena sudah menjadikan keindahan Bali sebagai objek dari film tersebut.

“Kam berharap semakin banyak produser dan sutradara-sutradara film dunia yang melirik Bali. Bukan hanya sebagai tempat pengambilan gambar tetapi juga mengangkat cerita dan seni budaya Bali lainnya,” ucapnya.

Baca juga: Film “Bali: Beats of Paradise” karya Livi Zheng berpeluang masuk nominasi Oscar

Baca juga: Sutradara Livi Zheng raih penghargaan di The Unforgettable Gala

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Duet Lady Gaga dan Bradley Cooper di Oscar 2019

Lady Gaga and Bradley Cooper menyanyikan lagu “Shallow” dari film “A Star Is Born” pada ajang penghargaan 91st Academy Awards Oscars Show di Hollywood, Los Angeles, California, Amerika Serikat, Minggu, (24/2/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Mike Blake/aww.

Rami Malek, Olivia Colman dan daftar pemenang Oscar 2019

Jakarta (ANTARA News) – Perhelatan Oscar 2019 telah usai, ditandai dengan keberhasilan sederet bintang dan karya yang menyabet penghargaan dari ajang Academy Awards ke-91 itu.

Para selebriti termasuk Regina King, Mahershala Ali, Rami Malek dan Olivia Colman menjadi sebagian sosok yang menyunggingkan senyum karena menjadi yang terbaik malam itu. 

“Green Book” menjadi film terbaik, lalu “Black Panther” mencetak sejarah untuk Marvel pada acara yang berlangsung Minggu (24/2) di Dolby Theatre, Los Angeles, California, Amerika Serikat. 

Berikut daftar lengkap pemenang Oscar 2019:

Best Picture : Green Book

Best Directing: Alfonso Cuarón (Roma)

Best Animated Feature Film: Spider-Man: Into the Spider-Verse

Best Foreign Language Film: Roma

Best Actor in a Leading Role: Rami Malek (Bohemian Rhapsody)

Best Actress in a Leading Role: Olivia Colman (The Favourite)
  Olivia Colman meraih kategori aktris terbaik Oscar 2019 (Instagram.com/entertainmentweekly)

Best Actor in a Supporting Role: Mahershala Ali (Green Book)

Best Actress in a Supporting Role: Regina King (If Beale Street Could Talk)

Best Adapted Screenplay: BlacKkKlansman

Best Original Screenplay: Green Book

Best Original Song: “Shallow,” Lady Gaga, Mark Ronson, Anthony Rossomando, Andrew Wyatt (A Star Is Born)
  Lady Gaga di Oscar 2019 (Reuters)

Best Original Score: Black Panther, Ludwig Goransson

Best Documentary Feature: Free Solo

Best Documentary Short Subject: Period. End of Sentence.

Best Cinematography: Roma

Best Costume Design: Black Panther

Best Film Editing: Bohemian Rhapsody

Best Makeup and Hairstyling: Vice

Best Production Design: Black Panther, Hannah Beachler and Jay Hart

Best Animated Short Film: Bao

Best Live Action Short Film: Skin

Best Sound Editing: Bohemian Rhapsody

Best Sound Mixing: Bohemian Rhapsody

Best Visual Effects: First Man

Baca juga: Cerita di balik “gaun kaca” Jennifer Lopez untuk Oscar

Baca juga: Lady Gaga pakai kalung seharga Rp420,5 miliar di Oscar

Baca juga: Red carpet Oscar didominasi warna pastel

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Green Book” film terbaik Oscar 2019

Jakarta (ANTARA News) – Perhelatan Academy Awards 2019 memberikan penghargaan kategori “Best Picture” untuk film “Green Book”, sebuah kehormatan paling bergengsi pada acara yang berlangsung Minggu (24/2) itu. 

Para pemeran, produser dan sutradara naik bersama-sama ke atas panggung untuk menerima penghargaan, seperti dilansir E!. 

Produser Jim Burke menyebut kehormatan itu sebagai “mimpi,”. Dia berkata, “Ini hak istimewa. Kami harus mulai dengan berterima kasih kepada teman-teman di Participant Media, yang telah bersama kami”..

“Kami membuat film ini dengan cinta, kelembutan dan rasa hormat. Itu semua dilakukan di bawah arahan Pete Farrelly,” lanjut Burke.

“Semua penghargaan ini karena Viggo, Mahershala dan Linda. Tetapi dimulai dengan Viggo,” kata sang sutradara seraya bertepuk tangan.

Charles B. Wessler mengakhiri pidato yang menyentuh dengan mendedikasikan kehormatan itu kepada mendiang aktris Carrie Fisher.

Delapan film dinominasikan untuk Film Terbaik tahun ini, termasuk “A Star Is Born”, “Roma”, “BlacKkKlansman”, “The Favorite”, “Black Panther”, “Bohemian Rhapsody” and “Vice”. 

Sebelumnya, “Green Book” juga mendapatkan penghargaan untuk Aktor Pendukung Terbaik (Mahershala Ali) dan Orginal Screenplay. 

Baca juga: Mahershala Ali sabet aktor pendukung terbaik Oscar kali kedua

Baca juga: Mahershala Ali sabet penghargaan Golden Globe 2019

Baca juga: Mahershala Ali jadi aktor Muslim pertama peraih Oscar

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rami Malek aktor terbaik Oscar 2019

Jakarta (ANTARA News) – Rami Malek memenangkan kategori Aktor Terbaik melalui film “Bohemian Rhapsody” pada perhelatan Oscar 2019, Minggu (24/2). 

Dia bersaing dengan Christian Bale (Vice), Bradley Cooper (A Star Is Born), Willem Dafoe (At Eternity’s Gate) dan Viggo Mortensen (Green Book) yang juga menjadi nominasi. 

Malek meraih kemenangan serupa untuk perannya sebagai vokalis Queen Freddie Mercury di Golden Globes, BAFTA Awards dan SAG Awards.

“Aku mungkin bukan pilihan yang mudah,  tetapi kurasa itu berhasil,” canda dia yang kemudian berterima kasih kepada Queen karena membiarkannya menjadi bagian dari warisan fenomenal mereka. 

Seperti dilansir Hollywood Reporter, dia melanjutkan, “Ini adalah bukti bahwa kami merindukan cerita seperti ini. Sebagian dari kisahku sedang ditulis saat ini dan aku tidak bisa tidak lebih bersyukur”. 

Dalam pidatonya itu Malek tidak menyebutkan sutradara film Bryan Singer, yang dipecat dari “Bohemian Rhapsody” karena mendapatkan tuduhan pelecehan seksual. 

Malek bersama Regina King dan Mahershala Ali yang meraih penghargaan aktor pendukung terbaik masing-masing untuk “If Beale Street Could Talk” dan “Green Book”, mencatat pencapaian tonggak baru untuk mewakili ras di Hollywood, seperti dilansir EW. 

King (menggambarkan seorang matriark berkemauan besi Barry Jenkins), Ali (sebagai pianis jazz Don Shirley), sementara Malek memerankan vokalis Queen Freddie Mercury dan menjadikannya orang pertama keturunan Mesir yang menduduki puncak kategori performatif.

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Black Panther” cetak sejarah untuk Marvel di Oscar 2019

Jakarta (ANTARA News) – “Black Panther”, selain menorehkan prestasi gemilang sebagai film superhero kulit pertama yang memecahkan rekor box office, juga membuat sejarah di Academy Awards 2019. 

Kemenangan Ruth E. Carter untuk kategori Desain Kostum Terbaik pada perhelatan yang berlangsung Minggu (25/2), menandai pertama kalinya film Marvel Studios memenangkan Oscar.

Melalui film ini juga, Hannah Beachler menyabet kategori Desain Produksi Terbaik sekaligus menjadi penghargaan Oscar kedua untuk film Marvel Studios, seperti dilansir EW. 

Meskipun film-film Marvel seperti “Doctor Strange” dan “Guardians of Galaxy” telah dinominasikan di masa lalu untuk kategori seperti Efek Visual Terbaik, namun  belum pernah ada benar-benar membawa pulang emas sampai sekarang.

Carter adalah wanita kulit hitam pertama yang memenangkan Desain Kostum Terbaik. Begitu juga Beachler dalam kategorinya, tetapi tidak hanya itu – dia adalah orang kulit hitam pertama yang pernah dinominasikan untuk Desain Produksi Terbaik. 

“Aku berdiri di sini karena orang ini yang menawarkanku  perspektif kehidupan yang berbeda (merujuk pada Ryan Coogler dan tim Black Panther). Aku melakukan yang terbaik, dan yang terbaik sudah cukup baik, kata Beachler.

Baca juga: Chris Evans jadi “super hero” di Oscar

Baca juga: Regina King aktris pendukung terbaik Oscar 2019, kalahkan Emma Stone

Baca juga: Aktor Billy Porter tampil nyentrik pakai gaun beludru di Oscar 2019

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Spider-Man: Into the Spider-Verse” menangkan animasi terbaik Oscar 2019

Jakarta (ANTARA News) –  Melaui kisah inspiratif dan gaya visual segar, “Spider-Man:  Into the Spider-Verse” menjadi animasi terbaik Academy Award 2019 yang berlangsung Minggu (24/2). 

Ini menjadi yang pertama untuk direktur Bob Persichetti, Peter Ramsey dan Rodney Rothman, dan produser Phil Lord dan Christopher Miller, seperti dilansir Hollywood Reporter. 

Ramsey menjadi orang Afrika-Amerika pertama yang masuk nominasi dan membawa pulang perhargaan dalam kategori ini. 

Kategori animasi terbaik pertama kali hadir pada tahun 2001, dan Into the Spider-Verse juga menandai kemenangan pertama untuk Sony Pictures Animation sejak tahun 2011 (ketika Rango menduduki posisi puncak). 

“Siapa pun bisa mengenakan topeng; semua orang kuat dan semua orang diperlukan, dan itulah semangat film,” kata Ramsey merujuk kisah Spider-Man yang mempromosikan keragaman dan mengangkat karakter seorang remaja Afrika-Amerika / Puerto Rico, Miles Morales. 

Baca juga: “Black Panther” cetak sejarah untuk Marvel di Oscar 2019

Baca juga: Chris Evans jadi “super hero” di Oscar

Baca juga: Queen bawakan We Will Rock You” di Oscar 2019

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Fakta Piala Oscar 2019

Fakta Piala Oscar 2019

Piala Oscars 2019 akan digelar di Dolby Theatre, Hollywood, Los Angeles, pada Minggu 24 Februari 2019 waktu setempat.
Apa saja hal-hal menarik seputar ajang penghargaan film paling bergengsi itu?

Gelar gala premier, Bandung buat Hari Dilan

Bandung (ANTARA News) – Pemutaran perdana film “Dilan 1991” dilakukan di seluruh bioskop Bandung hari ini. Berbagai acara pun dilaksanakan satu hari penuh mulai dari pembukaan, konvoi motor, sampai meet and greet ke berbagai mall di Bandung. Oleh karena itu, hari ini disebut sebagai Hari Dilan.

Rangkaian acara gala premier “Dilan 1991” dibuka oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Lalu dilanjutkan dengan Bandung Tour on Bus (Bandros) menuju Taman Saparua untuk prosesi peletakan batu pertama Sudut Film Dilan.

Setelah itu, para pemain film “Dilan 1991”, Ridwan Kamil dan Menteri Pariwisata Arif Yahya berkonvoi bersama 1000 pengendara motor menuju show pertama film tersebut di Ciwalk Mall. 

Sebelum menyaksikan “Dilan 1991” untuk pertama kalinya, Iqbaal Ramadhan, Vanesha Prescilla, dan kawan-kawan terlebih dahulu menggelar meet and greet. Tak hanya para pemain “Dilan”, pengisi soundtrack-nya pun ikut memeriahkan gala premier ini.

Baca juga: Ridwan Kamil dan Menpar resmikan “Sudut Dilan”

Usai nonton bareng, rombongan pun berpindah ke BEC, dilanjutkan ke 23 Paskal dan perjalanan diakhiri dengan meet n greet Miko Mall. Selama melakukan kunjungan dari mall ke mall, sambutan penggemar Dilan maupun Iqbaal begitu luar biasa.

“Senang sekali mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat dan penggemar Dilan. Semoga, Hari Dilan akan berlanjut selama film “Dilan 1991″ tayang di bioskop,” ujar Iqbaal di Bandung, Minggu.

Ody Mulya selaku produser Max Pictures sangat bersyukur dengan apresiasi penggemar Dilan. Pasalnya, 80 ribu tiket pemutaran perdana ludes terjual.

“Saya mengucapkan terima kasih pada seluruh pihak yang telah mendukung film “Dilan 1991” sehingga acara Hari Dilan bisa terlaksana. Insha Allah, ini akan berdampak positif untuk film “Dilan 1991″ saat tayang di bioskop tanggal 28 Februari nanti,” kata Ody.

Selain Iqbaal dan Vanesha, “Dilan 1991” dimainkan oleh Debo, Gusti Rayhan, Yuriko, Zulfa, Giulio Parengkuan, Brandon Salim,Ira Wibowo, Happy Salma, Maudy Koesnaedi, Ence Bagus, Farhan, dan Andovi Da Lopez.

Film ini akan tayang serentak di seluruh bioskop di Indonesia pada tanggal 28 Februari 2019.

Baca juga: Dari Christi Colondam sampai Vanesha Prescilla isi ost “Dilan”

Baca juga: Kuliah di Australia, Iqbaal akan tetap promo “Dilan”

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Para pengisi acara dan prediksi pemenang Oscar 2019

Jakarta (ANTARA News) – Perhelatan Oscar menjadi salah satu yang dinanti para penggiat industri hiburan di Hollywood. Ada beragam spekulasi mengenai para pemenang tahun ini. Berikut tanya jawab seputar perhelatan ke-91 itu, seperti dilansir Vogue. 

Siapa yang masuk nominasi Oscar 2019? 

Nominasi Oscar 2019 sudah diumumkan pada 22 Januari, sebagian besar mencerminkan penghargaan tahun ini. Film “Roma” dan “The Favorite” memimpin, dengan masing-masing 10 nominasi dan masuk dalam kategori utama, yakni Film Terbaik. Keduanya bersaing dengam “Green Book”, “Vice”, “A Star Is Born”, “Blackkklansman”, “Black Panther” dan “Bohemian Rhapsody”. 

Untuk kategori lainnya, selengkapnya di sini:

Siapa yang menjadi host? 

Kevin Hart mengundurkan diri dari posisi ini tiga hari setelah diumumkan bahwa ia akan menghadiri upacara Oscar tahun 2019. Dalam sebuah unggahan di Twitter, komedian itu membahas kontroversi yang mengelilingi pemilihannya, berkaitan dengan tweet dan komentar homofobia.

“Saya telah membuat pilihan untuk mundur dari host  Oscar tahun ini, karena aku tidak ingin menjadi pengalih perhatian pada malam yang harus dirayakan oleh begitu banyak seniman berbakat yang luar biasa,” tulis dia. 

Akhirnya, Oscar tahun ini akan menjadi yang pertama dalam 30 tahun tanpa ada host, namun mengandalkan  lebih banyak pada presenter, termasuk Whoopi Goldberg, Jennifer Lopez, Daniel Craig, Brie Larson, Charlize Therpada, Awkwafina, Constance Wu, Tina Fey, Amy Poehler, Chris Evans, Maya Rudolph, Amandla Stenberg dan Tessa Thompson. 

Selain mereka ada juga Helen Mirren, Michael B. Jordan, Pharrell Williams, Danai Gurira, Paul Rudd, Michelle Yeoh dan Michael Keaton. 

Siapa yang tampil di Oscar 2019?

Sesuai tradisi, nominasi untuk Best Original Song akan tampil, termasuk Bradley Cooper dan Lady Gaga yang akan bekerja sama sekali lagi untuk membawakan lagu “Shallow” dari A Star Is Born. 

Merayakan kesuksesan film “Bohemian Rhapsody”, Queen dan Adam Lambert juga akan tampil di upacara dan dikabarkan akan membuka pertunjukan.

Siapa yang diprediksikan menang di Oscar 2019?

Mengingat ajang Golden Globes, BAFTA, SAG dan Critics ‘Choice Awards telah berlangsung, maka favorit untuk setiap kategori telah dipersempit. Jika kita menebak sekarang, muncul Close, Rami Malek dan “Roma” yang diprediksi menang besar. 

Kapan dan di mana Oscar 2019 berlangsung?

Penghargaan akan berlangsung di Dolby Theatre di Hollywood, Los Angeles, malam ini dan akan disiarkan langsung di The ABC Television Network.

Baca juga: Panggung Oscar 2019 bertabur kristal Swarvoski

Baca juga: Oscar 2019: Cara streaming hingga deretan nominasi

Baca juga: Daftar nominasi Oscar 2019, “Roma” dan “The Favourite” memimpin

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Isi goodie bag Oscar 2019

Jakarta (ANTARA News) – Menurut laporan, Lady Gaga, Bradley Cooper dan mereka yang berpartisipasi dalam Oscar 2019 akan pulang membawa goodie bag yang penuh dengan produk mewah.

Seperti dilansir The Sun, tas hadiah ini bukan dari Academy karena mereka telah menghentikan hadiah resmi mereka lebih dari satu dekade yang lalu. Hadiah berasal dari Distinctive Assets.

Barang-barang yang akan ada di dalam goodie bag mencakup beragam produk kecantikan yang diformulasikan secara mewah dengan CBD, Vitamin C dan Asam Hyaluronic, serta sejumlah produk edisi terbatas. 

Item fesyen termasuk bowtie atau dasi buatan tangan, kaus mewah dari merek ternama, dan gelang harapan Afghanistan. 

Penerima hadiah juga mendapatkan tiket Ekspedisi Internasional untuk 2 orang di Islandia, Galapagos, Amazon atau Kosta Rika & Panama bernilai hingga 20.000 dolar Amerika atau Rp 280 juta. Mereka juga bisa berlibur di vila-vila mewah di Halkidiki, Yunani, mengunjungi Flora Farms di Los Cabos, Meksiko.

Tas hadiah juga berisi makanan dan minuman seperti jarritos, konsetrat mengandung ganja, cokelat, sirup dan lainnya, lalu mendapatkan sesi terapi untuk fobia, pelayanan kesehatan di Malibu, California dengan meditasi pagi, sesi yoga, layanan spa. 

Ada juga pena mata-mata dengan kamera, lilin terapi, potret kaca patri khusus, tali pelindung anjing, buku kecantikan hingga langganan majalah gaya hidup. 

Baca juga: Para pengisi acara dan prediksi pemenang Oscar 2019

Baca juga: Asal usul “red carpet” Hollywood

Baca juga: Oscar 2019: Cara streaming hingga deretan nominasi

Baca juga: Queen akan tampil di Oscars

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Panggung Oscar 2019 bertabur kristal Swarvoski

Jakarta (ANTARA News) – Perancang David Korins yang bertanggung jawab pada desain panggung Academy Awards ke-91 yang berlangsung malam ini, menghias panggung menggunakan puluhan ribu kristal Swarvoski. 

Seperti dilansir E!, belum lama ini, ada empat set instalasi, yakni “Crystal Cloud ‘, instalasi berbentuk awan seberat 1.600 pon atau 725 kilogram, “Crystal Swag” yakni formasi pita setinggi 54 kaki atau mencapai tiga lantai,serta dua “Crystal Presenter Backings”- Korins menaburkan sihir pada panggung dan kemegahan layar besar untuk Oscar. 

Perancang ini tidak asing dengan panggung – sebelumnya, ia menciptakan set yang sangat dipuji untuk produksi Broadway Hamilton dan Dear Evan Hansen.

Untuk Oscar, Korins terinspirasi geografi alam, atmosfer dan air terjun yang megah untuk menciptakan set. Dia menggunakan 41.000 dan lebih banyak kristal Swarvoski, dan membutuhkan waktu 2.100 jam untuk menciptakan panggung sesuai ekspektasinya. 

Korins juga menggunakan 1.650 dan lebih banyak untaian kristal di atas panggung, dengan melibatkan 15 orang bertangan terampil untuk membuat keajaiban terjadi. 

Baca juga: Oscar 2019: Cara streaming hingga deretan nominasi

Baca juga: Oscars 2019 tak ada host, pertama kali dalam tiga dekade

Baca juga: Asal usul “red carpet” Hollywood

Baca juga: Acara penghargaan Oscars akan disiarkan tanpa diedit

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ridwan Kamil ternyata hobi “movie marathon”

Bandung (ANTARA News) – Di luar pekerjaannya sebagai Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil ternyata memiliki hobi menonton film. Bahkan saat senggang, dia mengaku suka melakukan movie marathon.

“Saya sebenarnya ada beberapa dimensi di luar pejabat, saya ini pecinta film. Kadang-kadang kalau ada waktu, saya movie marathon. Tidak pernah tidak ke bioskop untuk menonton film,” ujar Ridwan saat menyambut para pemain film “Dilan 1991” di Bandung, Minggu.

Menurut Ridwan, menyaksikan film “Dilan 1991” seperti melihat dirinya sendiri pada era 1990an. Apalagi jika melihat genk motornya.

“Waktu Dilan ini zaman saya sebenarnya. Masih pacarannya di tempat umum, tanpa helm. Tapi luar biasa disukai sama anak-anak muda. Pencapaiannya luar biasa ya,” kata Ridwan.

Ridwan sendiri ikut bermain dalam film “Dilan 1990 & 1991”. Dia mengatakan tertarik terlibat karena film tersebut berhubungan dengan kota Bandung.

“Saya kalau diajak main film harus ada dua syarat. Satu, harus ada unsur Bandung Juara. Kedua, enggak boleh dibayar, karena saya ini pejabat publik,” jelasnya.

Baca juga: Ridwan Kamil dan Menpar resmikan “Sudut Dilan”

Baca juga: “Sudut Film Dilan” di Taman Saparua Bandung

Baca juga: Syuting “Dilan 1991”, Ira Wibowo Jakarta-Bandung PP tiap hari

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Oscar 2019: Cara streaming hingga deretan nominasi

Jakarta (ANTARA News) – Acara penghargaan Academy Awards ke-91 atau Piala Oscar yang merupakan ajang tertinggi perfilman dunia akan disiarkan langsung dari Dolby Theatre, di Hollywood, Los Angeles pada Minggu (24/2) waktu setempat atau Senin (25/2) pagi waktu Indonesia.

Acara akan dimulai pukul 5 sore waktu setempat, namun jika Anda tertarik pada gaun, wawancara pra-acara dan ingin menonton karpet merah, Anda sebaiknya menonton sekitar 90 menit sebelum acara atau sekitar pukul 3:30 sore.

Dimana menonton Oscar 2019 secara online?

Untuk pemirsa di luar AS, oscars.org memiliki daftar penyedia di seluruh dunia yang akan menampilkan siaran langsung, termasuk BSkyB, Canal + France dan CCTV-6.

Dimana menyaksikan karpet merah?

Proses karpet merah sebelumnya akan disiarkan langsung di Twitter. Anda dapat menonton dengan mengikuti akun Twitter resmi Academy Awards.

Siapa nominasinya?

Best Picture
Black Panther
BlacKkKlansman
Bohemian Rhapsody
The Favourite
Green Book
Roma
A Star is Born
Vice

Best Director
BlacKkKlansman — Spike Lee
Cold War — Pawe Pawlikowski
The Favourite — Yorgos Lanthimos
Roma — Alfonso Cuaron
Vice — Adam McKay

Best Actor
Christian Bale — Vice
Bradley Cooper — A Star Is Born
Willem Dafoe — At Eternity’s Gate
Rami Malik — Bohemian Rhapsody
Viggo Mortensen — Green Book

Best Actress
Yalitza Aparicio — Roma
Glenn Close — The Wife
Olivia Colman — The Favourite
Lady Gaga — A Star is Born
Melissa McCarthy — Can You Ever Forgive Me?

Best Supporting Actor
Mahershala Ali — Green Book
Adam Driver — BlacKkKlansman
Sam Elliot — A Star is Born
Richard E Grant — Can You Ever Forgive Me?
Sam Rockwell — Vice

Best Supporting Actress
Amy Adams — Vice
Marina de Tavira — Roma
Regina King — If Beale Street Could Talk
Emma Stone — The Favourite
Rachel Weisz — The Favourite

Baca juga: Tak ada MC bukan masalah, Queen & Lady Gaga bawa nuansa Grammy di Oscar

Baca juga: Bradley Cooper malu jika tak masuk sutradara terbaik Oscar

Baca juga: Oscars 2019 tak ada host, pertama kali dalam tiga dekade

Baca juga: Acara penghargaan Oscars akan disiarkan tanpa diedit

Pewarta:
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Asal usul “red carpet” Hollywood

Jakarta (ANTARA News) – Penghargaan Academy Awards akan digelar nanti malam. Sesuai tradisi, deretan selebritis akan berjalan melewati karpet merah yang biasa disebut “red carpet”, simbol dari kemewahan dan glamornya Hollywood.

Time pada Jumat (22/2) mengulas asal usul digunakannya “red carpet” di ajang-ajang penghargaan Hollywood.

Sebuah bait dalam drama “Agamemnon” karya penulis Yunani Aeschylus , 458 SM, adalah referensi pertama  tentang praktik glamor menggelar karpet merah.

Bait itu memposisikan karpet merah sebagai sarana untuk mengangkut bangsawan dari kereta kencana ke rumah.

“Sekarang kekasihku, turunlah dari keretamu, dan jangan biarkan kakimu, tuanku, menyentuh Bumi,” demikian lakon itu berbunyi. “Para pelayan, bentangkan di depan rumah sesuatu yang dia tidak pernah duga untuk akan dilihat … jalan merah tua.”

Hal ini tidak terdengar berbeda dari visi mengangkut para bintang dari limusin ke teater, tetapi karpet merah tidak memainkan peran dalam budaya Yunani kontemporer, menurut Gregory Crane, seorang profesor klasik di Universitas Tufts.

Orang-orang Yunani bukan satu-satunya yang memuja warna merah sebagai sesuatu yang melambangkan kerajaan. Merah telah menjadi warna kerajaan selama berabad-abad, menurut Jeanne Gutierrez dari New York Historical Society.

Pada akhir tahun 1200-an, Paus memutuskan bahwa hanya kardinal, orang-orang berpangkat paling tinggi dari gereja Katolik, yang bisa mengenakan warna merah.

Asosiasi warna merah dengan kemewahan dan kerajaan memiliki satu alasan praktis, pada intinya: mahalnya harga pewarna merah sebelum Revolusi Industri abad ke-19.

“Sebelum penemuan pewarna sintetis,” kata Gutierrez menjelaskan, “merah adalah stok pewarna yang sangat sulit dan mahal, sehingga tekstil merah sangat mahal, dan mereka merupakan pertanda status yang sangat tinggi karena hanya sejumlah orang yang dapat mampu memakainya.”

Faktanya, pada industri sutra Italia abad ke-15, baik Venesia maupun Florence mengeluarkan undang-undang untuk mencegah penjual menipu pelanggan dengan cara menggunakan pewarna yang lebih murah alih-alih kain yang lebih mahal.

Bukan hanya kain yang mahal. Warna merah juga memiliki konotasi keagamaan, dan telah lama melambangkan kesyahidan dan pengorbanan di gereja Katolik, kata Gutierrez.

Harga pewarna merah mulai turun pada abad ke-16 setelah Spanyol menaklukkan apa yang sekarang menjadi Amerika Tengah dan Selatan.

Orang Spanyol membuat pewarna merah –dibuat dengan menghancurkan serangga cochineal betina — dan menjualnya ke seluruh Eropa.

“Akhirnya, itu menjadi komoditas yang sangat berharga sehingga pesaing mulai masuk ke pasar,” kata Gutierrez. Kekuatan kolonial lainnya mulai membiakkan serangga ini untuk menjual pewarna.

Setelah pewarna merah mudah diperoleh, karpetnya masih mahal karena perlu ditenun dengan tangan.

Tetapi kemudian muncul Revolusi Industri dan inovasi-inovasinya, yang meliputi pewarna kimia sintetis dan tenun karpet otomatis.

Tiba-tiba, pada pertengahan 1800-an, Anda tidak perlu menjadi bagian dari kelas sosial elit untuk membeli kain merah.

“Mereka menjadi semakin mudah diakses oleh orang awam,” kata Gutierrez.

Karpet merah sudah dipandang sebagai sesuatu yang hanya untuk orang kaya, tetapi sekarang, siapa pun bisa pergi membelinya.

“Pelayanan red carpet”

Istilah “pelayanan red carpet” ternyata bukan berasal dari Hollywood tapi dari stasiun kereta.

Kereta api ikonik 20th Century Limited Express di New York Central Railroad, yang beroperasi dari 1902 hingga 1967, dapat membawa orang-orang dari New York ke Chicago berjam-jam lebih cepat daripada kereta sebelumnya.

Iklan kereta itu mengatakan kecepatan sebagai ukuran dari kelas dan kebangsawanan, maka karpet merah digelar di  di Grand Central Station untuk menyambut para penumpang yang menuju ke kereta tersebut.

Iklan menambahkan frasa “pelayanan red carpet” ke dalam bahasa keseharian sehingga semakin membentuk narasi karpet merah itu sendiri, menurut Gutierrez.

Segera setelah penggunaan karpet merah di stasiun kereta, popularitasnya sampai ke New York dari California.

Pemilik teater legendaris Sid Grauman membawa kebiasaan itu ke Hollywood untuk pemutaran perdana Robin Hood tahun 1922 di Teater Mesir.

Douglas Fairbanks, bintang film dan “raja pertama Hollywood,” adalah salah satu bintang pertama yang berjalan di karpet merah ketika ia tiba di pemutaran perdana.

Academy of Motion Picture Arts & Sciences kemudian mengadopsi tradisi untuk Academy Awards pada tahun 1961, ketika karpet merah pra-upacara pertama kali disiarkan di televisi.

Tetapi baru pada tahun 1964, ketika teknologi televisi jadi berwarna, seluruh warga di negara tersebut dapat melihat semburat merah di bawah kaki bintang-bintang.

“Ini dapat diakses oleh khalayak luas setelah disiarkan di TV,” jelas Gutierrez.

Karpet merah seperti yang kita kenal – jalan untuk bintang-bintang – telah berevolusi selama berabad-abad.

“Bintang film,” kata Gutierrez, “adalah semacam bangsawan  zaman modern.

Baca juga: Queen akan tampil di Oscars

Baca juga: Acara penghargaan Oscars akan disiarkan tanpa diedit

Baca juga: Oscars 2019 tak ada host, pertama kali dalam tiga dekade

Penerjemah: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Sudut Film Dilan” di Taman Saparua Bandung

Bandung (ANTARA News) – Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, Menteri Pariwisata, Arif Yahya dan para pemain film “Dilan 1991” melangsungkan prosesi peletakan batu pertama untuk pembangunan Sudut Film Dilan di Taman Saparua, Bandung.

Sudut Film Dilan akan menjadi tempat literasi bagi para anak muda yang ingin berdiskusi tentang novel, menulis atau sekadar membaca dan perpustakaan.

“Tempatnya nanti ada memorabilianya ada meja, ada perpustakaan, nanti ada bantuan. Setting-nya akan sangat Jawa Barat,” ujar Ridwan dalam prosesi peletakan batu pertama Sudut Taman Dilan di Bandung, Minggu.

Ridwan juga mengatakan kehadiran Sudut Film Dilan diharapkan bisa meningkatkan wisatawan di Bandung. Sebab, pengunjung tidak hanya bisa melakukan kegiatan literasi hari ini tapi juga berfoto.

Senada dengan Ridwan Kamil, Arif Yahya berharap jika Sudut Film Dilan mampu meningkatkan pariwisata milenial.

“Saya yakin Dilan Corner bisa dikunjungi para milenial. Saya tahu penggemarmu itu milenial. Nah,  Kementerian Pariwisata punya milenial tourism. Kalau dihitung, traveler Indonesia lebih dari 100 juta itu adalah milenial. Saya harapkan ini bisa menjadi salah satu destinasi milenial tourism,” kata Arif Yahya.

Karena nantinya Sudut Film Dilan akan dibuat perpustakaan, maka pihak Ridwan Kamil akan menerima sumbangan buku-buku. Salah satu yang akan berpartisipasi adalah Pidi Baiq yang akan menyumbangkan karyanya. 

Peletakan batu pertama Sudut Film Dilan ini adalah salah satu dari rangkaian gala premier film “Dilan 1991” yang diselenggarakan serentak di seluruh bioskop Bandung.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“My Stupid Boss 2” rilis trailer dan poster

Jakarta (ANTARA News) – Kisah antara Bossman dan Kerani akan kembali hadir dalam film “My Stupid Boss 2”. Agar penggemarnya tidak penasaran, Falcon Pictures pun resmi merilis trailer dan posternya.

Film yang dimainkan oleh Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari (BCL) ini, diangkat dari novel best seller karya chaos@work. Upi juga kembali dipercaya untuk menjadi sutradaranya. Dia mengatakan sudah tidak sabar melihat reaksi penonton saat melihat sekuelnya.

“Penasaran banget pengin tahu reaksi orang setelah melihat trailer-nya. Karena di My Stupid Boss 2 ini kita kasih petualangan yang berbeda lagi,” ujar Upi melalui keterangan resmi yang diterima Antara, Sabtu.

Hal senada juga disampaikan oleh Reza. Dia berharap trailer ini makin membuat penonton penasaran untuk menyaksikannya di bioskop.

“Semoga responnya positif dan trailer tersebut bisa memberikan satu tampilan yang mengajak penonton untuk menonton di bioskop sehingga ini menjadi sebuah produk yang sangat menarik,” kata Reza.

“Mudah-mudahan penggemar film “My Stupid Boss” makin kangen sama Bossman dan Kerani dan the gank, serta semakin banyak yang penasaran sama kelanjutan keseruan genk ini,” ujar BCL menambahkan. 

Selain Reza Rahadian dan BCL, “My Stupid Boss  2” akan diperankan oleh Chew Kin Wah, Atikah Suhaime, Alex Abad, dan Melisa Karim. Ada juga tokoh baru yang diperankan oleh Moergan Oey, Verdy Sulaiman, dan Iedil Putra yang menggantikan Bront Palarae.

Film tersebut tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 28 Maret 2019. 

Simak trailernya di sini:
 

Baca juga: #CrazyRichSurabayan akan dibuat novel sekaligus filmnya

Baca juga: Film Koes Plus akan hadir

Baca juga: Game “Dilan” hadir di Android, Milea jadi tokoh utama

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Space Jam 2” rilis 16 Juli 2021, dibintangi LeBron James

Jakarta (ANTARA News) – Tanggal rilis “Space Jam 2” telah diumumkan. Kabarnya sekuel film tersebut akan tayang di bioskop pada 2021.

“Space Jam” dirilis pertama kali pada tahun 1996 dan dibintangi oleh Michael Jordan bersama para karakter yang ada di Looney Tunes.

Kini, “Space Jam 2” akan dibintangi oleh LeBron James, pemain basket dari LA Lakers sebagai bintang utamanya. Ini juga menjadi akting pertamanya sebagai pemeran utama.

“Space Jam 2” akan dirilis oleh Warner Bros pada 16 Juli 2021, berjarak 25 tahun dari film aslinya. James dari SpringHill Entertainment telah mengonfirmasi hal tersebut melalui akun Instagramnya.

Baca juga: LeBron James bermitra dengan sutradara “Black Panther” dalam “Space Jam 2”

Sutradara “Black Panther”, Ryan Coogler akan menjadi produser untuk film ini. Sedangkan Terence Nance akan bertindak sebagai sutradaranya. 

Produksi “Space Jam 2” dijadwalkan akan mulai akhir tahun 2021. Sebelumnya, James LeBron mengaku sangat senang ketika mengumumkan dirinya akan bergabung dengan Bugs Bunny dan teman-temannya.

“Kolaborasi “Space Jam” jauh lebih dari sekedar saya dan Looney Tunes berkumpul dan melakukan film ini. Ini jauh lebih besar,” kata James.

“Saya suka bagaimana anak-anak bisa memahami rasanya diberdayakan dan bagaimana bisa melakukan sesuatu untuk mengejar impian mereka dengan tidak mudah menyerah. Dan saya pikir Ryan melakukan itu untuk banyak orang (dengan Black Panther),” lanjutnya.

Baca juga: LeBron James-Giannis Antetokounmpo pilih rekan setim All-Star

Baca juga: Lima tempat wisata yang terinspirasi “Black Panther”

Baca juga: Rekomendasi tayangan Netflix di bulan Maret

Penerjemah: Maria Cicilia
COPYRIGHT © ANTARA 2019

John Krasinski kembali akan sutradarai “A Quiet Place 2”

Jakarta (ANTARA News) – John Krasinski kembali akan menyutradarai sekuel film horor “A Quiet Place” yakni “A Quiet Place 2”.

Tadi malam dia mengunggah sebuah foto yang dikenali oleh para fans “A Quiet Place” sebagai rumah keluarga Abbot dengan tulisan “… waktu untuk kembali. #BagianII 5-15-20”.
 

Rencana Krasinski akan menulis sekuel film itu memang sudah diumumkan, tetapi sekarang dia juga sudah terkonfirmasi akan menyutradarai juga. Tak lama setelah unggahan di sosial medianya itu, The Hollywood Reporter juga menyampaikan kabar bahwa ketiga bintang “A Quiet Place”- Emily Blunt, Millicent Simmonds, dan Noah Jupe – sedang dalam pembicaraan untuk kembali di film kedua.

Seperti yang dilaporkan THR, kedua aktor muda dalam film itu sudah terikat kontrak awal mereka, untuk berjaga-jaga kalau-kalau Quiet Place meledak dan Paramount ingin membuat kelanjutan film itu.

Sementara Emily Blunt, meskipun itu adalah film suaminya, masih dalam tahap negosiasi untuk “A Quiet Place 2”.

Dia setuju dibayar jauh lebih rendah daripada harga biasanya untuk film pertama, dan kali ini “orang dalam” mengatakan kalau dia juga mau ambil bagian dalam film, Vulture, Jumat (22/2).

Baca juga: Dalam cekaman “A Quiet Place”

Baca juga: “A Quiet Place” film paling personal bagi John Krasinski dan Emily Blunt

Baca juga: Emily Blunt bawa pulang piala Aktris Pendukung Terbaik berkat “Quiet Place”
 

Penerjemah: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “The Man From The Sea” diputar khusus di Aceh

Jakarta (ANTARA News) – Film bergenre drama fantasi karya sutradara Jepang Koji Fukada, “The Man from The Sea (Laut)” akan diputar secara khusus di Gedung Sultan Selim II ACC, Banda Aceh pada 23 Februari 2019.

Pemutaran khusus tersebut merupakan kerjasama antara komunitas Aceh Documentary dan Kaninga Pictures dengan bantuan penuh dari Japan Foundation Asia Center. Tidak berhenti sampai situ, film ini juga akan ditayangkan dalam acara Aceh Independent Cinema mulai 25 Februari – 3 Maret 2019.

“Waktu tahu film ini akan diputar khusus di Aceh, saya merasa sangat terkejut. Penasaran dengan opini masyarakat Aceh sehabis nonton film yang mengambil latar belakang tentang tsunami di Aceh. Semoga mereka senang dan tidak kecewa dengan logat Aceh saya,” ujar Sekar Sari, salah satu pemain “The Man from The Sea (Laut)” melalui keterangan pers yang diterima Antara, Jumat.

Film yang menggunakan bahasa Indonesia, Jepang,  Inggris dan Aceh sekaligus ini bercerita tentang seorang lelaki misterius yang muncul dan terdampar di pesisir pantai sekitar Banda Aceh. Penemuan lelaki berperawakan Jepang itu, memaksa Takako (Mayu Tsuruta) untuk mencari tahu identitasnya.

Lalu calon jurnalis, Ilma (Sekar Sari) dan teman dekatnya Kris (Adipati Dolken) yang asli Banda Aceh, serta Sachiko (Junko Abe) keponakan Takako pun turut bergabung dalam mengungkap siapa sesungguhnya lelaki misterius yang penuh teka-teki tersebut dan dari mana dia berasal. Adapun lelaki tersebut mereka beri nama Laut (Dean Fujioka).

Baca juga: Film kolaborasi Indonesia-Jepang “Laut” tayang pada Valentine

Sang sutradara, Koji Fukada mengatakan jika dirinya tidak merasakan adanya hambatan selama proses syuting, khususnya dengan para kru yang mayoritas orang Indonesia. 

“Pertama kali kerja bareng dengan teman-teman dari Indonesia memberikan kesan yang berbeda. Kalau di Jepang, kami kerja dengan serius, tetapi selama syuting di Aceh kami bekerja dengan penuh tawa, dan itu yang membekas di ingatan saya. Seru sekali!,” kata Fukada.

Sedangkan Adipati, mengaku cukup mendapat tantangan. Sebab, di sini dia harus berakting menggunakan bahasa Inggris.

“Tantangan dalam film ini, selain mesti beradu peran dengan teman-teman dari Jepang, adalah mesti berakting dalam bahasa Inggris. Ini pertama kalinya gue mesti berdialog dalam bahasa Inggris untuk layar lebar. Tapi dukungan dari teman-teman sesama pemain dan sutradara ngebantu gue banget,” ujar Adipati.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Cecep Arif Rahman padukan berbagai beladiri di “Gatotkaca”

Jakarta (ANTARA New) – Cecep Arif Rahman terlibat dalam pembuatan jurus-jurus dalam film cerita kuno “Gatotkaca”, dengan memadukan berbagai jurus beladiri nusantara.

Cecep mengatakan bahwa Gatotkaca tidak kalah dengan Superman. Bagi Cecep, dalam tokoh pewayangan Sunda, Gatotkaca adalah sosok lelaki sejati yang memiliki kekuatan tak tertandingi. 

Dari situ, Cecep merasa jurus beladiri yang digunakan oleh Gatotkaca juga harus spesial dan tidak dimiliki oleh superhero lain.

“Makanya kita harus cari beladiri yang terbaik. Alhamdullilah kita punya guru beladiri yang bisa beladiri Bugis, Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kita gabungkan juga dengan yang ada di wayang,” kata Cecep usai peluncuran teaser film “Gatotkaca” di Jakarta, Kamis.

“Terus di Bogor itu juga ada tarian Gatotkaca di wayang goleknya, tapi bisa ditranformasi. Musik juga khas untuk mengiringi gerak itu enggak ada yang punya. Karena kita ingin Gatotkaca enggak hanya diterima sebagai seni beladiri tapi juga budaya ini mewakili tokoh kita,” lanjutnya.

Cecep mengatakan untuk kedepannya tidak menutup kemungkinan menggunakan seni beladiri dari negara lain seperti India atau Thailand.

“Tidak menutup kemungkinan yang lawan-lawannya Gatotkaca menggunakan beladiri dari tempat lain kayak India, Thailand atau China. Karena kan jurusnya enggak mungkin sama kayak Gatotkaca. Karena beladiri kuno kan bukan hanya turun di Indonesia saja tapi juga ke tempat lain,” jelas Cecep.

Baca juga: Gatotkaca akan dibuat versi milenial dalam film terbaru

Baca juga: Festival Film Amerika Latin hadir di Jakarta

Baca juga: The Sacred Riana akan bintangi film horor

Baca juga: Hanin Dhiya isi lagu original soundtrack film Dilan 1991

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Rekomendasi tayangan Netflix di bulan Maret

Jakarta (ANTARA News) – Netflix akan menghadirkan film dan serial pilihan untuk bulan Maret, salah satunya adalah “Triple Frontier” yang diperankan oleh Ben Affleck, Oscar Isaac, Charlie Hunnam, Garrett Hedlund, dan Pedro Pascal.

Film ini bercerita tentang lima veteran tentara AS yang bersatu kembali untuk merencanakan perampokan di sebuah zona perbatasan Amerika Selatan. 

Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, para pahlawan perang ini mengambil misi yang berbahaya untuk kepentingan diri sendiri tanpa memikirkan negara. Film arahan sutradara J.C Chandor ini tayang pada 13 Maret 2019.

Selain “Triple Frontier” ada juga beberapa rekomendasi film dan serial lainnya yang dapat ditemukan di Netflix Indonesia.

Baca juga: Chris Hemsworth akan perankan Hulk Hogan di Netflix

“The Boy Who Harnessed the Wind”

Film ini dimainkan oleh Chiwetel Ejiofor, Joseph Marcell dan Maxwell Simba. Inspirasinya dari kisah nyata, seorang anak berusia 13 tahun bernama William Kamkwamba (Maxwell Simba) yang membangun kincir angin untuk menyelamatkan desanya di Malawi dari krisis kelaparan. Film tersebut tayang pada 1 Maret.

“The Pursuit of Happyness”

Film yang dimainkan oleh Will Smith, Jaden Smith dan Thandie Newton ini bercerita saat Chris dan anaknya tidak lagi memiliki tempat tinggal, mereka berdua berjuang melewati masa-masa sulit. Dalam keputusasaannya Chris bahkan menerima sebuah tawaran magang tanpa bayaran di sebuah perusahaan saham. Film tersebut tayang pada 1 Maret.

“Guardians of the Galaxy Vol.2”

Film ini bercerita tentang kelompok superhero yang bersatu kembali untuk menguak misteri dibalik asal-usul Star Lord. Dibintangi oleh Vin Diesel, Chris Pratt, Bradley Cooper, Zoe Saldana dan Dave Bautista tayang pada 1 Maret. 

Baca juga: Jake Gyllenhaal jadi kritikus seni di film “Velvet Buzzsaw”

“Big Fish”

Dimainkan oleh Ewan McGregor, Billy Crudup, Jessica Lange, Marion Cotillard dan Helena Bonham Carter berkisah tentang seorang reporter yang berusaja mengenal lebih jauh sosok ayahnya. Dia mencari kebernaran di balik cerita hidup sang ayah yang penuh legenda dan sulit dipercaya. Film ini tayang pada 1 Maret. 

“Justin Bieber: Never Say Never”

Idola remaja Justin Bieber mendokumentasikan perjalanan karirnya melalui serangkaian foto dan video, termasuk cuplikan seru di balik panggung saat tur konsernya di tahun 2010 yang menuai sukses. Dokumentasi ini tayang pada 1 Maret.

“The Highwaymen”

Film Netflix Original yang dimainkan oleh Kevin Costner, Woody Harrelson dan Kathy Bates akan tayang pada 29 Maret. “The Highwaymen” mengungkap kisah para detektif yang berperan dalam penangkapan duo penjahat terkenal Bonnie & Clyde.

Baca juga: Netflix naikkan harga untuk pelanggan AS

“Santa Clarita Diet: Season 3”

Serial ini berkisah tentang suami-istri, Joel (Timothy Olyphant) dan Sheila Hammond (Drew Barrymore), mendapati hidup mereka berubah ketika sang istri mendadak hanya bisa bertahan hidup dengan mengonsumsi daging manusia. Pada season terbaru ini, Sheila berusaha mencari jawaban atas permasalahan hidupnya, sementara Joel menyelidiki sebuah perkumpulan rahasia. 

Baca juga: Netflix himbau warganet agar tak melakukan #BirdBoxChallenge

Baca juga: “Bird Box” Sandra Bullock pecahkan rekor Netflix

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Festival Film Amerika Latin hadir di Jakarta

Jakarta (ANTARA News) – Festival Film Amerika Latin atau Latin American Film Festival (LAFF) bakal digelar di Jakarta pada 23 Februari hingga 4 Maret mendatang, dengan menayangkan 16 film pilihan.

Festival ini diselenggarakan oleh komunitas film Jakarta Cinema Club (JACk) beserta LiveLife, platform yang membantu penyelenggara acara menemukan tempat dan komunitas untuk berkolaborasi, kata Jakarta Cinema Club dalam siaran persnya, Kamis.

Festival ini akan menyajikan film-film pilihan berbagai genre, mulai dari drama, komedi, thriller, dokumenter dan bahkan animasi dari Argentina, Chile, Ekuador, Kolombia, Kuba, Meksiko, dan Peru.

Selama seminggu festival berlangsung, screening film akan dilakukan di berbagai tempat antara lain di Uptown Coworking Space dan Empu Sendok Arts Station pada hari kerja, dan di Perpustakaan Nasional pada Sabtu dan Minggu.

Pembukaan festival ini akan berlangsung 23 Februari dengan penayangan film “La Nana” dari Chile yang menceritakan seorang pembantu rumah tangga yang telah mengabdi kepada keluarga majikan selama 23 tahun.

Akan ada juga penayangan film khusus untuk keluarga dan anak-anak berjudul “El Libro de Lila” dari Kolombia, animasi yang menceritakan pentingnya nilai persahabatan dan kekuatan imajinasi.

Negara Meksiko akan menayangkan “Amores Perros” yang disutradarai Alejandro Gonzalez Inarritu yang telah bekerja sama dengan Leonardo DiCaprio dalam pembuatan film “The Revenant” dimana dia memenangkan Academy Awards untuk pertama kalinya.

“Kami berharap dengan festival ini masyarakat Indonesia akan lebih memahami budaya negara Amerika Latin dan menjadi pengetahuan beserta inspirasi yang berguna bagi mereka,” kata Nadina Habsjah, representasi dari Jakarta Cinema Club.

Baca juga: Amerika Latin produksi banyak film, namun tersandung distribusi
Baca juga: Film Iran di festival film terkemuka Amerika Latin

Pewarta: Suryanto
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Mia and the White Lion”, persahabatan manusia dengan binatang liar

Jakarta (ANTARA News) – Sudah banyak film yang membahas tentang dinamika hubungan antara orangtua dan anaknya yang beranjak remaja.

Namun, di “Mia and the White Lion”, hubungan itu diwarnai konflik akibat perubahan lingkungan yang memaksa anak untuk keluar dari zona nyaman dan diracik dengan bumbu berbeda.

Mia (Daniah De Villiers), yang sudah terbiasa hidup di London harus beradaptasi dengan kehidupan baru di Afrika Selatan, di mana ayahnya membuat tempat konservasi singa.

Kerinduan pada London yang dianggap sebagai “rumah”, pada teman dekatnya yang hanya bisa ditemui melalui layar laptop, membuat anak 10 tahun itu ogah bersusah payah berteman dengan orang-orang baru.

Ayahnya si pencinta binatang dianggap terlalu egois karena tidak memikirkan kebahagiaan putrinya yang tertinggal di Inggris.
  Mia and the White Lion (IMDB)

Semuanya berubah ketika Charlie, singa putih, lahir di peternakan itu. Charlie berhasil melelehkan hati Mia yang memperlakukannya penuh cinta, seakan-akan singa putih itu seekor kucing menggemaskan.

Orangtua Mia merasa senang putrinya bisa mencintai kehidupan baru mereka, tapi di sisi lain khawatir atas keselamatan buah hati mereka yang menganggap Charlie selayaknya binatang peliharaan, padahal singa itu sudah tumbuh dewasa dan sewaktu-waktu bisa melukainya.

Saat mengetahui sisi kelam bisnis sang ayah yang selama ini terselubung, Mia nekat membuat keputusan gila demi singa tersayang. Tingkahnya sebagai remaja bisa membuat orangtua jadi ingin mengelus dada, tapi dia memang punya alasan kuat.
  Mia and the White Lion (IMDB)

Daniah dan Thor, nama asli singa putih itu, tumbuh bersama selama tiga tahun agar aktris cilik itu bisa akrab dan aman selama proses pengambilan gambar. Kevin Richardson, ahli singa, juga turut membantu pembuatan film tersebut.

“Mia and the White Lion” memperlihatkan definisi lain dari “kaya raya”, di mana ruang bermain tak terbatas pada lapangan atau taman dekat rumah, tapi padang savana yang luasnya tak terhingga.

Hewan-hewan yang selama ini hanya bisa dilihat di kebun binatang dapat ditemui secara mudah di luar rumah.
  Mia and the White Lion (IMDB)

Pencinta binatang, khususnya fauna khas Afrika, mungkin akan betul-betul menikmati adegan demi adegan yang memperlihatkan keindahan Afrika Selatan, juga pertumbuhan Charlie (Thor) yang saat bayi menggemaskan seperti kucing hingga tumbuh jadi singa putih dewasa.

Pengambilan gambarnya memikat, penonton seakan benar-benar berinteraksi dengan singa putih bersama Mia yang menganggap Charlie sebagai sahabatnya.

Film yang disutradarai Gilles de Maistre ini bukan cuma soal persahabatan antar manusia dan hewan, tetapi menyentil bisnis jual beli hewan untuk buruan yang legal, tapi membuat hati nurani merana.

Akting singa putih bersama Melanie Laurent, Langley Kirkwood dan Ryan Mac Lennan bisa disaksikan mulai 27 Februari di bioskop.

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Indonesia akan punya Satria Dewa Universe

Jakarta (ANTARA News) – Marvel Universe akan memiliki pesaing baru. Bukan dari Hollywood, tapi Indonesia, karena Satria Dewa Studio bersama Caravan Studio dan Magma Entertainment telah menyiapkan Jagad Satria Dewa (Satria Dewa Universe).

Jagad Satria Dewa akan meliputi movie universe, merchandise, mobile game, komik, website, on-ground activation, serial (TV/OTT) dan theme park untuk rencana ke depan.

Sebagai awalan, Jagad Satria Dewa akan merilis film “Satria Dewa: Gatotkaca”. Ini adalah film pertama dari keseluruhan rencana delapan film yang terdiri dari “Arjuna”, “Yudhistira”, “Bharatayuda”, “Bima”, “Nakula Sadewa”, “Srikandi” dan “Kurukshetra”.

“Kami ingin menggali lagi potensi budaya kita yang adiluhung ini sebagai inspirasi untuk dibangkitkan kembali dan disebarluaskan nilai-nilainya kepada generasi milenial Indonesia yang sudah memudar pengetahuannya terhadap khasanah budaya kita. Tokoh yang kami buat adalah tokoh masa lalu yang hadir di masa sekarang ini yang merupakan titisan sehingga anak muda akan mudah untuk relate dengannya,” ujar Rene Ishak selaku Executive Producer Satria Dewa Studio dalam peluncuran teaser “Gatotkaca” di Jakarta, Kamis.

Film “Gatotkaca” sendiri disutradarai oleh Charles Gozali. Menurutnya, peluncuran film “Gatotkaca” maupun Jagad Satria Dewa adalah waktu yang tepat. Sebab, sebelumnya juga ada film tentang superhero lokal.

“Film superhero Indonesia pasti ditunggu, jadi secara timing menurut kami sangat tepat. Bagaimana menghadirkan Gatotkaca yang sangat dekat dengan anak muda adalah tantangannya. Bagaimana mendatangkan Pandawa dan Kurawa di zaman ini dan kami telah melakukan berbagai riset,” kata Charles.

Namun, siapa yang akan bermain dalam film “Gatotkaca”, Charles belum mengumumkannya. Saat ini pihaknya masih melakukan berbagai audisi.

“Skenario masih digodok. Kita masih melakukan audisi secara gerilya baik lewat agensi ataupun pemain yang sudah punya nama. Sebab menemukan sosok Gatotkaca ini perlu seseorang yang berasal dari daerahnya, dia juga harus berwajah Indonesia. Tapi penonton sekarang suka yang look-nya bagus, kebanyakan yang look-nya bagus bukan Indonesia asli. Dia juga harus bisa melakukan beladiri,” jelas Charles.

Film “Gatotkaca” dijadwalkan tayang pada 20 Februari 2020. Namun akan ada berbagai rangkaian kegiatan untuk menuju peluncurannya.

Baca juga: Wiro Sableng resmi meramaikan server AOV Taiwan
Baca juga: Wiro Sableng, pahlawan lokal pertama di Arena of Valor

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Chris Hemsworth akan perankan Hulk Hogan di Netflix

Jakarta (ANTARA News) – Aktor Chris Hemsworth akan terlibat dalam film biografi atlet WWE Hulk Hogan yang nantiya tayang di Netflix. Sang aktor rencananya berperan sebagai Hogan. 

Seperti dilansir Digital Spy, Kamis, informasi dari The Hollywood Reporter, yang juga mencatat bahwa Todd Phillips, yang bekerja sama dengan Joaquin Phoenix untuk “Joker”, akan menyutradarai film ini.

Rencananya, Hogan juga akan datang saat syuting sebagai konsultan dan produser eksekutif.

Belum ada kabar tentang tanggal rilis untuk film biografi Hogan ini. 

Hemsworth memiliki banyak film menegangkan yang akan dirilis tahun ini, termasuk “Avengers: Endgame dan Men in Black: International”. 

Film biopik ini akan menggambarkan kisah hidup Hogan dan mengabaikan tindakan kontroversial pegulat legendaris belakangan ini.

Film akan mengisahkan tahun-tahun awal mula ketenaran Hogan, dimulai dengan sirkuit gulat Florida pada akhir 1970-an dan menjadi duta Federasi Gulat Dunia selama 1980-an. Istilah “Hulkamania” diciptakan pada tahun 1984 dengan Hogan sering menyebut penggemarnya sebagai “Hulkamaniacs” dalam wawancara dan mendorong mereka untuk fokus pada pelatihan, berdoa, dan makan vitamin.

Baca juga: Dakota Johnson gagal fokus karena tubuh Chris Hemsworth

Baca juga: Posting video mesum Hulk Hogan, Gawker didenda Rp328 miliar

Baca juga: Putri Hulk Hogan umbar foto telanjang

Penerjemah: Lia Wanadriani Santosa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tak ada MC bukan masalah, Queen & Lady Gaga bawa nuansa Grammy di Oscar

Jakarta (ANTARA News) – Oscar yang tahun ini tidak punya pembawa acara takkan dibuka dengan tradisi monolog yang berisi lelucon dan sindiran untuk para selebritas dan politisi.

Tapi kehadiran band rock Queen, bintang pop Lady Gaga dan dua musikal yang memperebutkan gelar film terbaik, penghargaan tertinggi di industri film itu akan punya nuansa musik yang kuat di saat Oscar berusaha menarik perhatian penonton televisi.

Grup band Inggris Queen, menampilkan Adam Lambert sebagai vokalis, akan membuka acara 24 Februari mendatang dengan pertunjukan yang merayakan kesuksesan nominasi film terbaik “Bohemian Rhapsody”, kata perwakilan band pada Reuters, Rabu (20/2).

Baca juga: Queen akan tampil di Oscars

Bette Midler, Jennifer Hudson, Jennifer Lopez dan produser rekaman Pharrell Williams juga akan hadir, begitu juga aktor James Bond Daniel Craig, petenis Serena Williams, bintang “Black Panther” Chadwick Boseman dan komedian Tina Fey serta Amy Poehler.

Tidak banyak bocoran tentang upacara Academy Awards yang pertama kalinya dalam 30 tahun tidak memiliki pembawa acara, menimbulkan rasa penasaran terhadap acara penghargaan itu.

Komedian Kevin Hart mundur dari posisi pembawa acara pada Desember lalu akibat cuitan homofobia di masa lampau yang terkuak.

Baca juga: Kevin Hart pastikan takkan bawakan acara Oscar

“Hollywood itu tentang ketegangan,” kata Tom O’Neil, pendiri laman penghargaan Goldderby.com.

Yang pasti, durasi Oscar tahun ini takkan lebih singkat. Pada 1989, kali terakhir ketika acara ini tidak dipandu pembawa acara, Oscar dibuka dengan lagu dan tari selama sebelas menit oleh Rob Lowe dan aktris yang berpakaian sebagai Snow White, pembukaan itu dicemooh habis-habisan.

Di bawah tekanan membuat acara yang menarik bagi penonton, setelah tahun lalu jumlah penontonnya merosot, produser mengumpulkan para pesaing penghargaan lagu orisinal terbaik.

Lady Gaga dan aktor-sutradara Bradley Cooper akan berduet lagu “Shallow” dari film “A Star is Born” yang dinominasikan jadi film terbaik, sementara Jennifer Hudson akan menyanyi “Fight” dari dokumenter “RBG”.

Baca juga: Lady Gaga, Rami Malek dan sederet selebriti hadiri Oscar Nominees Luncheon

Midler didapuk membawakan lagu “Mary Poppins Return” yang berjudul “The Place Where Lost Things Go”, sementara duo Gillian Welch and David Rawlings akan menampilkan “”When a Cowboy Trades His Spurs for Wings.”

“Itu adalah salah satu tempat di mana kepopuleran bintang bisa membuat perbedaan,” kata Alison Willmore, kritikus dan penulis budaya di BuzzFeed News.

“Lady Gaga adalah seorang bintang dan saya membayangkan penggemar setianya akan menonton demi dia,” imbuh dia.

Penyelenggara Oscar belum mengatakan apakah rapper Kendrick Lamar akan tampil menyanyikan lagu “All the Stars” dari film pahlawan super “Black Panther”.

Produser Oscar mengatakan pada New York Times bahwa Serena Williams akan jadi satu dari delapan orang di luar dunia hiburan yang tampil untuk bicara tentang apa artinya nominasi film terbaik bagi mereka.

Baca juga: Oscars 2019 tak ada host, pertama kali dalam tiga dekade
 

Penerjemah: Nanien Yuniar
COPYRIGHT © ANTARA 2019

The Sacred Riana akan bintangi film horor

Jakarta (ANTARA News) – Ilusionis The Sacred Riana akan membintangi film horor “The Sacred Riana: Beginning” yang disutradarai Billy Christian.

Nant Entertainment dalam keterangan pers, Rabu, mengatakan film ini dibintangi oleh Riana Riani (Riani adalah boneka yang selalu dibawa Riana), Aura Kasih, Agatha Chelsea, Prabu Revolusi, Citra Prima.

Film tersebut juga dibintangi Frislly Herlind, Angrean Ken, Willem Bevers, Ciara Brosnan, Brooklyn Alif, Carlos Camelo dan Jessiana Pariston.

Film pertama Nant Entertainment ini bercerita tentang Riana Kecil yang sering dirundung karena ayahnya, Januar (Prabu Revolusi)  adalah pembuat peti  mati dan ibunya, Irma (Citra Prima) adalah perias jenazah yang sering  mengabaikan Riana.

Kisah berlanjut hingga Riana, yang mendapatkan kekuatan psikokinesis, dewasa dan berhadapan dengan konflik-konflik supranatural. 

Film tersebut akan tayang pada 14 Maret 2019.

Baca juga: The Sacred Riana menuju Live Show America’s Got Talent

Baca juga: Sacred Riana membuat Mel B ketakutan di America’s Got Talent 2018

Baca juga: Di balik pemilihan nama The Sacred Riana

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Duel Lightsaber “Star Wars” jadi olahraga resmi di Prancis

Jakarta (ANTARA News) – Federasi anggar Prancis menyatakan bahwa Duel Lightsaber dianggap sebagai olahraga resmi dan kompetitif. Hal ini merupakan kabar baik bagi para penggemar “Star Wars” di seluruh dunia.

Senjata neon yang diciptakan oleh George Lucas itu, kini memiliki status yang sama dengan foil, epee dan saber atau senjata tradisional yang digunakan dalam turnamen di Olimpiade.

Federasi anggar berharap bahwa olahraga baru yang terinspirasi dari “Star Wars” ini dapat mengatasi sisi gelap kehidupan abad 21 yang kurang olahraga dan mengatasi gaya hidup yang kurang banyak bergerak.

“Melihat gaya hidup anak muda saat ini, ini adalah masalah kesehatan yang nyata. Mereka tidak melakukan olahraga apapun dan hanya berolahraga dengan ibu jari mereka. Itulah sebabnya kami berusaha menciptakan ikatan antara disiplin kami dan teknologi moderen sehingga partisipasi dalam olahraga terasa alami,” ujar Serge Aubailly, Sektetaris Jenderal Federasi Anggar, dilansir NME, Rabu.

“Film-film yang melibatkan jubah dan pedang selalu memiliki dan dampak besar pada federasi kami dan pertumbuhannya. Film Lightsaber memiliki dampak yang sama. Orang-orang muda ingin mencobanya,” lanjut Aubailly.

Penyelenggara turnamen olahraga baru ini juga telah menerapkan aturan untuk pertandingannya. 

“Kami ingin itu menjadi aman, kami menjadi wasit dan yang paling penting kami ingin olahraga ini menghasilkan visual yang sama seperti di film, karena itulah yang akan orang harapkan,” jelas Michel Oritz selaku pihak penyelenggara turnamen Lightsaber.

Baca juga: Lightsaber Luke Skywalker akan “terangi” lelang properti Star Wars

Baca juga: Studi: Setengah pembenci “Last Jedi” adalah bot, trolls dan aktivis

Baca juga: Star Wars: Episode IX selesai syuting Februari 2019

Penerjemah: Maria Cicilia
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Dragon Ball Super: Broly”, pertarungan sengit para Saiyan

Jakarta (ANTARA News) – Bagi para penggemar Dragon Ball, mulai hari ini film “Dragon Ball Super: Broly” tayang di seluruh bioskop. Film ini akan membawa Anda menyaksikan pertempuran sengit antara Goku, Vegeta dan seorang Saiyan yang selama ini telah dianggap hilang.

“Dragon Ball Super: Broly” adalah sebuah kisah Saiyan baru. Saat itu, Bumi sudah damai setelah Turnamen Kekuasaan. Meski demikian, Goku tetap menghabiskan seluruh harinya dengan berlatih untuk mencapai kemampuan yang lebih besar. Sebab dia menyadari bahwa alam semesta masih memiliki banyak orang yang lebih kuat.

Suatu hari Bola Naga milik Bulma dicuri oleh anak buah Frieza yang telah kembali dari Neraka. Hal tersebut kemudian menuntun Goku dan Vegeta bertemu dengan seorang Saiyan bernama Broly.  

Broly sebelumnya tidak pernah terlihat. Sebab para Saiyan hampir semuanya musnah sejak Planet Vegeta hancur. Ternyata, Broly adalah anak dari Paragus yang dulunya diasingkan oleh Raja Vegeta karena memiliki kekuatan yang luar biasa besar.

Broly ditanamkan rasa kebencian oleh sang ayah dengan tujuan menghabisi Vegeta. Di sinilah pertempuran sengit terjadi antara Broly, Vegeta dan Goku.

Saking besarnya kekuatan yang dimiliki oleh Broly, Goku dan Vegeta sampai kewalahan. Keduanya hampir menyerah dan terpaksa menyusun rencana untuk mengalahkan Broly.

Meski dalam film ini banyak adegan pertempuran, sifat Goku yang polos dan konyol mampu mencairkan suasana. Celetukan dan pertanyaannya mampu mengundang tawa penonton di tengah kegaduhan.

Namun untuk penonton pemula atau yang tidak pernah mengikuti “Dragon Ball”, mungkin akan sedikit kebingungan dengan berbagai karakter yang ada di film ini. Sebab setiap karakter yang diciptakan oleh Akira Toriyama memang memiliki sejarahnya sendiri.

Meski demikian sang sutradara, Tatsuya Nagamine tetap menjelaskan kembali bagaimana kehancuran Planet Vegeta dan bangsa Saiyan, serta awal mula Kakarot atau Goku datang ke Bumi.

Baca juga: Tujuh orang ditahan dengan tuduhan jual aplikasi cheating “Dragon Ball”

Baca juga: Komik “One Piece” sampai “Dragon Ball” berbahasa Inggris bisa dibaca gratis

Baca juga: Pencipta “Dragon Ball” akan merilis komik baru

Oleh Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Joe Taslim unggah trailer serial “Warrior”

Jakarta (ANTARA News) – Aktor laga Joe Taslim mengunggah cuplikan trailer serial televisi “Warrior” produksi Amerika Serikat yang akan tayang di Cinemax pada 5 April mendatang.

“Come..Come..Coming Soon! WARRIOR @cinemax April 5th” tulis Joe di akun Instagram @joe_taslim, Selasa.

Dalam serial laga yang dibuat oleh Jonathan Tropper dan Justin Lin ini, Joe berperan sebagai Li Yong. 

Serial ini juga dibintangi oleh Andrew Koji, Olivia Cheng, Jason Tobin dan Dianne Doan.

Ide serial ini awalnya berasal dari konsep serial televisi yang dibuat Bruce Lee berjudul “The Warrior” tentang ahli bela diri yang belum sempat diwujudkannya.

Dalam serial “Warrior”, salah satu produsernya adalah putri Bruce Lee, Shannon Lee.

Joe Taslim baru-baru ini membintangi film laga “Hit N Run” yang dibungkus dengan unsur komedi. Dia berperan sebagai Tegar, seorang polisi heroik dengan karakter unik, sang pembela kebenaran dan hati yang terluka.
Baca juga: Joe Taslim tak berani disamakan dengan Jackie Chan
Baca juga: Film “Hit N Run” gabungkan unsur komedi dan laga

 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Marvel kontrak Ned Benson untuk naskah “Black Widow”

Jakarta (ANTARA News) – Marvel Studio dilaporkan telah mengontrak Ned Benson untuk menulis ulang naskah film “Black Widow” yang dibintangi Scarlett Johansson, tulis Collider dalam laporannya, dikutip Selasa.

Karya paling terkenal Benson adalah “The Disappearance of Eleanor Rigby”, sebuah film yang ia tulis ulang bersama Jessica Chastain untuk lebih signifikan menyoroti perspektif wanita.

Ia waktu itu mengambil alih tugas itu dari Jac Schaeffer, yang menulis naskah edisi sebelumnya. Menurut Collider, Marvel sangat terkesan dengan pekerjaan Benson di Rigby, yang membuatnya mendapatkan peran ini, selain beberapa laporan sejarah profesional masa lalu bersama Johansson.

Film yang belum diumumkan tanggal rilisnya yang pasti ini disutradarai oleh Cate Shortland dan diproduseri oleh Kevin Feige.

Baca juga: Scarlett Johansson terima bayaran fantastis dalam “Black Widow Movie”

Baca juga: Marvel garap film solo Black Widow

Penerjemah: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“James Bond 25” rilis 8 April 2020

Jakarta (ANTARA News) – Film “James Bond 25” dijadwalkan rilis pada 8 April 2020. Ini berarti mundur dua bulan dari tanggal awal. Jadwal ini diumumkan langsung oleh Twitter resmi Jamse Bond.

“Tanggal rilis untuk Bond 25 telah berubah. Produser Michael G. Wilson dan Barbara Broccoli: “Kami benar-benar senang merilis Bond 25 pada 8 April 2020”,” tulis akun James Bond, dilansir NME, Senin.

Baca juga: Idris Elba takut dunia tak siap untuk James Bond berkulit hitam 

Ini adalah awal yang sulit bagi “James Bond 25” tapi ini juga bukan pertama kalinya jadwal rilis terpaksa mundur. Sang sutradara, Danny Boyle meninggalkan film tersebut lantaran perbedaan kreativitas tahun lalu, yang berarti tanggal rilis November 2019 mengalami penundaan.

Saat Cary Joji Fukunaga mengambil alih kursi sutradara, dia mengumumkan bahwa film “Bond” akan mulai syuting di studio Pinewood Maret ini dan merilisnya pada 14 Februari 2020. Namun tanggal tersebut kini mundur dua bulan.

Baca juga: Film James Bond ke-25 incar sutradara wanita

Sementara itu, Daniel Craig yang telah membintangi empat film “James Bond” akan kembali dengan peran yang sama. Namun belum diketahui apakah dia akan melanjutkan sebagai agen 007 setelah “James Bond 25”.

Spekulasi mengenai siapa yang akan mengambil alih peran tersebut setelah Craig keluar memunculkan sejumlah nama seperti Idris Elba, Tom Hiddleston, Richard Madden dan Tom Hardy.

Bulan lalu, Idris Elba menggoda penggemar dengan rumor bahwa dia bisa mengambil peran Bond dengan selfie bersama Daniel Craig di Golden Globes. Sementara bintang “Bohemian Rhapsody”, Rami Malek mengatakan bahwa dia bisa menjadi penjahat dalam film “James Bond” selanjutnya. 

Baca juga: Edgar Wright diunggulkan untuk sutradarai film James Bond ke-25

Baca juga: Cuitan ala James Bond, Idris Elba gantikan Daniel Craig?

Penerjemah: Maria Cicilia
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Acara penghargaan Oscars akan disiarkan tanpa diedit

Jakarta (ANTARA News) – The Academy Awards menarik keputusan mereka membuang penayangan pemberian penghargaan untuk empat kategori yakni Cinematography, Film Editing, Makeup and Hairstyling, dan Best Live-Action Short, dari siaran langsung pada 24 Februari 2019

“The Academy telah mendengar umpan balik dari para anggotanya mengenai presentasi Oscar dari empat penghargaan – Cinematography, Film Editing, Makeup and Hairstyling, dan Best Live-Action Short,” kata Academy dalam sebuah pernyataan Jumat (15/2) melalui Variety, seperti dikutip Rolling Stone.

“Semua Academy Awards akan disajikan tanpa editan, dalam format tradisional kami. Kami menantikan Oscar Minggu, 24 Februari.”

Langkah untuk membuang empat kategori dari siaran dibuat agar durasi sesuai dengan acara penghargaan tanpa pemandu acara yang berlangsung selama tiga jam. Biasanya, penyajian kategori-kategori tersebut akan dilakukan selama jeda iklan, dengan pidato penerimaan yang diedit selama siaran.

Namun, keputusan itu dikritik oleh industri film, termasuk Brad Pitt, Martin Scorsese, George Clooney, Christopher Nolan, Spike Lee dan puluhan pembuat film, aktor, sinematografer dan produser yang menandatangani surat terbuka ke Academy of Motion Picture Arts and Sciences, Rabu.

“Ketika pengakuan atas penciptaan sinema luar biasa dihilangkan oleh institusi yang seharusnya menjaga itu, kami tak lagi menjunjung tinggi semangat the Academy untuk merayakan film sebagai bentuk seni kolaboratif,” isi surat terbuka itu.

“Respons vokal dari rekan-rekan kami dan reaksi langsung dari para pemimpin industri atas keputusan Academy menjelaskan bahwa belum terlambat untuk keputusan ini dibatalkan.”

Keputusan membuang empat kategori adalah kontroversi terbaru yang menghantam piala Oscar, menyusul keluarnya Kevin Hart sebagai pembawa acara dan langkah untuk hanya menampilkan sepasang nominasi Best Original Song.

Baca juga: Oscars 2019 tak ada host, pertama kali dalam tiga dekade
Baca juga: Kevin Hart bersedia kembali jadi host Oscars
Baca juga: Steve Harvey ogah jadi host Oscars

 

Penerjemah: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Meghan Markle kembali ke layar lebar lewat film ini

Jakarta (ANTARA News) – Meghan Markle kembali ke layar lebar setelah film yang dibintanginya, “The Boys and Girls Guide to Getting Down” yang didistribusikan Artist Rights Distribution dijadwalkan rilis tahun ini, dilansir Hollywood Reporter.

Di film komedi itu, The Duchess of Sussex tampil sebagai seorang gadis bernama Dana, tokoh rekaan Paul Sapian. Dana doyan pergi ke klub malam dan berpesta di Los Angeles.

IMDB mendeskripsikan film itu “lucu dan agak keterlaluan,” karena memberikan tips bagi para penggila pesta tentang “bagaimana cara mendekati gebetan, menghindari yang tidak diinginkan dan pada dasarnya bersenang-senang tanpa menghancurkan diri sendiri.”

Aktor lain di film itu adalah Adam Pally dan Max Greenfield.

Sebetulnya sinema itu difilmkan pada tahun 2010, jauh sebelum Meghan bertemu suaminya, Pangeran Harry, dan tak lama sebelum gebrakannya sebagai Rachel Zane dalam serial “Suits”.

Meghan Markle meninggalkan “Suits” di akhir musim 7, berbarengan dengan Patrick J. Adams, yang berperan sebagai gebetannya, Mike Ross.

Kreator “Suits” Aaron Korsh mengonfirmasi bulan lalu bahwa sangat tidak mungkin Markle, yang sedang mengandung anak pertamanya, akan menjadi cameo di musim kesembilan dan terakhir seri.

“Kami saat ini tidak meminta Meghan Markle untuk meninggalkan posisinya di keluarga kerajaan dan bergabung dengan kami,” Korsh mengatakan kepada beberapa wartawan, termasuk ET, di tur pers Television Critics Association. “Aku akan menyukainya tetapi kurasa hampir mendekati nol.”

Baca juga: Media rongrong Meghan Markle seperti Putri Diana, kata George Clooney

Baca juga: Kemarin, rumor akun Instagram Meghan Markle hingga ponsel murah Lenovo
 

Penerjemah: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Di balik pensiunnya Ben Affleck dari Batman

Jakarta (ANTARA News) – Ben Affleck (46) akhirnya menjelaskan alasannya pensiun dari Batman dan memutuskan tak muncul di film DC Comics “The Batman” pada musim panas 2021 mendatang, dilansir USA Today, Jumat (15/2).

“Aku mencoba menyutradari sebuah versi Batman dan kerja bareng penulis skenario yang sangat bagus, tapi itu tidak berhasil, aku tak bisa memecahkannya,” katanya di “Jimmy Kimmel Live”.

“Jadi kurasa sudah saatnya membiarkan orang lain mencobanya. Mereka menemukan orang yang sangat bagus jadi aku senang.”

Affleck awalnya mengakui di Twitter bahwa dia tidak akan terlibat lagi dalam film Batman yang akan datang, menyatakan “Bersemangat untuk #TheBatman di Musim Panas 2021 dan untuk melihat visi @MattReevesLA menjadi hidup.”

Seperti diumumkan sebelumnya, Matt Reeves ditugasi untuk mengarahkan “The Batman” setelah kepergian Affleck dari film.

Awalnya Affleck yang seharusnya menulis, mengarahkan dan membintangi “The Batman,” namun menarik diri dari tugas penyutradaraan dua tahun lalu, meskipun ia mengatakan pada saat itu bahwa ia tetap berkomitmen untuk membintangi film itu.

Selama wawancara dengan USA TODAY pada Januari 2017, Affleck mengatakan dia mengalami masalah dalam mengarahkan dan menulis film.

“Film-film superhero mendapatkan tingkat perhatian yang tidak seperti film apa pun yang pernah aku mainkan. Anda menjadi pemeran utama ke-14 dalam film-film ini dan Internet menjadi gila,” kata Affleck. “Aku mengerti dan menerima itu. Itu adalah bagian dari tekanan yang timbul karena melakukan itu. Itu sebabnya aku tidak akan melakukannya, kecuali aku benar-benar merasa yakin tentang hal itu.”

Baca juga: Ben Affleck pensiun jadi Batman

Baca juga: Tony Mendez, agen CIA di film “Argo” meninggal dunia

Baca juga: Adam Levine beli rumah Ben Affleck seharga Rp455,2 miliar

Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Tiket gala premier “Dilan 1991” di Bandung ludes terjual

Jakarta (ANTARA News) – Tiket Gala Premier film “Dilan 1991” yang berlangsung pada 24 Februari sudah habis terjual, menurut keterangan Max Pictures selaku rumah produksi film itu.

Pihak Max Pictures menjual tiket itu dengan harga Rp10 ribu, yang mengundang respons luar biasa dari penonton. Dalam waktu singkat, tiket yang dijual online langsung habis untuk beberapa show di seluruh bioskop Bandung.

Ody Mulya selaku Produser Max Pictures menjelaskan, masih ada tiket yang bisa dibeli langsung pada hari kegiatan di bioskop-bioskop di Bandung.

“Alhamdulillah, respon positif diberikan untuk film ‘Dilan 1991’. Jadi yang belum sempat beli tiket untuk tanggal 24 Februari 2019, bisa langsung ke bioskop, mudah-mudahan bisa dapat tiket,” ujar Ody melalui keterangan resmi yang diterima Antara, Jumat.

Baca juga: Adegan lucu “Dilan 1991” hadir di film “PSP”

Vanesha Prescilla yang memerankan Milea mengungkapkan rasa bahagianya saat mendapat kabar mengenai penjualan tiket film. Dia berharap jika filmnya nanti juga bisa diterima dengan baik.

“Alhamdulillah, saya ucapkan terima kasih kepada seluruh penggemar film ‘Dilan’ dan pecinta film Indonesia. Semoga nanti saat filmnya tayang di bioskop juga mendapatkan respon positif lebih besar lagi diseluruh Indonesia,” kata Vanesha.

Sementara itu, sutradara film “Dilan 1990” dan “Dilan 1991”, Fajar Bustomi berharap jika film ini bisa menghibur.

“Detak jantung makin kencang, semakin banyak berdoa pastinya semoga hasilnya disukai dan bahagia yang nonton. Amin,” ucap Fajar.

Film yang dibintangi oleh Iqbaal, Vanesha, Yuriko, Debo, Gusti, Brandong, Ridwan Kamil, dan artis besar lainnya ini, akan tayang serentak di bioskop mulai 28 Februari 2019.

Baca juga: Pemain paling favorit dan menyebalkan di “Dilan 1991”

Baca juga: Ridwan Kamil terima pemain dan kru film “Dilan 1991”

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Brad Pitt akan produksi film dokumenter Chris Cornell

Jakarta (ANTARA News) – Brad Pitt dan janda dari Chris Cornell, Vicky Cornell akan bekerja sama untuk memproduksi film dokumenter tentang almarhum rocker tersebut.

Proyek yang belum diberi judul ini, akan memusatkan cerita pada kehidupan pribadi dari pentolan Soundgarden dan Audioslave tersebut. Peter Berg pun ditunjuk menjadi sutradaranya, demikian dilansir Variety, Jumat.

Brad memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Chris Cornell. Dia juga menghadiri upacara pemakaman Chris yang berlangsung di Los Angeles pada Mei 2017. Tak hanya dengan Chris, Brad juga dekat dengan Vicky dan anak-anak mereka, Tori serta Christopher. 

Baca juga: Brad Pitt dan Charlize Theron dikabarkan berkencan

Mantan suami Angelina Jolie ini bahkan tampil dalam acara konser “I Am the Highway: A Tribute to Chris Cornell yang diselenggarakan bulan lalu. Konser tersebut menampilkan beberapa musisi seperti Miley Cyrus, Foo Fighters, Metallica, Brandi Carlile dan Chris Stapleton.

Chris Cornell adalah vokalis utama dari Soundgarden yang bubar pada tahun 1997. Dia kemudian mendirikan Audioslave bersama anggota dari Rage Against the Machine sebelum Soundgarden bersatu kembali pada tahun 2011. 

Baca juga: Mimpi terwujud, Brad Pitt rayakan ulang tahun bersama keenam anaknya

Band ini sedang melakukan tur ketika Chris ditemukan bunuh diri pada 18 Mei 2017 setelah pertunjukannya di Detroit.

Chris Cornell meraih 16 nominasi Grammy sepanjang karirnya. Dia memenangkan tiga piala yakni Best Metal Performance untuk “Spoonman” dan Best Hardrock Performance untuk “Black Hole Sun”.  Kedua penghargaan tersebut didapatkan bersama teman-teman bandnya, Soundgarden.

Pada Grammy pekan lalu, Chris juga mendapat penghargaan anumerta untuk Best Rock Performance lewat lagu “When Bad Does Good”.

Baca juga: Mendiang Chris Cornell raih Grammy “posthumous” 2019

Baca juga: Patung Chris Cornell berdiri di Seattle

Penerjemah: Maria Cicilia
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Mantan Manten”, film terbaru Atiqah Hasiholan dan Arifin Putra

Jakarta (ANTARA News) – Setelah “Keluarga Cemara” dan “Terlalu Tampan”, Visinema Pictures kembali akan mengeluarkan film terbaru mereka, kali ini “Mantan Manten” yang dibintangi aktor Arifin Putra dan Atiqah Hasiholan. 

Seperti dalam keterangan tertulisnya, Jumat, pihak Visinema mengungkapkan, film ini adalah kolaborasi dari Anggia Kharisma, produser film Keluarga Cemara bersama Kori Adyaning, produser film Love for Sale, yang memenangkan Piala Citra untuk aktor terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2018.

Ada sederet aktor yang juga berpartisipasi dalam film ini antara lain Tutie Kirana, Tyo Pakusadewo, Marthino Lio, Oxcel, Dodit Mulyanto, Ria Irawan dan Arswendi Nasution. 

Teaser film sudah hadir kemarin, bersamaan dengan perayaan hari Valentine di KASKUS TV dan beberapa kanal media sosial seperti YouTube, Facebook, Instagram dan Twitter. 

Dalam teaser-nya, diceritakan mengenai kehidupan Yasnina (Atiqah Hasiholan) yang indah dan glamor. Bahkan Yasnina dilamar oleh kekasihnya. Lalu muncul adegan pernikahan dalam adat Jawa yang terlihat anggun dan menawan, namun siapa yang menikah? Apakah itu Yasnina?. 

Film yang disutradarai Farishad Latjuba ini rencananya tayang pada April 2019 di seluruh bioskop di Indonesia.

 Baca juga: Keluarga “Terlalu Tampan” yang kocak dan bikin heboh

Baca juga: Perankan Euis, Zara JKT48 tak tahu “Keluarga Cemara”

Baca juga: “Triple Threat” film laga terbaru dari Iko Uwais

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Mantan Manten”, film terbaru Atiqah Hasiolan dan Arifin Putra

Jakarta (ANTARA News) – Setelah “Keluarga Cemara” dan “Terlalu Tampan”, Visinema Pictures kembali akan mengeluarkan film terbaru mereka, kali ini “Mantan Manten” yang dibintangi aktor Arifin Putra dan Atiqah Hasiolan. 

Seperti dalam keterangan tertulisnya, Jumat, pihak Visinema mengungkapkan, film ini adalah kolaborasi dari Anggia Kharisma, produser film Keluarga Cemara bersama Kori Adyaning, produser film Love for Sale, yang memenangkan Piala Citra untuk aktor terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2018.

Ada sederet aktor yang juga berpartisipasi dalam film ini antara lain Tutie Kirana, Tyo Pakusadewo, Marthino Lio, Oxcel, Dodit Mulyanto, Ria Irawan dan Arswendi Nasution. 

Teaser film sudah hadir kemarin, bersamaan dengan perayaan hari Valentine di KASKUS TV dan beberapa kanal media sosial seperti YouTube, Facebook, Instagram dan Twitter. 

Dalam teaser-nya, diceritakan mengenai kehidupan Yasnina (Atiqah Hasiholan) yang indah dan glamor. Bahkan Yasnina dilamar oleh kekasihnya. Lalu muncul adegan pernikahan dalam adat Jawa yang terlihat anggun dan menawan, namun siapa yang menikah? Apakah itu Yasnina?. 

Film yang disutradarai Farishad Latjuba ini rencananya tayang pada April 2019 di seluruh bioskop di Indonesia.

 Baca juga: Keluarga “Terlalu Tampan” yang kocak dan bikin heboh

Baca juga: Perankan Euis, Zara JKT48 tak tahu “Keluarga Cemara”

Baca juga: “Triple Threat” film laga terbaru dari Iko Uwais

Pewarta: Lia Wanadriani Santosa
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Triple Threat” film laga terbaru dari Iko Uwais

Jakarta (ANTARA News) – Iko Uwais baru saja mengumumkan film laga terbarunya yang berjudul “Triple Threat”. Di sini, dia beradu akting dengan Tiger Hu Chen.

Iko memberikan kabar ini melalui akun Instagramnya dengan mengunggah sebuah video trailer dari “Triple Threat”.

“Triple Threat (2019) In theaters March. #action #martialarts,” tulis Iko dalam keterangan videonya, Jumat.

Film ini merupakan debut internasional terbaru dari Iko. Di sini, dia bermain bersama Tiger Hu Chen yang sudah tidak asing lagi dengan dunia bela diri. Tiger Hu Chen pernah bermain dalam film “The Matrix”, “Charlie Angels”, “Kill Bill”, “Man of Tai Chi”, “House of Fury” dan lainnya.

Selain itu, ada juga Tony Jaa, Scott Adkins, Michael Jai White, Celina Jade, Dominique Vandenberg dan lainnya.

Baca juga: Iko Uwais jalin kolaborasi populerkan MMA Indonesia

“Triple Threat” sendiri disutradarai oleh Jesse V. Johnson yang pernah menyutradarai “The Honorable”, “Alien Agent”, “Green Street Hooligans 2”, “Savage Dog”, “Accident Man” dan “The Debt Collector” yang tayang di Netflix.

“Triple Threat” bercerita tentang seorang putri miliader yang bermaksud mengungkap sebuah sindikat kejahatan terbesar. Namun hal ini malah menjadikannya target dari para pasukan pembunuh profesional. Tentara bayaran pun akhirnya disewa untuk melindungi putri tersebut.

Baca juga: Film “The Night Comes For Us” disambut positif di Fantastic Festival 2018

Baca juga: Ulasan film Mile 22, berharap kejutan di sekuel selanjutnya

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Ave Maryam”, kisah pergolakan batin biarawati

Jakarta (ANTARA News) – Kehidupan para biarawati jarang sekali atau tidak pernah diekspos dalam sebuah film, namun, sutradara Ertanto Robby dengan berani mengangkatnya melalui film “Ave Maryam”.

“Ave Maryam” menjadi salah satu film yang ditayangkan dalam pembukaan Plaza Indonesia Film Festival 2019, di Jakarta, Kamis (14/2).

Film ini becerita tentang Suster Maryam (Maudy Koesnaedi), seorang biarawati yang bertugas mengurus para biarawati tua di sebuah kesusteran. Pada suatu hari Romo Martin (Joko Anwar) mengenalkan Suster Monic (Tutie Kirana) sebagai penghuni baru. Suster Monic juga ditemani oleh Romo Yosef (Chicco Jerikho).

Keahlian Romo Yosef dalam bermain musik membuat Suster Maryam jatuh hati padanya. Begitu juga dengan Romo Yosef yang menaruh perhatian pada Suster Maryam dan kerapnya pergi berdua.

Hubungan cinta antara Romo Yosef dan Suster Maryam jelas sangat terlarang untuk seorang pastor dan biarawati. Sebab mereka telah terikat dengan kaul atau janji yang telah diucapkan kepada Tuhan, salah satunya adalah dengan tidak menikah.

Pada bagian awal film, Ertanto membuat alur ceritanya berjalan lambat. Sedikit dialog dan lebih banyak keheningan. Perlahan, dia mulai mempercepat ritmenya hingga mencapai kisah klimaks. Seperti olahraga, Ertanto membuat pemanasan, inti dan ditutup dengan pendinginan.

Secara garis besar, “Ave Maryam” adalah film cinta tapi bukan percintaan biasa. Ertanto meletakkan fokusnya pada pergolakan batin seorang suster yang penting untuk diketahui dalam kehidupan sehari-hari mereka, antara menaati janji atau mengikuti hasrat hati.

Pergolakan batin Suster Maryam begitu terasa ketika dia mendapat pesta kejutan ulang tahun dari para biarawati di kesusteran. Betapa hancur hati serta jiwanya dan menjadikan kisah ini semakin kompleks.

Kisah cinta Suster Maryam dan Romo Yosef juga tidak digambarkan melalui adegan mesra atau kata-kata manis, namun dalam bentuk tatapan, senyuman dan tangis. Film ini pun tidak menggunakan banyak dialog, hanya selintas tapi maknanya tersampaikan dengan jelas.

“Ave Maryam” bukanlah sebuah film religi, namun hanya meminjam kehidupan para biarawati yang dikenal taat dan tidak neko-neko. Film ini telah lebih dulu diputar di Cape Town Film Festival 2018, Hanoi Film Festival 2018, Hongkong Asian Film Festival 2018, Jogja-NETPAC 2018 dan akan tayang di seluruh bioskop Indonesia pada 11 April 2019.
 

Oleh Maria Cicilia
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kesulitan Raihaanun perankan korban perkosaan

Jakarta (ANTARA News) – Lama tak terdengar kabar, Raihaanun baru saja membintangi film “27 Steps of May”. Di sini dia mengaku mendapat tantangan yang sangat besar yakni berakting tanpa dialog.

Film garapan sutradara Ravi Bharwani ini mengangkat kisah trauma akibat kekerasan seksual yang dialami oleh May (Raihaanun). Cerita ini terinspirasi dari peristiwa Mei 1998, di mana May diperkosa oleh sekelompok orang tak dikenal saat dia berusia 14 tahun.

Peristiwa tersebut tak hanya berdampak pada kehidupan May tapi juga bapaknya (Lukman Sardi). May sendiri langsung menarik diri dari dunia luar dan memilih untuk tidak berbicara selama delapan tahun.

Raihaanun mengatakan jika di sini, dirinya benar-benar harus menggunakan ekspresi dan gerak tubuh secara detail untuk menyampaikan maksud dan tujuannya.

“Yang paling susah akting tanpa dialog itu kita tidak punya media untuk bicara, mengeluarkan isi hati, jadi lebih ke details mimik muka, gerak tubuh yang harus saya deliver dengan baik. Kalau enggak, takutnya akan salah tangkap jadi itu hal paling sulit,” ujar Raihaanun saat berbincang dalam pembukaan Plaza Indonesia Film Festival 2019 di Jakarta, Kamis.

“Dengan isunya juga sensitif banget, pemerkosaan. Saya enggak bisa observasi terlalu banyak karena isunya itu, enggak mungkin saya ngobrol sama orang yang diperkosa,” lanjutnya. 

Menurun Raihaanun, isu yang diangkat dalam film “27 Steps of May” sangat bagus. Sebab, tema ini menyuarakan korban pemerkosaan yang selama ini masih dipandang sebelah mata.

“Mungkin lebih ke awareness bahwa korban perkosaan enggak bisa dianggap sebelah mata. Mestinya pemerintah melakukan lebih dalam lagi terhadap kasus ini. Jadi untuk menyuarakan korban kekerasan seksual, berharap pemerintah bisa lebih terbuka matanya untuk kasus seperti ini,” jelas Raihaanun. 

Selain Raihaanun dan Lukman Sardi, film ini juga dibintangi oleh Ario Bayu serta Verdi Solaiman.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Plaza Indonesia Film Festival 2019 berlangsung pada 14-17 Februari

Jakarta (ANTARA News) – Plaza Indonesia Film Festival (PIFF) 2019 resmi dibuka hari ini. Acara tersebut akan berlangsung pada 14-17 Februari.

Tahun ini, PIFF mengusung tema “Love, Live & Life” yang mengangkat berbagai sudut pandang kehidupan mulai dari isu sosial, kehidupan bertoleransi, pengorbanan dan sisi gelap-terang perjalanan cinta.

“Mengenai temanya, karena kita pikir dari semua film yang udah kita pilih, ada 100 film, kita lihat benang merahnya, cinta, kehidupan dan bagaimana kita menjalani hidup mulai dari trauma dan lainnya,” kata Astri Abyanti Permatasuri, General Manager Marketing level 4,5,6 Plaza Indonesia dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis.

PIFF kali ini memiliki dua agenda utama yakni Movie Clinic dan Movie Screening. Untuk Movie Clinic sendiri dibagi menjadi tiga kelas yakni creative content, music in film dan acting class. 

Sedangkan untuk Movie Screening film-film yang ditampilkan di antaranya adalah “Ave Maryam”, “Cold War”, “27 Steps of May”, “Shoplifters”, “Capharnaum”, “Memories of My Body/Kucumbu Tubuh Indahku”, “The Tailor” dan beberapa film pendek seperti “Kado”, “Loz Jogjakartoz”, “Elegi Melodi”, “Ballad of Blood and Two White Buckets” dan “Elinah”.

“Film-film ini penting untuk menyuarakan isu-isu saat ini. Film festival adalah untuk memberikan tontonan yang penting,” jelas Astri.

PIFF 2019 terbuka untuk umum dan gratis, yang perlu dilakukan hanyalah mendaftar piff.plazaindonesia.com.

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sineas lokal dinilai punya konten untuk festival film internasional

Wregas mengambil konten lokal dia yang dekat dengan kehidupan

Jakarta (ANTARA News) – Sineas lokal dinilai mempunyai konten yang kuat dan cukup kaya untuk menampilkan karya di festival film Internasional, kata pengamat perfilman Suzen HR Tobing di Jakarta, Kamis.

Menurut akademisi di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta, sineas lokal biasanya punya kedekatan dengan lanskap yang mereka ambil.

Biasanya mereka juga terdorong untuk membuat film dengan tema dan permasalahan yang ada di lingkungan sekitar mereka.

“Secara konten di depan mata kita itu banyak. Itu lebih dekat secara emosional. Lihat deh konten lokal (di festival film internasional) minimal menang,” ucap Suzen.

Suzen pun menyebut film pendek “Prenjak” karya Wregas Bhanuteja yang menang di Festival Film Cannes pada 2016 sebagai salah satu film dengan konten lokal yang bisa menarik perhatian penonton internasional.

“Itu pertama kali loh ada sineas Indonesia yang jebol di Cannes. Intinya bukan karena dia IKJ, tapi Wregas mengambil konten lokal dia yang dekat dengan kehidupan. Jadi dia tahu,” ucap dia.

Kalau sudah begitu, ucap Suzen, tinggal mengeksplorasi nilai-nilai yang ada di sekitar dan mulailah membuat film. “Mau dokumenter kah, fiksikah. Terserah,” kata dia.

Dia pun optimistis generasi saat ini lebih punya kesempatan belajar lewat berbagai media, jika kemasannya belum bagus, maka tinggal diarahkan oleh orang-orang yang memang lebih dulu mengerti film.

“Tinggal dikasih wawasan dengan pedoman yang jelas agar bisa mengejar kualitas film internasional,” ucap dia.

Baca juga: Pengamat: Perlu pedoman baku untuk ke festival film internasional
Baca juga: “Indonesia Masih Subuh” sabet penghargaan di China

Pewarta: Aubrey Kandelila Fanani
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Kucumbu Tubuh Indahku” Garin Nugroho segera tayang

Jakarta (ANTARA News) – Setelah diputar di beberapa negara dan memenangkan banyak penghargaan internasional, film terbaru karya Garin Nugroho dan produser Ifa Isfansyah, “Kucumbu Tubuh Indahku”, dapat disaksikan oleh publik Indonesia di bioskop.

Film ini ditayangkan perdana di Festival Film Internasional Venesia pada Agustus 2018 yang jadi tempat pemutaran perdana dunia.

Rumah produksi Fourcolors dalam keterangan pers, Kamis, mengatakan ini adalah film panjang ke-19 dari Garin Nugroho yang bercerita tentang seorang penari Lengger di sebuah desa kecil di Jawa bernama Juno. 

Juno Kecil terpaksa harus hidup sendiri sejak ditinggal pergi oleh ayahnya. Di tengah kesendiriannya, Juno bergabung dengan sanggar tari Lengger. Sejak itu, Juno harus hidup berpindah-pindah tempat,  dari satu desa ke desa yang lain. 

Seiring perjalanannya menjadi dewasa, Juno mendapat perhatian dan kasih sayang dari beberapa orang terdekat di sekelilingnya. Ada guru tarinya, bibinya yang seorang penjual ayam, pamannya yang seorang penjahit, seorang petinju, dan seorang Warok. 

Semua pengalaman yang dilaluinya membuat Juno memiliki sebuah perjalanan hidup yang membawanya kepada pemahaman akan keindahan hidup. 

Cerita dalam film ini sendiri diangkat dari kisah hidup seorang penari dan koreografer bernama Rianto. Rianto juga bermain dalam film tersebut sebagai Juno dewasa. 

Selain itu, karakter Juno juga diperankan oleh dua aktor lain, yaitu Muhammad Khan sebagai Juno remaja dan Raditya Evandra sebagai Juno kecil. Selain kisah hidup Rianto, kisah kelompok- kelompok tari di Jawa juga menjadi inspirasi cerita dalam film ini.     

Film ini juga melibatkan beberapa pemain seperti, Sujiwo Tejo (Guru Lengger), Teuku Rifnu Wikana (Bupati), Randy Pangalila (Petinju), Whani Dharmawan (Warok), Endah Laras (Bibi Juno) dan Windarti (Guru Tari).  Selain itu, musisi Mondo Gascaro menjadi pengisi soundtrack dan komposer musik dalam film ini. 

“Kucumbu Tubuh Indahku” telah ditayangkan di beberapa event dan festival film internasional serta mendapatkan beberapa penghargaan, di antaranya adalah Bisato D’oro Award Venice Independent Film Critic (Italia, 2018), Best Film pada Festival Des 3 Continents (Prancis, 2018), dan Cultural Diversity Award under The Patronage of UNESCO pada Asia Pasific Screen Awards (Australia, 2018). 

“Kucumbu Tubuh Indahku” akan mulai tayang pada Maret 2019 di bioskop. 

Baca juga: Mondo Gascaro rilis album soundtrack film “Kucumbu Tubuh Indahku”

Baca juga: Film Indonesia butuh perspektif perempuan

Baca juga: Garin apresiasi identitas Islam diberi kanal festival film

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Calon Bini”, drama komedi tentang cita-cita vs perjodohan

Jakarta (ANTARA News) – Film “Calon Bini” resmi tayang di Indonesia pada Valentine. Film bergenre drama komedi ini menawarkan tema cerita sederhana, mengenai cita-cita seorang gadis desa asal Yogyakarta untuk lepas dari stereotip orang-orang di sekelilingnya. 

“Biasanya saya menyutradarai film drama, tapi kali ini tugas saya membuat film komedi. Semua orang harus tertawa. Tidak hanya sutradara dan pemainnya yang tertawa, tapi penonton dalam bioskop pun harus tertawa menyaksikan film ini,” kata Asep Kusdinar sang sutradara dalam keterangan pers, yang diterima di Jakarta, Kamis.

Tokoh sentral dalam “Calon Bini” adalah Ningsih (Michelle Ziudith). Setelah lulus SMA, Ningsih bercita-cita untuk kuliah sambil bekerja demi membahagiakan kedua orangtuanya. Maklum, bapak (Marwoto) dan ibunya (Cut Mini) hanyalah warga desa yang tinggal di rumah biasa.

Tapi keinginan Ningsih terhambat, karena ambisi pamannya sendiri, Pak Lek Agung (Ramzi) yang ingin menikahkan Ningsih dengan Sapto (Dian Sidik) anak kepala desa (Butet Kertaredjasa).

Tak mau dijodohkan, Ningsih akhirnya kabur ke Jakarta dan bekerja di rumah Pak Prawira (Slamet Rahardjo) dan Ibu Andini (Minati Atmanegara). 

Tak cuma mengusung kearifan lokal jawa, film “Calon Bini” juga memiliki pesan kuat bagi wanita-wanita jaman sekarang sekaligus ingin menghapus stigma negatif mengenai sosok perempuan.

Melalui Ningsih, pesan yang ingin disampaikan bahwa semua wanita berhak mengejar impian dan cita-citanya setinggi langit dan tidak dapat dibatasi oleh siapapun.

Baca juga: Film “Calon Bini” tayang pada Valentine
Baca juga: Michelle Ziudith dan Rizky Nazar bersatu di “Calon Bini”

 

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Trailer pertama “Frozen II” rilis, begini bocorannya

Jakarta (ANTARA Mews) – Trailer pertama untuk sekuel film blockbuster Walt Disney Animation Studio “Frozen” (2013) rilis di internet.

Trailer “Frozen II” menayangkan para karakter utama dari film pertama: Putri Elsa, adiknya Anna, Kristoff dan manusia salju buatan Elsa, Olaf.

Sekuel ini disutradarai oleh Chris Buck dan Jennifer Lee, tim sama yang menggarap “Frozen”, yang meraup 876 juta dolar AS di seluruh dunia, dan memenangkan dua Oscar (untuk film animasi terbaik dan lagu terbaik untuk Let It Go).

Idina Menzel dan Kristen Bell kembali sebagai Elsa dan Anna, dengan Jonathan Groff sebagai Kristoff dan Josh Gad sebagai Olaf. Bergabung dengan para pemeran adalah Evan Rachel Wood dan Sterling K. Brown dalam sepasang peran yang dirahasiakan (tetapi jika dilihat dari trailer, sepertinya itu akan jadi musuh Elsa dan kawan-kawan).

Penulis lagu Robert Lopez dan Kristen Anderson-Lopez kembali untuk menulis lagu untuk film ini.

Film pertama diangkat dari The Ice Queen karya Hans Christian Andersen tapi tidak secara keseluruhan.

Beberapa detail telah dirilis untuk Frozen II, tanpa indikasi apakah petisi untuk “memberi Elsa pacar” berhasil.

Dalam cuplikan itu cerita tampak kembali ke Arendelle, meskipun semuanya tampak sedikit lebih suram. Elsa tampak melatih kekuatan esnya di pantai berbatu pada pembukaan trailer.

Anna berjalan ke balkon untuk menyaksikan sihir berlian es yang aneh. Kristoff melaju ke pertempuran. Ada banyak magis namun sedikit pertempuran pedang. Jika film pertama adalah tentang dua saudara perempuan yang mencari tahu kehidupan mereka dan berdamai dengan kepribadian mereka, “Frozen II” terlihat lebih tentang persatuan keluarga dalam melawan musuh yang lebih besar.

Frozen II akan dirilis pada 22 November di AS dan Inggris, dan pada 26 Desember di Australia.

Baca juga: Ini daftar film Disney yang akan tayang hingga 2019

Baca juga: Disney majukan Jadwal penayangan perdana “Frozen 2”

Baca juga: Disney raup 7,3 miliar dolar AS dari box office selama 2018

Penerjemah: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Yesterday”, film The Beatles tanpa The Beatles

Jakarta (ANTARA News) – Danny Boyle dan Richard Curtis bekerja sama membuat film The Beatles tapi bukan tentang The Beatles dengan judul “Yesterday”.

Film ini menampilkan Himesh Patel sebagai Jack Malik, tipe seorang lelaki sopan yang terkemuka, karena ia sangat manis, memiliki rambut yang berombak namun cenderung ceroboh. Dia terjatuh dari sepedanya yang menyebabkan hilangnya dua gigi depan dan masuk ke dalam seluruh kehidupan The Beatles. 

Dalam trailernya, Jack terbangun di dunia di mana dia adalah satu-satunya orang yang mengingat The Beatles dan semua lagu-lagu mereka, dilansir NME, Rabu.

Ketika dia menyanyikan lagu “Yesterday” di hadapan teman-temannya, mereka berpikir jika dialah yang menulisnya. Begitu juga dengan lagu “Hey Jude”, “Let It Be” dan setiap hit lainnya dianggap sebagai ciptaannya.

Jack kemudian menjadi bintang besar di seluruh dunia, penulis lagu terhebat dalam sejarah.

Dalam film ini juga ada unsur romantik komedinya dengan kemunculan Ellie, diperankan oleh Lily James, seorang teman baik yang selalu berada di belakang Jack.

Trailer tersebut juga menampilkan Ed Sheeran yang cukup banyak peran. Setelah aktingnya di film “Bridget Jones Baby” dan “Game of Thrones”, kini dia mendapat peran yang lebih penting. Di sini dia diceritakan mengolok-olok dirinya sendiri dengan ngerap dalam upaya menghancurkan lagu “Hey Jude”.

Namun upaya jahat Ed Sheeran dalam menghancurkan salah satu lagu terbesar dalam sejarah ini baru bisa terjawab pada Juni mendatang saat filmnya rilis.

Danny Boyle dan Richard Curtis adalah sutradara paling kuat di bioskop Inggris. Danny Boyle dikenal dengan film-filmnya seperti “Trainspotting”, “28 Days Later” dan “Slumdog Millionaire”. Sedangkan Richard Curtis pernah menulis skenario untuk “Four Weddings and a Funeral”, “Notting Hill” dan “Love Actually”.

Baca juga: Sutradara “Lord of The Rings” garap film dokumenter The Beatles

Baca juga: Paul McCartney ungkap ketakutan terbesar John Lennon

Baca juga: Kisah cinta John Lennon dan Yoko Ono siap jadi film baru

Baca juga: Versi terbaru “Let it Be”, film The Beatles akan dirilis 2020

Pewarta:
Editor: Monalisa
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Happy Death Day 2u” ungkap misteri pembunuh bertopeng

Jakarta (ANTARA News) – Setelah sukses menyutradarai “Happy Death Day” pada 2017, kali ini Christopher Landon kembali dengan merilis film “Happy Death Day 2u” yang tayang perdana di Indonesia tepat pada hari ini.

Film “Happy Death Day 2u” ini masih setia diproduksi oleh Blumhouse Productions.

Sementara itu, aktris Jessica Rothe dan aktor Israel Broussard akan kembali berperan sebagai Theresa “Tree” Gelbman dan Carter Davis pada sekuel ini. Digarap oleh sutradara yang sama seperti film pertamanya, film ini akan menceritakan kelanjutan dari kematian Tree pada “Happy Death Day”.

Ketika “Happy Death Day” 2017 lalu mendapat keuntungan lebih dari  26 juta dolar AS (sekira Rp364 miliar) pada musim gugur, para penonton bioskop terpesona oleh gagasan tentang seorang pahlawan wanita yang memiliki kesempatan untuk memanfaatkan hari terakhir dalam hidupnya.

Kisah bermula dari seorang mahasiswa jenius Ryan (Phi Vu) yang sedang menyelesaikan project science tesisnya di sebuah universitas di Amerika Serikat (AS) yang terbangun dari tidur dan seolah-olah berada di dunia nyata, sampai ia harus bertemu dengan seorang yang bertopeng yang ingin membunuhnya.

Ryan yang memiliki kemampuan menarik, selalu berada di tempat yang salah di detik yang salah, menghabiskan masa kuliahnya untuk membangun mesin yang dirancang untuk membuktikan bahwa waktu dapat diperlambat hingga ke tingkat molekul bersama dengan rekan-rekan insinyurnya yang bercita-cita sama dengan Ryan, Samar (Suraj Sharma) dan Dre (Sarah Yarkin).

Ryan dan tim sudah hampir menyempurnakan mesin yang disebut Reaktor Pendingin Kuantum Sisyphus (SISSY) itu dan menjadi kandidat untuk Hadiah Nobel.

Tidak hanya Ryan yang berkutat dengan waktu, setelah dua tahun setelah peristiwa pembunuhan itu, Tree kembali tergelincir ke dalam lingkaran waktu yang lebih mengerikan. Kali ini, Tree melihat bahwa teman-temannya pun terlibat dalam pembunuhan dirinya.

Dapatkah Tree menemukan siapa pembunuh baru yang dihadapi olehnya apakah Tree akhirnya dapat lolos dari lingkaran waktu yang menjebaknya?

Film yang berdurasi 1 jam 40 menit ini berhasil mengaduk perasaan penonton, akting yang dimainkan oleh Tree serta teman yang lainnya seperti Samar, Dre dan Carter sukses memancing tawa penonton, di sisi lain tidak ketinggalan Landon juga tidak lupa untuk memberi bumbu misteri yang membuat penonton merasa tegang saat meonton, serta kisah Tree dengan ibunya yang membuat mata berkaca-kaca.
 

Baca juga: Film baru Catherine Deneuve mengeksplorasi radikalisasi Islam

Baca juga: Kemarin, Jikustik adakan konser reuni hingga Taemin SHINee rilis “Want”

Baca juga: Film kolaborasi Indonesia-Jepang “Laut” tayang pada Valentine

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Daniel Radcliffe mengaku tertarik melihat reboot “Harry Potter”

Jakarta (ANTARA News) – Daniel Radcliffe mengaku bahwa dia akan sangat tertarik untuk menyaksikan film “Harry Potter” reboot atau serial TV dalam waktu dekat.

Nama Daniel mulai terkenal sejak membintangi film-film “Harry Potter” karya J.K Rowling, di mana seri terakhirnya tamat pada tahun 2011 “Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2”.

Dunia sihir karya Rowling selalu menarik minat para sutradara dan penulis. Salah satu contohnya adalah seri “Fantastic Beasts” dan pertunjukan “Harry Potter and The Cursed Child”.

Baca juga: Daniel Radcliffe bicara soal Harvey Weinstein

Daniel sendiri yakin jika suatu saat akan ada beberapa versi lain dari “Harry Potter” yang pernah dibintanginya. 

“Aku tahu, aku bukan Harry Potter terakhir yang akan kulihat seumur hidupku – kita sudah punya beberapa lagi,” kata Daniel merujuk pada Jamie Parker dan Gareth Reeves yang sama-sama memerankan Harry dewasa dalam panggung “Harry Potter and The Cursed Child”, demikian dilanser NME, Rabu.

Baca juga: Danied Radcliffe jadi aktivis antiapartheid di film baru

“Akan sangat menarik untuk melihat berapa lama film itu akan bertahan. Rasanya seperti ada    kesaktian di sekitar mereka saat ini, tetapi itu akan pergi, sinar itu akan hilang suatu saat nanti. Akan menarik jika mereka me-reboot-nya dan membuat film lagi atau membuat serialnya, saya akan sangat terpesona menontonnya,” lanjutnya.

Pekan lalu, Radcliffe mengungkapkan buku dan film “Harry Potter” mana yang menjadi favoritnya. Dia mengakui bahwa pilihannya bukanlah yang banyak orang suka.

Baca juga: Daniel Radcliffe ogah main medsos karena…

Baca juga: Daniel Radcliffe tak tertarik main lagi di Harry Potter

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019