Cok Simbara perlihatkan kepiawaian bahasa Batak di “Horas Amang”

Jakarta (ANTARA News) – Berbicara dalam bahasa Batak bukan hal yang lazim dilakukan oleh aktor senior Cok Simbara di hadapan publik.

Aktor bernama lengkap Ucok Hasyim Batubara itu berasal dari Tapanuli Selatan tapi tidak pernah bicara dalam bahasa Batak di rumah.

“Soalnya istriku orang Jawa,” kata Cok Simbara ditemui di Jakarta, Kamis.

Tapi bukan berarti aktor 65 tahun itu melupakan bahasa daerah tersebut. Pemeran utama sinetron 90-an “Noktah Merah Perkawinan” itu masih fasih dan lancar berbincang dalam bahasa Batak, yang penting ada lawan bicara.

Dalam film “Horas Amang”, Cok menjadi pemeran utama Amang (ayah) yang berupaya sekuat tenaga menyekolahkan anak-anaknya agar sukses, namun justru diabaikan ketika buah hatinya sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Karakter Amang dan anak-anaknya berasal dari daerah Toba di Sumatera Utara yang dialeknya sedikit berbeda dengan Tapanuli Selatan.

“Tapi saya bisa dua-duanya,” ujar aktor yang sudah aktif sejak 1973 itu.

Tidak banyak peran utama yang bisa diperankan oleh aktor-aktor yang sudah berumur, itulah salah satu alasan Cok Simbara tertarik menghidupkan karakter Amang.

Namun yang paling penting bagi aktor “Foxtrot Six” itu bukanlah soal peran utama atau pendukung, tapi berkarya di dunia seni yang dicintainya sejak empat dekade lalu.

“Saya tidak bosan (berakting). Saya selalu senang kalau diajak main film. Kalau saya suka, saya akan main,” ujar aktor yang belajar di Institut Kesenian Jakarta itu.

“Horas Amang” dibintangi juga oleh Tanta Ginting, Dendi Tambunan, Jack Marpaung, Novita Dewi Marpaung hingga Piet Pagau dan rencananya tayang pada pertengahan 2019.

Baca juga: Film “Horas Amang” angkat budaya Batak dengan nilai universal

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film “Horas Amang” angkat budaya Batak dengan nilai universal

Jakarta (ANTARA News) – Film yang mengangkat budaya Batak berjudul “Horas Amang” akan segera diproduksi yang dibintangi oleh aktor senior Cok Simbara, Tanta Ginting, Dendi Tambunan, Jack Marpaung, Novita Dewi Marpaung hingga Piet Pagau.

Mengedepankan tema keluarga, film ini berkisah tentang Amang (ayah) dari tiga anak yang berusaha sekuat tenaga agar mereka meraih kesuksesan kelak.

Kehidupan di dunia modern yang sibuk membuat anak-anak jadi mengabaikan sang Amang dan melupakan adat istiadat.

Amang pun menggunakan cara yang tidak biasa agar anak-anaknya kembali saling mengasihi dan menyanyangi orangtua.

Pesan moral yang akan diangkat dalam film ini, kata produser Jufriaman Saragih, adalah selalu menyayangi orangtua meski sudah dibuai kesuksesan.

Meski budaya Batak diangkat di film ini, bukan berarti “Horas Amang” cuma bisa dinikmati oleh suku tertentu.

“Film ini bukan cuma untuk orang Batak, tapi untuk semua orang,” kata Jufri dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.

Karakter yang ditampilkan di “Horas Amang” tidak melulu orang Batak, ada juga Dodi Epen Cupen dari Papua.

“Horas Amang” diangkat dari kisah berjudul sama yang dipentaskan oleh Teater Legiun pada 2016.

Baca juga: Ketika drama korea dipentaskan dalam balutan budaya Batak

Baca juga: Teater Legiun, berlakon sambil beramal

Naskah filmnya ditulis oleh Ibas Aragi, sutradara dan penulis dalam pementasan tersebut.

Mengadaptasi naskah teater menjadi skenario film terasa menantang karena Ibas yang harus memangkas versi 4 jam menjadi versi 1,5 jam.

“Saya ingin menyoroti generasi muda yang sekarang ini banyak yang sudah tidak menghargai akar budaya masing-masing,” tutur Ibas.

Film yang disutradarai Irham Acho Bachtiar dan Steve Wantania ini akan mulai diproduksi pada awal Februari di pulau Samosir dan danau Toba di Sumatera Utara dan Jakarta.

Kekhasan budaya Batak juga bakal diperlihatkan lewat lagu-lagu termasuk “Anakku Naburju”, musik Gondang dan dialog-dialog berlogat Batak.

“Horas Amang” rencananya tayang pada pertengahan 2019.

Baca juga: Atiqah Hasiholan dalami budaya Batak untuk “Pariban Idola dari Tanah Jawa”

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sutradara “Lord of The Rings” garap film dokumenter The Beatles

Jakarta (ANTARA News) – Sutradara “Lord of The Rings” Sir Peter Jackson akan menggarap film dokumenter terbaru tentang hari-hari terakhir band legendaris The Beatles.

Film itu dibuat oleh Apple Corps Ltd. dan WingNut Films, berdasarkan rekaman berdurasi 55 jam The Beatles di studio saat pembuatan album “Let It Be”.

Rekaman selama 55 jam yang diklaim belum pernah dirilis sebelumnya itu dibuat antara 2 Januari dan 31 Januari 1969. Klimaksnya adalah pertunjukan terakhir mereka di rooftop Apple HQ di London tepat 50 tahun lalu.

“Rekaman 55 jam yang belum pernah dilihat sebelumnya dan audio 140 jam tersedia untuk kami, memastikan film ini akan menjadi pengalaman terbaik yang telah lama diimpikan oleh penggemar Beatles. Ini seperti mesin waktu mengangkut kami kembali ke tahun 1969, dan kita bisa duduk di studio menonton keempat teman ini membuat musik yang hebat bersama,” kata Peter Jackson, seperti dilansir NME, Kamis.

“Saya lega menemukan kenyataan yang sangat berbeda dengan mitos,” ujarnya.

“Setelah meninjau semua rekaman dan audio yang direkam Michael Lindsay-Hogg 18 bulan sebelum mereka bubar, ini seperti harta karun sejarah yang luar biasa.”

“Menonton John, Paul, George, dan Ringo bekerja bersama, menciptakan lagu-lagu klasik dari awal, tidak hanya menarik. Itu lucu, membangkitkan semangat, dan secara mengejutkan sangat intim,” katanya.

Ia mengaku senang dan terhormat mendapat kepercayaan memperoleh rekaman yang luar biasa itu. “Membuat film ini akan menjadi sesuatu yang benar-benar menyenangkan,” lanjutnya.

Film dokumenter ini dibuat atas kerja sama dengan Paul McCartney, Ringo Starr, Yoko Ono Lennon dan Olivia Harrison.

Sementara itu, film dokumenter ini belum diberi judul dan tidak memiliki tanggal rilis yang pasti. Namun, film tersebut akan rilis setelah versi film “Let It Be” karya sutradara Michael Lindsay-Hogg selesai direstorasi tahun depan.
 

Penerjemah: Maria Cicilia
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Kumis Iis Dahlia ditonjolkan di “Terlalu Tampan”

Jakarta (ANTARA News) – Pedangdut Iis Dahlia kembali berakting, kali ini sebagai seorang ibu berwajah maskulin bernama Jer Basuki Mawa Bea alias Bu Suk di film “Terlalu Tampan” yang diadaptasi dari komik Line Webtoon. 

Di film ini, kumis tipis yang menjadi ciri khas Iis Dahlia dibuat terlihat tebal agar Bu Suk terlihat lebih maskulin.

“Aku tahu aku dipilih karena kumisan,” seloroh Iis usai penayangan perdana “Terlalu Tampan” di Jakarta, Rabu.

Film ini diadaptasi dari komik ciptaan Muhammad Ahmes Avisiena Helvin yang berkolaborasi dengan ilustrator Savenia Melinda, mengisahkan keluarga yang semuanya tampan, termasuk sang ibu.

Keluarga tampan ini terdiri dari Witing Tresno Jalaran Soko Kulino alias Mas Kulin (Ari Irham), Okisena Helvin alias Mas Okis, kakak Kulin (Tarra Budiman), sang Ayah Archewe Johnson yang biasa dipanggil Pak Archewe (Marcelino Lefrandt) dan istrinya, Jer Basuki Mawa Bea alias Bu Suk (Iis Dahlia).

Iis mengatakan kumisnya terlihat lebih tebal dari biasanya lewat riasan sehingga Bu Suk tampak lebih tampan.

Biasanya, Iis selama ini sering menolak tawaran untuk membintangi tayangan layar lebar atau sinetron.

Iis aktif wara-wiri di sinetron pada era 90-an dan 2000-an, seperti “Seroja”, “The Lajang” hingga “Mata Hati”.

“Sudah lama banget enggak main film, ini mood-nya lagi benar, biasanya aku tidak mau kalau ditawari main film atau sinetron.”

Selain berperan jadi Bu Suk, Iis juga mengisi lagu tema “Terlalu Tampan” bernuansa dangdut yang menggambarkan Mas Kulin berhadapan dengan dunia yang memuja ketampanannya.

Film remaja “Terlalu Tampan” berkisah tentang Mas Kulin yang tidak mau sekolah reguler karena enggan membuat kericuhan bila para gadis melihat wajahnya. 

Keluarganya membuat strategi agar Kulin mau bergaul di luar rumah.

Mas Kulin akhirnya terpancing dan mau belajar di sekolah reguler di mana dia berkawan dengan Kibo (Calvin Jeremy). Mas Kulin kemudian jatuh hati pada Rere (Rachel Amanda), pada saat yang bersamaan Amanda si Terlalu Cantik (Nikita Willy) juga naksir dengan Mas Kulin.

“Terlalu Tampan” akan mulai tayang pada 31 Januari 2019.

Baca juga: Ari Irham dipoles demi jadi si Terlalu Tampan
Baca juga: Berkenalan dengan karakter film “Terlalu Tampan”

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Adegan lucu “Dilan 1991” hadir di film “PSP”

Jakarta (ANTARA News) – Adegan paling lucu pada “Dilan 1991” akan hadir juga pada film “PSP: Gaya Mahasiswa”, sebuah terobosan dalam sejarah promosi film  Indonesia.

“Dilan 1991” dan “PSP: Gaya Mahasiswa” memang berada dalam satu rumah produksi yakni Max Pictures. Ada adegan dalam film “Dilan” yang eksklusif dimasukkan di “PSP: Gaya Mahasiswa”.

Baca juga: Jadi anggota Pancaran Sinar Petromaks, Uus tak bisa main musik

“Untuk di Indonesia ini adalah yang pertama dan mungkin ekslusif scene ‘Dilan 1991’ yang ada di film ‘PSP: Gaya Mahasiswa’,” ujar Ody Mulya, produser Max Pictures melalui keterangan resmi yang diterima Antara, Rabu.

Fajar Bustomi selaku sutradara “Dilan 1991” mengaku bahwa adegan yang ditayangkan 
di film “PSP : Gaya Mahasiswa” itu istimewa. Di sana Dilan dan Milea hadir bersama para pemeran pendukung.

Baca juga: Main di “Pancaran Sinar Petromaks”, Abdur kesulitan logat Betawi

“Kenapa saya bilang istimewa, karena menurut saya, itu scene paling lucu di film “Dilan 1991″,” jelas Fajar.

Sementara sutradara film “PSP: Gaya Mahasiswa”, Hilman Mutasi mengatakan bahwa kedua film tersebut memiliki korelasi.

Baca juga: OM PSP bikin goyang penonton Synchronize Fest 2018

“Azis (Azis DoaIbu), di salah satu scene nyebut-nyebut nama Dilan,” kata Hilman.

“PSP: Gaya Mahasiswa” akan tayang pada  31 Januari 2019. Film komedi dibintangi oleh Aura Kasih, Uus, Adjis Doaibu, David John Schaap, Dimas Danang, Imam Darto, Abdurrahim Arsyad, Boris Bokir, dan Wira Setianagara.

Ada juga penampilan dari personel OM PSP asli seperti Ade Anwar, Monos, Omen, Rizali Indrakesumah, Dindin, Aditya, Andra Ramadan Muluk, dan James R Lapian.

Baca juga: Trailer film “Dilan 1991” bikin senyum-senyum sendiri

Baca juga: Dilan 1991 dirilis 28 Februari 2019
 

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Nikita Willy sempat khawatir adu akting dengan Ari Irham

Jakarta (ANTARA News) – Aktris Nikita Willy sempat khawatir saat tahu akan beradu akting dengan Ari Irham di film komedi “Terlalu Tampan”. Nikita yang berusia 24 tahun diminta berperan sebagai si Terlalu Cantik yang masih SMA, di mana lawan mainnya adalah aktor yang masih remaja belasan tahun.

“Aku sempat mikir, aku ketuaan enggak ya?” Nikita mengingat perasaannya setelah melihat sosok Ari Irham di akun Instagram.

Tapi itu buru-buru dihapus dari pikirannya, apalagi karena dia memang menantikan kesempatan ini. 

Nikita berperan sebagai Amanda, siswi SMA yang terlalu cantik dan digila-gilai oleh banyak pria. Amanda kemudian jatuh hati pada Mas Kulin (Ari Irham) si Terlalu Tampan yang sering mendapatkan masalah gara-gara paras rupawan.

Selain “Terlalu Tampan”, ada banyak hal baru yang bakal dipersembahkan Nikita sepanjang 2019. 

Mahasiswi fakultas hukum yang dijadwalkan menjalani sidang skripsi pada Februari mendatang itu juga bakal berakting di sinetron baru yang menantang. 

Dalam sinetron, yang persiapannya sudah berlangsung sejak delapan bulan lalui itu Nikita berperan sebagai penari yang kehilangan indera penglihatannya.

“Aku enggak ada latar belakang penari, jadi aku harus latihan,” tutur Nikita yang juga sedang menyiapkan bisnis kecantikan.

Baca juga: Kumis Iis Dahlia ditonjolkan di “Terlalu Tampan”
Baca juga: Ari Irham dipoles demi jadi si “Terlalu Tampan”

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Marcelino Lefrandt berjodoh dengan tokoh Pak Archewe

Jakarta (ANTARA News) – Aktor Marcelino Lefrandt awalnya ragu bisa mengambil tawaran dalam film komedi “Terlalu Tampan” karena saat itu dia masih disibukkan dengan syuting stripping untuk sinetron.

Tapi peran Archewe Johnson alias Pak Archewe, ayah dari dua putra tampan beristrikan wanita berparas maskulin, pada akhirnya jatuh juga pada dirinya.

“Ketika ditawari Chicco Jerikho (produser co-executive) saya agak pesimistis… ternyata besoknya ketika baca skrip sinetron, karakter saya mati,” ungkap Marcel seraya tertawa, usai penayangan perdana “Terlalu Tampan” di Jakarta, Rabu (23/1).

Tokoh Pak Archewe punya usia yang sama dengan Marcelino, tetapi karakternya jauh berbeda.

“Narsisnya dia 1000 persen lebih besar dari gue, masa mudanya penuh petualangan, semua cewek dia bisa dapatkan, enggak kaya gue,” seloroh Marcel.
  Marcelino Lefrandt dan Iis Dahlia (kanan) di konferensi pers film “Terlalu Tampan” di Jakarta, Rabu (23/1/2019). (ANTARA News/ Nanien Yuniar)   Karakter di komik “Terlalu Tampan” (screenshot Webtoon)

Pak Archewe digambarkan sebagai pria mata keranjang yang akhirnya bertobat ketika bertemu dengan Jer Basuki Mawa Bea alias Bu Suk (Iis Dahlia) yang menjadi istrinya.

Mereka memiliki dua anak tampan, yaitu Witing Tresno Jalaran Soko Kulino alias Mas Kulin (Ari Irham) dan Okisena Helvin alias Mas Okis, kakak Kulin (Tarra Budiman).

Sebagai pencinta komik, Marcel sangat senang bisa ikut terlibat dalam adaptasi dari Webtoon yang dia sebut “sangat menghibur”. 

Ini adalah film live-action Indonesia pertama yang diadaptasi dari Line Webtoon. 

Webtoon komedi “Terlalu Tampan” dibuat oleh Muhammad Ahmes Avisiena Helvin yang berkolaborasi dengan ilustrator Savenia Melinda, mengisahkan keluarga yang semuanya tampan yang kadang mengundang masalah dalam kehidupan mereka.

“Terlalu Tampan” yang dibintangi juga oleh Calvin Jeremy, Rachel Amanda, Nikita Willy, Dimas Danang, Unang “Bagito” dan Ratna Riantiarno akan mulai tayang pada 31 Januari 2019.

Baca juga: Berkenalan dengan karakter film “Terlalu Tampan”

Baca juga: Terbebas dari kanker, Rachel Amanda lebih sayangi diri

Baca juga: Kreator “Terlalu Tampan” jawab kritik soal mirip komik Korea
 

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jadi kakak “Terlalu Tampan”, Tarra Budiman turunkan berat badan

Jakarta (ANTARA News) – Aktor Tarra Budiman memerankan tokoh yang jauh lebih muda dari usia sebenarnya di film komedi “Terlalu Tampan” yang diadaptasi dari komik Line Webtoon. 

Sebagai Okisena Helvin alias Mas Okis yang tampan dan narsis, pria 32 tahun itu merombak penampilan agar terlihat sebagai karakter usia 20-an.

“Aku menurunkan berat badan dan ganti model rambut,” ujar Tarra usai penayangan perdana “Terlalu Tampan” di Jakarta, Rabu (23/1).

Baca juga: Nikita Willy sempat khawatir adu akting dengan Ari Irham

Membuat penampilannya lebih muda dari biasa adalah tantangan dari memerankan karakter Mas Okis, di luar itu dia diberi kebebasan untuk meracik Mas Okis dalam versinya sendiri.

Karakter Mas Okis dalam film dibuat berbeda dari komik, di mana Mas Okis ditampilkan sebagai adik dari tokoh Witing Tresno Jalaran Soko Kulino alias Mas Kulin yang diperankah Ari Irham (17).

Baca juga: Kumis Iis Dahlia ditonjolkan di “Terlalu Tampan”

Selain soal usia, karakter Mas Okis di adaptasi layar lebar sesuai dengan apa yang dibuat oleh  Muhammad Ahmes Avisiena Helvin yang berkolaborasi dengan ilustrator Savenia Melinda, dua sosok di balik komik “Terlalu Tampan”.

Mas Okis digambarkan sebagai pria tampan –sama seperti adik dan orangtuanya — yang gemar bergonta-ganti pacar. Pria playboy ini bahkan ingin mengalahkan rekor ayahnya yang sudah berpacaran dengan lebih dari 1000 gadis.

Baca juga: Ari Irham dipoles demi jadi si “Terlalu Tampan”

Film remaja “Terlalu Tampan” berkisah tentang Mas Kulin yang tidak mau sekolah reguler karena enggan membuat kericuhan bila para gadis melihat wajahnya. 

Keluarganya –Okisena Helvin alias Mas Okis, ayah Pak Archewe (Marcelino Lefrandt) dan istrinya, Jer Basuki Mawa Bea alias Bu Suk (Iis Dahlia) — membuat strategi agar Kulin mau bergaul di luar rumah.

Mas Kulin akhirnya terpancing dan mau belajar di sekolah reguler di mana dia berkawan dengan Kibo (Calvin Jeremy). Mas Kulin kemudian jatuh hati pada Rere (Rachel Amanda), pada saat yang bersamaan Amanda si Terlalu Cantik (Nikita Willy) juga naksir dengan Mas Kulin.

“Terlalu Tampan” akan mulai tayang pada 31 Januari 2019.

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Realita noraknya menjadi orang kaya baru

Jakarta (ANTARA News) – Mendadak kaya raya, mungkin impian banyak orang yang tidak mampu. Lalu apa yang mereka lakukan setelah mendapat uang berlimpah? Inilah yang digambarkan dalam film “Orang Kaya Baru”.

“Orang Kaya Baru” disutradarai oleh Ody C Harahap dan skenarionya ditulis oleh Joko Anwar. Ide cerita ini merupakan khayalan Joko semasa kecil yang ingin jadi orang kaya. Kenyataannya, hampir semua orang Indonesia yang tidak mampu memang menginginkan hal tersebut.

Film ini bercerita tentang kakak beradik Tika (Raline Shah), Duta (Derby Romero) dan Dodi (Fatih Unru) yang sudah terbiasa hidup pas-pasan. Mereka terlatih untuk mendapatkan sesuatu dengan susah payah dan mensyukuri apa yang mereka punya walau serba kekurangan.
  Salah satu adegan dalam film “Orang Kaya Baru” (HO/Screenplay Pictures)

Keluarga mereka sangat hangat. Hubungan antara anak dan orangtua (Cut Mini dan Lukman Sardi) juga begitu dekat. Hal ini diperlihatkan dalam ritual makan malam bersama dan saling bercerita tentang apa yang terjadi hari itu.

Tiba-tiba saja sang bapak  meninggal dan yang membuat kaget adalah ternyata selama ini ia hanya pura-pura miskin dan meninggalkan banyak harta warisan. Otomatis mereka menjadi orang kaya baru.

Baca juga: Alasan Raline Shah tak canggung main film komedi

Film ini menggambarkan bagaimana noraknya seseorang ketika mendadak kaya. Mereka bisa membeli apapun yang mereka inginkan, baik yang penting atau tidak. Misalnya saja ketika Cut Mini membeli berbagai perhiasan emas dan memakainya sekaligus. Hal seperti ini pasti sering terlihat di lingkungan sekitar kita.

Begitu juga dengan Raline, Derby dan Fatih yang membeli tiga mobil mewah namun tak satu pun di antara mereka yang bisa mengendarainya. Ketika uang sudah di tangan, mereka cenderung menganggap enteng semua masalah dan terlena dengan euforia “mandi uang”.
  Salah satu adegan dalam film “Orang Kaya Baru” (HO/Screenplay Pictures)

Kalau Anda biasa melihat Raline dengan dandanan yang glamor, di sini ia dibuat seperti orang yang tidak punya. Bahkan untuk mendalaminya, Raline benar-benar melakukan observasi dengan makan di warung dan naik bus kota. Itu adalah pengalaman yang tidak pernah dirasakan olehnya. Hasilnya, ia cukup menjiwai peran tersebut.

Tak hanya Raline saja, Derby, Cut Mini serta Fatih pun menunjukkan akting yang maksimal. Lukman Sardi yang tidak pernah main komedi, bisa membuat orang tertawa dengan gaya bicaranya.

Baca juga: Berperan jadi orang susah, Raline Shah harus lakukan observasi ini

Ody dan Joko mampu meramu visual dan kisah yang mirip dengan kehidupan nyata. Dramanya pas dan komedinya tidak berlebihan. Lelucon dan bahasa yang digunakan juga sesuai dengan kelompok masyarakat menengah bawah. Ekspresi para pemain saat melihat hal-hal yang sebelumnya tak bisa dijangkau juga begitu natural.

“Orang Kaya Baru” adalah film drama komedi keluarga. Film ini tak hanya mempertontonkan hebohnya orang yang baru punya uang, tapi juga menyampaikan pesan bahwa keluarga dan sahabat adalah hal paling penting di dunia. “Orang Kaya Baru” tayang di bioskop mulai hari ini.

Baca juga: Cut Mini senang berakting norak di “Orang Kaya Baru”

Baca juga: Terinspirasi masa kecil, Joko Anwar tulis skenario “Orang Kaya Baru”

Oleh Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Sutradara “Bohemian Rhapsody” dituduh lakukan pelecehan seksual

Jakarta (ANTARA News) – Sutradara film nominasi Oscar “Bohemian Rhapsody”, Bryan Singer (53), dituduh melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, dalam sebuah paparan yang diterbitkan oleh The Atlantic seperti dilansir Time, Rabu (23/1).

The Atlantic pada Rabu menerbitkan artikel panjang berdasarkan investigasi 12 bulan. Artikel merinci kisah empat terduga korban yang mengatakan mereka dirayu dan dianiaya oleh sutradara “Bohemian Rhapsody” itu saat masih di bawah umur.

Tiga dari pria itu berbicara dengan syarat anonimitas. Victor Valdovinos mengatakan dia dianiaya oleh Singer pada 1998 di set film “Apt Pupil” ketika dia berada di kelas tujuh.

Kantor Kejaksaan Distrik Los Angeles sebelumnya menyelidiki klaim bahwa ada anak laki-laki yang dipaksa telanjang untuk adegan mandi di “Apt Pupil”, namun menolak untuk mengajukan tuntutan. Tuntutan yang diajukan oleh keluarga anak di bawah umur yang terlibat kasus itu diselesaikan di luar pengadilan.

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan melalui pengacaranya, Singer membantah klaim tersebut dan menyebut artikel The Atlantic sebagai “potongan homofobia” yang menurutnya “tepat waktu” untuk mengambil keuntungan dari keberhasilan “Bohemian Rhapsody.”

Film biografi Freddie Mercury pada Selasa dinominasikan untuk lima Oscar, termasuk film terbaik.

Singer diberhentikan sebagai sutradara “Bohemian Rhapsody” selama pengambilan gambar setelah beberapa kali absen selama produksi di London. Nama Singer tetap dicantumkan dalam film sebagai sutradara meskipun ia digantikan oleh Dexter Fletcher.

Singer dengan tajam mengkritik The Atlantic karena mempublikasikan cerita yang batal diterbitkan majalah Esquire.

“Sangat menyedihkan bahwa The Atlantic tunduk pada standar integritas jurnalistik yang rendah ini,” kata Singer.

“Lagi-lagi, aku dipaksa untuk menegaskan kembali bahwa cerita ini mengulangi klaim dari tuntutan hukum palsu yang diajukan oleh para individu yang tidak terhormat yang bersedia berbohong demi uang atau perhatian.”

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan Rabu, para jurnalis, Maximillian Potter dan Alex French, membela laporan mereka sebagai sebuah proses cek fakta.

Potter dan French mengatakan kisah itu awalnya diperiksa dan disetujui untuk diterbitkan di Esquire yang merupakan milik Hearst, tetapi artikel itu kemudian “dibunuh oleh eksekutif Hearst.” Seorang juru bicara Hearst tidak segera menanggapi pesan pada Rabu.

Tak lama setelah Singer dipecat dari “Bohemian Rhapsody,” Cesar Sanchez-Guzman mengajukan gugatan di Seattle terhadap Singer, menuduh sang sutradara itu memperkosanya pada 2003 ketika Sanchez-Guzman berusia 17 tahun. Pengacara Singer, Andrew Brettler pada saat itu mengatakan Singer “dengan tegas menyangkal tuduhan ini dan akan dengan gigih mempertahankan gugatan ini sampai akhir.”

Kasus itu masih ditunda. Segera setelah diajukan, Sekolah Seni Sinematik Universitas California Selatan menghapus nama Singer dari divisi sinema dan studi media. Sekolah mengatakan bahwa Singer meminta namanya dihapus sampai tuduhan terhadapnya diselesaikan.

Laporan The Atlantic menuduh pola perilaku predator di pihak Singer, termasuk hubungan seks dengan seorang anak berusia 15 tahun di sebuah rumah mewah Beverly Hills, California, pada 1997. Singer sebelumnya membantah laporan tersebut pada Oktober ketika ia menulis di akun Instagram-nya bahwa wartawan “berusaha menodai karier yang telah saya habiskan selama 25 tahun untuk membangun.”

Singer, sutradara dari “The Usual Suspects” dan “X-Men,” musim gugur yang lalu disewa untuk mengarahkan pembuatan ulang petualangan fantasi “Red Sonja” untuk Millennium Films. Seorang juru bicara untuk Millennium tidak membalas permintaan berkomentar terkait hal itu.

Baca juga: Adam Lambert konfirmasi perannya sebagai kameo di “Bohemian Rhapsody”
Baca juga: “Bohemian Rhapsody”, film terbaik Golden Globe dengan rating buruk
Baca juga: Serikat aktor Hollywood minta hilangkan audisi di kamar hotel

 

Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Keluarga “Terlalu Tampan” yang kocak dan bikin heboh

Jakarta (ANTARA News) – Sutradara Sabrina Rochelle Kalangie dan produser Nurita Anandia meracik inti webtoon genre komedi “Terlalu Tampan” dengan tambahan drama saat mengadaptasinya menjadi film live action.

Hasilnya, Witing Tresno Jalaran Soko Kulino alias Mas Kulin (diperankan oleh Ari Irham) menjadi sesosok remaja terlalu tampan yang terasa dekat dengan keseharian.

Di kehidupan sehari-hari ada remaja yang kesulitan bersosialisasi hingga memilih mendekam di rumah. Kulin juga demikian. 

Ia lebih senang mengobrol dengan Anto, seekor ikan peliharaan di kamarnya, ketimbang bermain bola dengan teman-teman sepantaran di luar rumah.

Sebabnya, wajah Kulin yang tanpa cela bisa membuat kericuhan saat ia keluar rumah. Para perempuan pingsan, atau setidaknya mimisan. Sisanya sibuk mengejar-ngejar Kulin, membuat hidupnya tak tenang.
  Mas Kulin dikejar-kejar perempuan di film “Terlalu Tampan” (YouTube/Visinema Pictures)   Kegegeran akibat ketampanan Mas Kulin (YouTube/Visinema Pictures)

Ketampanan Kulin menurun dari kedua orangtuanya.

Ayahnya bernama Archewe Johnson, biasa dipanggil Pak Archewe (Marcelino Lefrandt). Sesuai namanya, dia adalah pakar perempuan yang punya mantan pacar hingga lebih dari 1.000 orang sampai akhirnya menambatkan hati pada istrinya.

Ibu Kulin juga tampan, bahkan berkumis. Namanya Jer Basuki Mawa Bea alias Bu Suk (Iis Dahlia).

Bila kakaknya Okisena Helvin alias Mas Okis (Tarra Budiman) yang justru memanfaatkan genetik sempurna demi menjaring perempuan, Kulin sebaliknya.

Kakak, ayah dan ibu Kulin merasa khawatir. Mereka ingin Kulin bisa merasakan hidup seperti remaja normal pada umumnya.

Mas Okis dan kedua orangtuanya pun bersandiwara hingga putra bungsu mereka menyatakan akan masuk sekolah reguler.

Kulin akhirnya merasakan persahabatan dengan manusia, bukan ikan, lewat pertemuannya dengan Kibo (Calvin Jeremy). 

Benih-benih cinta monyet tumbuh setelah Kulin melihat Rere (Rachel Amanda). Sementara itu, ada Amanda si Terlalu Cantik (Nikita Willy) yang dipuja semua lelaki, kecuali Kulin.
  Para pemain dan kru film “Terlalu Tampan” di konferensi pers di Jakarta, Rabu (23/1/2019). (ANTARA News/ Nanien Yuniar)

Baca juga: Calvin Jeremy dan Dimas Danang terlibat di film “Terlalu Tampan”

Komikal

Drama remaja yang disuguhkan di film ini memang klise, tapi macam-macam kekonyolan yang selalu hadir menjadi daya tarik utama “Terlalu Tampan”, sama seperti versi komiknya.

Unsur absurd di komik buatan Muhammad Ahmes Avisiena Helvin yang berkolaborasi dengan ilustrator Savenia Melinda diwujudkan jadi nyata lewat efek visual yang dibuat sengaja serba berlebihan agar lebih mengocok perut. 

Mulai dari ketampanan Kulin yang membuat wajahnya bercahaya, orang yang berubah jadi tampan karena terciprat keringat Kulin, debaran jantung yang disimbolkan lewat hati menyala di dada, kelopak bunga sakura beterbangan, hingga efek-efek yang serupa dengan adegan perubahan wujud di serial-serial kartun. 

Dialog-dialognya juga penuh unsur komedi yang mungkin bakal terasa lebih lucu jika Anda sudah familier dengan versi komiknya.

Sayangnya ada beberapa dialog minor yang tidak terdengar jelas, seperti ketika trio 3-Tak untuk pertama kalinya “memperkenalkan diri” di hadapan Kulin.

Baik Ari, Tarra, Marcelino dan Iis adalah penggambaran nyaris sempurna dari karakter-karakter komik Terlalu Tampan. 
  Karakter di komik “Terlalu Tampan” (screenshot Webtoon)

Agar Kelewat Tampan

Tentu ada penyesuaian di sana-sini untuk membuat wajah para aktor itu lebih tampan dari biasanya. 

Ari dibantu lensa kontak hingga pemancung hidung dan tata rambut membuatnya tampil sempurna dari berbagai sudut di semua adegan. 

Aktor muda ini berakting secara wajar dan cukup baik sebagai Kulin yang tergolong sebagai orang paling normal di keluarganya. 

Tarra, meski jauh lebih tua dari karakter Okis, masih meyakinkan sebagai pria usia awal 20-an yang mata keranjang tapi sayang keluarga.

Sosok Pak Archewe yang berhasil diwujudkan oleh Marcelino yang harus melatih kerlingan khas untuk membuat perempuan mabuk kepayang. 

Baca juga: Kumis Iis Dahlia ditonjolkan di “Terlalu Tampan”

Sementara Iis Dahlia, tampil dengan kumis lebih mencolok karena Bu Suk digambarkan sebagai perempuan berwajah maskulin di versi komiknya.

Acungan jempol juga untuk Calvin Jeremy, Rachel Amanda dan Nikita Willy yang menambah bumbu drama dalam porsi yang pas.

“Terlalu Tampan” mulai tayang pada 31 Januari 2019.

Baca juga: Nikita Willy sempat khawatir adu akting dengan Ari Irham

Oleh Nanien Yuniar
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Hayao Miyazaki garap dua proyek baru untuk Studio Ghibli

Jakarta (ANTARA News) – Hayao Miyazaki dan putranya sedang mengerjakan dua proyek baru untuk Studio Ghibli baru.

Hal tersebut disampaikan oleh Vincent Maraval, pendiri perusahaan distribusi Wild Bunch melalui Twitter setelah mengunjungi studio legendaris tersebut.

“Saya dapat melaporkan bahwa senior dan junior Miyazaki sedang bekerja. Dua produksi baru Studio Ghibli sedang berlangsung dan gambar-gambarnya sedang dibuat! Sangat menarik,” tulis Vincent, dilansir NME, Kamis.

Baca juga: Film “Nausicaa” dari Hayao Miyazaki diadaptasi jadi produksi kabuki

Namun, tidak ada rincian lebih lanjut tentang dua produksi baru yang sampaikan oleh Maraval.

Miyazaki kembali lagi ke dunia film pada tahun 2016 setelah memutuskan untuk pensiun. Film terakhir yang dirilisnya adalah “The Wind Rises” pada 2013. 

Baru-baru ini, Miyazaki juga bekerja untuk “How Do You Live?” dengan Studio Ghibli yang diperkirakan muncul tahun depan.

Baca juga: Hayao Miyazaki akan terima penghargaan Career Achievement Award

Studio Ghibli juga akan merilis film “Boro the Caterpillar” versi panjang. Sebelumnya, film tersebut berdurasi 12 menit dan awalnya direncanakan untuk Museum Ghibli.

Sementara itu, Miyazaki terlibat dalam kampanye peningkatan kesadaran reboisasi di hutan “Tokoro no Mori”, di mana ia menemukan inspirasi untuk “My Neighbor Totoro” (1988).

Baca juga: Museum Ghibli didatangi 10 juta pengunjung

Baca juga: Hayao Miyazaki kembali untuk buat film terakhir

Penerjemah: Maria Cicilia
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“A Man Called Ahok” akan dibuat versi extended

Jakarta (ANTARA News) – Film biopik “A Man Called Ahok” akan dibuat versi extendednya. Film tersebut rencananya akan ditayangkan di luar negeri.

Film karya sutradara Putrama Tuta ini, berhasil masuk box office Indonesia di tahun 2018. “A Man Called Ahok” telah ditonton sampai 1,5 juta orang di seluruh Indonesia.

Baca juga: Ahok ucapkan terima kasih kepada penonton filmnya

Banyak yang menilai jika film ini syarat dengan muatan politik. Tapi di luar dugaan, Tuta justru membahas soal dinamika keluarga tanpa menyentil tema politik sama sekali.

Peminat cerita tentang sosok Ahok atau Basuki Tjahaja Purnama tak hanya berasal dari dalam negeri saja. Film tersebut sudah diminta oleh beberapa negara lain seperti Singapura, Malaysia dan Hong Kong.

Baca juga: “A Man Called Ahok”, film keluarga yang meminjam kisah Ahok

“Kita inginnya dirilis ya Maret atau April di internasional. Karena di dunia internasional juga melihat iklim politik di Indonesia. Mereka dapat momentum itu,” ujar Emir Hakim, produser “A Man Called Ahok” dalam acara bedah film di Jakarta, Kamis.

Tuta mengatakan bahwa versi yang tayang di luar negeri akan berbeda dengan di Indonesia. Bagian-bagian yang sempat dihilangkan dalam “A Man Called Ahok” akan dimasukkan secara utuh.

Baca juga: Meski tak terlibat, Nicholas dukung pembuatan film “A Man Called Ahok”

“Tetap dengan struktur yang ada, tapi yang ini lebih berani dan bold sesuai dengan kebutuhan internasional. Konteksnya harus lebih luas bukan sekadar ayah dan anak. Simbolnya dia apa yang bisa ditonjolin. Kenapa Ahok masuk penjara dan apa yang membuat dia dipenjara,” jelas Tuta.

Baik Emir maupun Tuta sepakat bahwa tidak menutup kemungkinan jika “A Man Called Ahok Extended” akan tayang juga di Indonesia.

“Bisa jadi setelah diputar di luar negeri. Film “Soekarno” saja waktu itu ada versi extended-nya kan setelah enam bulan dirilis,” kata Tuta.

Baca juga: Akankah ada Veronica Tan di film “A Man Called Ahok”?

Baca juga: Daniel Mananta belajar bersuara serak seperti Ahok

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ada bagian yang dihilangkan dari “A Man Called Ahok”

Jakarta (ANTARA News) – Film “A Man Called Ahok” yang dirilis pada 8 November 2018 lalu lebih banyak membahas soal hubungan antara ayah dan anak. Nyatanya ada beberapa bagian yang terpaksa dipotong agar tidak menimbulkan kontroversi.

Putrama Tuta selaku sutradara film tersebut mengatakan jika dirinya diminta untuk lebih “mengerem” mana yang baiknya dimasukkan ke dalam film dan tidak. 

Sementara dari pihak produser, Emir Hakim menjelaskan jika hal tersebut memang dilakukan agar film “A Man Called Ahok” tidak ditunggangi oleh unsur politik.

Baca juga: “A Man Called Ahok” akan dibuat versi extended

“Untuk menjaga itu memang harus ada yang di tone down. Karena dampaknya justru bisa menjadi lebih negatif. Karena di Indonesia banyak pagar-pagar untuk menyampaikan cerita, tidak bisa sebebas di Amerika atau Eropa. Jadi kita harus bijak bermain di kisi-kisi itu. Secara otomatis karena sosok Ahok kita memang dikaitkan,” kata Emir dalam bedah film “A Man Called Ahok” di Jakarta, Kamis.

“Memang ada bagian yang dihilangin. Ini pilihan, kita mau bikin konflik atau enggak. Kenapa cerita jadi seperti ini (yang tayang di bioskop) karena arahnya memang harus ke situ,” ujar Tuta melanjutkan.

Baca juga: Ahok ucapkan terima kasih kepada penonton filmnya

Tuta sendiri masih menyimpan bagian yang dihilangkan dari film “A Man Called Ahok”. Bagian tersebut rencananya akan masuk dalam film versi extended yang bakal tayang di luar negeri.

“Materi itu tetep ada, saya ambil aja. Kan saya bandel. Tapi kita tetap punya tanggung jawab dan censorship-nya. Kan saya bikin bukan untuk kepentingan kita saja tapi banyak orang. Kalau saya bikin buat saya sendiri sih, saya terusin aja,” jelas Tuta.

“A Man Called Ahok” dibintangi oleh Daniel Mananta, Denny Sumargo, Donny Damara, Eric Febrian, Sita Nursanti dan Chew Kin Wah. Film ini telah ditonton lebih dari 1,5 juta orang dan menjadi salah satu film box office di Indonesia tahun 2018.

Baca juga: “A Man Called Ahok”, film keluarga yang meminjam kisah Ahok

Baca juga: Akankah ada Veronica Tan di film “A Man Called Ahok”?

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Bohemian Rhapsody” dicoret dari nominasi GLAAD karena kasus Bryan Singer

Jakarta (ANTARA News) – Film “Bohemian Rhapsody” dicoret dari nominasi GLAAD Media Awards karena kasus Bryan Singer yang dituduh melakukan pelecehan seksual, demikian dilansir Variety, Kamis (24/1).

GLAAD Media Award adalah penghargaan yang diberikan oleh GLAAD untuk representasi luar biasa dari  komunitas lesbian, gay, biseksual dan transgender di media.

GLAAD mengatakan kepada Variety secara eksklusif bahwa mereka mencoret film “Bohemian Rhapsody”, sebuah keputusan untuk memberi dukungan kepada para korban kekerasan seksual.

Singer secara konsisten membantah telah melakukan kesalahan, dan menyebut kisah yang diangkat The Atlantic sebagai “sebuah noda homofobia.”

“Sehubungan dengan dugaan terbaru terhadap sutradara Bryan Singer, GLAAD telah membuat keputusan sulit untuk menghapus ‘Bohemian Rhapsody’ dari kontestasi untuk GLAAD Media Award dalam kategori Outstanding Film – Wide Release tahun ini,” kata GLAAD dalam sebuah pernyataan kepada Variety.

“Kisah minggu ini di The Atlantic yang mendokumentasikan bahaya yang tak terkatakan yang dialami oleh para pemuda dan remaja pria membawa pada kenyataan yang tidak dapat diabaikan atau bahkan dihargai secara diam-diam.”

Baca juga: Sutradara “Bohemian Rhapsody” dituduh lakukan pelecehan seksual
Baca juga: Rami Malek mengaku tak tahu soal kasus Bryan Singer

 

Pewarta:
Editor: Heppy Ratna Sari
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“The Mule”, kisah pria 90 tahun jadi kurir narkoba

Jakarta (ANTARA News) – “The Mule” terinspirasi dari kisah nyata Leo Sharp, seorang veteran Perang Dunia II yang jadi kurir narkoba tertua di dunia dengan hasil kerja luar biasa.

Sosok kakek usia 90-an tahun yang ringkih namun tanpa disangka-sangka membawa muatan ilegal di bak truknya diperankan oleh Clint Eastwood.

Earl Stone, nama karakternya, adalah pria yang mencurahkan cinta dan waktu untuk pekerjaannya sebagai pebisnis bunga. Bertahun-tahun dia mengorbankan keluarga demi pekerjaan, sampai putrinya muak dan tidak mau bicara dengan ayahnya sendiri. 

Roda terus berputar, kesuksesan bisnis Earl Stone memudar karena tidak bisa mengikuti perkembangan zaman. Kakek renta ini kalah dengan pebisnis lain yang memanfaatkan internet.

Tempat bisnisnya disita, para pekerja terpaksa diberhentikan. Yang bisa dia lakukan hanyalah kembali kepada keluarga. 
  The Mule (HO/ist)

  The Mule (HO/ist)

Baca juga: Clint Eastwood ingin kembali berakting

Tapi kesalahan masa lalunya menelantarkan istri (Dianne Wiest), anak (diperankan putri kandungnya, Alison Eastwood) dan cucu (Taissa Farmiga) membuatnya nyaris tak punya tempat untuk kembali.

Sebuah kesempatan datang tak disangka-sangka untuk Earl yang gemar bepergian di balik kemudi truk tuanya menyusuri daratan Amerika Serikat. 

Dia diminta mengantar barang, yang tidak boleh diintip isinya, dengan imbalan uang bernilai besar.

Sekali, dua kali, tiga kali… Earl yang akhirnya mengetahui bahaya dari pekerjaan itu malah ketagihan bolak-balik jadi kurir narkoba.
  The Mule (HO/ist)

Kelihaian dan keberuntungan Earl membuatnya jadi kurir kesayangan yang jumlah muatannya selalu bertambah setiap waktu, tentu uang yang didapatnya pun semakin banyak.

Di balik adegan-adegan menegangkan dari perjalanan Earl di mana dia beberapa kali bertemu polisi, yang bisa sewaktu-waktu meringkusnya, ada sisipan komedi dari kebiasaannya bicara dan bertindak sesuka hati.

Tingkah lakunya yang impulsif membuat agen Colin Bates (Bradley Cooper) dan rekannya (Michael Pena) kesulitan mengungkap kasus peredaran narkoba yang diincar sejak lama.

Earl bukan cuma dikejar-kejar polisi, dia juga dikejar waktu yang tak banyak untuk berdamai dengan istri dan anak yang terlampau sering sakit hati akibat kegagalannya menentukan prioritas. Meski terlambat puluhan tahun, Earl menyadari pentingnya keluarga.

Pada akhirnya,  “The Mule” bukan cuma perjalanan Earl sebagai kurir narkoba, tapi perjalanannya menebus dosa masa lalu terhadap keluarga tercinta.

Pewarta:
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Film otobiografi Shia LaBeouf disambut meriah di Sundance

Jakarta (ANTARA News) – Film otobiografi memoar Shia LaBeouf yang berjudul “Honey Boy” disambut meriah di Festival Film Sundance.

Film yang ditayangkan di Eccles Theater pada Jumat (25/1) itu mendapatkan “standing ovation” dari para hadirin.

Film berlatarbelakangkan tahun 2000-an saat sang bintang Disney itu sedang tenar-tenarnya.

Film menelusuri ketegangan hubungan LaBeouf dengan ayahnya yang alkoholik. Ayah LaBeouf diperankan oleh dirinya sendiri. Sementara itu, karakter yang berdasarkan LaBeof digambarkan bernama Otis Lort, diperankan oleh Noah Jupe sebagai remaja dan Lucas Hedges sebagai orang dewasa.

LaBeouf menulis skenario pertama film itu  di rehabilitasi beberapa tahun yang lalu. “Sungguh aneh untuk ‘mengkeramatkan’ rasa sakitmu dan membuat produk dari rasa sakit itu,” kata LaBeouf dari panggung Eccles.

“Dan kamu merasa bersalah tentang itu. Rasanya sangat egois. Semua ini terasa sangat egois. Saya tidak pernah berpikir seperti ini, ‘Oh, biarkan saya membantu orang.’ Itu bukan tujuan saya. Saya hancur berantakan.”

Dia lalu mengirim naskah yag ditulis itu kepada temannya, pembuat film dokumenter Alma Har’el, yang memutuskan untuk menjadikan “Honey Boy” fitur naratif pertamanya.

“Awalnya, ini ditulis sebagai film linier,” kata Har’el. “Itu dimulai dengan Otis muda.”

Dia menyarankan menyandingkan adegan masa lalu dengan masa kini, untuk menyampaikan rasa sakit yang Otis masih tangani sebagai orang dewasa yang tumbuh dengan ayah yang alkoholik.

LaBeouf dan ayahnya, Jeffrey Craig LaBeouf, tak berhubungan selama bertahun-tahun. Tetapi pada sesi tanya jawab, sang aktor mengungkapkan bahwa mereka telah terhubung kembali. “Sebelum ini, saya dan ayah saya belum berbicara dalam enam, tujuh tahun,” kata LaBeouf. “Kita bicara sekarang.”

“Honey Boy,” yang mencari distribusi di Sundance, bisa menjadi salah satu prospek yang lebih komersial dari festival tahun ini. Adegan pembuka diatur pada film aksi (LaBeouf membintangi “Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull” serta franchise “Transformers”). Dan ada adegan lain yang dimaksudkan untuk mewakili acara yang mirip dengan “Even Stevens,” serial Disney Channel yang memberi LaBeouf langkah awal.

“Aku hanya bersyukur,” kata LaBeouf kepada audiensi perdana di Park City, Utah. “Merupakan berkah untuk dapat menunjukkannya kepada Anda. Dan terima kasih sudah datang. “

Baca juga: Shia LaBeouf akan jadi ayahnya sendiri di film terbaru

Baca juga: Shia LaBeouf minta maaf

Baca juga: Shia LaBeouf didakwa lakukan penyerangan dalam protes anti-Trump

Pewarta: Ida Nurcahyani
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Untouchable”, film dokumenter soal Harvey Weinstein diputar di Sundance

Jakarta (ANTARA News) – “Untouchable”, film dokumenter mengenai Harvey Weinstein diputar di Festival Film Sundance pada Jumat (25/1), USA Today, Sabtu.

Film mengangkat soal tuduhan perkosaan atas aktivis Rose McGowan yang dilakukan oleh maestro film Harvey Weinstein lebih dari 20 tahun lalu.

Meskipun McGowan sendiri tidak muncul dalam “Untouchable,” film ini menampilkan hampir selusin kesaksian lain dari wanita yang menuduh Weinstein melakukan kekerasan seksual, termasuk aktris Rosanna Arquette dan Paz de la Huerta, yang berada di garis depan gerakan #MeToo.

Kisah-kisah lain kurang begitu dikenal, seperti kisah Hope Exiner d’Amore, yang menuduh bahwa Weinstein memperkosanya di kamar hotel pada tahun 1970-an ketika ia bekerja sebagai promotor konser.

“Untouchable” tidak menawarkan detail memberatkan baru tentang Weinstein, yang baru-baru ini menghubungi pengacara Casey Anthony dan Kobe Bryant untuk kasus kekerasan seksual mendatang di New York.

Meski film dokumenter itu hanya mengulangi karya Ronan Farrow dan jurnalis lain yang membantu menjatuhkan Weinstein, hal itu sama sekali tidak mengurangi kekuatan melihat para korban yang secara emosional menceritakan pengalaman mereka di depan kamera.

Bagian paling menarik dari film itu adalah wawancara dengan para mantan karyawan Miramax, yang menawarkan gambaran seperti apa rasanya bekerja di bawah Weinstein di perusahaan distributor yang tutup usai tayangnya film-film pemenang Oscar seperti “Shakespeare in Love” dan “The English Patient.”

Kehidupan seks bos mereka ternyata tak begitu digubris para karyawan, itu hanya dianggap gosip belaka. Semua orang punya cerita-cerita horor tentang temperamennya yang terkenal – kemarahan yang paling dahsyat ditangkap oleh seorang jurnalis, ketika Weinstein menyebut dirinya sheriff “sumpah serapah” dari kota sumpah serapah.”

Yang terpenting, para karyawan memiliki perasaan yang rumit tentang waktu mereka di Miramax. Sementara mantan kolega Weinstein memberinya pujian atas kejeniusan pemasarannya dan memajukan karier mereka, dan mereka juga merasa bersalah karena dia menghancurkan begitu banyak orang lain untuk para korbannya.

Jika ada orang yang ingin diwawancarai sutradara “Untouchable” Ursula Macfarlane, dia ingin Weinstein sendirilah yang akan diwawancara.

“Kami akan senang Harvey berada di film ini sehingga ia dapat menjawab tuduhan ini dan memberi tahu kami tentang dirinya sendiri,” kata Macfarlane pasca pemutaran. Setelah Weinstein menolak permintaan mereka, mereka menggunakan voiceover yang ditarik dari wawancara sebelumnya.

“Rasanya lebih dramatis daripada hanya menontonnya di klip berita. Ada sesuatu yang cukup menghantui tentang itu, karena kehadirannya tampak besar.”

Baca juga: Harvey Weinstein akan disidang Mei mendatang

Baca juga: Jennifer Lawrence bantah pernah berhubungan seksual dengan Harvey Weinstein

Baca juga: Gugatan baru tuduh Harvey Weinstein lecehkan anak 16 Tahun

Penerjemah: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Glass” masih berjaya di box office Amerika

Jakarta (ANTARA News) – Film “Glass” masih berjaya di Amerika Serikat, dengan jumlah pendapatan 19 juta dolar AS dari pekan kedua sejak dirilis di bioskop, menambah total pendapatan 73,5 juta dolar AS di pasar domestik.

Dilansir Reuters, meski ada penurunan 53 persen, pendapatan akhir pekan “Glass” cukup untuk membuatnya tetap berada di puncak tangga box office di mana pendatang baru “The Kid Who Would Be King” dan “Serenity” yang kurang sukses.

“The Kid Who Would Be King” mendapatkan 7 juta dolar AS saat debut di 3.531 tempat, hasil yang kurang memuaskan untuk film yang memakan biaya produksi 60 juta dolar AS di luar pemasaran. Film ramah keluarga yang disutradarai Joe Cornish ini hanya berada di posisi keempat meski dapat ulasan positif.

“Kadang kau membuat film bagus dan sulit menghubungkannya dengan banyak penonton,” kata Chris Aronson, kepala distribusi domestik Fox.

Pesaing lain di genre serupa dalam waktu dekat adalah “The Lego Movie 2”, sekuel animasi dari The Warner Bros yang mulai tayang pada 8 Februari dan mengincar pendapatan debut domestik senilai 55 juta dolar AS.

Fox baru-baru ini sukses besar berkat “Bohemian Rhapsody”, biopik Queen yang mendapatkan nominasi Oscar, dengan pendapatan lebih dari 800 juta dolar AS secara global, tapi adaptasi dari Raja Arthur ini mungkin menyiratkan sinyal buruk untuk studio yang sedang bersiap bergabung dengan Disney dalam waktu dekat.

Ketika “The Kid Who Would Be King” setidaknya bisa mencapai lima besar, “Serenity” tidak seberuntung itu. Film thriller yang dibintangi Matthew McConaughey dan Anne Hathaway berada di posisi ke-8 dengan pemasukan 4,8 juta dolar AS dari 2.561 lokasi.

Steven Knight menulis dan menyutradarai film yang mendapatkan 22 persen di Rotten Tomatoes dan D+ di CinemaScore.

“Aquaman” berada di posisi ketiga dengan 7,3 juta dolar AS pada pekan keenam sejak dirilis. Film yang dibintangi Jason Momoa itu kini jadi film DC terbesar sepanjang masa yang mendapatkan 1,09 miliar dolar AS secara global, hanya 316 juta dolar AS datang dari pasar domestik.

Sementara “Spider-Man: Into the Spider-Verse” mendarat di peringkat kelima dengan 6,3 juta dolar AS. Film animasi itu dapat nominasi Oscar dan sudah meraup 169 juta dolar AS di Amerika Utara.

Penerjemah: Nanien Yuniar
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Black Panther menangi penghargaan top SAG Award

Jakarta (ANTARA News) – “Black Panther” membawa pulang penghargaan Outstanding Performance by a Cast in a Motion Picture di Screen Actors Guild (SGA) Award ke-25.

Film yang disutradarai Ryan Coogler itu unggul dari pesaingnya  “A Star Is Born,” “BlacKkKlansman,” “Bohemian Rhapsody” and “Crazy Rich Asians.”

Dikutip dari Huffington Post, Chadwick Boseman, Danai Gurira, Michael B. Jordan, Lupita Nyong’o, Angela Bassett, Winston Duke dan masih banyak lagi menerima penghargaan itu, sontak berdiri dari kursi mereka saat presenter Jodie Foster mengumumkan pemenang.

Boseman menyampaikan pidato menyentuh berisi refleksi tentang dampak film itu untuk budaya nyaris setahun setelah ditayangkan. 

“Satu (pertanyaan) adalah, ‘Apakah kami tahu film ini akan mendapatkan respons seperti ini,'” jelas Boseman. “Pertanyaan kedua adalah, ‘Apakah ini mengubah industri? Apakah ini sebenarnya mengubah cara kerja industri dan bagaimana industri melihat kami?'”

“Jawabanku adalah jadi anak muda, berbakat dan berkulit hitam,” dia mengutip musik Nina Simone.

“Jadi anak muda, berbakat dan berkulit hitam — kita semua tahu rasanya ketika orang bilang tidak ada tempat untukmu, tapi kau adalah anak muda, berbakat dan berkulit hitam,” katanya.

Sementara itu, seperti dilansir Time, Rami Malek mendapatkan penghargaan aktor terbaik untuk perannya sebagai Freddie Mercury dan “The Marvelous Mrs. Maisel” menyapu penghargaan untuk serial komedi di acara tersebut.

Malek mendedikasikan penghargaan atas penampilannya di “Bohemian Rhapsody” untuk Mercury, seperti yang dia lakukan sebelumnya di Golden Globe. Keunggulannya atas pesaing lain seperti  Christian Bale (“Vice”) dan Bradley Cooper (“A Star Is Born”), tampaknya Malek bakal memboyong piala Oscar Aktor Terbaik seperti perkiraan banyak orang.

“Saya mendapatkan kekuatan dari dia tentang menjalani hidup terbaik, menjadi siapa yang betul-betul kau inginkan dan mencapai semua yang kau mau,” kata Malek.

Aktor pendukung terbaik jatuh pada Mahershala Ali. yang dua tahun lalu menang atas penampilannya di Moonlight”, lewat perannya di film perjalanan “Green Book”.

Baca juga: Glenn Close raih Aktris Terbaik SAG Award

Baca juga: Sandra Oh raih penghargaan Aktris Televisi Terbaik SAG Award

Baca juga: Nicole Kidman jelaskan insiden Rami Malek di panggung Golden Globes

Baca juga: Aktor Rami Malek sebut Queen dalam pidato kemenangan di Golden Globes

Penerjemah: Nanien Yuniar
COPYRIGHT © ANTARA 2019

“Wonder Woman 3” tak akan pakai kisah masa lalu

Jakarta (ANTARA News) – Sutradara, Patty Jenkins mengatakan bahwa film “Wonder Woman 3” akan mengambil kisah masa sekarang.

Pada “Wonder Woman” pertama, filmnya berkisah pada Perang Dunia I, sedangkan sekuelnya, “Wonder Woman 1984” lebih bercerita pada era 80an.

Baca juga: Penayangan perdana “Wonder Woman 1984” diundur ke 2020

Jenkins menjelaskan bahwa ia tidak berpikir film ketiga akan mengambil tema di masa lalu juga.

“Saya belum siap, tapi saya tidak ingin melakukan pada periode lain,” ujar Jenkins dilansir NME, Selasa.

“Ini jelas salah satu hal yang kami bicarakan. Saya tidak berencana untuk mengambil di masa lalu lagi, karena ke mana Anda akan pergi? Anda harus maju. Ini jelas merupakan kisah masa sekarang. Hanya itu yang bisa saya katakan. Di mana kami mengambilnya dan bagaimana hal itu dapat dipecahkan, saya belum sepenuhnya memutuskan,” lanjutnya.

Baca juga: Nama aktris Gal Gadot diabadikan sebagai nama bioskop

Sementara itu, para penggemar “Wonder Woman” berharap jika dirinya bisa menjadi sutradara “Justice League”.

“Saya melihat film itu sangat menantang. Saya pikir mereka fantastis ketika dilakukan dengan baik. Tetapi memasukkan semua karakter pada waktu yang bersamaan dalam satu gambar..,” kata Jenkins.

“Saya sedikit berharap bahwa kami tidak membuat film “Justice League” untuk sebentar karena saya senang melihat semua film mereka. Saya ingin melihat “Aquaman 2”, saya ingin melihat “Flash”. Tidak pernah mengatakan tidak akan pernah. Tapi kupikir semua orang harus punya waktu untuk bersinar,” tambah Jenkins.

Baca juga: Patty Jenkins kembali ke kursi sutradara untuk sekuel “wonder woman”

“Wonder Woman 1984” akan dirilis pada musim panas 2020, setelah awalnya dijadwalkan November 2019. Gal Gadot akan kembali memainkan Wonder Woman, sementara Kristen Wiig akan bergabung dengan para pemeran lain sebagai penjahat Cheetah.

Baca juga: Film “Wonder Woman” tayang, ini 5 film superhero DC terlaris

Baca juga: Dibintangi Gal Gadot asal Israel, “Wonder Woman” dilarang tayang

Penerjemah: Maria Cicilia
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Jake Gyllenhaal jadi kritikus seni di film “Velvet Buzzsaw”

Jakarta (ANTARA News) – Aktor Jake Gyllenhaal berperan jadi kritikus seni sombong dalam film Netflix “Velvet Buzzsaw”, thriller satir yang jadi penuh darah ketika dia mencoba mencari keuntungan dari karya seniman yang baru meninggal.

Gyllenhaal berperan sebagai Morf Vandewalt, kritikus yang mulai melihat gambar-gambar aneh di lukisan yang sedang dia tulis.

“Dia karakter yang cukup aneh,” kata Gyllenhaal pada Reuters di karpet merah penayangan perdana film itu di Los Angeles, dikutip Rabu.

Film, yang akan tayang di Netflix mulai Jumat depan itu ditulis dan disutradarai penuli sskenario peraih nominasi Oscar Dan Gilroy, yang juga menulis dan menyutradarai film Gyllenhaal “Nightcrawler” (2014).

“Velvet Buzzsaw” berisi pesan tentang konsumerisme lewat dunia perdagangan seni kelas atas, ujar sang aktor.

“Kita hidup di dunia di mana saya pikir apa yang kita hargai biasanya berupa uang dan bisa diukur dengan uang, bukan apa yang kita sebenarnya cintai,” kata dia. “Dan saya kira Dan semacam melawan semua itu.”

Rene Russo berperan sebagai pemilik galeri, dan Daveed Diggs berakting sebagai seniman kontemporer yang berusaha menjual karyanya.

Film ini “meminta kita untuk berpikir tentang nilai yang kita terapkan pada seni dan siapa yang kita izinkan untuk menjaga hal itu,” ujar Diggs.

“Jika kau menonton siapa yang terbunuh dalam film, politik dari film itu jadi jelas dan saya kira itu bagian dari maksudnya.”

Penerjemah: Nanien Yuniar
COPYRIGHT © ANTARA 2019

Ica Naga mengaku karakternya mirip Kang Pipit di “Preman Pensiun”

Jakarta (ANTARA News) – Ica Naga, aktor pemeran sosok  preman Firmansyah Pitra alias  Pipit di film “Preman Pensiun” mengatakan karakternya di film dan dunia nyata tidaklah jauh berbeda. Sama seperti Pipit, Ica sebenarnya adalah sosok yang humoris dalam kehidupan sehari-hari.

“Kalau kita, semua pemain berusaha untuk berakting natural saja. Apalagi karakternya mirip dengan kehidupan sehari-hari. Saya juga humoris kalau di luar,” kata Ica melalui keterangan resmi kepada Antara di Jakarta, Rabu.

Sosok Murad dan Pipit adalah dua preman yang ditakuti sekaligus kocak di film “Preman Pensiun” yang tayang perdana pada 17 Januari 2019 lalu.

Murad dan Pipit adalah preman yang memiliki postur tubuh yang besar. Namun, perbedaan sifat keduanya inilah yang membuat kelucuan. Murad digambarkan sebagai sosok yang serius dan kaku, sementara Pipit sosok yang humoris dan cenderung genit.

Baca juga: Keluarga Didi Petet ucapkan terima kasih kepada penonton “Preman Pensiun”

Salah satu adegan yang paling diingat adalah Murad memakaikan dan melepas helm dari kepala Pipit meski ia kesal dengan perilaku Pipit. Atau aksi genit Pipit menggoda perempuan saat sedang menjalankan misi dari Kang Muslihat (Epy Kusnandar).

Baca juga: Keluarga kenang peran Didi Petet di “Preman Pensiun”

Dianggap sebagai ‘duet maut’ dalam cerita “Preman Pensiun”, tak membuat Ica Naga dan Deny Firdaus (Murad) tinggi hati. Keduanya justru mengurai, kesuksesan film tersebut merupakan hasil kerja keras dari berbagai pihak.

Baca juga: Film “Preman Pensiun” sajikan cerita yang lebih kompleks

“Semuanya juga kocak kok, semuanya berperan dalam kesuksesan film ini,” kata Ica.

“Saya rasa semua pemain bermain maksimal dan bagus. Kebetulan saja saya diduetkan dengan Pipit. Kalau enggak ada Kang Mus dan yang lainnya juga duet Pipit dan Murad enggak ada apa-apanya,” jelas Deny menambahkan.

Dalam 11 hari penayangannya di bioskop, “Preman Pensiun” sudah ditonton lebih dari 750 ribu. Jumlah tersebut membuat para pemain terkejut, termasuk Ica dan Deny.

Baca juga: Soraya Rasyid deg-degan syuting bareng mantan preman

Baca juga: Tya Arifin lebih memilih berkarir di Malaysia

Pewarta: Maria Cicilia
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019